Minggu, 31 Agustus 2025

GERUTU DAN OBATNYA

Bacaan: Matius 20:1-16

NATS: Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong (1 Korintus 13:4)

Seorang pria yang mengalami gangguan jiwa selalu menjabat tangan pendetanya setiap kali kebaktian usai. Namun, ia kerap melontarkan komentar kritis demikian: Khotbah Anda terlalu panjang. Khotbah Anda membosankan. Anda terlalu banyak membicarakan diri sendiri. Karena merasa tertekan, sang pendeta menyampaikan hal ini kepada seorang diakon, yang menjawab, Oh, jangan mengkhawatirkan dia. Ia hanya mengulang apa yang didengarnya dari orang lain. 

Menggerutu adalah dosa yang terlalu umum di antara orang-orang kristiani, dan sebagian dari mereka merupakan penggerutu kronis. Mereka terampil dalam menemukan kesalahan seseorang yang secara aktif berusaha untuk melayani Tuhan. Dan pasti kita semua pernah menggerutu. 

Obat terbaik untuk kebiasaan dosa ini adalah kasih kristiani. Itu mudah diucapkan, namun sulit dilakukan. Pertama, kita harus secara sadar menginginkan apa yang terbaik dari Allah bagi setiap orang. Kasih ini sabar, ... murah hati; ia tidak cemburu .... Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain (1 Korintus 13:4,5). Lalu, ketika kita mengandalkan Tuhan, kita harus menerapkan sikap ini di dalam perbuatan. 

Di kemudian hari, pada saat Anda ingin mencari-cari kesalahan seseorang, lawanlah dorongan itu dan berusahalah melakukan kebaikan bagi orang tersebut (Galatia 6:10). Lakukanlah hal ini dengan setia, dan pada saatnya nanti Anda akan sembuh dari sikap menggerutu-HVL 

JANGANLAH MENCARI KESALAHAN, CARILAH OBATNYA

Sumber: Renungan Harian

Sabtu, 30 Agustus 2025

MEMERIKSA HAL NYATA

Bacaan: Kolose 3:12-17

NATS: Sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, perbuatlah juga demikian (Kolose 3:13)

Ketika Bill Husted datang ke acara reuni SMA ke-40, ia menjabat tangan dan memeluk orang-orang. Setelah 20 menit berlalu, ia baru sadar bahwa ternyata ada dua acara reuni SMA di gedung yang sama hari itu, dan ia berada di tempat yang salah. 

Husted, seorang penulis di bidang teknologi untuk Atlanta Journal-Constitution, menggunakan pengalaman itu untuk menggambarkan aksioma abadinya dalam memecahkan masalah komputer: Periksalah hal-hal yang nyata lebih dulu. Sebelum Anda mengganti sound card [perangkat keras komputer untuk mengeluarkan suara], pastikan bahwa volumenya tidak sedang dimatikan. Jika modemnya tidak bekerja, periksa apakah modem itu sudah disambungkan. 

"Periksalah hal-hal yang nyata lebih dulu" pun dapat menjadi prinsip yang baik untuk memecahkan masalah rohani. Kolose 3:12-17 mendaftar selusin kualitas rohani yang menunjukkan jiwa yang sehat. Yang menonjol di antaranya adalah belas kasihan, kebaikan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, pengampunan, kasih, dan rasa syukur. 

Sebelum mengkritik gereja kita atau kelompok kristiani lainnya, kita bisa meminta kepada Tuhan untuk mengungkapkan kelemahan kita sendiri. Sebelum memutuskan jalinan relasi, kita dapat memeriksa apakah kesabaran dan pengampunan tersambung dalam hati kita sendiri. 

Sebaiknya kita melihat ke dalam hati kita -- untuk memeriksa hal-hal yang nyata lebih dulu -- bahkan ketika semua masalah kita sepertinya disebabkan oleh orang lain --DCM 

KASIH SEPERTI KRISTUS SABAR MENGHADAPI KESALAHAN ORANG LAIN

Sumber: Renungan Harian

Jumat, 29 Agustus 2025

Kemuliaan Hanya bagi Allah 

Baccan: Lukas 10:17-20 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "sombong" berarti menghargai diri berlebihan, congkak, pongah, takabur. Dalam Alkitab ada kecaman terhadap sifat sombong (bdk. Yes 2:11-12; Ams 29:3; Hab 2:4; Mat 23:12; dll.). Demikian juga, Yesus tidak menginginkan kesombongan merasuki murid-murid-Nya.

Dalam bacaan kita diceritakan bahwa tujuh puluh murid yang diutus Yesus telah kembali. Mereka berhasil melaksanakan misi dan merasa gembira karena setan-setan takluk kepada mereka hanya dengan mereka menyebutkan nama Tuhan (17). Namun, Yesus tidak memuji keberhasilan murid-murid-Nya; Ia mengajak mereka berfokus pada hal yang lebih penting, yang dikatakan dalam Alkitab, "Lebih baik kalian bergembira karena namamu tercatat di surga" (20, BIMK). Perkara menaklukkan kuasa Iblis, tentu saja mereka mampu karena Yesus memberikan kuasa itu kepada mereka (19). Namun, status sebagai milik Allah dan menjadi warga Kerajaan Surga jauh lebih penting!

Mungkin Yesus melihat gelagat kurang baik dari pernyataan murid-murid-Nya. Ada benih-benih kesombongan di balik pernyataan tersebut.

Oleh karena itu, Yesus segera mengingatkan agar murid-murid-Nya tidak terjebak dalam kesombongan. Hanya Tuhan yang patut dimuliakan dari semua keberhasilan mereka. Apalagi misi yang mereka kerjakan adalah misi Allah.

Semua orang rentan terjebak di dalam kesombongan. Bangga terhadap capaian tertentu adalah hal yang wajar. Hanya saja, kita harus selalu menyadari dan waspada akan bahaya kesombongan. Amsal 16:18 mengingatkan kita, "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan". Bahkan, manusia yang sombong akan ditundukkan dan direndahkan oleh Tuhan (bdk. Yes 2:17).

Oleh karena itu, kembali kita diingatkan, bagaimanapun keberadaan kita saat ini, setinggi apa pun pencapaian yang telah kita raih, dan dalam bidang apa pun, bersyukurlah kepada Tuhan dan tetaplah rendah hati. Ingatlah, semua itu adalah anugerah Tuhan dan harus kita pakai! [LRS]

Sumber: Santapan Harian

Kamis, 28 Agustus 2025

PELAJARAN DARI YUNUS

Bacaan: Yunus 1

NATS: Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku (Yunus 2:2)

Kisah Yunus adalah salah satu cerita yang paling sering didiskusikan dan sangat menarik di Alkitab. Namun, dari semua perdebatan tersebut, ada satu hal yang pasti: Yunus melakukan pencarian jati diri di hotel bawah air yang bau. 

Kita semua tahu bahwa terkadang hidup berjalan dengan tidak baik. Ketika hal itu terjadi, seperti Yunus, kita perlu mengajukan beberapa pertanyaan sukar kepada diri kita sendiri. 

Apakah ada dosa dalam hidup saya? Karena Yunus terang-terangan tidak taat, Allah harus melakukan sesuatu yang tegas untuk mendapatkan perhatiannya dan memimpinnya agar bertobat. 

Apa yang dapat saya pelajari dari situasi ini? Orang-orang Niniwe yang jahat adalah musuh umat Allah. Yunus berpikir bahwa mereka seharusnya dihukum dan tak diberi kesempatan kedua. Ia perlu belajar membagikan belas kasih Allah bagi orang-orang yang terhilang. "Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka" (Yunus 3:10). 

Dapatkah saya menunjukkan kemuliaan Allah dalam semua ini? Penderitaan kita sering tidak berkaitan dengan diri kita, tetapi berkaitan dengan bagaimana orang-orang melihat kuasa Allah bekerja melalui kelemahan kita. Yunus berada dalam situasi tidak berdaya, tetapi Allah menggunakannya untuk memimpin bangsa yang menyembah berhala itu menuju pertobatan. 

Lain kali apabila Anda mengalami masalah "perut ikan paus", jangan lupa mengajukan pertanyaan sukar tersebut. Semoga Anda menemukan kelepasan di tengah keputusasaan yang Anda hadapi --JMS 

KITA MENDAPATKAN PELAJARAN DI SEKOLAH PENDERITAAN YANG TIDAK DAPAT KITA PELAJARI DENGAN CARA LAIN

Sumber: Renungan Harian

Rabu, 27 Agustus 2025

Dari Luka Menuju Sukacita

Ayat Renungan: Yakobus 1: 17 – “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.”
 
Pernahkah Anda merasa bahwa hidup Anda penuh luka? Kita sering menganggap penderitaan—baik itu sakit, kehilangan, atau kegagalan—sebagai sebuah hukuman atau nasib buruk. Tak jarang, kita mulai berpikir bahwa hidup ini salah arah, dan hari-hari yang kita jalani terasa hampa, tanpa sukacita.

Namun, hari ini Tuhan ingin membukakan kepada kita sebuah kebenaran yang mengubah segalanya: bahwa penderitaan yang kita alami bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu menuju karya-Nya yang lebih besar. Ayat dalam Yakobus 1:17 menegaskan bahwa "Setiap pemberian yang baik dan sempurna datang dari Bapa di surga, dan itu tidak akan pernah berubah." Tuhan tidak memberikan penderitaan sebagai kutuk, melainkan seringkali mengizinkannya untuk membentuk kita.

Jika kita melihat konteks ayat ini dari Yakobus 1:12–15, kita menemukan bahwa pencobaan atau penderitaan bisa menjadi alat yang Tuhan pakai untuk mendewasakan iman kita, yang pada akhirnya membawa kita kepada mahkota kehidupan. Di tengah luka, kita diajak kembali kepada Tuhan—sumber segala terang—yang sanggup mengubah rasa sakit menjadi kekuatan, kehilangan menjadi harapan, dan luka menjadi sukacita.

Bayangkan saat rumah terbakar dan kita kehilangan segalanya, namun kita selamat—bukankah itu kesempatan untuk melihat kasih dan pemeliharaan Tuhan? Atau ketika hubungan hancur, namun di sanalah kita belajar mengampuni dan mengasihi dengan tulus.
 
Action Praktis:
Hari ini, beranikan diri untuk melihat kembali luka-luka masa lalu Anda. Doakan dan serahkan semuanya kepada Tuhan. Minta agar Dia memulihkan hati Anda dan mengubah luka itu menjadi sumber sukacita dan pengharapan. Percayalah, di tangan Bapa segala terang, tidak ada luka yang sia-sia.

Sumber: Jawaban.com

Selasa, 26 Agustus 2025

Ingatlah Perbuatan TUHAN

Bacaan Alkitab hari ini:
Mazmur 77

Mengingat kejadian di masa lalu kerap kali membuat kita merasa sedih, apalagi bila kejadian itu menyakitkan hati. Namun, bila kita bisa melihatnya dalam kerangka kedaulatan Allah, peristiwa itu akan terlihat sebagai proses yang dikerjakan TUHAN terhadap setiap anak-anak-Nya untuk menyiapkan masa yang akan datang.

Mazmur yang mengisahkan perbuatan Allah di masa lalu ini dimulai dengan seruan kepada Allah. Frase "dengan nyaring" (77:2) menunjukkan penekanan yang menggambarkan bahwa pemazmur memohon kepada Tuhan melalui doa yang dinaikkan secara intens, dengan harapan bahwa Tuhan mendengar permohonannya. Dalam kesusahannya, Asaf mengingat TUHAN, tetapi muncul kegelisahan. Dia berpikir bahwa TUHAN yang mendatangkan malapetaka atas bangsanya telah "membuang mereka" dan "lupa untuk menunjukkan kasih-Nya." Itu sebabnya, Asaf terus merenung dan berpikir sehingga rohnya tertekan dan menjadi lemah (77:2-11). Dalam perenungannya, dia kembali mengingat perbuatan TUHAN di masa lalu, sehingga dia mendapat kekuatan (77:12-16). Apa yang dia ingat? Dia mengingat pembebasan atau "penebusan" dari Tanah Mesir (Keluaran 6:6; 15:13; Ulangan 7:8; 9:26; 2 Samuel 7:23; dan 1 Tawarikh 17:21). TUHAN membelah laut untuk membentuk jalan. Air dan samudra raya ikut gemetar, deru guntur menggelegar, kilat menyinari bumi. Bumi gemetar dan berguncang. Dalam semuanya itu, TUHAN menuntun umat-Nya seperti gembala menuntun kawanan domba dengan pengantaraan Musa dan Harun (ay. 17-21).

Mengingat kebaikan Tuhan seharusnya menjadi seperti hembusan nafas kita. Mengingat kebaikan Tuhan akan memampukan kita untuk bersyukur dan memuji Dia. CS Lewis mengatakan hal yang senada, "Mengingat Tuhan bukan hanya soal berdoa atau beribadah, tetapi tentang memahami bahwa Dia adalah sumber dari setiap kebaikan yang kita rasakan dalam hidup." Harus diakui bahwa kita lebih sering mengingat hal-hal yang buruk serta mengingat masa-masa yang sulit daripada mengingat kebaikan Tuhan. Itulah sebabnya, kita sulit untuk bersyukur dan memuji Tuhan karena adanya pengalaman-pengalaman pahit tersebut. Mari kita belajar untuk melihat semua peristiwa yang terjadi dalam hidup ini dengan memakai kaca mata Tuhan, yaitu bahwa semua peristiwa itu terjadi karena TUHAN sedang mempersiapkan rencana yang indah dalam hidup ini. Dengan demikian, semua peristiwa—baik suka maupun duka, pahit maupun manis—adalah perbuatan Tuhan yang mendatangkan kebaikan. Bagaimana dengan Anda: Apakah Anda lebih suka mengingat perbuatan TUHAN yang baik atau lebih suka mengingat pengalaman buruk? [GI Yorimarlina Umboh]

Sumber: Renungan GKY

Senin, 25 Agustus 2025

Pertobatan Palsu

Bacaan: Hakim-hakim 2:1-5

“Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. - 
1 Samuel 15:22b

Sebelumnya kita telah merenungkan bagaimana orang Israel tidak sepenuhnya taat kepada Tuhan. Bagian yang kita baca hari ini merupakan kelanjutannya. 

Dikisahkan Malaikat Tuhan datang kepada orang-orang Israel. Anehnya, Malaikat ini berbicara seolah-olah Dia adalah Tuhan sendiri, sesuatu yang tidak dilakukan malaikat-malaikat biasa sebagai penyampai pesan Tuhan. Itulah sebabnya para penafsir Alkitab sepakat bahwa Malaikat ini tidak lain dan tidak bukan adalah Tuhan sendiri, yakni secara spesifik adalah Pribadi Kedua Allah Tritunggal sebelum menjadi manusia.

Sang Malaikat meneguhkan perjanjian-Nya dengan orang-orang Israel (ay. 1), tetapi Dia sedih dan menyesalkan mengapa mereka tidak taat kepada-Nya (ay. 2). Sang Malaikat kemudian memberitahukan konsekuensi dosa mereka, yakni bahwa bangsa-bangsa yang tidak mereka halau akan menjadi musuh mereka dan membawa mereka ke dalam penyembahan berhala (ay. 3).

Bagaimana respons orang Israel? Sepertinya bagian ini ditutup dengan happy ending, akhiran yang bahagia. Orang-orang Israel menangis dengan keras dan mempersembahkan korban kepada Tuhan. Bukankah ini hal yang baik? Mereka bertobat!

Sayang sekali, pertobatan mereka hanyalah pertobatan palsu. Kalau memang mereka sungguh-sungguh bertobat, Kitab Hakim-hakim akan selesai sampai di sini. Sayangnya, masih ada 20 pasal yang menceritakan segala kebobrokan mereka yang makin lama makin menjadi-jadi. Tangisan dan korban yang mereka persembahkan hanyalah sebuah ritual tanpa ada perubahan hati dan perilaku.

Demikianlah orang Israel di sepanjang Alkitab. Nantinya, ketika Pribadi Kedua Allah Tritunggal itu datang menjadi manusia dan memanggil mereka untuk bertobat, orang-orang Israel melakukan hal serupa. Kelihatannya banyak yang berbondong-bondong mengikuti Yesus. Namun, orang-orang ini juga yang nantinya berseru, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!”

Sudahlah. Tidak ada gunanya mengecam orang-orang Israel terus-terusan. Toh, kita sendiri seringkali hidup demikian, bukan? Kita jatuh dalam dosa. Kita memohon ampun. Kita jatuh lagi. Bisa dimaklumi kalau kita memang jatuh dalam kelemahan. Celakanya, seringkali kita dengan sengaja menjatuhkan diri ke lubang yang sama.

Memang, Tuhan kita Maha Pengampun. Masalahnya, apakah permohonan ampun kita adalah permohonan ampun yang sungguh-sungguh?

Refleksi Diri:
Apakah ada dosa-dosa yang masih belum Anda selesaikan di hadapan Tuhan? Maukah Anda membawanya kepada Tuhan?

Apa langkah-langkah praktis yang dapat Anda lakukan untuk memperbaiki kesalahan tersebut?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Minggu, 24 Agustus 2025

Nilai Diri: Pelajaran dari Anak Kecil 

Bacaan: Lukas 9:46-48 

Umumnya kita tidak mau dipandang kecil oleh siapa pun. Setiap orang ingin dihargai dan diberi tempat terbaik. Berbagai kalangan berlomba-lomba untuk mendapatkan kedudukan yang terbesar, tetapi ada satu kelompok yang hampir mustahil untuk mendapatkan posisi itu, yaitu anak kecil.

Di mata orang dewasa, anak kecil sering kali tidak didengarkan secara serius, dianggap tidak tahu apa-apa, dan tidak diikutsertakan dalam perbincangan. Di mana-mana, termasuk di gereja, anak kecil dipandang sebagai pengganggu. Karena itu, biasanya tidak ada orang dewasa yang ingin dibandingkan dan disamakan dengan anak kecil.

Namun, dalam perdebatan murid-murid Yesus soal siapa yang terbesar di antara mereka (46), Yesus justru mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya (47). Lalu, kepada para pengikut-Nya, Ia mengajarkan bahwa nilai diri seorang murid yang terbesar adalah nilai diri seorang anak kecil. Ia mengajarkan bahwa jika mereka ingin menyambut-Nya dan menyambut Allah Bapa, haruslah mereka menyambut anak kecil (48).

Hal ini mudah dikatakan, tetapi sulit dilakukan. Sebagian orang, bahkan tidak dapat menyambut anaknya sendiri, apalagi anak orang yang tak dikenal. Ke tengah-tengah budaya seperti ini, Yesus justru membawa ajaran yang sungguh berbeda. Sejatinya, seorang murid yang terbesar ialah seorang murid yang memiliki kesediaan untuk menerima siapa saja tanpa memandang usia, status, dan kedudukannya.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita tentang nilai diri kita sebagai murid Yesus. Di tengah dunia yang memiliki kebiasaan dan kecenderungan untuk memandang besar diri sendiri dan memandang kecil orang lain, kita diajar untuk melakukan hal sebaliknya, meninggikan sesama dan merendahkan diri layaknya anak kecil. Jadilah yang terbesar bukan di mata manusia, tetapi di mata Allah.

Karena itu, marilah kita berlomba-lomba untuk saling menerima dan memberikan tempat bagi orang lain tanpa ada pembedaan ataupun diskriminasi. [EMR]

Sumber: Santapan Harian

Sabtu, 23 Agustus 2025

SESUAI ATURAN PAKAI

Bacaan: Mazmur 119:33-48

NATS: Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku (Yeremia 15:16)

Dr. Smiley Blanton adalah seorang ahli jiwa kota New York yang sibuk. Ia menyimpan sebuah Alkitab di atas mejanya. Karena agak terkejut melihat hal tersebut, seorang klien bertanya kepadanya, Apakah Anda, sebagai seorang ahli jiwa, membaca Alkitab? 

Saya tidak hanya membacanya, tetapi juga mempelajarinya, kata Dr. Blanton yang adalah seorang kristiani yang saleh. Lalu ia menambahkan, Jika orang-orang bersedia menyerap pesannya, maka banyak ahli jiwa yang akan kehilangan pekerjaan. 

Untuk memperjelas maksudnya, Dr. Blanton mengatakan bahwa jika para klien yang terganggu oleh perasaan bersalah bersedia membaca perumpamaan tentang anak yang hilang dan bapanya yang mau mengampuni (Lukas 15:11-32), maka mereka dapat menemukan kunci kesembuhan. 

Apakah kita mencari kesembuhan di dalam firman Allah yang penuh kuasa? Kita mungkin membaca Alkitab, namun apakah kita benar-benar meyakini, mempelajari, dan menerapkan ajaran-ajarannya? Kebenaran Kitab Suci yang menyelamatkan merupakan obat Allah yang manjur untuk membebaskan kita dari penyakit dosa. 

Nabi Yeremia, di tengah kesulitan dan penderitaan, menemukan sukacita di dalam firman Tuhan (Yeremia 15:16). Sang pemazmur yang mencintai perintah-perintah Allah (Mazmur 119:48) berkata kepada-Nya, Aku hendak bergemar dalam perintah-perintah-Mu .... Aku hendak merenungkan ketetapan-ketetapan-Mu (ayat 47,48). 

Seperti layaknya obat, firman Allah pun harus digunakan sesuai dengan aturan pakai. Apakah Anda telah menyerap kebenarannya? VCG 

ALKITAB MENGANDUNG BERBAGAI VITAMIN YANG BERGUNA BAGI KESEHATAN JIWA

Sumber: Renungan Harian

Jumat, 22 Agustus 2025

KELOMPOK PENINJU DINDING

Bacaan: Yakobus 1:1-8

NATS: Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan (Yakobus 1:2)

Saya tak akan pernah lupa suatu kejadian saat kuliah dan tinggal di asrama. Setelah selesai menulis laporan penting yang harus dikumpulkan esok harinya, saya mendengar kericuhan di ruang seberang aula. Rekan sebelah kamar saya sangat panik sehingga melemparkan barang-barangnya saat mencari kertas laporannya. Karena frustrasi, ia meninju lemari dan berteriak, "Terima kasih, Allah. Kau menciptakan hidup yang sangat konyol!" 

Mungkin saya akan memberinya nilai A+ untuk bidang teologi -- setidaknya ia tahu bahwa Allah-lah yang memegang kendali. Namun, saya akan memberinya nilai F atas tanggapannya terhadap masalah tersebut. 

Bila kita marah kepada Allah karena hidup berjalan dengan tidak menyenangkan, kita perlu menjalani terapi alkitabiah secara teratur. Jadi, selamat datang dalam "Kelompok Peninju-Dinding" -- untuk mempelajari program 2-langkah tentang menanggapi penderitaan secara positif dan menghormati Allah. 

Langkah pertama: Pikirkan masalah itu. Tidak hanya tak terelakkan, masalah juga tidak pandang bulu. Masalah datang dalam berbagai bentuk dan ukuran. "Berbagai-bagai pencobaan" (Yakobus 1:2) memengaruhi kesehatan, karier, dan hubungan kita. Saat kita mampu memahami kenyataan, kita mulai dapat menghargai nilai penting permasalahan itu dalam kehidupan kita. 

Langkah kedua: Buanglah penolakan dan amarah, gantilah dengan sikap menerima dan bersukacita. "Anggaplah sebagai kebahagiaan" (ayat 2). Sukacita ini muncul bukan karena adanya rasa sakit, melainkan karena kita sadar Allah memakai rasa sakit itu untuk memurnikan dan menjadikan kita lebih baik, bukan lebih pahit --JMS 

ALLAH MEMILIH APA YANG HARUS KITA LALUI KITA MEMILIH BAGAIMANA KITA MELALUINYA

Sumber: Renungan Harian

Kamis, 21 Agustus 2025

Anda Bisa Memberitahu Tuhan Apa yang Sebenarnya Terjadi

Bacaan Hari ini:
Ratapan 2:19 “Bangunlah, mengeranglah pada malam hari, pada permulaan giliran jaga malam; curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan, angkatlah tanganmu kepada-Nya demi hidup anak-anakmu, yang jatuh pingsan karena lapar di ujung-ujung jalan!”

Apakah Anda berpikir hari Anda sial? Ayub sangat ahli akan hal ini; ibaratnya ia punya gelar PhD dalam hal rasa sakit dan kehilangan.
Pada pasal yang pertama kitab Ayub, dijelaskan bahwa segala sesuatu dalam hidupnya telah hancur berantakan. Bagaimana ia menanggapinya? “Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah,” (Ayub 1:20).

Perhatikan, Ayub dengan jujur mengungkapkan rasa sakitnya kepada Tuhan. Ketika mengalami rasa sakit, apakah Anda memberi tahu Tuhan apa yang Anda rasakan sejujur-jujurnya? Itulah yang harus Anda lakukan pertama kali.

Ini mungkin mengejutkan Anda, tetapi Tuhan dapat mengatasi amarah dan rasa frustrasi Anda. Dia dapat mengatasi emosi Anda. Mengapa? Karena Dia yang memberikannya kepada Anda. Anda diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya, dan Dia adalah Tuhan yang juga punya perasaan.

Ketika anak balita Anda mengalami ledakan amarah dan mulai bertingkah, Anda dapat mengatasinya. Sama halnya, Tuhan lebih besar dari emosi Anda, jadi, tidak apa-apa mengungkapkan apa yang Anda rasakan.

Ketika Anda berdoa memohon promosi jabatan tapi tidak mendapatkannya, ketika orang yang Anda sayangi pergi meninggalkan hidup Anda, atau ketika Anda mendapat panggilan telepon mengerikan yang mengatakan, "Ini kanker," beri tahu Tuhan apa yang sungguhnya Anda rasakan. Anda bisa berseru, “Aku marah. Aku kesal. Aku frustasi." Tuhan dapat menampung semua keluhan, pertanyaan, ketakutan, dan kesedihan Anda. Kasih Tuhan untuk Anda lebih besar dari semua emosi Anda.

Anak-anak saya tahu saya mencintai mereka. Mereka tahu saya punya lebih banyak pengalaman dibanding mereka karena saya lebih lama tinggal di planet ini. Namun, kadang anak-anak saya mempertanyakan penilaian saya. Tapi bagaimana pun juga, saya lebih suka melakukan percakapan yang jujur ????dengan mereka daripada membiarkan mereka memendam rasa frustrasi dan kekecewaan mereka sendiri.

Begitu pun dengan Tuhan! Dia lebih suka Anda bergulat dengan-Nya dalam kemarahan daripada pergi dengan sikap apatis.

Renungkan hal ini:
- Siapa orang pertama yang biasanya Anda ajak bicara mengenai masalah Anda? Mengapa Anda mempercayai orang itu? Apa bedanya jika saja Anda datang kepada Tuhan terlebih dahulu?
- Kapan Anda pernah memendam amarah Anda? Apa efeknya secara fisik dan emosional bagi Anda?
- Apa yang akan Anda lakukan untuk bisa lebih jujur - kepada Tuhan dalam doa-doa Anda?

Ketika sebuah tragedi terjadi, Anda tak perlu tersenyum atau menahannya. Sebaliknya, datanglah kepada Bapa surgawi dengan rasa sakit Anda. “Bangunlah, mengeranglah pada malam hari, pada permulaan giliran jaga malam; curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan, angkatlah tanganmu kepada-Nya demi hidup anak-anakmu, yang jatuh pingsan karena lapar di ujung-ujung jalan!” (Ratapan 2:19).

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Rabu, 20 Agustus 2025

Teman di Tengah Malam

Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat. –Yohanes 15:15

Ayat Bacaan & Wawasan :

Yohanes 15:9-17
“Siapa yang dapat Anda hubungi di tengah malam ketika ada sesuatu yang tidak beres?” Pertanyaan ini mengguncang saya ketika saya pertama kali mendengarnya bertahun-tahun lalu. Berapa banyak persahabatan saya yang cukup kuat sehingga saya dapat mengandalkan mereka di saat saya sangat membutuhkan? Saya tidak tahu.

Kitab Suci banyak berbicara tentang persahabatan, dengan menggambarkan seorang teman sebagai seseorang yang bisa dipercaya (Ams. 11:13; 16:28), memberi teguran (27:6), dan menghormati batasan (25:17). Namun, mungkin tidak ada yang mendefinisikan persahabatan lebih kuat daripada Yesus. Bagi para penjual, kita adalah pelanggan, dan bagi para pemberi kerja, kita adalah bawahan, tetapi bagi Dia, Tuan atas segalanya, kita adalah “sahabat” (Yoh. 15:15). Yesus menyatakan bahwa persahabatan-Nya dibangun atas dasar kasih kepada Allah dan kerelaan berkorban (ay. 13,15)—sesuatu yang Dia sendiri teladankan dan Dia kehendaki untuk diteruskan (ay. 12).

Beberapa tahun setelah mendengar pertanyaan di atas, saya dan istri menderita kehilangan yang cukup besar. Darren, salah satu dari sedikit orang yang mengetahui apa yang terjadi, menempuh perjalanan selama dua jam untuk menemui saya, mendengarkan kemarahan dan kepedihan saya, serta berdoa bagi saya. Darren adalah orang sibuk dengan banyak hal lain yang perlu dilakukannya. Namun, ia mengikuti teladan Yesus dengan menjadi sahabat yang rela berkorban. Saya benar-benar memiliki seorang sahabat di saat saya membutuhkannya.

Pertanyaannya, apakah orang lain melihat saya sebagai “teman di tengah malam” baginya? Karena tidak ada cara yang lebih baik untuk memperoleh lebih banyak teman selain dengan menjadi teman yang baik.

Oleh: Sheridan Voysey

Renungkan dan Doakan
Siapa yang dapat Anda hubungi di tengah malam, ketika ada sesuatu yang tidak beres? Mengapa penting kita hadir bagi orang lain, di saat mereka membutuhkan pertolongan kita?

Tuhan Yesus, tolonglah aku menjadi sahabat bagi sesamaku, seperti yang Engkau teladankan.

Sumber: Our Daily Bread

Selasa, 19 Agustus 2025

Dipimpin oleh Roh Kudus

Roh Kudus . . . akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. –Yohanes 14:26

Ayat Bacaan & Wawasan :
Yohanes 14:15-26

Ketika aplikasi petunjuk arah menyarankan sebuah rute yang akan mempersingkat hampir satu jam perjalanan mereka dari Las Vegas ke Los Angeles, Shelby Easler dan saudara lelakinya pun mengikuti arah alternatif tersebut. Namun, “jalan pintas” itu ternyata membawa mereka menyusuri jalan tidak beraspal selama berjam-jam, yang akhirnya membuat mereka terdampar di Gurun Mojave, California, di tengah badai debu yang sedang melanda. Mereka memang berhasil berbalik arah, tetapi akhirnya mobil mereka harus diderek karena rusak parah akibat medan yang berat. Pengembang aplikasi tersebut kemudian meminta maaf kepada sejumlah pengemudi yang telanjur mengikuti panduan arah yang keliru itu.

Penting bagi kita untuk mengetahui siapa yang kita andalkan dalam memberikan petunjuk. Sebagai orang percaya, kita telah diberikan Roh Kudus untuk memimpin dan menuntun kita dalam kebenaran.

Ketika Yesus tahu Dia akan segera mati dan terpisah dari murid-murid-Nya, Dia meyakinkan mereka bahwa Dia tidak akan meninggalkan mereka begitu saja. Yesus mendorong murid-murid-Nya untuk menaati perintah-Nya dan juga berbicara tentang Roh Kudus, atau Roh kebenaran, yang dijanjikan-Nya, yang akan menyertai mereka selamanya dan tinggal di dalam mereka (Yoh. 14:15-17). “Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (ay. 26).

Marilah kita terus mengikuti tuntunan Roh Kudus di sepanjang hari-hari kita. Kita tahu Dia tidak akan pernah menyesatkan kita.

Oleh: Nancy Gavilanes

Renungkan dan Doakan
Apa yang memampukan Anda untuk mengikuti tuntunan Roh Kudus? Bagaimana Anda dapat lebih bersungguh-sungguh mengikuti-Nya?

Ya Allah, terima kasih untuk Roh-Mu yang kudus.

Sumber: Our Daily Bread

Senin, 18 Agustus 2025

Kebaikan di Toko Sepatu

Di sebuah toko sepatu, seorang remaja menatap sepasang sepatu sekolah. Tangannya memegang label harga, lalu merogoh dompet tipis di sakunya. Ia menghitung uangnya pelan-pelan, berharap masih cukup.
Ternyata tidak.

Ia berdiri lama di tempat yang sama sampai seorang pria tua mendekat dan bertanya, "Kurang berapa? Biar saya bantu."
Remaja itu buru-buru menggeleng. "Nggak, Pak. Makasih…"
Tapi pria tua itu tetap menyodorkan beberapa lembar uang dengan senyum hangat. "Saya cuma meneruskan kebaikan orang lain."

Tahun-tahun berlalu. Remaja itu tumbuh, bekerja keras, dan kini menjadi seorang pebisnis sukses. Suatu sore, ia mampir ke sebuah toko sepatu untuk membeli sepatu baru. Di dekat rak, ia melihat seorang ibu dan anak berdiri diam, memandangi sepatu sekolah yang harganya tak murah. Sang ibu menghitung uangnya sambil berbisik pelan.

Ia terdiam beberapa detik. Lalu berjalan mendekat dan berkata, "Bu, saya bantu sedikit ya."
Anak itu menatap dengan mata berbinar. Sang ibu tertegun, matanya mulai berkaca-kaca.
Sambil menyerahkan uang di tangannya, ia merasa utang kebaikan itu akhirnya lunas. Dan hari itu, mungkin ia baru saja menanam yang baru.

Kebaikan tidak pernah mati. Ia mungkin tidak selalu kembali dari orang yang sama, tapi akan datang kembali di waktu yang tak kita duga. Seorang remaja yang dulu menerima bantuan, akhirnya bisa menolong orang lain di kemudian hari. Ia tidak membalas kepada orang yang sama, tapi ia meneruskan kebaikan itu kepada yang membutuhkan.

Inilah kasih yang Tuhan ajarkan, kasih yang memberi tanpa pamrih, menolong tanpa menunggu imbalan. Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk menerima kasih-Nya, tetapi juga untuk menjadi saluran kasih itu bagi sesama. Bahkan kepada orang yang tidak kita kenal, atau mungkin tidak bisa membalas apa-apa.

Mari kita belajar untuk memberi seperti Yesus memberi: dengan tulus, tanpa menghitung untung rugi. Sebab setiap kebaikan yang kita tabur dalam kasih, tidak akan pernah sia-sia di hadapan Tuhan.

"Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Lukas 6:38)

Sumber: Renungan dan Ilustrasi Kristen

Minggu, 17 Agustus 2025

Memelihara Kemerdekaan Kita

Ayat Renungan: Amsal 4: 25-27 – “Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka. Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.”

Di dunia yang penuh dengan godaan ini, mudah bagi Anda dan saya untuk terbawa arus dan berkompromi dengan nilai-nilai yang dianut oleh dunia. Tetapi Firman Tuhan pagi ini mengingatkan kita untuk tetap memandang lurus ke depan, berjalan dalam kebenaran dan taat melakukan kehendak Tuhan.

"Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka. Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan." (Amsal 4: 25-27)

Setelah kita memperoleh kemerdekaan sepenuhnya di dalam Tuhan, artinya kita sudah menjadi manusia yang baru dan merdeka dari segala perbudakan dosa. Hidup kita dipenuhi dengan nilai-nilai Kerajaan Allah - yang jelas sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang ada di dunia ini.

Inilah yang disampaikan di dalam Imamat 26: 31, "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, supaya kamu jangan lagi menjadi budak mereka. Aku telah mematahkan kayu kuk yang di atasmu dan membuat kamu berjalan tegak." Jadi, bagian ayat di atas merupakan buah dari anugerah keselamatan yang Tuhan berikan. Namun untuk menghasilkan buah, kita perlu mengusahakan hidup kita "tetap memandang lurus ke depan, berjalan dalam kebenaran dan taat melakukan kehendak Tuhan." 

Hari ini, sehubungan dengan peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-80, Firman Tuhan mau kembali mengingatkan kita tentang pentingnya memelihara kemerdekaan kita. Bagaimana caranya? Berikut 3 langkah praktis yang bisa kita lakukan:

Pertama, fokus pada Tuhan. Tetapkan pandangan pada rencana Tuhan, bukan godaan di sekitar. Seperti menghindari Oreo saat diet, kita pun bisa menghindari “godaan rohani” dengan terus menatap tujuan yang Tuhan tetapkan.

Kedua, jaga hati dan pikiran. Lindungi hati dari pengaruh yang menjauhkan dari kebenaran-Nya (Amsal 4:23). Alihkan pandangan dari hal yang sia-sia (Mazmur 119:36) dan isi hidup dengan hal-hal yang memuliakan Tuhan.

Ketiga, andalkan doa. Doa membawa damai dan kekuatan (Filipi 4:6-7). Serahkan kekhawatiran kepada-Nya, minta bimbingan-Nya, dan jadikan doa kebiasaan setiap saat agar hati dan pikiran tetap selaras dengan kehendak-Nya.      

Hari ini, pilihlah untuk berjalan lurus dalam jalan Tuhan. Singkirkan setiap godaan yang mengalihkan pandangan, jagalah hatimu dari pengaruh yang menyesatkan, dan bicaralah dengan Tuhan dalam doa sebelum mengambil setiap langkah. Kemerdekaan rohani bukan sekadar status, tapi keputusan yang kita ambil setiap hari. Mulailah sekarang—fokuslah pada Tuhan, jaga hatimu, dan berdoalah tanpa henti.

Yohanes 8:31-32 "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."

Sumber: Jawaban.com

Sabtu, 16 Agustus 2025

SAAT BERBELAS KASIH

Bacaan: Lukas 23:26-34

NATS: Yesus berkata, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lukas 23:34)

Pada tahun 2002 saya berada di Jakarta, Indonesia. Saat itu saya menjadi pengajar selama dua malam dalam suatu konferensi Alkitab. Malam pertama, saya berangkat lebih awal ke gereja yang menjadi penyelenggara acara, dan sang pendeta mengajak saya untuk berkeliling gedung. Keindahan gereja itu mengesankan saya. 

Kemudian sang pendeta mengajak saya ke ruangan yang besar di tempat yang lebih rendah. Di bagian depan terdapat mimbar dan meja Perjamuan Kudus. Di belakangnya tampaklah dinding beton sederhana dengan salib kayu menempel di dinding. Di bawahnya tertera tulisan berbahasa Indonesia. Saya menanyakan apa bunyi tulisan itu, dan saya terkejut saat ia mengutip perkataan Kristus yang dilontarkan-Nya dari atas kayu salib, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." 

Saya menanyakan apakah ada alasan khusus sehingga tulisan itu tertulis di situ. Ia lalu menjelaskan bahwa beberapa tahun sebelumnya di kota ini pernah terjadi kerusuhan hebat, dan 21 gereja dibakar habis dalam satu hari. Dinding beton itu merupakan satu-satunya yang tersisa -- dari gereja pertama yang dibakar. 

Dinding dan ayat tersebut mengingatkan mereka pada belas kasih yang ditunjukkan Kristus di atas kayu salib, dan hal itu menjadi pesan gereja bagi kota mereka. Balas dendam dan kepahitan bukanlah respons yang menyembuhkan kebencian dan kemarahan dunia yang terhilang ini. Akan tetapi, belas kasih Kristus dapat menjadi respons yang memulihkan, seperti halnya yang terjadi 2.000 tahun silam --WEC 

BELAS KASIHAN DIBUTUHKAN UNTUK MENYEMBUHKAN LUKA DAN HATI SESAMA

Sumber: Renungan Harian

Jumat, 15 Agustus 2025

Jangan Abaikan Sahabatmu 

Bacaan: Kisah Para Rasul 27:1-13 

Setelah persidangan yang manipulatif dan tidak ramah, Tuhan menyediakan penghiburan bagi Paulus melalui persahabatan yang tidak lazim.

Yulius adalah seorang perwira dari batalion Kaisar, yang kepadanya diserahkan Paulus dan tahanan lainnya. Namun, ia memperlakukan Paulus dengan ramah dan memberinya kelonggaran (3). Tampaknya mereka mulai menjalin persahabatan.

Namun, persahabatan itu diuji ketika pelayaran mereka terus dihadang oleh angin yang membuat mereka tidak kunjung tiba di tujuan dan kehilangan banyak waktu (4-9). Paulus sudah memperingatkan betapa berbahayanya pelayaran mereka (10). Namun, Yulius dengan sengaja mengabaikan peringatan Paulus (11).

Patut dimaklumi bahwa Yulius sebagai perwira lebih mendengarkan juru mudi dan nahkoda. Lebih logis baginya untuk percaya kepada kru kapal yang berpengalaman daripada kepada Paulus yang tak memiliki latar belakang sebagai pelaut. Apalagi cuaca yang terlihat mendukung sangkaan mereka (12-13). Namun, Yulius tidak menyadari bahwa ia sedang mengabaikan sahabatnya dan cuaca akan berubah dengan cepat.

Camkanlah, persahabatan tidak melulu tentang kata-kata yang ramah, tetapi juga peringatan yang melukai (Ams 27:6). Seorang sahabat mungkin memperingatkan kita dengan kata-kata tidak menyenangkan, tetapi sebenarnya, ia sedang menghindarkan kita dari badai mematikan. Sebaliknya, lawan bisa saja membuat kita senang dan merasa semuanya baik-baik saja, padahal ia hanya mengarahkan kita ke dalam celaka.

Jika kita memiliki sahabat, percayalah kepadanya. Sekalipun ia sepertinya tidak tahu apa-apa, setidaknya dengarkanlah peringatannya.

Bersikap ramah kepada sahabat adalah hal yang baik, tetapi hal terbaik yang dapat kita berikan kepada sahabat adalah kepercayaan kita. Beryukurlah kepada Tuhan yang mengirimkan sahabat dalam masa kesesakan kita, dan berterima kasihlah atas kehadiran sahabat yang peduli akan kebaikan kita. [PHM]

Sumber: Santapan Harian

Kamis, 14 Agustus 2025

DARI TERBENAM HINGGA TERBIT

Bacaan: Ibrani 9:24-28

NATS: Sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya untuk satu kali saja ... demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengurbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang (Ibrani 9:27,28)

Kariel sedang dalam perjalanan pulang dari acara anak-anak di gereja dengan teman-teman yang juga tetangganya. Sambil mengagumi matahari terbenam, ia berkata pada Gini, sang pengemudi, Matahari yang terbenam itu indah sekali, seperti surga! Lalu Gini bertanya, Kamu tahu cara masuk surga? Kariel, yang baru berumur 5 tahun, menjawab dengan yakin, Anda harus memiliki Yesus sebagai Juruselamatdan aku memiliki-Nya! Kemudian ia mulai bertanya kepada teman-temannya di dalam mobil itu, apakah mereka juga mengenal Yesus. 

Pada sore yang sama, Chantel, kakak perempuan Kariel yang berusia 13 tahun sedang berada di gereja lain, ketika seseorang bertanya apakah ia mengenal Yesus sebagai Juruselamat. Ia berkata bahwa ia mengenal-Nya sebagai Juruselamat. 

Pada dini hari berikutnya, api yang berkobar melalap habis rumah Kariel dan Chantel, dan keduanya meninggal secara mengenaskan. Saat matahari terbit, mereka sudah berada di surga bersama Yesus. 

Tak ada yang tahu akan hari esok. Pertanyaan yang sangat penting adalah: Sudahkah kita mengakui kebutuhan kita akan pengampunan Allah atas dosa kita dan memercayai Yesus sebagai Juruselamat? (Roma 3:23; Yohanes 1:12). Dosa telah memisahkan kita dari Allah dan kita seharusnya dihakimi, namun Yesus memberikan hidup-Nya untuk menggantikan kita (Ibrani 9:27,28). 

Pastikan Anda telah memiliki keyakinan seperti Chantel dan Kariel. Kemudian, ketika Anda meninggal nanti, Anda akan bersama dengan Yesus AMC 

TERBENAMNYA MATAHARI DI SUATU NEGERI BERARTI TERBITNYA MATAHARI DI NEGERI YANG LAIN

Sumber: Renungan Harian

Rabu, 13 Agustus 2025

Menderita Sengsara dan Menjalani Mil Kedua

Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. — Matius 5:39

Ayat ini menyatakan penghinaan yang diterima seseorang karena menjadi seorang Kristen. Dalam lazimnya, jika seseorang tidak membalas tamparan, itu disebabkan dia seorang pengecut. Akan tetapi, dalam alam rohani, jika dia tidak balas memukul maka itu merupakan bukti dari keberadaan Anak Allah dalam dirinya.

Bila Anda dihina, Anda bukan saja tidak boleh merasa jengkel, melainkan Anda harus menjadikan itu sebagai peluang untuk menunjukkan/menyatakan Anak Allah di dalam hidup Anda. Dan Anda tidak dapat meniru sifat (nature) Yesus -- tetapi hal itu ada di dalam diri Anda, atau tidak. Hinaan pribadi menjadi peluang bagi seorang percaya untuk menyatakan kebaikan Tuhan Yesus yang luar biasa -- the incredible sweetness of the Lord Jesus.

Ajaran Khotbah di Bukit bukanlah, “Lakukanlah kewajibanmu,” melainkan, “Lakukanlah hal yang bukan kewajibanmu.” Bukan menjadi kewajiban Anda untuk berjalan sejauh dua mil atau memberikan lagi pipi lainnya untuk ditampar, tetapi Yesus berkata jika kita menjadi murid-Nya, maka kita diminta selalu melakukan hal ini. Kita takkan berkata, “Ah, aku tidak dapat melakukannya lagi, dan aku telah disalah mengerti dan disalahpahami.”

Setiap kali saya berkeras akan hak-hak saya, saya menyakiti Anak Allah, padahal sebenarnya saya dapat mencegah agar Yesus tidak disakiti jika saya mau menerima tamparan itu. Itulah makna sesungguhnya dari “menggenapkan dalam tubuhku apa yang kurang pada penderitaan Kristus” (Kolose 1:24). Seorang murid menyadari bahwa kehormatan Tuhanlah yang dipertaruhkan dalam hidupnya, bukan kehormatannya sendiri.

Jangan pernah mencari kebenaran (righteousness) dalam diri orang lain, tetapi Anda sendiri jangan pernah berhenti menjadi benar. Kita selalu mencari keadilan, tetapi inti sari ajaran Khotbah di Bukit ialah -- Jangan pernah mencari keadilan, tetapi jangan pernah berhenti untuk memberikan keadilan itu.

Sumber: Renungan Oswald Chambers

Selasa, 12 Agustus 2025

Ikut Tuntunan Tuhan

Bacaan: 1 Tawarikh 14:8-17

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.- Amsal 3:5

Ada kesadaran yang muncul ketika saya membaca semakin banyak buku. Ternyata semakin banyak membaca buku, semakin saya sadar bahwa saya banyak tidak tahu. Banyak sekali hal-hal baru yang belum diketahui saya dapatkan dari membaca buku. Kenyataan ini baru tentang buku, coba pikirkan tentang Tuhan. Pikiran Tuhan tak terselami, hikmat-Nya begitu dalam, level pikiran kita dibandingkan Tuhan sangat jauh sekali. Karena itu, kita tidak boleh sok-sokan dalam hidup, tetapi seharusnya bersandar kepada Tuhan yang akan menuntun kita.

Kita melihat Daud akan berhadapan dengan orang Filistin, apa yang Daud lakukan? Daud bertanya kepada Tuhan, “Apakah aku harus maju melawan orang Filistin?” Mari kita berpikir sejenak tentang siapa Daud. Daud adalah seorang berpengalaman di medan peperangan. Musuh yang dikalahkannya sudah begitu banyak, sampai-sampai orang banyak memuji Daud yang mengalahkan musuh berlaksa-laksa (1Sam. 18:7). Ia bukan anak kemarin sore yang akan bertempur. Pengalaman dan keahliannya tidak perlu diragukan. Namun ternyata, Daud tetap bertanya kepada Tuhan. Ketika Tuhan menjawab, Daud pun melakukan apa yang Dia katakan. Tidak berhenti di situ, sewaktu Daud berhasil memenangkan peperangan, ia mengakui kemenangannya diperoleh karena Allah yang melakukannya, bukan karena kehebatan dirinya.

Terkadang ada orang yang sungguh meminta pimpinan Tuhan di dalam hidupnya. Namun begitu sukses, ia menceritakan keberhasilannya karena perjuangannya, kerja kerasnya, sehingga sorot lampu hanya diarahkan kepada dirinya. Kita perlu ingat, dalam segala kerja keras dan usaha kita, ada Tuhan yang menolong segalanya. Kita memerlukan tuntunan Tuhan dalam kehidupan kita, sekalipun sudah sangat ahli dan hebat dalam hal tersebut. Kita tidak pernah terlalu pintar sampai-sampai tidak memerlukan lagi tuntunan Tuhan.

Kita tidak bisa menemukan jalan untuk bisa menyelamatkan diri, tetapi Tuhan Yesus-lah jalan keselamatan yang membawa kita selamat. Ingatlah selalu akan hal ini, bahwa hidup kita seluruhnya adalah anugerah dari Tuhan. Karena itu, senantiasalah berjalan dengan bersandar pada pimpinan Tuhan saja. Semua keberhasilan kita tidaklah berarti tanpa adanya tuntunan Tuhan yang membukakan jalan dan memimpin setiap langkah hidup kita.

Refleksi Diri:
Mengapa Anda perlu tuntunan Tuhan dalam hidup?

Apa yang mau Anda lakukan ketika berhasil di dalam sesuatu yang Anda kerjakan?

Sumber: Renungan Hok Im Tong

Senin, 11 Agustus 2025

PERHATIKAN SAJA

Bacaan: 1 Korintus 4:14-17

NATS: Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus (1 Korintus 11:1)

Seorang anak laki-laki memandang kakeknya dan melontarkan pertanyaan dengan lantang, Kek, bagaimana Kakek menjalani hidup bagi Yesus? Kakek yang dihormati itu membungkuk dan berbisik kepada anak laki-laki tersebut, Perhatikan diriku saja. 

Tahun berganti tahun, kakek itu memberikan teladan bagi anak tersebut untuk mengikuti Yesus. Ia tetap teguh menjalani hidup bagi-Nya. Namun, cucunya acap kali hidup dengan cara yang tidak menyenangkan Allah. 

Pada suatu hari anak muda tersebut mengunjungi kakeknya dan mereka menyadari bahwa itu adalah kunjungan terakhir. Saat kakeknya terbaring tak berdaya, sang cucu membungkuk ke arah tempat tidur dan mendengar kakeknya berbisik, Apakah kamu telah memerhatikan aku? 

Itulah saat yang menentukan dalam kehidupan anak laki-laki tersebut. Ia mengerti bahwa saat kakeknya berkata, Perhatikan diriku saja, ia bermaksud, Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus (1 Korintus 11:1). Ia berjanji bahwa sejak saat itu ia akan hidup seperti kakeknyaberjuang untuk menyenangkan Yesus. Ia telah memerhatikan dan sekarang ia tahu bagaimana ia harus hidup. 

Apakah ada seseorang yang memerhatikan Anda? Apakah ada kaum muda kristiani yang perlu melihat bahwa hidup bagi Yesus setiap hari dan dalam segala hal adalah sesuatu yang mungkin untuk dilakukan? Tantanglah mereka dan juga diri Anda sendiri. Tantanglah mereka untuk memerhatikan. Lalu tunjukkan caranya kepada mereka JDB 

TAK ADA KHOTBAH YANG LEBIH BAIK DARIPADA TELADAN YANG BAIK

Sumber: Renungan Harian

Minggu, 10 Agustus 2025

Tuhan Selalu Punya Cara 

Bacaan: Kisah Para Rasul 23:12-22 

Paulus yang sudah menjadi tahanan tetap dianggap sebagai ancaman oleh orang-orang yang dipenuhi kebencian. Tanpa henti komplotan orang Yahudi terus mencari strategi agar Paulus bisa dihukum mati.

Strategi yang mereka persiapkan dengan sembunyi-sembunyi kali ini adalah sumpah. Mereka bersumpah tidak akan makan dan minum sebelum mereka membunuh Paulus dengan tangan mereka sendiri (12-13). Supaya mereka mendapat kesempatan untuk melancarkan strategi itu, mereka meminta imam-imam kepala dan tua-tua agar Mahkamah Agama meminta kepala batalion untuk memeriksa Paulus kembali. Pada saat itulah mereka akan beraksi (14-15).

Apa yang bisa Paulus lakukan? Dia berada di dalam tahanan, dan dia tidak tahu apa-apa tentang strategi yang dirancang oleh para pembenci di luar sana. Namun, dalam ketidaktahuan Paulus, Tuhan tahu segalanya.

Sehebat-hebatnya para pembenci merancang strategi, Tuhanlah yang memegang kendali. Keponakan Paulus mendengar apa yang mereka rancangkan, sehingga dia dapat memberitahukan hal itu kepada Paulus, lalu kepada kepala batalion (16-22). Apa yang terjadi bisa tampak seperti kebetulan, tetapi pastilah tidak terlepas dari cara Tuhan melindungi Paulus.

Kisah ini menjadi cerminan bahwa apa pun yang orang rancangkan bagi kita, sebaik apa pun mereka mengatur strategi untuk menjatuhkan kita, Tuhan selalu punya cara untuk melindungi kita.

Kita tidak tahu apa saja yang akan terjadi dalam hidup kita. Entah baik atau buruk yang akan kita alami nantinya. Namun, asal Tuhan melindungi kita, amanlah kita. Dialah Allah Yang Maha Tahu, yang tahu segalanya, termasuk kebencian yang ada di dalam hati para pembenci dan strategi yang dibuat di dalam pikiran mereka untuk menyerang kita. Dialah Sang Sutradara Besar dari kisah hidup kita, yang mampu menghadirkan orang yang tepat di tempat dan waktu yang tepat untuk menolong kita.

Bagian kita bukan meringkuk ketakutan, tetapi menjalankan panggilan-Nya bagi kita dengan sebaik-baiknya. [RBM]

Sumber: Santapan Harian

Sabtu, 09 Agustus 2025

KESAN YANG SALAH

Bacaan: Yosua 22:10-34

NATS: Inilah saksi antara kita, bahwa Tuhan itulah Allah (Yosua 22:34)

Novel Jane Austen, Pride and Prejudice (Keangkuhan dan Prasangka), mengisahkan seorang wanita Inggris dari kelas menengah-atas bernama Lizzy Bennet yang disukai oleh Tuan Darcy, seorang pria kaya raya yang pendiam dan berkarakter rumit. Pertama kali bertemu, Lizzy memiliki kesan bahwa Tuan Darcy adalah pria yang sombong, tertutup, dan hanya memikirkan diri sendiri. Jadi, ketika Tuan Darcy menyatakan cinta kepadanya, Lizzy menolaknya. Lalu, ketika Lizzy tahu rahasia tentang banyaknya perbuatan baik yang dilakukan Tuan Darcy secara diam-diam bagi orang lain, Lizzy pun mengakui bahwa ia telah salah sangka terhadap Tuan Darcy dan akhirnya ia bersedia menikah dengannya. 

Yosua 22 mencatat hal lain tentang kesan pertama yang salah. Bani Ruben, Gad, dan Manasye telah membangun mezbah di dekat Sungai Yordan. Ketika suku-suku Israel lain mengetahui hal itu, mereka marah (ayat 9-12) sebab Allah telah memerintahkan bahwa hanya Dialah yang patut disembah dan persembahan hanya dapat dilakukan di Kemah Pertemuan (Keluaran 20:3; Imamat 17:8,9). Mereka memandang pembangunan mezbah yang dilakukan ketiga suku tersebut sebagai tindakan murtad. Untunglah, Imam Pinehas mengirimkan utusan untuk menyelidiki alasan ketiga suku itu membangun mezbah (Yosua 22:13-33). Mereka kemudian menjelaskan kepada utusan itu bahwa mezbah yang mereka bangun tersebut merupakan peringatan akan persatuan semua suku yang mengakui adanya satu Allah Israel (ayat 34). 

Acap kali kesan-kesan pertama kita salah. Meskipun demikian, komunikasi yang terbuka dapat memperbaiki kesalahpahaman yang disebabkan oleh keangkuhan dan prasangka kita --HDF 

KESAN PERTAMA SERING MEMBUAT KITA MENGAMBIL KESIMPULAN YANG KELIRU 

Sumber: Renungan Harian

Jumat, 08 Agustus 2025

Apakah Anda Melihat Orang Lain Seperti Yesus Melihat Mereka?

Bacaan Hari ini:
Markus 6:34 “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.”

Bagaimana Anda tahu bahwa Anda sedang melihat kehidupan dari sudut pandang Tuhan? Dengan merenungkan bagaimana Anda melihat orang lain.

Inilah ujian terbesar untuk menguji kedewasaan rohani Anda. Ini merupakan indikator kedewasaan rohani yang lebih baik dibanding seberapa banyak isi Alkitab yang Anda tahu, seberapa sering Anda pergi ke gereja, atau apakah Anda melayani, memberi persepuluhan, atau berdoa.

Izinkan saya menanyakan beberapa pertanyaan penting:

Bagaimana Tuhan melihat pasangan Anda? Berharga. Sepadan. Layak untuk dikasihi. Layak untuk diampuni. Apakah demikian pula Anda memandang pasangan Anda?

Bagaimana dengan orang asing yang Anda jumpai di supermarket? Orang yang menyalip kendaraan Anda di jalan raya? Pengemis di pinggir jalan? Apa yang Anda lihat ketika melihat orang lain? Apakah Anda melihat mereka sebagai gangguan dan beban?

Bagaimana dengan rekan kerja Anda? Apakah Anda melihat mereka sebagai musuh? Kompetitor? Atau apakah Anda melihat mereka seperti Tuhan melihat mereka?

Semua orang berharga bagi Tuhan. Siapa pun mereka, apa pun yang pernah mereka lakukan, bahkan apa pun kepercayaan yang mereka yakini, Kristus telah mati buat mereka. Yesus mengasihi mereka. Allah punya rencana bagi semua orang, dan Dia ingin mereka memiliki hubungan dengan-Nya.

Alkitab mengatakan dalam Markus 6:34, "Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.”

Begitulah cara Yesus memandang manusia. Demikian pula Anda harus memandang orang lain. Marilah kita belajar untuk berbelas kasih dengan keluarga kita, tetangga kita, komunitas kita, negara kita, dan seluruh dunia.

Kiranya mata rohani Anda menjadi semakin kuat saat Anda belajar untuk memandang orang lain sebagaimana Yesus memandang mereka. 

Renungkan hal ini:
- Apa yang menghambat Anda untuk melihat orang lain lewat mata Tuhan? Itu bisa jadi berupa gangguan-gangguan seperti keangkuhan, persaingan, atau kesibukan. Apa yang bisa Anda lakukan untuk mempersempit ruang gerak gangguan tersebut?
- Ketika Anda melihat orang lain melalui mata Tuhan, bagaimana cara pandang Anda berubah?
- Bagaimana Anda dapat menunjukkan kasih sayang Anda kepada orang lain terutama kepada keluarga atau orang-orang yang paling dekat hubungannya dengan Anda?

Hidup ini adalah tentang kasih dan hubungan. Jadi, jika Anda ingin mengukur kedewasaan rohani Anda, pikirkan bagaimana Anda melihat orang lain. 

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Kamis, 07 Agustus 2025

Memandang Masalah dari Sudut Pandang yang Berbeda
 
Ayat Renungan: Roma 8: 28 – “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
 
Saudara yang dikasihi Tuhan, siapa sih yang suka dengan masalah? Hampir semua orang ingin hidup tanpa masalah. Tapi bagaimana jika kita mulai melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda?

Anak saya yang kedua pernah mengikuti praktik bedah mayat. Sebelum memulai, dosennya berkata, “Lihatlah mereka sebagai pahlawan kalian, karena tanpa mereka, kalian tidak akan bisa belajar menjadi dokter.” Kata-kata itu mengubah perspektif. Apa yang tadinya menakutkan, ternyata bisa menjadi pelajaran yang sangat berarti.

Demikian pula dengan masalah. Kita sering melihatnya sebagai sesuatu yang menakutkan dan ingin kita hindari. Tapi justru dalam masalah, Tuhan membentuk karakter kita: sabar, setia, tekun, murah hati, dan penuh belas kasihan. Masalah membuat kita lebih kuat dan memahami arti pengampunan. Inilah pelajaran hidup yang tak diajarkan di sekolah dan tak bisa dibeli.

Firman Tuhan dalam Roma 8:28 mengingatkan bahwa segala sesuatu — termasuk masalah — bisa dipakai Tuhan untuk mendatangkan kebaikan. Saat kita memilih untuk melihat masalah sebagai kesempatan, bukan ancaman, kita sedang membangun hidup yang lebih berkualitas.

Minggu ini, mari kita belajar melihat masalah kita dari sudut yang berbeda. Apa yang Tuhan ingin ajarkan melalui masalah itu? Serap pelajarannya, hidupi prosesnya, dan jadilah berkat bagi orang lain.
Selamat berproses. Tuhan Yesus memberkati!
 
Hak Cipta ©Maria Kaesmetan, Departemen Spiritual Life CBN Indonesia
   
Sumber: Jawaban.com

Rabu, 06 Agustus 2025

FOMO

Bacaan: ROMA 12:1-8

Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna. (Roma 12:2)

Salah satu kamus gaul zaman sekarang adalah FOMO, kepanjangan dari fearing of missing out, yang artinya perasaan takut atau cemas ketinggalan momen, tren, atau aktivitas tertentu. Perasaan ini bisa muncul ketika melihat orang lain sedang mengunjungi satu tempat wisata yang sedang digemari banyak orang, makan di kafe yang sedang ramai dibicarakan orang, memakai pakaian model tertentu, membahas berita yang sedang viral, dan lain-lain, sementara ia sendiri belum melakukan kegiatan tersebut. Media sosial, menjadi wadah yang mempertontonkan semua ini semakin menambah kecemasannya. Alat ukur dari orang-orang yang mengalami fomo adalah tindakan atau perilaku orang-orang di sekitarnya.

Rasul Paulus mengingatkan kita agar jangan mengikuti gaya hidup dunia. Yang seharusnya menentukan perilaku kita ialah firman Tuhan. Itulah yang mengubah serta membarui akal budi kita. Hasilnya, kita mampu mengenali kehendak Allah. Kita jadi mengerti apa yang baik dan yang berkenan bagi Tuhan, dan kita melakukannya. Nilai-nilai hidup serta perbuatan kita pun akan berbeda dengan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, tetapi kita tidak menjadi takut dan cemas karenanya. Kita bahkan diharapkan menjadi model atau panutan, sehingga orang-orang lainlah yang akan meniru serta mengikuti teladan kita.

Sebagai pengikut Kristus, kita harus berani menjalani hidup yang berbeda. Tentunya dengan berpegang pada nilai-nilai kebenaran dan kasih. Menjunjung tinggi kekudusan dan kejujuran. Serta, tidak berkompromi dengan dosa dan kejahatan. Kristus memang memanggil kita untuk berbeda dengan dunia, dengan menjalani kehendak-Nya. --HT/www.renunganharian.net

KITA TAK PERLU TAKUT BERBEDA DENGAN BANYAK ORANG, 
ASALKAN KITA SEDANG BERDIRI DI JALAN YANG DIKENAN TUHAN

Selasa, 05 Agustus 2025

Mengikuti Pimpinan Roh Kudus

Bacaan Alkitab hari ini:
Kisah Para Rasul 16:13-40

Pimpinan Roh Kudus dalam perjalanan misi Rasul Paulus amat jelas. Roh Kudus mencegah mereka memberitakan Injil di Asia (di sebelah Selatan) dan tidak mengizinkan mereka memasuki daerah Bitinia (di sebelah Utara). Oleh karena itu, setelah melintasi Tanah Frigia dan Tanah Galatia, mereka tiba di Misia, lalu melanjutkan perjalanan sampai di Troas. Kemudian, Rasul Paulus melihat penglihatan tentang seorang Makedonia yang mengundang mereka untuk datang. Rasul Paulus memandang undangan untuk berkunjung ke Makedonia ini sebagai kehendak Tuhan bagi dirinya. 

Kota pertama di Makedonia yang dikunjungi oleh Rasul Paulus dan Silas adalah kota Filipi. Pelayanan di kota Filipi ini menghasilkan pertobatan seluruh keluarga Lidia dan seluruh keluarga kepala penjara. Akan tetapi, pelayanan di kota Filipi ini harus dibayar mahal, yaitu mereka difitnah, sehingga harus masuk ke penjara di kota Filipi. Walaupun harus masuk penjara, mereka tidak kehilangan damai sejahtera dan sukacita. Dalam penjara, mereka tidak mengomel atau memprotes perlakuan terhadap diri mereka, melainkan mereka berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah, sehingga apa yang mereka lakukan menjadi kesaksian bagi para tahanan yang lain.

Kira-kira tengah malam, saat Rasul Paulus dan Silas bersaksi melalui doa dan pujian, terjadilah gempa bumi yang hebat yang membuat semua pintu terbuka dan semua belenggu terlepas. Melihat keadaan itu, kepala penjara mengira bahwa semua tahanan telah melarikan diri, sehingga ia hendak membunuh diri dengan pedang. Akan tetapi, Rasul Paulus mencegah tindakan bunuh diri itu dan meyakinkan kepala penjara bahwa para tahanan tidak melarikan diri. Sikap dan tindakan Rasul Paulus itu merupakan kesaksian—melalui sikap dan tindakan—yang membuat kepala penjara itu membuka diri dan menanyakan cara untuk memperoleh keselamatan. Rasul Paulus menegaskan bahwa kepala penjara itu harus percaya kepada Tuhan Yesus bersama dengan seisi rumahnya. Pada tengah malam itu juga, kepala penjara bersama seluruh keluarganya dibaptis.

Apakah Anda bersedia untuk hidup mengikuti pimpinan Roh Kudus? 

Hidup mengikuti pimpinan Roh Kudus tidak membebaskan Anda dari masalah dan penderitaan, tetapi hidup mengikuti pimpinan Roh Kudus pasti menghasilkan sukacita yang berbeda dengan sukacita yang ditawarkan oleh dunia ini. Dunia ini menawarkan sukacita melalui kemewahan dan hawa nafsu. Akan tetapi, orang percaya memperoleh sukacita karena Roh Kudus memberi damai sejahtera. 

Apakah Anda sudah hidup mengikuti pimpinan Roh Kudus dan sudah menikmati sukacita yang disediakan Allah? [GI Purnama]

Sumber: Renungan GKY

Senin, 04 Agustus 2025

YESUS: TERUNIK DI DUNIA

Bacaan: Filipi 2:5-11

NATS: Dalam [Yesus] berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keilahian (Kolose 2:9)

Seorang kristiani yang masih baru mengirim e-mail ke sebuah situs yang melayani tanya jawab mengenai iman. Ia berkata, "Saya bergumul dengan pernyataan orang kristiani lain bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan menuju surga dan Allah. Apa yang akan terjadi terhadap mereka yang meyakini hal yang sebaliknya?" 

Pertanyaan semacam ini menantang kita untuk menguji pandangan kita tentang Yesus. Tinjauan alkitabiah tentang Yesus dan keunikan-Nya dapat membantu menguatkan keyakinan kita bahwa Dialah satu-satunya jalan. 

Yesus adalah Pribadi yang tak tertandingi dalam sejarah -- saat ini Dia berseru kepada kita untuk memercayakan kehidupan kita kepada-Nya. Yesus Kristus adalah: 

1. Unik dalam hakikat: Dia adalah Allah sekaligus manusia (Yohanes 10:30). 
2. Unik dalam nubuatan: Tak ada kehidupan pemimpin lain yang dinubuatkan dengan begitu jelas dan akurat (Mikha 5:2). 
3. Unik dalam misi: Hanya Yesus yang datang untuk menyelamatkan kita dari dosa (Matius 1:21). 
4. Unik dalam kelahiran: Hanya Yesus yang dilahirkan dari seorang perawan (Matius 1:23). 
5. Unik dalam kemampuan: Hanya Yesus yang memiliki kuasa mengampuni dosa (Markus 2:10). 
6. Unik dalam keberadaan: Yesus telah ada sebelum permulaan zaman (Yohanes 1:1,2). 
7. Unik dalam kedudukan: Tak seorang pun setara dengan Allah (Filipi 2:5,6). 
8. Unik dalam pemerintahan: Hanya Yesus yang memerintah selamanya (Ibrani 1:8). 

Dalam sejarah tak seorang pun yang seperti Yesus. Hanya Dia yang berhak mendapatkan kepercayaan kita, dan hanya Dialah jalan menuju Allah --JDB 

HANYA ADA SATU JALAN MENUJU SURGA -- YESUS KRISTUS-LAH JALAN ITU

Sumber: Renungan Harian

Minggu, 03 Agustus 2025

DAUN-DAUN BERDEBU

Bacaan: Mazmur 32:1-7

NATS: Aku berkata, Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku, dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku (Mazmur 32:5)

Pohon karet yang saya beli untuk istri saya Dorothy, menambah sentuhan kehidupan di rumah kami. Namun, suatu pagi mendadak daun-daunnya layu. Saya pun menjadi bertanya-tanya apa gerangan yang sedang terjadi. 

Ketika saya pulang untuk makan siang, pohon itu telah betul-betul berubah. Pohon itu menjadi seindah saat saya membawanya pulang dari toko. Daun-daunnya sudah segar lagi. Ketika saya bertanya kepada Dorothy mengenai hal itu, ia mengatakan bahwa ia membaca petunjuk rumah tangga tentang cara menjaga pohon agar tetap terlihat segar. Bacaan itu menyatakan bahwa debu yang menumpuk di atas daun sebenarnya dapat menghalangi cahaya mengenai permukaannya, jadi kita perlu membersihkan debu itu secara teratur. Dorothy telah melakukan hal itu dan hasilnya sangat menakjubkan. 

Pada saat kita hidup di dunia ini, partikel-partikel dosa yang kecil dapat tumbuh di dalam hidup kita. Kebencian, kata-kata tajam, pikiran yang tidak murni, sikap egois, semuanya itu membahayakan daya tahan kerohanian kita. Jika hal-hal itu tidak segera diakui, mereka akan mulai membentuk lapisan debu yang menghalangi kita untuk mengalami cahaya anugerah Allah di dalam hati kita. Orang-orang di sekitar kita akan merasakan ada sesuatu yang janggal. 

Jika tumpukan dosa yang tak diakui telah menumpuk dalam jiwa Anda, berlakulah seperti Daudakuilah dosa-dosa itu di hadapan Allah (Mazmur 32:5). Bersihkanlah daun-daun berdebu dalam hidup Anda, dan sekali lagi nikmatilah cahaya kemuliaan kasih Allah DJD 

PENGAKUAN DOSA MEMBERI JALAN UNTUK CAHAYA PENGAMPUNAN ALLAH 

Sumber: Renungan Harian

Sabtu, 02 Agustus 2025

Tetangga yang Iri Hati

Di sebuah perkampungan, dua keluarga hidup berdampingan. Salah satunya baru saja membuka usaha katering kecil. Pesanan makin hari makin banyak. Mobil pengantar makanan datang silih berganti.
Tetangga sebelah hanya mengamati dari balik jendela. Hatinya mulai gelisah. "Dulu kita sama-sama susah. Sekarang dia bisa membeli motor baru, bisa renovasi rumah. Kenapa bukan aku?"

Setiap pagi, ia pura-pura tersenyum saat berpapasan. Tapi begitu pintu rumahnya tertutup, ia mencibir, "Pasti dia curang. Mana mungkin cepat kaya."

Suatu malam, ia menulis pesan tanpa nama. Kertas itu berisi tuduhan bahwa usaha katering tetangganya memakai bahan kadaluwarsa. Ia selipkan di pagar rumah tetangganya.
Pagi harinya, kabar itu menyebar. Beberapa pelanggan membatalkan pesanan. Pemilik usaha katering menangis di dapur, bingung bagaimana membuktikan semua tuduhan itu tidak benar.

Namun seorang pelanggan setia bersikeras datang melihat sendiri dapur mereka. Setelah memeriksa, ia berkata lantang di depan warga yang berkumpul, "Semua bersih. Ini fitnah."

Saat orang-orang membela pemilik katering, pandangan mulai beralih ke rumah tetangga yang menutup rapat jendelanya. Beberapa warga ingat siapa yang sering mengeluh iri.

Malam itu, tetangga itu duduk sendiri di ruang tamu yang gelap. Ia sadar: tak ada kebahagiaan yang datang dari iri hati, hanya rasa malu dan kehilangan kepercayaan orang lain.

Iri hati jarang muncul tiba-tiba. Ia mulai pelan... dari membandingkan diri, lalu meremehkan keberhasilan orang lain. Lama-lama, hati menjadi gelisah, ucapan menjadi sinis, dan akhirnya mendorong tindakan yang merugikan sesama.

Firman Tuhan tidak pernah menganggap enteng iri hati. Iri hati mengikis sukacita, merusak relasi, dan membuat kita lupa pada berkat yang sudah kita terima. Bahkan, kita rela menuduh dan memfitnah demi menutupi rasa rendah diri.
Tuhan ingin kita bersyukur atas apa yang kita punya, bukan sibuk mencurigai atau menjatuhkan orang lain. Ketika kita belajar ikut bersukacita atas keberhasilan sesama, hati kita akan lebih ringan, damai, dan penuh sukacita yang tulus.

Hari ini, mari minta pertolongan Tuhan untuk menyingkirkan iri hati. Karena kebahagiaan sejati tidak pernah lahir dari membandingkan diri, tetapi dari hati yang bisa mengucap syukur apa adanya.

Yakobus 3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.

Sumber: Renungan dan Ilustrasi Kristen

Jumat, 01 Agustus 2025

Melawan Raksasa dalam Pikiran Anda

Bacaan Hari ini:
1 Samuel 17:47 “Dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami."

Sebelum Daud bertarung melawan Goliat dalam kitab 1 Samuel, ia sebenarnya harus menghadapi empat raksasa lainnya. Mereka bukan raksasa secara fisik, melainkan raksasa di dalam pikirannya.

Anda akan lebih sering menghadapi rasa seperti itu ketimbang menghadapi raksasa seperti Goliat. Raksasa-raksasa ini bisa jadi sama besarnya dan sama mengintimidasinya. Mereka bisa menghalangi Anda untuk menjadi seperti yang Tuhan kehendaki dan mewujudkan impian yang telah Tuhan taruh dalam hati Anda.

Raksasa pertama dalam menghadapi mimpi Anda ialah keterlambatan. Tak ada mimpi yang terpenuhi secara instan. Mungkin diperlukan waktu bertahun-tahun lamanya sebelum Anda melihat impian seumur hidup Anda terealisasi. Akan selalu ada masa tunggu.

Dalam kasus Daud, ayahnya menghalangi impiannya. Setelah Samuel mengurapi Daud sebagai raja, Isai malah menyuruh Daud untuk kembali menggembala domba!

Ketika rencana Tuhan bertentangan dengan rencana orang lain, maka akan ada masa penundaan, dan orang-orang akan mencoba untuk menghalangi Anda. Namun Tuhan setia, dan Dia akan menyelesaikan pekerjaan-Nya di dalam Anda menurut waktu-Nya.

Raksasa kedua yang akan Anda hadapi ialah keputusasaan. Goliat menciptakan iklim ketakutan di Israel, dan semua orang yakin mereka akan kalah melawan dia.

Siapa orang-orang yang Anda dengarkan yang berkata bahwa impian Anda itu mustahil? Siapa yang menertawakan mimpi Anda yang mengatakan bahwa itu tak akan terjadi?

Terkadang yang Anda perlukan hanyalah angin segar – seperti seorang anak dengan tatapan mata yang berbinar-binar yang berkata, “Orang ini tidak apa-apanya. Kita bisa mengalahkannya.”

Raksasa ketiga yang akan menghalangi Anda ialah ketidaksetujuan. Dalam kasus Daud, saudara-saudaranya sendiri mempertanyakan motif dia dan tidak setuju dengan keputusan dia melawan Goliat.

Ketika Tuhan memberi Anda mimpi yang ditakuti oleh orang lain tapi Anda tetap melakukannya, biasanya Anda akan dituduh, difitnah, dan disalahpahami. Untuk itu, Anda harus memutuskan apa yang lebih penting buat Anda: persetujuan orang lain atau persetujuan Allah.

Raksasa keempat yang akan Anda hadapi ialah keraguan. Tak ada seorang pun yang lebih ahli dalam strategi perang selain Raja Saul, dan dia mengatakan kepada Daud bahwa dia adalah orang gila, bagaimana bisa seorang bocah lelaki bisa bertarung melawan seorang prajurit perang seperti Goliat.

Mungkin pula ada seorang pakar yang mengatakan bahwa Anda tidak akan bisa melakukannya. Hal itu biasanya sudah cukup untuk membuat Anda mulai meragukan diri sendiri.

Ketika saya menulis The Purpose Driven Life, saya mendapat sepucuk surat dari editor buku saya (yang kemudian saya bingkai) yang berbunyi, “Buku ini tidak akan pernah sukses. Tidak ada seorang pun yang mau membaca 40 bab.” Para ahli dan para profesional sering kali bisa salah.

Renungkan hal ini:
- Apa yang sudah Anda pelajari tentang diri Anda dan Tuhan ketika sebuah mimpi tertunda?
- Suara siapa yang membuat Anda berkecil hati? Suara siapa yang seharusnya Anda dengarkan?
- Manakah dari janji-janji Allah di dalam firman-Nya yang bisa Anda gunakan untuk memotivasi Anda ketika Anda mulai meragukan diri sendiri atau meragukan impian Anda?

Anda mempunyai Tuhan yang lebih besar daripada raksasa masalah dalam hidup Anda

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)