Bertumbuh bersama melalui firman Tuhan dan rasakan pengalaman berjalan bersama Tuhan setiap hari
Senin, 28 Februari 2022
Minggu, 27 Februari 2022
Sabtu, 26 Februari 2022
Jumat, 25 Februari 2022
Cubitan Cinta
Bacaan: GALATIA 4:8-16
Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu? (Galatia 4:16)
Semula, jemaat Galatia hidup setia di jalan Tuhan (ay. 13-15a). Namun kemudian, mereka banyak membelakangi Tuhan (ay. 9-11). Dengan penuh kasih, Rasul Paulus mengingatkan mereka agar kembali ke jalan Tuhan. Tetapi, koreksi penuh cinta itu disambut negatif. Jemaat Galatia justru menganggap koreksi itu sebagai sikap permusuhan terhadap mereka. Rupanya, apa pun perbuatan mereka, mereka hanya mau menerima persetujuan dan sanjungan. Betapa pun jauh mereka tersesat, mereka tidak bersedia menerima koreksi. Dengan prihatin, Rasul Paulus bertanya, "Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?" (ay. 16).
Sebuah pepatah Sisilia mengatakan, "Only your real friend will tell you when your face is dirty." Hanya sahabat sejati yang akan mengatakan kepadamu ketika wajahmu kotor. Hanya orang yang peduli dan menginginkan kebaikan kitalah yang akan jujur dan penuh kasih memberikan koreksi pada kita. Orang yang membiarkan kita bergelimang dalam dosa adalah orang yang tidak mengasihi kita. Orang yang tahu wajah kita kotor tetapi mengatakan wajah kita bersih adalah orang yang tidak jujur, tidak mengasihi kita, dan bukan seorang sahabat.
Jujur dan penuh kasih adalah sikap seorang sahabat. Koreksi yang jujur dan penuh kasih adalah cubitan cinta seorang sahabat. Orang yang tidak jujur dan tidak mengasihi tidak siap menjadi sahabat. Dan, orang yang hanya mau mendengar persetujuan atau sanjungan, tetapi menolak cubitan cinta seorang sahabat, adalah orang yang tidak menginginkan persahabatan. --EE/www.renunganharian.net
KOREKSI JUJUR YANG DIBERIKAN DENGAN PENUH KASIH ADALAH CUBITAN CINTA SEORANG SAHABAT.
Kamis, 24 Februari 2022
Rabu, 23 Februari 2022
Selasa, 22 Februari 2022
Senin, 21 Februari 2022
Minggu, 20 Februari 2022
Jangan Asal Tuduh
Bacaan: 2 SAMUEL 10
Lalu Hanun menyuruh menangkap pegawai-pegawai Daud itu, disuruhnya mencukur setengah dari janggut mereka dan memotong pakaian mereka pada bagian tengah sampai pantat mereka, kemudian dilepasnya mereka. (2 Samuel 10:4)
Nahas, raja Amon adalah sahabat raja Daud. Ketika sang raja meninggal, Hanun, anaknya menggantikannya. Lalu Daud mengirim beberapa utusan untuk menyampaikan pesan turut berdukacita, serta menunjukkan niat untuk melanjutkan persahabatan. Tetapi para pemimpin Amon menuduh mereka sebagai mata-mata untuk menghancurkan negeri mereka. Para utusan Daud diperlakukan dengan tidak hormat dan sangat dipermalukan. Perlakuan ini memicu terjadinya peperangan, yang berakhir dengan kekalahan besar bagi bangsa Amon.
Tindakan ini muncul karena buruknya diplomasi, serta pikiran negatif yang menguasai mereka. Juga karena mereka tidak belajar dari fakta masa lalu, tentang bagaimana raja mereka bersahabat baik dengan Daud. Persis sebelum kisah ini, 2Sam 9 menceritakan bagaimana Daud menunjukkan kasih Allah kepada Mefiboset, cucu Raja Saul yang selalu ingin membunuhnya. Daud melakukannya karena perjanjiannya dengan Yonatan (1Sam 20). Para pemuka negeri Amon lupa bahwa Daud adalah seorang yang setia, teguh memegang perjanjian dan dapat dipercaya. Penghinaan yang mereka lakukan harus dibayar dengan kehancuran satu negeri.
Terkadang kita salah memahami itikad baik seseorang. Kita terlalu berprasangka, berpikiran buruk, dan mengambil tindakan tanpa didasari bukti dan pertimbangan yang matang. Memang sewajarnyalah kita waspada, hati-hati dan tidak percaya begitu saja. Namun kita juga perlu mengumpulkan informasi yang akurat, agar tidak salah langkah, serta terhindar dari kerugian dan kehancuran. --HT/www.renunganharian.net
HUBUNGAN YANG BAIK DAPAT HANCUR DALAM SEKEJAP KETIKA PRASANGKA DAN PIKIRAN NEGATIF TELAH MENYERGAP.
Sabtu, 19 Februari 2022
Jumat, 18 Februari 2022
Kamis, 17 Februari 2022
ALKITAB MARY
Bacaan: Mazmur 119:97-104
NATS: Aku hendak bergemar dalam perintah-perintahMu yang kucintai itu (Mazmur 119:47)
Ketika Mary Jones berusia sepuluh tahun, ia mulai menabung untuk suatu benda khusus yang ingin dibelinya. Ia menjaga bayi, mengurus kebun tetangga, dan menjual telur dari ayam-ayam yang dipeliharanya sendiri. Saat ia berusia enam belas tahun, ia telah berhasil mengumpulkan uang untuk mendapatkan apa yang selama ini sangat didambakannya.
Apakah sebuah mobil baru? Sejumlah baju baru? Sebuah Nintendo? Bukan, Mary Jones berusia enam belas tahun pada tahun 1800, dan usaha menabungnya selama ini adalah untuk mendapatkan sebuah Alkitab. Namun tidak ada yang menjual Alkitab di desa Welsh yang kecil dimana ia tinggal, sehingga ia perlu berjalan sejauh 40 km ke Bala. Di sana pendeta Thomas Charles masih memiliki satu Alkitab yang dijual, dan setelah meyakinkan pendeta tersebut, barulah Mary diizinkan untuk membelinya.
Karena kerinduan Mary akan Alkitab inilah, pendeta Thomas dan yang lainnya mulai membicarakan perlunya untuk membuat Alkitab lebih mudah didapat. The British and Foreign Bible Society didirikan, dan dalam waktu 100 tahun, badan ini telah mendistribuskan lebih dari 200 juta Alkitab ke seluruh dunia. Bagi Mary, tidak ada yang lebih penting daripada Alkitab, dan kesetiaannya ini telah menghasilkan keuntungan rohani yang amat besar.
Apakah kita juga mencintai firman Allah sedemikian besar? Berapa kali kita menyempatkan berjalan menyeberang kamar hanya untuk mengambil Alkitab dan membacanya?
Tuhan, tolonglah kami untuk mencintai firmanMu -- JDB
KEBANYAKAN ORANG MENYIMPAN ALKITAB DI RAK BUKU BUKAN DI DALAM HATINYA
Sumber: Renungan Harian
Rabu, 16 Februari 2022
Selasa, 15 Februari 2022
Senin, 14 Februari 2022
Minggu, 13 Februari 2022
Sabtu, 12 Februari 2022
Jumat, 11 Februari 2022
Kamis, 10 Februari 2022
Rabu, 09 Februari 2022
Selasa, 08 Februari 2022
Senin, 07 Februari 2022
Minggu, 06 Februari 2022
Sabtu, 05 Februari 2022
Gelisah karena Berkat
Bacaan: KEJADIAN 12:10-20
"Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup." (Kejadian 12:12)
Pada suatu kebaktian di gereja, Bapak Pendeta menunjukkan gambar seorang pria dengan tumpukan uang memenuhi kamarnya. Seorang teman lalu mengatakan, "Betapa bahagianya pria itu!" Tidak disangka, teman lain memberi pendapat yang sungguh berbeda. Ia berkata, "Pria itu mungkin susah tidur karena memikirkan uangnya!"
Mendapat berkat, siapa tidak mau? Faktanya, keberadaan berkat khususnya yang bersifat fisik atau materi, sering kali justru menggelisahkan hati dan pikiran manusia! Mari perhatikan kisah Abram! Abram mempunyai seorang istri cantik bernama Sarai. Amsal 18:22 menyebutkan istri sebagai "sesuatu yang baik", dalam arti adalah berkat. Menariknya, tercatat hati Abram pernah digelisahkan oleh "berkat" itu. Ketika timbul kelaparan dan mereka mengungsi ke Mesir, keberadaan istrinya yang cantik membuat Abram ketakutan dan terancam kematian. Itulah mengapa, Abram meminta Sarai supaya mengaku sebagai saudaranya (ay. 11-13). Apabila Sarai mengatakan dirinya saudara Abram, bukan tidak mungkin dirinya diambil orang lain sebagai istri, termasuk Firaun. Hal ini tentu bertentangan dengan rencana Tuhan yang hendak menjadikan Abram sebagai bangsa yang besar melalui Sarai. Beruntung, Tuhan turun tangan menyelamatkan rumah tangga Abram (ay. 17).
Kehidupan beberapa orang dapat berubah tidak tenang seketika dilimpahi oleh berkat. Hal tersebut terjadi karena mereka kini lebih terfokus kepada berkat, bukan Sang Pemberi Berkat. Tidak perlu gelisah apabila kita diberkati berlimpah-limpah. Sebaliknya, bersyukurlah kepada Tuhan dan yakinlah bahwa berkat disediakan untuk kebahagiaan, bukannya kemalangan! --LIN/www.renunganharian.net
KETIKA HATI KITA MULAI DIGELISAHKAN OLEH BERKAT, HAL ITU MERUPAKAN TANDA BAHWA KITA PERLU LEBIH MENDEKATKAN DIRI PADA SANG PEMBERI BERKAT!
Jumat, 04 Februari 2022
Bahaya Kesuksesan
Bacaan: 2 TAWARIKH 26
Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan. (2 Tawarikh 26:16)
Ketika Uzia dinobatkan menjadi raja Yehuda, ia mengawali semuanya dengan baik. Ia takut akan Tuhan, mencari Dia dengan sungguh-sungguh dan menaati kehendak-Nya. Hasilnya, "Allah membuat segala usahanya berhasil" (ay. 5). Ia menang atas musuh-musuhnya, memiliki pasukan yang kuat dan persenjataan yang canggih. Namanya tersohor hingga ke negeri-negeri yang jauh. Namun setelah ia menjadi kuat, ia menjadi sombong. Ia berpaling dari Tuhan serta mulai mengandalkan diri sendiri. Ia bahkan mengambil alih tugas imam dengan memasuki Bait Allah untuk membakar ukupan. Padahal Tuhan telah menetapkan bahwa itu adalah tugas imam-imam keturunan Harun. Akibatnya, Uzia terkena tulah. Ia menderita kusta, lalu dikucilkan hingga hari matinya.
Ternyata kesuksesan juga memiliki sisi yang berbahaya. Sukses dapat membuat kita sombong. Merasa hebat dan mampu. Lalu kita berpusat pada diri sendiri. Kita melupakan Tuhan dan mengabaikan firman-Nya. Saat kita tiba pada titik tersebut, itulah awal kehancuran kita.
Saat mengalami kesuksesan, kita hendaknya tetap ingat dari mana semua itu berasal. Bahwa itu adalah berkat Tuhan. Dialah yang memampukan kita mencapainya. Maka hendaknya kita mensyukurinya. Itulah tanda pengakuan kita akan kemurahan dan kebaikan-Nya. Hendaknya kita juga menggunakan kesuksesan itu untuk memuliakan Dia. Jika kita gagal melakukan hal demikian, maka berbagai berkat dan kesuksesan itu justru akan menghancurkan kita. --HT/www.renunganharian.net
BAHKAN KESUKSESAN PUN DAPAT MENGHANCURKAN KITA, JIKA KITA MENINGGIKAN DIRI DAN MELUPAKAN ALLAH, SUMBER SEGALA BERKAT YANG KITA PUNYA.