MEMBAWA, BUKAN MENGINGINKAN
[[Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. ]] (Matius 5:9)
Semua orang menginginkan hidup dalam damai. Tak banyak konflik, apalagi peperangan yang meminta korban nyawa. Namun nyatanya, sepanjang 3.400 tahun sejarah hidup manusia, dalam periode antara 1500 SM dan 1900 M, tercatat hanya selama 227 tahun manusia hidup dalam damai. Lebih dari 8.000 akta perdamaian dilanggar dan jutaan nyawa menjadi korban. Dalam periode tahun 1900 hingga kini, kekerasan makin menjadi-jadi dan perdamaian tak jua terwujud.
Yesus bersabda, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Kita perlu memperhatikan kata "membawa" dalam perkataan Yesus ini. Membawa bukan sekadar menginginkan. Membawa damai berarti menghadirkan damai. Perlu upaya yang tidak mudah untuk menghadirkan damai. Mungkin perlu menahan diri atau menanggung rugi demi menghadirkan damai. Kesediaan memperjuangkan damai menjadi salah satu penanda dari orang-orang yang berjalan mengikut Yesus seperti yang terungkap dalam rangkaian khotbah di bukit.
Tuhan menempatkan kita dalam pelbagai lingkup pergaulan—rumah tangga, tempat tinggal, kantor, dan gereja. Kita tentu merindukan suasana damai di pelbagai tempat itu. Tugas kita sebagai pengikut Kristus bukan hanya merindukan damai, tetapi juga menghadirkan damai. Apa yang selama ini telah kita lakukan untuk menghadirkan damai itu? Mari kita lakukan sesuatu untuk mewujudkannya. Kita mulai dengan berintrospeksi diri: jangan-jangan kehadiran kita sendirilah yang malah menyebabkan orang lain tidak merasakan damai.
(Wahyu Pramudya)
Sumber: Amsal Hari Ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar