Senin, 28 Februari 2022

MAAFKAN SAYA -- BESOK

Bacaan: Roma 6:1-14

NATS: Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? (Roma 6:1)

Materi program televisi yang saya tonton, membuat saya menggeleng-geleng tidak percaya. Program yang mengulas berita-berita dari koran dan majalah ini memperlihatkan bagaimana sebagian orang bersiap-siap untuk merayakan perayaan Rabu Abu. Pada hari Selasa mereka tetap melakukan hal-hal berdosa sebanyak yang dapat mereka lakukan -- sambil sepanjang waktu menyadari bahwa esok mereka akan meminta pengampunan Allah dan bertobat dari dosa-dosa tersebut.

Penyangkalan diri agaknya merupakan aktivitas populer yang dilakukan pada masa puasa, namun saya pikir bukan itu yang Yesus maksudkan ketika Dia berbicara tentang memikul salib dan mengikut Dia (Matius 16:24). Seruan untuk menyangkal diri adalah suatu keterikatan padaNya yang berlaku setiap hari dan di berbagai aspek kehidupan.

Ketika Paulus menulis kepada jemaat di Roma, ia telah mengantisipasi bahwa orang-orang akan percaya bahwa tidak merupakan masalah bagi Allah jika mereka tidak terikat total dengan AnakNya. Ia tahu bahwa sebagian orang akan berpikir boleh saja terus berdosa selama masih ada belas-kasih Allah. Menurut Paulus, sulit dipercaya bila orang-orang percaya dapat berpikir bahwa mereka dapat "terus berdosa" agar mereka dapat menerima lebih banyak karunia Allah. Sebaliknya ia menyatakan bahwa kita harus menganggap diri kita sudah mati bagi dosa (Roma 6:11).

Sebagai orang percaya, kita perlu selalu setia mengikut Yesus tiap-tiap hari. Tidak pernah dapat dibenarkan bila kita meminta "waktu istirahat" dari keterikatan kita padaNya -- JDB

MENGIKUT KRISTUS MEMERLUKAN DUA SYARAT: PERCAYA KEPADANYA DAN TAAT KEPADANYA

Sumber: Renungan Harian

Minggu, 27 Februari 2022

Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. [Filipi 4:11]

Perkataan ini menunjukkan kepada kita bahwa rasa cukup bukanlah kecenderungan alami manusia. “Rumput liar tumbuhnya cepat.” Iri hati, ketidakpuasan, dan bersungut-sungut merupakan hal yang alamiah bagi manusia sama seperti semak duri yang berada dalam tanah. Kita tidak perlu menanam rumput duri dan lalang; mereka tumbuh dengan sendirinya, karena mereka aslinya dari tanah: demikian pula, kita tidak perlu mengajari manusia mengomel; mereka mengomel cukup tangkas tanpa diajari. Tetapi hal-hal yang berharga di bumi harus dicocoktanamkan. Jika kita ingin gandum, kita harus menabur dan membajak; jika kita ingin bunga, harus ada kebun, dan segala pemeliharaannya oleh tukang kebun. Nah, rasa cukup merupakan salah satu bunga surga, dan jika kita menginginkannya, kita harus menanamnya; ia tidak akan tumbuh di dalam diri kita secara alami; hanya natur baru kita yang bisa menghasilkannya, dan itu pun haruslah dengan hati-hati dan waspada kita merawat dan menumbuhkan anugerah yang sudah Allah taburkan dalam kita. Paulus berkata “Aku telah belajar mencukupkan diri;” berarti ia mengatakan bahwa ia pernah tidak tahu bagaimana. Dia harus melalui beberapa penderitaan untuk mencapai misteri kebenaran yang agung ini. Pasti kadang-kadang ia merasa sudah mempelajarinya, tapi ternyata belum. Dan ketika pada akhirnya ia mencapainya, dan dapat berkata, “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan,” dia sudah tua, dengan kepalanya yang beruban, berada di tepi kubur—seorang narapidana yang terkurung dalam penjara bawah tanah Nero di Roma. Mungkin saja kita bersedia menanggung sakitnya Paulus [Galatia 4:13] dan berada dalam penjara bawah tanah seperti dia, jika kita rela dengan cara apapun mencapai tingkat yang baik seperti dia. Jangan menyerahkan diri pada gagasan bahwa engkau bisa merasa cukup tanpa belajar, atau bisa belajar tanpa disiplin. Ini bukan kekuatan yang bisa dilatih secara alami, tetapi suatu ilmu yang diraih sedikit demi sedikit. Kita tahu akan hal ini dari pengalaman. Saudara, hentikan sungut itu, walau selumrah apapun, dan teruslah menjadi murid yang rajin dalam Perguruan Cukup.

Sumber: Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).

Sabtu, 26 Februari 2022

Bukan Membenci, Ini Balasan Setimpal Terhadap Kejahatan

1 Petrus 3: 9 dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.

Anda pasti akan mulai membenci tetangga Anda ketika hewan peliharaannya merusak halaman Anda bukan? 

Mungkin awalnya Anda bisa memaklumi jika hewan peliharaan tersebut hanya seekor anjing. Tapi bagaimana dengan seekor sapi? 

Ya, sekawanan sapi tetangga kami memasuki halaman rumah kami yang berada di atas pegunungan. Tanpa kami sadari keesokan harinya halaman itu dipenuhi dengan kekacauan yang fatal.

Saya rasa tetangga yang lain juga mengeluhkan hal serupa kepada pemilik sapi-sapi itu. Lalu pemiliknya mendatangi kami dan berkata, “Kami minta maaf soal sapi-sapi itu. Tapi kami belum bisa melakukan apa-apa selama sepuluh hari ke depan.”

Kata ‘maaf’ namun dibarengi dengan ‘tapi’ tersebut bukanlah hal yang ingin saya dengar. Saya ingin mendengar mereka berkata, "Maaf kami akan mengambil sekop dan membersihkan kotoran-kotoran sapi di halaman kalian.” 

Sayangnya, mereka tidak melakukan hal itu. Jadi saya punya dua pilihan. Saya menerima keadaan itu dan memaafkan tindakan sapi-sapi itu dan membersihkannya sendiri. Atau saya tetap dalam rasa kesal. 

Untungnya, saya memilih untuk memaafkannya.

Sisi positifnya, saya bisa belajar banyak tentang tingkah laku sapi.

Mari mengingat apa yang terjadi setelah Daud membunuh Goliat? Dia dipilih untuk membawa perlengkapan senjata Raja Saul ke medan peperangan. Hal itu sangat berbahaya, tetapi posisi itu sangat dihormati. Hampir setiap malam, Daud memainkan kecapi untuk Saul, supaya sang raja bisa tidur di malam hari.

Apakah itu pekerjaan yang menyenangkan? Ya. Tetapi kemudian Saul menjadi cemburu kepada Daud dan mencoba untuk membunuhnya.

Daud lalu melarikan diri. Dia lari ke padang gurun dekat dengan mata air Ein-Gedi di sebelah Laut Mati. Saul terus memburunya tetapi tidak pernah berhasil menangkap Daud. 

Hingga suatu ketika Saul pergi ke sebuah gua untuk buang air besar, ternyata gua yang sama adalah tempat Daud dan anak buahnya bersembunyi. Orang-orang mendesak dia untuk membunuh Saul.

Tapi Daud memilih untuk tidak membunuh sang raja. Dia berkata, “Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.” (1 Samuel 24: 6)

Rasul Petrus menulis dalam 1 Petrus 3: 9, untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan atau caci maki dengan caci maki. Sebaliknya, membalas kejahatan dengan berkat.

Saya mencoba melakukan hal seperti Daud ketika berhadapan dengan masalah sapi-sapi tetangga saya. Jika mereka tidak bisa memberdayakan keluarganya untuk menggembalakan sapi-sapi itu selama sepuluh hari lagi, maka saya akan memilih untuk bekerja keras. Saya tidak perlu membuat mereka malu. 

Tuhan sendiri tentu saja mau supaya tetangga saya tahu bahwa saya peduli kepada mereka. Jadi, dengan memilih untuk menerima keadaan membuat saya selangkah lebih maju. Saya pikir saya akan membuat kue coklat untuk mereka. Barang kali ada keajaiban di balik kue-kue itu.

Sebagai penutup, mari merenungkan ayat di bawah ini sebagai bekal kita untuk tidak jemu-jemmu mengasihi dan berbuat baik bagi sesama.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." - Matius 22: 37-40

Hak cipta Sheri Schofield dari Arise Daily to Extraordinary Life in Christ.

Jumat, 25 Februari 2022

Cubitan Cinta

Bacaan: GALATIA 4:8-16

Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu? (Galatia 4:16)

Semula, jemaat Galatia hidup setia di jalan Tuhan (ay. 13-15a). Namun kemudian, mereka banyak membelakangi Tuhan (ay. 9-11). Dengan penuh kasih, Rasul Paulus mengingatkan mereka agar kembali ke jalan Tuhan. Tetapi, koreksi penuh cinta itu disambut negatif. Jemaat Galatia justru menganggap koreksi itu sebagai sikap permusuhan terhadap mereka. Rupanya, apa pun perbuatan mereka, mereka hanya mau menerima persetujuan dan sanjungan. Betapa pun jauh mereka tersesat, mereka tidak bersedia menerima koreksi. Dengan prihatin, Rasul Paulus bertanya, "Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?" (ay. 16).

Sebuah pepatah Sisilia mengatakan, "Only your real friend will tell you when your face is dirty." Hanya sahabat sejati yang akan mengatakan kepadamu ketika wajahmu kotor. Hanya orang yang peduli dan menginginkan kebaikan kitalah yang akan jujur dan penuh kasih memberikan koreksi pada kita. Orang yang membiarkan kita bergelimang dalam dosa adalah orang yang tidak mengasihi kita. Orang yang tahu wajah kita kotor tetapi mengatakan wajah kita bersih adalah orang yang tidak jujur, tidak mengasihi kita, dan bukan seorang sahabat.

Jujur dan penuh kasih adalah sikap seorang sahabat. Koreksi yang jujur dan penuh kasih adalah cubitan cinta seorang sahabat. Orang yang tidak jujur dan tidak mengasihi tidak siap menjadi sahabat. Dan, orang yang hanya mau mendengar persetujuan atau sanjungan, tetapi menolak cubitan cinta seorang sahabat, adalah orang yang tidak menginginkan persahabatan. --EE/www.renunganharian.net

KOREKSI JUJUR YANG DIBERIKAN DENGAN PENUH KASIH ADALAH CUBITAN CINTA SEORANG SAHABAT.

Kamis, 24 Februari 2022

Dan tentang belanjanya, raja selalu memberikannya kepadanya, sekadar yang perlu tiap-tiap hari, selama hidupnya. [2 Raja-Raja 25:30]

Yoyakin tidak diusir dari istana raja dengan bekal yang akan mencukupinya selama berbulan-bulan, tetapi kebutuhannya diberikan seperti dana pensiun yang diberikan tiap-tiap hari. Di sini dia sangat jelas menggambarkan posisi semua umat Allah yang berbahagia. Jatah harian adalah seluruh kebutuhan seorang manusia. Kita tidak memerlukan kebutuhan besok; hari esok belum tiba, dan kebutuhannya masih seperti bayi yang belum lahir. Kehausan yang mungkin kita alami pada bulan Juni tidak perlu dipuaskan pada Februari, karena memang belum kita rasakan; jika kita berkecukupan setiap hari sebagaimana setiap hari tiba, kita tidak akan pernah mengenal kekurangan. Kecukupan hari ini merupakan seluruh yang dapat kita nikmati. Kita tidak dapat makan atau minum maupun memakai lebih dari porsi makanan atau pakaian hari ini; lebih dari itu membuat kita repot menyimpannya, dan gelisah dalam mewaspadai pencuri. Satu tongkat membantu seorang musafir, tetapi segepok tongkat merupakan beban berat. Cukup bukan saja sama baiknya dengan sebuah pesta, tetapi cukup adalah hal yang bisa sungguh-sungguh dinikmati orang paling rakus sekalipun. Inilah seluruh yang seharusnya kita harapkan; menginginkan lebih merupakan tindakan yang tak tahu berterima kasih. Saat Bapa kita tidak memberikan lebih, kita seharusnya berpuas dengan jatah harian dari-Nya. Keadaan Yoyakin merupakan keadaan kita, kita mendapatkan bagian yang pasti, raja selalu memberikannya kepada kita, bagian dari kemurahan hati, dan bagian yang kekal. Tentulah ini merupakan suatu pokok syukur.

Pembaca Kristen yang terkasih, mengenai rahmat engkau membutuhkan curahan tiap-tiap hari. Engkau tidak mempunyai gudang kekuatan. Hari demi hari engkau harus mencari bantuan dari atas. Merupakan jaminan yang sangat manis bahwa tiap-tiap hari ada bagian yang disediakan untukmu. Dalam firman, melalui pelayanan, lewat perenungan, dalam doa, dan dengan menanti-nantikan Tuhan engkau akan mendapat kekuatan baru. [Yesaya 40:31] Dalam Yesus segala kebutuhanmu telah disediakan bagimu. Maka nikmatilah bagianmu yang tersedia terus-menerus. Jangan lapar selagi roti berkat harian ada di atas meja kemurahan.

Sumber: Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).

Rabu, 23 Februari 2022

HANYA UNTUK ORANG BERDOSA

Bacaan: Lukas 18:9-14

NATS: Tetapi pemungut cukai itu...memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini (Lukas 18:13)

Sebuah artikel dalam The Grand Rapid Press menceritakan tentang seorang wanita yang mampu mengatasi kebiasaan minumnya, yakni setelah ia mampu mengakui bahwa ia mempunyai masalah dengan kebiasaannya itu. Ia berkata bahwa saat bersejarah itu tiba ketika ia dapat berkata pada dirinya sendiri, "Saya Betty dan saya seorang alkoholik."

Selama ini ia selalu berkata bahwa bicaranya yang kacau, rasa mengantuk dan timbulnya masalah-masalah lain, disebabkan oleh obat-obatan yang diminumnya untuk mengatasi suatu penyakit kronis yang dideritanya. Namun keluarganya tahu apa sebenarnya yang menjadi penyebab dan mendesaknya untuk menghentikan kebiasaan itu. Akhirnya, ia terpaksa harus menghadapi persoalan tersebut. Sebelumnya, ia tidak memiliki pengharapan lagi. Namun ketika ia dapat mengakui, "Saya adalah seorang alkoholik," ia memperoleh pengharapan untuk sembuh.

Hal yang sama juga berlaku dengan keselamatan. Selama seseorang masih mencari-cari alasan untuk membenarkan sikapnya yang berdosa, ia tidak akan pernah merasakan kelepasan. Hanya jika ia mengaku, "Saya adalah orang berdosa dan tidak dapat menyelamatkan diri saya sendiri," Allah akan menyelamatkannya dari dosa dan segala akibatnya yang mengerikan. Orang Farisi yang angkuh dan sombong dalam Lukas 18:1-43 tidak akan memperoleh keselamatan. Namun pemungut cukai itu menyadari dosa-dosanya sehingga ia "pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan" (Lukas 18:14).

Jika Anda belum pernah mengakui kesalahan Anda sebelumnya, lakukanlah dan terima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat Anda. Ingatlah bahwa keselamatan hanya diberikan kepada orang yang berdosa -- RWD

YESUS DAPAT MENGUBAH ORANG BERDOSA YANG PALING JAHAT MENJADI ORANG SUCI YANG PALING BAIK

Sumber: Renungan Harian

Selasa, 22 Februari 2022

HIDUP ITU MEMILIH

[[Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya. ]] (Ratapan 3:21-22)

Ada sebuah puisi demikian: Saat aku tidak paham maksud Tuhan, aku memilih untuk percaya. Saat aku tertekan oleh kekecewaan, aku memilih untuk bersyukur. Saat rencana hidupku berantakan, aku memilih untuk berserah. Saat putus asa melingkupiku, aku memilih untuk tetap maju dengan iman. Saat doa-doaku menguap seolah tak berbekas, aku memilih untuk bertekun.

Ya, hidup pada dasarnya adalah memilih. Bahkan ketika keadaan di luar diri kita tidak terelakkan, kita tetap dapat memilih sikap batin kita terhadap keadaan tersebut; mensyukurinya sambil mencari hikmat di baliknya, atau kita mengutukinya?

Yeremia, penulis kitab Ratapan, mengalami tekanan hidup yang sangat berat. Begitu berat sampai ia berkata, “Engkau menceraikan nyawaku dari kesejahteraan, aku lupa akan kebahagiaan. Sangkaku: hilang lenyaplah kemasyhuranku dan harapanku kepada TUHAN.” (Ratapan 3:17-18). Ia tidak dapat mengubah atau menghindari keadaan yang menekannya itu. Tetapi, ia bisa memilih: mau berputus asa atau tetap berpengharapan? Dan ia memilih untuk tetap berpengharapan. Ia memfokuskan dirinya pada kasih setia Tuhan (ayat 21-23).

Saat ini mungkin kita tengah diterpa problem kehidupan. Dan kita tidak dapat menghindari. Dalam situasi demikian, yang terbaik adalah meneladani Yeremia, yakni tidak membiarkan dirinya hanyut dalam keputusasaan, tetapi memfokuskan diri pada kasih setia Tuhan. Asalkan kita membuka mata hati kita, melihat kehidupan dengan pikiran jernih, maka kita akan selalu menemukan alasan untuk bersyukur.
 (Ayub Yahya)

Sumber: Amsal Hari Ini 

Senin, 21 Februari 2022

Untuk Perubahan Hidup, Ubah Pemikiran Anda

Bacaan Hari ini:
Mazmur 1:1-3 “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”

Jika Anda ingin mengubah hidup Anda, mulailah dengan mengubah cara pikir Anda.

Mengubah pemikiran Anda ialah kunci dari awal yang baru, dalam bidang apa pun—hobi, karier, hubungan, pernikahan, atau pola asuh anak. Efesus 4:23 mengatakan, “Supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu.”

Apa yang dimaksud dengan roh dan pikiran yang dibaharui? Itu artinya Anda memiliki pemikiran dan sikap yang baru. Itu artinya Anda menyerahkan sikap dan pemikiran yang salah kepada Tuhan, dan “berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2).

Perbarui pemikiran Anda dengan melakukan dua hal berikut:

Pertama, dengarkan Firman Tuhan lebih dari dunia ini. Alkitab berkata, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:1-3). Apakah Anda ingin karakteristik tersebut menjadi kenyataan dalam hidup Anda? Jika demikian, renungkanlah Firman Tuhan setiap hari.

Kedua, pikirkan tentang pemikiran Anda. Alih-alih menerima begitu saja setiap pemikiran yang Anda punya, tantang pikiran Anda. Ketika Anda memiliki sebuah gagasan, ajukan pertanyaan-pertanyaan ini: Apakah saya mau memikirkan hal ini? Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? —dan apakah saya ingin merasa seperti ini?

Alkitab mengajarkan kita untuk "menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (lihat 2 Korintus 10:5).

Semua perasaan Anda ditimbulkan oleh pikiran Anda. Jika Anda tak suka dengan apa yang Anda rasakan, artinya Anda perlu mengubah cara pikir Anda. Semudah, buang pikiran yang menyebabkan Anda beperasaan buruk, lalu ganti itu dengan pikiran yang lain.

Alkitab berkata, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23).

Alih-alih memutar lagu lama berulang-ulang kali dalam pikiran Anda, lawanlah itu. Apa yang Anda pikirkan adalah pilihan Anda, maka, Anda tak perlu mempercayai setiap ide atau pemikiran yang Anda miliki. Ketika Anda menghadapi pemikiran yang Anda tahu tidak benar, pilihlah untuk mengubah apa yang Anda pikirkan! Anda dapat menggantinya dengan kebenaran Tuhan.

Satu-satunya cara untuk mengetahui mana yang benar yaitu dengan masuk ke dalam Firman Tuhan. Semakin banyak waktu yang Anda pilih untuk dihabiskan di dalam Firman Tuhan, semakin banyak kebenaran-Nya yang akan membantu Anda mengubah pemikiran-pemikiran Anda.

Renungkan hal ini:
- Apakah Anda ingin punya kendali atas pikiran Anda? Mengapa atau mengapa tidak?
- Mengapa menghafal ayat-ayat Alkitab itu penting ketika Anda hendak mengubah pemikiran Anda?
- Pemikiran-pemikiran apa yang terus berputar di benak Anda yang harus Anda lawan dan tantang? Bagaimana Anda akan membuat pemikiran itu tunduk kepada Kristus?

Mulailah mengubah pemikiran Anda hari ini. Itu akan memberi Anda sebuah awal yang baru, dan akhirnya akan mengubah hidup Anda!

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Minggu, 20 Februari 2022

Jangan Asal Tuduh

Bacaan: 2 SAMUEL 10

Lalu Hanun menyuruh menangkap pegawai-pegawai Daud itu, disuruhnya mencukur setengah dari janggut mereka dan memotong pakaian mereka pada bagian tengah sampai pantat mereka, kemudian dilepasnya mereka. (2 Samuel 10:4)

Nahas, raja Amon adalah sahabat raja Daud. Ketika sang raja meninggal, Hanun, anaknya menggantikannya. Lalu Daud mengirim beberapa utusan untuk menyampaikan pesan turut berdukacita, serta menunjukkan niat untuk melanjutkan persahabatan. Tetapi para pemimpin Amon menuduh mereka sebagai mata-mata untuk menghancurkan negeri mereka. Para utusan Daud diperlakukan dengan tidak hormat dan sangat dipermalukan. Perlakuan ini memicu terjadinya peperangan, yang berakhir dengan kekalahan besar bagi bangsa Amon.

Tindakan ini muncul karena buruknya diplomasi, serta pikiran negatif yang menguasai mereka. Juga karena mereka tidak belajar dari fakta masa lalu, tentang bagaimana raja mereka bersahabat baik dengan Daud. Persis sebelum kisah ini, 2Sam 9 menceritakan bagaimana Daud menunjukkan kasih Allah kepada Mefiboset, cucu Raja Saul yang selalu ingin membunuhnya. Daud melakukannya karena perjanjiannya dengan Yonatan (1Sam 20). Para pemuka negeri Amon lupa bahwa Daud adalah seorang yang setia, teguh memegang perjanjian dan dapat dipercaya. Penghinaan yang mereka lakukan harus dibayar dengan kehancuran satu negeri.

Terkadang kita salah memahami itikad baik seseorang. Kita terlalu berprasangka, berpikiran buruk, dan mengambil tindakan tanpa didasari bukti dan pertimbangan yang matang. Memang sewajarnyalah kita waspada, hati-hati dan tidak percaya begitu saja. Namun kita juga perlu mengumpulkan informasi yang akurat, agar tidak salah langkah, serta terhindar dari kerugian dan kehancuran. --HT/www.renunganharian.net

HUBUNGAN YANG BAIK DAPAT HANCUR DALAM SEKEJAP KETIKA PRASANGKA DAN PIKIRAN NEGATIF TELAH MENYERGAP.

Sabtu, 19 Februari 2022

DENGAN IMAN

Bacaan: Ibrani 11:1-16

NATS: Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang telah dijanjikan itu (Ibrani 11:13)

Setiap hari Lisa dan David Holden memohon kepada Allah untuk memperoleh anak. Lisa menulis bahwa mereka berdoa "terkadang dengan kekecewaan yang pahit, adakalanya dengan keyakinan yang kukuh, dan terkadang dengan frustrasi dan luka hati yang begitu dalam sehingga terasa sakit." Lisa akhirnya hamil dan kini Peter, yang telah berusia empat tahun, menggairahkan hidup mereka.

Lisa dan David memiliki teman dekat yang juga merindukan anak-anak. Mereka pun berdoa dengan tidak jemu-jemunya bagi keadaan mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan adopsi, namun diberitahu oleh yayasan adopsi bahwa mereka sudah terlalu tua untuk mengadopsi seorang anak. Jadi, ada dua pasangan suami istri yang berdoa dengan iman. Satu permintaannya dikabulkan, yang satunya lagi tidak diindahkan.

Dalam Ibrani 11:11 kita membaca bahwa, "Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu." Namun sebaliknya, saat Rasul Paulus berdoa agar "duri dalam daging" yang tidak dikenalinya dapat dikeluarkan darinya, Tuhan menjawab, "Cukuplah kasih karuniaKu bagimu" (2Korintus 12:9), dan "duri" itu tetap tinggal. Bahkan Kristus sendiri berdoa kepada Bapanya di surga agar cawan kesengsaraan yang menantinya di Golgota dapat lalu dariNya, namun Dia menambahkan, "Tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi" (Lukas 22:42).

Oh Tuhan, apakah kerinduan kami yang terdalam dan doa-doa yang kami panjatkan dengan sungguh-sungguh dikabulkan atau tidak, iman kami tetap padaMu. Tolonglah kami untuk menginginkan kehendakMu di atas segala-galanya. Amin -- DCE

BILA JAWABAN TUHAN NEGATIF DIA PASTI MEMILIKI ALASAN YANG POSITIF

Sumber: Renungan Harian

Jumat, 18 Februari 2022

BERBUAT BAIK TANPA PAMRIH

Bacaan: Matius 5:43-48

NATS: Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? (Matius 5:46)

Saya menghadiri pertemuan dengan beberapa orang yang pernah saya layani 40 tahun silam saat mereka masih remaja. Beberapa orang mengatakan bahwa ingatan yang paling membekas adalah pertandingan bola salju yang kami adakan setelah pertengahan minggu berlangsungnya kelas Alkitab. Saya bersyukur karena masih ada yang mengingat hal-hal yang saya katakan.

Seorang dari mereka mengingatkan bahwa saya pernah berkata padanya untuk menjadi "seorang yang berbuat baik tanpa pamrih." Kami sedang membahas Matius 5:43-48 saat ia mulai berbicara, "Saya sudah bosan berbaik hati pada tetangga saya yang sudah tua. Suatu sore saya membantunya memangkas di halaman, tetapi keesokan harinya ia memarahi saya ketika saya berlari ke dalam pekarangannya untuk mengambil bola yang menggelinding ke sana. Apa yang Anda dapatkan dari bersikap baik terhadap orang semacam itu?"

Dalam menjawab pertanyaannya, saya berkata, "Yesus ingin Anda menjadi orang yang berbuat baik tanpa pamrih." Ia menyeringai dan menjawab, "Saya pernah disebut seperti itu dahulu." Tetapi ia mengerti intinya.

Menjadi "orang yang berbuat baik tanpa pamrih" memang tidak mudah. Apalagi jika berkali-kali harus mengabaikan kepentingan kita untuk kebaikan orang yang tak pernah menghargainya, walaupun sekadar dengan senyum tanda berterima kasih. Tetapi itu yang Yesus inginkan dari kita. Dan hal itu menjadi lebih mudah pada saat kita mengingat kebaikan-Nya yang tak berkesudahan kepada kita walaupun kita egois dan tak berterima kasih [HVL]

KASIH MENOLONG MEREKA YANG MUNGKIN TIDAK PERNAH MEMBALAS KEBAIKAN HATI ORANG LAIN

Sumber: Renungan Harian

Kamis, 17 Februari 2022

ALKITAB MARY

Bacaan: Mazmur 119:97-104

NATS: Aku hendak bergemar dalam perintah-perintahMu yang kucintai itu (Mazmur 119:47)

Ketika Mary Jones berusia sepuluh tahun, ia mulai menabung untuk suatu benda khusus yang ingin dibelinya. Ia menjaga bayi, mengurus kebun tetangga, dan menjual telur dari ayam-ayam yang dipeliharanya sendiri. Saat ia berusia enam belas tahun, ia telah berhasil mengumpulkan uang untuk mendapatkan apa yang selama ini sangat didambakannya.

Apakah sebuah mobil baru? Sejumlah baju baru? Sebuah Nintendo? Bukan, Mary Jones berusia enam belas tahun pada tahun 1800, dan usaha menabungnya selama ini adalah untuk mendapatkan sebuah Alkitab. Namun tidak ada yang menjual Alkitab di desa Welsh yang kecil dimana ia tinggal, sehingga ia perlu berjalan sejauh 40 km ke Bala. Di sana pendeta Thomas Charles masih memiliki satu Alkitab yang dijual, dan setelah meyakinkan pendeta tersebut, barulah Mary diizinkan untuk membelinya.

Karena kerinduan Mary akan Alkitab inilah, pendeta Thomas dan yang lainnya mulai membicarakan perlunya untuk membuat Alkitab lebih mudah didapat. The British and Foreign Bible Society didirikan, dan dalam waktu 100 tahun, badan ini telah mendistribuskan lebih dari 200 juta Alkitab ke seluruh dunia. Bagi Mary, tidak ada yang lebih penting daripada Alkitab, dan kesetiaannya ini telah menghasilkan keuntungan rohani yang amat besar.

Apakah kita juga mencintai firman Allah sedemikian besar? Berapa kali kita menyempatkan berjalan menyeberang kamar hanya untuk mengambil Alkitab dan membacanya?

Tuhan, tolonglah kami untuk mencintai firmanMu -- JDB

KEBANYAKAN ORANG MENYIMPAN ALKITAB DI RAK BUKU BUKAN DI DALAM HATINYA

Sumber: Renungan Harian

Rabu, 16 Februari 2022

ANDA SEORANG PENGELUH?

Bacaan: Bilangan 11:1-10

NATS: Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya (Bilangan 11:1)

Ada sebuah cerita mengenai seorang petani yang dikenal dengan sikapnya yang negatif. Suatu hari seorang tetangga mampir dan memberikan komentar tentang ladang indah milik petani tersebut. "Anda pasti sangat gembira dangan panen tahun ini," katanya. Dengan enggan petani itu menjawab, "Yah, begitulah, sepertinya sangat bagus, tetapi hasil panen yang luar biasa besarnya ini membuat tanah menjadi kering."

Bangsa Israel memiliki sikap suka mengeluh yang sama. Allah telah menjaga mereka dengan menakjubkan pada saat mereka mengembara di padang pasir, tetapi mereka masih saja mengeluh. Contohnya, mereka mengomel tentang manna yang telah Allah sediakan dengan begitu berlimpah. Mengingat ikan, timun, melon, bawang bombai, dan bawang putih di Mesir, mereka merengek, "Tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat" (Bilangan 11:6). Betapa tidak berterimakasihnya!

Kita pun kadang cenderung memusatkan diri pada kehidupan yang buruk daripada yang baik. Kita mengeluh kepada Tuhan pada saat kita seharusnya bersyukur untuk berkat yang tak terhitung banyaknya. Kita membiarkan diri dipengaruhi oleh kekecewaan dan kerugian yang Allah berikan untuk kebaikan iman kita.

Pada saat kita tergoda untuk mengeluh, marilah kita mengingat Bilangan 11:1, "Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya" [RWD]

SEBAGIAN ORANG MENJALANI HIDUP
DENGAN BERDIRI DI LOKET KELUHAN

Sumber: Renungan Harian

Selasa, 15 Februari 2022

Obat Yang Pahit

Bacaan Alkitab hari ini:
2 Tawarikh 10:1–11:4

Kesalahan terbesar orang percaya pada umumnya adalah bahwa kita cenderung untuk lebih suka mendengar hal-hal yang menyenangkan hati daripada hal-hal yang memang perlu untuk kita dengar. Kita lebih suka mengunyah permen yang manis daripada menelan obat yang pahit. Meskipun kita tahu bahwa permen yang manis itu tidak baik untuk kesehatan, namun karena enak di lidah, kita tetap mengonsumsi permen dan menyukai permen.

Rehabeam—yang merupakan penerus Salomo—juga demikian. Saat orang Israel dan Yerobeam datang kepadanya untuk meminta keringanan atas pekerjaan dan pajak yang ditanggungkan kepada mereka, Rehabeam memutuskan untuk meminta nasihat teman-teman sebayanya. Rehabeam lebih dahulu bertanya kepada para tua-tua yang mendampingi Salomo, ayahnya. Namun, ia mengabaikan nasihat yang mereka berikan (10:7-8a). Sebaliknya, ia mengikuti nasihat teman-teman sebayanya (10:8-9). Rehabeam tidak menyukai—bahkan mengabaikan—nasihat para tua-tua, karena ia tidak sependapat dengan mereka. Sebaliknya, ia sepakat dengan nasihat teman-teman sebayanya, sehingga ia menuruti nasihat mereka, dan nasihat tersebut hampir mencelakai Rehabeam. Orang Israel menolak Rehabeam! Hadoram,—kepala rodi yang diutus kepada orang Israel—dilontari batu sampai mati. Bahkan, Rehabeam hampir-hampir celaka dan tidak dapat melarikan diri dari kekacauan itu (10:18). Rehabeam mencoba memerangi orang Isreal, namun TUHAN menghalangi niatnya. Pecahnya Kerajaan Israel menjadi Kerajaan Yehuda dan Kerajaan Israel memang berasal dari Tuhan, sesuai dengan janji-Nya kepada Yerobeam (10:15).

Meskipun pecahnya Kerajaan Israel—yang diakibatkan oleh dosa Salomo beserta orang Israel yang berbalik dari Tuhan—berasal dari TUHAN, pilihan ada di tangan Rehabeam. TUHAN memakai hati Rehabeam yang tidak mau taat kepada firman TUHAN untuk menjadi pemantik bagi penolakan dan pemberontakan terhadap diri Rehabeam sendiri. Di satu sisi, hati si pendosa tidak menyukai firman Tuhan yang sering menegur mereka dan membuat mereka menjadi merasa bersalah. Di sisi lain, firman Tuhan adalah pelita dan terang yang menuntun kita untuk mengambil pilihan yang mendatangkan kebaikan bagi diri kita. Apakah Anda telah berusaha bersikap terbuka terhadap koreksi yang dilakukan oleh firman Tuhan? [GI Wirawaty Yaputri]

Sumber: Renungan GeMA GKY

Senin, 14 Februari 2022

Akhir Hidup Manusia

Bacaan Alkitab hari ini:
2 Tawarikh 9

Bacaan Alkitab hari ini mencatat tentang betapa luar biasanya kehidupan Salomo. Dapat dikatakan bahwa Ia adalah manusia paling sukses di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Ia dikaruniai kekayaan yang besar, takhta, dan hikmat. Salomo dikatakan melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat. Semua raja-raja di bumi sampai berikhtiar untuk menyaksikan hikmat yang ditaruh Allah di dalam hatinya (9:22-23). Ratu Syeba yang mengunjungi Salomo tidak dapat menahan kekagumannya kepada Salomo dan semua yang dimiliki Salomo di dalam kerajaannya. Ratu Syeba mencoba hikmat yang dimiliki Salomo dengan mengajukan berbagai pertanyaan, dan tidak ada satu pun pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan baik oleh Salomo (9:1-2). Ratu Syeba melihat kemuliaan Allah dalam segala sesuatu yang ia saksikan di kerajaan Salomo (9:8). Sungguh, Salomo telah diberkati Allah secara luar biasa.

Setelah penulis kitab Tawarikh mencatat tentang kehebatan, kebesaran, dan kemasyhuran Salomo, ia menutup pasal 9 dengan mencatat sebuah fakta penting, yaitu bahwa pada akhirnya Salomo mati (9:31). Semua kekayaan, hikmat, dan kemuliaan yang dimiliki Salomo tidak bisa dibawa ke alam maut, melainkan harus ditinggalkan di dunia ini. Selama empat puluh tahun, Salomo memiliki semua kesuksesan dan keberhasilan menurut ukuran dunia ini. Namun, pada akhirnya, semua yang ia miliki harus ditinggalkan. Waktu 40 tahun berlalu dengan begitu cepat, sama seperti waktu yang dimiliki oleh semua orang, berlalu dengan cepat tanpa dapat ditahan dan ditunda.

Kehidupan Salomo merupakan pelajaran bagi kita, bahwa hidup di dunia adalah persiapan untuk menuju kepada kekekalan. Dunia ini bukan akhir dari segalanya, dan juga bukan tujuan akhir kita. Jika fokus hidup kita selama di dunia ini hanya untuk meraih kesuksesan, kekayaan, dan kemuliaan, hidup kita menjadi begitu sia-sia karena kita akan meninggalkan semuanya itu ketika kita mati. Setelah hidup beberapa puluh tahun, kita akan memasuki kekekalan tanpa akhir. Apakah Anda sudah mempersiapkan diri? Apakah anugerah yang Anda terima dari TUHAN—jabatan, kekayaan, dan keberhasilan—di dunia ini membuat Anda menjadi hidup dalam takut akan Dia atau justru membuat Anda menjadi sombong dan tidak setia kepada-Nya? [GI Wirawaty Yaputri]

Sumber: Renungan GeMA GKY

Minggu, 13 Februari 2022

Berpaling dan Diselamatkan

Charles Haddon Spurgeon adalah seorang pengkhotbah dari Inggris yang turut menjadi salah satu tokoh berpengaruh pada Kebangunan Rohani Inggris abad ke-19. Ia bukanlah seorang yang mempelajari teologi secara formal. Gaya khotbahnya sederhana dan memakai bahasa yang langsung dalam menjelaskan maksudnya.

Pada tahun 1852, Spurgeon menjadi pengkhotbah pada sebuah Gereja Baptis di Waterbeach. Di situ, Spurgeon berkhotbah kepada orang-orang yang terkenal sebagai pemabuk. Setelah itu, ia diundang untuk menjadi pengkhotbah di gereja yang lebih besar dan ribuan orang mendengar khotbah-khotbahnya.

Ada sebuah kisah menarik dari Spurgeon. Ia mungkin akan tetap tinggal dalam kegelapan dan keputusasaan jika ia tidak terjebak badai salju dalam perjalanan ke gereja.

Ia berbelok ke sebuah gereja kecil. Hanya ada 15 orang di sana. Karena cuaca buruk, pendeta tidak hadir. Seorang jemaat biasa yang rendah hati dan tidak berpendidikan mulai berkhotbah. Ia mengutip Yesaya 45:22 "Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain."

Meskipun tidak fasih berkhotbah, ia berbicara dengan penuh keyakinan, "Sahabat-sahabatku yang kekasih, ini adalah ayat yang paling sederhana. Ayat ini mengatakan, 'Berpalinglah!' Berpaling tidak menimbulkan rasa sakit. Tidak perlu mengangkat kaki atau tangan, hanya berpaling. Orang tidak perlu pergi ke perguruan tinggi untuk mempelajari bagaimana berpaling. Mungkin Anda orang yang paling bodoh, namun anda masih bisa berpaling. Seseorang tidak perlu berumur 1.000 tahun supaya tahu berpaling. Setiap orang bisa berpaling. Anak-anak pun tahu berpaling." Ya, berpaling, atau dalam bahasa Ibrani panah, berarti memandang ke arah atau bergerak menuju sesuatu atau seseorang.

Yesus berkata, "Berpalinglah kepada-Ku dan lihatlah Aku berkeringat darah. Berpalinglah kepada-Ku dan lihatlah, Aku tergantung di kayu salib. Berpalinglah kepada-Ku dan lihatlah, Aku mati dan dikuburkan dan Aku bangkit kembali. Berpalinglah kepada-Ku dan lihatlah, Aku naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Bapa. Hai orang-orang berdosa yang malang, berpalinglah dan lihatlah kepada-Ku!"

Mari, berpalinglah dari masalah dan lihatlah kepada Yesus!

Sumber: Renungan Kristen

Sabtu, 12 Februari 2022

HANYA BERPURA-PURA

Bacaan: Yeremia 3:4-10

NATS: Yehuda, saudaranya perempuan yang tidak setia itu, tidak kembali kepada-Ku dengan tulus hatinya, tetapi dengan berpura-pura, demikianlah firman TUHAN (Yeremia 3:10)

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang seorang sopir yang menaruh sebuah catatan di bawah kipas-kaca-mobil yang sedang diparkir? Catatan itu berbunyi demikian, "Saya baru saja menabrak mobil Anda. Orang-orang yang melihat hal ini sedang memperhatikan saya. Mereka berpikir saya menuliskan nama dan alamat saya untuk Anda, padahal tidak."

Cerita ini mengingatkan saya pada kepura-puraan yang lain. Dalam Yeremia 3, orang-orang Yehuda digambarkan sebagai orang yang berseru kepada Allah, Bapa dan Sahabat mereka, sambil tetap melakukan semua hal jahat yang dapat mereka perbuat (ayat 4-5). Mereka hanya berpura-pura kembali kepada Tuhan; hati mereka jauh dari pada-Nya.

Mengenakan kedok merupakan cara kuno, tetapi belum ketinggalan zaman. Tak ada hal yang lebih menyita perhatian selain kegagalan saya merespon Tuhan dari lubuk hati, yang telah menyatakan diri sedemikian nyata dan dapat dipahami melalui Kristus. Mudah untuk berkata, "Ya, ya, Dia adalah Tuhan dan Juruselamat kita. Dia mati bagi dosa-dosa kita dan layak menerima pujian dan pelayanan kita." Namun, ingatkah kita akan komitmen kepada-Nya tatkala tak seorang pun mengawasi bagaimana kita hidup?

Kita dapat saja berkata benar tentang Allah ketika hal itu menguntungkan bagi kita. Tetapi bagaimana sebenarnya hubungan kita dengan Tuhan? Dapatkah kita datang menghadap-Nya tanpa merasa malu? Kelihatan "baik" di mata orang lain tidaklah cukup [MRD II]

SEMAKIN KERAS ANDA BERUSAHA MENJADI YANG SEHARUSNYA
SEMAKIN KURANG ANDA MENCOBA MENUTUPI SIAPA ANDA SESUNGGUHNYA

Sumber: Renungan Harian

Jumat, 11 Februari 2022

WALAU SENDIRI TAPI TIDAK KESEPIAN

Ulangan 31: 8 Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.

Salah satu hasil dari acara televisi harian adalah orang-orang merasa bahwa mereka mengenal Anda. Di sebuah program berjudul The 700 Club, saya salah satu presenter di sana sering berbicara tentang masalah hati kami sesame pelayan Tuhan. Saya hampir tidak pernah bertemu dengan orang baru. Sekalinya bertemu dengan orang baru, keakraban terjadi begitu saja.

Kami menerima cukup banyak surat di kantor dan sebagian besar dari mereka hidup penuh dengan rasa sakit dan ketakutan. Banyak yang menulis, “Saya belum pernah membagikan hal ini dengan siapapun sebelumnya’ atau ‘Tidak ada orang yang bisa saya ajak bicara.’

Masalah mereka berbeda-beda, tetapi benang merah dari semua itu adalah KESEPIAN. Suami istri yang pernikahannya hancur, pecandu alkohol. Korban pelecehan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga, remaja yang depresi, orang-orang yang bermasalah dengan orientasi seksualnya. Semua orang ini terjebak dan sendirian.

Alkitab juga dipenuhi dengan orang-orang yang bergumul dengan kesepian. Kadang saat kita membaca kisah mereka, kita merasa nyaman dengan keakraban mereka dan tidak berpikir tentang keadaan mereka sesungguhnya.

Sebut saja seperti Musa. Kita pasti akan langsung berpikir tentang bagaimana Tuhan menjawab doa ibunya dan betapa diberkatinya dia karena ditemukan oleh putri Firaun dari sungai Nil. 

Tapi yakinlah dia akan dihantui dengan tanda tanya selama dia tinggal sebagai satu-satunya orang Ibrani di tengah istana Mesir. Sementara dia dibesarkan di lingkungan yang istimewa, bangsa setanah airnya menderita. Ini bicara tentang krisis identitas!

Musa adalah seorang pria tanpa identitas negara. Saat dia mencoba membela sebangsanya, dia nekad membunuh salah satu orang Mesir. Dia lalu dituntut oleh orang Mesir dan melarikan diri dari Raja Firaun ke padang gurun. Di kemudian hari, dia masih tetap dipanggil Tuhan untuk mengerjakan panggilannya. Selama masa itu, dia pasti melewati masa kesepian.

Serupa halnya dengan Yusuf. Dia dikhianati oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, dan dibawa keluar negeri. Sementara di sana secara tidak adil dia dituduh, dipenjara dan dilupakan. Dia juga pasti merasa kesepian.

Lalu ada Ester, seorang gadis muda keturunan Yahudi yang menawan. Orang tuanya sudah meninggal. Pamannya Mordekai mengadopsi dia lalu tiba-tiba dibawa ke istana sebagai permaisuri untuk raja yang egois. Walaupun dia mengenal raja sebagai orang yang baik, namun dia tidak diberi jaminan. Untuk hal ini, dia juga pasti merasa kesepian.

Semua tokoh Alkitab ini melalui masa kesepian yang sama. Tapi mereka punya sifat yang mirip. Mereka melayani Tuhan yang besar dan perkasa dan yang memberi mereka kenyamanan dan harapan di tengah kesepian mereka.

Apa yang Dia lakukan kepada Musa, Yusuf dan Ester, juga akan Dia lakukan atas Anda!

Mungkin hari-hari ini Anda seperti sedang berjuang sendiri atas situasi dan kondisi dalam hidup Anda. Tidak seorangpun bisa Anda andalkan. Anda merasa begitu kesepian, tetapi Tuhan ada bersama dengan Anda. 

Mari berdoa:
Bapa, saat aku kesepian, mudah untuk membiarkan depresi menyerang hidupku. Daripada mengasihani diri sendiri, akum au memilih untuk mengangkat suaraku untuk memujiMu. 

Penuhi aku dengan mujizatMu yang menunjukkan siapa Engkau dan besarnya kasihMu bagiku. 

Ampuni aku karena selalu mencoba untuk mencari orang lain sementara satu-satunya yang aku perlukan adalah Engkau. Engkau adalah segalanya bagiku.

Hak cipta Near to the Heart of God, Terry Meeuwsen, CBN

Kamis, 10 Februari 2022

Saat Tuhan Menggendong Kita

Baca: Yesaya 40:12-31

"Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?" (Yesaya 40:27)

Footprint adalah judul sebuah sajak yang sangat terkenal yang menyentuh hati jutaan manusia di seluruh dunia. Sajak ini dikarang oleh Margaret Fishback, seorang guru sekolah dasar Kristen untuk anak-anak Indian di Kanada. Sajak ini begitu populer di kalangan umat Kristiani, mengisahkan tentang seseorang yang tengah berjalan menyusuri pantai yang berpasir.

Sajak ini sering kali dipakai untuk menggambarkan tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Ketika menoleh ke belakang ia melihat dua pasang jejak kaki di pasir, sepasang jejak kakinya dan sepasang lagi jejak kaki Tuhan. Tapi ketika sedang dalam situasi sulit yang terlihat hanyalah sepasang jejak kaki. Ia pun mengeluh dan memprotes, "Tuhan, pada masa-masa berat dalam hidupku, mengapa Engkau malah membiarkan dan meninggalkan aku berjalan sendirian?" Tuhan menjawab, "Aku tidak pernah meninggalkan kamu. Jejak kaki yang sepasang itu adalah jejak kaki-Ku, karena saat itu Aku sedang menggendong kamu!"

Suatu ketika bangsa Israel sedang mengalami masa-masa sulit, mereka harus kehilangan negerinya dan hidup sebagai buangan di negeri asing. Begitu berat penderitaan yang dialami sampai-sampai mereka merasa telah ditinggalkan Tuhan. "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?" (ayat nas). Benarkah? Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya, terlebih-lebih saat dalam situasi sulit. "Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya." (ayat 29). Justru yang sering kali terjadi adalah kita meninggalkan Tuhan.

Tetaplah berpaut kepada Tuhan yang terus bertekun menanti-nantikan Tuhan, sebab "...orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya;" (ayat 31). Jangan pernah merasa sendiri, apalagi ditinggalkan Tuhan, sebab Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sedetik pun, asal kita hidup seturut kehendak-Nya.

"Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau." (Yesaya 49:15)

Sumber: Renungan Kristen

Rabu, 09 Februari 2022

BATAS AKHIR KEHIDUPAN

Bacaan: Lukas 12:16-21

NATS: Bersiaplah untuk bertemu dengan Allahmu (Amos 4:12)

Kita semua diperhadapkan pada batas waktu. Pembayaran rekening, perpanjangan SIM, penghitungan pajak, dan sebagainya. Semuanya berjalan terus mendekati batas waktunya.

Namun ada satu batas waktu yang paling penting yang harus kita hadapi. Alkitab berkata, "Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi" (Ibrani 9:27).

Selain orang-orang percaya yang akan bangkit pada waktu kedatangan Yesus kembali (1Tesalonika 4:16-17), semua orang akan binasa. Dan semua orang tanpa terkecuali akan menghadapi penghakiman Allah. Alangkah bodohnya bila kita tidak bersiap-siap untuk menghadapi peristiwa yang sangat penting ini.

Dalam Lukas 12:1-59, Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang kaya yang merencanakan akan membangun lumbung-lumbung yang lebih besar untuk menyimpan gandum dan barang-barangnya di dunia ini agar ia dapat hidup dengan tenang dan tentram. Namun Allah berkata kepadanya, "Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu!" (Lukas 12:20). Batas waktu baginya telah tiba.

Apakah Anda telah siap untuk berjumpa dengan Allah? Jika Anda belum pernah menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat Anda pribadi, terimalah Dia sekarang juga tanpa menunda-nunda lagi. Percayalah bahwa Dia telah mengucurkan darahNya di atas kayu salib untuk menebus dosa-dosa Anda, dan dengan kebangkitanNya dari kubur Dia juga telah mengalahkan maut. Mintalah Yesus menyelamatkan Anda. Dengan demikian Anda akan menghadapi batas waktu akhir kehidupan ini dengan mantap -- RWD

JANGAN TUNGGU SAMPAI PUKUL 11.00 UNTUK BERTOBAT KARENA KITA MUNGKIN SAJA MATI PADA PUKUL 10.30

Sumber: Renungan Harian

Selasa, 08 Februari 2022

AIR MATA

[[Setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku. ]] (Mazmur 6:7)

“Jangan menangis!” bentak seorang ayah kepada anaknya. “Menangis itu tanda ORANG tidak beriman, tahu! Orang Kristen harus tetap tersenyum sekalipun mengalami pergumulan berat!” sambungnya. Maka setiap kali menghadapi masalah, anak itu akan selalu berusaha menegarkan diri, berpura-pura kuat, atau berusaha melupakan masalah yang dihadapinya dengan menenggelamkan diri dalam kesibukan. Bila ia ditanya: “Apa kabar?”, selalu jawabnya, “Baik!” Akibatnya, hatinya menjadi makin keras. Ia tidak dapat memahami penderitaan orang lain, dan hidupnya pun berantakan.

Pemazmur, ketika badai melanda hidupnya, tidak segan-segan menampilkan diri apa adanya. Sebagai orang yang lemah dan rapuh ia membiarkan air matanya bercucuran (ayat 7). Namun, bukan menangis ngawur sebab ia mengarahkan air matanya kepada Tuhan. Hasilnya, Tuhan mengubah air matanya menjadi mata air; menjadi kekuatan yang luar biasa sehingga sekalipun badai hidup itu belum mereda, ia dapat menghadapinya dengan iman yang teguh.

Air mata bukan sesuatu yang memalukan, bukan tanda kelemahan sehingga harus ditahan atau diabaikan. Air mata adalah anugerah Tuhan yang bila dipakai dengan benar justru menjadi alat untuk melepaskan emosi-emosi negatif yang timbul karena berbagai masalah yang menimpa hidup kita sehingga kita bisa tetap “waras” dan kondusif untuk bertumbuh dan berbuah.

Dengan demikian, apabila hari ini badai kehidupan menerpa Anda, jangan ragu untuk menangis di hadapan Tuhan. Dia pasti sanggup mengubah air mata Anda menjadi mata air yang menyegarkan.
(Ruth Retno Nuswantari)

Sumber: Amsal Hari Ini 

Senin, 07 Februari 2022

Janganlah kuatir akan hidupmu ... — Matius 6:25

Menarik, bahwa ancaman terhadap “kehidupan Allah dalam diri kita” adalah kekhawatiran, yang dikipas-kipas oleh apa yang disebut oleh Oswald Chambers sebagai setan kecil (little devil) -- karena mungkin kelihatannya tidak berbahaya! Bagaimana kita dapat bebas dari serbuan ancaman ini?

Lihatlah Kembali dan Renungkan

Ada sebuah peringatan yang perlu diulang-ulang bahwa kekhawatiran dunia ini, tipu daya kekayaan, serta keinginan akan hal-hal yang lain akan mengimpit kehidupan Allah di dalam kita (Matius 13:22). Kita tidak pernah bebas dari gelombang serbuan ini. Jika serangan garis depan bukan mengenai sandang dan pangan, mungkin itu mengenai uang atau kekurangan uang, tentang teman atau tidak adanya teman, atau mungkin dari keadaan sulit. Serangan seperti ini akan selalu datang dan mungkin seperti banjir, kecuali kita mengizinkan Roh Allah mengangkat panji peperangan melawannya.

“Aku berkata kepadamu, janganlah kuatir tentang hidupmu ....” Dengan perkataan tersebut Yesus menekankan agar kita hanya berhati-hati tentang satu hal, yaitu hubungan kita dengan Dia. Akan tetapi, akal sehat kita berteriak keras dan berkata, “Itu konyol, aku harus ‘dong’ memperhatikan bagaimana aku akan hidup, dan aku harus memikirkan apa yang aku harus makan dan minum.”

Yesus berkata, tidak harus demikian. Jangan sekali-kali berpikir bahwa Dia mengucapkan hal ini tanpa memahami situasi Anda. Yesus Kristus lebih mengetahui situasi kita ketimbang kita sendiri memahaminya. Dia melarang kita memikirkan hal-hal ini sehingga menjadi perhatian utama dalam hidup kita. Jika ada berbagai masalah yang bertumpuk dalam hidup Anda, pastikanlah bahwa Anda selalu menempatkan hubungan Anda dengan Kristus di atas semuanya.

Kata Yesus, “Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:34). Berapa banyakkah kesusahan yang telah mulai mengancam Anda hari ini? Lihatlah upaya iblis kecil yang telah mengintai hidup Anda sambil berujar, “Apakah rencanamu untuk bulan depan -- atau musim yang akan datang?” Yesus mengatakan, kita tidak usah khawatir akan semua hal ini. Lihatlah kembali dan renungkanlah. Arahkanlah pikiran Anda kepada janji “terlebih lagi” dari Bapa surgawi Anda (Matius 6:30).

Sumber: Renungan Oswald Chambers

Minggu, 06 Februari 2022

BERDOA DI TEMPAT UMUM

Bacaan: Matius 6:5-8

NATS: Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik (Matius 6:5)

Ketika Yesus mengatakan berdoalah ditempat yang tersembunyi, Dia tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa berdoa di depan umum adalah salah. Yang Dia persalahkan adalah kecenderungan hati yang tidak jujur untuk mendapatkan penghargaan dari orang lain. Kita semua pasti merasakan godaan yang tidak kelihatan pada saat berdoa seperti itu.

Sebuah rombongan delegasi konferensi Kristen berhenti pada sebuah restoran yang ramai untuk makan siang dan duduk berpencar pada beberapa meja yang berlainan di seputar ruangan. Sesaat sebelum makan, salah seorang anggota mengumumkan dengan suara keras, "Mari kita berdoa". Kursi-kursi digeser, orang-orang mulai berdiri dan menundukkan kepala. Kemudian diikuti dengan doa berkat makan yang panjang dan betele-tele yang hanya akan mendinginkan makanan daripada hati kami. Akhirnya, orang-orang mulai berisik dan menggerutu serta mengatakan: "Amin."

Sangat kontras dengan cerita pada peristiwa lain. Seorang dosen sejarah dari sebuah perguruan tinggi negeri yang terkenal sedang makan siang dengan keluarganya di sebuah kafetaria kampus. Ketika mereka mulai makan, tiba-tiba anak mereka yang berusia tiga tahun berteriak "Papa, kita lupa berdoa!" "Ya, sayang. Maukah engkau berdoa untuk kita?" kata dosen tersebut. "Yesus yang baik," anak itu mulai berdoa, "Terima kasih untuk makanan yang enak dan untuk orang-orang yang ramah di tempat ini. Amin". Dari meja-meja di dekat mereka, terdengar kata "Amin" dari para profesor dan mahasiswa yang ada di tempat itu yang sangat tersentuh dengan doa yang sederhana dan tulus dari anak tersebut.

Semoga semua doa kita di depan umum sama seperti itu -- DJD

JIKA KITA BERDOA UNTUK DIDENGAR TELINGA MANUSIA KITA TIDAK DAPAT BERHARAP MENCAPAI TELINGA ALLAH

Sumber: Renungan Harian

Sabtu, 05 Februari 2022

Gelisah karena Berkat

Bacaan: KEJADIAN 12:10-20

"Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup." (Kejadian 12:12)

Pada suatu kebaktian di gereja, Bapak Pendeta menunjukkan gambar seorang pria dengan tumpukan uang memenuhi kamarnya. Seorang teman lalu mengatakan, "Betapa bahagianya pria itu!" Tidak disangka, teman lain memberi pendapat yang sungguh berbeda. Ia berkata, "Pria itu mungkin susah tidur karena memikirkan uangnya!"

Mendapat berkat, siapa tidak mau? Faktanya, keberadaan berkat khususnya yang bersifat fisik atau materi, sering kali justru menggelisahkan hati dan pikiran manusia! Mari perhatikan kisah Abram! Abram mempunyai seorang istri cantik bernama Sarai. Amsal 18:22 menyebutkan istri sebagai "sesuatu yang baik", dalam arti adalah berkat. Menariknya, tercatat hati Abram pernah digelisahkan oleh "berkat" itu. Ketika timbul kelaparan dan mereka mengungsi ke Mesir, keberadaan istrinya yang cantik membuat Abram ketakutan dan terancam kematian. Itulah mengapa, Abram meminta Sarai supaya mengaku sebagai saudaranya (ay. 11-13). Apabila Sarai mengatakan dirinya saudara Abram, bukan tidak mungkin dirinya diambil orang lain sebagai istri, termasuk Firaun. Hal ini tentu bertentangan dengan rencana Tuhan yang hendak menjadikan Abram sebagai bangsa yang besar melalui Sarai. Beruntung, Tuhan turun tangan menyelamatkan rumah tangga Abram (ay. 17).

Kehidupan beberapa orang dapat berubah tidak tenang seketika dilimpahi oleh berkat. Hal tersebut terjadi karena mereka kini lebih terfokus kepada berkat, bukan Sang Pemberi Berkat. Tidak perlu gelisah apabila kita diberkati berlimpah-limpah. Sebaliknya, bersyukurlah kepada Tuhan dan yakinlah bahwa berkat disediakan untuk kebahagiaan, bukannya kemalangan! --LIN/www.renunganharian.net

KETIKA HATI KITA MULAI DIGELISAHKAN OLEH BERKAT, HAL ITU MERUPAKAN TANDA BAHWA KITA PERLU LEBIH MENDEKATKAN DIRI PADA SANG PEMBERI BERKAT!

Jumat, 04 Februari 2022

Bahaya Kesuksesan

Bacaan: 2 TAWARIKH 26

Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan. (2 Tawarikh 26:16)

Ketika Uzia dinobatkan menjadi raja Yehuda, ia mengawali semuanya dengan baik. Ia takut akan Tuhan, mencari Dia dengan sungguh-sungguh dan menaati kehendak-Nya. Hasilnya, "Allah membuat segala usahanya berhasil" (ay. 5). Ia menang atas musuh-musuhnya, memiliki pasukan yang kuat dan persenjataan yang canggih. Namanya tersohor hingga ke negeri-negeri yang jauh. Namun setelah ia menjadi kuat, ia menjadi sombong. Ia berpaling dari Tuhan serta mulai mengandalkan diri sendiri. Ia bahkan mengambil alih tugas imam dengan memasuki Bait Allah untuk membakar ukupan. Padahal Tuhan telah menetapkan bahwa itu adalah tugas imam-imam keturunan Harun. Akibatnya, Uzia terkena tulah. Ia menderita kusta, lalu dikucilkan hingga hari matinya.

Ternyata kesuksesan juga memiliki sisi yang berbahaya. Sukses dapat membuat kita sombong. Merasa hebat dan mampu. Lalu kita berpusat pada diri sendiri. Kita melupakan Tuhan dan mengabaikan firman-Nya. Saat kita tiba pada titik tersebut, itulah awal kehancuran kita.

Saat mengalami kesuksesan, kita hendaknya tetap ingat dari mana semua itu berasal. Bahwa itu adalah berkat Tuhan. Dialah yang memampukan kita mencapainya. Maka hendaknya kita mensyukurinya. Itulah tanda pengakuan kita akan kemurahan dan kebaikan-Nya. Hendaknya kita juga menggunakan kesuksesan itu untuk memuliakan Dia. Jika kita gagal melakukan hal demikian, maka berbagai berkat dan kesuksesan itu justru akan menghancurkan kita. --HT/www.renunganharian.net

BAHKAN KESUKSESAN PUN DAPAT MENGHANCURKAN KITA, JIKA KITA MENINGGIKAN DIRI DAN MELUPAKAN ALLAH, SUMBER SEGALA BERKAT YANG KITA PUNYA.

Kamis, 03 Februari 2022

HAPUSKAN POLUSI

Bacaan: Efesus 4:17-32

NATS: Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu (Efesus 4:29)

Polusi sangat menimbulkan frustrasi! Setiap orang menderita karena polusi, tetapi setiap orang ikut menyebabkan terjadinya polusi.

Polusi itu memiliki banyak bentuk, tetapi ada satu yang sering dilupakan. Charles Swindoll menyebutnya sebagai "polusi ucapan," yang keluar dari mulut para penggerutu, pengeluh, dan pengritik. "Racun pesimisme," tulis Swindoll, "menciptakan suasana yang benar-benar negatif di mana yang ditekankan hanyalah segi buruk dari segala hal."

Sekelompok teman Kristen merasa prihatin atas polusi ini dan rendahnya partisipasi mereka di dalamnya. Karena itu mereka membuat perjanjian untuk menghindari kata-kata yang tajam selama seminggu penuh. Dan mereka dibuat terkejut tatkala mendapati betapa sedikitnya mereka berbicara! Ketika melanjutkan eksperimen tersebut, mereka sungguh-sungguh harus mempelajari kembali keterampilan dalam hal bercakap-cakap.

Dalam Efesus 4 Paulus meminta orang-orang percaya untuk melakukan tindakan tegas. Ia berkata bahwa kita harus "menanggalkan" manusia lama dan perilaku yang mendukakan Roh Kudus (ayat 22,30) dan "mengenakan" manusia baru yang membangun orang lain (ayat 24). Jika kita bergantung pada pertolongan Roh Kudus (Galatia 5:16), kita dapat melakukan perubahan dalam hal perilaku, pemikiran, dan perkataan.

Jika kita ingin menyingkirkan polusi ucapan, kita harus memutuskan untuk berubah dan meminta pertolongan Allah. Inilah cara yang sangat baik untuk mulai membersihkan kehidupan rohani kita [JEY]

BANTULAH MENGHAPUSKAN POLUSI DENGAN MENJAGA UCAPAN ANDA!

Sumber: Renungan Harian

Rabu, 02 Februari 2022

Memberi Selagi Masih Hidup

Ayat Bacaan & Wawasan:
Yohanes 9:1-12

Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang. –Yohanes 9:4

Seorang pengusaha sukses memutuskan untuk membagi-bagikan hartanya dalam beberapa dekade terakhir hidupnya. Sebagai seorang miliuner, ia mendonasikan uang kepada berbagai gerakan sosial, seperti usaha menciptakan perdamaian di Irlandia Utara dan upaya modernisasi sistem perawatan kesehatan di Vietnam. Tak lama sebelum meninggal dunia, ia mendonasikan 350 juta dolar untuk menjadikan Pulau Roosevelt di kota New York sebagai pusat pengembangan teknologi. Beliau berkata, “Saya percaya kita harus memberi selagi masih hidup. Tidak ada alasan untuk menunda-nunda dalam memberi . . . Lagi pula, lebih bahagia memberi selagi masih hidup daripada setelah meninggal.” Memberi selagi masih hidup adalah sikap yang luar biasa.

Dalam tulisan Yohanes tentang orang yang buta sejak lahir, murid-murid Yesus mencoba menentukan “siapakah yang berbuat dosa” (Yoh. 9:2). Yesus menjawab persoalan itu dengan berkata, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang” (ay. 3-4). Meskipun pekerjaan kita sangat berbeda dari karya mukjizat yang diadakan Tuhan Yesus, bagaimana pun cara kita mempersembahkan diri, kita perlu melakukannya dengan sikap yang siap memberi dan penuh kasih. Baik berupa waktu, kekayaan, maupun tindakan, tujuan kita memberi adalah agar pekerjaan Allah dapat dinyatakan.

Allah memberi karena begitu besar kasih-Nya akan dunia ini. Sebagai balasannya, marilah kita memberi selagi kita masih hidup (John Blase).

Renungkan dan Doakan
Pemberian apakah yang selama ini masih Anda tunda-tunda? Bagi Anda, apa artinya memberi selagi masih hidup?

Allah Maha Pemurah, tunjukkanlah kepadaku di mana saja aku dapat memberi pada hari ini.

Sumber: Santapan Rohani

Selasa, 01 Februari 2022

Berkat Allah Melimpah 

Bacaan Alkitab hari ini:
Mazmur 146:1-10

Imlek adalah tahun baru orang Tionghoa yang dirayakan bertepatan dengan permulaan musim semi. Imlek dirayakan dengan harapan agar hari-hari di depan dipenuhi kemakmuran, kelancaran, kesehatan, dan kesuksesan sepanjang tahun. Hal ini terpancar dari ucapan dan ornamen yang beredar selama hari raya ini. Sebagai contoh, orang saling meng-ucapkan "Gong xi fa cai, wan shi ru yi" yang secara hurufiah berarti "Semoga kaya dan makmur, segala sesuatu lancar sesuai harapan". Orang juga memasang berbagai ornamen khas Imlek seperti jeruk mandarin yang dalam dialek Kantonis berbunyi gam gat yang berarti emas (gam) dan keberuntungan (gat), atau hidangan ikan (yu) yang merupakan homofon—kata berlafal sama—dengan kelimpahan.

Adalah penting untuk mengharapkan semua kebaikan di atas saat memulai satu tahun yang baru. Di samping itu, perlu dipastikan bahwa pengharapan kita dibangun di atas fondasi yang benar. Bacaan Alkitab hari ini mengingatkan kita untuk tidak menambatkan pengharapan kita pada manusia. Seorang bangsawan yang kelihatan berkuasa dan mampu menolong pun akan lenyap saat waktunya tiba (146:3-4). Sebaliknya, pemazmur mengajar kita untuk berharap kepada Allah yang Mahakuasa dan Mahakasih. Sebagai Pencipta dan Penguasa alam semesta, Allah berkuasa memelihara orang yang berharap kepada-Nya (146:6). Selain itu, dalam keadilan dan kesetiaan-Nya, Allah membela orang-orang yang tertindas dan menderita serta memuaskan keinginan orang-orang yang berharap kepada-Nya (146:7-9). Mazmur 146 ini ditutup dengan pernyataan bahwa Allah adalah Raja yang melintasi zaman (146:10). Oleh karena itu, pemazmur menyebut orang yang berharap kepada Allah sebagai orang yang berbahagia, yakni orang yang dijaga dan dilindungi Allah sepanjang tahun dan yang dilimpahi dengan berkat dan sukacita sorgawi.

Apa yang Anda harapkan saat Anda memasuki tahun baru Imlek? Apapun yang Anda harapkan, tambatkanlah pengharapan itu pada Allah melalui tiga tindakan berikut. Pertama, selalu berserah kepada Allah melalui doa dan permohonan untuk mendapat hikmat dan kekuatan guna mewujudkan pengharapan tersebut. Kedua, lakukan usaha terbaik dengan cara yang memuliakan Allah. Ketiga, secara aktif, salurkan berkat dan kebaikan Allah kepada sesama. Mari kita bertekad untuk mengisi hari-hari di depan dengan mengandalkan Allah dan menjadi berkat bagi sesama! Selamat tahun baru Imlek! [Pdt. Timotius Fu]

Sumber: Renungan GeMA GKY