Sabtu, 27 Desember 2025

Coretan Dinding

Lidah lembut adalah pohon kehidupan. –Amsal 15:4

Ayat Bacaan & Wawasan :
Amsal 15:1-4, 23-28

Saat masih muda, jurnalis Sebastian Junger menjelajahi Amerika Serikat dan menulis tentang pengalamannya di sana. Pada suatu hari di tahun 1980-an, ia memasuki sebuah toilet di kawasan Florida Keys dan menemukan dindingnya dipenuhi coretan bernada kebencian—sebagian besar coretan itu ditujukan kepada para imigran Kuba. Namun, ada satu pesan lain yang mencolok dari seseorang yang tampaknya berasal dari Kuba, yang berbunyi, “Puji Tuhan, sebagian besar orang yang kutemui di negara ini begitu hangat, peduli, dan menerimaku di tahun 1962.” Junger lalu mencatat, “Hal-hal terburuk dan terbaik tentang Amerika hadir berdampingan di dinding toilet pria itu.”

Bagaimana seharusnya kita menanggapi pesan-pesan beracun yang kerap muncul di sekitar kita? Kitab Amsal memberikan nasihat yang bijak. Salomo, yang menulis sebagian besar isi kitab ini, membingkai pasal 15 dengan gambaran tentang kerusakan yang serupa: “mulut orang bebal mencurahkan kebodohan” (ay. 2), dan “mulut orang fasik mencurahkan hal-hal yang jahat” (ay. 28). Namun, pasal ini dimulai dengan penawarnya: “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman” (ay. 1). Salomo juga menyatakan, “Lidah lembut adalah pohon kehidupan” (ay. 4). Tanggapan yang sabar selalu menjadi kunci: “Orang yang benar berpikir dahulu sebelum berkata-kata” (ay. 28 FAYH).

Bagaimana Allah dapat menggunakan kata-kata kita saat kita memohon kepada-Nya agar menolong kita memikirkannya terlebih dahulu—sebelum mulut, pena, atau jari kita menumpahkan kata-kata yang berbisa dan penuh kebencian kepada sesama? Ingatlah perkataan dari amsal ini: “Alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!” (ay. 23).

Oleh: Tim Gustafson

Renungkan dan Doakan
Apa reaksi Anda, ketika melihat atau mendengar ucapan atau tulisan yang bernada kebencian? Bagaimana Anda dapat memberikan respons yang benar saat menghadapinya?

Ya Bapa, betapa sering aku tergoda untuk segera menjawab dalam kemarahan. Biarlah Roh-Mu menuntunku, dan tolonglah aku untuk memikirkan dahulu jawaban yang bijak sebelum aku berbicara.

Sumber: Our Daily Bread

Tidak ada komentar:

Posting Komentar