Minggu, 28 Februari 2021

SEDIKIT DEMI SEDIKIT

NATS: Akulah Tuhan, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus (Imamat 11:44)

"Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." Adakah perintah lain yang lebih sulit untuk ditaati dibanding ayat ini? Mungkin tidak, namun ini merupakan Firman Allah (Imamat 11:44; 1 Petrus 1:16).

Bagaimana mungkin kita dapat menjadi sekudus Allah? Apalagi alasan pertama kita percaya Yesus adalah karena kita tidak kudus. Roma 3:23 berbunyi, "Semua orang telah berbuat dosa." Bahkan setelah kita percaya kepada Kristus yang menyediakan jalan keselamatan, mungkinkah kita berpikir untuk menjadi sekudus Allah?

Tantangan untuk mencoba menyamai Allah dalam hal kekudusan mungkin akan sangat sulit dipenuhi. Namun apabila kita berserah kepada Roh Kudus yang tinggal di dalam diri kita dan senantiasa memberi teguran kepada kita, maka iman kita akan bertumbuh.

Cepat bertindak setiap kali muncul suatu masalah akan membantu Anda. Sebagai contoh, adakah perbuatan, perkataan, atau pikiran Anda yang tidak mencerminkan kekudusan Allah? Mungkin Anda telah memperlakukan orang lain dengan kasar. Atau, Anda sedang menutup-nutupi sebuah dosa. Bereskan hal itu hari ini juga. Ceritakan masalah itu kepada Allah.. Mintalah pengampunan-Nya. Kemudian, cobalah untuk mengatasinya dengan kekuatan dari Allah.

Atau renungkanlah: Apa yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan persekutuan dengan Allah? Semakin banyak waktu yang Anda habiskan bersama-Nya, Anda akan semakin menyerupai Dia.

Sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah, singkirkanlah setiap perilaku tidak kudus dari hidup Anda. Dan, berusahalah untuk semakin dekat dengan Allah setiap hari. Sebagai orang percaya dalam Yesus Kristus, tidak ada tantangan yang lebih besar dari hal ini -JDB

AGAR HIDUP SERUPA DENGAN KRISTUS TETAPLAH MELANGKAH BERSAMA-NYA

Sumber: Renungan Harian

#Bacaan hari ini Wahyu pasal 2#

Sabtu, 27 Februari 2021

SIAPA YANG LEBIH PENTING

NATS: Jadilah seorang yang penyayang dan rendah hati (1Petrus 3:8)

Mengapa kadang-kadang kita mampu bersikap rendah hati namun pada kesempatan lain tidak? Kebaikan yang keluar dari dalam hati adalah suatu sikap rendah hati, sebaliknya egoisme adalah akar dari sikap yang kasar.

Saya teringat pernah membaca sebuah kisah tentang seorang laki-laki berpakaian sederhana yang memasuki gereja di Belanda untuk menghadiri kebaktian dan mengambil tempat duduk di kursi depan. Beberapa menit kemudian, masuk seorang wanita yang setelah melihat kursinya telah ditempati orang asing ini, segera dengan kasar menyuruhnya pindah. Dengan tenang laki-laki itu pindah ke bagian kursi cadangan yang diperuntukkan bagi orang miskin.

Setelah kebaktian usai, seorang sahabat dari wanita itu bertanya kepadanya apakah ia mengenali laki-laki yang telah diusirnya. "Tidak," jawab wanita itu. Kemudian sahabatnya itu memberitahu, "laki-laki yang telah kau usir tadi adalah Raja Oscar dari Swedia! Ia berada di sini untuk mengunjungi Sri Ratu."

Wanita itu menjadi sangat malu dan berharap dapat menunjukkan kerendahan hatinya dengan memberikan kursinya kepada raja. Namun, semua itu telah terlambat. Laki-laki itu telah pergi.

Sebagian dari kita mengalami kesulitan untuk menjadi seorang yang memiliki sikap rendah hati, baik saat mengendarai mobil, berdesak-desakan dalam keramaian toko, bersaing mendapatkan tempat duduk dalam suatu pertandingan olah raga atau bahkan dalam gereja. Kadang-kadang hal ini merupakan suatu masalah yang berat, namun kerendahan hati harus tetap menjadi suatu tanda yang dimiliki oleh setiap orang Kristen. -- HGB

JIKA ANDA TIDAK MENJADI ORANG YANG SANGAT BAIK HATI ANDA BUKANLAH ORANG YANG SANGAT SALEH

Sumber: Renungan Harian

#Hari ini kita akan mulai membaca kitab Wahyu#

Jumat, 26 Februari 2021

Skala Stres Holmes dan Rahe

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! (Mazmur 43:5)

Tahukah Anda bahwa tingkat stres manusia ternyata ada skalanya? Menurut acuan Skala Stres Holmes dan Rahe, kematian pasangan menempati angka tertinggi, yakni 100, terhadap stres yang dialami oleh seseorang. Sementara, perceraian, kematian keluarga dekat, dan pemecatan (PHK) mendapat nilai masing-masing 73, 63, dan 47. Dalam waktu berdekatan, ambang batas maksimal jiwa seseorang dinilai masih mampu menangani stres sampai angka 300. Skala stres 300 disebut dapat berisiko tinggi membuat seseorang sakit, bahkan mengalami goncangan jiwa.

Daud juga pernah mengalami tekanan dalam hidupnya. Kejaran orang-orang yang tidak menyukai hingga kejaran para musuh membuat jiwanya tertekan dan gelisah. Namun, Daud tidak mengizinkan jiwanya mengalami tekanan dan gelisah terus-menerus. Ia memahami bahwa Allah ada di pihaknya, yang akan menolong dan melepaskan dirinya dari setiap kesesakan yang mengimpit jiwanya. Suatu kunci ketenangan jiwa yang juga dapat kita alami, karena Allah, Sang Pemberi Damai Sejahtera itu ada dalam hidup kita. Meski kita juga perlu belajar mengelola stres dan sedapat mungkin menghindari penyebab stres.

Namun, kita menyadari bahwa tak mungkin kehidupan ini sepenuhnya berlangsung tanpa ada tekanan, masalah, atau pergumulan hidup. Tindakan pencegahan mungkin sudah kita lakukan, tetapi tetap jiwa kita dapat mengalami tekanan karena masalah kehidupan. Namun setidaknya, hari ini kita mengerti cara merespons stres dengan tepat, yakni datang kepada Allah dan berharap akan pertolongan-Nya. --GHJ/www.renunganharian.net

KETIKA TEKANAN MELANDA JIWA, HANYA ALLAH YANG DAPAT MEMBERI KELEGAAN.

Sumber: Renungan Harian

#Hari ini kita membaca surat Yudas yang hanya terdiri dari 1 pasal#

Kamis, 25 Februari 2021

Anak Kecil Berdoa

"Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang." (Matius 6:5)

Seorang anak kecil tersesat di hutan. Ketika seorang pemburu menemukannya, anak itu tampak sedang berdoa.

Sambil memeluk anak itu si pemburu berkata, "Jangan takut. Nak, saya akan mengantarmu pulang dengan selamat."

Anak itu menjawab, "Saya tidak takut kok, Pak. Saya tahu Tuhan akan mengirimkan seseorang untuk menolong saya."

Pemburu itu heran. "Dari mana kamu tahu? Tadi waktu tiba di sini, saya mendengar kamu berdoa tetapi hanya menyebutkan huruf A-B-C-D-E-F-G. Apa maksudnya?" tanyanya.

"Saya tidak tahu harus berdoa bagaimana, Pak. Jadi, saya sebutkan saja semua huruf; dari A sampai Z. Terserah Tuhan menyusunkan huruf-huruf itu menjadi doa untuk saya. Tuhan tahu yang terbaik, " jawab anak itu polos.

Doa bukan sekadar kata-kata, tetapi menyangkut hati. Kata-kata doa yang bagus, teruntai indah, tidak akan berarti apa-apa jika tidak keluar dari hati. Hanya di mulut. Doa seperti itu ibarat buah-buahan plastik: bagus kulitnya, indah bentuknya, menyerupai bentuk aslinya, tetapi kosong isinya.

Sebaliknya doa dengan kata-kata sederhana, yang menurut standar manusia tidak bagus, tetapi keluar dari hati yang tulus, akan besar sekali artinya.

Doa yang tidak keluar dari hati adalah doa yang munafik. Berdoa bukan untuk menjalin hubungan dan komunikasi dengan Tuhan, melainkan untuk pamer diri dan mendapat pujian manusia. Tuhan tidak berkenan dengan doa semacam ini.

Baiklah kita ingat, bahwa kita berdoa kepada Tuhan, bukan manusia. Sehingga kita akan selalu berpatokan pada standar Allah, bukan standar manusia.

Sumber: Renungan Kristen

#Hari ini kita akan membaca 3 Yohanes. Dan surat Yohanes yang ketiga ini juga hanya terdiri dari 1 pasal#

Rabu, 24 Februari 2021

APA YANG SAYA KUATIRKAN?

NATS: Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya? (Lukas 12:25)

Hans Christian Andersen, pengarang dongeng terkenal seperti "The Emperor's New Clothes" (Baju Baru sang Kaisar), mengalami fobia bahwa dirinya akan terkubur hidup-hidup. Sebab itu, ia selalu membawa sebuah memo di sakunya yang bertuliskan bahwa jika seseorang menemukannya dalam keadaan tak sadarkan diri, jangan sampai ia dianggap sudah mati. Sering kali ia juga meninggalkan catatan di atas meja di samping tempat tidurnya yang berbunyi, "Saya hanya kelihatannya saja sudah mati." Itulah kecemasan yang selalu dialaminya sampai akhirnya ia meninggal karena kanker pada tahun 1875.

Kita mungkin berpikir bahwa ketakutan seperti itu aneh, tetapi mungkin kita juga memiliki ketakutan yang pada suatu saat nanti akan terlihat aneh seperti itu? Mungkinkah suatu hari kelak kita akan terheran-heran dengan kecemasan kita sendiri di masa lalu? Mungkinkah suatu hari nanti kita terheran-heran dengan kebodohan kita yang tidak mau berdoa dan tetap merasa kuatir? Mungkinkah kelak kita menjadi orang yang patut dikasihani, yang selalu terganggu oleh ketakutan karena tidak menghadapi hidup dengan akal sehat yang dikaruniakan Tuhan semesta alam?

Kekuatiran tidak mengubah apa pun. Sebaliknya, kepercayaan kepada Tuhan mengubah seluruh cara pandang kita terhadap kehidupan.

Ampunilah kami, ya Allah, karena kecenderungan kami untuk kuatir. Tolonglah kami untuk menyadari betapa bodohnya kami bila kuatir akan hal-hal yang sebenarnya pasti akan Engkau penuhi sesuai janji-Mu. Jangan biarkan kami mengubur diri hidup-hidup dengan ketakutan -MRDII

BILA KITA MEMPERCAYAKAN KESULITAN KITA KE DALAM TANGAN ALLAH, DIA AKAN MEMBERI DAMAI-NYA DALAM HATI KITA

Sumber: Renungan Harian

#Hari ini kita akan membaca 2 Yohanes. Surat Yohanes yang kedua ini hanya terdiri dari 1 pasal#

Selasa, 23 Februari 2021

Kecewa Memperhatikan yang Kelihatan

"Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." (2 Korintus 4:18)

Sebagai manusia, punya rasa kecewa adalah hal yang sangat wajar. Namun kita tidak boleh membiarkan hal itu berlarut-larut menguasai hati dan pikiran kita, karena kehidupan yang dikendalikan oleh kekecewaan akan melahirkan hal-hal negatif, salah satunya adalah tawar hati.

Situasi ini pun akan dimanfaatkan oleh Iblis, karena Iblis paling suka melihat orang Kristen kecewa dan tawar hati. Tertulis: "Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu." (Amsal 24:10), sehingga Iblis akan semakin mudah menghasut dan mempengaruhi kita dengan tipu muslihatnya yang licik. "Lihat itu... orang yang tidak beribadah kepada Tuhan dan tidak setia melayani, hidupnya berkelimpahan! Sementara kamu yang sudah rajin beribadah, berdoa dan mengikut Tuhan dengan setia cuma bisa gigit jari. Rugi kamu!" Daud mengingatkan, "Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang;" (Mazmur 37:1-2).

Di masa-masa sulit seperti sekarang ini Iblis ingin sekali membuat kita hanya mengutamakan dan meperhatikan hal-hal yang lahiriah atau tampak secara kasat mata, padahal kita sendiri tahu bahwa yang kelihatan itu sifatnya hanya sementara, dan selalu berakhir dengan kekecewaan. Tetapi kita tetap saja termakan dan terprovokasi oleh hasutan si Iblis.

Sungguh, apa yang tampak mata seringkali membuat kita kecewa dan tawar hati. Supaya kita tidak mudah kecewa jangan sekali-kali berharap dan mengandalkan manusia. Sebaliknya andalkan Tuhan dalam segala perkara dan tetap nanti-nantikan Dia, sebab "...semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu;" (Mazmur 25:3).

Kita tidak akan mudah kecewa bila kita hidup karena percaya, bukan karena melihat!

Sumber: Renungan Kristen

#Bacaan hari ini 1 Yohanes pasal 5 dan ini adalah pasal terakhir dari surat Yohanes yang pertama#

Senin, 22 Februari 2021

SATU HARI SETIAP KALI

NATS: Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. (Matius 6:34)

Mungkin Anda pernah melihat ungkapan SATU HARI SETIAP KALI pada stiker yang ditempel di bemper mobil, hiasan dinding, atau magnit di pintu kulkas. Slogan tersebut sering digunakan para pecandu alkohol yang telah sembuh sebagai peringatan bahwa mereka bukannya tidak boleh mabuk untuk selamanya-tetapi cukuplah untuk hari ini. Satu bulan, atau bahkan satu minggu tanpa alkohol mungkin tampak mustahil bagi mereka. Namun kunci keberhasilannya adalah kepercayaan bahwa Allah akan memberi mereka kekuatan untuk berkata, "Aku tidak akan minum hari ini."

Pelajaran "satu hari setiap kali" terangkai dalam lembaran-lembaran Kitab Suci. Allah memberi bangsa Israel manna setiap hari (Keluaran 16:4). Rahmat Bapa kita di surga selalu baru tiap pagi (Ratapan 3:22-23). Yesus mengajar pengikut-pengikut-Nya untuk meminta "makanan yang secukupnya setiap hari" (Matius 6:11) dan untuk tidak kuatir akan hari esok (ayat 34). Pelajaran ini memang tampak sulit bagi kita, namun merupakan kunci bagi berlangsungnya kehidupan dan kedamaian.

Ketika kita menghadapi suatu keadaan yang tampak mengecewakan, kita mungkin akan berputus asa, dan ragu apakah kita akan mampu menanggungnya hingga akhir. Namun Firman Allah yang berbicara tentang penghiburan dan dorongan mengingatkan kita bahwa "hari demi hari Dia menanggung bagi kita" (Mazmur 68:20).

Makanan untuk setiap hari. Terang untuk setiap hari. Kekuatan juga untuk setiap hari. Ketika esok tampak terlalu panjang untuk dijalani, Allah meminta kita untuk mempercayai-Nya -- satu hari setiap kali --DCM1

ALLAH TIDAK MEMINTA KITA MENANGGUNG BEBAN HARI ESOK DENGAN KEKUATAN HARI INI

Sumber: Renungan Harian

#Bacaan hari ini 1 Yohanes pasal 4#

Minggu, 21 Februari 2021

Berdiam Diri

Mazmur 46:2 Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. 

Harry Weiss yang telah mengubah namanya menjadi Houdini, adalah seorang pesulap yang ahli meloloskan diri dari berbagai perangkap: tali, pintu sel, borgol, dan sebagainya.

Namun, suatu kali saat berada di penjara kecil bernama British Isles, ia kesulitan mengutak-ngatik kunci sel tersebut. Biasanya, dalam tiga puluh detik ia dapat membuka kunci sel, tetapi kali ini tidak.

Ia pun lelah, frustrasi, dan putus asa. Maka, ia tak lagi berbuat apa-apa. Ia terdiam, lalu menyandarkan diri ke pintu.

Anehnya, pintu itu segera terbuka sebab ternyata tidak terkunci! Ketika berdiam diri, ia justru menemukan penyelesaian masalahnya.

Ini mungkin peristiwa langka. Namun, ia mengingatkan kita bahwa dalam hidup yang penuh masalah ini, kita perlu punya waktu-waktu khusus untuk berdiam diri, khususnya di kaki Tuhan. Berdiam diri membuat pikiran kita tenang, emosi kita terkendali, dan kita mendapat hikmat Tuhan untuk mengatasi masalah.

Sayangnya, kerap kali kita tidak berdiam diri di kaki Tuhan saat masalah datang. Kita malah memikirkan sendiri masalah yang sedang kita hadapi, dan sibuk mencari cara untuk mengatasinya. Hasilnya, kita frustrasi dan putus asa.

Jadi, mengapa kita tidak mencoba menyerahkan semuanya kepada Tuhan? Ketika melakukannya, pemazmur mengalami bagaimana Tuhan bertindak. Dan, ia bersaksi bahwa Allah itu "...tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:2).

Jalan keluar serta jawabannya barangkali di luar dugaan kita, bahkan sangat berbeda dengan cara-cara yang sudah kita bayangkan. Jika Dia terbukti dapat selalu menolong, mengapa kita menunda untuk duduk diam di kaki-Nya?

Sumber: Renungan Kristen

#Bacaan hari ini 1 Yohanes pasal 3#

Sabtu, 20 Februari 2021

KESIMPULAN YANG SALAH

NATS: Yusuf tidak ada lagi, dan Simeon tidak ada lagi.... Aku inilah yang menanggung segala-galanya itu! (Kejadian 42:36)

Yakub yang malang. Ia mengira ia tak akan pernah lagi melihat dua orang anaknya dan bahkan mungkin akan kehilangan seorang lagi. Ia menangis, "Aku inilah yang menanggung segala-galanya itu" (Kejadian 42:36).

Anak-anak Yakub telah menjual adik bungsu mereka untuk menjadi budak di Mesir. Lalu 20 tahun kemudian, kelaparan yang hebat mengharuskan mereka pergi ke sana untuk membeli gandum. Yusuf, yang telah menjadi pegawai Firaun yang mengepalai persediaan makanan di Mesir langsung mengenali mereka, tetapi mereka tidak mengenalinya. Maka Yusuf menguji mereka untuk mengetahui apakah mereka telah berubah. Dengan berbicara melalui seorang penerjemah, ia memperlakukan mereka dengan kasar. Ia menyandera Simeon dan menyuruh orang memasukkan uang ke dalam kantung gandum sehingga mereka dikira pencuri. Kakak-kakaknya pun ketakutan dan bingung.

Tak heran Yakub beranggapan bahwa segalanya harus ia tanggung seorang diri. Tetapi ia salah! Hal-hal ini merupakan bagian dari rangkaian kejadian yang tak hanya akan mengembalikan Simeon kepada Yakub, tetapi juga akan mempertemukan kembali Yakub dengan Yusuf, yang disangkanya telah meninggal 20 tahun yang lalu.

Pernahkah Anda merasa ingin berseru, "Aku inilah yang menanggung segala-galanya itu"? Bacalah Kejadian 45 dan lihatlah apa yang dilakukan Allah bagi Yakub. Biarlah kisahnya menguatkan iman Anda kepada Dia yang turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita (Roma 8:28) --HVL

MEMPERCAYAI ALLAH DAPAT MENGUBAH SEBUAH PENCOBAAN MENJADI HAL-HAL YANG SANGAT BERHARGA

Sumber: Renungan Harian

#Bacaan hari ini 1 Yohanes pasal 2#

Jumat, 19 Februari 2021

SELUMBAROLOGI DAN BALOKITIS

NATS: Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu (Matius 7:5)

Menurut Yesus, tidaklah abik bila kita ahli dalam "selumbarologi" namun menderita "balokitis." Dalam Khotbah di bukit, Tuhan bersabda, "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?" (Matius 7:3).

Jika kata selumbarologi terdapat dalam katalog universitas, mungkin penggambarannya akan berbunyi demikian: "Inti dari mata kuliah ini adalah pengenalan dan pembahasan secara kritis terhadap kelemahan-kelemahan kecil dalam kehidupan setiap orang di sekeliling kita. Mata kuliah ini sangat laris, segeralah mendaftar."

Seandainya istilah balokitis muncul dalam kamus kedokteran mungkin definisinya akan berbunyi sebagai berikut: "Sebuah penyakit yang mengubah pandangan terhadap diri sendiri dan membuat seorang individu tidak mampu mengenali kesalahan pribadinya. Hal ini terjadi di seluruh dunia."

Untuk memecahkan masalah ini, Tuhan menasihatkan, "Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu" (ayat 5).

Kita tidak membutuhkan tukang kayu atau dokter mata untuk memahami perumpamaan Yesus ini. Sebenarnya kita telah mengikuti "mata kuliah" tersebut saat kita "mengidap penyakit" itu. Namun apabila hari ini kita mau mengalihkan perhatian dari selumbar yang kita lihat dalam diri orang lain untuk memperhatikan balok yang ada dalam mata kita sendiri, maka hal itu akan membawa pengaruh besar bagi kita semua!-DCM

HENDAKLAH ANDA CEPAT MENILAI DIRI SENDIRI DAN LAMBAT MENILAI ORANG LAIN

Sumber: Renungan Harian

#Hari ini kita mulai membaca 1 Yohanes pasal yang pertama#

Kamis, 18 Februari 2021

SIAGA UNTUK BERPERANG

NATS: TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku (Mazmur 5:4)

Setiap pengikut Kristus terlibat dalam peperangan rohani setiap hari. Karena itulah kita tidak dapat menjalani satu hari pun dengan sikap berpuas diri.

Herb Caen menulis sebuah artikel dalam San Francisco Chronicle, "Di Afrika, setiap pagi seekor kijang kecil terbangun. Ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat dari singa yang tercepat atau ia akan terbunuh. Setiap pagi seekor singa terbangun. Ia tahu bahwa ia harus lari lebih cepat dari kijang kecil yang paling lamban atau ia akan mati kelaparan. Tidak menjadi masalah apakah Anda seekor singa atau seekor kijang kecil; yang jelas, tatkala matahari terbit, lebih baik Anda cepat berlari."

Pendeta berkebangsaan Inggris Charles Spurgeon menulis, "Jika Anda tidak mencari Tuhan, iblislah yang akan mencari Anda." Kita tidak harus menunggu sampai diserang oleh Setan, baru kemudian memikirkan strategi untuk lari dari musuh jiwa kita itu. Sebaliknya kita harus lebih dahulu mencari Tuhan, dan sadar sepenuhnya bahwa "si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya" (1 Petrus 5:8).

Dalam Mazmur 5 kita membaca bahwa Daud mengungkapkan betapa ia membutuhkan pertolongan Allah. Ia datang ke hadirat Tuhan pagi-pagi sekali, untuk mencari tuntunan dan perlindungan-Nya (ayat 4,9,13).

Janganlah kiranya kita memasuki hari yang baru tanpa menyadari kebutuhan kita yang mendesak akan Tuhan. Siaga adalah cara terbaik untuk siap menghadapi serangan Setan --DCE

With each new day my thought shall be
Of all that Christ has done for me;
I'll think about His love and care,
Then face the day with faith and prayer. --DJD

MULAILAH TIAP-TIAP HARI DENGAN KESIAPSIAGAAN SEHINGGA ANDA SELALU SIAP UNTUK BERPERANG

Sumber: Renungan Harian

#Hari ini kita membaca 2 Petrus pasal 3. Dan ini adalah pasal yang terakhir#

Rabu, 17 Februari 2021

DALAM KASIH ADA PENGHARGAAN

NATS: [Kristus] sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib (1Petrus 2:24)

Wayne dan Red bertugas di peleton yang sama saat pasukan sekutu bergerak melintasi Eropa pada Perang Dunia II. Saat itu, Wayne menawarkan diri menjadi "penunjuk jalan" yang memimpin peletonnya memasuki wilayah musuh, sedangkan Red siap mendukungnya dari belakang.

Kedua orang ini memimpin pasukan mereka melewati beberapa pertempuran hingga mereka mencapai "Garis Siegfrie" yang terkenal. Mereka tiba di tanah tak berpenghuni dan kemudian melompat ke parit perlindungan musuh. Tatkala sebuah granat yang masih aktif meledak di hadapan mereka, Wayne, yang memimpin di depan terluka karena ledakan tersebut. Melihat Wayne tidak berdaya, Red maju dan cepat-cepat mengangkat Wayne. Lalu ia berputar dan melindungi Wayne dari tembakan. Beberapa detik kemudian Red tertembak peluru musuh dan meninggal seketika. Wayne yang bertahan hidup, kemudian menulis demikian, "Tak seorang pun pernah menghargai saya lebih dari Red."

Demikian pula dengan Yesus. Dia "terkena peluru" yang sebenarnya diarahkan kepada kita. Kita lahir di dalam dosa, dan "upah dosa ialah maut" (Roma 6:23). Karena begitu besar kasih Allah, Anak Allah menjelma menjadi manusia, hidup tanpa dosa, dan mengambil alih hukuman kita dengan mati di kayu salib (1 Petrus 3:18). Karena Yesus mati, kita mendapat kehidupan yang kekal.

Sudahkah Anda memiliki kehidupan yang seperti itu? Jika belum, percayalah kepada Kristus hari ini juga. Maka Anda pun akan dapat berkata, "Tak seorang pun pernah menghargai saya lebih dari Kristus" -DCE

YESUS MENGGANTIKAN TEMPAT SAYA DI KAYU SALIB UNTUK MENYEDIAKAN TEMPAT BAGI SAYA DI SURGA

Sumber: Renungan Harian

#Bacaan hari ini 2 Petrus pasal 2#

Selasa, 16 Februari 2021

Iman yang Kuat

Bahan renungan: Mazmur 44

Mazmur 44 bisa dibagi menjadi empat bagian. Pada bagian pertama, pemazmur mengingat pengalaman yang baik akan kesetiaan Allah kepada bangsa Israel di masa lampau (44:1-9). Pada bagian kedua, pemazmur teringat akan masa gelap bangsa Israel, yaitu saat mereka merasa ditinggalkan Allah (44:10-17). Pada bagian ketiga, pemazmur mengungkapkan iman yang tetap bertahan walaupun melewati masa-masa kelam (44:18-22). Pada bagian keempat, meskipun pemazmur teringat akan masa-masa kelam, ia tidak menjauhkan diri dari Allah. Ia tetap teguh dan berharap kepada Allah (44:23-27).

Agar iman kita semakin kuat di tengah penderitaan, kita harus mengingat pengalaman yang baik tentang kesetiaan Allah. Pengalaman dikasihi dan dicintai memiliki dampak yang sangat besar bagi kehidupan seseorang. Seseorang dapat bertahan dalam kesulitan jika dia menyadari bahwa orang-orang di sekelilingnya mengasihi dia, terlebih lagi jika ia menyadari bahwa ada Tuhan yang mengasihinya. Selain itu, sangat penting bagi kita untuk menemukan Allah saat kia mengalami penderitaan. Keunikan iman pemazmur dan tokoh-tokoh Alkitab yang lain adalah bahwa mereka dapat menemukan kesetiaan Allah di masa kelam. Sebagai contoh, saat berjumpa dengan saudara-saudaranya yang telah berlaku jahat, Yusuf justru berkata, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, ....” (Kejadian 50:20). Demikian pula, setelah mengalami banyak penderitaan, Rasul Paulus berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28).

Di lereng pegunungan North Cascades yang terletak di negara bagian Washington, Amerika Serikat, sampai sekarang masih terdapat hutan dengan pohon-pohon yang sangat besar dan tinggi. Umur pohon-pohon itu sudah mencapai ratusan tahun. Pohon-pohon itu sangat kuat dan tetap berdiri teguh walaupun sering terkena hujan, badai, dan topan. Bahkan, hutan itu jarang sekali terbakar, padahal kilat sering kali menyambar pohon-pohon besar itu. Bagaikan pohon besar yang tetap kuat dan berdiri teguh, demikian pula seharusnya iman orang percaya di tengah penderitaan. [Pdt. Jonathan Prasetia]

Sumber: Renungan GKY

#Hari ini kita akan membaca pasal 1 dari surat Petrus yang kedua#

Senin, 15 Februari 2021

LANJUTKAN DI HARI SENIN

NATS: Kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah (1Tesalonika 4:1)

Allah memang terkenal pada hari Minggu. Pada hari itu jutaan orang di seluruh dunia menghentikan kegiatan mereka untuk mengunjungi sebuah gedung dengan tujuan beribadah, menyanyi dan mengenal Allah bersama rekan-rekan mereka lainnya. Namun ketika hari Senin, dimanakah mereka menempatkan Allah dalam kehidupan sesehari? Tatkala perhatian mereka terbagi pada banyak hal lain yang penting, mereka pun bepergian tanpa beban sepanjang minggu, tanpa meghiraukan Dia.

Bahkan di antara jemaat yang pergi ke gereja pada hari Minggu, ada yang menyebut nama Allah dengan tidak hormat. Sering kali rencana-rencana-Nya tidak dihiraukan dan petunjuk-petunjuk-Nya bagi kehidupan tidak direnungkan sedikit pun.

Dari mana kita bisa berpendapat bahwa Allah hanya menghendaki perhatian kita pada dan hari Minggu? Yang jelas bukan dari Rasul Paulus, yang mengatakan bahwa kita harus tetap berdoa (1 Tesalonika 5:17)-karena ini menunjukkan dengan jelas bahwa Allah juga mendengarkan kita hari Senin sampai Sabtu. Paulus juga menulis, "Bersukacitalah senantiasa" (ayat 16), yang menunjukan bahwa tidak seyogyanya kita berhenti menyanyi hanya karena organnya tidak dimainkan. Dan bagaimana dengan perintah, "Mengucap syukurlah dalam segala hal" (ayat18)? Ayat ini secara nyata mengungkapkan bahwa di sepanjang minggu kita memiliki kesempatan untuk berkata, "Syukur kepada-Mu, ya Allah."

Hari Minggu adalah hari yang disediakan khusus untuk memberi perhatian secara langsung kepada Allah. Namun tidak berhenti di situ. Lanjutkan di hari Senin! -JDB

BERIBADAHLAH KEPADA ALLAH PADA HARI MINGGU DAN TETAPLAH BERJALAN BERSAMA-NYA PADA HARI SENIN

Sumber: Renungan Harian

#Bacaan hari ini adalah 1 Petrus pasal 5 dan ini adalah pasal terakhir dari surat Petrus yang pertama#

Minggu, 14 Februari 2021

Haus akan Allah

Mazmur 42-43 ditulis oleh seorang Israel yang sedang mengalami pembuangan di Babel. Ia harus hidup di negeri asing yang merupakan negeri penyembah berhala. Perlakuan yang tidak manusiawi—seperti kerja paksa, makian, dan cemoohan—merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari umat Israel. Jiwa mereka sangat tertekan. Seolah-olah, Tuhan tak lagi hadir dalam kehidupan umat-Nya. Dalam keadaan seperti itu, pemazmur tidak tinggal diam. Dia mencari jalan keluar dari depresi rohani yang ia alami:

Pertama, pemazmur  memiliki rasa haus akan Tuhan. Pemazmur menggambarkan dirinya bagaikan seekor rusa kurus yang sedang dalam keadaan sangat kehausan dan merindukan sungai yang berair (42:2-4). Analisa pemazmur yang sedang mengalami kondisi kekeringan rohani ini sangat tepat! Ada banyak orang yang sedang mengalami tekanan berat, namun sayangnya mereka tidak memiliki rasa haus akan Tuhan. Mereka justru berusaha memuaskan jiwanya dengan perkara duniawi.

Kedua, pemazmur mengingat kembali kebaikan Tuhan. Pemazmur mengingat kembali bagaimana dulu ia amat bersemangat menyembah Allah (42:5). Saat itu, hubungan pemazmur begitu intim dengan Allah. Ada kenikmatan dan sukacita yang tidak terkatakan saat itu. Ingatan tersebut membangkitkan pengharapan dalam hati pemazmur untuk bisa bersekutu kembali dengan Allah.

Ketiga, pemazmur melakukan self-talk atau berdialog dengan diri sendiri. Pemazmur tidak ingin jiwanya dihanyutkan oleh emosi negatif. Oleh karena itu, pemazmur berusaha untuk mengendalikan perasaannya dengan berkata-kata secara positif. Pemazmur berkata kepada jiwanya, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?” (42:6a). Di bagian lain, pemazmur memberi semangat kepada jiwanya dengan berkata, “Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (42:12b)

Ketika menghadapi pergumulan dan tekanan yang berat seperti pada masa pandemi saat ini, wajar bila kita mengalami kehausan akan Allah. Dengan mengingat kembali kebaikan Allah dan melakukan self-talk secara positif, kita akan menjadi siap untuk menghadapi gelombang kehidupan apa pun. [Pdt. Jonathan Prasetia]

Sumber: Renungan GKY

#Bahan bacaan hari ini dari 1 Petrus pasal 4#

Sabtu, 13 Februari 2021

TEMPAT BERSANDAR

NATS: Dia adalah tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai (Mazmur 91:2)

Dalam bukunya yang berjudul The Fisherman and His Friends (Sang Pemancing dan Sahabatnya), Louis Albert Banks menceritakan tentang dua pria yang menjalankan tugas-jaga di sebuah kapal yang sedang berlayar. Pada suatu malam, amukan badai yang dahsyat menghempaskan salah seorang dari mereka ke laut. Pria yang terseret ombak tersebut sebenarnya berada di tempat yang sangat terlindung, sementara temannya yang selamat justru berada di tempat yang sama sekali tidak aman. Apa yang menjadi perbedaan keduanya? Pria yang tenggelam tersebut tidak memiliki tempat untuk bergantung yang dapat menolongnya untuk bertahan dalam cuaca buruk itu.

Itulah gambaran kehidupan yang dialami oleh sebagian orang yang dipengaruhi oleh berbagai pencobaan dalam hidupnya. Selama hidup berjalan mulus, mereka nampak sangat kuat. Namun, ketika segala sesuatu menjadi sukar, mereka pun kehilangan pegangan. Karena mereka menolak pertolongan Allah dan tidak memiliki tempat untuk bergantung, mereka dengan mudah diombang-ambingkan badai kehidupan.

Orang Kristen yang bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, akan mampu melewati badai kesengsaraan yang berat sekalipun. Tidak heran bila mereka sering berkata, "Saya tidak dapat melakukan apa-apa tanpa Tuhan." Mereka menyadari sepenuhnya bahwa Bapa surgawi selalu beserta mereka untuk menguatkan, menjaga dan melindungi mereka.

Ya, orang-orang Kristen memang memiliki Seseorang yang dapat diandalkan dalam segala situasi kehidupan. Setiap orang Kristen dapat mengatakan tentang Tuhan, "Dia adalah tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai." -- RWD

ALLAH TIDAK PERNAH BERJANJI MEMBEBASKAN KITA DARI BADAI HIDUP TETAPI DIA BERJANJI AKAN MENOLONG KITA UNTUK MELEWATINYA

Sumber: Renungan Harian

#Bacaan hari ini dari 1 Petrus pasal 3#

Jumat, 12 Februari 2021

MEMPERBAIKI KESALAHAN

NATS: Orang bodoh mencemoohkan korban tebusan, tetapi orang jujur saling menunjukkan kebaikan (Amsal 14:9)

Jim Thomas merasa yakin bahwa pria yang sedang diadili itu tak bersalah, tetapi ia tidak dapat meyakinkan rekan-rekannya sesama juri akan hal itu. Setelah melalui diskusi selama delapan jam, akhirnya ia menyerah dan mengikuti suara mayoritas. Tetapi sesudah vonis bersalah dijatuhkan, ia tak dapat berhenti memikirkan bahwa ia telah ikut menghukum seseorang yang tidak bersalah.

Maka dengan uangnya sendiri, Jim Thomas menyewa seorang pengacara untuk naik banding. Beberapa hari setelah pengadilan, si korban mengaku bahwa ia telah berbohong dan si tersangka tadi dibebaskan.

"Saya adalah seorang juri dan saya telah membantu membuat sebuah kesalahan," kata Thomas. "Ini harus diperbaiki."

Terkadang, saya begitu mudah menutupi kesalahan dan ketidak-beranian saya sendiri dengan berkata, "Yah, tidak ada yang dapat kita lakukan lagi sekarang." Kisah Jim Thomas di atas menantang saya untuk memikirkan kembali sikap saya agar berani memperbaiki kesalahan yang saya lakukan.

Amsal 14:9 mengatakan, "Orang bodoh mencemoohkan korban tebusan, tetapi orang jujur saling menunjukkan kebaikan." Bagi orang bodoh, melakukan sesuatu yang salah bukan merupakan masalah, tetapi orang yang memiliki integritas dan karakter yang baik akan merasa terbeban untuk memperbaikinya.

Jika Anda telah membantu membuat suatu kesalahan, bertindaklah dengan segera dan milikilah keberanian untuk memperbaikinya--DCM

KITA MELAKUKAN DUA KESALAHAN SAAT KITA GAGAL MEMPERBAIKI SATU KESALAHAN

Sumber: Renungan Harian

#Bacaan hari ini 1 Petrus pasal 2#

Kamis, 11 Februari 2021

KITAB PARA MUSAFIR

NATS: Kamu harus lakukan peraturan-Ku dan harus berpegang pada ketetapan-Ku dengan hidup menurut semuanya itu; Akulah Tuhan, Allahmu (Imamat 18:4)

Banyak orang yang berniat membaca seluruh Alkitab dalam setahun akhirnya berhenti ketika sampai pertengahan kitab Imamat. Setelah membaca kisah yang mempesona dalam Kejadian dan pembebasan yang dramatis dalam Keluaran, kitab Imamat tampaknya merupakan buku pegangan teknis bagi para imam zaman dulu. Namun jangan menyerah dulu. Kitab ini adalah buku wajib bagi para musafir, pegangan hidup bagi orang-orang yang telah dilepaskan dari hidup lamanya, dan sedang menuju masa depan yang penuh kemenangan, seperti yang dirancangkan Allah.

Kurang lebih pada pertengahan kitab itu, kita akan membaca bagaimana Allah meminta sesuatu pada umat-Nya. Dia meminta umat-Nya untuk tidak berbuat seperti diperbuat orang di tanah Mesir, tempat mereka dulu berada, dan tidak berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan, tempat yang akan mereka tuju. Dalam Imamat 18:4, Dia bersabda, "Kamu harus lakukan peraturan-Ku dan harus berpegang pada ketetapan-Ku dengan hidup menurut semuanya itu; Akulah Tuhan, Allahmu."

Dalam Imamat juga terdapat banyak penggambaran tentang rencana penyelamatan Allah, yang disampaikan hampir 1.500 tahun sebelum kelahiran Yesus. Setiap persembahan dan korban bakaran ditujukan pada salib Kristus "Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia" (Yohanes 1:29).

Dalam perjalanan Anda membaca Alkitab dari Kejadian hingga Wahyu, jangan biarkan kitab Imamat menghambat perjalanan Anda. Sebaliknya, biarkan kitab itu menjadi jembatan yang membantu Anda beralih dari tradisi memohon pengampunan dengan korban persembahan kepada penyelamatan sang Juruselamat -DCM

MEZBAH PERJANJIAN LAMA MENGACU PADA SALIB PERJANJIAN BARU

Sumber: Renungan Harian

#Hari ini kita mulai membaca surat Petrus yang pertama#

Rabu, 10 Februari 2021

MADU ATAU CUKA?

NATS: Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik (Lukas 6:43)

Robert J. Little, seorang guru Alkitab, menulis tentang dua stoples yang isinya tampak serupa, tetapi sebenarnya sama sekali berbeda. Ketika isi stoples yang pertama dituang, ternyata didapati bahwa isinya adalah cuka. Dan, ketika stoples yang kedua dituang, ternyata yang keluar adalah madu. Dua stoples itu serupa, tetapi ketika isinya dituang, maka nyatalah perbedaan keduanya.

Ujian yang terbaik terhadap karakter manusia adalah dengan melihat reaksi yang muncul ketika mereka berada alam tekanan situasi yang sulit. Dalam kondisi yang normal atau ketika segala sesuatu berjalan seperti biasanya, banyak orang berperilaku sebagaimana yang dapat diterima oleh masyarakat. Mereka memberi kesan seolah segala sesuatu dapat terkendali. Namun, tatkala mereka lengah atau mengalami sesuatu yang tidak diharapkan, maka watak mereka yang sesungguhnya akan terlihat.

Apa yang ada di dalam diri kita akan terbuka tatkala kita mengalami ujian. Bagaimana kita bereaksi terhadap tekanan akan menunjukkan siapa diri kita yang sebenarnya. Yesus berkata, "Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya" (Lukas 6:45).

Apa yang keluar dari hati Anda -- madu atau cuka? Apabila seseorang melakukan sesuatu yang tidak Anda sukai, bagaimanakah reaksi Anda? Dengan memelihara persekutuan Anda dengan Allah dan mengandalkan pimpinan Roh Kudus-Nya, apa yang keluar dari diri Anda adalah yang murni dan baik --RWD

SIFAT SEJATI KITA TERUNGKAP PADA SAAT KITA LENGAH

Sumber: Renungan Harian

#Hari ini kita menyelesaikan pembacaan surat Yakobus di pasal 5. Besok kita akan lanjutkan membaca surat Petrus#

Selasa, 09 Februari 2021

UANG BERAS

NATS: Meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan (2 Korintus 8:2)

Di provinsi Mizoram di India hiduplah sekelompok orang Kristen yang menemukan cara unik untuk memberi persembahan bagi pekerjaan Tuhan. Ketika para ibu rumah tangga menyiapkan makanan yang kebanyakan terbuat dari beras untuk keluarganya, ia menakar beras secukupnya.

Kemudian, sebelum menanak nasi ia menyisihkan segenggam beras dari beras yang sudah ditakar tersebut. Beras tersebut ia simpan sampai hari Minggu, saat ia membawanya ke gereja dan menggabungkannya dengan beras yang dibawa para wanita yang lain. Kemudian gereja menjualnya dan hasilnya digunakan untuk mendukung pelayanan misi. Salah satu barang yang dibeli dengan uang itu adalah sebuah komputer yang digunakan untuk membantu orang Mizoram dalam menyelesaikan penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa mereka.

Akan sangat mudah bagi orang miskin untuk memandang dan menganggap bahwa harta mereka yang sedikit tidak berharga untuk dipersembahkan. Demikian pula halnya dengan janda miskin dalam Lukas 21. Mudah baginya untuk merasa bahwa dua peser uang yang dipersembahkannya tidak ada artinya bila dibandingkan dengan sejumlah besar uang yang dipersembahkan oleh orang kaya untuk perbendaharaan gereja.

Allah lebih berkenan pada hati yang mau berkorban daripada besarnya persembahan seseorang. Karena itulah Yesus berkata bahwa sang janda memberi lebih banyak daripada yang lainnya (ayat 3). Dapatkah kita dengan jujur mengatakan bahwa persembahan kita juga merupakan bentuk pengorbanan kita? --JDB

PENGORBANAN ADALAH UKURAN SEJATI DARI PERSEMBAHAN KITA

Sumber: Renungan Harian

#Bacaan hari ini Yakobus pasal 4#

Senin, 08 Februari 2021

Kembalikan Fokus Kita!

Banyak orang rela menempuh perjalanan darat demi bertemu dengan Tuhan Yesus. Alkitab mencatat bahwa mereka tiba lebih awal daripada Yesus dan murid-murid-Nya. Mereka berjalan dengan membawa berbagai harapan terhadap Yesus. Demikian pula yang terjadi di Genesaret.

Yesus tergerak hati-Nya oleh perjuangan dan harapan orang banyak, sehingga Dia kemudian menyembuhkan mereka yang sakit. Kekhawatiran pun muncul di tengah para murid. Hari yang mulai gelap dan tempat yang terpencil membuat para murid berpikir untuk menyuruh orang banyak itu pergi ke desa-desa terdekat. Bukannya menyuruh orang banyak itu pergi, Yesus justru menyuruh murid-murid-Nya untuk memberi mereka makan.

Yesus bukannya tidak mengetahui apa yang menjadi kekhawatiran para murid. Sesungguhnya, Yesus sedang mengembalikan fokus mereka kepada hal yang paling utama. Yesus menyadarkan para murid, dari yang semula khawatir menjadi lebih berfokus kepada kehendak Allah. Dengan demikian, mereka bisa lebih mengenal Yesus--Sang Anak Allah--dengan benar.

Ajaran Yesus kepada para murid juga berlaku untuk kita. Apa yang kita lakukan saat sedang khawatir? Apakah kita mencari kehendak Allah atau kita mengandalkan diri sendiri?

Kenyataannya, kita sering kali lebih mengandalkan dan memercayai apa yang dilihat oleh mata kita yang terbatas. Setelah indera penglihatan kita terpuaskan, baru kemudian kita datang kepada Tuhan. Jadi, sebenarnya kita datang bukan untuk mencari kehendak-Nya tetapi justru menyuruh Allah untuk melakukan sesuatu bagi kita. Dari hal yang tidak tepat inilah kita perlu bertobat.

Firman Tuhan kali ini mengingatkan kita bahwa kehendak Allah harus menjadi hal yang utama. Pada saat kekhawatiran mulai datang mengganggu kita, marilah kita kembali berfokus kepada kehendak Allah. Kita tidak lagi menyerah pada tuntutan-tuntutan yang memuaskan indera kita. Percayalah bahwa di balik setiap peristiwa ada kehendak Allah yang ingin dinyatakan di dalam perjalanan hidup kita. [MAR]

Sumber: Santapan Harian

#Bacaan hari ini dari Yakobus pasal 3#

Minggu, 07 Februari 2021

TELADAN YANG SEMPURNA

[[Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. ]] (Yohanes 13:15) 

Seorang hamba Tuhan mengeluh tentang keuangan gerejanya. Ada ratusan orang yang beribadah setiap hari Minggu, tetapi uang kolekte yang diterima tidak banyak. Padahal seharusnya gerejanya sudah mandiri dan tidak lagi disubsidi oleh gereja induk. Ia sudah sering berkhotbah tentang persembahan syukur kepada jemaatnya, tetapi kurang ditanggapi. Suatu hari, seorang rekannya mengusulkan agar selaku hamba Tuhan, ia memberi contoh dengan memberi persembahan melalui kantong kolekte yang diedarkan sehingga jemaat melihatnya. Hamba Tuhan ini menerima usul tersebut. Benar, sejak saat itu, perlahan tapi pasti persembahan syukur jemaat meningkat pesat. 

Yesus selalu mencontohkan hal yang baik kepada murid-murid-Nya, seperti membasuh kaki yang pada zaman itu biasa dilakukan oleh seorang hamba kepada tuannya. Pembasuhan kaki yang dilakukan oleh Yesus melambangkan sebuah tindakan yang agung sekaligus rendah hati dalam melayani orang lain. Teladan tersebut diberikan-Nya agar kelak murid-murid-Nya juga mau melayani sesama mereka (ayat 15). 

Saat ini sebagai kepala rumah tangga, pemimpin di tempat kerja atau di tempat pelayanan kita, dan di mana pun Tuhan menempatkan kita, kita mungkin mengalami kesulitan menghadapi anggota keluarga, rekan, atau karyawan, karena nasihat atau permintaan kita kurang mendapatkan respons positif. Sekaranglah waktunya untuk memperlihatkan contoh yang baik dalam tindakan kita. Yesus adalah teladan yang sempurna dan kita sebagai murid-Nya patut meniru-Nya. (Tjetjep Gunawan)

Sumber: Amsal Hari Ini 

#Bacaan hari ini Yakobus pasal 2#

Sabtu, 06 Februari 2021

Menghadapi Tragedi

Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:28)

Hannah Whitall Smith, penulis buku, The Christian's Secret of a Happy Life menafsirkan bahwa kata, "kebaikan" dalam Roma 8:28 bermakna "serupa atau segambar dengan Kristus". Artinya bahwa kesulitan-kesulitan (tragedi) ataupun derita yang kita alami bertujuan membentuk kita untuk menjadi serupa dengan Kristus.

Paulus menulis ayat ini untuk meluruskan ajaran-ajarannya yang diputarbalikkan oleh beberapa pengajar Yahudi. Mereka menyampaikan bahwa keselamatan itu bertumpu pada perbuatan baik. Mereka juga mengajarkan bahwa kesusahan dan kesulitan itu adalah bentuk hukuman dari Allah. Paulus menyanggahnya bahwa derita dan kesulitan yang mereka alami bukanlah hukuman dari Allah melainkan Allah izinkan itu terjadi untuk kebaikan mereka.

Dalam hidup ini kita banyak menghadapi berbagai tragedi. Setiap tragedi yang kita alami menurut Alkitab tidak terjadi secara kebetulan. Bagi orang percaya, setiap tragedi yang terjadi diijinkan Tuhan demi kebaikan kita.

Dengan pengertian ini, marilah kita menghadapi setiap tragedi yang kita alami dengan perspektif yang baru. Bahwa setiap hal menyakitkan yang terjadi dalam hidup kita adalah karena hal itu diijinkan Allah demi kebaikan kita agar semakin serupa dengan Kristus. Rick Warren pernah berkata, "Jika Bapa mengijinkan anak-Nya yang dikasihi-Nya mengalami penderitaan yang sangat menyakitkan, maka Ia juga akan mengizinkan kita mengalami hal serupa." --PRB/www.renunganharian.net

PENGALAMAN MENYAKITKAN DAN HAL-HAL MEMALUKAN YANG PALING INGIN KITA LUPAKAN, AKAN TUHAN PAKAI UNTUK PELAYANAN YANG LEBIH BESAR.

#Hari ini kita akan mulai membaca surat Yakobus#

Jumat, 05 Februari 2021

KEMALASAN ADALAH PENYAKIT ROHANI

"Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman",  Ibrani 3:15

Sesungguhnya banyak orang Kristen menyadari bahwa hari-hari ini adalah jahat, dan zaman yang sedang dijalani ini adalah zaman akhir.  Meski tahu bahwa hari-hari ini adalah hari-hari akhir, mereka tetap saja tidak mau berubah;  mereka masih saja berkompromi dengan dosa;  mereka masih hitung-hitungan dengan Tuhan;  kehidupan kekristenan mereka tetap saja suam-suam kuku.  Tuhan tidak berkenan dengan kerohanian yang suam-suam kuku, seperti tertulis:  "Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku."  (Wahyu 3:16).

     Orang Kristen yang enggan berubah adalah salah satu tanda sedang terjangkit virus kemalasan rohani.  Meskipun sudah cukup sering mendengarkan teguran dan nasihat firman Tuhan tetap saja mengeraskan hati;  sudah lama mengikut Tuhan, hidupnya tak mengalami perubahan, karena selalu menunda-nunda waktu untuk taat.  Orang yang malas rohani adalah orang yang enggan keluar dari zona nyaman, tak mau membayar harga, membiarkan diri berada dalam kubangan dosa.  Ini terjadi dalam kehidupan bangsa Israel!  Meski  "...semua makan makanan rohani yang sama dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus."  (1 Korintus 10:3-4), mereka tetap saja mengeraskan hati dan memberontak kepada Tuhan, sehingga Tuhan menyebut mereka sebagai bangsa yang tegar tengkuk!  "...sesungguhnya mereka adalah bangsa yang tegar tengkuk."  (Ulangan 9:13).  Kemalasan rohani inilah yang akhirnya membuat sebagian besar bangsa Israel mengalami kebinasaan sebelum mencapai Kanaan.  Begitu pula yang dialami keluarga Imam Eli:  sekalipun sudah tahu bahwa anak-anaknya hidup menyimpang dari kebenaran, Imam Eli selalu menunda-nunda waktu untuk menegur, membiarkan mereka tetap hidup dalam dosa, sampai akhirnya Tuhan menimpakan hukuman atas keluarga ini.

     Penyakit  'malas rohani'  yang dibiarkan terus-menerus akan mengakibatkan kematian rohani!

Satu-satunya cara mengobati kemalasan rohani adalah segera bertobat!  Karena itu, bila hari ini kita diperingatkan, jangan mengeraskan hati.

Sumber: Air Hidup Blog 

#Hari ini kita akan membaca pasal terakhir dari kitab Ibrani yaitu pasal 13#

Kamis, 04 Februari 2021

MULAILAH MENGHITUNG!

NATS: Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN (Mazmur 92:2)

Saya memiliki seorang sahabat di Inggris yang memasuki pertengahan usia delapan puluhan. Meskipun ia terkungkung di rumah dengan kondisinya yang lemah, namun setiap kali kami berbicara di telepon, rasanya ia selalu memiliki sikap yang penuh syukur. Salah satu lagu pujian favoritnya adalah "Count Your Blessings" (Hitung Berkatmu Satu-satu). Oleh karenanya, saya tertarik ketika suatu hari ia berkata, "Saya sudah berhenti menyebutkan berkat-berkat saya satu per satu." Namun kemudian ia melanjutkan sambil tersenyum, "Berkat-berkat saya sangat banyak, sebab itu saya harus menimbangnya ton demi ton!"

Bertahun-tahun yang lalu ketika saya berjuang melawan gangguan sulit tidur, saya memulai suatu kebiasaan baru. Sepanjang hari saya mencoba memperhatikan setiap berkat, besar atau kecil, yang saya terima. Setiap malam di tempat tidur, saya menyebutkan berkat itu satu per satu dan mengucap syukur kepada Tuhan atas semuanya itu. Hal ini tidak hanya mengubah sikap saya dari negatif ke positif, tetapi juga membuat saya dapat tidur dengan tenang sebelum selesai menghitung berkat saya. Allah menggunakan saat-saat yang penuh pergumulan itu untuk menolong saya mengembangkan sikap bersyukur.

Donald Grey Barnhouse berkata, "Sungguh aneh, Allah harus meminta mereka yang telah diselamatkan-Nya dari dosa untuk menunjukkan rasa syukur kepada Dia!" Adakah Tuhan memakai ujian yang berat agar Anda dapat lebih banyak memuji Dia? Jika demikian, mulailah menghitung berkat-berkat Anda, dan ketahuilah, adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada Tuhan (Mazmur 92:2) --JEY

Are you ever burdened with a load of care?

Does the cross seem heavy you are called to bear?

Count you may blessings--every doubt will fly,

And you will be singing as the days go by. --Oatman

PUJIAN KEPADA ALLAH DAPAT MUNCUL SECARA ALAMI TATKALA ANDA MENGHITUNG BERKAT-BERKAT ANDA

Sumber: Renungan Harian

#Bacaan hari ini Ibrani pasal 12#

Rabu, 03 Februari 2021

TUHAN TIDAK LUPA

[[“Zakharia, ... doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki” ]] (Lukas 1:13)

Suatu hari saya bertemu dengan sepupu saya yang mengaku sudah percaya kepada Tuhan. Saya terkejut dan bertanya bagaimana itu bisa terjadi. Ia bercerita bahwa tatkala ia terkena banyak masalah, ia teringat pada Yesus yang pernah saya ceritakan. Lalu, ia pergi ke gereja seorang diri. Ia tertawa, “Rasanya lucu ya, Von. Dulu aku merasa kamu cerewet karena selalu mengajakku untuk mengenal Yesus. Akhirnya kini atas kemauanku sendiri aku percaya kepada-Nya.” Sejujurnya, saya lupa kapan saya menginjilinya dan mendoakannya agar ia menerima Yesus. Meskipun saya lupa, ternyata Tuhan tidak pernah lupa. 

Selama puluhan tahun Zakharia dan Elisabet berdoa agar dapat memiliki anak. Namun, sepertinya Tuhan tidak mengabulkan permohonan mereka itu. Zakharia sendiri sudah membuang harapannya untuk mempunyai anak karena ia sudah tua. Itulah sebabnya ketika malaikat Gabriel memberitahukan kabar baik bahwa ia akan mempunyai keturunan, ia tidak percaya. Akibatnya, ia menjadi bisu karena ketidakpercayaannya. 

Tuhan mendengarkan apa pun yang kita doakan dan Dia tidak pernah lupa. Namun, Tuhan mempunyai waktu-Nya sendiri untuk menjawab semua doa kita. Selama doa kita itu sesuai dengan kehendak-Nya, yakinlah bahwa Dia akan memberikan yang terbaik tepat pada waktu-Nya, bahkan melampaui apa yang kita harapkan. Jangan putus asa meskipun apa yang di depan mata tampak tidak ada harapan. Ingatlah, jika Tuhan berkehendak, tidak ada yang mustahil. Tetaplah berdoa. (Vonny Thay)

Sumber: Amsal Hari Ini 

#Bacaan hari ini dari Ibrani pasal 11#

Selasa, 02 Februari 2021

Firman yang Berbuah

Matius 13:1-23 

Keberadaan Yesus selalu menarik perhatian banyak orang (2). Namun, kali ini ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tidak mengikuti Yesus sebab Yesus tidak sedang mengajar di rumah ibadat. Pengajaran Tuhan Yesus saat itu ditujukan kepada orang banyak dan Ia mengajar tentang Kerajaan Allah.

Tuhan Yesus berbicara dan mengajar mereka dengan menggunakan perumpamaan (3). Perumpamaan yang disampaikan berbicara tentang hal sehari-hari yang sudah dipahami oleh orang Yahudi pada zaman itu. Dengan menggunakan perumpamaan, ajaran Tuhan Yesus dapat dengan mudah dipahami oleh banyak orang.

Perumpamaan tentang seorang penabur mencerminkan kehidupan masyarakat agraris atau suka bercocok tanam pada masa itu. Seorang penabur biasanya akan menaruh benih di sebuah kantong dan ia akan mengambil segenggam sambil berjalan melintasi ladang. Ia akan melemparkan benih itu ke sisi kiri dan sisi kanan ladang yang dilintasinya.

Benih yang dilemparkan oleh penabur itu bisa jatuh di pinggir jalan, tanah berbatu, tempat penuh semak duri, atau tempat subur (4-8). Arti dari perumpamaan ini, Sang Penabur adalah Yesus sendiri, dan benih yang ditabur adalah firman Tuhan yang diajarkan-Nya. Hasil dari pemberitaan firman Tuhan dijelaskan melalui empat jenis benih yang jatuh di tempat yang berbeda-beda.

Ada orang yang menolak firman Tuhan sehingga tidak bertumbuh. Ada yang tidak berakar mendalam sehingga tidak tahan menghadapi tantangan hidup. Ada yang tidak menjadikan firman Tuhan sebagai prinsip hidup sehingga selalu khawatir tentang hidupnya. Ada yang punya hati yang terbuka, tekun, dan tidak mudah menyerah sehingga hidupnya senantiasa berada dalam penyertaan Tuhan. Lalu, kita masing-masing termasuk tipe yang mana?

Selama mengikut Yesus, sudahkah kita mengalami perubahan? Apakah kita bersedia diubah? Bagaimana kita merespons firman Tuhan dengan baik? Bagaimana kita menerapkan firman Tuhan sebagai prinsip hidup kita? [MKG]

Sumber: Santapan Harian

#Hari ini kita akan membaca Ibrani pasal 10#

Senin, 01 Februari 2021

HARI-HARI PENTING

NATS: Pada hari pertama minggu itu. mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu (Lukas 24:1-2)

Inilah saatnya untuk "berburu"--bukan berburu hiasan untuk rumah, melainkan berburu kalender yang saya inginkan. Saya sudah memulainya sejak Desember, tetapi baru mulai serius mencari pada bulan Januari. Kalender yang saya inginkan sederhana saja. Pertama, menampilkan jadual mingguan yang tampak jelas. Kedua, harus berbentuk buku karena akan saya letakkan dalam keadaan terbuka di dekat telepon. Ketiga, kalender tersebut harus diawali dengan hari Minggu, bukan hari Senin. Kriteria terakhir inilah yang memperumit pencarian saya. Kebanyakan kalender sekarang diawali dengan hari Senin, yang menurut perhitungan Allah merupakan hari kedua.

Tren ini, seperti banyak hal lain dalam kebudayaan kita, telah mengaburkan apa yang dianggap penting bagi Allah. Padahal Dia memberi arti khusus pada dua hari dalam seminggu itu, yakni hari pertama dan hari terakhir. Dia beristirahat pada hari ketujuh sesudah menciptakan dunia (Kejadian 2:1-3), dan pada hari yang pertama Kristus bangkit dari kematian sesudah menyelamatkan dunia (Lukas 24:1-7). Perjanjian Lama telah mengatur bahwa hari terakhir hendaknya digunakan untuk beristirahat. Sedang berdasarkan Perjanjian Baru, orang Kristen saat ini memperingati kebangkitan Kristus pada hari pertama dalam satu minggu.

Walaupun kalender yang saya gunakan tidak berpengaruh terhadap iman saya, kalender itu membantu saya untuk selalu ingat bahwa hidup saya dimulai dan diakhiri bukan oleh kerja keras saya sendiri, tetapi oleh karya Allah bagi saya manakala saya memberi waktu untuk menyembah pada hari pertama dan beristirahat pada hari ketujuh-JAL

WAKTU YANG DIGUNAKAN UNTUK ALLAH ADALAH WAKTU YANG DIGUNAKAN DENGAN BIJAKSANA

Sumber: Renungan Harian

#Bacaan hari ini dari Ibrani pasal 9#