Tupai dan Biji yang Disimpan
Di sebuah hutan, hiduplah seekor tupai yang terkenal rajin mengumpulkan biji. Setiap pagi ia berlari dari pohon ke pohon, menyimpan biji di lubang-lubang rahasia. Semakin banyak ia menyimpan, semakin tenang perasaannya.
Tupai itu jarang berbagi. Ia takut kehabisan. Ia takut suatu hari hutan menjadi sepi dan tidak ada lagi yang bisa dikumpulkan.
Suatu musim kemarau datang lebih panjang dari biasanya. Banyak pohon tidak berbuah. Beberapa hewan mulai kesulitan mencari makan. Tupai tetap tenang. Ia punya simpanan.
Namun hari demi hari berlalu, dan tupai menyadari sesuatu. Banyak biji yang ia simpan mulai membusuk. Ada yang dimakan serangga. Ada yang lupa tempatnya. Simpanannya tidak seutuh yang ia bayangkan.
Suatu sore, seekor burung kecil terjatuh dari dahan karena lemah. Tupai ragu sejenak, lalu mengeluarkan satu biji dan memberikannya. Burung itu memakannya perlahan dan kembali terbang ke sarangnya.
Keesokan harinya, tupai melihat sesuatu yang baru. Di beberapa tempat bekas simpanannya, tunas kecil mulai tumbuh. Biji yang dulu ia tanam tanpa sengaja kini menjadi pohon muda.
Sejak saat itu, tupai tetap rajin mengumpulkan biji. Namun tidak semuanya disimpan. Sebagian ia lepaskan, karena ia belajar bahwa hidup tidak hanya soal menyimpan, tetapi juga membiarkan sesuatu bertumbuh.
Tupai itu merasa aman ketika ia menyimpan banyak biji. Simpanan membuatnya tenang. Namun waktu berjalan, dan ia menyadari bahwa apa yang hanya disimpan bisa rusak, hilang, atau sia-sia. Hidup ternyata tidak bertumbuh dari genggaman yang terlalu rapat.
Hal yang sama sering terjadi pada manusia. Waktu, tenaga, kemampuan, bahkan berkat dari Tuhan bisa habis tanpa makna jika hanya ditahan untuk diri sendiri. Saat seseorang mulai memberi, berbagi, dan melepaskan sebagian yang ia miliki, hidup justru menghasilkan sesuatu yang baru.
Tuhan merancang hidup agar bertumbuh melalui tangan yang terbuka. Dari situlah kebaikan menjalar, harapan muncul, dan berkat menjangkau lebih banyak orang.
"Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." (Amsal 11:24)
Sumber: Renungan dan Ilustrasi Kristen
Tidak ada komentar:
Posting Komentar