Sabtu, 31 Mei 2025

SIAPA YANG PATUT MENERIMA PUJIAN?

Bacaan: Daniel 4:28-37

NATS: [Allah] berbuat menurut kehendak-Nya terhadap balatentara langit dan penduduk bumi (Daniel 4:35)

Sejarawan Stephen E. Ambrose meyakini bahwa pengorbanan para pahlawan telah membuat Amerika Serikat menjadi "negara terhebat dan terbesar yang pernah ada." Ia menghubungkan kebesaran negara ini dengan beberapa presiden terdahulu seperti Washington dan Jefferson, juga beberapa penjelajah seperti Lewis dan Clark. Ambrose menulis, "Allah tidak menyumbangkan apa pun, manusialah yang membuat Amerika demikian."

Pandangan tersebut berpusat pada kontribusi manusia yang dianggap sangat penting, namun lupa mengenali bahwa di balik itu semua Allah membimbing dan mengontrol jatuh bangunnya setiap bangsa di dunia.

Raja Nebukadnezar berpikir bahwa dirinyalah yang sepenuhnya berjasa atas berdirinya kerajaan Babel yang sangar besar itu. Ia menyombongkan diri, "Bukankah ini Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun ...?" (Daniel 4:30).

Ia belum selesai berbicara saat Allah merendahkannya sehingga ia menjadi seperti binatang dan memakan rumput-rumput yang ada di padang. Tujuh tahun kemudian ia berkata, "Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap balatentara langit dan penduduk bumi" (ayat 35).

Janganlah kita diperdaya oleh kepandaian kita sendiri. Allahlah yang bekerja di dalam kita, yang memberi kita keinginan untuk menaati-Nya dan kekuatan untuk melakukan kehendak-Nya (Filipi 2:13). Hanya Allah yang patut dipuji. Dialah yang layak menerima pujian --VCG

KERENDAHAN HATI YANG SEJATI
SENANTIASA MEMUJI ALLAH ATAS SETIAP KEBERHASILAN

Sumber: Renungan Harian

Jumat, 30 Mei 2025

Frida Kahlo: Melukis Luka Menjadi Kekuatan

Frida Kahlo lahir pada tahun 1907 di Coyoacán, Meksiko, dalam keluarga berdarah campuran Jerman dan Meksiko. Sejak kecil, ia menunjukkan kecerdasan dan semangat yang kuat. Tapi hidupnya berubah drastis saat usia 6 tahun. Ia terserang polio, yang membuat kaki kanannya mengecil dan lemah.

Frida tidak menyerah. Ia mulai berolahraga dan mencoba berdiri sejajar dengan anak-anak lain, tapi rasa tidak percaya diri mulai tumbuh karena penampilannya yang dianggap berbeda.

Namun ujian terbesar datang saat ia berusia 18 tahun. Ia mengalami kecelakaan bus yang sangat parah: tulang punggungnya patah di tiga tempat, tulang panggulnya hancur, kaki kanannya remuk, dan besi menembus perut serta rahimnya. Frida nyaris meninggal. Ia harus menjalani puluhan operasi selama hidupnya dan menghabiskan waktu berbulan-bulan terbaring di ranjang, mengenakan korset besi yang membelenggu tubuhnya.

Di atas tempat tidur itulah ia mulai melukis, dengan kanvas yang dipasang di atas ranjang dan cermin di langit-langit agar ia bisa melihat dirinya sendiri. Karena tak bisa melihat dunia luar, Frida melihat ke dalam, dan dari sanalah lahir lukisan-lukisan penuh ekspresi yang menampilkan luka fisik, pergumulan batin, dan pencarian jati diri.

Frida tidak hanya melukis sebagai ekspresi, tapi juga sebagai perlawanan. Di zamannya, perempuan diharapkan diam, anggun, dan patuh. Tapi Frida justru tampil kuat, berani, dan jujur tentang penderitaannya. Ia menggambar dirinya sendiri dalam berbagai kondisi: tersayat, berdarah, menangis; namun selalu tegar dan memandang lurus ke depan.

Meskipun terus mengalami sakit sepanjang hidupnya, dan pernikahannya dengan pelukis Diego Rivera penuh dengan perselingkuhan dan konflik, Frida tidak berhenti berkarya. Ia mengadakan pameran, menyuarakan perjuangan perempuan dan kaum marjinal, dan menjadi ikon perlawanan dan kebebasan. Bahkan ketika dokter memintanya diam di tempat tidur menjelang akhir hidupnya, Frida datang ke pameran seni dengan berbaring di ranjang yang dibawa langsung ke galeri.

Frida meninggal di usia 47 tahun. Tapi warisannya hidup terus, bukan hanya dalam dunia seni, tapi juga dalam pesan kekuatan, kejujuran, dan keberanian menghadapi penderitaan.
Frida Kahlo menjalani hidup dengan luka fisik dan batin yang berat. Tapi yang luar biasa, ia tidak menyembunyikan penderitaannya. Ia mengubah luka menjadi lukisan, dan kesakitan menjadi karya seni yang menggerakkan hati banyak orang.

Kisah Frida menunjukkan satu kebenaran yang sangat dekat dengan pesan Injil: Tuhan tidak membuang luka kita; Dia bisa menggunakannya. Sering kali kita merasa Tuhan hanya bisa memakai bagian dari hidup kita yang "beres", sehat, kuat. Tapi justru sebaliknya, Tuhan sangat senang memakai bagian hidup kita yang rusak, rapuh, dan terluka untuk menyatakan kasih dan kuasa-Nya.

Frida menunjukkan bahwa penderitaan tidak selalu harus disembuhkan agar bisa menjadi berkat. Terkadang, penderitaan itulah yang Tuhan pakai sebagai kuas untuk melukis karya-Nya dalam hidup kita dan orang lain.

"Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." (2 Korintus 12:9)

Sumber: Renungan dan ilustrasi Kristen

Kamis, 29 Mei 2025

Karunia Anda adalah untuk Orang Lain

Bacaan Hari ini:
1 Petrus 4:10 “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.”

Ketika Anda menggunakan kemampuan Anda untuk membantu sesama, Allah sedang dipermuliakan. Alkitab mengatakan, “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah” (1 Petrus 4:10).

Allah mengutus Anda untuk memberi kontribusi dengan hidup Anda. Dia tidak menganugerahi Anda dengan bakat dan kemampuan untuk kepentingan Anda sendiri. Itu adalah untuk kepentingan orang lain. Begitu pun sebaliknya, bakat dan talenta orang lain ialah untuk keuntungan Anda.

Saya sangat bersyukur untuk orang-orang bertalenta di bidang yang tidak saya kuasai. Contohnya, saya bersyukur buat para akuntan—karena saya payah di bidang akuntansi! Saya bersyukur untuk orang-orang yang ahli dalam perpajakan. Saya bersyukur buat orang-orang yang memiliki kemampuan mekanik. Saya tidak bisa memperbaiki karburator mobil saya sendiri. Saya bahkan tidak tahu letaknya di mana!

Setiap orang memiliki talenta yang berbeda-beda.

Tuhan mengaruniakan saya beberapa bakat. Salah satunya yaitu memahami firman Tuhan dan kemudian membuatnya menjadi jelas untuk dipahami oleh orang lain. Saat saya menggunakan kemampuan itu, Anda terberkati. Bakat saya adalah untuk Anda, untuk menolong Anda. 

Tapi ini intinya: Anda juga memperoleh bakat. Sudahkan Anda menggunakannya untuk memberkati orang lain? Apakah Anda menggunakannya untuk membantu orang lain? 

Bila Anda tidak menggunakan bakat yang telah Tuhan karuniakan kepada Anda, artinya orang lain tidak terberkati. Namun sebaliknya, ketika Anda menggunakan bakat dan kemampuan Anda untuk melayani orang lain, mereka terberkati, dan nama Allah dipermuliakan.

Tetapkanlah tujuan Anda setiap hari untuk hidup bagi kerajaan Allah, dengan kuasa-Nya dan untuk kemuliaan-Nya—bukan untuk memikirkan diri sendiri, melainkan untuk orang-orang di sekitar Anda.

Renungkan hal ini:
- Karunia apa saja yang telah Allah berikan kepada Anda?
- Bagaimana Anda menggunakannya untuk melayani orang lain? Menurut Anda bagaimana Allah ingin Anda menggunakannya untuk kepentingan orang lain?
- Bagaimana Anda dapat menerima bantuan dari orang lain sehingga mereka mampu menggunakan karunia mereka untuk mendatangkan kemuliaan bagi Allah?

Anda diberkati untuk menjadi berkat. Allah memberkati Anda agar Anda dapat memberkati orang-orang di sekitar Anda. 

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Rabu, 28 Mei 2025

PoV 

Bacaan: Bilangan 13 

Dalam konten-konten media sosial, sering muncul istilah PoV. Konten video PoV berisi aktivitas hidup seseorang, misalnya tutorial mengemudi mobil bagi pemula, berburu makanan, merias wajah, dan lain sebagainya. PoV adalah kependekan dari point of view, atau sudut pandang. PoV adalah posisi seseorang memandang suatu hal atau orang lain.

Dalam bacaan kali ini, kedua belas pengintai yang diutus oleh Musa memiliki persamaan dan perbedaan PoV. Mereka berdua belas memiliki PoV yang sama tentang keadaan tanah yang hendak mereka masuki, yaitu berlimpah hasil bumi dan kaya (26-27). Mereka juga masih memiliki PoV yang sama tentang kondisi bangsa yang tinggal di tanah itu, yang mana orang-orangnya kuat dan kota-kotanya berkubu (28-29). Namun, mereka memiliki PoV yang berbeda tentang mampu tidaknya mereka melawan orang yang tinggal di sana untuk merebut tanah itu. Kaleb meyakini bahwa mereka bisa; ia yakin mereka pasti bisa mengalahkan orang-orang di sana (30). Sementara yang lain yakin tidak bisa karena merasa diri lebih kecil dan lebih lemah daripada orang-orang itu (31-33). Ada perbedaan sudut pandang di antara Kaleb dan pengintai yang lain. Kaleb melihat dengan optimis, sementara yang lain melihat dengan pesimis.

Sering kali keberhasilan kita dalam melakukan sesuatu tidak ditentukan oleh kemampuan kita, melainkan terlebih dahulu ditentukan oleh sudut pandang kita terhadap hal tersebut. Kalau kita sudah memandang diri kita tidak bisa melakukan sesuatu, maka menjadi sangat sulit untuk memulai, apalagi menyelesaikan hal itu. Sebaliknya, bila kita memandang diri mampu, sekalipun harus belajar dan mencoba berulang kali, umumnya kita akan berhasil menyelesaikan tugas yang dipercayakan kepada kita.

PoV atau sudut pandang kita menentukan langkah kita selanjutnya. Oleh karena itu, baiklah kita memiliki PoV yang positif dan optimis sehingga bisa memulai sesuatu dengan yakin. Tanpa mengabaikan kekurangan dan kelemahan dalam diri kita, mengelola PoV secara positif dan optimis akan menolong kita melangkah maju. [KRS]

Sumber: Santapan Harian

Selasa, 27 Mei 2025

PANDANGAN YANG PENUH BELAS KASIHAN

Bacaan: Matius 9:9-13

NATS: Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan (Hosea 6:6)

Seorang anggota baru sering datang terlambat di kelas Sekolah Minggu untuk orang dewasa. Wanita itu tidak berpakaian rapi, wajahnya tegang dan kurang bersahabat, dan selalu pulang saat pimpinan Sekolah Minggu memulai doa penutup. Tak lama kemudian sang pimpinan bahkan mendengar desas-desus yang bernada menghakimi mengenai wanita itu.

Suatu kali, pimpinan tadi meminta orang lain memimpin doa penutup sehingga ia dapat berbicara dengan wanita itu saat akan keluar. Dari situ ia tahu bahwa suami wanita tersebut sering menyiksanya, bahkan meninggalkan dirinya dan kedua anak mereka. Ia meninggalkan sejumlah utang tanpa memberi alamatnya yang baru. Karena putus asa, ia berusaha mencari Allah.

Sang pimpinan tersebut kini mulai melihatnya dengan cara pandang baru, pandangan yang penuh belas kasihan, dan ia pun meminta anggota Sekolah Minggu lainnya untuk mau memahami wanita tadi. Sebagian dari mereka membuka hati baginya dan dengan cara yang praktis. Tak lama kemudian ia mulai tenang dan lebih bersahabat. Ia pun segera berpaling kepada Yesus, satu-satunya pribadi yang sangat ia butuhkan.

Mari kita minta pertolongan Allah agar dapat memandang orang lain dengan cara pandang Allah. Dengan cara pandang kita sendiri, kita dapat menjadi tidak peka, penuh prasangka, dan menghakimi dengan kejam. Kita perlu memohon kepada Allah agar kita diberi hati yang penuh kemurahan dan belas kasihan, seperti hati yang dimiliki Allah terhadap setiap kita. Dengan melakukan hal yang demikian, kita akan melihat orang lain dengan cara pandang-Nya yang penuh dengan belas kasihan --DCE

KITA DAPAT BERHENTI MENUNJUKKAN BELAS KASIHAN KEPADA ORANG LAIN
BILA KRISTUS BERHENTI MENUNJUKKAN BELAS KASIHAN KEPADA KITA

Sumber: Renungan Harian

Senin, 26 Mei 2025

Pelayanan Tukang Parkir

Bacaan: KOLOSE 3:18-25

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)

Sekelompok mahasiswa mengadakan persekutuan. Pada kesempatan itu sang dosen pembimbing menanyakan keterlibatan mereka dalam pelayanan di gereja masing-masing. Seorang mahasiswa pun mengaku melayani sebagai tukang parkir. "Maklum, saya tidak pandai bernyanyi, bermain alat musik, juga multimedia, " akunya. Teman-temannya tertawa. Namun, sang dosen mengacungkan ibu jarinya. "Bagus!" ujarnya dengan nada dan mimik muka sangat serius.

Tidak semua orang mau memandang dengan hormat segala jenis bidang pelayanan. Ada yang dipandang prestisius dan rohani, ada pula yang dianggap remeh. Tukang parkir tampak sangat tidak rohani bagi sebagian orang sehingga kurang layak disebut sebagai pelayanan sekalipun jasanya diperlukan. Ketika situasi aman dan segala sesuatu berjalan dengan baik: kendaraan berjajar rapi di tempar parkir, tidak ada yang kemalingan helm, tidak ada yang jalannya terhalang, besar kemungkinan jasa tukang parkir tidak nampak. Namun, ketika kendaraan tidak tertata rapi, banyak yang terhalangi jalannya, bahkan ada yang kehilangan helm atau kaca spion mobil, barulah tukang parkir dicari dan dianggap penting.

Tuhan tidak menuntut kita menguasai suatu bidang tertentu dalam melayani. Tuhan tidak menilai kita dari jenis pelayanan kita, melainkan motivasi dan kesungguhan hati kita dalam melakukannya. Karena itu, semua jenis pelayanan bersifat rohani selama ditujukan bagi kemuliaan Tuhan: dikerjakan dengan tulus dan penuh tanggung jawab. Pelayanan yang demikianlah yang berkenan bagi Dia. --EBL/www.renunganharian.net

SEGALA BENTUK PELAYANAN KITA MENDATANGKAN SUKACITA TUHAN
SELAMA DILAKUKAN DENGAN SEGENAP HATI BAGI KEMULIAAN NAMA-NYA.

Minggu, 25 Mei 2025

Hormat dan Kagum Akan Tuhan

Ayat Renungan: Ibrani 12: 28 – “Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.”
 
Apa yang terjadi jika kita datang ke hadirat Tuhan dengan sikap yang salah?

Dalam Ibrani 12:28, tertulis, "Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut." Ayat ini menegaskan bahwa penyembahan sejati adalah respons yang penuh syukur dan hormat kepada Allah yang Mahakudus dan Mahakuasa.
Kata "beribadah" dalam ayat ini bukan sekadar aktivitas liturgis, tetapi tindakan iman—menyembah dengan segenap hati, pikiran, jiwa, dan kekuatan. Itu adalah ekspresi kekaguman terdalam kita atas kasih dan kuasa-Nya yang luar biasa. Kita menghormati Tuhan bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan sikap hati yang penuh kesadaran akan siapa Dia sebenarnya.

Yesus pernah menegur orang-orang yang hanya memuliakan Allah dengan bibir, tapi hatinya jauh dari-Nya (Matius 15:8). Marilah kita tidak menjadi seperti itu. Penyembahan yang sejati dimulai dari persiapan hati—bukan hanya berdandan secara fisik, tetapi juga membereskan hati dari ego, distraksi, dan rutinitas kosong. Apakah saya benar-benar hadir saat beribadah? Apakah saya hanya menonton, atau saya benar-benar menyembah?

Datanglah ke gereja lebih awal, duduklah dengan tenang, dan renungkan firman seperti dalam Mazmur 46:10, “Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah.” Heningkan hatimu. Ikutlah dalam setiap bagian ibadah—dari lagu pembukaan hingga doa penutup—dengan hati yang sadar dan jiwa yang siap menyambut Tuhan.
Jagalah kekudusan ibadah. Matikan telepon genggam, hindari percakapan yang tak perlu, dan ajak anak-anak Anda untuk belajar berdiam diri di hadapan Tuhan. Ini bukan tentang aturan yang kaku, tetapi tentang menciptakan ruang kudus agar Tuhan dapat hadir dan bekerja di hati kita.
Penyembahan yang penuh hormat dan kekaguman adalah bentuk tertinggi dari kasih kita kepada Tuhan.

Ketika kita datang dengan sikap ini, kita akan mengalami hadirat-Nya secara nyata dan hidup kita pun akan diubahkan.

Mari kita latih diri kita untuk menyembah Tuhan dengan cara yang berkenan kepada-Nya—dengan hormat, takut akan Dia, dan dengan hati yang menyala-nyala oleh kasih. Sebab Dia layak menerima yang terbaik dari hidup kita.
 
Doa: Tuhan, ajar aku untuk menyembah-Mu bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan seluruh hidupku. Bentuklah hatiku agar selalu kagum dan hormat kepada-Mu. Amin. 
   
Sumber: Jawaban.com

Sabtu, 24 Mei 2025

HUBUNGI 91:1


Bacaan: Mazmur 91


NATS: Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi ... bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa (Mazmur 91:1)


Kebanyakan orang Amerika tahu bahwa dengan menekan nomor 9-1-1 mereka akan dihubungkan dengan tim penolong darurat. Begitu sederhananya cara itu sehingga anak-anak usia pra-sekolah pun dapat menyelamatkan nyawa anggota keluarganya dengan cara tersebut.


Suatu ketika, seorang wanita dihadang oleh perampok saat ia dan bayi laki-lakinya berada di dalam mobil. Diam-diam, wanita itu menekan nomor 9-1-1 melalui telepon genggamnya. Telepon itu dibiarkan aktif saat petugas 911 menerimanya, sementara si perampok tidak menyadarinya. Melalui alat penerima berita di mobil polisi, operator mendengarkan perbincangan sang ibu dengan si perampok. Ibu muda tersebut dengan cerdik memberi gambaran tentang lokasi kejadian. Polisi pun dengan mudah menemukan mereka dan menangkap penjahat tersebut.


Dalam keadaan darurat, pertolongan hanya sejauh tiga tekanan tombol telepon. Namun sering kali keadaan-keadaan yang kita hadapi tak dapat diselesaikan dengan pertolongan manusia, tetapi pertolongan ilahi. Bila itu terjadi, kita dapat menghubungi sejenis bantuan 9-1-1 yang lain, yakni Mazmur 91:1. Di sana kita dapat menemukan pertolongan dan perlindungan dari Allah yang Mahakuasa. Ayat ini selalu mengingatkan bahwa Allah adalah "tempat perlindungan" kita, sehingga kita dapat tinggal tenang di bawah naungan-Nya.


Ketika menghadapi kegentingan hidup, sering kali kita mencoba berjuang dengan kekuatan sendiri. Kita lupa bahwa yang paling kita butuhkan, yakni perlindungan Allah dan penghiburan hadirat-Nya, selalu tersedia bagi siapa saja yang memintanya. Pada saat krisis rohani melanda, hubungi Mazmur 91:1 --JDB


KITA TIDAK PERLU TAKUT AKAN BAYANGAN GELAP KEHIDUPAN

KETIKA KITA TINGGAL DIAM DI BAWAH NAUNGAN ALLAH


Sumber: Renungan Harian

Jumat, 23 Mei 2025

Sudut Pandang Allah

Aku menghendaki, . . . supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil. –Filipi 1:12

Ayat Bacaan & Wawasan :
Filipi 1:12-18

Pada tahun 2018, Pendeta Tan Flippin mengalami kecelakaan sepeda yang membuat ia harus dirawat di rumah sakit karena patah tulang pinggul. Ketika para dokter meminta dilakukannya pemindaian CT untuk memeriksa apakah terjadi gegar otak, mereka justru menemukan tumor ganas berukuran besar di bagian depan otaknya. Penemuan tersebut membawa Flippin kepada proses pengobatan yang panjang, dengan semakin banyak massa tumor yang ditemukan dan perawatan ekstensif yang harus dijalaninya—termasuk transplantasi sumsum tulang belakang. Flippin meyakini bahwa “Allah mengizinkan kecelakaan itu terjadi agar tumor otaknya ditemukan.”

Paulus berkata kepada jemaat Filipi bahwa Allah dapat memakai kecelakaan dan beragam kesulitan lain untuk kemuliaan-Nya. Sang rasul sedang berstatus sebagai tahanan rumah Romawi, sambil menunggu diadili atas dakwaan pelanggaran berat di hadapan Kaisar Nero. Namun, bukannya bersedih, Paulus justru bergirang. Bagaimana mungkin ia begitu bersukacita? Itu karena ia menganggap “dipenjarakan karena Kristus” (Flp. 1:13) sebagai suatu karunia (ay. 29). Kemudian, ia melihat kesulitan yang ia alami dari sudut pandang Allah. Paulus berkata, “Apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil” (ay. 12). Ia menggunakan penahanannya sebagai kesempatan untuk membagikan Injil kepada para penjaga yang dirantai bersamanya. Akhirnya, saat Paulus memberitakan kabar baik tentang Yesus selagi masih dalam penjara, teladannya mendorong orang percaya lainnya untuk “makin berani mengabarkan pesan Allah dengan tidak takut-takut” (ay. 14 BIMK).

Ketika kesulitan datang, marilah kita mempercayai sudut pandang Allah dan meyakini bahwa dari kesulitan itu, Dia sanggup bekerja mendatangkan kebaikan.

Oleh:  Marvin Williams

Renungkan dan Doakan
Bagaimana Anda menanggapi situasi sulit yang Anda hadapi baru-baru ini? Bagaimana Anda dapat menerima sudut pandang Allah dan melihat Dia bekerja mendatangkan kebaikan dari hal itu?

Bapa Surgawi, kumohon, pakailah peristiwa-peristiwa sulit dalam hidupku untuk mewujudkan kehendak-Mu dalam hidupku.

Sumber: Our Daily Bread

Kamis, 22 Mei 2025

SIAPA PERLU BERDOA?

Bacaan: 2 Timotius 1:1-7

NATS: Selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam (2 Timotius 1:3)

Sudah lama Chrissy berpaling dari Allah. Ia memberontak terhadap keluarganya, meninggalkan rumahnya, dan sengaja hidup jauh dari Allah.

Namun suatu malam, tiba-tiba remaja ini terbangun dan merasakan dengan jelas bahwa seseorang sedang mendoakannya.

Memang benar, ada yang sedang mendoakannya. Seluruh jemaat yang digembalakan ayahnya sedang mendoakan Chrissy. Rupanya dalam sebuah persekutuan doa mingguan, seorang jemaat telah menyarankan agar mereka semua secara pribadi mendoakan Chrissy.

Dua hari kemudian, Chrissy pulang. Pertanyaan pertamanya yang mengejutkan sang ayah adalah: “Siapa yang berdoa untukku?” Setelah mendapat penjelasan, ia pun memohon pengampunan dan menyerahkan kembali hidupnya kepada Kristus.

Dalam surat Paulus yang kedua kepada Timotius, ia memberitahu hamba Allah yang masih muda di abad pertama ini bahwa ia mendoakannya siang dan malam (2 Timotius 1:3). Timotius sedang menghadapi tantangan besar, jadi manakala mengetahui bahwa Paulus sedang mendoakannya secara khusus, ia pun dikuatkan.

Adakah di antara orang-orang yang kita kenal, sedang dibelenggu dosa seperti Chrissy, atau sedang menghadapi tantangan seperti Timotius? Maukah kita menyediakan waktu khusus untuk mendoakan mereka? Apakah kita percaya bahwa Allah akan menjawab doa-doa kita?

Siapa yang perlu berdoa? Sudah seharusnya kita semua berdoa--JDB

UNTUK MEMENANGKAN ORANG LAIN BAGI ALLAH
BERDOALAH BAGI MEREKA

Sumber: Renungan Harian

Rabu, 21 Mei 2025

Terlalu Sibuk untuk Berdoa?
Shalom saudara terkasih, saya Maria Kaesmetan kembali menyapa Anda. Saya terus mendoakan Anda agar hidup kita dipenuhi sukacita yang sejati—bukan karena harta, jabatan, atau reputasi, tetapi karena kita tinggal di dalam Tuhan.
 
Ayat Renungan: Markus 1: 35 – “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”
 
Pagi ini saya mengajak Anda untuk jujur tentang hal ini, bahwa ucapan “tinggal di dalam Tuhan” seringkali hanya menjadi konsep, wacana, atau sekadar niat tanpa tindakan nyata. Padahal Tuhan telah memberikan kepada setiap orang waktu yang sama: 24 jam sehari. Tidak pandang status atau latar belakang – orang kaya, menengah atau siapapun itu, semua diberi Tuhan porsi waktu yang sama. Setiap orang diberikan pilihan dan hak untuk mengaturnya. Jadi, apakah kita memasukkan daftar jadwal untuk membangun relasi dengan Tuhan atau memilih menjadi orang yang sibuk, itu menjadi tanggung jawab kita. 

Kita punya banyak alasan untuk berkata “Saya terlalu sibuk untuk berdoa.” Bangun pagi-pagi sudah dihujani notifikasi dan rutinitas yang mendesak. Tetapi jika kita boleh melihat lebih dalam, kita akan menemukan fakta bahwa kesibukan itu hanyalah soal prioritas. Kita bebas memilih untuk mendahulukan Tuhan atau menundanya karena hal lain yang kita anggap lebih mendesak.

Yesus sendiri memberi kita teladan yang luar biasa. Dalam Markus 1:35, diceritakan bahwa, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” Ia tidak tinggal dalam kenyamanan tempat tidur-Nya. Ia tahu hari-Nya akan penuh tuntutan, tetapi Ia memulai dengan membangun koneksi dengan Bapa terlebih dahulu.

Mengapa? Karena tanpa terhubung dengan sumber kekuatan sejati, segala aktivitas kita akan terasa kosong dan melelahkan. Dengan berdoa, kita mendapat hikmat, damai, dan arahan ilahi. Maka jika Yesus saja memprioritaskan waktu bersama Bapa, mengapa kita tidak?

Jika kita melatih diri untuk memulai hari bersama Tuhan, maka ketika badai datang, respons kita bukan panik, melainkan langsung berseru kepada Tuhan. Doa menjadi nafas hidup kita, bukan sekadar rutinitas darurat.

Saudara, apakah Anda terlalu sibuk untuk berdoa? Atau Anda terlalu rindu untuk melewatkan pertemuan paling penting hari ini bersama Tuhan?
 
Momen Refleksi:
✔ Apakah saya sedang menukar waktu bersama Tuhan dengan hal-hal lain yang kurang bernilai kekal?
✔ Kapan terakhir kali saya bangun pagi-pagi benar hanya untuk berdoa, bukan karena alarm aktivitas duniawi?
✔ Apa yang bisa saya ubah mulai hari ini agar doa menjadi prioritas, bukan sisaan waktu?

Mari kita ambil waktu satu bulan ke depan untuk membangun kebiasaan baru: mendahulukan Tuhan di tengah berbagai kesibukan hidup. Catat perubahan yang terjadi—baik secara rohani, emosional, maupun praktis.
Selamat berproses, Tuhan Yesus memberkati.
 
Hak cipta ©Maria Kaesmetan, Spiritual Life CBN Indonesia

Sumber: Jawaban.com

Selasa, 20 Mei 2025

Benar-Benar Mempercayai Allah

Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh . . . mata-Ku tertuju kepadamu. –Mazmur 32:8

Ayat Bacaan & Wawasan :
Mazmur 32:6-11

Seekor kucing liar mengeong sedih, sehingga saya pun menghentikan langkah saya. Saya baru saja berjalan melewati setumpuk makanan yang dibuang dengan sembarangan di tanah. Wow, Allah telah menyediakan makanan untuk kucing yang kelaparan ini, pikir saya. Makanan itu tersembunyi di balik sebuah pilar, jadi saya mencoba memancing kucing yang kurus kering itu ke sana. Kucing itu bergerak ke arah saya seakan percaya penuh—tetapi ia kemudian berhenti dan menolak untuk mengikuti saya lebih jauh. Saya ingin bertanya, Mengapa kamu tidak mempercayai arahan saya? Ada banyak makanan yang menantimu, nih!

Kemudian saya tersadar: Bukankah saya juga sering melakukan hal yang sama dalam hubungan dengan Allah? Seberapa sering saya merespons petunjuk-Nya dengan berpikir, Saya memang percaya kepada-Mu, ya Allah, tetapi saya tidak yakin petunjuk-Mu dapat diandalkan. Itu saya lakukan tanpa menyadari bahwa berkat pemeliharaan-Nya mungkin sudah dekat dan tersedia.

Jalan Allah dapat dipercaya, karena Dia mengasihi kita dan ingin yang terbaik bagi kita. “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu,” kata-Nya kepada kita (Mzm. 32:8). Namun, Dia tidak memperlakukan kita seperti binatang yang perlu dikendalikan (ay. 9). Dia rindu kita mengikuti-Nya dengan sukarela, dan Dia menjanjikan penyertaan-Nya yang abadi saat kita melakukannya: “Orang percaya kepada Tuhan dikelilingi-Nya dengan kasih setia” (ay. 10). Yang perlu kita lakukan hanyalah terus mengikuti-Nya, dengan kesadaran bahwa Dia akan menyertai setiap langkah kita.

Oleh:  Leslie Koh

Renungkan dan Doakan
Ketakutan atau kekhawatiran apa yang menghalangi Anda untuk mempercayai Allah sepenuhnya? Hal apa yang Anda rasa Allah ingin Anda lakukan saat ini?

Bapa terkasih, ajarlah aku untuk percaya sepenuhnya kepada-Mu, karena aku tahu, Engkau mengasihiku dan hanya menghendaki yang terbaik bagiku.

Sumber: Our Daily Bread

Senin, 19 Mei 2025

Tiga Kebohongan yang Menghalangi Anda untuk Melambat

Bacaan Hari ini:
Pengkhotbah 4:6 “Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin.”

Ketika Anda siap untuk memperlambat hidup, mulailah dengan penilaian diri: Apa yang mendorong Anda untuk selalu berusaha lebih? Mengapa Anda perlu memiliki lebih banyak uang di rekening bank atau lebih banyak prestasi dalam karier? Mengapa Anda perlu memasukkan lebih banyak kegiatan dalam jadwal Anda?

Untuk membantu Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam budaya saat ini, tanyakan pada diri Anda apakah Anda percaya pada tiga kebohongan utama ini yang berkontribusi pada kehidupan kita yang serba cepat.

Kebohongan pertama adalah bahwa memiliki lebih banyak akan membuat Anda lebih bahagia.

Hidup ini bukanlah tentang nilai-nilai atau harta benda. Yesus berkata, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya” (Markus 8:36). Saya mengenal banyak orang yang mempunyai banyak hal, tetapi mereka tetap tidak bahagia dan tidak puas dengan kehidupan mereka.

Kebohongan kedua adalah bahwa melakukan lebih banyak hal akan membuat Anda lebih berharga.

Jika Anda mencampuradukkan pekerjaan dengan harga diri Anda, maka Anda akan stres dan kehabisan tenaga sepanjang hidup Anda.

Alkitab mengatakan dalam Pengkhotbah 4:6, "Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin.”Dengan kata lain, melakukan lebih banyak hal tidak akan memberi Anda kedamaian. Lebih bijak jika membeli rumah yang lebih kecil atau hidup dengan pengeluaran yang lebih sedikit sehingga Anda dapat memiliki lebih banyak waktu, lebih banyak energi, lebih banyak kegembiraan, dan lebih banyak ketenangan pikiran.

Kebohongan ketiga adalah bahwa hidup adalah kompetisi dengan orang lain.

Anda tidak bersaing dengan siapa pun—bukan tetangga Anda, atasan Anda, teman-teman Anda, atau siapa pun. Mengapa? Karena Anda unik, dan Tuhan tidak menciptakan Anda untuk bersaing dengan siapa pun. Dia ingin Anda menjadi diri Anda sendiri. Bila Anda menerimanya dan berhenti mencoba menjadi seperti orang lain, stres dalam hidup Anda akan berkurang.

Amsal 14:30 mengatakan “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.”

Ketiga kebohongan ini menghalangi Anda untuk merasa puas dengan hidup Anda, yang membuat Anda terus melaju dan bergumul untuk mempunyai lebih—tetapi tidak pernah berkembang.

Renungkan hal ini: 
- Menurut Anda apa yang perlu Anda miliki lebih banyak untuk menjadi bahagia?
- Bagaimana Anda mengaitkan harga diri Anda dengan seberapa banyak yang dapat Anda hasilkan atau capai?
- Bagaimana persaingan dengan orang lain—bahkan ketika orang lain tidak menyadarinya—menimbulkan stres dalam hidup Anda?

Untuk memperlambat laju hidup Anda, jangan hanya mencoba mengurangi kegiatan. Mulailah dengan hati. Memperlambat hidup tidak terjadi dengan mengosongkan kalender Anda, tetapi dengan merasa puas dengan apa yang Anda miliki dan siapa diri Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Minggu, 18 Mei 2025

Belajar dari Teladan Yesus

Bacaan Hari ini:
Matius 11:29 “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”

Tidak ada seorang pun yang  menjalani kehidupan yang lebih seimbang dan sehat selain Yesus. Ia tidak dihinggapi stres. Ia tidak pernah terbebani dengan beban yang berat. Hidupnya menjadi contoh bagi kita tentang cara hidup yang bertujuan dan damai.

Dalam Matius 11:29 Yesus berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Seolah-olah Ia berkata, “Pelajarilah Aku. Perhatikan bagaimana Aku melakukannya.”

Kita telah mempelajari bahwa jawaban-Nya terhadap stres dan kecemasan yaitu dengan datang kepada-Nya dan memikul kuk-Nya dengan melepaskan kendali kita. Sekarang, Ia mengundang kita untuk belajar dari-Nya.

Yesus tidak berkata, "Belajarlah dari-Ku. Aku akan mengajarkanmu cara bertahan dan stamina, kepercayaan diri dan keberanian, atau manajemen waktu dan penetapan tujuan." Dia berkata, "Belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati." Dia ingin kita memerhatikan-Nya dan meniru apa yang telah Dia lakukan.

Namun, belajar dari Yesus, mengikuti teladan-Nya tentang kelembutan dan kerendahan hati tidak bisa terwujud dalam semalam. Itu adalah proses yang membutuhkan waktu. Anda harus belajar mengurangi stres.

Dua penyebab stres terbesar dalam hidup Anda ialah kesombongan dan permusuhan. Keduanya adalah lawan dari kerendahan hati dan kelembutan.
Agresi terjadi ketika Anda melakukan sesuatu terlalu cepat. Anda tidak mau menunggu atau memikirkan semuanya. Anda langsung melakukannya dengan kedua kaki Anda.

Kesombongan terjadi ketika Anda mencoba mengendalikan segalanya. Kesombongan adalah berpikir Anda tahu apa yang terbaik, dan hidup setiap orang akan lebih mudah jika mereka mengikuti rencana Anda.

Yang sebenarnya adalah ketika Anda mencoba melakukan semuanya, memiliki semuanya, menjadi segalanya, dan mengalami semuanya, Anda hidup dengan sikap agresif dan arogan. Anda bertingkah seperti manusia super atau wanita super. Penawar dari agresi dan kesombongan ialah kelemahlembutan dan kerendahan hati—jenis kehidupan yang Yesus contohkan untuk kita jalani.

Jadi, bagaimana caranya belajar untuk bersikap lemah lembut dan rendah hati seperti Yesus? Anda melakukannya dengan menumbuhkan iman Anda. Dan ketika iman Anda tumbuh, stres Anda pun berkurang.

Bagaimana Anda menumbuhkan iman Anda? Iman tumbuh dengan menghabiskan waktu dengan Alkitab. Semakin banyak Anda memasukkan Firman Tuhan ke dalam hidup Anda, semakin besar pula iman Anda. Alkitab mengatakan : “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17).

Renungkan hal ini: 
- Apakah Anda merasa mudah atau sulit untuk mempraktikkan kelemahlembutan dan kerendahan hati? Bagaimana Anda dapat bertumbuh dalam hal-hal ini?
- Apakah Anda melihat adanya tanda-tanda agresi dan arogansi dalam hidup Anda? Bagaimana Anda dapat mengurangi sifat-sifat ini?
- Apa yang dapat Anda ubah dalam jadwal harian Anda untuk memasukkan lebih banyak Firman Tuhan ke dalam hati dan pikiran Anda?

Anda perlu mendengar Firman, membaca Firman, dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari. Jika Anda melakukannya, iman Anda akan meningkat dan stres Anda akan berkurang, dan hidup Anda akan mulai tampak semakin seperti hidup Yesus.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Sabtu, 17 Mei 2025

Pikullah Kuk yang Dipasang Yesus

Bacaan Hari ini:
Matius 11:29-30 “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

Ketika Anda kehabisan energi dan memikul beban berat, solusi pertama yang Yesus tawarkan kepada Anda ialah berikut: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). Itulah titik awal bagi siapa pun yang membutuhkan kelegaan dari kekhawatiran, ketakutan, dan kecemasan: Datanglah kepada Yesus!

Inilah solusi kedua: Serahkan kendali Anda. 

Ini begitu penting sebab salah satu alasan Anda merasa terbebani ialah karena Anda mencoba mengendalikan terlalu banyak hal. Anda berpikir semuanya bergantung pada Anda. Mungkin saja moto Anda adalah, “Saya akan bertanggung jawab atas diri saya.” 

Saudara, Anda bukanlah manajer umum atas alam semesta. Meski Anda menyerah, alam semesta tidak akan berantakan. Ketahuilah ini: Semakin besar keinginan Anda untuk mengendalikan, semakin banyak stres yang akan Anda alami dalam hidup.

Namun, Yesus menawarkan cara yang berbeda. Ia berkata, "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan” (Matius 11:29-30). 

Mungkin Anda berkata, "Tunggu sebentar. Memikul beban yang lain? Saya tidak sanggup memikul beban yang lebih berat. Saya seharusnya memikul beban yang lebih ringan!"

Itulah mengapa penting untuk memahami cara kerja kuk. Kuk adalah sepotong kayu yang menyatukan dua hewan sehingga mereka dapat berbagi beban dan menjadi lebih ringan. Tujuannya ialah untuk meringankan beban hewan, bukan memperberatnya.

Kuk adalah simbol kemitraan. Dengan kuk, seakan Yesus berkata, "Aku tidak pernah merancang supaya engkau menanggung semua masalahmu sendiri. Biarkan Aku menolongmu." Ketika Anda memikul kuk bersama Yesus, itu bukan berarti Anda akan berbagi beban-Nya, melainkan supaya Dia bisa berbagi beban Anda.

Kuk juga merupakan simbol kendali. Para petani memasang kuk pada hewan-hewan ternak mereka agar mereka bisa berjalan ke arah yang sama, bersamaan dan dengan kecepatan yang sama. Jika Anda tidak mengikatkan diri kepada Yesus, Anda akan terlibat masalah. Anda akan berjalan terlalu cepat, ke arah yang salah, tersisih, atau terperosok ke dalam selokan. Sebaliknya, jika diikatkan kepada Yesus, Dia menjauhkan Anda dari masalah.

Yesus tahu kepribadian Anda. Dia tahu apa yang dapat Anda tangani dan apa yang tidak dapat Anda tangani. Jika Anda memikul kuk yang dipasangkan Yesus, maka Dia akan menuntun Anda.

Kita mungkin beranggapan penawar stres adalah dengan berlibur, menghadiri seminar, atau pergi ke terapi. Hal-hal itu tentu dapat membantu, tetapi kelegaan yang sejati dan kekal datang ketika kita mengikatkan diri kita kepada Yesus dan melepaskan kendali kita pada-Nya. Dan setiap kali kita melakukannya, Tuhan memberi kita damai sejahtera. 

Renungkan hal ini: 
- Menurut Anda mengapa melepaskan kendali kita dalam menghadapi keadaan yang penuh tekanan sangat bertentangan dengan budaya? 
- Pernahkah Anda memikul kuk yang dipasang Yesus? Jika ya, apakah Anda mengalami sedikit pengurangan stres? Jika belum pernah, mengapa tidak?
- Apa saja tindakan yang dapat Anda mulai coba lakukan untuk tetap memikul kuk yang dipasang Yesus setiap hari?

Yesus tahu persis ke mana Dia akan menuntun Anda karena Dia yang menciptakan Anda. Dia tahu persis kecepatan yang harus Anda tempuh karena Dialah yang membentuk Anda. 

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Jumat, 16 Mei 2025

Datanglah kepada Yesus dengan Beban Berat Anda

Bacaan Hari ini:
Matius 11:28-30 “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

Pernahkah Anda memperhatikan hal ini dalam hidup? Semakin berat beban yang Anda pikul, semakin cepat Anda kehabisan bahan bakar. Hal itu berlaku untuk mobil Anda—tetapi juga berlaku untuk Anda. 

Beberapa dari Anda kelebihan beban—baik secara fisik, emosional, atau hubungan. Tuntutan pekerjaan, jadwal keluarga, atau tekanan keuangan menyebabkan stres yang berat dalam hidup Anda.

Alkitab mengatakan hal ini dalam Matius 11:28-30 “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

Yesus meringkas rahasia pengelolaan stres dalam tiga kata sederhana ini—datang, terima, dan pelajari. Jika Anda memahami ketiga solusi stres ini, hidup Anda akan berubah.

Mari kita bahas yang pertama lebih lanjut: Datanglah kepada Yesus. Ketika Anda merasa terbebani, penawar stres bukanlah rencana manajemen waktu atau filosofi baru, melainkan satu pribadi, Yesus. Dia berkata, “Marilah kepada-Ku.” Ketika hidup Anda terasa berat, Yesus ingin Anda berpaling kepada-Nya. Ketika Anda melakukannya, Dia akan memberikan Anda kelegaan.

Kelegaan jiwa jauh lebih dalam daripada kelegaan fisik. Itulah obat dari ketegangan, kelelahan, kekhawatiran, ketakutan, kecemasan, rasa bersalah, dan kebencian. Hanya Tuhan yang dapat memberikan Anda kedamaian batin yang Anda butuhkan untuk meredakan stres Anda. Ini bukan berarti pemicu stres dalam hidup Anda akan hilang, itu hanya tidak akan terlalu mengganggu Anda karena Dia membantu Anda menanggung semuanya.

Jadi, mengapa kita tidak lebih sering datang kepada Yesus? Karena kita kerap berpikir kita dapat mengatasi stres sendiri. Atau mungkin kita lupa bahwa Tuhan sedang menunggu kita untuk berseru kepada-Nya. Bahkan kenyataannya, walaupun Anda adalah orang percaya, pilihan pertama Anda saat Anda stres tidak selalu menghabiskan waktu saat teduh dengan-Nya.

Jika Anda begitu lelah hari ini, berserulah kepada Tuhan. Luangkan waktu bersama-Nya. Anda tidak membutuhkan program atau perencanaan apa pun. Anda membutuhkan satu pribadi. Datanglah kepada Kristus. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Renungkan hal ini:
- Pernahkah Anda menyadari bahwa semakin banyak stres yang Anda tanggung, semakin cepat Anda kehabisan energi?
- Apakah Anda berpaling kepada Yesus terlebih dahulu ketika Anda stres? Jika tidak, kepada siapa Anda cenderung berpaling?
- Kapan terakhir kali Anda mengalami ketenangan jiwa? Bagaimana Anda dapat meluangkan waktu untuk mengalaminya lebih sering?

Kelegaan yang Yesus berikan ialah kelegaan yang istimewa, yaitu kelegaan bagi jiwa Anda. Tanpa itu, Anda akan tergoda untuk menyerah.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Kamis, 15 Mei 2025

PENYANYI BOHONG

Bacaan: Amsal 12:13-22

NATS: “Ya Tuhan, lepaskanlah aku dari pada bibir dusta, dari pada lidah penipu” (Mazmur 120:2)

Ada banyak cara untuk berbohong. Sebagian orang yang mengaku tidak pernah berdusta akan tercengang jika mau menghitung banyaknya dusta yang mereka nyanyikan setiap Minggu di gereja.

Bertahun-tahun lalu saya pernah membaca sebuah artikel yang ditulis seorang pengarang tak dikenal, “Baru saja kita menyanyi ‘Sweet Hour Of Prayer’ (Jam Doa yang Indah) namun pada kenyataannya kita sudah merasa cukup hanya dengan 10-15 menit berdoa setiap hari. Kita menyanyi ‘Onward Christian Soldiers’ (Maju Laskar Kristus), namun kita cenderung menunggu ditarik dan dipanggil untuk bergabung dalam pelayanan. Kita juga ikut melantunkan ‘O For A Thousand Tongues To Sing’ (Seribu Lidah Menyanyi), namun dalam hidup sehari-hari kita tidak memakai lidah kita untuk memuliakan Dia.

“Kita sering menyanyikan ‘There Shall Be Showers Of Blessing’ (Akan Ada Berkat Tercurah) dengan penuh semangat dalam cuaca cerah, namun ketika Tuhan menurunkan sedikit hujan, kita sudah merasa mustahil untuk pergi ke gereja. Kita menyanyikan ‘Blest Be The Tie That Binds’ (Diberkatilah Ikatan yang Menyatukan), namun kita membiarkan sakit hati merusak ikatan persaudaraan yang berharga. Kita pun menyanyikan ‘Serve The Lord With Gladness’ (Layanilah Tuhan Dengan Sukacita), namun kita terus-menerus mengeluh tentang semua yang harus kita lakukan.”

Ingat, dusta tetaplah dusta, baik dalam bentuk perkataan ataupun nyanyian. Lain kali jika Anda membuka buku nyanyian, pastikanlah bahwa Anda bersungguh-sungguh dengan nyanyian yang keluar dari mulut Anda.

Jangan menjadi penyanyi bohong -- HGB

DARI SEMUA YANG PERNAH KITA KATAKAN ADA BEGITU BANYAK YANG TIDAK KITA LAKUKAN

Sumber: Renungan Harian

Rabu, 14 Mei 2025

BERSAMBUNG

Bacaan: Ibrani 11:8-16

NATS: Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang (Ibrani 13:14)

Apakah Anda menyukai cerita bersambung? Bayangkan seandainya Anda sedang membaca artikel dalam sebuah majalah atau sedang menonton acara televisi selama setengah jam, dan Anda sampai pada adegan ketika sang pahlawan terjun ke air untuk menyelamatkan kekasihnya yang hampir tenggelam. Kemudian Anda dibiarkan penasaran dengan kata-kata: "Bersambung." Sungguh mengesalkan buka!

Suatu ketika saya merasakan sesuatu yang berbeda ketika melihat tulisan pada sebuah batu nisan dari seorang pengikut Kristus. Tulisan itu berbunyi:


BERSAMBUNG DI ATAS SANA

Ya, hidup ini merupakan bab pertama dari buku kehidupan. Entah bab itu panjang atau pendek yang jelas itu bukan akhir kehidupan, melainkan masih bersambung. Menurut orang-orang percaya, bab itu akan bersambung di surga dengan Tuhan kita. Tidak ada kata "bersambung" antar bab; Anda tidak perlu menunggu sambungannya sampai bulan depan atau mendengarkan babak kesimpulannya minggu depan. Bab dua langsung mengikuti bab pertama tanpa perhentian. Bab itu berlanjut dengan segera, karena kita "beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan" (2Korintus 5:8).

Apakah isi dari bab selanjutnya dalam kehidupan Anda? Cepat atau lambat bab itu akan ditulis, entah di surga atau di neraka. Ingat, ketika tiba saatnya bagi Anda untuk meninggalkan dunia ini, itu bukanlah akhir kisah. Kisah kehidupan Anda akan "bersambung"--tetapi di mana? --MRD

KEMATIAN MERUPAKAN BAB TERAKHIR DARI PERJALANAN WAKTU DI DUNIA INI
TETAPI MERUPAKAN BAB PERTAMA DARI KEKEKALAN

Sumber: Renungan Harian

Selasa, 13 Mei 2025

Hanya Ada Satu Teladan Kehidupan

Bacaan Hari ini:
Yohanes 13:17 “Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.”

Setiap orang memiliki teladan yang mereka ikuti. Teladan siapakah yang Anda ikuti?

Jika Anda belum menentukan siapa yang akan menjadi teladan Anda dalam kehidupan, maka orang lain akan yang menentukannya untuk Anda, seperti lewat media sosial, budaya, teman-teman Anda, atau rekan kerja Anda. Mereka biasanya akan mencoba memberi tahu Anda cara menjalani hidup Anda.

Akan tetapi, Tuhanlah satu-satunya yang seharusnya memberi tahu Anda cara menjalani hidup. Dan satu-satunya teladan yang sempurna itu ialah Yesus Kristus.

Saya mengenal banyak orang yang, setelah menginjak usia 40 tahun, mendapati bahwa mereka telah mendasarkan hidup mereka pada teladan yang tidak konsisten dan tidak efektif. Setelah usia 40 tahun, mereka menjadi putus asa, bercerai, depresi, dan kesepian. Mengapa? Sebab mereka mengikuti teladan yang salah.

Seorang teman berkata, "Saat itu saya sedang menaiki tangga kesuksesan. Namun, saat saya sampai di puncak, saya menyadari bahwa tangga itu bersandar pada dinding yang salah! Saya menghabiskan seluruh waktu saya buat hal yang salah."

Ada satu waktu ketika saya masih muda dan tidak ingin ikut Yesus Kristus karena saya pikir Dia agak pengecut. Saya terjebak dalam stereotip tentang Yesus dengan jubah putih dan rambut panjang-Nya yang terurai, yang tidak pernah meninggikan suara dan memetik bunga saat berjalan di perbukitan di sekitar Yerusalem.

Apabila memang Yesus seperti itu, lalu bagaimana mungkin Dia bisa membuat para nelayan meninggalkan jala mereka dan mengikuti-Nya? Bagaimana mungkin seorang pengecut memiliki kekuatan untuk memberi makan lebih dari 5.000 orang hanya dengan 5 roti dan 2 ikan serta pengaruh-Nya untuk mengguncang status quo seluruh kerajaan Romawi?

Yesus bukanlah seorang pengecut. Dia tidak seperti kebanyakan yang kita bayangkan.

Ke mana pun Yesus pergi, Ia mengajak orang-orang untuk mengikuti-Nya. Ia tidak pernah mengatakan untuk mengikuti suatu prinsip atau program atau bahkan suatu agama—melainkan mengikuti Dia secara pribadi. Kata-Nya, “Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya” (Yohanes 13:17). 

Ikut Yesus berarti menjalin hubungan dengan-Nya. Allah ingin Anda mengenal-Nya secara pribadi! Ia mengutus Yesus agar Anda dapat mengenal-Nya dan mengasihi-Nya karena Dia adalah Tuhan—teladan yang sempurna untuk diikuti. 

Renungkan hal ini: 
- Bagaimana Anda dapat mengenal Yesus secara dalam?
- Mengapa setiap teladan kehidupan kecuali Yesus akan mengecewakan Anda?
- Apa perbedaan antara mengikuti suatu agama dengan mengikuti satu Pribadi? 

Yesus adalah seorang revolusioner yang melawan arus dunia yang memimpin dengan sempurna dengan kasih karunia, belas kasih, dan keadilan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Senin, 12 Mei 2025

MENDERITA BAGI SAYA

Bacaan: Yesaya 53:4-12

NATS: Ia tertikam oleh karena pemberontakan kita, ia diremukkan oleh karena kejahatan kita (Yesaya 53:5)

Ketika Anda mencermati lukisan tentang penyaliban yang digambar oleh pelukis terkenal dari Belanda, Rembrandt, maka pertama kali perhatian Anda akan tertuju pada salib dan pada Yesus. Kemudian, saat Anda melihat kerumunan orang di sekitar salib, Anda akan melihat wajah-wajah yang terlibat dalam kejahatan besar penyaliban Anak Allah. Dan akhirnya, mata Anda akan tertuju ke sudut lukisan dan menangkap sosok lain yang nyaris tersembunyi di balik bayang-bayang. Konon, sosok itu adalah potret diri Rembrandt, yang mengakui bahwa karena dosanya ia juga telah ikut menyalibkan Yesus di sana!

Seseorang yang tersentuh saat melihat lukisan ini berkata, "Seringkali kita mudah berkata bahwa Kristus mati untuk menebus dosa dunia. Namun terkadang kita sulit berkata bahwa Kristus mati untuk dosa saya! Mungkin enak rasanya menyudutkan mereka yang menyalibkan Yesus, tetapi ngeri rasanya bila merenungkan bahwa saya sendiri ternyata juga acuh tak acuh seperti Pilatus, licik seperti Kayafas, tak berperasaan seperti para prajurit Romawi, kejam seperti gerombolan orang banyak, atau pengecut seperti murid-murid-Nya. Jadi, bukan perbuatan mereka saja, tetapi saya pun terlibat saat Yesus dipaku di kayu salib. Saya turut menyalibkan Kristus. Saya ikut andil dalam penghinaan itu!"

Renungkan kembali apa yang tergambar dalam lukisan Rembrandt. Jika Anda melihat lebih cermat, Anda akan melihat diri Anda juga berdiri dengan tangan berlumuran darah di balik bayang-bayang itu, karena Kristus menanggung hukuman akibat dosa Anda! Dan Anda akan berkata, "Dia menderita untuk saya" --HGB

SALIB DI KALVARI MENUNJUKKAN KEBENCIAN MANUSIA KEPADA ALLAH DAN KASIH ALLAH KEPADA MANUSIA

Sumber: Renungan Harian

Minggu, 11 Mei 2025

ISTIRAHAT YANG MENYENANGKAN DI DUNIA YANG GILA

Banyak orang berkata: "Siapa yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita?" Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN! Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak dari pada mereka ketika mereka kelimpahan gandum dan anggur. Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman. Mazmur 4:7-9

Sebagian besar manusia mengejar angin. Kita mengejar segala macam hal untuk memuaskan jiwa kita tetapi terus berakhir dengan tangan hampa. Kita bertanya-tanya, “Siapakah yang akan menunjukkan kepada kita kebaikan?” Dengan kata lain, “Di mana saya dapat menemukan sukacita, makna, dan harapan dalam kehidupan yang serba cepat dan gila ini?”

Syukurlah, pemazmur tidak membiarkan kita bertanya-tanya terus: “Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN!” Kebutuhan besar pada zaman Daud—dan zaman kita, ribuan tahun kemudian—adalah untuk memeluk dan dipeluk oleh Allah yang hidup. Jadi Daud menunjukkan betapa kesenangan terbesar tidak ada artinya jika dibandingkan dengan menemukan satu-satunya Allah yang benar dan hidup. Memiliki kelimpahan dalam hidup, baik itu gandum atau anggur atau apa pun, tentu saja bukan hal yang buruk. Namun, mengenal Allah jauh lebih baik dan mulia.

Berapa banyak orang saat ini yang hidup dengan harapan bahwa pengalaman di masa depan akan membawa kegembiraan yang tampaknya tidak mereka miliki saat ini? "Sedikit uang lagi; maka saya bisa bahagia. Sedikit ini atau itu lagi, maka saya akan merasa puas." Namun, bukan janji mobil yang lebih bagus, rumah yang lebih besar, pasangan yang sempurna, atau pekerjaan yang lebih baik yang benar-benar memberi kita kedamaian dan ketenangan yang langgeng. Hanya ada satu cara untuk dapat berbaring dan tidur dengan damai, puas, dan aman. Apa itu? "Hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman." Hanya ketika kita menemukan semua yang kita butuhkan dalam pengenalan akan Tuhan dan tahu bahwa Dia tersenyum kepada kita, barulah kita dapat berbaring tanpa rasa cemas atau penyesalan.

Saat Anda berbaring di tempat tidur di malam hari dan merenungkan hari itu, atau saat semua tugas besok terlintas dalam pikiran Anda, bagaimana reaksi Anda? Apa yang akan memberi Anda stabilitas dan keamanan yang dirindukan setiap manusia di dunia ini? Pada akhirnya, itu bukanlah tentang seberapa banyak uang di rekening Anda. Bukan sistem keamanan rumah. Bukan menikmati kekaguman dari komunitas Anda. Hanya Tuhan yang memimpin anak-anak terkasih-Nya menuju kedamaian, ketenangan, dan keamanan sejati. Dalam pelukan Gembala yang Baik, Anda dapat tinggal dengan aman dan beristirahat dengan tenang. Pastikan, ketika Anda berbaring malam ini atau ketika kekhawatiran muncul hari ini, ingatlah bahwa Tuhan mengasihi Anda dan menjaga Anda. Di sanalah ketenangan dan kedamaian benar-benar dan selamanya dapat ditemukan.

Refleksi
Bacalah Filipi 4:4-9 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:

Pola pikir apa yang perlu saya ubah?
Apa yang perlu dikalibrasi dalam hati saya?
Apa yang bisa saya terapkan hari ini?

Truth For Life – Alistair Beg

Sumber: Renungan Gibeon Church

Sabtu, 10 Mei 2025

KUASA DOA

Bacaan: Efesus 6:10-18

NATS: Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yakobus 5:16)

Saat menyeberangi Lautan Atlantik dengan sebuah kapal beberapa tahun lalu, seorang penulis sekaligus guru Alkitab bernama F. B. Meyer diminta untuk berkhotbah kepada para penumpang. Seorang agnostik [orang yang tidak peduli akan adanya Allah] mendengarkan khotbah Meyer mengenai doa yang dijawab, lalu berkata kepada temannya, "Saya tidak percaya kata-katanya sedikit pun."

Selanjutnya pada hari yang sama, orang itu kembali mendengarkan Meyer berkhotbah kepada kelompok penumpang yang lain. Namun sebelum pergi ke kebaktian itu, ia membawa dua buah jeruk di dalam sakunya. Ketika menuju ruang pertemuan, ia melewati seorang wanita tua yang tertidur nyenyak di kursi geladak. Lengannya terjulur dan tangannya terbuka lebar. Dengan maksud membuat lelucon, ia meletakkan dua buah jeruknya di telapak tangan wanita itu. Setelah kebaktian usai, ia melihat wanita tadi dengan gembira sedang memakan buah itu.

"Anda kelihatannya sangat menikmati buah jeruk itu," kata orang agnostik itu sambil tersenyum. "Ya, Pak," jawab wanita itu. "Bapa-Ku sangat baik kepadaku." "Apa maksudmu?" tanya orang agnostik itu. Ia pun menjelaskan, "Saya telah mabuk laut selama berhari-hari. Saya memohon kepada Allah agar mengirimkan sebuah jeruk. Saya jatuh tertidur ketika sedang berdoa. Ketika terbangun, saya mendapati bahwa Dia mengirimkan kepada saya tidak hanya satu tetapi dua buah jeruk!" Orang agnostik itu merasa takjub dengan perwujudan nyata yang tidak disangka-sangka dari khotbah Meyer mengenai doa yang dijawab. Maka, ia pun percaya kepada Kristus.

Ya, Allah menjawab doa-doa kita! --HGB

ALLAH SELALU MEMBERIKAN APA YANG KITA MINTA ATAU SESUATU YANG LEBIH BAIK

Sumber: Renungan Harian

Jumat, 09 Mei 2025

Semuanya Sudah Diampuni

Anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. –Lukas 15:24

Ayat Bacaan & Wawasan :
Lukas 15:17-24

Dalam salah satu cerita pendeknya, Ernest Hemingway mengisahkan tentang seorang ayah asal Spanyol yang rindu untuk dapat bersatu kembali dengan sang putra yang telah menjauh darinya. Ia memasang iklan di surat kabar lokal dengan tulisan: Paco, temui Ayah di Hotel Montana pada hari Selasa siang. Semuanya sudah diampuni. Ketika ayah tersebut tiba, ia menemukan kerumunan orang sedang menunggu. Delapan ratus Paco telah menanggapi iklan tersebut, dan mereka semua mendambakan pengampunan dari ayah mereka.

Kisah yang menyentuh hati tersebut berbicara tentang keinginan terdalam manusia untuk menerima pengampunan. Saya pun diingatkan pada sebuah kisah yang diceritakan Yesus. Dalam perumpamaan tersebut, seorang pemuda pergi meninggalkan ayahnya untuk “hidup berfoya-foya”, tetapi tidak lama kemudian terjerumus dalam masalah (Luk. 15:13-14). Ketika ia “menyadari keadaannya” (ay. 17) dan pulang ke rumah, sang ayah berlari dari jauh untuk merangkulnya sebelum ia sempat meminta ampun (ay. 20). “Anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali,” seru ayahnya dengan penuh sukacita, “ia telah hilang dan didapat kembali” (ay. 24). Dalam kisah ini, sang ayah mewakili Allah, anaknya menggambarkan kita, dan perayaan meriah melambangkan sukacita surgawi yang berlangsung saat kita berpaling kembali kepada Bapa kita di surga.

Pengampunan mengangkat beban dari hati pihak yang bersalah. Namun, seperti hadiah, apa yang ditawarkan kepada kita haruslah diterima. Hemingway tidak memberi tahu kita apakah ayah dalam cerita tersebut menemukan Paco, anaknya. Akankah Sang Bapa dalam cerita Yesus mendapatkan kembali anak-anak-Nya? Tangan-Nya selalu terbuka, menanti tanggapan kita.

Oleh:  Sheridan Voysey

Renungkan dan Doakan
Bagaimana perasaan Anda, apabila Anda adalah ayah Paco? Apa yang selama ini menghalangi Anda untuk menerima pengampunan Allah?

Ya Bapa, karena Engkau tahu apa yang telah kulakukan, sungguh luar biasa, Engkau masih menawarkan pengampunan-Mu. Aku menerimanya dengan penuh syukur!

Sumber: Our Daily Bread

Kamis, 08 Mei 2025

SIAPA YANG SALAH?

Bacaan: Kejadian 43:1-10

NATS: Jika aku tidak membawa dia kepadamu dan menempatkan dia di depanmu, maka akulah yang berdosa terhadap engkau untuk selama-lamanya (Kejadian 43:9)

Yehuda bersedia memikul tanggung jawab untuk membawa pulang kembali saudaranya, Benyamin, dari negeri Mesir (Kejadian 43:9). Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Benyamin, Yehuda bersedia disalahkan. Ini merupakan sifat manusia yang langka, karena kita biasanya lebih suka menimpakan kesalahan kepada orang lain.

Pada suatu malam terjadi tabrakan di depan rumah saya. Saya pergi keluar dan menyaksikan kedua pihak yang bertabrakan sedang berdebat sengit mengenai siapa yang bersalah. Pengemudi yang satu berseru, “Anda berada di jalur yang salah dan mengemudi terlalu cepat!” Pengemudi yang kedua menjawab, “Tidak, Andalah yang harus disalahkan. Anda tidak memberi isyarat untuk membelok, dan lampu jauh Anda menyala!” Setelah 30 menit, polisi datang dan perdebatan itu pun terulang kembali.

Salah satu hal yang paling sulit dipelajari adalah belajar untuk mengakui kesalahan dan berkata, “Saya salah.” Mengapa demikian? Ini terjadi bukan hanya karena seseorang sengaja tidak mau jujur. Namun alasan yang sebenarnya adalah bahwa kita hanya memandang masalah itu dari sudut pandang kita sendiri. Jika kita juga dapat memandang masalah itu dari sudut pandang orang lain, keadaannya mungkin akan sangat berbeda.

Dalam segala hal selalu ada dua sisi. Anda baru akan dapat melihat keduanya bila Anda berhenti menuduh dan mulai mau mendengarkan orang lain dengan rendah hati. Untuk menyelesaikan suatu konflik, Anda harus bersedia mengaku bila Anda memang salah -- MRD

AGAR SESUATU BERJALAN BENAR, BERSEDIALAH UNTUK MENGAKU BILA ANDA SALAH

Sumber: Renungan Harian

Rabu, 07 Mei 2025

SEBERAPA BERSYUKURKAH ANDA?

Bacaan: Mazmur 107:1-9

NATS: Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya (Mazmur 107:1)

Ibu saya adalah orang yang senantiasa bersyukur meski hampir di sepanjang kehidupan pernikahannya ia hidup miskin. Namun, ia tidak pernah berhenti memuji Tuhan. Ayah saya, seorang pembuat sepatu yang tidak pernah mendapat lebih dari 12 dollar per minggu, adalah seorang Kristen yang suka memuji Tuhan.

Sungguh merupakan warisan yang sangat berharga! Sungguh merupakan kenangan yang indah! Tampaknya tanpa banyak perlengkapan, kemewahan, dan perabot rumah tangga, orangtua saya jauh lebih bersyukur daripada kita yang hidup pada masa kini. Sebelum makan, kami selalu memohon berkat Tuhan dan membaca satu bagian dari Alkitab, dan sesudah makan kami menaikkan ucapan syukur. Sungguh berbeda dengan masa sekarang. Saat ini kita jarang berdoa, dan ketika kita berdoa, sering kali kita menaikkan banyak permohonan dan sangat sedikit ucapan syukur!

Selama Perang Dunia II, banyak gereja terbuka 24 jam sehari agar orang-orang dapat datang dan berdoa untuk orang yang mereka kasihi di medan perang. Penjaga di salah satu gereja memperhatikan seorang anak laki-laki yang selalu datang setiap hari dan berdoa selama 10 menit. Suatu hari beberapa minggu kemudian, anak itu datang dan berlutut lebih lama dari biasanya. Sang penjaga yang memperhatikannya bertanya mengapa ia berdoa sangat lama. Ia menjawab, "Setiap hari saya berdoa di sini selama beberapa menit untuk meminta agar Allah mengantar ayah saya pulang dengan selamat. Pagi ini ia pulang, maka saya bergegas ke sini untuk bersyukur kepada Tuhan yang telah menjawab doa saya."

Seberapa bersyukurkah diri kita? -MRD

DUA BAGIAN TERPENTING DARI DOA ADALAH PERMOHONAN DAN UCAPAN SYUKUR

Sumber: Renungan Harian

Selasa, 06 Mei 2025

HIDUP DAMAI

Bacaan: Roma 12:14-21

NATS: Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! (Roma 12:18)

Seorang pria yang bermasalah dengan tetangganya terpaksa harus membela diri melalui jalur hukum atas tindakan tetangganya yang tak dapat dibenarkan dan tidak jujur. Ia berkomentar, "Saya telah berusaha menaati Roma 12:18, namun pada situasi seperti ini saya bersyukur atas 'kelonggaran' yang Tuhan berikan dalam ayat ini. Ayat ini tidak berkata bahwa kita harus hidup berdamai dengan orang lain dalam situasi seperti apa pun juga, karena Tuhan tahu bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan terhadap orang-orang tertentu."

Sayangnya, begitu banyak orang kemudian tidak berusaha melakukan segala hal yang dapat dilakukan untuk hidup damai. Ini mengingatkan saya akan kisah seorang anak lelaki yang bertanya kepada ayahnya, "Ayah, bagaimana asal mula terjadinya Perang Dunia I?" Sang ayah menjawab, "Begini, Nak. Perang Dunia I bermula karena Jerman menyerang Belgia." Tiba-tiba istrinya menyela, "Katakan kepadanya apa yang sesungguhnya terjadi. Perang itu bermula karena ada seseorang yang dibunuh." Suaminya dengan cepat menjawab, "Siapa sih sebenarnya yang harus menjawab pertanyaan, kamu atau aku?" Si istri pun segera meninggalkan ruangan dan membanting pintu sekeras mungkin. Ketika getaran di ruangan itu sudah berhenti, keheningan mulai menyebar di ruangan tersebut. Lalu anak itu berkata, "Baiklah, Ayah tidak perlu menceritakan kepada saya bagaimana suatu perang bermula. Sekarang saya sudah tahu!"

Adakah Anda mudah untuk membalas dendam atau sudahkah Anda melatih diri untuk hidup damai dengan orang lain? Yesus sendiri berdoa bagi musuh-musuh-Nya. Bagaimana dengan Anda? Hari ini, cobalah untuk hidup damai dengan orang lain --HGB

MEMBALAS DENDAM MEMBUAT ANDA SAMA BURUKNYA
DENGAN ORANG YANG MENYAKITI ANDA

Sumber: Renungan Harian

Senin, 05 Mei 2025

MELIHAT SEGALA ARAH

Bacaan: Mazmur 139:1-13

NATS: Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh (Mazmur 139:2)

Mengapa orang seringkali berpikir bahwa mereka dapat bebas berbuat sesuatu yang buruk bila tak ada orang lain yang melihatnya? Adakah kita lupa bahwa ada Dia yang melihat dan mendengar setiap perilaku dan tutur kata kita? Apabila kita tidak menghendaki orang lain mengetahuinya, bagaimana mungkin kita bisa mengabaikan fakta bahwa Allah mengetahui semua yang kita lakukan?

Dalam Mazmur 139 Daud mengutarakan pengakuannya, "TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku. Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh...segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN" (Mazmur 139:1-4).

Seorang ayah dan anak lelakinya mengendarai mobil ke sebuah desa dan melihat sebidang tanah yang ditanami semangka tidak jauh dari jalan raya. Sang ayah berkata kepada anak lelakinya, "Berjaga-jagalah di sini, Nak, Ayah akan memetik buah semangka dari kebun itu." Dengan segera ia menyelinap masuk ke kebun yang tak dijaga tersebut dan memilih buah semangka yang diinginkannya. Lalu, ia memanggil anaknya, "Adakah orang yang datang? Coba, tengoklah ke kanan dan ke kiri!" Anak itu dengan kepolosannya menjawab, "Tetapi Ayah, tidakkah kita juga harus melihat ke atas?"

Benar, melihat ke atas adalah yang paling penting. Bagaimana Anda berperilaku tatkala tak seorang pun melihat Anda kecuali Allah? Ujilah diri Anda dengan menggunakan prinsip ini --MRD

KARAKTER KITA DIUKUR DARI APA YANG KITA KERJAKAN
TATKALA TAK SEORANG PUN MELIHAT

Sumber: Renungan Harian

Minggu, 04 Mei 2025

Akibat dari Kehidupan yang "Berpusat pada Diri Sendiri"

Bacaan Hari ini:
Yakobus 3:16 “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.”

Ketika "aku" menjadi pusat dari segala sesuatu dalam hidupku, itu adalah dosa.

Kita semua memiliki masalah "aku": Aku mau melakukannya dengan caraku; Aku akan melakukan apa yang kumau; Aku harus mementingkan diriku sendiri terlebih dahulu; Aku tidak punya waktu untuk orang lain; Aku yang paling penting.

Waktu kecil, ayah saya mengajarkan saya tentang bahayanya kehidupan yang berpusat pada diri sendiri dengan menunjukkan bahwa huruf tengah dari "dosa (sin)" adalah "aku (I)." Akar dosa adalah keegoisan, dan huruf tengah dari "kesombongan (pride)" juga adalah "aku (I)." Di mana lagi ini berlaku? Semua "kejahatan (crime)" berpusat pada diri sendiri (I). Banyak masalah sosial yang terjadi di dunia saat ini disebabkan karena menempatkan "aku" sebagai pusatnya dan berkata, "Aku lebih baik darimu."

Dosa-dosa keegoisan apa yang terjadi ketika Anda mulai menjalani kehidupan yang berfokus pada diri sendiri? Anda mulai "mengeluh" dan "mengkritik." Anda menjadi "iri hati," "menipu," "menentang," dan "tidak kenal ampun"—karena Anda menginginkan kasih karunia dari Tuhan buat diri sendiri, tetapi tidak untuk orang lain.

Apa akibat dari menjalani kehidupan yang berfokus pada diri sendiri? Rasa bersalah, kelelahan, pesimisme, permusuhan, dan kekosongan—semuanya berpusat pada "aku".

Anda diciptakan oleh Tuhan dan untuk Tuhan. Dan Anda hanya akan menemukan damai sejahtera dan tujuan hidup ketika Anda memfokuskan hidup Anda kepada-Nya. Alkitab berjanji, "Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya” (Yesaya 26:3)

Renungkan hal ini:
- Luangkan waktu untuk menelaah apa yang menjadi fokus pikiran, tujuan, dan jadwal Anda. Dalam hal apa hidup Anda berfokus pada diri sendiri? Bagaimana kehidupan Anda yang berfokus pada Tuhan?
- Bagaimana Anda melihat keegoisan memengaruhi kehidupan Anda serta orang lain?
- Apa saja cara yang dapat Anda lakukan untuk tetap berfokus pada Tuhan?

Apa satu-satunya penawar untuk kehidupan yang berpusat pada diri sendiri? Anda harus mengubah fokus Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Sabtu, 03 Mei 2025

Perang Kue Kering

Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh. –Pengkhotbah 7:9

Ayat Bacaan & Wawasan :
Pengkhotbah 7:3-9

Dari semua hal-hal konyol yang menyebabkan negara-negara saling berperang, mungkinkah kue kering menjadi penyebab yang terburuk? Pada tahun 1832, di tengah ketegangan antara Prancis dan Meksiko, sekelompok tentara Meksiko mengunjungi sebuah toko kue kering Prancis di Kota Meksiko dan mencicipi semua produknya tanpa membayar. Meski detail peristiwanya cukup rumit (ditambah berbagai provokasi lain yang memperburuk masalah), yang kemudian terjadi sebagai akibatnya adalah Perang Prancis-Meksiko yang pertama (1838–39), yang dikenal sebagai Perang Kue Kering, suatu konflik yang mengakibatkan tewasnya lebih dari 300 tentara. Sungguh menyedihkan bagaimana momen kemarahan sekejap dapat menimbulkan bencana begitu besar.

Kebanyakan konflik antarmanusia—pernikahan yang hancur dan persahabatan yang rusak—kemungkinan berakar pada kemarahan yang tak terkendali. Keegoisan dan permainan kekuasaan, kesalahpahaman yang tidak diselesaikan, penghinaan dan serangan balasan—semua itu adalah bentuk kebodohan. Sering kali persepsi atau reaksi kita yang tidak bijak membawa kita kepada kemarahan yang merusak. Namun, Kitab Pengkhotbah menawarkan hikmat: “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh” (7:9).

Sungguh bodoh apabila kita memiliki sumbu pendek dan begitu mudah terpancing untuk marah, terutama ketika Allah menawarkan jalan yang lebih baik—bisa saja melalui “hardikan orang berhikmat” (ay. 5). Dengan mengejar hikmat, kita dapat mengizinkan “damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati [kita]” (Kol. 3:15). Kita dapat hidup dalam hikmat dan pengampunan dengan pertolongan-Nya.

Oleh:  Winn Collier

Renungkan dan Doakan
Kapan Anda pernah menyerah pada kemarahan yang bodoh? Bagaimana hal itu telah menyakiti Anda atau orang lain?

Ya Allah, aku tidak ingin membiarkan kemarahan yang bodoh menguasaiku atau menyakiti orang lain. Tolonglah aku melepaskan kemarahanku dan menerima damai sejahtera-Mu.

Sumber: Our Daily Bread

Jumat, 02 Mei 2025

Pengingat yang Berguna dari Roh

Penghibur, yaitu Roh Kudus . . . akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. –Yohanes 14:26

Ayat Bacaan & Wawasan :
Yohanes 14:15-17, 25-31

Suatu kali, saya diundang untuk bernyanyi sebelum dimulainya pertandingan olahraga yang diikuti oleh salah seorang putra saya. Meski sudah menghafal lirik lagu yang akan dinyanyikan, saya tetap berlatih menyanyikannya selama beberapa minggu. Hari itu, ketika saya berjalan menuju lapangan dengan kedua tim yang bertanding berbaris di kiri-kanan saya, saya menutup mata dan berdoa. Saya mulai dengan menyanyikan beberapa baris, tetapi kemudian saya terdiam dan mematung. Saya tidak bisa mengingat lirik lagu berikutnya. Lalu, seorang pria di belakang saya membisikkan kata-kata yang saya lupakan itu. Begitu mendengar pengingat yang berguna itu, saya langsung menyanyikan seluruh lagu itu dengan penuh percaya diri.

Adakalanya kita semua membutuhkan sedikit bantuan. Dalam Yohanes 14, Yesus menjelaskan bahwa kita mengasihi Dia dengan menuruti segala perintah-Nya (ay. 15). Dia juga berjanji untuk meminta Bapa memberikan kita seorang Penolong, yaitu “Roh Kebenaran” (ay. 17). Yesus berkata, “Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu” (ay. 17). Meski Yesus mengajarkan banyak hal kepada para murid sewaktu masih bersama dengan mereka (ay. 25), Dia berkata bahwa “Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (ay. 26).

Saat kita membaca Alkitab dengan penuh kesungguhan, Roh Kudus menolong kita menafsirkan, memahami, dan menerapkan hikmat Allah. Tuntunan-Nya selalu sejalan dengan Kitab Suci—memimpin, menghibur, dan mengubahkan kita dalam kasih, melalui setiap pengingat yang berguna bagi kita.

Oleh:  Xochitl Dixon

Renungkan dan Doakan
Apa yang dapat Anda lakukan untuk dapat mengenali suara Roh Kudus dengan lebih baik? Bagaimana Anda dapat menyadari kehadiran-Nya setiap hari?

Ya Roh Kudus, tolonglah aku mengenali suara Mu dan tunduk kepada pimpinan-Mu, sembari Engkau membentuk diriku semakin serupa dengan Tuhan Yesus, melalui setiap pengingat yang berguna bagiku.

Sumber: Our Daily Bread

Kamis, 01 Mei 2025

Mengejar Kebahagiaan Sejati

Bacaan: Pengkhotbah 12:9-14

Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.- Pengkhotbah 12:13

Banyak orang berlomba mengejar kebahagiaan di dunia. Berbagai cara dilakukan, mulai dari berlibur ke tempat yang indah, menikmati wisata kuliner, berolah raga, nonton film, dan sebagainya. Untuk sementara mereka mungkin mendapatkan kebahagiaan. Namun, seiring berjalannya waktu, setelah berbagai usaha tersebut dilakukan, mereka kembali menemukan kesepian, kesedihan, kesengsaraan, dan berbagai perasaanlainnya. Kebahagiaan sejati tak kunjung mereka temukan.

Dalam Pengkhotbah 12:9-14 Salomo mengajak kita untuk merenungkan arti kehidupan dan tujuan yang sejati. Bagaimana kita dapat menemukan kebahagiaan abadi di tengahtengah dunia yang penuh dengan kebingungan dan ketidakpastian? Pertama, mengenal keadaan kehidupan (ay. 9). Pengkhotbah menggambarkan keadaan kehidupan manusia sebagai sia-sia dan tidak berguna. Segala sesuatu di bawah matahari, tanpa Tuhan, hanya akan membawa kekecewaan dan kekosongan. Kedua, mengejar kebijaksanaan atau hikmat (ay. 10-12). Pengkhotbah mengajak kita untuk mengejar kebijaksanaan dengan sungguh-sungguh karena kebijaksanaan adalah harta yang sejati. Dengan memiliki kebijaksanaan, kita dapat memahami maksud dan tujuan hidup, serta mengambil langkah-langkah yang benar dalam hidup. Ketiga, hidup takut akan Tuhan (ay. 13-14). Pengkhotbah menyimpulkan dengan menegaskan pentingnya takut akan Tuhan. Menyadari bahwa kita akan bertanggung jawab kepada-Nya, baik dalam perbuatan kita maupun dalam kata-kata kita, membawa kita pada jalan hidup yang benar dan berarti.

Perhatikan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah hasil dari kekayaan atau prestasi dunia, tetapi berasal dari hubungan yang benar dengan Tuhan. Mengejar kebijaksanaan dan takut akan Tuhan adalah tindakan yang dapat membawa kita mendekati kebahagiaan yang sejati. Tinggalkanlah kehidupan yang sia-sia dan fokuslah pada hal-hal yang memiliki nilai abadi di hadapan Tuhan. Mari kita memperhatikan panggilan untuk mengejar hikmat dan takut akan Tuhan. Hanya dengan hidup yang berpusat kepada-Nya kita akan menemukan kebahagiaan sejati. Biarlah Roh Kudus membimbing kita dalam setiap langkah hidup kita menuju kebahagiaan yang kekal di dalam Kristus Yesus.

Refleksi Diri:
Apa kebahagiaan yang Anda cari selama ini? Apakah Anda sudah mencari kebahagiaan sejati melalui relasi yang benar dengan Tuhan?

Apakah Anda sudah mengejar kebijaksanaan di dalam Tuhan dan juga menjalani hidup yang takut akan Tuhan?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong