Berdoalah Yunus kepada Tuhan, Allahnya, dari dalam perut ikan itu. –Yunus 2:1
Ayat Bacaan & Wawasan :
Yunus 2:1-2, 7-10; 3:1-5
Dalam suatu kelas sekolah Minggu, kesabaran saya terhadap seorang anak berusia tiga tahun bernama Peter mulai menipis. Ia tampak gelisah, bersikap ketus kepada anak-anak lain, dan tidak mau tenang, bahkan setelah para guru menawarkan mainan yang paling ia inginkan. Rasa iba saya perlahan berubah menjadi kekesalan. Jika ia terus bersikap keras kepala dan menyulitkan, saya pikir lebih baik ia dikembalikan saja kepada orang tuanya dan tidak perlu ada di kelas.
Saya menyadari bahwa belas kasihan saya sering kali bersyarat. Ketika seseorang menolak nasihat atau bantuan saya, saya cenderung merasa bahwa mereka tidak lagi layak menerimanya. Namun syukurlah, Allah tidak bersikap demikian terhadap kita. Nabi Yunus mengalami belas kasihan Allah yang besar setelah ia sempat blak-blakan menunjukkan ketidaktaatan. Ketika Allah memerintahkannya untuk pergi ke Niniwe dan memberitakan pesan-Nya, Yunus justru sengaja memilih arah sebaliknya (Yun. 1:2). Ia lalu terjebak dalam badai, terombang-ambing di tengah lautan, lalu ditelan oleh seekor ikan besar—sebuah bencana yang ia ciptakan sendiri (ay. 4, 15-17). Ketika Yunus akhirnya berdoa “kepada Tuhan, Allahnya” (2:1), Allah tetap mendengarkan dan rela mengampuninya. Yunus diselamatkan dari perut ikan dan, dalam kemurahan Allah, menerima kesempatan kedua untuk pergi ke Niniwe (3:1).
Si Peter kecil ternyata cukup terhibur ketika diajak berjalan-jalan ke taman bermain—sebuah ide cemerlang dari seorang asisten guru yang menunjukkan kesabaran jauh lebih besar daripada saya. Alangkah indahnya belas kasihan yang tidak lekas menyerah untuk menjangkau kita, bahkan di tengah kegagalan yang kita ciptakan sendiri.
Oleh: Karen Pimpo
Renungkan dan Doakan
Mengapa kita terkadang enggan untuk menunjukkan belas kasihan kepada orang lain? Pernahkah Anda menyaksikan bagaimana kasih Allah menjangkau mereka yang tampaknya paling sulit untuk dikasihi?
Tuhan Yesus, terima kasih, karena Engkau tidak pernah menyerah dalam mengasihiku. Ajarlah aku mengasihi sesamaku sedemikian rupa.
Sumber: Our Daily Bread
Tidak ada komentar:
Posting Komentar