Rabu, 31 Desember 2025

Tenang di dalam Allah

Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. –Kisah Para Rasul 12:6

Ayat Bacaan & Wawasan :
Kisah Para Rasul 12:5-11

Suatu malam, tetangga saya, Sam, pulang tanpa mobilnya. Dengan tenang ia berkata kepada istrinya, “Mobilnya dicuri. Aku mau tidur saja. Besok akan kuurus.” Istrinya tertegun, tidak tahu mengapa Sam bisa bersikap begitu santai. Sam hanya menjawab, “Tidak ada yang bisa kulakukan, dan panik juga tidak akan mengubah keadaan.”

Sam yang bijaksana tahu bahwa kekhawatiran tidak akan menyelesaikan masalah. Ia yakin mobilnya akan ditemukan oleh pihak berwenang—dan memang mereka berhasil menemukannya.

Apakah Rasul Petrus merasakan hal yang sama ketika ia dijebloskan ke dalam penjara (Kis. 12:4)? Di bawah ancaman hukuman mati, sang rasul yang biasanya impulsif itu justru “tidur di antara dua prajurit” (ay. 6). Malaikat bahkan harus “menepuk rusuk Petrus” untuk membangunkannya (ay. 7 AYT)—menunjukkan betapa damai dan tenangnya hati Petrus saat itu. Mungkinkah karena Petrus sadar bahwa hidupnya aman di dalam tangan Allah? Ayat 9 dan 11 mengindikasikan bahwa Petrus tidak terlalu memikirkan apakah ia diselamatkan atau tidak. Mungkin ia dikuatkan oleh jaminan keselamatan dan kemuliaan yang akan diterimanya dari Yesus (Mat. 19:28), serta panggilan-Nya untuk “mengikuti Aku” tanpa memusingkan apa yang akan terjadi pada dirinya (Yoh. 21:22).

Apa pun yang Anda hadapi hari ini, tetaplah percaya bahwa Allah memegang masa depan Anda—di bumi maupun di surga—dengan tangan-Nya yang perkasa. Dengan keyakinan itu, mungkin malam ini Anda bisa tidur lebih tenang.

Oleh:  Leslie Koh

Renungkan dan Doakan
Kekhawatiran apa saja yang membuat Anda tetap terjaga di malam hari? Bagaimana Anda dapat belajar menyerahkannya kepada Allah dan terus berpegang pada janji-janji-Nya?

Ya Allah, aku tahu hidup dan masa depanku ada di dalam tangan-Mu yang penuh kasih dan kuasa. Tolonglah aku untuk tetap mempercayai-Mu.

Sumber: Our Daily Bread

Selasa, 30 Desember 2025

Dari Telinga Turun Ke Hati

Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.
- Amsal 16:24

Seorang gadis berusia 22 tahun mengalami depresi parah dan memutuskan untuk bunuh diri. Karena tidak ingin keluarga dan teman-temannya menyalahkan diri mereka karena tindakan bunuh dirinya, ia menyewa jasa seorang pembunuh bayaran untuk berpura-pura menjadi perampok yang kemudian membunuhnya dalam aksi tersebut. Yang tidak disangka-sangka adalah bukannya menerima pekerjaan itu, pembunuh bayaran tersebut merasa kasihan kepada kliennya yang masih muda. Gadis itu sebenarnya cukup sukses dalam bidangnya dan memiliki masa depan cerah. Jadi, si pembunuh bayaran malah mencoba menguatkannya, memberinya pengharapan, dan menyuruhnya tidak menyianyiakan hidup. Ia kemudian memberi waktu dua bulan kepada si gadis untuk berpikir. Jika keputusannya tidak berubah dalam dua bulan maka mereka akan menjalankan rencana tersebut. Pada akhirnya, gadis itu tidak pernah menghubunginya lagi. Bahkan, gadis tersebut, Angelina Jolie, benar-benar memiliki masa depan cerah! Ia menjadi salah satu aktris paling terkenal dan membagikan kisah ini dalam sebuah wawancaranya.

Itulah keadaan manusia masa kini: angka bunuh diri dan tingkat depresi yang sangat tinggi, khususnya di kalangan anak muda. Padahal, apa yang sesungguhnya dibutuhkan di masa kini? Sederhana saja: kata-kata yang menguatkan! Sebaris kata-kata penuh kepedulian dari seorang asing, sebuah sapaan, sebuah pujian yang tulus, terdengar sampai di telinga saja. Namun, hal-hal sederhana ini cukup untuk memberikan semangat hidup bagi banyak orang yang sedang terpuruk. Bagaimana bisa? Karena kata-kata indah tidak hanya berhenti di telinga, tetapi turun ke hati.

Sayang sekali, kita di masa ini lebih mudah mengkritik, menjatuhkan, menggosip, bahkan merendahkan orang lain. Seorang tukang bisa membunuh mandornya karena si mandor terus-terusan menghinanya di depan banyak orang. Kalaupun tidak mengucapkan perkataan sia-sia, kita cenderung tidak peduli. Tidak ada lagi saling sapa. Semua hal menyedihkan ini tidak hanya terjadi di luar sana, tetapi bahkan di dalam gereja.

Apa susahnya sih mengucapkan kata-kata yang menyenangkan? Toh melontarkan hinaan maupun kata-kata menguatkan, sama-sama membuang energi. Lebih baik kata-kata yang membangun. Anda mungkin saja bisa menyelamatkan seseorang!

Refleksi Diri:

Berapa persen dari total kata-kata yang Anda ucapkan yang bersifat positif (menyapa, menghibur, menunjukkan apresiasi, memuji, dst)? Dan berapa persen yang negatif (mengkritik, menjatuhkan, marah-marah, menghina, dst)?

Apa hal-hal praktis yang dapat Anda lakukan untuk membiasakan diri mengucapkan perkataan-perkataan yang menguatkan?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Senin, 29 Desember 2025

Allah Mengerti Keterbatasan Kita

Bacaan: Keluaran 13:17-22

Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: “Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir.”
- Keluaran 13:17

Bangsa Israel baru saja dibebaskan dari perbudakan. Mereka berjalan dengan penuh semangat dan pengharapan saat meninggalkan tanah Mesir. Namun, perjalanan mereka menuju tanah yang dijanjikan penuh dengan tantangan. Mereka dihadapkan pada jalan yang sulit dan padang gurun yang luas. Di satu sisi, ada jalan yang lebar dan cepat, tapi dipenuhi dengan mara bahaya. Di sisi lain, ada jalan yang lebih panjang dan berliku, tapi aman dari segala ancaman.

Allah dalam kebijaksanaan-Nya, tidak memilihkan jalan yang paling dekat, melainkan jalan yang jauh dan panjang. Dia tahu jika menghadapi tantangan terlalu cepat, bangsa Israel mungkin akan kembali ke perbudakan karena ketakutan. Allah memilih jalan panjang melalui padang gurun untuk melindungi umat-Nya dari ancaman perang yang bisa membuat mereka menyesal dan kembali ke Mesir (ay. 17). Allah memahami keterbatasan dan ketakutan umat-Nya, serta bertindak dengan hikmat dalam membimbing mereka. Daud dalam Mazmur 23:1-3 menegaskan, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.”

Allah mengerti bahwa kita mungkin tidak siap menghadapi semua tantangan sekaligus. Dia memilihkan jalan yang tepat untuk kita, sesuai dengan kemampuan dan kekuatan kita. Saat kita merasa lemah atau ragu, ingatlah Dia selalu mendampingi dan menunjukkan jalan yang paling sesuai dengan situasi kita. Percayalah pada bimbingan Allah. Meskipun jalan yang dipilih-Nya tampak lebih sulit dan panjang, kita harus tetap percaya bahwa Dia lebih tahu yang terbaik buat kita. Terkadang, perjalanan hidup dipenuhi dengan lika-liku yang tidak kita mengerti, membuat kita bertanya-tanya kenapa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi? Namun, kita harus tetap percaya, Allah sedang mempersiapkan dan melindungi kita dari bahaya yang tidak terlihat.

Refleksi Diri:

Apa tantangan atau kesulitan yang Anda hadapi sekarang yang Anda lihat sebagai bagian dari rencana Allah yang lebih besar dari perjalanan hidup Anda?

Apakah Anda sudah berdoa dan meminta bimbingan Tuhan agar dapat memilih jalan yang sesuai rencana Tuhan dan kemampuan Anda?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Minggu, 28 Desember 2025

Percayalah kepada Allah Meski Anda Tidak Mengerti

Bacaan Hari ini:
Amsal 3:5 "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan jangan bersandar pada pengertianmu sendiri."

Banyak orang meminta Allah memberi jaminan keberhasilan sebelum melakukan apa yang Ia minta—tetapi itu bukan iman. Iman selalu membutuhkan risiko.
Iman berarti taat meski Anda tidak mengerti.
Contohnya, mengampuni tidak pernah terasa seperti ide yang baik sebelum kita melakukannya. Ketika seseorang menyakiti Anda, rasanya tidak adil untuk memaafkan. Tetapi pengampunan selalu merupakan pilihan yang benar—meskipun Anda tidak memahaminya.
Ingat saat Anda masih kecil dan orang tua menyuruh Anda melakukan sesuatu yang tidak masuk akal? Bertahun-tahun kemudian, Anda baru mengerti mengapa mereka mengatakan itu.
Beginilah cara kerja iman.

Iman berarti melakukan yang benar meski terlihat absurd.
Amsal 3:5 berkata: "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan jangan bersandar pada pengertianmu sendiri."

Contoh besarnya ada dalam kisah Gideon di Hakim-Hakim 7. Gideon memimpin 300 orang Israel melawan 135.000 musuh. Perbandingannya? 450 lawan 1.
Lalu Allah menyuruh mereka membawa obor, trompet, dan kendi tanah liat—perintah yang pasti terasa konyol bagi Gideon.

Tuhan meminta mereka menutupi obor dengan kendi agar cahayanya tersembunyi pada malam hari. Lalu Dia menyuruh mereka mengelilingi perkemahan musuh. Perintah-Nya:
"Ketika Aku memberi aba-aba, tiup trompetnya, pecahkan kendinya, dan biarkan cahaya obor menyala. Musuh akan panik, bingung, dan saling menyerang."
Dan benar—Gideon taat meski tidak mengerti. Mereka meniup trompet, memecahkan kendi, dan menyalakan obor.
Para musuh terbangun, panik, dan akhirnya saling bertempur hingga Israel menang.

Kadang Tuhan meminta Anda melakukan hal yang tampak bodoh. Masuk ke situasi sulit. Menghadapi tantangan besar. Melangkah meski tidak melihat jalan. Tetapi iman berarti Anda taat meski tidak paham.
Seperti Gideon, Anda tidak dapat hidup dalam iman tanpa mengambil risiko. Tetapi Allah melihat seluruh gambaran dengan visiNya yang besar. Anda dapat mempercayai apa yang Tuhan minta Anda lakukan.

Renungkan :
- Hal paling mengejutkan apa yang pernah Tuhan minta Anda lakukan? Bagaimana hasilnya?
- Dalam hal apa Anda paling mudah mengandalkan logika sendiri daripada mengikuti ide Allah? Mengapa?
- Ketakutan terbesar apa yang Anda rasakan ketika diminta untuk taat pada sesuatu yang tidak Anda pahami?

Anda tidak pernah melihat seluruh gambaran—tetapi Allah melihatnya.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Sabtu, 27 Desember 2025

Coretan Dinding

Lidah lembut adalah pohon kehidupan. –Amsal 15:4

Ayat Bacaan & Wawasan :
Amsal 15:1-4, 23-28

Saat masih muda, jurnalis Sebastian Junger menjelajahi Amerika Serikat dan menulis tentang pengalamannya di sana. Pada suatu hari di tahun 1980-an, ia memasuki sebuah toilet di kawasan Florida Keys dan menemukan dindingnya dipenuhi coretan bernada kebencian—sebagian besar coretan itu ditujukan kepada para imigran Kuba. Namun, ada satu pesan lain yang mencolok dari seseorang yang tampaknya berasal dari Kuba, yang berbunyi, “Puji Tuhan, sebagian besar orang yang kutemui di negara ini begitu hangat, peduli, dan menerimaku di tahun 1962.” Junger lalu mencatat, “Hal-hal terburuk dan terbaik tentang Amerika hadir berdampingan di dinding toilet pria itu.”

Bagaimana seharusnya kita menanggapi pesan-pesan beracun yang kerap muncul di sekitar kita? Kitab Amsal memberikan nasihat yang bijak. Salomo, yang menulis sebagian besar isi kitab ini, membingkai pasal 15 dengan gambaran tentang kerusakan yang serupa: “mulut orang bebal mencurahkan kebodohan” (ay. 2), dan “mulut orang fasik mencurahkan hal-hal yang jahat” (ay. 28). Namun, pasal ini dimulai dengan penawarnya: “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman” (ay. 1). Salomo juga menyatakan, “Lidah lembut adalah pohon kehidupan” (ay. 4). Tanggapan yang sabar selalu menjadi kunci: “Orang yang benar berpikir dahulu sebelum berkata-kata” (ay. 28 FAYH).

Bagaimana Allah dapat menggunakan kata-kata kita saat kita memohon kepada-Nya agar menolong kita memikirkannya terlebih dahulu—sebelum mulut, pena, atau jari kita menumpahkan kata-kata yang berbisa dan penuh kebencian kepada sesama? Ingatlah perkataan dari amsal ini: “Alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!” (ay. 23).

Oleh: Tim Gustafson

Renungkan dan Doakan
Apa reaksi Anda, ketika melihat atau mendengar ucapan atau tulisan yang bernada kebencian? Bagaimana Anda dapat memberikan respons yang benar saat menghadapinya?

Ya Bapa, betapa sering aku tergoda untuk segera menjawab dalam kemarahan. Biarlah Roh-Mu menuntunku, dan tolonglah aku untuk memikirkan dahulu jawaban yang bijak sebelum aku berbicara.

Sumber: Our Daily Bread

Jumat, 26 Desember 2025

Anak yang Melayani dan Menebus 

Bacaan Alkitab hari ini:
Markus 10:35-45

Walaupun Yakobus dan Yohanes baru saja mendengar perkataan Tuhan Yesus tentang penderitaan yang akan Ia alami—diolok-olok, diludahi, dicambuk, dan dibunuh—mereka tidak benar-benar memahami maknanya. Alih-alih berdukacita atau menunjukkan empati, mereka malah meminta tempat terhormat, yaitu duduk di sebelah kanan dan kiri Tuhan Yesus dalam kemuliaan-Nya. Di benak mereka, Tuhan Yesus adalah Raja yang akan segera menaklukkan Yerusalem, seperti raja-raja Israel kuno yang gagah perkasa. Mereka ingin mendapat posisi istimewa. Murid-murid lain yang mendengar hal ini menjadi marah. Kemungkinan besar, mereka marah karena mereka juga menginginkan posisi tinggi. Mungkin, mereka bukan baru sekali ini bertengkar soal siapa yang terbesar di antara mereka. Kemudian, Tuhan Yesus memanggil mereka semua dan mengajarkan prinsip yang berbeda dengan prinsip dunia: Dalam Kerajaan Allah, orang yang ingin menjadi terbesar harus bersikap seperti hamba yang melayani semua orang lain. Ukuran kemuliaan dalam Kerajaan Allah bukan besarnya kekuasaan atau kehormatan, tetapi kerendahhatian dan semangat untuk mengutamakan orang lain.

Tuhan Yesus bersabda, "Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (10:45). Ia membuat orang lain merasa dihargai, dikasihi, dan berarti. Banyak lagu rohani Kristen yang mengungkapkan kebenaran ini, misalnya dalam lirik: "Siapakah aku ini, Tuhan... jadi biji mata-Mu." Tuhan Yesus mengangkat kita yang hina dan menjadikan kita berharga di mata-Nya, bukan karena kita telah berjasa, tetapi karena Ia mengasihi kita. Di rumahnya, Albert Einstein menggantung foto seorang ilmuwan terkenal sebagai simbol dari ambisinya untuk menjadi besar dan dikenang. Namun, seiring waktu, Einstein mengganti foto itu dengan gambar Mahatma Gandhi (pejuang kemerdekaan India) dan Albert Schweitzer (misionaris di Afrika). Ia mulai menyadari bahwa hidup yang paling bermakna adalah hidup yang diberikan bagi orang lain.

Perayaan Natal tahun ini mengingatkan kita bahwa Tuhan Yesus adalah teladan tertinggi yang bukan hanya mengajar, tetapi menyerahkan nyawa-Nya bagi kita. Ia membuat kita yang berdosa merasa berharga. Dalam kasih dan pengorbanan-Nya, kita mempelajari arti menjadi besar di mata Allah, yaitu menjadi hamba bagi sesama. Apakah Anda lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau kepentingan sesama? Dengan mengingat bahwa Tuhan Yesus—Raja segala raja—telah rela merendahkan diri-Nya untuk melayani manusia, apakah Anda bersedia mengesampingkan kepentingan pribadi demi melayani orang lain? [Pdt. Sumito Sung]

Sumber: Renungan GKY

Kamis, 25 Desember 2025

Ini Kan Natal!

Bacaan: 1 TIMOTIUS 6:6-10

Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. (1 Timotius 6:8)

Hari Natal, bagi sebagian orang merasa penting melakukan banyak persiapan. Mengecat ulang dinding rumah, mengganti gorden dan sofa dengan yang baru, memasang ornamen Natal, menyiapkan kado, hantaran, serta berbagai menu istimewa untuk menyambut tamu. Belum lagi baju dan sepatu baru untuk menghadiri ibadah dan perayaan Natal. Selain menjadi hari besar, Natal pun adalah anggaran besar. Namun, sebagian orang merasa hal itu wajar, sebab, "Ini kan Natal!"

Menyambut momen berharga dengan segala yang terbaik tidaklah salah. Masalahnya adalah ketika tuntutan kemeriahan dan kemewahan membuat kita lupa bersyukur. Merasa tidak cukup dengan kecukupan yang ada, menuntut Tuhan memberi kemewahan. Pada momen-momen seperti ini mestinya kita ingat akan pesan Rasul Paulus kepada Timotius yang berbunyi, "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah."

Bukankah Tuhan Yesus sendiri yang mengajarkan kepada umat untuk merasa cukup, bahkan bersyukur dalam kesederhanaan? Yesus pun lahir dalam kesederhanaan. Namun, ia memiliki kehidupan rohani yang sempurna. Inilah yang semestinya menjadi teladan kita! Secara jasmani kita harus merasa cukup dengan hidup dalam kesederhanaan. Namun, secara rohani, kita harus mengejar kesempurnaan. Bukan tampilan luar, melainkan hati yang harus dilayakkan untuk menyambut Yesus. Hati yang hidup dalam pertobatan, terbuka kepada didikan kebenaran, serta memiliki semangat untuk mengasihi dan melayani. Sebab "kelahiran kembali" dalam pertobatan, kekudusan, ketaatan, syukur, dan kasih, inilah Natal! --EBL/www.renunganharian.net

JANGANLAH HIDUP KITA DIKUASAI OLEH CINTA AKAN UANG, MELAINKAN PUASLAH DENGAN YANG ADA PADA KITA! BUKANKAH TUHAN TIDAK AKAN MEMBIARKAN ATAU MENINGGALKAN KITA?

Rabu, 24 Desember 2025

Pembebasan Yang Membawa Sukacita

Bacaan: Mazmur 126:1-6

TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. - Mazmur 126:3

Joe Ligon dibebaskan dari penjara setelah 68 tahun lamanya mendekam di sana. Sejak usia lima belas tahun, ia menerima hukuman seumur hidup akibat peristiwa penikaman yang menewaskan dua orang yang tidak ia kenal. Setelah keluar dari penjara, ia berkata, “Rasanya seperti terlahir kembali karena semuanya baru bagi saya.” Tatkala ditanya bagaimana rasanya setelah dibebaskan setelah puluhan tahun berada di dalam jeruji besi, ia menjawab, “Indah, sungguh indah!”

Mazmur 126 berlatar belakang peristiwa pembebasan bangsa Israel dari pembuangan selama 70 tahun. Akibat ketidaktaatan mereka kepada Allah, Allah membuang mereka ke Babel. Allah mengizinkan pembuangan tersebut terjadi agar bangsa Israel memahami kasih-Nya yang besar kepada mereka dan bagaimana Allah setia memegang janji-janji-Nya. Saat Allah memenuhi janji-Nya dan bangsa Israel kembali dari tanah pembuangan, mereka begitu bersukacita (ay. 3), mulut mereka dipenuhi tawa dan sorak sorai (ay. 2).

Bukan hanya Joe Ligon yang dibebaskan dari penjara ataupun bangsa Israel yang bersukacita karena dibebaskan dari pembuangan, kita pun sebagai anak-anak Tuhan tentu bersukacita karena Kristus hadir ke dalam dunia untuk membebaskan kita dari maut dan kuasa dosa. “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Rm. 5:8). Kita yang berdosa dan seharusnya berada di bawah murka Allah, tetapi karena kasih-Nya besar kepada kita, justru diselamatkan dan terbebas dari hukuman kekal. “Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.” (Rm. 5:9)

Karena itu, menjelang peringatan Natal, rayakanlah dengan sukacita karena Allah telah berkarya besar di dalam kehidupan kita, umat yang dikasihi-Nya. Tuhan Yesus datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan kita semua. Tanpa Allah hadir dan berkarya dalam hidup kita, kita tetap hidup di dalam kemalangan dan tanpa sukacita. Namun, kehadiran Kristus di muka bumi telah membawa sukacita bagi kita karena di dalam Dia ada kemenangan atas maut dan dosa. Ayo, bersukacita karena pembebasan yang telah dilakukan-Nya.

Refleksi Diri:
Apakah Anda sudah bersukacita atas pembebasan Anda oleh Kristus dari dosa dan maut? Apa wujud sukacita Anda?

Bagaimana Anda akan menyambut perayaan Natal bersama saudara-saudara seiman dengan sukacita?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Selasa, 23 Desember 2025

Hadir Menghibur Mereka yang Menderita

Ayat Renungan: 2 Korintus 1:3–4 - "Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah."

Pengalaman paling menyakitkan yang kita alami biasanya akan sangat mudah menggerakkan hati kita untuk menolong orang lain yang sedang mengalami rasa sakit yang sama. Entah itu penolakan, kegagalan, kehilangan maupun luka trauma karena musibah maupun kemalangan. Inilah yang disampaikan Rasul Paulus di dalam bagian ayat renungan pagi ini.

Dituliskan di dalam 2 Korintus 1:3–4, "Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah." 

Paulus menegaskan bahwa hasil dari pengalaman penderitaan kita adalah kita memperoleh kuasa untuk menghibur orang lain yang sedang menderita. Jadi jika dulu kita sudah melalui duka kehilangan semua hal yang kita punya, maka ketika kita melihat orang lain sedang berada di titik yang sama kita punya kemampuan menjadi saudara yang menopang maupun memberikan penghiburan. Tentu kita tidak bisa melakukannya sendirian, tetapi dengan kuasa dari Tuhan yang adalah sumber segala penghiburan.

Mari melihat ke sekeliling kita, apakah ada orang yang sedang mengalami penderitaan seperti yang dulu pernah kita alami? Apakah hati Anda tergerak dengan rasa iba untuk hadir menguatkan maupun menghibur mereka? Paulus mengajarkan kita pagi ini bahwa menghibur orang lain di tengah kehilangan mereka, trauma mereka maupun penderitaan mereka, adalah bentuk tindakan yang murni dan alami. Kita bisa hadir untuk mereka dengan:

1.Tunjukkan sikap positif dan penuh sukacita. Inilah yang Paulus dan Silas lakukan ketika berada di tengah para tahanan di penjara—orang-orang yang mungkin sedang putus asa dan kehilangan harapan (Kisah Para Rasul 16).

2. Doakan mereka. Ini adalah bentuk penghiburan yang tidak menuntut kita untuk membanggakan pengalaman penderitaan kita sendiri, melainkan mengundang kuasa Tuhan bekerja dan meneguhkan mereka yang sedang lemah.

3. Sampaikan kata-kata penghiburan. Meski membutuhkan kepekaan, ketulusan hati Anda akan terasa, bahkan ketika Anda hanya berkata, "Jangan khawatir, kami ada bersamamu." Kalimat sederhana ini mampu menghadirkan ketenangan dan rasa aman.

Saudara, saya percaya Tuhan telah membawa Anda sampai di titik ini karena Anda telah berjalan bersama-Nya melewati berbagai penderitaan. Karena itu, maukah Anda dipakai Tuhan untuk menjadi alat penghiburan bagi mereka yang saat ini hidupnya sedang sulit dan terluka?

Jika Anda bersedia, hiburlah seseorang yang Anda tahu sedang menghadapi pergumulan. Bagikan sukacita, kirimkan pesan yang menguatkan, dan yang tidak kalah penting: doakan mereka.

Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati. 
   
Sumber: Jawaban.com

Senin, 22 Desember 2025

Bagaimana Hidup dengan Baik

Henokh hidup bergaul dengan Allah. –Kejadian 5:24

Ayat Bacaan & Wawasan:
Kejadian 5:21-24

Pedro menjadi pengikut Yesus pada usia 50 tahun. Tadinya ia seorang pemarah dan pendendam yang sering menyakiti orang-orang di sekitarnya. Setelah menjalani proses konseling dari gerejanya, ia menyesali kehidupannya di masa lalu. “Sekarang saya mempunyai lebih sedikit waktu di depan daripada yang sudah berlalu,” katanya. “Saya ingin mengisi masa depan itu dengan baik, tetapi bagaimana caranya?”

Pedro menemukan jawabannya dari suatu sumber yang tidak lazim, yaitu silsilah keluarga. Ketika membaca catatan Musa mengenai silsilah keluarga Adam, ia memperhatikan satu kalimat yang diulang-ulang untuk menggambarkan keturunan Adam: Jadi [nama orang] mencapai umur [angka] tahun, lalu ia mati” (lihat Kej. 5:8,11,14,17,20,27,31). Namun, ada satu orang yang ditulis berbeda.

Henokh digambarkan sebagai seseorang yang “hidup bergaul dengan Allah” (ay. 22,24). Ia mendekatkan diri dengan Allah, dan demikianlah caranya menjalani kehidupan di dunia. Karena imannya, “ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah” (Ibr. 11:5). Henokh mempunyai keyakinan yang teguh dan menetap pada diri Allah dan apa yang akan Dia lakukan bagi orang-orang yang mencari-Nya (ay. 6). Ia mengungkapkan keyakinannya kepada Yang Maha Kuasa dengan bertindak menurut keyakinan itu dan menaati-Nya, dan oleh karena imannya itu, Allah menyelamatkannya dari kematian jasmani (ay. 5).

“Bagaimana saya dapat menjalani tahun-tahun saya ke depan dengan baik?” tanya Pedro. “Lewat hidup bergaul dengan Allah.”

Hidup kita di dunia tidak harus disimpulkan hanya dengan jumlah usia kita. Hidup kita dapat ditentukan oleh iman kita—iman yang memberi Allah ruang untuk bekerja dalam berbagai cara yang jauh lebih banyak daripada yang dapat kita pikirkan.

Oleh: Karen Huang

Renungkan dan Doakan
Seperti apa “bergaul dengan Allah” terjadi dalam hidup Anda? Bagaimana Anda dapat bertindak menurut keyakinan Anda kepada-Nya?

Aku sadar, ya Bapa, aku tidak diciptakan untuk menjalani kehidupan dengan caraku sendiri. Tolonglah aku untuk hidup bergaul dengan-Mu.

Sumber: Our Daily Bread

Minggu, 21 Desember 2025

Tetap Ada Pengharapan

Bacaan: Yesaya 8:23-9:6

Tetapi tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu - Yesaya 8:23a

Satu ketika, seseorang sedang berjalan di salju yang tebal. Suhu begitu dingin. Ia berusaha melangkah ke depan. Selangkah demi selangkah coba terus dilakukannya. Kelelahan mulai dirasakannya dan kaki pun semakin berat untuk melangkah. Sampai satu titik, ia pun berkata, “Aku menyerah.” Kemudian matanya memandang ke depan dan tampaklah sebuah bangunan. Harapan akan ruangan yang hangat membangkitkan semangatnya. Ia akhirnya terus berjalan sambil menatap bangunan yang menjadi pengharapannya. Manusia tidak mungkin hidup tanpa pengharapan. Jika seseorang bekerja tanpa pengharapan naik jabatan atau gaji, ia akan bekerja dengan lesu dan tak bergairah. Jika seseorang yang sedang sakit tidak memiliki pengharapan untuk sembuh, ia akan kehilangan semangat untuk menjalani proses pengobatan. Seseorang yang tidak memiliki pengharapan, hidupnya akan mudah menyerah dan kalah.

Di dalam Yesaya 8:21-22, bangsa Israel sedang dalam situasi “melarat dan lapar”. Mereka sudah tidak memiliki pengharapan lagi. Yang ada hanyalah “kesesakan dan kegelapan, kesuraman yang mengimpit, dan mereka akan dibuang ke dalam kabut”. Tentu mereka putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa.

Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Pengharapan baru muncul. “Tetapi tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu.” (8:23a), akan lahir seorang Mesias, Juruselamat dan penebus mereka. Mereka tidak akan lagi berjalan di dalam kegelapan. Terang yang besar akan menuntun langkah-langkah mereka (9:1) dan sukacita melanda mereka (9:2).

Yesaya 9:5 bahkan menyatakan, “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Anak yang akan lahir menjadi pengharapan bagi bangsa Israel.

Saat ini, Sang Mesias telah lahir. Dialah Yesus Kristus, yang kita rayakan setiap hari Natal. Dia datang membawa pengharapan bagi kita semua. Dia datang memberikan pembebasan, menyatakan kebenaran, dan juga menyelamatkan kita dari maut. Tuhan Yesus datang memberikan kita hidup yang kekal. Di hari Natal yang akan datang, mari rayakan dengan satu pengharapan bahwa Yesus Kristus selalu ada menyertai kita. Dia adalah Allah yang hadir bagi kita. Dia adalah Imanuel, Allah yang beserta dengan kita.

Refleksi Diri:

Bagaimana pengharapan akan penyertaan Tuhan dapat membangkitkan semangat Anda untuk menjalani hidup?

Apa makna Natal yang akan segera Anda rayakan? Apakah Natal memberi pengharapan baru bagi Anda?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Sabtu, 20 Desember 2025

Kota yang Layak Dicari?

Segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu. –Filipi 3:8

Ayat Bacaan & Wawasan :
Filipi 3:1-9

Pada tanggal 29 Mei 1925, Percy Fawcett mengirim surat terakhir kepada istrinya sebelum masuk lebih dalam ke hutan-hutan di Brasil yang belum pernah dipetakan. Dalam upayanya bertahun-tahun mencari sebuah kota terhilang yang menurut dongeng penuh dengan kemegahan, Fawcett bertekad menjadi penjelajah pertama yang berhasil membagikan lokasi kota itu kepada dunia luar. Namun, tim ekspedisi yang dipimpinnya tersesat, kota itu tidak pernah ditemukan, dan banyak ekspedisi selanjutnya yang gagal menemukan kota itu maupun membawa mereka kembali.

Keberanian dan semangat Percy, walau patut dikagumi, harus terbuang sia-sia untuk sebuah kota terhilang yang tak pernah bisa dicapai. Jika kita jujur, ada banyak tujuan yang tidak tercapai dalam hidup kita tetapi yang masih memiliki daya tarik yang kuat atas diri kita. Namun sesungguhnya, ada harta sejati yang layak dicari setiap orang dengan segenap hati, pikiran, dan kekuatan.

Dalam suratnya kepada orang-orang percaya di Filipi, Paulus menuliskan: “Segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya” (Flp. 3:8). Tidak seperti kota khayalan yang menjanjikan kekayaan, ketenaran, atau kuasa, mengenal Yesus dan mempercayai Dia adalah harta yang tiada bandingannya. Tujuan duniawi seperti kekuasaan atau kedudukan, bahkan kebenaran diri lewat ketaatan kepada hukum, tidaklah berarti jika dibandingkan dengan pengenalan akan Yesus (ay. 6-7).

Apakah kita menghabiskan begitu banyak waktu dan tenaga untuk hal-hal yang tidak akan pernah dapat memuaskan kita? Kiranya Kristus menolong kita untuk menyadari “kota” apa yang selama ini kita cari.

Oleh: Karen Pimpo

Renungkan dan Doakan
Harta apa yang sedang Anda cari hari ini? Bagaimana perenungan tentang tak ternilainya pengenalan akan Yesus dapat menolong Anda menata ulang prioritas hidup dengan tepat?

Terima kasih, Tuhan Yesus, karena aku tidak usah bersusah payah mengejar sesuatu yang tidak akan pernah memuaskanku. Hartaku yang paling berharga adalah pengenalan akan diri-Mu.

Sumber: Our Daily Bread

Jumat, 19 Desember 2025

Memohon Pertolongan Allah

Sampai di sini Tuhan menolong kita. –1 Samuel 7:12

Ayat Bacaan & Wawasan :
1 Samuel 7:7-12

Ketika saya masih muda, saya berpikir sungguh tidak pantas meminta Allah untuk menolong saya agar dapat menyelesaikan tulisan pada waktunya. Pikir saya, orang lain punya masalah yang lebih besar. Masalah keluarga, gangguan kesehatan, krisis keuangan, atau kehilangan pekerjaan. Saya juga pernah mengalami masalah-masalah tersebut. Namun, menyelesaikan tulisan dengan tepat waktu tampaknya terlalu sepele untuk dibawa kepada Allah. Namun, pandangan saya berubah setelah menemukan banyak contoh dalam Alkitab yang memperlihatkan bagaimana Allah menolong orang-orang tanpa memandang besar atau kecilnya kesulitan yang mereka hadapi.

Dalam satu kisah, orang Israel di Mizpa merasa takut akan diserang musuh mereka, bangsa Filistin. “Janganlah berhenti berseru bagi kami kepada Tuhan, Allah kita, supaya Ia menyelamatkan kami dari tangan orang Filistin itu” (1 Sam. 7:8). Menanggapi hal itu, Samuel mempersembahkan seekor anak domba kepada Allah, sembari berseru kepada-Nya demi orang Israel, “maka Tuhan menjawab dia” (ay. 9).

“Sedang Samuel mempersembahkan korban bakaran itu, majulah orang Filistin berperang melawan orang Israel. Tetapi pada hari itu Tuhan mengguntur dengan bunyi yang hebat ke atas orang Filistin dan mengacaukan mereka, sehingga mereka terpukul kalah oleh orang Israel” (ay. 10). Kemudian, “Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: ‘Sampai di sini Tuhan menolong kita’” (ay. 12). Samuel menempatkan batu itu sebagai peringatan bahwa Allah sudah menolong umat-Nya. Eben-Haezer berarti “Batu Pertolongan.”

Kita selalu boleh meminta pertolongan Allah. Berserulah kepada-Nya hari ini.

Oleh: Patricia Raybon

Renungkan dan Doakan
Pertolongan seperti apa yang Anda perlukan dari Allah? Mengapa penting bagi Anda untuk berseru kepada-Nya?

Allah yang penuh kasih, tolonglah aku hari ini. Aku membutuhkan-Mu!

Sumber: Our Daily Bread

Kamis, 18 Desember 2025

Apakah Anda Mengelola Uang Anda atau Uang Milik Allah?

Bacaan Hari ini:
1 Petrus 4:10 "Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah."

Saya sebenarnya tidak memiliki apa pun. Dan Anda juga tidak.
Semua itu milik Allah.

Segala sesuatu berasal dari Allah sejak awal, dan akan kembali menjadi milik-Nya pada akhirnya. Anda tidak membawa apa pun ke dunia ini—dan Anda juga tidak akan membawa apa pun keluar dari dunia ini.

Artinya, Anda adalah pengelola dari apa yang Allah percayakan kepada Anda. Allah memberi Anda kesehatan—maka Anda harus mengelola kesehatan Anda dengan bijaksana. Ia memberi Anda waktu—jadi Anda harus mengelola waktu itu dengan bijaksana. Ia memberi Anda talenta—maka Anda harus mengelola talenta itu dengan bijaksana. Dan Ia memberi Anda uang—maka Anda juga harus mengelola uang itu dengan bijaksana.

Seperti yang dikatakan 1 Petrus 4:10, "Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah."

Mungkin pada awalnya hal itu tidak tampak sebagai sesuatu yang besar, tetapi ketika Anda menyadari bahwa uang Anda sebenarnya bukan milik Anda, cara pandang Anda terhadap uang dan cara Anda menggunakannya akan berubah.

Dan karena Anda adalah pengelola uang Allah, suatu hari nanti Anda akan dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya mengenai bagaimana Anda telah menggunakannya.

Kitab Pengkhotbah mengajarkan:
"Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan" (Pengkhotbah 11:9)

Dan Roma 14:12 menyatakan:
"Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah"

Ketika waktu Anda di bumi berakhir, Anda akan berdiri di hadapan Allah dan memberikan laporan tentang bagaimana Anda telah menggunakan semua yang Ia berikan kepada Anda—waktu, talenta, uang, dan segala sesuatu lainnya. Allah akan bertanya, kurang lebih seperti ini:
"Apa yang telah engkau lakukan dengan apa yang Aku berikan kepadamu?"

Bagaimana Anda akan menjawab-Nya?

Renungkan
- Apakah selama ini Anda memandang diri sebagai pemilik atau pengelola dari uang Anda?
- Kapan terakhir kali Anda menyadari bahwa segala sesuatu yang Anda miliki adalah pemberian Allah? Bagaimana hal itu memengaruhi keputusan Anda?
- Jika Allah bertanya hari ini, "Apa yang telah engkau lakukan dengan apa yang telah Aku berikan?", bagaimana Anda akan menjawab?

Allah hanya meminjamkan semuanya kepada Anda selama Anda hidup di dunia.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Rabu, 17 Desember 2025

Bagaimana Menunjukkan Kasih kepada Orang yang Sulit Dikasihi

Bacaan Hari ini:

1 Korintus 13:7 "Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."

Kasih bisa sangat melelahkan. Jangan biarkan siapa pun menipu kamu. Jenis kasih yang benar-benar membawa perubahan di dunia ini akan menguras segala tenaga yang kamu punya.

Kadang kamu merasa tidak punya lagi kasih untuk diberikan. Mungkin kamu bekerja di bidang yang penuh interaksi manusia, seperti mengajar, penjualan, atau layanan pelanggan, lalu pulang ke rumah dan berpikir, “Aku tidak sanggup menghadapi satu kebutuhan lagi, satu masalah lagi, atau satu hati yang terluka lagi.” Maka kamu pun menutup diri.

Atau kamu perlu menunjukkan kasih kepada seseorang yang menuntut, egois, dan tidak pernah membalas kasihmu. Dan kamu berpikir, "Sudah cukup. Aku menyerah."

Itu adalah respons yang sangat wajar dan manusiawi, tetapi bukan standar kasih yang Allah panggil kita untuk miliki. Alkitab berkata, "Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:7).

Bagaimana kamu dapat memiliki kasih yang bertahan seperti itu kepada seseorang? Kamu harus mengisi ulang (refuel).

Ketika anak-anak saya masih kecil, saya ingat membawa keluarga ke pertunjukan udara. Sangat mengagumkan melihat bagaimana sebuah pesawat tanker disambungkan ke jet tempur di udara untuk mengisi bahan bakar. Saya tidak akan pernah lupa itu.

Bayangkan kalau ada pilot jet berkata, "Saya tidak perlu isi ulang bahan bakar." Pesawat itu pasti akan jatuh dan hancur. Dalam penerbangan jarak jauh, pesawat harus mengisi bahan bakar.

Untuk memberi kasih yang bertahan seperti yang Allah inginkan, kamu harus mengisi ulang tangki kasihmu. Kalau kamu melihat di sekitar masyarakat, kamu akan melihat begitu banyak puing hubungan yang "jatuh dan terbakar" karena orang gagal mengisi ulang kasih mereka.

Bagaimana kamu mengisi ulang tangki kasih? Mulailah dengan membiarkan Allah mengasihi kamu.

"Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita" (1 Yohanes 4:19).

Saat kamu lelah, kosong, dan merasa tidak mampu lagi menunjukkan kasih kepada siapa pun, ingatlah bahwa Allah mengasihi kamu begitu besar hingga Ia mengutus Anak-Nya untuk mati bagimu.

Itulah bahan bakar yang sesungguhnya. Itulah yang membuatmu tetap berjalan ketika kamu ingin menyerah.

Renungkan :

- Pilihan apa yang bisa kamu lakukan minggu ini untuk mengisi ulang dan mengasihi orang lain dengan baik?

- Sifat-sifat kasih Allah apa yang bisa kamu teladani?

- Jika kamu telah kehilangan harapan atau menyerah pada seseorang, bagaimana kamu bisa menunjukkan kasih kepada orang itu hari ini?

Kasih tidak pernah menyerah.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Selasa, 16 Desember 2025

Kasihanilah kami, ya TUHAN, kasihanilah kami, sebab kami sudah cukup kenyang dengan penghinaan. — Mazmur 123:3

Cara berpikir kita, kekhawatiran akan dunia, dan keinginan membenarkan diri dapat menjadi musuh jiwa kita sendiri yang mengalihkan pikiran dan iman dari Tuhan.

Hal-Hal yang Mengalihkan Pikiran Kita dari Tuhan

Hal yang harus kita waspadai bukanlah mengenai rusaknya kepercayaan kepada Allah, tetapi rusaknya watak kekristenan atau cara berpikir kita. “Jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!” (Maleakhi 2:16). Cara berpikir kita mempunyai pengaruh yang luar biasa yang dapat menjadi musuh dan menyerang jiwa kita sendiri sehingga mengalihkan pikiran kita dari Allah. Ada beberapa sikap tertentu yang sekali-kali tidak boleh kita turuti. Jika kita menurutinya, hal-hal itu akan mengalihkan kita dari iman kepada Allah. Hingga kita kembali pada suasana hati yang tenang di hadapan Tuhan, iman kita tidak berarti, dan kita dikendalikan oleh keyakinan diri pada daging dan pada kepintaran manusiawi kita.

Berhati-hatilah terhadap “kekuatiran dunia ini ...” (Markus 4:19). Kekhawatiran akan dunia inilah yang menimbulkan sikap-sikap yang salah dalam jiwa kita. Sungguh luar biasa kekuatan yang ada pada hal-hal yang kecil dan sederhana untuk mengalihkan perhatian kita dari Allah. Janganlah kita dibanjiri dengan “kekuatiran dunia ini”.

Hal lain yang mengalihkan perhatian kita (dari Tuhan) adalah hasrat untuk membenarkan diri. St. Augustinus pernah berdoa, “Ya Tuhan, lepaskanlah aku dari nafsu untuk selalu membenarkan diri.” Keinginan untuk selalu membenarkan diri akan merusak iman kita kepada Tuhan. Jangan membiasakan berkata, “Aku harus menjelaskannya sendiri,” atau “Orang harus mengerti aku.” Allah kita tidak pernah menjelaskan apa-apa tentang diri-Nya -- Ia membiarkan orang-orang meluruskan kesalahpahaman dan miskonsepsi tentang diri-Nya.

Apabila kita mengetahui bahwa orang lain tidak bertumbuh secara rohani dan kita justru mengkritik mereka, kita telah menghalangi hubungan kita dengan Tuhan. Allah tidak pernah memberi kita ketajaman pengertian untuk membedakan (discernment) agar kita dapat mengkritik, tetapi agar kita dapat mendoakannya.

Sumber: Renungan Oswald Chambers

Senin, 15 Desember 2025

Perilaku Jahat Manusia pada Zaman Akhir

Bacaan Alkitab hari ini:
2 Timotius 3:1-9

Dalam bacaan Alkitab hari ini (3:1-5), Rasul Paulus mendaftarkan 19 perilaku jahat yang banyak dilakukan orang pada zaman akhir, yaitu mencintai diri sendiri, menjadi hamba uang, suka membual, menyombongkan diri, memfitnah, memberontak terhadap orang tua, tidak tahu berterima kasih, tidak peduli agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka berkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah, dan jauh dari Allah. Berdasarkan analisis dalam bahasa asli Perjanjian Baru, yaitu bahasa Yunani, daftar ini disusun berdasarkan struktur khiastik, yaitu kelompok paling awal berpasangan dengan kelompok paling akhir dan seterusnya secara berurutan, dan pusat dari daftar ini terletak di tengah, yaitu kata Yunani διαβολος—dibaca "diabolos"—dan diterjemahkan oleh LAI menjadi "suka menjelekkan orang". Sayangnya, struktur khiastik itu tidak terlihat dalam terjemahan bahasa Indonesia. Terjemahan literal untuk perilaku "suka menjelekkan orang" adalah "penuduh". Kata διαβολος terdapat 38 kali dalam Perjanjian Baru dan umumnya diterjemahkan sebagai "Iblis". Jadi, melalui daftar di atas, Rasul Paulus menunjukkan bahwa semua perilaku jahat—yang bertolak belakang dengan karakter Allah—berasal dari Iblis. Semua perilaku jahat ini biasa disebut sebagai perbuatan daging, yaitu perilaku yang bertentangan dengan buah Roh (lihat Galatia 5:19-23).

Daftar perilaku jahat yang disebut dalam bacaan Alkitab hari ini memiliki kemiripan dengan daftar yang ditulis oleh Rasul Paulus dalam Roma 1:29-31. Dalam Roma 1:32, Rasul Paulus mengatakan bahwa pelaku perilaku jahat di atas pantas diganjar dengan hukuman mati. Perlu diperhatikan bahwa dosa telah sedemikian merusak moral manusia, sehingga manusia berdosa bukan hanya melakukan perilaku jahat, tetapi juga setuju dengan orang yang melakukan perilaku yang sama. Sesudah kita percaya kepada Tuhan Yesus dan dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah, seharusnya cara pandang kita terhadap perilaku berdosa berubah. Umat Allah harus menjadi tiang penopang dan dasar kebenaran (1 Timotius 3:15). Kita tidak bisa diam saja saat melihat perilaku jahat terjadi di sekitar kita! Dengan menegakkan kebenaran, kita menjadi berkat bagi dunia ini.  

Apakah Anda sudah dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah yang menjauhkan diri dari perilaku jahat? 

Apakah Anda sudah mengalami perubahan perilaku dan menampilkan buah Roh dalam kehidupan Anda? [GI Michael Tanos]

Sumber: Renungan GKY

Minggu, 14 Desember 2025

Berdoa bagi yang Membangkitkan Amarah 

Bacaan: Ulangan 9:7-29 

Berhadapan dengan orang yang menjengkelkan, keras kepala, dan tidak tahu berterima kasih atas perjuangan orang lain, sering kali membangkitkan amarah. Itulah yang dirasakan TUHAN terhadap bangsa Israel. Sejak keluar dari Mesir hingga tiba di Horeb, mereka telah membangkitkan amarah TUHAN.

Musa naik ke gunung untuk menerima dua loh batu. TUHAN berfirman supaya Musa segera turun karena bangsa Israel cepat sekali menyimpang dari jalan yang diperintahkan TUHAN; mereka membuat patung tuangan. Sungguh mereka bangsa yang tegar tengkuk sehingga TUHAN ingin memunahkan dan menghapus nama mereka dari kolong langit (7-16). TUHAN yang begitu panjang sabar sampai sudah murka terhadap mereka.

Musa juga kecewa dan marah terhadap bangsa Israel sehingga ia memegang kedua loh itu kuat-kuat dan memecahkannya di depan mereka (17). Bukan hanya sekali, mereka berkali-kali membangkitkan amarah TUHAN. Di Tabera, di Masa, dan di Kibrot Ta'awa mereka membangkitkan amarah TUHAN. Ketika TUHAN menyuruh mereka pergi dari Kades-Barnea, mereka tidak percaya dan tidak mendengarkan suara-Nya (22, 23). Mereka sering kali menentang TUHAN.

Musa gentar karena murka dan kobaran amarah TUHAN yang ditimpakan kepada bangsa Israel. Oleh karena itu, ia sujud selama empat puluh hari empat puluh malam tanpa makan roti dan minum air, berdoa agar TUHAN tidak memunahkan mereka (18, 25-29). Dari doa Musa nyata integritas Musa. Ia tidak berorientasi kepada kefasikan dan keberdosaan orang lain. Bukan berarti Musa menoleransi keberdosaan mereka, justru Musa membakar dan menghancurkan hasil perbuatan dosa mereka.

Musa tetap berjuang dengan berpuasa dan berdoa supaya bangsa Israel tidak dipunahkan oleh TUHAN, sekalipun mereka juga sering membuatnya marah. Kefasikan dan keberdosaan mereka tidak mengubah integritas Musa. Seperti Musa yang berdoa bagi bangsa Israel, sudikah kita mendoakan orang yang selalu membangkitkan amarah kita? [MRG]

Sumber: Santapan Harian

Sabtu, 13 Desember 2025

Harta Kesayangan

Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya. –Yohanes 12:3

Ayat Bacaan & Wawasan :
Yohanes 12:1-8

Ayah saya pertama kali bertatapan dengan ibu saya dalam sebuah pesta di London. Setelah itu, ia menyelinap masuk ke pesta berikutnya, lalu mengadakan pesta yang lain, semuanya demi bertemu dengan ibu saya lagi. Akhirnya, ia berhasil mengajak Ibu pergi berjalan-jalan ke pedesaan, lalu menjemputnya dengan mobil Rover tua, harta milik yang paling disayanginya.

Ibu dan ayah saya kemudian menjadi sepasang kekasih, tetapi ada satu masalah. Ibu saya berencana pindah ke Peru untuk melayani sebagai misionaris. Ayah saya mengantarnya ke bandara, dan lima bulan kemudian menyusulnya ke Peru—dengan tujuan untuk melamar Ibu. Yang paling indah dari cerita ini? Ia menjual mobil Rover kesayangannya untuk membeli tiket pesawat tersebut.

Jika Anda bertanya kepada Maria, saudara Marta dan Lazarus, apa harta yang paling disayanginya, mungkin ia akan menunjukkan sebotol “minyak narwastu murni yang mahal harganya” (Yoh. 12:3). Bila Anda hadir pada perjamuan yang ia dan Marta adakan untuk Yesus (ay. 2), dan melihat ia mencurahkan isi botol tadi pada kaki-Nya, Anda dapat memahami sejauh mana Kristus berarti bagi Maria. Dia begitu berharga, begitu bernilai.

Bagi ibu saya, tindakan Ayah yang menjual mobilnya bukan hanya soal selembar tiket pesawat. Itu adalah bukti seberapa bernilai ibu saya baginya. Tindakan Maria juga mengandung makna yang lebih dalam—ia sedang mempersiapkan Yesus untuk penguburan-Nya (ay. 7). Seperti Maria, ketika kita mempersembahkan apa yang paling kita sayangi kepada Allah, kita turut ambil bagian dalam karya penebusan-Nya dengan meneladan pengorbanan-Nya yang besar bagi kita.

Oleh: Sheridan Voysey

Renungkan dan Doakan
Harta kesayangan apa yang rela Anda lepaskan demi Allah? Jika Anda di posisi Maria, bagaimana perasaan Anda mendengar Yesus menyingkapkan makna yang lebih dalam dari tindakannya?

Sumber: Renungan Our Daily Bread

Jumat, 12 Desember 2025

Diperdaya Keangkuhan Hati

Bacaan: OBAJA 1:1-9

"Keangkuhan hatimu telah memperdaya engkau, ya, engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?" (Obaja 1:3)

Kita biasa berbangga diri ketika melihat anak-anak kita berhasil dalam studi, ketika pasangan kita sukses dalam pekerjaan. Kebanggaan yang wajar, tetapi jika tak terkendali kebanggaan bisa membuat hati kita sombong lalu merendahkan orang lain. Kebanggaan diri seperti ini jelas sesuatu yang jahat karena kita merasa diri lebih baik atau lebih tinggi dari orang lain.

Bangsa Edom membanggakan dirinya dengan beberapa hal, antara lain merasa diri sebagai orang-orang yang bijaksana (ay. 8) dan menganggap dirinya kuat bak pahlawan (ay. 9). Kebanggaan diri itu berlanjut dengan merasa diri mereka telah menjadi bangsa yang kuat dan tidak dapat dikalahkan karena mereka tinggal di dataran tinggi atau daerah pegunungan (ay. 3-4). Mereka menyombongkan dirinya di hadapan Yehuda (sisa bangsa Israel yang masih berada di tanah milik pusaka mereka) saat Yehuda sedang mengalami kehancuran, bukan ketika Yehuda masih dalam keadaan yang aman (Ob 1:12-13). Kebanggaan demikian jelas tidak bisa ditolerir oleh Tuhan dan Edom akan direndahkan!

Godaan terbesar dalam hidup seseorang adalah ketika ia berada di tempat yang tinggi, terlindung, dan nyaman. Dari tempat yang tinggi, ia tergoda untuk melihat semua hal yang ada di bawahnya, tergoda merasa diri lebih kuat, dan tergoda untuk merendahkan orang lain. Ia tidak menyadari bahwa godaan itu akan membuatnya tergelincir dan jatuh. Bahkan teguran keras pun tidak mampu menyadarkannya dan ia tetap bersikeras berkata, "Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?" --SYS/www.renunganharian.net

BERHATI-HATILAH KETIKA KITA DIBAWA KE TEMPAT YANG TINGGI KARENA KITA AKAN DITURUNKAN SERENDAH-RENDAHNYA JIKA KITA TIDAK MENJAGA HATI.

Kamis, 11 Desember 2025

Bersyukur di Tengah Hari Buruk Penuh Ujian

Ayat Renungan: 2 Korintus 12: 9–10 – “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat."

Ada saat ketika kita melalui hari yang terasa kacau – mungkin janji yang tidak ditepati, perkataan orang melukai, hasil pekerjaan yang kacau balau. Lalu segalanya terasa di luar kendali kita. Sampai di akhir hari menjelang petang, rasa kesal dan marah masih tersisa. Kita mulai bertanya, “Kenapa sih hari ini harus sekacau ini?”

Namun ketika perasaan itu masih membayangi meski hari sudah berganti, kita diingatkan pada satu kebenaran yang melegakan: kita memang tidak bisa mengendalikan semuanya—dan itu tidak apa-apa. Justru di saat terlemah kita, Firman Tuhan mengingatkan bahwa “Kuasa Tuhan menjadi sempurna.” 

Paulus pun pernah mengalami hal serupa. Ia merasa lemah, terbatas, dan tertekan. Tetapi Tuhan berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” Tuhan tidak menuntut kita menjadi kuat dengan usaha sendiri; Dia mengundang kita bersandar pada kuasa-Nya. Karena saat kita berhenti memaksakan diri untuk mengatur segala sesuatu, kita akan menyadari bagaimana Tuhan menopang kita.

Kitab Pengkhotbah juga mengingatkan bahwa hidup memang penuh badai. Kita tidak diminta memahami semua hal atau memastikan segala sesuatu berjalan sempurna. Tetapi kita diminta menerima bagian hidup kita, mensyukuri apa yang Tuhan berikan, dan mempercayai bahwa kedaulatan-Nya mengatasi apa pun yang kita hadapi.

“…adalah baik bagi manusia untuk makan, minum, dan menikmati jerih payahnya… dan untuk menerima bagiannya dalam hidup itu.” (Pengkhotbah 5:18)

Di hari-hari yang buruk, Tuhan memanggil kita berhenti melawan kelemahan kita dan mulai bersandar pada kekuatan-Nya. Di saat kita merasa gagal, kasih karunia-Nya tetap cukup. Dan di tengah ujian yang melelahkan, selalu ada alasan untuk bersyukur: Tuhan tetap memegang hidup kita dengan setia.

Action Praktis:
Ambil 1-2 menit untuk berdiam dan mulai berdamai dengan keadaan dan diri Anda sendiri. Undang Roh Kudus untuk mengisi hati Anda dan melingkupinya dengan ketenangan.

Sumber: Jawaban.com

Rabu, 10 Desember 2025

Semua Menjadi Satu

Bacaan: Filipi 2:1-11

karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan - Filipi 2:2

Dalam kehidupan yang kita jalani pasti dipenuhi dengan relasi. Kita berelasi dengan keluarga, dengan teman, dengan jemaat gereja, bahkan berelasi dengan orang-orang yang tidak kita kenal, seperti saat berinteraksi dengan penjual di pasar, pengemudi ojol, dan sebagainya. Relasi yang dibangun bisa baik, tetapi bisa juga buruk.

Di dalam Surat Filipi, Rasul Paulus mengingatkan para jemaat untuk berelasi yang benar di dalam Kristus. Bagaimana relasi yang benar? Relasi yang bersatu. Kristus telah mempersatukan setiap pengikutnya (Yoh. 17:20-21). Karena itu, sebagai seorang pengikut Kristus, kita harus menunjukkan relasi yang bersatu dengan sesama pengikut Kristus baik dalam pikiran, kasih, dan tujuan (ay. 2). Kesatuan relasi ini seharusnya terjadi dalam hidup umat-Nya. Kesatuan relasi yang terbentuk bukan karena kecocokan secara karakter dan sifat, melainkan karena Kristus telah mempersatukan.

Untuk membangun relasi yang bersatu, diperlukan sikap rendah hati dan saling memperhatikan. Paulus menjelaskan dalam ayat 3-4, bahwa seorang pengikut Kristus harus memiliki kerendahan hati. Ia tidak lagi mencari kepentingan diri sendiri. Ketika berelasi ia bukan berfokus pada keinginan diri, melainkan melihat apa yang menjadi keinginan orang lain. Paulus mengingatkan agar seorang pengikut Kristus menganggap orang lain lebih utama. Ia akan memerhatikan orang lain, khususnya saudara-saudari seiman, tidak hanya memerhatikan diri sendiri. Seorang pengikut Kristus juga diharapkan mampu melihat dalam kasih, apa yang menjadi kepentingan dan kebutuhan orang-orang di sekitarnya.

Sikap rendah hati dan saling memerhatikan, menyatukan seluruh umat Allah. Mereka yang sungguh merendahkan hati dan saling memerhatikan satu sama lain, tentu akan menciptakan sebuah relasi komunitas bergereja yang bersatu. Hal ini terjadi karena tidak ada lagi keegoisan diri yang menghancurkan, melainkan kasih dari Kristus yang menyatukan. Kesatuan ini dilakukan agar nama Yesus Kristus semakin dimuliakan (ay. 10-11).

Yuk, sebagai umat Allah, kita memelihara sikap rendah hati dan saling memerhatikan. Tanggalkanlah keegoisan diri dan mulai memperhatikan kepentingan orang lain. Biarlah nama Kristus semakin dimuliakan melalui kesatuan yang terjadi dalam relasi yang dibangun. Bersama dengan Kristus, semua menjadi satu.

Refleksi Diri:
Apakah Anda sudah menghidupi sikap rendah hati dan memperhatikan sesama?

Apa yang bisa Anda lakukan untuk memperlihatkan sikap rendah hati dan memperhatikan sesama saudara-saudari seiman?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Selasa, 09 Desember 2025

Mengelola Stres dengan Mengetahui Siapa Diri Anda

Bacaan Hari ini:
Yohanes 5:30 "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku."

Yesus menjalani hidup-Nya di bawah tekanan yang konstan. Banyak orang selalu mengikuti-Nya—meminta kesembuhan, pengajaran, atau bahkan berusaha menjebak dan membunuh-Nya. Namun, jika kita membaca kisah hidup-Nya dalam Alkitab, kita akan melihat bahwa Ia tidak pernah tampak terganggu oleh semua itu. Ia bahkan tidak pernah terlihat terburu-buru. Ia menghadapi tekanan hidup dengan damai.

Saya ingin belajar bagaimana melakukan hal itu. Bukankah Anda juga demikian? Selama beberapa hari ke depan, kita akan mempelajari rahasia mengelola stres dari kehidupan Yesus. Jika Anda menerapkannya, stres Anda akan berkurang, dan sukacita serta rasa puas Anda akan meningkat.

Langkah pertama untuk mengurangi stres adalah mengetahui siapa diri Anda.
Jika Anda tidak tahu siapa Anda menurut rancangan Allah, maka keluarga, teman atau budaya di sekitar Anda akan mencoba membentuk Anda menjadi seseorang yang bukan diri Anda. Dan identitas yang bingung hanya akan menimbulkan stres.

Yesus tahu persis siapa diri-Nya. Ia menegaskan identitas-Nya berulang kali, dengan berkata:
"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup" (Yohanes 14:6),
"Akulah pintu" (Yohanes 10:9),
"Akulah roti hidup" (Yohanes 6:35).

Ketika Anda tidak tahu siapa diri Anda, Anda akan cenderung meniru dan membandingkan diri. Anda mencoba menjadi orang lain, atau merasa rendah diri karena mengukur diri terhadap orang lain.

Tetapi Allah menciptakan Anda menjadi diri Anda sendiri—dengan kelebihan dan kekurangan yang unik. Tidak ada orang lain di dunia ini yang persis seperti Anda. Sidik jari, jejak kaki, mata, dan suara Anda semuanya unik. Allah tidak pernah membuat duplikat. Anda adalah satu-satunya versi Anda yang ada di dunia.

Selain mengetahui siapa diri Anda, Anda juga perlu tahu untuk siapa Anda hidup. Ketika Anda tidak tahu untuk siapa Anda hidup, Anda akan mencoba menyenangkan semua orang. Dan hal itu menimbulkan stres besar, karena tidak mungkin menyenangkan semua orang!

Yesus tahu untuk siapa Ia hidup:
"Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku." (Yohanes 5:30)

Satu-satunya tanggung jawab Anda adalah melakukan apa yang Allah ciptakan untuk Anda lakukan. Apakah Anda ingin hidup seperti Yesus—dengan stres yang lebih sedikit dan damai yang lebih besar? Maka ketahuilah siapa Anda dan untuk siapa Anda hidup.

Renungkan :
- Pernahkah Anda membiarkan orang lain—keluarga, teman, atau budaya—menentukan siapa diri Anda? Apa hasilnya?
- Untuk siapa Anda hidup hari ini? Apakah cara itu membawa damai atau justru menambah beban?
- Siapa dalam hidup Anda yang tahu persis siapa dirinya dan untuk siapa ia hidup? Apa yang membuat kehidupan orang itu menarik bagi Anda?

Ketika Anda hidup hanya untuk menyenangkan satu Pribadi—Allah—hidup menjadi lebih sederhana dan stres Anda berkurang drastis.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Senin, 08 Desember 2025

Cara Utama Allah Berbicara kepada Anda

Bacaan Hari ini:
2 Timotius 3:16-17 "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."

Cara utama Allah berbicara adalah melalui Firman-Nya.

Banyak orang berharap Allah menuliskan di langit apa yang Ia ingin mereka lakukan. Tetapi Allah tidak akan menuliskan di langit sesuatu yang sudah Ia tuliskan dalam Kitab-Nya!

Segala sesuatu yang perlu Anda ketahui tentang Allah dan bagaimana menjalani hidup yang penuh tujuan serta makna sudah ada dalam Firman-Nya. Jika Anda tidak pernah membuka dan membaca Alkitab, maka Allah tidak banyak berbicara kepada Anda—dan Anda kehilangan banyak hal yang Allah ingin sampaikan.

Alkitab berkata dalam 2 Timotius 3:16-17: "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."

Allah memberikan Alkitab dengan empat tujuan: untuk mengajar, menolong, memperbaiki, dan menunjukkan cara hidup yang benar. Perhatikan bahwa ayat ini memakai kata "segala" dan"semuanya". Itu berarti seluruh isi Alkitab adalah Firman Allah dan semuanya berguna. Artinya, Alkitab 100 persen dapat dipercaya dan 100 persen praktis. Anda dapat menggunakannya untuk setiap aspek hidup Anda, sepanjang hidup Anda.

Memang ada bagian Alkitab yang sulit dipahami. Ada juga bagian yang perlu dipelajari lebih dalam dibandingkan bagian lain. Tetapi semuanya ada dengan tujuan: untuk menolong Anda.

Karena itu, penting sekali memiliki waktu teduh yang konsisten—di mana Anda meluangkan waktu bersama Allah dan mempelajari Alkitab setiap hari. Jika Anda baru memulai, cukup dengan 10 menit. Duduklah setiap hari selama 10 menit dan berikan perhatian penuh kepada Allah. Bacalah Alkitab dan dengarkan Dia berbicara. Bicaralah kepada-Nya dalam doa.

Mengapa hal ini begitu penting? Mazmur 119:105 berkata: "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku."

Alkitab itu bagaikan senter bagi hidup. Ia bukan cahaya sorot besar yang langsung memperlihatkan tiga tahun ke depan dari hidup Anda. Sebaliknya, Alkitab memberi cukup terang untuk langkah berikutnya, lalu Anda belajar mempercayai Allah untuk langkah-langkah selanjutnya.

Itulah yang disebut hidup dengan iman. Anda belajar melakukannya dengan mempelajari Firman Allah, menaati-Nya, dan menjalaninya hari demi hari.

Renungkan :
- Mengapa menurut Anda ada bagian dalam Alkitab yang mungkin tidak akan pernah sepenuhnya kita pahami?
- Apa yang Allah ingin Anda lakukan terhadap bagian-bagian Alkitab yang belum Anda mengerti?
- Dalam hal apa konsistensi dan disiplin membantu Anda bertumbuh secara rohani?

Kenalilah Allah lebih dalam dan biarkan Dia mengajar, menolong, memperbaiki, serta menunjukkan kepada Anda bagaimana hidup melalui Firman-Nya.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Minggu, 07 Desember 2025

Apakah Tuhan Peduli?

Bacaan: Matius 4:1-11

Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” - Matius 4:7

Saat menghadapi kesulitan-kesulitan hidup, seseorang bisa merasa Tuhan tidak peduli kepadanya. Ia kemudian ingin menguji Tuhan, “Kalau Tuhan sayang kepadaku, coba buktikan!” Sesungguhnya, ketika meminta pembuktian dari Tuhan, ia sedang tidak memercayai-Nya.

Iblis memakai cara serupa untuk menjatuhkan Yesus. Iblis tahu yang dihadapinya adalah Anak Allah. Ia melancarkan serangan kedua, yang tidak kalah menggoda dari serangan pertama. (ay. 5-6). Kali ini Iblis tampak rohani. Pertama-tama, ia membawa Yesus ke Kota Suci, kemudian menempatkan-Nya di bubungan bait Allah. Wah tampak rohani banget. Iblis lalu memakai ayat firman Tuhan, tepatnya Mazmur 91:11-12: sebab malaikat-mailakat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu, seakan-akan firman tersebut tidak benar sebelum dibuktikan. Bayangkan jika Yesus menjatuhkan diri dari tempat tinggi tersebut, lalu malaikat tiba-tiba datang menolong-Nya. Ini akan jadi pemandangan yang keren, bukan? Yesus seolah-olah mampu melawan gravitasi, orang-orang akan berdecak kagum kepada-Nya. Apalagi Yesus baru memulai karier pelayanan-Nya, bukankah dengan pertunjukkan spektakuler seperti ini orang banyak akan segera mengikuti-Nya tanpa ragu-ragu?

Namun, ini tidaklah benar karena seolah-olah Tuhan Yesus harus membuktikan diri kepada Iblis bahwa Dia adalah Tuhan. Lalu apa jawab Yesus dengan jebakan iblis ini? Dia kembali menjawab godaan Iblis dengan firman. Yesus berkata, “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (ay. 7). Yesus tidak perlu membuktikan kepada Iblis bahwa Allah Bapa akan menjaga-Nya. Dia tahu Bapa mengasihi-Nya seperti diri-Nya mengasihi Bapa. Firman Tuhan tidak boleh digunakan untuk mencobai Tuhan.

Di saat menghadapi kesulitan dan tantangan hidup, janganlah kita berkata, “Tuhan, ada tertulis di Matius 7:7-8: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapatkan; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena itu Tuhan, aku meminta uang 100 juta untuk memenuhi kebutuhanku. Jika benar Engkau berkuasa, buktikan besok uangnya ada!” Kita tidak perlu meminta bukti dari firman Tuhan atau bahwa Tuhan Yesus mengasihi kita karena semuanya sudah dibuktikan-Nya melalui pengorbanan di kayu salib. Jangan mencobai Tuhan, tetapi percayalah kepada-Nya.

Refleksi Diri:

Apakah Anda pernah meminta Tuhan untuk membuktikan kasih-Nya kepada Anda? Jika pernah, mengapa Anda melakukannya?

Apa dasar Anda tetap memercayai Tuhan Yesus saat menghadapi kesulitan-kesulitan hidup, tanpa menuntut Dia harus membuktikannya kepada Anda?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Sabtu, 06 Desember 2025

Belajar Bersyukur Seperti Orang Kusta

Ayat Renungan: Lukas 17: 14-15 – “Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.”

Bayangkan hari ini adalah hari terburuk dalam hidup Anda. Mungkin Anda sedang sakit parah, terlilit utang, atau merasa sangat kesepian. Lalu tiba-tiba, sebuah keajaiban terjadi! Masalah besar itu hilang, penyakit itu sembuh, atau ada seseorang datang membawa solusi yang Anda butuhkan. Apa reaksi pertama Anda?

Kisah 10 orang kusta yang disembuhkan Yesus di Lukas 17 adalah orang-orang buangan. Saat mereka berteriak minta tolong, Yesus menyembuhkan mereka. Mereka semua merasakan keajaiban yang sama. Tapi, hanya satu orang yang Kembali dan untuk berlutut dihadapan Yesus sembari mengucapkan terima kasih.

Dimana sembilan orang lainnya? Mereka mungkin terlalu gembira dan buru-buru pulang untuk menunjukkan mkjizat kesembuhan yang mereka alami. Dalam kondisi ini, mereka fokus pada berkat kesembuhan saja dan lupa dengan sumber "Pemberi Berkat" itu.

Tetapi satu orang kusta adalah sosok yang tidak lupa berterima kasih setelah mendapatkan berkat.

Pertama, dia melihat kebaikan Tuhan dalam hidupnya - bahwa dia telah disembuhkan.

Kedua, dia memilih kembali untuk berterima kasih. Karena dia mengakui kuasa kesembuhan berasal dari Yesus bukan dari dirinya sendiri. 

Ketiga, dia tidak hanya berterima kasih dalam hati, tapi ia menyatakan rasa syukurnya dengan suara nyaring, dengan kerendahan hati.

Yesus merindukan rasa syukur kita. Ia bertanya, "Di manakah yang sembilan orang lainnya?" Mereka mendapatkan kesembuhan fisik, tetapi orang yang kembali itu mendapatkan sesuatu yang lebih: keselamatan yang utuh. Bukan hanya sembuh secara fisik, tapi dipulihkan seutuhnya—jiwa dan imannya dikuatkan.

Rasa syukur mungkin tampak sederhana, tapi dampaknya besar. Saat kita belajar bersyukur, hati kita menjadi lebih tenang, iman kita tumbuh, dan kita makin dekat dengan Tuhan. Syukur membuat kita melihat hidup bukan dari apa yang kurang, tetapi dari apa yang telah Tuhan kerjakan.

Action Praktis:
Minggu ini adalah kesempatan bagi Anda untuk melatih diri untuk membangun kebiasaan mengucap syukur setiap hari. Pagi ini, mari fokus mengucap syukur atas apa yang ada di dalam diri Anda dan juga di luar diri Anda. 

Sumber: Jawaban.com

Jumat, 05 Desember 2025

Oskar Schindler: Penyelamat di Tengah Kegelapan

Oskar Schindler adalah seorang pengusaha asal Jerman yang hidup pada masa Perang Dunia II. Awalnya, ia hanyalah pebisnis biasa yang mencari keuntungan di tengah kekacauan perang. Ia membuka pabrik enamel di Polandia dan mempekerjakan banyak orang Yahudi karena upah mereka lebih murah. Namun seiring waktu, Schindler mulai melihat kekejaman yang terjadi di sekelilingnya. Ia menyaksikan bagaimana orang-orang Yahudi diburu, dipisahkan dari keluarga mereka, dan dibunuh tanpa belas kasihan.

Perlahan hatinya berubah. Dari seorang pengusaha oportunis, Schindler menjadi sosok yang berani menentang sistem demi menyelamatkan nyawa. Ia mulai menggunakan hartanya untuk menyuap pejabat Nazi, memalsukan dokumen, dan bahkan membangun daftar pekerja yang disebut "Schindler's List" -- daftar orang Yahudi yang diselamatkannya dari kamp kematian.

Tindakan itu berisiko besar. Jika ketahuan, ia bisa dieksekusi di tempat. Namun ia terus melakukannya, mengorbankan kekayaannya demi melindungi lebih dari seribu orang Yahudi. Setelah perang berakhir, ia kehilangan segalanya: kekayaan, posisi, dan statusnya, tetapi ia meninggalkan warisan kemanusiaan yang abadi.

Oskar Schindler menunjukkan bahwa satu orang dengan hati nurani yang berani dapat membuat perbedaan besar di tengah dunia yang gelap. Keberaniannya lahir bukan dari kekuatan fisik, tetapi dari kasih dan kemanusiaan yang tumbuh dalam dirinya. Hingga kini, banyak keturunan dari orang-orang yang diselamatkannya masih hidup dan mengenang kebaikan hatinya.

Oskar Schindler tidak memulai hidupnya sebagai pahlawan. Ia hanya seorang pebisnis biasa yang semula mementingkan keuntungan. Namun ketika ia melihat penderitaan di sekelilingnya, sesuatu di dalam hatinya berubah. Ia memilih jalan yang berisiko demi menyelamatkan orang lain. Schindler tidak berkhotbah di mimbar, tetapi tindakannya berbicara lebih keras daripada kata-kata. Ia menunjukkan bahwa kasih sejati menuntut keberanian untuk bertindak ketika kejahatan berkuasa.

Sebagai orang percaya, kita juga hidup di dunia yang sering kali penuh ketidakadilan dan kegelapan. Mungkin kita tidak menghadapi situasi ekstrem seperti Schindler, tetapi setiap hari kita diberi kesempatan untuk menjadi terang dengan menolong mereka yang tertindas, bersuara bagi yang tidak bisa bersuara, dan menabur kebaikan di tengah dunia yang dingin.

Kasih Kristus seharusnya tidak berhenti di hati, tetapi mengalir melalui perbuatan. Tuhan memanggil setiap orang percaya untuk menjadi saluran kasih-Nya, bukan hanya melalui kata-kata, melainkan lewat tindakan nyata.

Kita mungkin tidak bisa menyelamatkan seribu orang seperti Schindler, tetapi kita bisa menjadi "penyelamat" bagi orang di sekitar kita dengan kasih, perhatian, dan keberanian untuk melakukan yang benar meskipun sulit.

"Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16)

Sumber: Renungan dan Ilustrasi Kristen

Kamis, 04 Desember 2025

Jangan Ambil Sekalipun Mampu 

Bacaan: Ulangan 2:1-25 

Seorang pelajar ditangkap yang berwajib setelah meretas peladen (server) sebuah agen perjalanan untuk mendapat tiket gratis. Saat ditanya, mengapa ia melakukan kejahatan itu, jawabnya, "Karena saya mampu."

Dua hal menarik kita temukan dalam perikop hari ini. Pertama, keberadaan para raksasa yang dahulu mendiami daerah-daerah perlintasan bangsa Israel. Orang Emim (10), Hori (12), Zamzumim (20), dan Awi (23) adalah bagian dari ras raksasa. Dikatakan bahwa TUHAN telah memunahkan mereka. Kedua, TUHAN melarang bangsa Israel menduduki daerah-daerah di sepanjang perjalanan mereka. Ia telah mengalokasikan daerah daerah itu bagi suku-suku Kanaan (5b, 9b, 19b). Namun, TUHAN menyerahkan negeri orang Amori yang di sebelah timur Sungai Yordan.

TUHANlah yang empunya segala suku dan bangsa di muka bumi. Ia memberi tanah warisan kepada semua anak-Nya. Setiap bangsa memiliki kaveling masing-masing. Kepada mereka Ia berpesan, "Jangan mengingini rumah sesamamu" (Kel 20:17).

Namun, umat manusia telah dikuasai oleh natur dosa. Maka, TUHAN senantiasa mengawasi kelakuan mereka. Ras atau suku yang jahat Ia hukum. Orang fasik yang melampaui batas kesabaran-Nya, Ia lenyapkan. Itu sebabnya, ras raksasa dan suku Amori harus dibinasakan. Kejahatan mereka telah genap di mata TUHAN (bdk. Kej 15:16).

Perintah "Jangan mengingini" mudah dilakukan bila kita tidak memiliki kuasa untuk merampas atau mengambil. Ceritanya akan berbeda jika kita memiliki kuasa untuk merampas atau mengambil milik orang lain. Maka, yang tersisa adalah kemauan untuk taat kepada Taurat.

Tanyakanlah di dalam hati kita, "Pernahkah saya memakai jabatan atau kuasa saya untuk mengambil hak orang lain?" Atau, "Pernahkah saya membeli sesuatu hanya untuk memiliki apa yang dimiliki oleh tetangga saya?" Jika jawabannya iya, mintalah ampun kepada Tuhan. Lalu, belajarlah mensyukuri jabatan atau harta yang kita miliki. Jadilah raksasa-raksasa iman pada zaman ini! [PHM]

Sumber: Santapan Harian

Rabu, 03 Desember 2025

Bersukacita atas Cara Tuhan Mengasihi Setiap Orang

Ayat Renungan: Mazmur 145: 8-9 - “TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya."

Apakah Anda merasakan kasih Tuhan hari ini? Bagaimana Anda meresponi kasih yang Ia berikan atas hidup Anda? 

Di dalam Mazmur 145: 8-9 Daud menyanyikan Mazmur kepada Tuhan dengan frasa, “TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.” 

Tahukah Anda bahwa ini adalah frasa yang diungkapkan sebanyak delapan kali di dalam Alkitab, dan menariknya ini adalah semacam kutipan hafalan bagi orang Yahudi di masa itu. Biasanya mereka akan melafalkannya sebanyak dua kali sehari yaitu di pagi dan malam hari. Jadi, Daud juga menghidupi ibadahnya dengan mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan dengan nyanyian sukacita. 

Bagaimana kita bisa menghidupi sukacita dan rasa syukur seperti Daud ini setiap hari? Mulai dengan tiga hal praktis ini setiap hari:

Pertama, melihat kasih Tuhan melalui hal-hal sederhana. Kasih Tuhan tampak bukan hanya dalam mukjizat besar, tetapi juga dalam hal sederhana—nafas pagi, rezeki cukup, dukungan orang terkasih, dan kekuatan menjalani hari. Sukacita muncul saat kita sadar bahwa kebaikan Tuhan hadir di setiap detail hidup.

Kedua, mengakui kasih Tuhan di tengah kegagalan kita. Tuhan panjang sabar terhadap kita yang sering gagal dan merasa tak layak. Saat kita berhenti menghukum diri sendiri dan menerima pengampunan-Nya, hati kita dipenuhi sukacita yang membebaskan dari rasa bersalah.

Ketiga, membagikan kasih kepada semua orang. Karena Tuhan baik kepada semua orang, sukacita kita tak boleh eksklusif. Bersukacita berarti juga mencerminkan kasih dan belas kasihan itu kepada siapa pun—termasuk yang berbeda atau sulit dikasihi—karena kasih-Nya cukup untuk semua.

Saudara, mari ambil beberapa menit dan mulai mengarahkan hati Anda kepada Tuhan. Lalu ucapkan doa ini:

"Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau selalu berjalan di dunia ini bersama kami. Terima kasih karena Engkau mengasihi kami dengan cara yang melampaui yang kami pahami dan Engkau akan selalu ada di setiap situasi dan kondisi.

Pagi ini, aku mau menyanyikan pujian bagi nama-Mu dengan penuh sukacita karena kasih dan kebaikanMu yang tak pernah berubah. Amin"

Hidup Anda berharga, dan Tuhan tidak pernah melepaskan tangan-Nya dari Anda. Hari ini adalah kesempatan baru untuk membuka hati dan membiarkan kasih-Nya memulihkan setiap luka. 

Sumber: Jawaban.com

Selasa, 02 Desember 2025

Haus Penerimaan

Bacaan: Galatia 2:11-14

Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus - Galatia 1:10

Sen Sendjaya dalam bukunya Leadership Reformed mengatakan, “Kita mungkin berusaha hidup untuk mencari persetujuan dari Allah, setidaknya secara teori, tetapi kenyataannya, kita hidup untuk mencari persetujuan dari orang lain.” Orang Kristen masa kini bisa terjatuh pada hal serupa, lebih mementingkan penilaian orang lain ketimbang kebenaran Injil. Mana pemikiran yang lebih sering membuat kita gelisah? Bagaimana kalau orang-orang tidak menyukai saya? Kenapa saya tidak dipuji atas kinerja saya? Jangan sampai saya ditolak dari lingkungan saya atau apakah tindakan saya sudah sesuai dengan kebenaran Injil atau tidak? Harus diakui, terkadang kita tergoda untuk mendapatkan penerimaan orang lain. Penerimaan lebih penting buat kita dibandingkan berdiri dalam kebenaran Injil dengan berbagai risikonya.

Rasul Paulus menunjukkan kepada jemaat Galatia, bahwa Petrus (atau Kefas) pun pernah melakukan hal yang serupa. Pada awalnya Petrus menikmati persekutuan dengan orang-orang Kristen non-Yahudi, tetapi setelah orang-orang Kristen Yahudi datang, ia menjauhi mereka. Mungkin Petrus takut dianggap kurang Yahudi, meskipun kita tidak menemukan penjelasan alasan takutnya. Namun, yang pasti Petrus lebih memikirkan kepentingan orang lain daripada kebenaran Injil. Paulus bukan berarti tidak pernah memikirkan penilaian orang lain. Ia sering memikirkan penilaian orang lain, tetapi selalu berhubungan dengan bagaimana Injil dapat didengar oleh mereka.

Kabar baiknya adalah kita telah mendapatkan penerimaan sepenuhnya di hadapan Bapa karena Tuhan Yesus Kristus. Hal yang tadinya mustahil didapatkan sekarang kita dapatkan, yaitu penerimaan Allah. Bersyukur kita telah diterima karena pengorbanan Yesus yang membuat kita layak di mata Allah. Kita tidak perlu membuktikan diri untuk mendapatkan penerimaan orang lain. Kita tidak lagi fokus kepada diri sendiri, melainkan fokus hanya kepada Kristus. Sekarang giliran kita apakah, “kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Jadilah, murid Kristus yang setia, yang selalu melihat kehidupan dari sisi kebenaran Injil.

Refleksi Diri:

Apakah Anda sering mengorbankan kebenaran Injil demi mendapatkan penerimaan orang lain?

Apa yang diperlukan supaya Anda tidak sibuk mencari penerimaan orang lain?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Senin, 01 Desember 2025

Jangan Remehkan Rutinitas 

Bacaan: Bilangan 33 

Kita tentu berharap kita dapat melakukan hal-hal yang hebat. Akan tetapi, kita perlu menyadari bahwa mayoritas aktivitas dalam kehidupan kita adalah aktivitas biasa, yang rutin, dan hanya sedikit aktivitas yang hebat seperti yang terlihat dalam nas hari ini.

Nas hari ini memberi kita tempat-tempat persinggahan orang Israel selama 40 tahun di padang gurun. Ketika kita membaca nama-nama tempat persinggahan ini, sedikit sekali nama-nama yang kita kenal atau ingat karena kebanyakan nama nama tersebut tidak ada catatan khususnya. Tempat-tempat yang tertulis itu mengingatkan umat akan perbuatan Allah yang ajaib.

Ramses (3) adalah tempat Israel keluar dari Mesir dengan kemenangan (bdk. Kel 12:37). Pi-Hahirot adalah tempat Allah membelah Laut Teberau (8). Elim adalah tempat di mana terdapat dua belas mata air dan tujuh puluh pohon kurma (9; lih. Kel 15:27). Kemudian, ada tempat-tempat yang mengingatkan kita akan dosa Israel, seperti Mara (8; bdk. Kel 15:23-24), Padang Gurun Sin (11; bdk. Kel 16:1-3), dan Kibrot-Taawa (16, bdk. Bil 11:34). Memang, ada tempat persinggahan yang kita tidak ingat, namun semua tempat itu penting karena TUHAN yang menitahkan supaya tempat tempat tersebut dicatat (2).

Kenyataan bahwa bukan hanya tempat-tempat istimewa, melainkan juga tempat-tempat biasa pun dicatat, menunjukkan pentingnya tempat-tempat persinggahan dalam perjalanan Israel sebelum mereka tiba di Kanaan. Allah hadir di setiap tempat itu memproses umat!

Begitu pula dalam hidup kita saat ini. Ingatan akan tempat berkait dengan peristiwa, baik besar maupun kecil. Peristiwa kecil sering kali terjadi secara rutin dalam kehidupan kita. Kadang membosankan, tetapi semua itu adalah bagian dari perjalanan hidup kita. Allah memakainya untuk memproses dan membentuk kita sebelum memasuki tujuan akhir kita di langit baru dan bumi baru.

Mari kita belajar untuk juga menghargai tempat dan peristiwa kecil yang biasa mengisi rutinitas kehidupan kita. Semua yang terjadi di dalam hidup kita adalah penting karena semuanya dipakai Allah untuk memproses kita! [INT]

Sumber: Santapan Harian