Sabtu, 01 Maret 2025

Yesus Damai Sejahtera Kita


Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat.” –Efesus 2:17


Ayat Bacaan & Wawasan :

Efesus 2:11-18


Joan meradang saat melihat foto yang diunggah Susan di media sosial. Dalam foto itu tampak 10 orang teman gerejanya sedang bersenang-senang di sebuah restoran. Untuk kedua kalinya bulan ini, mereka pergi tanpa mengajak Joan. Ia mengusap air matanya. Joan memang tidak mudah bergaul, tetapi tetap saja ia terluka. Ia juga merasa janggal karena beribadah bersama orang-orang yang mengabaikannya!


Itu juga terjadi di abad pertama! Namun, Yesus merindukan kesatuan, dan Dia datang untuk menyatukan perpecahan kita. Pada awal berdirinya gereja, pihak-pihak yang selama ini tidak akur dapat menemukan kesamaan di dalam Dia. Kaum non-Yahudi dipandang rendah orang Yahudi karena tidak menaati hukum Taurat. Sebaliknya, orang Yahudi dibenci non-Yahudi karena menganggap diri lebih baik. Lalu, Yesus “mempersatukan kedua pihak” dengan “merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya” (Ef. 2:14-15). Yang penting bukan lagi ketaatan kepada hukum Taurat, melainkan Yesus.


Akankah orang Yahudi dan non-Yahudi bersatu dalam Dia?

Semua tergantung pada tanggapan mereka. Yesus “memberitakan damai sejahtera kepada [orang non-Yahudi] yang ‘jauh’ dan damai sejahtera kepada [orang Yahudi] yang ‘dekat’” (ay. 17). Pesan yang sama dengan penerapan yang berbeda. Orang Yahudi yang menganggap diri lebih baik perlu merendahkan diri, sementara orang non-Yahudi yang selama ini diabaikan perlu meyakini bahwa mereka telah diterima. Kedua belah pihak perlu berhenti mempermasalahkan satu sama lain dan berfokus pada Kristus, yang menciptakan “satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera” (ay. 15).


Diabaikan memang menyakitkan dan juga tidak menyenangkan. Namun, Anda dapat menjadi pembawa damai saat Anda bersandar pada Yesus. Dia masih dan selalu menjadi damai sejahtera kita.


Oleh:  Mike Wittmer


Renungkan dan Doakan

Kapan Anda pernah merasa diabaikan? Bagaimana Anda dapat menjadi pembawa damai sejahtera?


Ya Bapa, ketika aku diabaikan, biarlah aku bersandar pada Putra-Mu.


Sumber: Renungan Our Daily Bread

Tidak ada komentar:

Posting Komentar