Sabtu, 04 November 2023

HIDUP ITU MEMILIH

[[Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya. ]] (Ratapan 3:21-22)

Sebuah puisi berbunyi demikian: Saat aku tidak paham maksud Tuhan, aku memilih untuk percaya. Saat aku tertekan oleh kekecewaan, aku memilih untuk bersyukur. Saat rencana hidupku berantakan, aku memilih untuk berserah. Saat putus asa melingkupiku, aku memilih untuk tetap maju dengan iman. Saat doa-doaku menguap seolah tak berbekas, aku memilih untuk bertekun.

Ya, hidup ini pada dasarnya adalah memilih. Bahkan tatkala keadaan di luar diri kita tidak terelakkan, kita tetap dapat memilih sikap batin kita terhadap keadaan tersebut: mensyukurinya sambil mencari hikmat di balik semua itu atau sebaliknya, mengutukinya?

Yeremia, penulis Kitab Ratapan, mengalami tekanan hidup yang sangat berat. Sedemikian beratnya sehingga ia berkata, “Engkau menceraikan nyawaku dari kesejahteraan, aku lupa akan kebahagiaan. Sangkaku: hilang lenyaplah kemasyhuranku dan harapanku kepada TUHAN” (ayat 17-18). Ia memang tidak dapat mengubah ataupun menghindari keadaan yang menekannya itu. Tetapi, ia dapat memilih: berputus asa atau tetap berpengharapan? Dan ia memilih untuk tetap berpengharapan. Ia memfokuskan diri pada kasih setia Tuhan (ayat 21-23).

Saat ini mungkin kita tengah diterpa problem kehidupan. Dan kita tidak dapat menghindari hal itu. Di dalam situasi demikian, yang terbaik adalah meneladani Yeremia; tidak membiarkan dirinya hanyut dalam keputusasaan, tetapi memfokuskan diri pada kasih setia Tuhan. Bila kita membuka mata hati kita, melihat kehidupan dengan pikiran jernih, maka kita akan selalu menemukan alasan untuk bersyukur.

(Ayub Yahya)

Sumber: Amsal Hari Ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar