Senin, 30 Juni 2025

Jangan Stres! Percayalah Tuhan akan Menyediakan

Bacaan Hari ini:
Roma 8:32 “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”

Penyebab utama stres dalam kehidupan ialah kekhawatiran. Anda khawatir karena Anda bertanya-tanya apakah Anda akan memiliki apa yang Anda butuhkan ketika Anda membutuhkannya. Tetapi saat Anda mengharapkan orang lain memenuhi apa yang Anda butuhkan, Anda menjadi frustrasi dan kecewa karena tak ada seorang pun di dunia ini yang bisa memberikan semua yang Anda butuhkan. Hanya Allah yang bisa melakukannya.

Jika Anda menginginkan obat stres, belajarlah mengandalkan Tuhan untuk memenuhi segala kebutuhan Anda.

Beberapa orang menaruh rasa aman mereka pada pekerjaan mereka. Namun apa yang terjadi ketika mereka kehilangan pekerjaan mereka? Mereka kehilangan ketenangan jiwa mereka.

Yang lain menaruh rasa aman mereka pada pernikahan mereka. Tapi ketika pasangan mereka meninggal atau ketika mereka berpisah, mereka jadi linglung, “Siapa saya? Apa jati diri saya?”

Atau, mungkin Anda menaruh rasa aman Anda pada uang Anda. Namun, ada banyak hal yang bisa membuat Anda kehilangan uang Anda.

Saya mengajak Anda agar jangan pernah menempatkan rasa aman Anda pada apa pun yang sewaktu-waktu bisa direnggut dari Anda. Anda bisa kehilangan pekerjaan, kesehatan, reputasi, pasangan, dan akal pikiran Anda, tetapi Anda tidak akan pernah kehilangan hubungan Anda dengan Kristus.

Ketika Anda menaruh rasa aman Anda di dalam janji-janji Allah, maka Anda dapat menyerahkan segala yang Anda butuhkan kepada-Nya.

Roma 8:32 mengatakan, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”

Jika Allah Bapa begitu mengasihi Anda sehingga Ia mengutus Yesus Kristus untuk mati di kayu salib buat Anda, bukankah Ia juga akan mengurus segala yang Anda butuhkan? Iya, tentu saja.

Setiap kali Anda mulai merasa tertekan, berhentilah sejenak dan katakan, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku” (Mazmur 23: 1).

Renungkan hal ini:
- Ketika Anda punya kebutuhan dalam hidup Anda, apa yang biasanya menjadi respon pertama Anda?
- Apa yang Anda butuhkan dalam hidup Anda hari ini? Bagaimana Anda dapat menunjukkan kepada orang lain bahwa Anda percaya Tuhan akan menyediakannya buat Anda?
- Bagaimana Anda tahu bahwa Anda dapat mempercayai apa yang Tuhan janjikan dalam Firman-Nya?

Tuhan akan menyediakan. Anda ada dalam pemeliharaan-Nya. Daripada stres, andalkanlah Dia untuk memenuhi semua yang Anda butuhkan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Minggu, 29 Juni 2025

MANDY HANYA MENDENGARKAN

Bacaan: Ayub 2:11-13

NATS: Mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorang pun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya (Ayub 2:13)

Marty baru saja mendapat "ucapan terima kasih" yang tak terduga atas jasanya bekerja pada sebuah perusahaan, berupa sebuah catatan singkat: "Jabatan Anda sudah berakhir."

Setelah berbulan-bulan tidak mendapat pekerjaan, Marty pun menjadi frustrasi. Dengan marah ia berteriak kepada Allah, "Mengapa Engkau lakukan ini padaku? Tidakkah Engkau peduli?" Ia terus marah-marah sampai ia melihat Mandy, anjingnya, meringkuk ketakutan dibawah kursi. Ia pun berhenti dan berkata, "Mandy, ke sini! Kamu harus senang karena kamu seekor anjing. Setidaknya kamu tidak bisa dipecat sebagai teman baik manusia." Ia terus berkeluh kesah dan berbicara dengan Mandy, dan tanpa sadar kesedihannya pun hilang.

David Biebel, penulis yang menceritakan kisah ini, menulis: "Anda mungkin berpikir bahwa ia lega karena segala sesuatu yang telah ia ungkapkan kepada Allah, dan itu sebagian memang benar. Namun Mandy juga berperan besar .... Mandy tidak membantah, menawarkan pemecahan masalah, atau memberi nasihat. Mandy hanya mendengarkan, mengibaskan ekornya, dan menjilati tangan tuannya.

Ketika ketiga sahabat Ayub melihat penderitaan Ayub, mereka hanya duduk bersamanya, menangis bersamanya, dan tidak mengatakan apa pun selama 7 hari, sekalipun kemudian mereka menghentikan sikap hening mereka yang bijak itu.

Kadangkala yang kita butuhkan hanya "menangislah dengan orang yang menangis!" (Roma 12:15). Mungkin hanya telinga kita yang mereka butuhkan, sehingga mereka dapat mendengar apa yang Allah katakan kepada mereka --DJD

MUNGKIN MENDENGAR ADALAH HAL TERPENTING YANG PERLU ANDA LAKUKAN HARI INI

Sumber: Renungan Harian

Sabtu, 28 Juni 2025

BOTAK?

Bacaan: Hakim-hakim 16:6-20

NATS: Tidaklah diketahui, bahwa Tuhan telah meninggalkan dia (Hakim-hakim 16:20)

Barney selalu bangga dengan rambutnya yang tebal dan berombak. Namun kemudian ia kehilangan semuanya itu. Akhirnya hanya sehelai rambut saja yang tinggal di atas kepalanya. Suatu pagi ketika bangun, Barney melihat bantalnya, dan sangat terguncang melihat helai rambut terakhirnya tergeletak di situ. Ia langsung melompat dari ranjangnya, berlari ke lantai bawah sambil berteriak-teriak, “Martha, Martha, aku botak!”

Kisah diatas mengingatkan saya pada Simson, yang tidak segera mengetahui bahwa Tuhan telah meninggalkannya (Hakim-hakim 16:20). Hal serupa juga terjadi pada orang Kristen yang secara iseng mencoba-coba segala sesuatu di dunia ini. Tanpa menyadari apa yang terjadi, ia sudah jatuh ke dalam dosa yang semakin lama semakin dalam, dan perlahan-lahan menjauhkan dirinya dari Tuhan. Ia baru sadar setelah mengalami sesuatu yang mengejutkan--barangkali setelah Allah mendisiplin--sehingga ia dapat melihat kondisinya yang sebenarnya. Dengan terang firman Allah, orang yang diperdaya akan menyadari betapa Setan telah melucuti kerohaniannya yang teguh.

Televisi, bioskop, dan home video menayangkan kebiasaan-kebiasaan dalam hidup yang menunjukkan betapa dalamnya sebagian orang telah tergelincir. Kata-kata tak senonoh dan tema-tema tak bermoral yang dulu ditentang, kini ditoleransi sebagai hiburan.

Supaya tidak terguncang seperti Barney, penting bagi kita untuk menguji diri setiap hari. Atau, maukah Anda mengalami kebotakan rohani?--RWD

KEJATUHAN DALAM DOSA SERING KALI TIDAK TERASA SEBAGAI EMPASAN DAHSYAT, TETAPI KEBOCORAN YANG LAMBAN

Sumber: Renungan Harian

Jumat, 27 Juni 2025

KESAN YANG MENIPU

Bacaan: Yakobus 2:1-13

NATS: Allah tidak memandang muka (Galatia 2:6)

Ia tidak memakai kemeja rapi, dan mobilnya seperti barang rongsokan. Namun demikian, laki-laki kumuh yang berhenti untuk menolong mereka di jalan raya Chicago itu, menurut teman saya, berhati malaikat.

Ketika melintasi jalan raya yang padat di Chicago, ban mobil Ken dan Sue meletus. Sebab itu mereka menepikan mobil mereka ke pinggir jalan, sementara mobil-mobil lainnya melaju kencang. Lalu mereka berdoa memohon bantuan. Pada saat itulah laki-laki yang mengendarai mobil berkarat itu melambaikan tangan dan berseru menawarkan bantuan.

Sebagian besar dari kita biasanya enggan mempercayai orang yang tidak kita kenal, maka wajarlah bila teman saya tersebut bersikap waspada terhadap laki-laki kurus kering itu. Namun akhirnya mereka tahu bahwa laki-laki itu adalah seorang montir yang juga mengalami hal yang sama beberapa hari sebelumnya. Pria itu segera mengambil alat-alatnya, memperbaiki ban mobil mereka, kemudian mempersilakan mereka untuk kembali melanjutkan perjalanan.

Terlalu sering kita menilai orang dari penampilannya, pakaiannya, atau jenis mobil yang mereka kendarai. Memang kita harus berhati-hati dalam mempercayai seseorang, tetapi itu bukan berarti kita harus menolak setiap orang yang tidak berpakaian rapi seperti pembawa berita di televisi.

Setiap orang memiliki ukuran tubuh, warna kulit, dan kondisi yang berbeda-beda. Sebelum menolak mereka yang sepertinya tidak sesuai dengan standar kita, kita harus ingat bahwa Pencipta kita tidak pilih kasih (Galatia 2:6). Kita pun seharusnya demikian --JDB

PANDANGLAH ORANG LAIN DENGAN CARA PANDANG KRISTUS

Sumber: Renungan Harian

Kamis, 26 Juni 2025

Anda Membutuhkan Sistem Pendukung Kehidupan

Bacaan Hari ini:
Galatia 6:2 “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”

Kelompok kecil adalah salah satu cara kita dapat menaati perintah Allah: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus”(Galatia 6:2).

Ini hal yang menarik: Ketika Anda berbagi sukacita, sukacita itu berlipat ganda. Saat Anda berbagi kesedihan, sukacita itu berkurang setengahnya.

Jika Anda datang ke kelompok kecil Anda dan berkata, “Coba tebak! Saya baru saja mendapat promosi!,” semua orang bersukacita bersama Anda. Sukacita Anda semakin dan semakin berlipat ganda. Saat Anda berbagi sukacita dengan orang lain, sukacita itu dimaksimalkan.

Jika Anda datang ke kelompok kecil Anda dan menceritakan bahwa ada anggota keluarga Anda yang baru saja meninggal atau Anda mendapat kabar buruk dari dokter, kesedihan Anda akan berkurang setengahnya. Anda tidak harus menanggung beban itu sendirian.

Dalam kedua kasus tersebut, berbagi adalah hal yang tepat. Alkitab mengatakan, "Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15). Dan 1 Korintus 12:26 mengatakan, "Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.”

Saya mungkin tidak akan berada di sini jika bukan karena dukungan dari kelompok kecil saya yang telah membersamai saya melewati tahun terburuk dalam hidup saya. Begitu putra saya meninggal, kami berdiri di depan rumahnya sambil menunggu polisi datang. Dalam waktu satu jam, seluruh kelompok kecil kami muncul. Mereka tidak melakukan apa pun. Mereka tidak mengatakan apa pun. Mereka hanya ada di sana untuk kami.

Malam itu, kelompok kecil kami datang ke rumah kami dan menginap. Kami tidak punya tempat tidur untuk semua orang. Mereka tidur di sofa, di lantai, dan di kursi. Mereka berkata, "Kami tidak akan meninggalkanmu sendirian." Mereka menangis bersama kami. Mereka menderita bersama kami. Itulah yang dilakukan oleh kelompok kecil.

Apakah Anda memiliki orang-orang seperti itu dalam hidup Anda? Apakah Anda juga memberikan dukungan yang sama kepada orang lain? Anda mungkin berpikir Anda tidak membutuhkannya, tetapi kelompok kecil dapat menjadi penyelamat saat bencana kehidupan datang.

Renungkan hal ini: 
- Bagaimana kehadiran seseorang yang penuh perhatian, bahkan ketika mereka tidak mengatakan apa pun, menolong Anda saat Anda menderita?
- Apa yang harus Anda lepaskan untuk bisa berbagi hidup Anda dengan lebih terbuka dengan sekelompok kecil teman Anda yang tepercaya?
- Bagaimana cara Anda berbagi sukacita dengan seseorang atau membantu menanggung penderitaan mereka hari ini?

Baik mereka memaksimalkan sukacita Anda atau berbagi rasa sakit Anda, kelompok kecil adalah tempat tubuh Kristus mencontohkan ajaran Yesus untuk saling mengasihi dan peduli.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Rabu, 25 Juni 2025

Tangan yang Menyalurkan Kasih Kristus
Shalom saudara yang dikasih Tuhan, jumpa kembali dengan saya Maria Kaesmetan. Saudaraku, apapun keadaanmu hari ini, percaya bahwa Tuhan punya jalan keluar atas hidupmu. Dan sebagai orang yang dikasih Tuhan, kita mau supaya semakin hari hidup kita serupa dengan Kristus.
 
Ayat Renungan: Kisah Para Rasul 10: 38 – “….Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.”
 
Firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul 10: 38 mengingatkan kita tentang teladan Yesus, bahwa “Dia berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan orang-orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai-Nya.” Yesus diurapi dengan Roh Kudus dan kuasa, sehingga melalui tangan-Nya, banyak orang disembuhkan, dilepaskan dari kuasa gelap, bahkan dibangkitkan dari kematian. Ini adalah gambaran nyata bagaimana Tuhan menggunakan tubuh-Nya, khususnya tangan-Nya, untuk menjadi saluran kasih dan kuasa Allah.

Bagaimana dengan kita hari ini? Meskipun kita masih dalam proses untuk menjadi serupa Kristus, kita tetap dapat melakukan hal-hal sederhana yang membawa dampak besar. Saya teringat kisah seorang teman yang menggunakan keterampilannya membuat sabun. Sabun-sabun tersebut kemudian dibawa oleh tim misi ke daerah-daerah terpencil, memberkati mereka yang kekurangan fasilitas mandi. Bayangkan, hanya dengan satu batang sabun, orang-orang itu bisa merasakan kasih Tuhan dan tahu bahwa mereka dicintai.

Saudara, tahukah bahwa tangan Anda seperti pipa yang menyalurkan kasih Kristus kepada orang yang membutuhkan. Bagian kita bekerja dengan tangan kita. Bagian Allah menyertai dengan roh-Nya dan memberkati orang yang menerima hasil daripada pekerjaan tangan kita. Sehingga orang tersebut mengalami jamahan kasih Tuhan dan mereka bertobat. 

Maukah hari ini saudara jadi berkat bagi orang lain dengan tangan Anda? Coba pikirkan apa yang dapat Anda kerjakan dengan tangan Anda untuk menjadi berkat bagi orang lain. 
Kiranya selagi masih ada waktu mari kita berbuat baik. Karena ada waktunya malam hari tidak ada kesempatan dan kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Selamat berkarya. Tuhan Yesus memberkati.
 
Action:
Hari ini, renungkan dan pikirkan, apa yang bisa kamu lakukan dengan tanganmu untuk memberkati orang lain? Mungkin membuat makanan untuk yang lapar, membantu seseorang yang kesulitan, atau membuat karya tangan yang sederhana. Saya tantang Anda untuk memulainya di minggu ini dan biarkan hidupmu menjadi saluran kasih Tuhan.
 
Hak Cipta ©Maria Kaesmetan, Departemen Spiritual Life CBN Indonesia
 
Apakah Anda merasa ditinggalkan dan terpuruk di dalam banyak persoalan? Hari ini, Tuhan ingin hadir mengisi hidup Anda dengan kasih-Nya. Mari buka hati Anda untuk Dia masuk dan bekerja. Serahkan hidup Anda kepada Dia dan mengakui bahwa pengorbanan-Nya di kayu salib telah menebus hidup Anda selamanya. 

Sumber: Jawaban.com

Selasa, 24 Juni 2025

Iman yang Tak Tergoyahkan

Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. –Mazmur 95:7

Ayat Bacaan & Wawasan :
Mazmur 95:1-7

Ketika Dianne Dokko Kim dan suaminya mengetahui bahwa putra mereka didiagnosis menderita autisme, ia bergumul dengan kemungkinan bahwa putranya yang menyandang disabilitas kognitif itu mungkin akan hidup lebih lama daripada dirinya. Ia berseru kepada Allah: Bagaimana keadaannya jika tidak ada aku yang merawatnya? Kemudian, Allah menghadirkan orang-orang dewasa lainnya yang juga membesarkan anak-anak penyandang disabilitas. Allah memampukan Dianne untuk menyerahkan kepada-Nya rasa bersalah yang sering meliputi hatinya, perasaannya yang tidak berdaya, dan juga ketakutan yang dialaminya. Akhirnya, dalam bukunya, Unbroken Faith, Dianne menawarkan pengharapan akan hadirnya “pemulihan rohani” kepada orang-orang dewasa lainnya yang membesarkan anak-anak difabel. Saat putranya memasuki usia dewasa, iman Dianne tetap terjaga. Ia percaya bahwa Allah akan selalu menjaga dirinya dan putranya.

Ketidakpastian dalam hidup dapat mengeraskan hati kita terhadap Allah. Kita mungkin tergoda untuk mengandalkan hal atau orang tertentu, termasuk diri kita sendiri. Akan tetapi, kita dapat mengandalkan “gunung batu keselamatan kita” (Mzm. 95:1), suatu ungkapan yang menunjukkan karakter Allah yang tak berubah. “Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-gunung pun kepunyaan-Nya. Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya” (ay. 4-5).

Kita dapat hidup dengan iman yang tak tergoyahkan, menyembah “Tuhan yang menjadikan kita” (ay. 6). Kita percaya bahwa Dia selalu menyertai kita dan orang-orang yang kita kasihi karena kita adalah “kawanan domba tuntunan tangan-Nya” (ay. 7).

Oleh:  Xochitl Dixon

Renungkan dan Doakan
Bagaimana Allah telah menunjukkan bahwa Dia peduli kepada Anda dan orang-orang yang Anda kasihi, di saat Anda merasa tak berdaya? Bagaimana kesadaran akan karakter Allah yang tak berubah itu memampukan Anda untuk percaya bahwa Dia akan menggenapi janji-janji-Nya?

Allah yang Maha Besar, terima kasih, karena Engkau berjanji selalu menjagaku.

Sumber: Our Daily Bread

Senin, 23 Juni 2025

Belajar untuk Mengasihi Kelompok Anda

Bacaan Hari ini:
Kisah Para Rasul 2:42, 44 “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama.”

Tujuan utama dalam kehidupan ialah belajar caranya mengasihi. Itulah sebabnya Tuhan menempatkan Anda di bumi ini—alih-alih menciptakan Anda, lalu membawa Anda langsung ke surga. Salah satu tempat terbaik untuk belajar bagaimana mengasihi adalah di dalam kelompok kecil.

Bahkan, kelompok kecil adalah laboratorium untuk belajar bagaimana caranya mengasihi. 

Tuhan ingin Anda belajar untuk mengasihi Dia dan orang lain. Dia memberi Anda komunitas Kristen—gereja—untuk mendorong Anda dan membantu Anda bertumbuh dalam hikmat dan berjalan dengan setia bersama Tuhan. Belajar mengasihi merupakan pelajaran terpenting dalam kehidupan Anda, dan tempat terbaik untuk mempraktikkannya yaitu dalam komunitas orang percaya. 

Anda tidak bisa belajar mengasihi, kecuali Anda berada di sekitar orang lain—orang-orang yang sering kali berbeda dari Anda atau bahkan yang mungkin membuat Anda kesal. Itulah salah satu alasan mengapa banyak orang terbawa kepada agama yang mengajarkan bahwa cara untuk menjadi suci adalah dengan mengisolasi diri dari orang lain. Terkadang itu tampak seperti cara yang lebih mudah.

Namun, Yesus berkata ada cara yang lebih baik. Dia menghabiskan hidup-Nya di sekitar orang-orang di rumah, di pasar, di bait suci, di desa, di laut, dan di jalan. Dia mengasihi orang-orang di mana pun Dia bertemu mereka, apa adanya mereka, dan mengampuni mereka serta memperlihatkan kasih karunia kepada mereka. Anda tidak akan bisa belajar mengasihi seperti itu apabila Anda tidak berada di sekitar orang lain.

Kita mempraktikkan kasih di dalam kelompok kecil. Alkitab menyebutnya persekutuan.

Itulah salah satu karunia terbesar yang diberikan kelompok kecil kepada kita—persekutuan bersama orang-orang yang mengasihi dan menerima kita serta membantu kita menjadi murid Yesus yang lebih baik.

Kisah Para Rasul 2:42 mengatakan hal ini tentang gereja mula-mula: “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” Dalam banyak hal, keluarga rohani Anda bisa jadi lebih dekat daripada keluarga biologis Anda.

Kasih bukanlah sebuah perasaan; itu adalah komitmen. Jika Anda menganggap kasih adalah perasaan, maka begitu perasaan itu hilang, Anda akan berpikir kasih itu juga hilang. Tidak! Kasih adalah sebuah pilihan. Di dalam kelompok kecil, kita harus memilih untuk mengasihi sebab Allah telah menunjukkan kasih-Nya yang besar kepada kita.

Renungkan hal ini: 
- Menurut Anda, apa yang Allah coba ajarkan kepada Anda saat Anda bersekutu dengan seseorang yang sulit untuk dikasihi?
- Mengapa kasih itu begitu penting untuk kita pelajari? Apa yang diajarkan kasih kepada kita tentang Allah?
- Bagaimana komitmen membantu Anda untuk bertumbuh secara rohani dan belajar untuk mengasihi lebih dalam?

Menunjukkan kasih kepada orang lain sering kali sulit dan tidak sempurna. Namun, ketika Anda memilih untuk mengasihi dan berkomitmen kepada sekelompok orang yang memiliki iman yang sama kepada Yesus, sesuatu yang hebat sedang terjadi—Anda mulai bertumbuh bersama dengan cara-cara yang tidak akan pernah bisa Anda lakukan sendiri.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Minggu, 22 Juni 2025

MENGUJI ALLAH?

Bacaan: Mazmur 145

NATS: TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya (Mazmur 145:18)

Margaret memperhatikan bagaimana ibunya berdoa memohon pertolongan yang benar-benar dibutuhkan oleh keluarganya yang miskin. Namun, meski ibunya terus berdoa, keluarganya tetap miskin. Karena itu Margaret kemudian menyimpulkan bahwa tidak ada gunanya berdoa.

Sekarang, beberapa puluh tahun kemudian, Margaret menjadi seorang ateis. "Saya pikir jika doa memang ada gunanya," katanya, "doa itu akan menghasilkan sesuatu." Margaret salah menafsirkan, ia mengira bahwa doa-doa ibunya adalah alat untuk menguji keberadaan Allah.

Doa bukanlah balon percobaan yang dikirim ke surga untuk mengetahui apakah Allah ada di sana. Doa adalah kesempatan yang Allah berikan kepada kita untuk berkomunikasi dengan-Nya. Menggunakan doa untuk menguji keberadaan Allah merupakan penghinaan terhadap Dia yang menciptakan kita.

Mazmur 145:18 berbunyi, "Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya." Bagi mereka yang mengalami kesulitan, janji itu lebih bernilai dari pertolongan lahiriah yang bersifat sementara. Bacaan di atas juga menjelaskan bahwa Allah mengharapkan sesuatu dari kita. Saat kita berdoa, Dia berharap agar kita "berseru kepada-Nya dalam kesetiaan" (ayat 18) dan "takut akan Dia" (ayat 19).

Keberadaan Allah tidak diuji saat kita berdoa. Kita tidak membuat permohonan kepada-Nya untuk melihat apakah Dia benar-benar ada. Saat berdoa, kita menunjukkan kepada Allah bahwa kita beriman kepada-Nya dan bersedia melakukan apa yang dikatakan-Nya.

Doa bukanlah ujian bagi Allah. Doa adalah penyembahan kepada Allah --JDB

Speak, Lord, in the stillness
While I wait on Thee,
Hushed my heart to listen
In expectancy. --Grimes

BERDOALAH UNTUK MENGENAL ALLAH, JANGAN SEMATA UNTUK MEMINTA SESUATU DARI ALLAH

Sumber: Renungan Harian

Sabtu, 21 Juni 2025

MANFAAT PENDERITAAN

Bacaan: Mazmur 73:21-28

NATS: Siapakah gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain engkau tidak ada yang kuingini di bumi (Mazmur 73:25)

Seseorang yang sinis bertanya kepada seorang Kristen yang sudah tua, yang pernah mengalami sakit parah selama 20 tahun, “Apa yang Anda pikirkan tentang Allah saat ini?” Orang tersebut menjawab, “Saya justru lebih bergantung kepada Dia dalam keadaan seperti ini.”

Penderitaan memang dapat menjadi suatu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ketika kemalangan datang bertubi-tubi dan menggerogoti kesehatan, teman-teman, uang, dan saat-saat yang menyenangkan, maka Allah menjadi satu-satunya pegangan hidup kita. Kita mengasihi-Nya semata-mata karena Dia dan bukan karena hal-hal yang Dia berikan.

Pada saat-saat seperti itu, kita akan cenderung berseru seperti pemazmur, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi” (Mazmur 73:25). Penderitaan dapat menuntun kita sampai pada suatu titik sehingga kita dapat berkata, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (ayat 26).

Kemudian kita juga harus ingat bahwa di depan kita terbentang surga, tempat “Ia akan menghapus segala airmata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita” (Wahyu 21:4). Penderitaan akan menuntun kita ke suatu tempat yang tidak mengenal rasa kehilangan--suatu tempat yang tak ada kesedihan, tempat kita hanya akan bersukacita dan melayani Allah. Inilah cara pandang yang benar tentang penderitaan. Inilah manfaat penderitaan--DHR

SAAT KITA TIDAK MEMPUNYAI APA-APA LAGI SELAIN ALLAH
KITA AKAN MENDAPATI BAHWA ALLAH SAJA SUDAH CUKUP

Sumber: Renungan Harian

Jumat, 20 Juni 2025

Lentera di Puncak Menara

Di sebuah kota tua yang dikelilingi kabut, berdiri sebuah menara tinggi dengan lentera besar di puncaknya. Lentera itu memiliki cahaya yang sangat kuat, mampu menembus kabut tebal dan membimbing para pelaut yang tersesat di tengah lautan.

Namun, lentera itu jarang dinyalakan. Pemilik menara selalu berkata, "Kabut akan hilang besok, aku akan menyalakan lentera esok hari. Hari ini masih cukup terang, bukan?"

Hari berganti hari, kabut semakin tebal, namun lentera tetap padam. Para pelaut di lautan gelap berjuang tanpa cahaya penuntun.

Suatu malam, kabut menjadi sangat tebal dan badai mengguncang kota. Seorang pelaut yang hampir putus asa akhirnya berhasil mencapai pantai, namun kapalnya hancur, dan banyak awaknya hilang. Pelaut itu menatap menara gelap dengan kecewa dan bertanya pada dirinya, "Mengapa lentera itu tidak dinyalakan?"

Pemilik menara berdiri terpaku di puncak, menatap lautan yang gelap gulita. Saat itu ia sadar bahwa ia terlalu lama menunda melakukan kebaikan. Ia baru tersadar ketika semuanya sudah terlambat.

Dengan tangan gemetar, ia menyalakan lentera itu. Cahaya terang menembus kabut, tetapi tak ada lagi kapal yang bisa diselamatkan malam itu. Lentera yang seharusnya membawa harapan, kini hanya menyinari kehampaan.

Menunda untuk berbuat baik bisa berdampak buruk, bukan hanya bagi diri kita, tetapi juga bagi orang lain. Pemilik menara berpikir ia masih punya waktu untuk menyalakan lentera, namun kabut dan badai datang lebih cepat daripada yang ia perkirakan. Akibatnya, banyak pelaut kehilangan arah, bahkan nyawa.

Dalam hidup ini, kita sering menunda untuk membantu, mengasihi, mengampuni, atau menyatakan kebaikan, dengan alasan "nanti saja", "masih ada waktu", atau "hari ini belum mendesak". Kita tidak tahu kapan kesempatan untuk menyalakan "lentera" itu akan hilang. Jika kita terus menunda, bisa jadi kita kehilangan momen penting untuk menjadi saluran berkat Tuhan.

Tuhan memanggil kita untuk segera bertindak, bukan hanya menunggu waktu yang sempurna. Jadilah seperti lentera yang selalu siap menyala, memberikan terang di tengah gelapnya dunia ini.

"Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa." (Yakobus 4:17)

Sumber: Renungan dan Ilustrasi Kristen

Kamis, 19 Juni 2025

Cara Mendapatkan Kuasa dari Tuhan

Bacaan Hari ini:
1 Korintus 4:20 “Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa.”

Untuk dapat menjalani hidup yang sepenuh, Anda harus hidup di dalam kuasa Tuhan.

Alkitab berkata dalam 1 Korintus 4:20, “Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa."

Anda tidak pernah dirancang untuk menjalani kehidupan yang sepenuh dan berlimpah dengan mengandalkan diri sendiri. Tuhan menggunakan dan memberkati mereka yang bergantung pada-Nya dan berserah kepada-Nya. Dan Dia mampu melakukan lebih dari yang dapat Anda bayangkan!

Namun, pertama-tama Anda harus hidup dengan kuasa-Nya. Efesus 3:20 mengatakan, "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa  yang bekerja di dalam kita.” Lantas, bagaimana Anda mendapatkan kuasa Tuhan dalam hidup Anda? Ada tiga cara:

Anda mendapatkan kuasa Tuhan dengan berdoa.

Jika Anda tidak memiliki kuasa dalam hidup Anda, itu boleh jadi karena Anda tidak berdoa. Doa dan kuasa saling berjalan beriringan. Yakobus 5:16 “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”

Anda mendapatkan kuasa Tuhan dengan berani mengambil risiko menaati Tuhan.

Ketika Anda berani menanggung risiko melakukan apa yang Tuhan perintahkan—meskipun itu berat atau tidak populer, meskipun itu merugikan Anda, meskipun itu tidak masuk akal, atau meskipun tidak ada seorangpun yang melakukannya—Tuhan akan mencurahkan kuasa-Nya dalam hidup Anda.

Anda mendapatkan kuasa Tuhan dengan cara tidak menyerah.

Jangan menyerah! Untuk menumbuhkan iman Anda, Tuhan biasanya akan mengujinya terlebih dahulu. Ketika Anda mengalami kesulitan, penundaan, keputusasaan, atau berkecil hati, Tuhan sedang mengajarkan Anda untuk percaya kepada-Nya. Bertahanlah, Tuhan akan memberkati Anda. 

Tuhan dapat melakukan lebih banyak hal dalam hidup Anda dalam satu minggu daripada yang bisa Anda lakukan seumur hidup Anda. Itulah sebabnya tidak ada kata terlambat untuk berserah kepada Tuhan. Anda mungkin berkata, "Saya sudah terlalu tua. Saya punya terlalu banyak masalah! Saya sudah melakukan terlalu banyak kesalahan." Tidak. 

Renungkan hal ini: 
- Bagaimana Anda pernah mengalami kuasa Tuhan dalam kehidupan doa Anda?
- Pernahkah Anda mengalami bahaya karena menaati Tuhan? Bagaimana Dia memberkati Anda karena telah melangkah dengan iman yang berani?
- Apakah ada bagian dalam hidup Anda yang membuat Anda merasa ingin menyerah? Bertahanlah! Tuhan akan memberkati Anda jika Anda tidak menyerah.

Tidak ada kata terlambat untuk kembali kepada Tuhan dan mulai hidup dengan kuasa-Nya. Dia hendak memberikannya pada Anda!

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Rabu, 18 Juni 2025

Renungan Pagi

Serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau. [Mazmur 55:22]

Kekuatiran, meskipun terhadap hal-hal yang sah, jika berlebihan, mempunyai sifat dosa di dalamnya. Pedoman untuk mencegah kekuatiran berlebihan sudah ditanamkan oleh Juruselamat kita, lagi dan lagi; diulangi lagi oleh para rasul; dan ini adalah satu hal yang tidak dapat kita abaikan tanpa melakukan pelanggaran: sebab esensi utama dari kekuatiran adalah menganggap diri kita lebih bijaksana dibandingkan Allah, dan memaksakan diri kita berada di posisi Allah untuk melakukan bagi Dia apa yang telah Dia sanggupi untuk melakukannya bagi kita. 

Kita mencoba berpikir Dia lupa akan apa yang kita sukai; kita berjerih lelah memikul beban berat kita, seakan-akan Dia tidak dapat atau tidak mau memikulnya untuk kita. Nah, tidak patuh pada pedoman-Nya yang lugas, tidak percaya pada Firman-Nya, sok tahu dalam mengambil alih tanggung jawab-Nya, semua ini merupakan dosa. 

Dan lebih dari itu, kekuatiran sering memimpin kepada perbuatan dosa. Dia yang tidak dapat dengan tenang menyerahkan urusan-urusannya ke tangan Allah, dan membawa bebannya sendiri, sangat mungkin tergoda menggunakan cara-cara yang salah untuk menolong dirinya sendiri. Dosa ini membuat kita tidak menganggap Allah penasihat kita, dan beralih kepada hikmat manusia. Ini berarti pergi ke “kolam yang bocor” bukan ke “sumber air;” [Yeremia 2:13] yaitu dosa yang dilakukan Israel zaman dulu. 

Kekuatiran menyebabkan kita meragukan kasih setia Allah, dan menyebabkan cinta kita kepada-Nya menjadi dingin; kita curiga, sehingga mendukakan Roh Allah, sehingga doa kita menjadi renggang, teladan kita rusak, dan hidup kita mementingkan diri. Jadi kurangnya keyakinan pada Allah menuntun kita menjauh dari-Nya; tetapi jika melalui iman yang sederhana akan janji-Nya, kita menyerahkan kepada-Nya setiap beban kita setiap kali ia datang, dan “tidak kuatir tentang apa pun juga“ [Filipi 4:6] karena Dia menyanggupi untuk merawat kita, hal itu menjadikan kita lebih dekat kepada-Nya, dan menguatkan kita di dalam banyak pencobaan. “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya." [Yesaya 26:3]

Sumber: Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon)

Selasa, 17 Juni 2025

IMAN KOTAK SURAT

Bacaan: Ibrani 11:1-6

NATS: Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1)

Setiap kali berkirim surat, saya merasa bahwa itu merupakan suatu latihan untuk percaya. Berikut saya jelaskan maksud saya. Ketika saya menulis surat untuk seorang sahabat jauh, saya tidak mungkin mengirimkannya sendiri. Saya memerlukan jasa pelayanan pos. Namun, sebelumnya, saya harus memasukkan surat itu ke kotak surat. Saya tidak dapat memegang erat-erat surat itu. Saya harus melepaskan surat tersebut. Kemudian, saya harus mempercayai pihak pos untuk mengambil alih surat tersebut dan mengantarnya kepada sahabat saya. Meski saya tidak dapat melihat apa yang terjadi dengan surat itu, saya yakin pihak pos akan membawa surat saya ke tempat tujuan dalam keadaan baik sama seperti sewaktu saya poskan.

Demikian pula halnya bila kita dihadapkan pada sebuah persoalan. Saat itu, iman kita diuji. Kita tahu bahwa mustahil bagi kita untuk memecahkan semua permasalahan seorang diri, dan kita harus mengakui bahwa kita membutuhkan pertolongan Allah. Namun pertama-tama kita harus datang kepada-Nya dalam doa. Saat itu kita mungkin masih memegang erat masalah kita, meski kita tahu situasi tidak akan berubah bila kita tidak melepaskannya dan menyerahkannya ke dalam tangan Allah. Saat kita menyerahkannya kepada Allah, biarkan Dia mengambil alih sampai masalah itu diselesaikan menurut cara-Nya. Meskipun kita tidak dapat melihat dengan jelas apa yang sedang dikerjakan-Nya, iman kita adalah "bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1), dan jaminan bahwa pekerjaan-Nya selalu dikerjakan dengan sempurna.

Sudahkah Anda belajar untuk mempercayai-Nya hari ini? --JEY

MEMPERCAYAI ALLAH
BERARTI MENGUBAH SEBUAH MASALAH MENJADI SUATU KESEMPATAN

Sumber: Renungan Harian

Senin, 16 Juni 2025

Harapan yang Diperbarui

Hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang. –1 Tesalonika 5:14

Ayat Bacaan & Wawasan :
1 Tesalonika 5:4-15

Thia sedang bingung. Mengapa anak laki-lakinya yang berusia 18 tahun akhir-akhir ini sering menghabiskan waktu di perpustakaan? Anaknya yang autis dan jarang berkomunikasi dengan orang lain itu biasanya langsung pulang ke rumah setelah sekolah. Apa yang berubah? Setelah didesak, anak itu akhirnya menjawab: “Belajar dengan Navin.”

Ternyata Navin adalah teman sekelas yang menyadari kesulitan belajar yang dialami anak Thia dan mengajaknya untuk belajar bersama. Teman pertama anak Thia itu sangat menguatkan sang ayah yang sempat tawar hati dan kehilangan harapan bahwa anaknya akan memiliki seorang teman.

Harapan diperbarui karena seseorang menunjukkan kepeduliannya dengan mendampingi orang lain yang membutuhkan pertolongan. Dalam pelayanan Paulus kepada jemaat mula-mula, ia tahu bahwa hal itu juga berlaku bagi pengharapan kita akan keselamatan. Agar para pengikut Yesus dapat “berjaga-jaga dan sadar” (1 Tes. 5:6), dan hidup dalam pengharapan akan kedatangan-Nya kembali, mereka harus saling membangun (ay. 11), terutama menolong mereka yang berada dalam pergumulan.

Inilah alasannya mengapa orang-orang percaya yang sudah hidup dalam kasih yang berkenan di hadapan Allah itu (4:1,10) tetap diingatkan Paulus: “Hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah” (5:14). Saat kita menyadari ada saudara seiman yang sedang takut, cemas, atau putus asa, kita dapat mendampingi mereka—baik untuk mendengarkan, memberikan kata-kata semangat, atau duduk bersamanya dalam keheningan. Allah dapat memakai kita untuk memberi mereka kekuatan dan keberanian untuk tetap berpegang teguh pada pengharapan mereka di dalam Yesus.

Oleh:  Jasmine Goh

Renungkan dan Doakan
Siapa orang di dalam komunitas Anda yang dapat Anda dampingi minggu ini? Apa yang dapat Anda lakukan untuk menunjukkan kepedulian dan perhatian kepada mereka?

Ya Allah, tolonglah saya untuk mempedulikan mereka yang tawar hati dan lemah, agar pengharapan mereka di dalam Yesus dapat diperbarui.

Sumber: Our Daily Bread

Minggu, 15 Juni 2025

NILAI PENGORBANAN

Bacaan: Ibrani 11:23-29

NATS: Musa...menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah (Ibrani 11:24-25)

Setiap kali surat-surat itu membuat saya tertegun. Bulan demi bulan kami menerima surat permohonan doa yang menyedihkan dari teman-teman yang menjadi utusan Injil dan melayani di negara-negara Afrika. Di sana penyakit, terutama AIDS, menewaskan beribu-ribu orang. Ketika menceritakan tragedi yang terus berlanjut itu, mereka membicarakan orang-orang yang mereka kenal dan kasihi.

Teman-teman kami itu tidak mengeluh tentang bahaya yang mereka hadapi atau pergumulan mereka dalam membangun keluarga di tengah-tengah kesulitan. Sebaliknya, mereka selalu mengingatkan kami akan jiwa-jiwa yang ada di negara itu, yang beberapa di antaranya meninggal dalam pelukan mereka.

Surat-surat mereka membuat saya berpikir tentang penderitaan Kristus dan perlunya kita rela menderita bagi Dia. Betapa seringnya kita merasa cemas akan hal-hal yang tidak perlu! Betapa banyak dari kita yang hidup memanjakan diri! Betapa sulitnya kita menyangkal diri demi kebaikan orang lain!

Penulis kitab Ibrani menunjuk Musa sebagai teladan dalam hal penyangkalan diri. Musa memilih untuk berpihak pada Allah dan turut menderita bersama umat pilihan Allah, meskipun sesungguhnya ia dapat menikmati "kesenangan dari dosa" dan "semua harta Mesir" (11:25-26).

Hidup kita harus diisi dengan melayani Tuhan, betapa pun besarnya pengorbanan yang harus kita berikan. Kita mungkin harus memberi pengorbanan yang besar agar orang lain dapat mengenal Yesus. Apa yang dapat kita korbankan demi orang-orang yang rindu mengenal-Nya? --JDB


So send I you to labor unrewarded,
To serve unpaid, unloved, unsought, unknown,
To bear rebuke, to suffer scron and scoffing --
So send I you to toil for Me alone. --Clarkson

KASIH TAK PERNAH BERTANYA,
"SEBESAR APAKAH PENGORBANAN YANG HARUS SAYA BERIKAN?"

Sumber: Renungan Harian

Sabtu, 14 Juni 2025

Beda Tipis

Bacaan: 3 YOHANES 1:1-4

Sebab, aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan bersaksi tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran. (3 Yohanes 1:3)

Di zaman media sosial saat ini, sangat tipis bedanya seseorang menunjukkan kebaikan atau keberhasilannya dengan meninggikan dirinya atau ingin dipuji ketika menampilkan sesuatu di akun media sosialnya. Motivasilah yang membedakannya, tetapi sesungguhnya godaan untuk ingin meninggikan diri dan mendapatkan pujian selalu ada, setiap akan memosting sesuatu.

Yohanes bersukacita karena Gayus hidup dalam kebenaran. Gayus tidak menyebar-nyebarkan tentang semua kebaikannya, bagaimana ia hidup benar di setiap aspek hidupnya dan bagaimana ia menolong dan memberi tumpangan orang-orang dalam perjalanan untuk kebenaran (3Yoh 1:6). Walaupun ia bisa menyampaikan atau menyaksikan semua itu, ia tidak melakukan karena bisa saja ia jatuh kepada motivasi yang salah untuk mendapatkan pujian. Gayus tentunya tidak memikirkan bagaimana ia dikenal oleh banyak orang, ia hanya menjalani hidup dan pelayanannya yang unik dengan benar dengan apa adanya dan setulusnya. Namun, orang yang mengalami kasih, perhatian, dan pelayanannya yang tulus, tidak bisa untuk tidak menyaksikan kebaikannya kepada Yohanes dan jemaat. Semua itu bukan untuk meninggikan Gayus tapi membawa sukacita dalam jemaat dan kemuliaan nama Tuhan.

Kadang banyak hal baik dan keberhasilan yang ingin kita perlihatkan dan saksikan kepada orang lain, tetapi rasanya berat karena takut salah motivasi. Mari tetap lakukan semua hal baik itu dan biarlah bukan kita, tetapi orang-orang di sekitar kita yang melihat semua itu dan teberkati, kemudian menyaksikan kepada banyak orang bagi kemuliaan Tuhan. --ANT/www.renunganharian.net

APA MOTIVASI KITA KETIKA MENUNJUKKAN KEBAIKAN
ATAU KEBERHASILAN KITA?

Jumat, 13 Juni 2025

KITA BUTUH KASIH

Bacaan: 1 Yohanes 4:7-15

NATS: Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (Roma 5:8)

Sejak lahir hingga akhir hayat, kita selalu butuh kasih. Hal ini dilukiskan secara jelas oleh Anna B. Warner (1824-1915) lewat lagunya “Jesus Loves Me” (Yesus Sayang Padaku). Ia dan saudara perempuannya, Susan, adalah novelis yang sangat berbakat. Selain itu, Anna juga menulis banyak puisi. Lirik “Jesus Loves Me” ditulis pada tahun 1860 sebagai puisi penghiburan bagi seorang anak yang hampir mati dalam salah satu cerita yang ditulis Susan. Saat ini puisi tersebut telah digubah menjadi lagu dan dinyanyikan oleh anak-anak dan orang dewasa di seluruh dunia.

Suatu ketika tatkala seorang teolog ternama mengunjungi sebuah seminari terkemuka di Amerika Serikat, seorang siswa bertanya, “Apakah pemikiran terhebat yang pernah terlintas di benak Anda?” Karena menduga sang teolog akan menjawab secara teologis, para siswa di kelas menunggu jawabannya sambil menahan napas. Teolog tersebut menundukkan kepala sambil berpikir, lalu perlahan mengangkat kepalanya dan berkata, “Yesus sayang padaku; Alkitab mengajarku.”

Mengapa kasih Yesus begitu penting? Karena kasih-Nya bukanlah kasih yang sentimental, bukan pula kasih yang mudah diberikan kepada para pendosa. Kasih-Nya adalah kasih penuh pengorbanan yang membebaskan kita dari segala kesalahan dan belenggu dosa tatkala Dia wafat di kayu salib bagi kita (Roma 5:8). Kasih-Nya begitu penting sebab Dia adalah Allah yang bersedia turun ke dunia dan menjadi manusia. Hanya Dia yang dapat memenuhi kebutuhan kita yang terdalam--kebutuhan akan kasih seumur hidup--DJD

SALIB YESUS ADALAH BUKTI UTAMA KASIH ALLAH--Oswald Chambers

Sumber: Renungan Harian

Kamis, 12 Juni 2025

BERLARI UNTUK MENANG

Bacaan: 1 Korintus 9:24-27

NATS: Larilah begitu rupa, sehingga kamu memperoleh [hadiahnya] (1 Korintus 9:24)

Ketika masih remaja, James Martinson berangan-angan untuk bergabung dengan tim ski US Downhill. Akan tetapi kenyataan berkata lain. Ia kehilangan kedua kakinya setelah mengalami luka serius karena menginjak ranjau saat mengikuti wajib militer di Vietnam. Mulai saat itu hatinya selalu dipenuhi kebencian terhadap orang lain dan terhadap Allah. Ia mengkonsumsi alkohol dan narkoba, dan bahkan sempat berpikir untuk bunuh diri.

Kemudian James bertemu dengan beberapa orang Kristen yang menerangkan bagaimana Kristus dapat mengubah hidupnya. Pada mulanya ia tidak percaya, namun akhirnya ia mengundang Kristus masuk ke dalam hidupnya. Ia berkata, “Saya memang tidak mendapatkan kembali kedua kaki saya, namun saya merasa ada sesuatu yang baru terjadi dalam diri saya.”

Karena sangat ingin bersaksi tentang Kristus, James kemudian banyak bergaul dengan kaum muda. “Berlarilah bersama kami!” pinta mereka. James menjawab, “Tidak bisa, aku tidak punya kaki.” “Tapi kau 'kan punya kursi roda,” sahut mereka. Inilah asal mulanya ia mengikuti balap kursi roda, sebuah tantangan yang akhirnya membuatnya menjadi seorang juara. Orang sering bertanya kepadanya, “Apakah benar balap kursi roda ini telah mengubah hidup Anda?” Jawabnya yakin, “Bukan, Yesuslah yang mengubah hidup saya.”

Apakah Anda merasa kalah? Berpalinglah kepada Yesus Kristus. Kemudian terimalah tantangan Rasul Paulus untuk berlari sedemikian rupa guna mendapatkan piala yang kekal (1 Korintus 9:24). Yesus tidak hanya akan mengubah kekalahan Anda menjadi kemenangan, tetapi Dia juga akan mengubah Anda!--JEY

KETIKA YESUS HADIR DALAM HIDUP SESEORANG
DIA MENGUBAHKAN SEGALANYA

Sumber: Renungan Harian

Rabu, 11 Juni 2025

Carilah dahulu...

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. — Matius 6:33

“Carilah dahulu Kerajaan Allah ...,” adalah salah satu ayat paling banyak dikutip atau dinasihatkan. Namun, mengimaninya tidak semudah mengatakannya. Bahkan, orang yang paling “rohani” tidak lepas dari argumentasi: “Tetapi ’kan harus hidup, harus ada uang, harus makan,’ dll..” Yesus tidak mengatakan tidak perlu memikirkan apa pun dalam hidup, tetapi perhatian terbesar adalah menempatkan hubungan dengan Allah sebagai yang pertama:

Memiliki Iman yang “Tidak Masuk Akal”

Bila kita memandang pada kata-kata Yesus ini, kita segera mendapatinya sebagai kata-kata paling revolusioner yang pernah didengar telinga manusia. “... carilah dahulu Kerajaan Allah ...” Bahkan orang yang paling rohani atau spiritually-minded di antara kita tidak lepas dari argumentasi yang sebaliknya, “Namun, aku ’kan harus hidup; aku ’kan perlu uang; aku ’kan harus ada pakaian, aku ’kan harus makan, dan lain-lain”.

Kenyataan bahwa concern atau perhatian besar dalam hidup kita bukanlah Kerajaan Allah, melainkan bagaimana kita hidup.

Namun, Yesus membalik urutannya dengan menyuruh kita menjalin hubungan yang benar dengan Allah terlebih dahulu, dengan memeliharanya sebagai perhatian utama dalam hidup kita, dan jangan pernah menempatkan kekhawatiran kita pada hal-hal lainnya menjadi yang pertama.

“... Janganlah kuatir tentang hidupmu ...” (Matius 6:25). Tuhan menunjukkan bahwa dari sudut pandang-Nya sama sekali tidak beralasan jika kita khawatir, cemas bagaimana kita akan hidup.

Yesus tidak mengatakan bahwa orang yang tidak memikirkan apa pun dalam hidupnya diberkati -- tidak, orang demikian bodoh. Yesus mengajarkan bahwa seorang murid harus membuat hubungannya dengan Allah merupakan fokus atau konsentrasi hidup yang utama, dan menjaga agar tidak tenggelam dalam kekhawatiran apa pun yang lain, dibanding hal di atas. Pada hakikatnya, Yesus berkata, “Jangan jadikan makanan dan minuman sebagai unsur kendali hidupmu, tetapi fokuslah secara mutlak kepada Allah.”

Sebagian orang sembarangan mengenai makanan dan minuman mereka, dan mereka menderita karenanya; mereka ceroboh mengenai apa yang mereka pakai, sehingga tidak menunjukkan tampilan yang semestinya; mereka ceroboh dengan urusan duniawi, dan Allah memikulkan tanggung jawab hal itu pada mereka.

Yesus mengatakan bahwa perhatian terbesar dalam kehidupan ialah menempatkan hubungan kita dengan Allah sebagai yang pertama, dan semua hal lainnya pada urutan kedua.

Salah satu disiplin kehidupan Kristen yang paling sulit, tetapi teramat penting (critical adalah memperbolehkan Roh Kudus membawa kita ke dalam keselarasan mutlak dengan ajaran Yesus dalam ayat-ayat ini.

Sumber: Renungan My Utmost (Oswald Chambers)

Selasa, 10 Juni 2025

PENYELAMATAN

Bacaan: Mazmur 40:2-6

NATS: Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita (Mazmur 40:4)

Pemazmur mengatakan kepada kita bahwa Allah "memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita" (Mazmur 40:4). Nyanyian itu tidak ia peroleh dengan mudah. "Ia mengangkat aku dari lubang kebinasaan," pemazmur bersaksi, "dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku" (ayat 3).

Kita tidak tahu "lubang" apa yang dimaksudkan. Barangkali yang dimaksud adalah bencana yang menghancurkan, atau akibat dari pilihan yang salah dan disengaja. Apa pun yang terjadi, hal itu sangat mengerikan. Lubang itu sangat sunyi, sesunyi kematian, dan pemazmur tak mendapat pijakan yang kokoh. Ia tak dapat keluar dari "lumpur rawa" itu dengan usahanya sendiri. Ia memerlukan pertolongan Allah.

Seorang sarjana dari Cina yang bertobat dan menerima Kristus menceritakan perumpamaan ini, "Seorang laki-laki jatuh ke dalam lubang yang gelap dan kotor. Ia berusaha memanjat keluar, tetapi tak berhasil. Lalu datanglah seorang tokoh dari religi A. Ia melihat laki-laki di dalam lubang itu dan berkata, 'Laki-laki malang. Seandainya ia mendengarkan saya, ia tak mungkin jatuh ke dalam lubang.' Kemudian ia pergi. Seorang tokoh dari religi B datang. Ia melihat laki-laki itu dan berkata, 'Laki-laki malang. Kalau saja ia bisa naik ke sini, saya akan menolongnya.' Dan ia pun pergi. Setelah itu datanglah Kristus dan berkata, 'Laki-laki malang!' Lalu Dia melompat masuk ke dalam lubang dan menolong laki-laki itu keluar."

Allah menyelamatkan sang pemazmur dari dalam "lubang." Lalu Allah memberikan kepadanya nyanyian baru yang juga dapat kita nyanyikan saat kita dibebaskan Allah dari kesulitan --HWR

He took me out of the miry clay,
He set my feet on the rock to stay,
He put a song in my soul today,
A song of praise, hallelujah! --Anon

PEMBEBASAN DARI ALLAH SERINGKALI DATANG PADA MASA PENCOBAAN YANG PALING SULIT

Sumber: Renungan Harian

Senin, 09 Juni 2025

PANGGILAN UNTUK MENDENGARKAN

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. Yakobus 1:19-20

Ayat-ayat ini berisi pernyataan menantang yang membuat banyak dari kita merasa gelisah karena kebenaran yang terkandung di dalamnya. Kita terlalu banyak bicara. Entah itu kita sedang duduk makan bersama teman-teman, atau di kedai kopi sambil membaca berita terbaru, kita seringkali tidak sabar untuk menceritakan apa yang kita tahu atau baru saja kita baca atau baru kita dengar.

Jika kita mendapati diri kita sendiri yang berbicara, bisa dipastikan kita tidak mendengarkan. Meskipun hal ini berlaku dalam hal hubungan antarpribadi, hal ini juga berlaku dengan Alkitab dan teologi. Seorang pendeta abad ke-19 menulis tentang korelasi ini: “Ada beberapa orang yang selalu berbicara … dan dengan berbicara tanpa henti mereka melumpuhkan diri mereka sendiri dari berpikir. Mereka kehilangan kemampuan untuk memahami makna sebenarnya dari segala hal serius yang dikatakan kepada mereka … Dan lebih jauh lagi, kebiasaan ini mencegah mereka untuk mendengarkan firman Allah dan untuk memikirkannya.”

Apa yang paling perlu kita dengarkan adalah “firman kebenaran” (Yakobus 1:18). Kita harus, seperti kata Yakobus, “terimalah” firman ini dan kemudian “menjadi pelaku firman” (ayat 21-22). Di sini dia menekankan bahaya dari bersikap cepat menyatakan kebenaran kepada orang lain sebelum benar-benar memerhatikannya sendiri.
Jika terlalu cepat berbicara membuat kita terlalu lambat untuk mendengarkan Allah dan orang lain, demikian pula halnya dengan cepat marah dalam hati kita. Dan dalam banyak kasus, aliran kata yang cepat merupakan tanda dari sifat pemarah. Orang yang banyak bicara sering kali sangat keras kepala dan menjadi marah ketika orang lain tidak memiliki perasaan yang sama. Panas dan nafsu bukan merupakan ekspresi kesetiaan dan kesalehan justru kebalikannya, dan kekerasan kita mungkin menjadi penyebab tersandung alih-alih membantu.

Kemarahan "tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah" dalam hidup kita. Intensitas, fokus, dan penekanan kita, jika didorong oleh kekesalan atau kemarahan yang mementingkan diri sendiri, tidak akan membuat kita melakukan kehendak Allah. Jika tidak, Yesus tidak akan bertindak seperti yang dicatat Alkitab. Dia lemah lembut, rendah hati, dan persuasif, tetapi Dia bisa “garang” ketika menyucikan Bait Suci — karena itu adalah ekspresi kemarahan-Nya yang benar dan sah, meskipun tidak biasa.

Firman Allah tidak hanya memberi Anda hidup (Yakobus 1:18) tetapi juga mengubah hidup Anda. Rindukanlah untuk menjadi seseorang yang diubahkan: dengarkan firman Allah dengan baik dan dengarkanlah orang-orang di sekitar Anda dengan menjadi lebih lambat berbicara dan lebih lambat marah, sehingga Anda akan bertumbuh dan membantu orang lain bertumbuh dalam kehidupan yang diinginkan Allah.

Refleksi
Bacalah Yakobus 1:17-25 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut

Pola pikir apa yang harus saya ubah?

Apa yang perlu dikalibrasi dalam hati saya?

Apa yang bisa saya terapkan hari ini?

Truth For Life – Alistair Beg

Sumber: Gibeon Church

Minggu, 08 Juni 2025

Mendengar Nasihat

Bacaan: KEJADIAN 4:1-16

Kata Kain kepada Habel, adiknya, "Mari kita pergi ke padang." Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain menyerang Habel, adiknya, dan membunuhnya. (Kejadian 4:8)

Melihat hasil masakan temannya, seorang koki memberikan tip dan trik dalam memasak. Tujuannya, supaya temannya menghasilkan masakan yang lebih baik: lezat, sehat, dan menggugah selera. Sayang, ketimbang menerima masukan itu sebagai pelajaran berharga yang membangun, temannya menjawab, "Ya biar, saya bisanya begini, ya sudah begini saja!" Tidak hanya itu, sang teman malah semakin "ngawur" dalam memasak sehingga menghasilkan masakan yang jauh lebih buruk.

Kain menunjukkan gejala dosa dengan menjadi panas hati dan mukanya muram melihat persembahan Habel diindahkan Tuhan, sedangkan persembahannya tidak. Tuhan pun memperingatkan dia supaya terhindar dari dosa yang sudah mengintip di depan mata. Bukannya mengambil hikmat dari nasihat itu dengan mengupayakan diri supaya terhindar dari dosa, Kain malah melancarkan aksi yang lebih jahat dengan mengajak Habel ke padang untuk membunuhnya.

Setiap nasihat yang baik asalnya dari Tuhan, siapa pun yang dipakai-Nya untuk menyampaikan kepada kita. Nasihat adalah didikan yang berguna untuk membangun kualitas diri. Sayang, tidak semua orang mau mendengar nasihat (menerima dan melakukannya). Nasihat bahkan sering dipandang sebagai hal yang mengganggu sehingga harus dilawan. Nasihat mendorong mereka melakukan kejahatan dengan lebih berani alih-alih membawa kesadaran dan pertobatan. Tentu hal ini tak pantas dilakukan oleh pribadi yang mengaku telah menerima Kristus. Karena bersedia mendengar nasihat adalah salah satu bukti kita sungguh hidup di dalam Tuhan. Mendengar nasihat menghindarkan kita dari kejahatan dan dosa. --EBL/www.renunganharian.net

MENGERASKAN HATI DENGAN MENOLAK NASIHAT
SAMA SAJA MENGHANCURKAN DIRI SENDIRI.

Sabtu, 07 Juni 2025

Surat yang Tidak Pernah Dibalas

Perempuan itu dibesarkan oleh seorang ayah yang keras. Bukan hanya keras, tapi kasar secara emosional. Penuh caci, tak pernah memuji, selalu mengkritik, dan membuatnya tumbuh dengan luka yang tak terlihat.
Saat dewasa, ia meninggalkan rumah, membawa dendam yang ia bungkus dengan diam. Ia bersumpah tak akan pernah kembali.

Tahun-tahun berlalu. Ia sukses. Punya karier bagus, rumah sendiri, dan keluarga kecil yang hangat. Semua hal yang dulu ia rindukan. Tapi ada satu ruang dalam hatinya yang dingin: ruang di mana nama ayahnya tak pernah disebut.

Suatu hari, ia mendengar kabar bahwa ayahnya sakit keras. Keluarganya mendesaknya pulang, tapi ia menolak. "Untuk apa? Ia bahkan tidak pernah minta maaf."

Namun di malam yang sepi, saat melihat anaknya tertidur, hatinya bergolak. "Apa aku ingin anakku tumbuh dengan kebencian yang kuturunkan?"

Ia akhirnya menulis surat panjang untuk ayahnya. Bukan surat penuh amarah, tapi kejujuran. Ia menulis semua yang ia rasakan sejak kecil: luka, kecewa, kehilangan figur ayah. Tapi di akhir surat itu, ia menulis:
"Aku sudah lelah membawa semua ini. Aku tidak tahu apakah Ayah sadar atau peduli. Tapi aku memilih untuk memaafkan. Bukan karena Ayah layak, tapi karena aku butuh bebas."

Ia mengirimkan surat itu ke rumah sakit. Seminggu kemudian, ia mendapat kabar: ayahnya meninggal sebelum surat itu sempat dibacakan.

Ia menangis. Bukan karena kehilangan, tapi karena ia sadar: pengampunan itu bukan transaksi. Itu keputusan. Ia tidak mendapat permintaan maaf. Tapi ia mendapatkan kedamaian.

Tak semua luka datang dari orang asing. Sering kali, luka terdalam justru datang dari mereka yang paling dekat: orang tua, sahabat, pasangan, bahkan saudara seiman. Dan yang lebih menyakitkan lagi: mereka tidak pernah minta maaf.

Perempuan itu membawa luka masa kecil sampai dewasa. Ia tidak pernah mendapat pengakuan, apalagi pertobatan dari sang ayah. Tapi saat ia memutuskan untuk mengampuni, tanpa syarat dan tanpa balasan, di situlah ia benar-benar bebas.

Tuhan tidak meminta kita menunggu permintaan maaf untuk memaafkan. Sebab pengampunan bukan soal keadilan manusia, tapi ketaatan rohani. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, melainkan membebaskan diri kita dari beban kebencian yang terus mengikat.

Tuhan Yesus di kayu salib berkata, "Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Itu bukan karena para penyalib layak diampuni, tapi karena Yesus memilih kasih, bukan dendam.

Hari ini, mungkin ada seseorang yang menyakiti kita, dan tidak akan pernah mengakui kesalahannya. Tapi kabar baiknya: kita tetap bisa memilih untuk mengampuni, bukan demi mereka, tapi demi Tuhan, dan demi hati kita yang ingin tenang.

"Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (Markus 11:25)

Sumber: Renungan dan Ilustrasi Kristen

Jumat, 06 Juni 2025

Hidup yang Dikendalikan Hikmat TUHAN

Bacaan Alkitab hari ini:
Amsal 20

Orang berhikmat adalah orang yang bisa mengendalikan diri dan hidup berdasarkan kebiasaan moral yang alkitabiah. Bacaan Alkitab hari ini memuat berbagai nasihat yang ditujukan kepada orang yang mau bertumbuh dalam hikmat yang terlihat dari etika moral, khususnya berupa kejujuran dan kerajinan. Amsal 20 membahas beberapa tabiat dosa seperti: kebohongan, kemalasan, kemarahan; dan beberapa kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari yang dampaknya merugikan. Hal ini disampaikan dalam wujud teguran dan peringatan. Orang berhikmat memperhatikan etika moral: tidak suka mabuk (20:1), sopan dalam berkata-kata (20:2,3,15,19,22), taat dan setia (20:6,16,26,28). Orang berhikmat memelihara kekudusan (20:7,9) dan menjunjung tinggi kejujuran dalam berdagang (20:10,14,17,21,23,25). Untuk menjadi berhikmat, kita dinasihati untuk bekerja dengan rajin dan menghindar dari jerat kemalasan (20:4-5,13).

Kepribadian seseorang sudah terlihat sejak ia masih anak-anak. Akan tetapi, ingatlah bahwa TUHAN berkuasa mengubah orang yang mau berubah (20:11-12). Perubahan ini bisa terjadi karena roh manusia berasal dari TUHAN dan diciptakan dengan kemampuan menyelidiki lubuk hatinya sendiri (20:27). TUHAN mengawasi setiap langkah manusia. Persoalannya, apakah manusia bersedia mencari pengertian atas jalan hidupnya dari TUHAN (20:24)? Dalam tatanan sosial, TUHAN menempatkan keberadaan orang tua—ayah dan ibu sebagai sosok yang memiliki otoritas untuk memelihara terang dalam jiwa anak-anak mereka (20:20,30). Jadi, pembaca berusia muda harus mengingat bahwa TUHAN yang memberi kekuatan (20:29a). Pembaca berusia dewasa harus mengingat bahwa TUHAN memberi hikmat kebijaksanaan (20:29b; bandingkan dengan 16:31). Alangkah indahnya bila sejak usia muda, Anda telah hidup menjadi teladan bagi sesama dalam: perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kemurnian hati (lihat 1 Timotius 4:12).

Renungkanlah: Apa yang mengendalikan hidup Anda? Apakah Anda dikendalikan oleh alkohol (yang memabukkan) atau emosi (yang membuat kemarahan Anda tidak terkendali) atau harta (yang membuat Anda menipu atau berbohong untuk mendapatkannya)? Siapakah yang mengendalikan diri Anda? Apakah Anda dikendalikan oleh diri sendiri (sehingga bermalas-malasan Anda anggap wajar) atau oleh TUHAN dan hikmat kebenaran-Nya? Siapa atau apa yang mengendalikan hidup Anda menentukan apa yang Anda pikirkan, Anda rasakan, dan Anda lakukan tiap hari. Atas semua hal ini, TUHAN menuntut pertanggungjawaban kita (Matius 12:35-37; 2 Timotius 4:1). [GI Surya Leung]

Sumber: Renungan GKY

Kamis, 05 Juni 2025

KEKUATAN DALAM KELEMAHAN

Bacaan: Ibrani 11:30-40

NATS: Mereka...telah beroleh kekuatan dalam kelemahan (Ibrani 11:34)

Seorang pria yang penuh keyakinan dan percaya diri berkata kepada saya, "Rahasia keberhasilan saya hanyalah melakukan apa saja yang dapat saya lakukan, dan semuanya berjalan mulus!" Pasti ia belum pernah menghadapi masa-masa sulit seperti yang pernah saya alami. Hidup saya hancur dan segala sesuatu menjadi "tidak mungkin." Mencoba melakukan "apa saja yang dapat saya lakukan" menjadi mustahil. Satu-satunya pengharapan saya adalah menemukan sumber kekuatan yang melampaui kekuatan saya.

Lalu Allah mulai mengajar saya untuk bergantung kepada-Nya hari demi hari. Secara bertahap saya mulai merasakan apa yang diuraikan oleh penulis Ibrani 11:34 yaitu, "mereka...telah beroleh kekuatan dalam kelemahan." Dengan segera kesaksian Rasul Paulus menjadi kesaksian saya, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" (Filipi 4:13).

Selanjutnya, bersandar kepada Allah menjadi gaya hidup saya. Allah mengajarkan bahwa Dia ingin memberi saya kepercayaan untuk melakukan pekerjaan-Nya dan akan memampukan saya. Sementara saya terus belajar bersandar kepada-Nya, beberapa pelayanan yang secara manusia tampaknya tak mungkin dilakukan mulai terbuka untuk saya. Tantangan-tantangan tersebut mengingatkan saya akan perkataan ini, "Lebih mudah mengerjakan sesuatu yang tidak mungkin bersama Allah daripada sesuatu yang mungkin tanpa Dia."

Apakah Anda merasa lemah? Jika ya, mulailah bersandar pada Allah dan Firman-Nya dan jangan bersandar pada kekuatan Anda sendiri. Apabila Anda melakukannya, maka kelemahan Anda akan membentuk, dan bukan menghancurkan Anda --JEY

Blessed thought, "If God be for us."
Inner power--His grace supplies
Help for every time of weakness,
Understanding all our cries. --Hamilton

UNTUK MENGALAMI KEKUATAN ALLAH KITA HARUS MENGAKUI KELEMAHAN KITA

Sumber: Renungan Harian

Rabu, 04 Juni 2025

APAKAH KITA LAYAK UNTUK DIKASIHI?

... berusaha untuk menambahkan ... kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. — 2 Petrus 1:5, 7

Allah adalah kasih. Pernyataan itu bisa menjadi sekadar keyakinan teologis. Akan tetapi, Allah mengasihi saya bukan karena saya pantas dikasihi, melainkan sungguh suatu pengalaman dari pekerjaan Roh Kudus. Dalam renungan hari ini, Oswald Chambers sepertinya tidak hendak berbicara kepada orang lain (ia tidak menggunakan kata “Anda”), tetapi menyaksikan pergumulan dan pengalamannya sendiri tentang kasih Allah dan membagikannya pada kita.

Saling Mengasihi

Kasih adalah sesuatu yang tidak jelas bagi kebanyakan kita; kita tidak tahu apa yang kita maksudkan saat kita berbicara tentang kasih. Kasih adalah tingkat tertinggi dari tindakan seseorang kepada orang lain, dan secara rohani Yesus menuntut agar tindakan ini tertuju bagi Dia sendiri (lihat Lukas 14:26). Bila “kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus” (Roma 5:5), maka mudah untuk menjadikan Yesus yang pertama. Namun, kemudian kita harus menerapkan nasihat-nasihat yang disebutkan dalam 2 Petrus 1, untuk melihat hal tersebut diwujudkan dalam hidup kita.

Hal pertama yang dilakukan Allah ialah merobohkan ketidaktulusan, kesombongan, dan kesia-siaan dalam hidup saya. Dan, Roh Kudus mengungkapkan kepada saya bahwa Allah mengasihi saya bukan karena saya pantas dikasihi, melainkan karena memang sifat (nature) Allah untuk mengasihi.

Kini Dia memerintahkan saya untuk menunjukan kasih yang sama kepada orang lain dengan mengatakan”supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yohanes 15:12). Dia mengatakan “Aku akan membawa sejumlah orang sekelilingmu yang tidak dapat kau hormati, tetapi engkau harus menunjukkan kasih-Ku kepada mereka, sama seperti Aku telah menunjukkannya kepadamu”.

Jenis kasih ini bukanlah sekadar kasih yang diteladankan untuk orang yang tidak layak dikasihi. Inilah kasih Allah, dan ini tidak akan dibuktikan dalam diri kita dalam waktu singkat. Sebagian dari kita mungkin telah mencoba untuk memaksakannya, tetapi kita segera merasa letih dan kecewa atau frustrasi.

“Tuhan.. sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa ....” (2 Petrus 3:9). Saya melihat ke dalam diri saya dan mengingat betapa ajaibnya Tuhan telah berurusan dengan saya. Pengetahuan bahwa Allah mengasihi saya melampaui segala batas akan mendorong saya untuk mengasihi orang lain dengan cara yang sama. Saya mungkin terganggu, karena saya harus hidup dengan seseorang yang “susah” luar biasa. Namun, pikirkanlah betapa saya telah hidup tidak sesuai dengan yang dikehendaki-Nya!

Apakah saya siap untuk “dipersatukan” sedemikian dekat dengan Tuhan Yesus sehingga hidup-Nya dan kebaikan-Nya akan terus-menerus dicurahkan melalui saya? Tidak ada kasih alami, demikian juga kasih Allah akan tinggal dan bertumbuh di dalam saya kalau dipupuk. Kasih memang harus spontan, tetapi harus dipelihara melalui disiplin.

Sumber: My Utmost (Oswald Chambers)

Selasa, 03 Juni 2025

Rasa Syukur

Bacaan: MARKUS 12:41-44

"Sebab, mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya." (Markus 12:44)

Kehidupan janda di Israel pada zaman Yesus tidaklah mudah. Janda dipandang dengan tidak hormat. Tradisi patriarkat yang memandang perempuan sebagai "milik" laki-laki juga menjadikan janda dalam posisi tidak terlindung. Janda sering menjadi target penindasan yang justru dilakukan oleh kalangan penguasa seperti ahli Taurat (bdk. Mrk 12:40).

Jika demikian kenyataannya, apa yang melatarbelakangi tindakan sang janda sehingga ia rela mempersembahkan seluruh nafkah yang dimilikinya? Tidakkah ia memikirkan kebutuhannya untuk bertahan hidup? Lagi pula, bukankah nilai persembahan yang baginya sangat berarti itu tak seberapa nilainya di mata orang lain? Pun tidak akan bisa mendatangkan kehormatan sosial baginya. Atas dasar semua ini kita dapat melihat bahwa janda miskin itu tidak sedang berusaha mendapatkan pengakuan. Ia tidak mencari pujian dari manusia. Motivasi di balik kerelaannya memberikan seluruh nafkahnya adalah murni karena rasa hormat dan syukurnya kepada Tuhan.

Rasa syukur kepada Tuhan adalah motivasi terbesar yang memungkinkan kita rela mempersembahkan harta yang berharga. Rela melakukan tindakan di luar logika tanpa pamrih, termasuk pengakuan dari sesama. Ya, rasa syukur sanggup mendorong kita meluruhkan sifat egosentris. Rasa syukur juga menolong kita mengingat bahwa Tuhanlah yang memegang kendali atas hidup kita. Ketika hati kita dipenuhi rasa syukur kepada Tuhan, kita tidak lagi membutuhkan alasan lain untuk menyatakan setiap kehendak-Nya dalam hidup keseharian. --EBL/www.renunganharian.net

TOLOK UKUR PERSEMBAHAN KITA KEPADA TUHAN BUKANLAH BANYAKNYA HARTA, MELAINKAN RASA SYUKUR KITA.

Senin, 02 Juni 2025

Temple Grandin: Perbedaan Tak Membuatnya Berhenti Berkarya

Temple Grandin lahir pada tahun 1947 di Boston, Amerika Serikat. Ketika masih kecil, ia menunjukkan perilaku yang berbeda dari anak-anak lain. Ia tidak berbicara hingga usia 4 tahun, mudah panik, sangat sensitif terhadap suara dan sentuhan, serta kesulitan berinteraksi sosial. Di masa itu, belum banyak pemahaman tentang autisme, dan anak-anak dengan kondisi seperti Temple sering dianggap "cacat mental" atau "tidak normal".

Dokter menyarankan agar Temple dimasukkan ke institusi permanen. Namun, ibunya menolak. Dengan penuh kasih, ibunya mencarikan guru privat yang sabar dan mendampingi Temple dalam proses belajar yang tidak biasa. Temple tumbuh dalam lingkungan yang tidak mudah, penuh penolakan dan bullying karena ia dianggap aneh dan tidak bisa bersosialisasi seperti anak lain.

Namun, dalam dunia Temple yang sunyi dan kompleks, ada satu hal yang membuatnya merasa nyaman dan terhubung: binatang. Ia merasa lebih mudah memahami hewan daripada manusia, karena hewan berbicara lewat bahasa tubuh dan emosi yang tidak membingungkan seperti kata-kata manusia. Ia juga menyadari bahwa ia berpikir dengan gambar, bukan kata-kata. Dalam pikirannya, segala sesuatu muncul dalam bentuk visual yang sangat rinci, mirip seperti film atau slide show.

Dengan keunikan itu, Temple berhasil mempelajari perilaku hewan secara mendalam. Ia melihat sesuatu yang tidak disadari oleh banyak orang. Misalnya, ketika sapi menolak masuk ke tempat pemotongan, ia bisa langsung menemukan gangguan visual atau suara kecil yang membuat hewan itu stres. Ia kemudian mulai mendesain ulang fasilitas peternakan dengan sistem yang lebih manusiawi, membuat proses lebih tenang, efisien, dan mengurangi penderitaan hewan.

Tak hanya menjadi pakar perilaku hewan dan profesor di bidang ilmu peternakan, Temple juga menjadi pembicara dunia tentang autisme. Ia menjelaskan bahwa orang dengan autisme bukanlah orang yang "sakit", melainkan orang yang berpikir secara berbeda. Dengan pemahaman dan dukungan, mereka bisa berkembang dan berkontribusi luar biasa.

Temple telah menulis banyak buku, diundang sebagai pembicara di universitas ternama, bahkan dibuatkan film tentang hidupnya oleh HBO. Meski ia masih menghadapi tantangan sosial dalam kehidupan sehari-hari, ia telah membuktikan bahwa perbedaan bukanlah batas, melainkan potensi.

Temple Grandin adalah contoh nyata bahwa perbedaan bukan kesalahan. Ia lahir dengan autisme, dengan cara berpikir, merasakan, dan merespons dunia yang berbeda dari kebanyakan orang. Di mata banyak orang, itu dianggap sebagai kelemahan. Tapi di tangan Tuhan, yang dunia anggap kelemahan bisa menjadi alat kuasa dan kasih-Nya.

Dunia mungkin mengukur kemampuan dari cara seseorang berbicara, bergaul, atau mengikuti standar "normal". Tapi Allah tidak memakai penggaris dunia. Dia menciptakan setiap manusia unik, dengan desain yang disengaja. Temple berpikir dengan gambar, bukan kata-kata, dan karena itulah ia bisa merancang sistem peternakan yang lebih manusiawi, membawa dampak besar dalam dunia yang sebelumnya tidak memahaminya.

Dalam hidup kita, mungkin kita merasa aneh, tidak cukup pintar, tidak cukup sosial, atau tidak cocok dengan standar yang ada. Tapi, ingatlah: Tuhan menciptakan kita dengan maksud yang khusus. Perbedaan kita bukan hambatan, tetapi potensi yang bisa dipakai-Nya. Dan yang terpenting ialah bukan seberapa kita cocok dengan dunia, tetapi seberapa kita bersedia dipakai oleh Tuhan.

Yesus sendiri memilih murid-murid yang "tidak biasa": nelayan, pemungut cukai, orang yang dianggap rendah, dan dari merekalah Injil disebarkan ke seluruh dunia. Temple Grandin juga tidak sesuai dengan ekspektasi dunia, tetapi hidupnya menunjukkan bahwa Tuhan bisa memakai siapa saja yang mau tetap berjalan dalam rancangan-Nya.

"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (Efesus 2:10)

Sumber: Renungan Kristen

Minggu, 01 Juni 2025

Sabar Adalah Buah Hubungan Dengan Tuhan
Ayat Renungan: Kolose 3: 12 – “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.”
 
Paulus menyebutkan bahwa orang-orang Kolose sebagai orang-orang pilihan Allah, yang sudah dikuduskan dan dikasihi-Nya (Kolose 3: 12). Ini berarti mereka mendapat status sebagai orang-orang yang hidup di dalam kebenaran. Identitas ini tidak akan berubah walaupun terkadang mereka masih melakukan kesalahan.
Namun, status sebagai orang percaya membawa tanggung jawab besar—yaitu hidup yang mencerminkan karakter Kristus. Salah satu karakter utama yang ditekankan oleh Paulus adalah kesabaran, karena kesabaran adalah cerminan dari karakter Allah sendiri. Dia telah lebih dahulu menunjukkan kesabaran yang luar biasa kepada kita.

Untuk menjadi pribadi yang sabar, kita perlu melatihnya setiap hari. Ini adalah ujian nyata bagi iman kita, karena kita akan berhadapan dengan berbagai karakter, seperti orang-orang yang keras kepala, menjengkelkan, egois, kurang pengertian, bahkan yang suka menimbulkan masalah. Tanpa pertolongan Tuhan, kita akan mudah gagal merespons mereka dengan cara yang benar.

Dalam 1 Tesalonika 5:14, Paulus menasihati, “Sabarlah terhadap semua orang.” Pernyataan ini menegaskan bahwa kesabaran bukan sekadar pilihan, tetapi merupakan panggilan bagi setiap orang percaya. 

Lalu bagaimana kita bisa benar-benar bisa menjadi sabar setiap waktu? Kesabaran kita akan bertumbuh seiring dengan keintiman dengan Tuhan. Karena semakin kita menyembah Dia, semakin karakter kita dibentuk dan dimurnikan — baik menjadi pribadi yang mampu menahan diri, lambat berespon dan memposisikan diri sebagaimana Allah telah begitu sabar dengan kita. Inilah bukti nyata bahwa penyembahan yang sejati berdampak langsung pada pembentukan karakter kita. Semakin kita mengandalkan Tuhan, semakin kita mampu menghidupinya setiap hari dan menjadi berkat bagi semua orang.
 
Momen Refleksi:
1. Apakah Anda pribadi yang sabar terhadap orang lain? 
2. Jika Anda masih berjuang di bagian ini, mari melatih diri kita dengan mengingatkan bahwa kita adalah cerminan karakter Allah.

Sumber: Jawaban.com