Bertumbuh bersama melalui firman Tuhan dan rasakan pengalaman berjalan bersama Tuhan setiap hari
Sabtu, 30 April 2022
Jumat, 29 April 2022
Kamis, 28 April 2022
Rabu, 27 April 2022
Mental Bersaing
Bacaan: MARKUS 3:1-6
Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. (Markus 3:2)
Berbahaya sekali jika seseorang memiliki mental bersaing karena iri hati dalam hidupnya. Ia tidak segan-segan mencari kesalahan orang lain dan berusaha menjatuhkannya agar dirinya tetap terlihat lebih unggul di mata orang lain. Di mana-mana mental bersaing seperti itu ada. Di dunia pekerjaan, bangku kuliah bahkan pelayanan sekalipun. Kerjasama yang baik malah semakin terabaikan dan mulai tergantikan dengan aktualisasi diri yang tidak sehat.
Gambaran itu juga mewakili keberadaan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang selalu mencari celah untuk menjatuhkan dan membinasakan Yesus (ay. 2, 6). Sekalipun apa yang dilakukan oleh Yesus adalah hal yang berguna, tetaplah mereka menganggap itu adalah kesalahan besar. Perkataan sindiran terucap dari mulut Yesus, "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?" (ay. 4). Yesus mulai populer dalam pelayanan dan ia membawa dampak baik bagi masyarakat. Inilah yang membuat orang Farisi dan ahli Taurat iri kepadanya.
Hendaklah ini menjadi teguran bagi setiap orang percaya. Terkadang fokus pelayanan untuk memuliakan nama Tuhan mulai kabur karena kita melihat ada orang yang lebih dipakai Tuhan daripada kita. Kita sulit bekerja sama dengannya karena pikiran kita mulai fokus kepada diri sendiri yang ingin dihormati orang lain. Dalam pekerjaan sekalipun, prestasi seseorang tidak membuat kita bangga dan makin belajar dari dia. Mari kita miliki sikap untuk bekerja sama dengan sehat dan bukan mental persaingan. --YDS/www.renunganharian.net
MENTAL PERSAINGAN TIDAK AKAN MEMBUAT KITA BELAJAR BANYAK DARI ORANG LAIN.
Selasa, 26 April 2022
Senin, 25 April 2022
Minggu, 24 April 2022
Sabtu, 23 April 2022
Jumat, 22 April 2022
Kamis, 21 April 2022
Rabu, 20 April 2022
Selasa, 19 April 2022
Ragu dan Diyakinkan
Bacaan: YOHANES 20:24-29
Jadi, kata murid-murid yang lain itu kepadanya, "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka, "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sek (Yohanes 20:25)
Pertanyaan bisa timbul dari ketidaktahuan ataupun keraguan. Karena tidak tahu atau ragu, kita bertanya agar menjadi tahu dan percaya. Kita kerap dinasihati untuk tidak mudah percaya pada sesuatu yang kita lihat dan dengar. Terkadang kita merasa ragu ketika mendengar pengajaran yang mulai menyimpang. Karena itulah kita dinasihati untuk menguji segala sesuatu supaya kita tidak disesatkan. Jadi jika ada orang bertanya atau butuh diyakinkan karena ingin mencari jawaban, kita diingatkan untuk tidak buru-buru menghakiminya sebagai orang bodoh.
Kita acapkali menilai Tomas sebagai sosok peragu. Ia ragu ketika para murid memberitahukan kepada-Nya bahwa mereka telah melihat Tuhan setelah kebangkitan-Nya. Seperti para murid lain, Tomas masih berduka dan tergoncang. Ditambah lagi bahwa ia sedang tidak bersama para murid ketika Yesus menjumpai mereka di pertemuan pertama. Dengan jujur Tomas meminta bukti agar ia percaya. Yesus menjawab keraguan murid-Nya itu delapan hari kemudian dengan menampakkan diri kepada-Nya serta memintanya untuk mencucukkan jarinya pada tangan dan lambung-Nya. Dan Tomas pun percaya.
Saat hati berduka dan iman tergoncang, kita pun bisa meragukan firman dan kehilangan pengharapan. Yesus sangat memahami situasi hati kita. Dia menghargai kejujuran kita bahwa kita ragu dan butuh dikuatkan. Yesus tidak pernah mencela karena kita ragu, sebaliknya Ia hadir untuk mengubah keraguan hati kita menjadi kepastian. Kepastian bahwa Ia hidup dan tidak pernah mengingkari janji-Nya. --SYS/www.renunganharian.net
WAKTU IMAN SAYA GONCANG DAN MULAI RAGU, SAYA JUJUR MENGAKUINYA DI HADAPAN TUHAN. DAN TUHAN MENJAWAB KERAGUAN DENGAN KEPASTIAN.
Senin, 18 April 2022
Minggu, 17 April 2022
KENCAN YANG TAK TERELAKKAN
Bacaan: Ibrani 9:24-28
NATS: Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi (Ibrani 9:27)
Suami Sarah Winchester memperoleh banyak keuntungan dari usahanya membuat dan menjual senapan. Setelah suaminya meninggal karena penyakit influensa pada tahun 1918, ia pindah ke San Jose, California.
Dukacita atas kematian suaminya dan ketertarikannya yang sebenarnya telah lama pada dunia okultisme, membuat Sarah mencari dukun untuk menghubungi suaminya yang telah mati. Lalu dukun tersebut berkata kepada Sarah, "Selama Anda tetap terus membangun rumah Anda tanpa berhenti, Anda tidak akan pernah menemui ajalmu."
Sarah percaya kepada dukun tersebut, karena itu ia lalu membeli sebuah rumah besar yang memiliki 17 kamar yang belum selesai dibangun dan mulai memperluasnya. Proyek ini berlanjut sampai ia meninggal pada usia 85 tahun, Biayanya mencapai 10,5 miliar rupiah pada saat upah pekerja masih Rp 1050 perhari. Rumah tersebut memiliki 150 kamar, 13 kamar mandi, 2000 pintu, 47 tungku perapian dan 10.000 jendela. Dan Sarah meninggalkan banyak bahan bangunan sehingga para pekerja dapat melanjutkan pembangunan rumah tersebut selama kurun waktu 80 tahun kemudian.
Saat ini, rumah tersebut telah berubah fungsinya menjadi objek wisata. Bangunan itu menjadi saksi bisu atas perbudakan terhadap rasa takut yang menghinggapi berjuta-juta manusia di dunia ini dalam menghadapi kematian (Ibrani 2:15).
Karena Yesus telah mati bagi kita dan bangkit dari kematianNya, ketakutan kita atas kematian telah diubah menjadi sebuah pengharapan. Hal ini terjadi ketika kita menerima Dia sebagai Juruselamat pribadi kita. Ini adalah jalan yang terbaik untuk menghadapi pertemuan yang tak terelakkan dengan kematian -- VCG
BILA SAAT KEMATIAN TIBA INGATLAH SEMUA HAL YANG TELAH ANDA PERBUAT
Sumber: Renungan Harian
Sabtu, 16 April 2022
Jumat, 15 April 2022
Kamis, 14 April 2022
Rabu, 13 April 2022
Cemas akan Penilaian Orang
Bacaan: 1 KORINTUS 4:1-5
Bagiku tidak begitu penting entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiri pun tidak kuhakimi. (1 Korintus 4:3)
Salah satu sumber ketidakbahagiaan manusia adalah penilaian yang diberikan oleh orang lain. Banyak orang menjadi sedih, penat, digerogoti kekecewaan, bahkan terpuruk akibat terngiang-ngiang memikirkan penghakiman, kritik tajam, olok-olok, dan penghinaan orang lain.
Paulus, hamba Kristus yang kenyang cemooh, penghinaan, fitnahan, dan ucapan penghakiman yang kasar dan menusuk hati. Korespondensi dengan jemaat Korintus mencerminkan kenyataan ini. Namun ia tangguh, sebab dirinya selalu berdiri di atas landasan kasih karunia Allah. Baginya, kalau Allah-Sang Hakim Sejati -berkarunia kepada kita, mengapa kita begitu "sibuk" memedulikan penilaian manusia, termasuk dari diri sendiri (ay. 3). Dengan mantap Paulus berpijak di atas fondasi kasih karunia Allah dan memusatkan perhatian pada pelayanan yang dipercayakan kepadanya.
Pendapat dan penilaian orang lain bukan tidak penting. Tetapi, lihatlah dulu siapakah mereka sehingga sedemikian berkuasa menentukan kebahagiaan dan ketenangan kita? Mereka mungkin tahu hanya secuil tentang kita. Komentarnya mungkin terlontar serampangan dan sesudah itu tak melekat di benaknya lagi karena ia sudah repot dengan urusannya sendiri. Sebagian orang usil yang tak pernah sungguh-sungguh memikirkan kita. Jangan sampai fokus dan tujuan hidup kita dikacaukannya. Abaikan saja! Bukankah lebih baik memikirkan hal-hal yang positif dan berguna? Jangan menyerahkan kendali kebahagiaanmu ke mulut orang lain! www.renunganharian.net
ANDA TIDAK AKAN TERLALU CEMAS OLEH APA YANG ORANG LAIN
PIKIRKAN TENTANG DIRIMU KALAU ANDA TAHU BETAPA JARANGNYA ITU MEREKA LAKUKAN - ELEANOR ROOSEVELT
Selasa, 12 April 2022
Senin, 11 April 2022
Minggu, 10 April 2022
Sabtu, 09 April 2022
Jumat, 08 April 2022
Kamis, 07 April 2022
Rabu, 06 April 2022
Selasa, 05 April 2022
YA, TUHAN!
Bacaan: Yohanes 14:15-21
NATS: Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku (Yohanes 14:21)
Pemilik sebuah bisnis di dekat rumah saya di Texas sering menaruh sebuah ayat Alkitab atau kalimat yang memancing pemikiran pada sebuah papan di luar gedung kantornya. Saya menghargai kesaksian bagi Kristus secara terbuka dan berterima kasih kepada pemiliknya atas hal itu. Beberapa hari yang lalu tatkala saya mengemudikan mobil melewatinya, saya melihat papan itu hanya berisi dua kata, "Ya, Tuhan."
Sementara saya mengurus berbagai keperluan pagi hari itu, kata-kata tersebut tetap tinggal dalam pikiran saya. Adakah situasi yang tidak sesuai bagi penerapan kata-kata itu? Saya tak dapat menemukan satu pun. Betapa Yesus akan sangat bersukacita bila saya memulai setiap hari dengan dua kata itu!
"Ya, Tuhan. Saya merasa puas dengan kedudukan saya sekarang dan tidak berharap memiliki kedudukan lain." "Ya, Tuhan. Saya mempercayakan ketidakpastian yang mengganggu pikiran saya kepada-Mu." "Ya, Tuhan. Saya membuka hati dan tangan saya dengan kemurahan hati yang penuh sukacita yang berkenan kepada-Mu."
Yesus berkata, "Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya" (Yohanes 14:21). Tidak ada beban karena kewajiban dalam hal ini; hanya tanggapan kasih yang penuh kerinduan.
Jalan keluar bagi setiap kesulitan yang kita hadapi pada hari ini dimulai dengan jawaban yang penuh keyakinan terhadap Juruselamat kita: "Ya, Tuhan!" [DCM]
ANDA TIDAK MUNGKIN SALAH JIKA ANDA MEMILIH UNTUK MENTAATI KRISTUS
Sumber: Renungan Harian
Senin, 04 April 2022
Minggu, 03 April 2022
FIRMAN YANG TERABAIKAN
Bacaan: Mazmur 119:97-104
NATS: Firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya (Ibrani 4:2)
Para pemikir zaman kini cenderung terpengaruh oleh filsafat dari Sigmund Freud. Meskipun Freud mengaku seorang ateis, seringkali ia juga memikirkan hal-hal mengenai keagamaan, seakan-akan secara tanpa sadar ia dibayang-bayangi oleh Allah yang disangkalnya.
Ketika Freud berusia 35 tahun, ayahnya mengirimkan saduran surat Ibrani yang Freud pernah berikan kepadanya tatkala Freud masih anak-anak. Sigmund Freud telah membaca dan mempelajari buku tersebut, setidaknya untuk beberapa lama.
Dalam kitab tersebut terselip sebuah catatan dari ayahnya yang mengingatkan ia: "Roh Allah mulai menggerakkanmu dan berbicara di dalam hatimu: 'Pergi dan bacalah BukuKu yang telah Aku tulis dan akan ada semacam ledakan-terbuka sumber dari pengertian, pengetahuan, dan hikmat.'"
Tulisan ayahnya tersebut menyiratkan suatu pengharapan agar Freud, sebagai orang yang telah dewasa, sekali lagi bersedia membaca dan mentaati hukum Allah. Namun, kita tidak memiliki bukti, apakah Freud memasukkan nasihat ayahnya ke dalam hatinya atau tidak. Betapa akan berbeda hidup dan pengaruh darinya bila ia melakukan nasihat itu!
Bagaimana dengan kita saat ini? Marilah kita mengoreksi diri kembali, apakah kita telah mengesampingkan Alkitab yang pernah kita baca dan pelajari dalam kehidupan sehari-hari? Jika demikian, kita masih belum terlambat untuk kembali mencari hikmat dari Buku itu. Ya, dan terlebih penting lagi, kita masih belum terlalu terlambat untuk mulai percaya dan taat pada firman Allah yang tertulis itu -- VCG
ALLAH TIDAK AKAN MEMBUKA PINTU HIKMAT KEPADA MEREKA YANG SENANTIASA MENUTUP ALKITABNYA
Sumber: Renungan Harian