Kamis, 14 Mei 2026

Naik ke Surga untuk Tujuan yang Besar (Kenaikan Tuhan Yesus)

Bacaan Alkitab hari ini: Yohanes 16:1-7

Kenaikan Kristus ke surga adalah hari raya Kristen yang dirayakan paling senyap bila dibandingkan dengan hari raya lain karena hari raya ini sering dianggap kurang penting. Padahal, Tuhan Yesus sendiri beranggapan bahwa kepergian-Nya ke surga itu amat penting! 

Dia bersabda, "Tetapi, benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab, jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu." (16:7). Tuhan Yesus berjanji, "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran." (14:16-17a). Perlu diingat bahwa kata dalam bahasa Yunani yang diterjemahkan menjadi "yang lain" adalah kata allos yang berbeda arti dengan kata Yunani heteros yang juga biasa diterjemahkan menjadi "yang lain". Bila kata heteros berarti dua hal yang sama sekali berbeda, seperti anjing berbeda dengan kucing, kata allos seperti gambaran kembar identik, artinya berbeda tetapi persis sama. Dalam Alkitab, "Penolong yang lain" ini dikenal dengan berbagai macam sebutan, antara lain Roh Kebenaran dan Roh Kudus. Sebagai "Penolong yang lain", Roh Kudus menjalankan peran yang sebelumnya dijalankan oleh Yesus Kristus.

Kenaikan Yesus Kristus ke surga berkaitan erat dengan misi yang harus dijalankan oleh para murid setelah ditinggalkan oleh Sang Guru. Saat mengikuti Sang Guru, yaitu Yesus Kristus, para murid menjalani pelatihan untuk melaksanakan misi yang akan diberikan sebelum Sang Guru meninggalkan mereka, yaitu misi untuk menjalankan Amanat Agung Kristus atau amanat untuk menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus. Untuk bisa menjalankan amanat Agung Kristus, para murid harus menyebar ke seluruh dunia, tidak bisa berkumpul bersama-sama dengan Sang Guru terus-menerus. Saat menjalani pelatihan sebagai murid-murid Kristus, mereka bergantung pada Sang Guru. Setiap kali menemui masalah, mereka bisa datang kepada Sang Guru untuk mencari solusi. Akan tetapi, dengan menyebar ke seluruh dunia, mereka tidak mungkin bersama terus dengan Sang Guru yang hanya bisa hadir di satu tempat pada waktu yang sama. Oleh karena itu, penting sekali adanya Roh Kebenaran yang bisa mendampingi para murid, di mana pun mereka berada. Roh Kudus diberikan untuk mendampingi para murid agar mereka dapat melakukan hal-hal yang lebih besar di berbagai tempat sekaligus. 

Sebagai murid Kristus, orang percaya pada masa kini juga memerlukan bimbingan Roh Kudus. 

Apakah Anda sudah memberi diri untuk dibimbing oleh Roh Kudus untuk melaksanakan misi Amanat Agung? [GI Purnama]

Sumber: Renungan GKY

Rabu, 13 Mei 2026

Tuhan Punya Rencana Sendiri

Bacaan Alkitab hari ini:
1 Tawarikh 17

Setelah hidupnya makin mapan, Daud memikirkan rumah Tuhan. Dia merasa tidak nyaman tinggal di rumah yang bagus, sedangkan tabut Tuhan tinggal dalam kemah. Oleh karena itu, dia merundingkan rencananya dengan nabi Natan. Pemikiran Daud sangat logis dan luhur. Siapa pun akan setuju bahwa Tuhan selayaknya mendapat kediaman yang lebih baik dari pada manusia. Natan pun spontan setuju, bahkan dengan yakin mengatakan: "Allah menyertai engkau." Seorang hamba Tuhan memang selayaknya menyemangati pelayanan yang baik dari umat-Nya. Akan tetapi, perkataan Natan itu bukan firman Tuhan, tetapi perkataannya sendiri. Ternyata bahwa Tuhan memiliki ketetapan-Nya sendiri. Malam itu juga, Allah berfirman kepada Natan mengenai niat Daud itu. Allah menolak rencana Daud, tetapi menunjuk penerus Daud sebagai yang akan membangun rumah bagi-Nya.

Penulis mencatat alasan penolakan Allah pada niat baik Daud, yaitu bahwa Daud adalah seorang prajurit yang sudah banyak menumpahkan darah (22:8; 28:3). Akan tetapi, ada pula penafsir yang berpendapat bahwa alasan utama penolakan Allah itu adalah bahwa rumah Allah harus dibangun berdasarkan keputusan Allah, bukan keputusan manusia, termasuk bukan keputusan raja. Allah yang menentukan siapa yang harus membangun serta kapan dan di mana lokasinya. Rencana Daud terlalu dini! Sekalipun demikian, Allah menghargai niat baik Daud dan memberikan janji berkat kepada Daud dan keluarganya, "Dialah yang akan mendirikan rumah bagi-Ku ... Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. ... Aku akan menegakkan dia dalam rumah-Ku dan dalam kerajaan-Ku untuk selama-lamanya dan takhtanya akan kokoh untuk selama-lamanya" (17:12,13,14). Janji di ayat 12 seperti janji yang menunjuk pada Salomo. Akan tetapi, janji di ayat 13-14 jelas bukan menunjuk pada Salomo, melainkan pada Yesus Kristus, Sang Mesias.

Respons Daud atas janji Tuhan itu adalah mengucap syukur di dalam doa. Dengan rendah hati, dia menyatakan kekagumannya atas kemurahan Tuhan yang luar biasa (17:16), lalu melanjutkan dengan ucapan syukur hampir di sepanjang doanya. Rasa syukur Daud bukan hanya untuk kemurahan Tuhan bagi dirinya sendiri saja, tetapi juga untuk perbuatan Tuhan bagi bangsa Israel (17:22). Respons Daud merupakan teladan yang baik bagi umat Israel, dan juga bagi kita. Kerendahan hati menyadarkan kita bahwa kita bukan siapa-siapa. Kerendahan hati membuat kita dapat melihat kemuliaan Allah lebih nyata, dan membuat kita bergantung pada kemurahan Tuhan. Apakah Anda sadar bahwa hidup Anda bergantung pada kasih karunia Tuhan? [GI Michael Tanos]

Sumber: Renungan GKY

Selasa, 12 Mei 2026

Tuhan yang Puaskan

Bacaan: YOHANES 4:1-30

"Tetapi siapa yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal." (Yohanes 4:14)

Sebuah riset tahun 2021 terhadap puluhan ribu orang dewasa di Amerika Serikat oleh Daniel Kahneman dan Matthew Killingsworth yang diterbitkan dalam Jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, mengungkapkan bahwa uang bukanlah segalanya karena mereka yang pendapatannya lebih dari US$75.000, 00 per tahun tidak menunjukkan peningkatan kebahagiaan yang signifikan. Bahkan, ada yang terus menderita seperti mengalami patah hati atau depresi, hingga menginginkan penghasilan US$100.000, 00 yang faktanya sulit sekali digapai.

Kepuasan sejati sesungguhnya terletak pada jiwa kita yang senantiasa aman tenteram dalam Yesus, bagaikan air hidup yang terus memancar hingga beban-beban kita terangkat dan sukacita serta damai-Nya memenuhi hari-hari kita. Pengejaran kita akan materi semata-mata akan membuat jiwa kita tidak pernah beristirahat, bahkan meskipun kita dapat memperoleh segalanya, kesuraman akan terus menghinggapi kita sampai kita datang mendekat kepada-Nya dan menerima anugerah keselamatan-Nya yang cuma-cuma. Sebagaimana kelepasan yang Yesus berikan kepada perempuan Samaria hingga dia memiliki pengharapan untuk menatap hari depannya.

Jika bukan Tuhan sendiri yang memberkati kita, hidup kita di dunia akan terus berputar-putar tanpa tujuan. Hanya Dia saja yang sanggup mengisi kekosongan jiwa sehingga kita dapat merasa puas dengan apa yang kita miliki. Bahkan, sekalipun di mata orang lain hidup kita terlihat biasa saja, karena sungguh dalam Yesus kita telah memiliki segalanya! --KSD/www.renunganharian.net

STANDAR KESUKSESAN DUNIA YANG KITA RAIH TIDAK AKAN DAPAT MEMUASKAN JIWA KITA SAMPAI KITA MENERIMA ANUGERAH KESELAMATAN-NYA.

Senin, 11 Mei 2026

Berhala yang Tak Terlihat
“Orang-orang ini menjunjung berhala-berhala dalam hatinya dan meletakkan batu sandungan kejahatan di hadapannya; masakan Aku akan membiarkan diri-Ku dimintai petunjuk oleh mereka?” Yehezkiel 14:3
 
Tuhan tidak hanya memperhatikan apa yang tampak dari luar, tetapi juga apa yang tersembunyi di dalam hati kita. Dalam Yehezkiel 14:3, Tuhan menegur umat-Nya karena mereka membiarkan berhala bertakhta di dalam hati mereka. Berhala ini bukan hanya patung atau benda fisik, tetapi sesuatu yang mengambil posisi Tuhan dalam hidup seseorang.

Di zaman modern, berhala sering kali terselubung dalam bentuk yang tampak “baik” atau “netral”, salah satunya adalah hobi. Hobi pada dasarnya tidak salah. Sepak bola, musik, pekerjaan, pelayanan, atau tokoh inspiratif bisa menjadi sarana sukacita dan pertumbuhan. Namun, masalah muncul ketika hobi tersebut diagungkan secara berlebihan hingga menguasai hati.

Sebagai contoh, ada orang yang begitu mengidolakan klub sepak bola atau seorang pesepakbola sampai emosinya, waktunya, bahkan imannya bergantung pada hasil pertandingan. Kemenangan klub membawa sukacita berlebihan, dan kekalahan bisa membuat marah, kecewa, bahkan menjauh dari Tuhan. Tanpa sadar, hobi itu telah naik pangkat menjadi “tuhan” kecil dalam hidupnya.

Hal yang sama juga bisa terjadi di dunia bisnis dan pemerintahan, ketika uang, jabatan, atau kekuasaan menjadi pusat hidup. Bahkan di dalam gereja, seseorang bisa terjebak mengagungkan seorang pendeta, pemimpin rohani, atau pelayanan tertentu lebih daripada Tuhan sendiri. Ketika figur manusia lebih dipercaya, lebih ditaati, dan lebih dicari daripada Tuhan, di situlah berhala bertakhta di hati.

Saudaraku, Tuhan cemburu atas hati kita, karena Dia begitu mengasihi kita umat-Nya. Sehingga Dia tidak mau kita binasa oleh karena keinginan kita sendiri. Hari ini Dia mengingatkan kita dengan lembut untuk melihat kembali kepada apa yang kita taruh sebagai pusat atas hidup kita - Tuhan atau berhala lain? Ini waktu yang tepat untuk kita mengambil waktu melihat kembali ke kedalaman hidup kita dengan sungguh-sungguh.
 
Doa
Tuhan, selidikilah hatiku. Jika ada sesuatu yang tanpa kusadari telah mengambil posisi-Mu dalam hidupku, aku rindu menyerahkannya kembali kepada-Mu. Ajarku untuk menempatkan Engkau sebagai pusat hidupku, di atas segala hal yang aku sukai, banggakan, dan kejar. Kuduskan hatiku, ya Tuhan. Amin.

Sumber : Jawaban.com

Minggu, 10 Mei 2026

KUASA KETERBATASAN

Bacaan: Keluaran 4:10-17

Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan
(Keluaran 4:12)

Musa mencari-cari alasan pada saat ia dipanggil oleh Allah. "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah" (Keluaran 4:10). 

Dari pernyataan itu, Musa sepertinya memiliki kesulitan berbicara—barangkali ia gagap. Akan tetapi Tuhan berfirman kepadanya, "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni Tuhan?" (ayat 11). 

Kecacatan, ketidakmampuan, kekurangan fisik kita bukanlah suatu kecelakaan. Semuanya itu merupakan rancangan Allah. Dia menggunakan setiap ketidaksempurnaan kita untuk kemuliaan-Nya. Cara Allah mengatasi sesuatu yang kita sebut "keterbatasan" adalah tidak dengan menghilangkannya, namun memberkatinya dengan kekuatan serta menggunakannya untuk kebaikan. 

Di dalam kitab Perjanjian Baru, Rasul Paulus menyebutkan "duri di dalam daging" yang tak terdefinisikan. Ia telah berulangkali meminta kepada Tuhan untuk mengambilnya (2 Korintus 12:7,8). Akan tetapi Allah justru berkata, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (ayat 9). 

Rasul Paulus bahkan telah belajar untuk "menikmati" kesulitan-kesulitan yang ia hadapi. "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku," demikian katanya (ayat 9). "Sebab jika aku lemah, maka aku kuat" (ayat 10) —DHR

KUASA ALLAH PALING JELAS TERLIHAT DI DALAM KELEMAHAN KITA

Sumber: Renungan Harian

Sabtu, 09 Mei 2026

Anda Tidak Menjalani Ini Sendirian

Bacaan Hari ini:
Kisah Para Rasul 7:9-10 "Karena iri hati, bapa-bapa leluhur kita menjual Yusuf ke tanah Mesir, tetapi Allah menyertai dia, dan melepaskannya dari segala penindasan serta menganugerahkan kepadanya kasih karunia dan hikmat, ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir. Firaun mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir dan atas seluruh istananya."

Ketika menghadapi kesulitan dan penderitaan yang besar, Yusuf tetap teguh karena ia bergantung pada kehadiran Allah, di mana pun ia berada.

Ada sebuah frasa yang digunakan lima kali dalam kisah Yusuf—dan setiap kali sesuatu disebutkan lima kali dalam Kitab Suci, Allah ingin Anda memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Frasa tersebut pada dasarnya adalah, "Tuhan menyertai Yusuf."

Kisah Para Rasul 7:9-10 berkata, "Karena iri hati, bapa-bapa leluhur kita menjual Yusuf ke tanah Mesir, tetapi Allah menyertai dia, dan melepaskannya dari segala penindasan serta menganugerahkan kepadanya kasih karunia dan hikmat, ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir. Firaun mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir dan atas seluruh istananya."

Yusuf mengetahui bahwa apa pun kemunduran yang terjadi, Allah menyertainya. Allah menyertai Yusuf ketika saudara-saudaranya melemparkannya ke dalam sumur dan ketika mereka menjualnya kepada para pedagang. Allah membawanya dengan selamat melalui semua kesusahannya.

Perhatikan bahwa tidak dikatakan Allah menyelamatkan Yusuf dari kesusahannya. Dikatakan bahwa Allah membawanya melalui kesusahan itu dengan selamat.

Ketika Anda memiliki kehadiran Allah, itu tidak berarti bahwa Ia akan mencegah hal-hal buruk atau sulit terjadi dalam hidup Anda. Itu berarti Ia akan membawa Anda melaluinya. Jika Allah telah mencegah semua hal buruk yang terjadi pada Yusuf, maka Yusuf tidak akan sampai ke Mesir, di mana ia menjadi seorang pemimpin yang berkuasa yang menyelamatkan bangsanya dari kelaparan. Ia tidak akan pernah mengalami pemulihan hidupnya.

Apa pun yang Anda hadapi hari ini, Allah sebenarnya dapat saja membawa Anda menghindarinya atau menjauhkan Anda darinya. Namun Ia membawa Anda melaluinya untuk kebaikan Anda dan untuk kemuliaan-Nya.

Bahkan ketika Anda tidak merasakannya, kehadiran Allah tidak pernah meninggalkan Anda. Ia menyertai Yusuf di dalam sumur, dalam perjalanan ke Mesir, di rumah Potifar, di penjara dan di istana Firaun. Tidak ada tempat yang dapat Anda datangi di mana Ia tidak akan menyertai Anda juga.

Selalu ada sesuatu yang dapat dipelajari dari kemunduran dalam hidup. Mungkin satu-satunya hal yang Anda pelajari dalam kesusahan adalah bagaimana bergantung pada kehadiran dan kuasa Allah—tetapi itu berarti iman yang lebih dalam dan lebih kuat akan menjadi salah satu pemulihan terbesar dalam hidup Anda.

Renungkan:
- Siapa atau apa yang dapat menolong Anda mengingat kehadiran Allah ketika Anda mengalami kemunduran?
- Menurut Anda, apa yang Allah ingin Anda lakukan ketika Anda tidak merasakan kehadiran-Nya?
- Pikirkan beberapa pelajaran terbesar yang Anda pelajari melalui kemunduran dalam hidup Anda. Bagaimana mengingat kesetiaan Allah melalui hal-hal tersebut menolong Anda mempercayai kehadiran-Nya sekarang?

Allah tidak menyebabkan masalah Anda, tetapi Ia dapat menggunakannya untuk tujuan-Nya.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Jumat, 08 Mei 2026

HIDUP INI NYATA

Bacaan: Mazmur 56

Nas: Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu (Mazmur 56:4)

Dalam komik Peanuts, tokoh Lucy mengatakan kepada Linus, saudaranya, bahwa anak-anak tidak bisa tinggal di rumah selamanya. Kelak mereka menjadi dewasa dan meninggalkan rumah. Lalu ia berkata bahwa bila nanti Linus pergi, ia akan menempati kamar Linus. Namun, dengan cepat Linus mengingatkan Lucy bahwa nantinya Lucy juga akan meninggalkan rumah. Menyadari akan hal itu, Lucy pun terkejut, tetapi ia segera menemukan jalan keluar. Ia mengeraskan suara TV, merangkak ke kursi beanbag-nya [kursi kantong yang berisi kacang, dipakai dalam permainan tertentu] dengan semangkuk es krim di tangan, dan menolak memikirkan hal tadi. 

Menghindari keadaan yang tidak menyenangkan tidak semudah yang Lucy pikirkan. Realitas kehidupan tidak dapat dihindari. Kita dapat mencoba lari dan bersembunyi, tetapi pergumulan dan ujian kehidupan selalu dapat mengikuti langkah kaki kita dan akhirnya menyusul kita. 

Sebaliknya, kita harus menghadapi masalah kita. Pemazmur Daud melakukan hal ini saat diserang oleh musuh dan teman-teman yang menyesatkan. Ia tidak berusaha mengecilkan bahaya yang ada; ia menyambut badai yang mengganas di sekelilingnya dan memandang kepada Tuhan. Ia menulis, "Kepada Allah aku percaya" (Mazmur 56:5). 

Marilah kita mengikuti teladan Daud -- bukan Lucy. Menghadapi beragam kesulitan dalam hidup mungkin merupakan pengalaman yang menakutkan. Namun, ketika kita percaya kepada Allah dan mendekat kepada-Nya, kita akan mengalami pembebasan yang nyata --PRV

TATKALA KESULITAN MENGHAMPIRI ANDA, HAMPIRILAH ALLAH

Sumber: Renungan Harian

Kamis, 07 Mei 2026

DIPERLUKAN KESABARAN

Bacaan: 1 Korintus 13

Kasih itu sabar; kasih itu baik hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong (1 Korintus 13:4)

Penerbangan kami ke Singapura ditunda karena ada masalah pada mesin. Penundaan selama 15 menit berubah menjadi 30 menit, lalu 60 menit -- dan kemudian 3 jam. Para petugas pemelihara pesawat sibuk menenangkan orang banyak, tetapi mereka sudah lelah dan menjadi cepat marah. Saat malam semakin larut, kumpulan orang banyak itu mulai berubah menjadi kerusuhan massa -- mereka berteriak-teriak kepada petugas dengan bahasa kasar. Sang pilot bahkan datang untuk membantu, tetapi orang banyak itu pun berbalik melawan dia. 

Saat saya memerhatikan kelanjutan situasi itu, seorang pria Singapura yang berdiri di sisi saya berkata dengan lembut, "Kesabaran akan sangat dibutuhkan malam ini." 

Hidup dapat membuat frustrasi, bahkan membangkitkan amarah. Namun demikian, kerap kali ketidaksabaran hanyalah cerminan dari keegoisan kita dalam menanggapi kekecewaan hidup. Kasih sejati digambarkan di dalam Alkitab sebagai pengorbanan diri (Yohanes 15:13), dan salah satu cara menunjukkan kasih itu adalah kesabaran terhadap orang lain. "Kasih itu sabar; kasih itu baik hati.... Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah" (1Korintus 13:4,5). Kasih mengesampingkan keinginan pribadi kita dan berusaha meneladani Kristus. 

Apakah hal itu terdengar mustahil? Ya, jika kita mengandalkan kekuatan kita sendiri. Namun, bila kita berdoa meminta pertolongan, Allah akan memberi kita kesabaran yang mencerminkan kasih-Nya -- bahkan di tengah keadaan yang menjengkelkan --WEC 

Bila hatimu kesal, cemas mencekam 
Apakah engkau mengeluh, mengomel, dan marah? 
Ataukah batinmu dapat mengendalikan 
Sebab kepada Yesus engkau berserah? --Branon

SAAT TERGODA UNTUK TIDAK SABAR TERHADAP ORANG LAIN 
INGATLAH KESABARAN ALLAH TERHADAP ANDA

Sumber: Renungan Harian

Rabu, 06 Mei 2026

ANGIN KASIH

Bacaan: 1 Yohanes 4:1-8

Siapa yang tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8)

Seorang petani mempunyai petunjuk arah angin di lumbungnya yang di atasnya tertulis "Allah adalah kasih". Ketika teman-temannya menanyakan alasannya membuat tulisan itu, ia menjawab, "Ini untuk mengingatkan saya bahwa ke mana pun angin bertiup, Allah adalah kasih." 

Pada saat "angin selatan" yang hangat dengan desaunya yang menyejukkan dan lembut membawa hujan berkat, Allah adalah kasih. "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas" (Yakobus 1:17). 

Saat "angin utara" pencobaan yang dingin menerpa Anda, Allah adalah kasih. "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia" (Roma 8:28). 

Saat "angin barat" bertiup keras menerpa Anda dengan maksud menghukum, Allah adalah kasih. "Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya" (Ibrani 12:6). 

Saat "angin timur" mengancam akan menyapu semua yang Anda miliki, Allah adalah kasih. "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus" (Filipi 4:19). 

Barangkali saat ini Anda sedang berkecil hati dan merasa putus asa. Apabila benar demikian kondisi yang Anda alami, ingatlah bahwa Allah tetap memelihara Anda. Sesuatu yang sedang Anda alami saat ini memang telah dikirim atau diizinkan terjadi oleh-Nya, demi kebaikan Anda. 

Ya benar sekali, ke arah mana pun angin bertiup, Allah adalah kasih --RWD

TAK ADA PENDERITAAN YANG MENYUSAHKAN KITA
JIKA KITA TAHU ALASAN ALLAH MENGIZINKANNYA HADIR

Sumber: Renungan Harian

Selasa, 05 Mei 2026

MENGUBAH DUNIA

Bacaan: Lukas 6:41-45

Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu (Lukas 6:42)

Berusaha mengubah orang merupakan pekerjaan penuh-waktu. Oh, betapa sempurnanya dunia, jika orang lain mau menjadi seperti semua yang kita inginkan! 

Sebuah plakat di ruang keluarga kami memegang kunci rahasia perubahan. Plakat itu ditulis dalam bahasa Belanda, tetapi diterjemahkan sebagai berikut: 

Ubahlah Dunia -- 
Mulailah dengan Diri Anda 
Sebagian besar dari kita tidak setuju akan hal itu! 

Yesus menceritakan sebuah perumpamaan tentang ketidakmampuan manusia untuk melihat kesalahan sendiri. Dia berkata, "Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu" (Lukas 6:42). 

Melihat kesalahan orang lain dengan mudah tanpa pernah menyadari kesalahan sendiri bukan hanya pertanda kemunafikan. Itu juga dapat mengingatkan kita bahwa mungkin sayalah yang menjadi masalah dalam hubungan yang penuh ketegangan. Mungkin sikap sayalah yang perlu diubah. Atau, sayalah yang perlu meminta maaf. Mungkin sayalah yang memerlukan roh yang rendah hati. 

Sebagian dari kita harus terus mempelajari hal itu. Kita tak dapat mengubah orang lain, tetapi dengan pertolongan Allah kita dapat mengubah perilaku kita sendiri. Dan saat sikap kita berubah, kita akan melihat bahwa orang lain pun berubah --CHK 

Perubahan adalah harapan yang menyenangkan, 
Meski sering mendapat tentangan; 
Perubahan dimulai dari dalam 
Dan memerlukan banyak ketekunan. --Hess

SAAT ALLAH MELAKUKAN PERUBAHAN DI DALAM DIRI KITA 
DIA DAPAT MENGUBAH ORANG LAIN MELALUI DIRI KITA

Sumber: Renungan Harian

Senin, 04 Mei 2026

BATU ITU AKAN DIPINDAH

Bacaan: Markus 16:1-14

Ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu ... itu sudah terguling
(Markus 16:4)

Para wanita yang bermaksud meminyaki jenazah Yesus patut dipuji atas kelembutan kasih dan rasa hormat mereka bagi Juruselamat. Namun, saat mereka sudah hampir tiba di pemakaman, kesulitan memindahkan batu berat yang menyegel kubur-Nya membuat mereka khawatir. Ketakutan mereka tidak berdasar; batu itu sudah dipindahkan. 

Demikian pula, kita kerap merasa perlu mengkhawatirkan kesulitan masa depan. Padahal Allah dengan murah hati akan menyingkirkan atau menolong kita mengatasinya. Mari kita menerapkan iman yang lebih besar dalam menghadapi rintangan yang mungkin menghadang di jalan. Kita dapat yakin bahwa Tuhan akan membantu ketika menghadapi hal-hal tersebut jika kita terus maju dalam nama-Nya dan bagi kemuliaan-Nya. 

Puisi berikut memberi beberapa nasihat praktis yang sesuai dengan bacaan kita hari ini: 

Di dalam kilauan sinar matahari hari ini, 

Tinggalkanlah kekhawatiran esok hari— 

Janganlah merusak sukacita saat ini dengan bertanya: 

"Siapakah yang akan menggulingkan batu itu?" 

Kerap, sebelum kita berhadapan dengan ujian itu 

Kita telah datang dengan sukacita, 

Para malaikat telah turun dari surga 

Dan telah menggulingkan batu itu—Anonim 

Hari ini majulah di dalam pelayanan, tak gentar oleh rintangan yang akan datang. Biarlah hati Anda bersorak oleh kepastian bahwa apa pun kesulitan yang mungkin Anda hadapi, Allah akan memindahkan batu itu —HGB

JIKA ALLAH TIDAK MEMINDAHKAN RINTANGAN DIA AKAN MENOLONG ANDA MELALUINYA

Sumber: Renungan Harian

Minggu, 03 Mei 2026

PERTANYAAN SEPANJANG ZAMAN

Bacaan: Ayub 2:1-10

Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? (Ayub 2:10)

Saat Jeremy berusia 17 tahun, ia bergumul dengan pertanyaan yang telah digumuli para teolog berabad-abad. Masalahnya tidak teoritis, tetapi praktis. Ia berusaha memahami mengapa ibunya harus menjalani operasi otak. Ia bertanya, "Mengapa orang baik menderita, Bu?" 

Ibunya berkata, "Penderitaan menjadi bagian hidup di dunia yang terkutuk dosa, dan orang baik menderita seperti orang lain. Karena itu Ibu gembira kita memiliki Yesus. Jika meninggal, Ibu akan ke tempat yang lebih baik, dan Ibu akan merindukan saat Ibu dapat bertemu denganmu lagi." Ibunya lalu berkata, ia mengerti kefrustrasian Jeremy, tetapi ia meminta Jeremy tak menyalahkan Allah. 

Jika kita bingung oleh penderitaan yang dialami orang-orang baik, kita dapat bertanya secara terus terang di hadapan Allah, beradu pendapat dengan-Nya jika memang harus, dan bergumul dengan keraguan kita. Namun, janganlah kita menyalahkan Dia. 

Allah tidak memberi penjelasan kepada Ayub tentang apa yang sedang dilakukan-Nya, tetapi Dia berkata bahwa Ayub dapat memercayai Dia untuk melakukan apa yang benar (Ayub 38-42). Dan Dia telah memberi jaminan bagi kita di dalam firman-Nya bahwa Yesus menderita bagi kita, bangkit dari kematian, dan kini sedang menyiapkan sebuah tempat yang bebas dari penderitaan bagi kita. 

Semua ini mungkin bukan merupakan jawaban yang kita inginkan, tetapi semua itu adalah jawaban yang kita perlukan untuk menolong kita hidup dengan pertanyaan tentang penderitaan yang ada sepanjang zaman dan kerap kali tak terjawab itu --DJD 

Mengapa mesti menderita begini? Aku tak tahu; 
Satu yang kutahu, perbuatan-Nya baik bagiku. 
Aku percaya kepada-Nya dengan segenap hati, 
sehingga aku mengatasi, apa pun yang terjadi. --Smith

ALLAH TIDAK HARUS MEMBERI KITA JAWABAN TETAPI DIA MENJANJIKAN ANUGERAH-NYA

Sumber: Renungan Harian

Sabtu, 02 Mei 2026

MOTIVASI UTAMA

Bacaan: 2 Timotius 2:1-13

Nas: ... hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik
(Kolose 1:10)

Seorang anak yang duduk di bangku kelas satu tersenyum dengan rasa puas sewaktu menyerahkan hasil tes ejaannya kepada saya. Gurunya memberi tulisan besar di kertas tesnya "100% -- bagus!" Anak itu berkata, "Saya akan menunjukkan hasil tes ini kepada Ayah dan Ibu karena saya tahu ini pasti akan membuat mereka senang." Saya melihat ia pulang dengan naik bus, tak sabar lagi untuk segera melihat bagaimana orangtuanya meluapkan rasa gembira atas prestasi yang telah dicapai oleh anak mereka. Hasrat untuk membuat ayah dan ibunya merasa gembira jelas merupakan satu faktor penting yang memotivasinya dalam kehidupan. 

Dalam 2 Timotius 2:3, Paulus menguraikan gambaran tentang seorang prajurit yang melayani dengan penuh pengabdian demi menyenangkan komandannya. Melalui gambaran tersebut, Paulus ingin agar Timotius mengetahui alasan utamanya dalam melayani Allah, bahkan dalam suatu kondisi yang sulit sekalipun. Pengabdian sepenuh hati yang ditandai dengan kerja keras dan perhatian terhadap ketetapan Allah, membawa kemuliaan terbesar bagi Tuhan apabila pengabdian itu berasal dari hati yang berserah dan penuh kasih. 

Dalam kemanusiaan-Nya, Juru Selamat kita berharap agar kematian keji dan keberadaan-Nya yang akan menjadi korban dosa bagi manusia dapat berlalu dari-Nya. Akan tetapi, Dia berdoa, "Jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi" (Lukas 22:42). Motivasi utama yang dimiliki Yesus adalah hasrat untuk menyenangkan Bapa-Nya. Hal inilah yang seharusnya menjadi semangat kita juga --HVL

ORANG LAIN MELIHAT SESUATU YANG KITA KERJAKAN TETAPI ALLAH MELIHAT ALASAN KITA MENGERJAKANNYA

Sumber: Renungan Harian

Jumat, 01 Mei 2026

MERAYAKAN KEKECEWAAN

Bacaan: Mazmur 30

Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari
(Mazmur 30:12)

Setelah menerima Piala Oscar yang kedua, Denzel Washington berkata kepada keluarganya, "Seperti yang sudah saya katakan, jika saya kalah malam ini, saya akan pulang dan kita akan berpesta. Dan, jika saya menang malam ini, saya akan pulang dan kita akan berpesta." Denzel, yang merupakan seorang kristiani, percaya kepada Allah, baik dalam kesuksesan maupun kekecewaan. 

Pasangan suami istri kristiani yang saya kenal termotivasi untuk mengikuti teladan Denzel. Sang istri melamar sebuah jabatan impian yang baru saja dibuka di tempat kerjanya. Wawancaranya berjalan baik, tetapi ia tahu bahwa ia mungkin tidak akan mendapatkan posisi itu. Suaminya menyarankan, "Mari kita memesan tempat di restoran favorit kita hari Jumat ini untuk merayakan, apa pun hasilnya." 

Tak lama kemudian datanglah berita bahwa orang lainlah yang mendapatkan jabatan itu. Namun pada hari Jumat, pasangan suami istri yang kecewa itu tetap merayakannya. Sambil menikmati makanan yang lezat, mereka menghitung berkat-berkat mereka dan memperbarui iman mereka di dalam Allah yang memegang peluang-peluang masa depan di tangan-Nya. 

Saat sang pemazmur menghitung berkatnya, ia diangkat dari keputusasaannya dan memuji Allah, katanya, "Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari" (Mazmur 30:12). 

Apakah Anda sedang menghadapi situasi yang membuat Anda kecewa? Mengapa Anda tidak mengadakan sebuah perayaan untuk menghitung berkat-berkat Anda, apa pun hasilnya? --HDF 

Bersyukurlah kepada-Nya dalam kekecewaanmu, 
Masyhurkanlah karunia dan kasih-Nya; 
Ingatlah Dia tak pernah meninggalkanmu 
Dia akan memberkatimu dari surga. --D. De Haan

DERITA KEKECEWAAN HANYA DAPAT DIHIBURKAN OLEH  HATI YANG BERSYUKUR

Sumber: Renungan Harian