Selasa, 31 Maret 2026

Saudara Dalam Kesusahan

Bacaan: Obaja 1:8-16

Karena kekerasan terhadap saudaramu Yakub, maka cela akan meliputi engkau, dan engkau akan dilenyapkan untuk selama-lamanya.
- Obaja 1:10

Konflik sudah menjadi bagian kehidupan kita. Kita bisa berkonflik dengan saudara, teman, bahkan orangtua. Konflik terkadang bisa berkepanjangan, bahkan menimbulkan luka mendalam. Tidak jarang luka mendalam ini bisa menimbulkan kebencian yang jika tidak segera diselesaikan dapat merusak relasi persaudaraan. Kita mungkin familiar dengan cerita tentang dua saudara kandung yang sudah puluhan tahun tidak mau bertemu, bahkan berbicara satu sama lain. Mereka berdua mengalami luka yang membekas di dalam hati masing-masing pribadi terhadap saudaranya sendiri.

Kitab Obaja berisikan teguran dan nubuatan kejatuhan kerajaan Edom. Edom adalah keturunan Esau, kakak Yakub. Karena itu, Edom masih memiliki ikatan saudara dengan Yehuda. Akan tetapi, saat Yerusalem jatuh ke tangan Babilonia (Babel), Edom justru berdiam dan membiarkan Yerusalem hancur (ay. 11). Lebih parahnya lagi, Edom malah ikut-ikutan menjarah Yerusalem dan menangkapi rakyat yang melarikan diri (ay. 13-14). Allah lalu memberikan teguran dan nubuat atas kehancuran Edom melalui Obaja. Hukuman atas Edom adalah kehancuran, “Seperti yang engkau lakukan, demikianlah akan dilakukan kepadamu, perbuatanmu akan kembali menimpa kepalamu sendiri” (ay. 15b). Nubuatan ini terpenuhi pada abad ke-6 SM, saat Edom juga dihancurkan oleh Babilonia.

Alkitab mencatat Edom dan Yehuda sering berseteru dan berperang satu sama lain. Tidak aneh jika timbul kebencian di antara kedua bangsa ini sehingga di hari kehancuran Yerusalem, Edom memilih berdiam diri bahkan bersukacita atas keruntuhan saudaranya. Namun, Allah menganggap serius perbuatan Edom dan memperhitungkannya sebagai dosa. Edom seharusnya berperan sebagai saudara bagi Yehuda dalam kesusahan. Ia sepatutnya membantu dan menolong saudaranya. Sayangnya, Edom justru melakukan yang sebaliknya. Allah melalui firman-Nya menghendaki kita saling mengasihi. Kita, anak-anak Tuhan, dipanggil mengasihi mereka yang membenci, menyakiti, bahkan menindas kita.

Refleksikan kesalahan Edom, yang karena keangkuhan hatinya memilih menyimpan amarah dan dendam kepada saudaranya. Edom kehilangan kasih yang membuatnya berdiam diri bahkan bersuka saat saudaranya kesusahan. Jika kita benci dan marah karena perselisihan yang pernah terjadi dengan saudara kita, mari selesaikan di hadapan Tuhan. Janganlah luka dan akar pahit merasuk hati dan mematikan kasih kita kepada saudara kita sendiri.

Refleksi Diri:

Apakah Anda masih menyimpan kemarahan, kebencian, atau luka kepada saudara dan sesama?

Apakah Anda sudah menyelesaikannya di hadapan Tuhan dan mengampuni mereka yang pernah berseteru dengan Anda?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Senin, 30 Maret 2026

Menggunakan Ponsel Anda untuk Menjangkau Bangsa-Bangsa

10 Maret 2026

Bacaan Hari ini:
2 Korintus 5:18 "Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. "

Anda mungkin dapat menemukan saya di media sosial. Namun Anda mungkin tidak akan melihat saya mengunggah tentang minuman kopi yang saya pesan atau pendapat saya tentang acara televisi terbaru.

Ketika saya mulai menggunakan Twitter, Facebook, dan Instagram beberapa tahun yang lalu, saya memutuskan untuk memakainya sebagai sarana untuk menguatkan orang lain dan mengajarkan mereka bagaimana mengikuti Yesus. Itu jauh lebih bermanfaat daripada sekadar membagikan hal-hal kecil tentang kehidupan sehari-hari.

Alkitab berkata: "Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. " (2 Korintus 5:18)

Tidak ada yang salah dengan menggunakan media sosial untuk membagikan foto keluarga atau pengalaman menyenangkan yang Anda alami. Namun jika Anda tidak pernah menggunakan media sosial untuk memberitakan tentang damai sejahtera yang dapat dimiliki seseorang melalui Tuhan, Anda sebenarnya melewatkan kesempatan yang sangat besar untuk menjalankan tujuan hidup Anda.

Tuhan telah memberikan kepada kita tugas yang sangat penting, yaitu memberitakan keselamatan melalui Yesus Kristus kepada orang lain. Ketika Yesus memerintahkan untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya, perintah itu juga ditujukan kepada Anda.

Selama hampir dua ribu tahun, menjangkau seluruh dunia berarti seseorang harus berlayar dengan kapal atau terbang dengan pesawat untuk pergi ke berbagai tempat. Namun sekarang, Anda dapat menjangkau orang di seluruh dunia tanpa meninggalkan rumah.

Anda bahkan dapat duduk di kamar Anda dan membagikan pesan tentang Tuhan, dan dalam hitungan detik pesan itu dapat dibaca oleh orang-orang dari berbagai negara. Ini adalah kesempatan yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh generasi sebelumnya. Namun kesempatan ini juga membawa tanggung jawab yang besar, yaitu menggunakan teknologi ini untuk memberitakan Injil kepada dunia.

Alkitab berkata: "Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa"(1 Tawarikh 16:24)

Renungkan :
- Apa ketakutan yang Anda rasakan ketika memikirkan untuk berbicara tentang Yesus di media sosial?
- Bagaimana media sosial dapat menjadi sarana yang efektif untuk memberitakan Injil?
- Selain media sosial, kesempatan apa lagi yang Tuhan berikan kepada Anda untuk menceritakan keselamatan melalui Yesus kepada orang lain?

Hari ini Anda memiliki kesempatan untuk memberitakan kepada orang-orang dari berbagai bangsa tentang hal-hal luar biasa yang Tuhan telah lakukan dalam hidup Anda. Kesempatan itu ada tepat di tangan Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Minggu, 29 Maret 2026

Mengampuni Orang Berdosa

Bacaan Alkitab hari ini:
Yohanes 7:53-8:11

Mencela kesalahan orang lain jauh lebih gampang daripada menyadari kesalahan diri sendiri. Saat mendengar tentang kisah seorang perempuan yang tertangkap basah sedang berzina, kebanyakan orang menganggap kehidupan wanita itu menjijikkan, lalu menganggap diri sendiri lebih baik daripada wanita itu. Akan tetapi, bacaan Alkitab hari ini mengajarkan bahwa kita perlu memperbaiki cara pandang kita terhadap orang berdosa. Sadarilah bahwa kita semua adalah orang berdosa! Tindakan membawa perempuan yang kedapatan berzina untuk dihukum memperlihatkan sikap yang tidak adil. Karena perempuan itu tertangkap basah sedang berzina, bukankah dosa perzinaan itu dilakukan berdua dengan seorang pria? Mengapa pria yang berzina dengan perempuan itu tidak ikut dihakimi? Bukankah para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu menerapkan standar ganda? Saat Tuhan Yesus meminta orang yang merasa bahwa dirinya tidak berdosa untuk melempar batu lebih dahulu, semua orang terpaksa mengintrospeksi diri, dan ternyata tidak ada seorang pun yang merasa dirinya tidak berdosa! Karena kita semua adalah orang berdosa, tidak semestinya kita mencari-cari kesalahan sesama kita! Saat menyaksikan orang yang kedapatan berbuat dosa, seharusnya kita mengintrospeksi diri! Saat menyaksikan seorang pezina, kita harus memeriksa kecenderungan hati kita. Jangan-jangan, kita juga akan berbuat zina bila kita memiliki kesempatan dan kita yakin bahwa tidak ada orang yang akan melihat perbuatan kita. Demikian pula saat menyaksikan seorang koruptor yang tertangkap tangan, kita perlu memeriksa diri kita sendiri apakah kita sanggup bertahan menghadapi godaan uang bila kita berada dalam posisi si koruptor. Jangan-jangan, bila kita dalam posisi si koruptor, kita pun juga akan melakukan korupsi! Banyak orang tidak melakukan dosa yang mencolok bukan karena benar-benar menjaga kesucian hidup, tetapi karena tidak memiliki kesempatan!

Apakah Anda menyadari bahwa kita semua cenderung berbuat dosa? Bila kita tidak waspada, kita akan mudah tergoda oleh tawaran kesenangan, kekuasaan, kemewahan, dan popularitas! Saat melihat seseorang yang biasa kita sebut sebagai orang berdosa, apakah Anda menyadari bahwa sesungguhnya, kita pun juga tergolong orang berdosa? Bersyukurlah karena Tuhan Yesus datang ke dunia ini untuk menyelamatkan orang berdosa, termasuk diri Anda dan saya! Setelah menerima anugerah pengampunan di dalam Kristus, apakah Anda bersedia meneladani Kristus dalam hal menerima dan mengampuni orang yang berbuat dosa, bahkan mengulurkan tangan untuk menolong orang yang terbelenggu oleh dosa? [GI Purnama]

Sumber: Renungan GKY

Sabtu, 28 Maret 2026

Sepi Ku Sendiri

Bacaan: Mazmur 142

Ketika semangatku lemah lesu di dalam diriku, Engkaulah yang mengetahui jalanku. Di jalan yang harus kutempuh, dengan sembunyi mereka memasang jerat terhadap aku.
- Mazmur 142:4

Beberapa orang pernah mengungkapkan perasaannya kepada saya bahwa dirinya merasa kesepian meskipun berada di tengah keramaian. Begitu banyak orang yang ada di sekelilingnya, tetapi entah mengapa perasaan sepi tetap dirasakannya, meskipun faktanya ia tidak sedang sendirian. Ada juga yang pernah bercerita saat sendiri dirinya merasa sepi, saat ada orang lain menemani pun perasaan kesepian itu tak hilang. Perasaan kesepian umumnya terjadi pada mereka yang sudah lanjut usia, tetapi sekarang ini pun banyak dirasakan oleh anak-anak muda.

Perikop bacaan jelas menceritakan tentang perasaan kesepian yang dirasakan oleh Daud. Pada saat itu Daud sedang bersembunyi di gua Adulam karena dikejar-kejar oleh Raja Saul yang iri terhadapnya (1Sam. 22). Daud merasa tidak punya teman, tidak ada yang peduli kepadanya. Ia merasa sendirian dan kesepian. Ayat 5 menyatakan dengan jelas apa yang Daud rasakan, ketika “tidak ada seorang pun yang menghiraukan aku, … tidak ada seorang pun yang mencari aku.” Padahal jelas dituliskan bahwa Daud tidak sendirian di dalam gua Adulam, ada kira-kira empat ratus orang bersama dengannya (lih. 1Sam. 22:2). Faktanya, Daud ada bersama banyak orang di dalam gua, tetapi ia tetap merasa “sepi ku sendiri”. Menarik cara Daud mengatasi kesepiannya, yaitu dengan mencari Tuhan. Daud tahu ada Pribadi yang memiliki relasi yang begitu dekat dengannya. Di saat perasaan kesepian itu datang, Daud mencari Allah, ia berseru kepada Tuhan, “Engkaulah tempat perlindunganku!” (ay. 6).

Perasaan kesepian tidak hanya terjadi karena kita sedang sendirian. Kesepian lebih berkaitan erat dengan “relasi yang dalam” daripada sekadar “kehadiran” orang lain di sekitar kita. Banyak orang merasa kesepian justru di tengah keramaian. Kita membutuhkan sahabat yang dekat secara emosi, yang kenal dan memiliki relasi dengan kita. Kehadiran sesama manusia memang penting, tetapi memiliki relasi yang intim dengan Tuhan jauh lebih penting. Karena itu, mari kita datang kepada Tuhan Yesus Kristus. Hanya dari Tuhan-lah kita mendapat pemulihan sempurna dari perasaan kesepian. Ungkapkanlah kepada Tuhan isi hati dan kegelisahan kita dengan bebas. Dia pasti mendengar, mengerti, dan peduli.

Refleksi Diri:

Kapan Anda pernah merasa kesepian? Apakah Anda sudah datang kepada Yesus?

Apakah ada orang-orang terdekat yang Anda ketahui sedang merasa kesepian? Datang dan bangun relasi dengan mereka sehingga mereka merasa mendapatkan dukungan.

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Jumat, 27 Maret 2026

Percaya Akan Pemeliharaan Tuhan

Bacaan: Matius 6:31-33

 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
- Matius 6:33

Banyak orang hidup dalam tekanan—khawatir akan masa depan, keuangan, kesehatan, bahkan hal sehari-hari seperti makanan dan pakaian. Dalam Matius 6:31-33, Yesus mengajarkan kepada kita sebuah kebenaran penting tentang kepercayaan kepada Allah dan prioritas hidup yang benar.

Perikop bacaan hari ini merupakan bagian dari Khotbah di Bukit, sebuah pengajaran Yesus yang sangat terkenal dan mendalam. Dalam bagian ini, Yesus mengajarkan tentang kepercayaan kepada Allah dalam hal kebutuhan hidup sehari-hari. Dia menasihati para pendengar-Nya agar tidak khawatir tentang makanan, minuman ataupun pakaian karena Bapa di surga tahu semua kebutuhan mereka. Sebagai gantinya, Yesus mengajak mereka untuk mengutamakan Kerajaan Allah dan kebenarannya dengan janji bahwa segala kebutuhan akan ditambahkan kepada mereka. Apa saja kebenaran yang Yesus sampaikan?

Pertama, Allah tahu dan peduli akan kebutuhan kita (ay. 31-32). Yesus tidak sedang berkata bahwa makanan, minuman, dan pakaian itu tidak penting. Dia tahu semua itu kebutuhan dasar manusia. Yesus sebetulnya sedang menegur kekhawatiran berlebihan yang menunjukkan kurangnya kepercayaan kepada Bapa yang memelihara. Dia membandingkan kita dengan bangsa-bangsa lain (orang yang tidak mengenal Allah). Kekhawatiran mereka adalah wajar karena mereka tidak punya siapa-siapa untuk bergantung. Berbeda dengan kita yang mempunyai Bapa Surgawi yang tahu apa yang kita butuhkan, bahkan sebelum kita memintanya (Mat. 6:8).

Kedua, prioritaskan kerajaan Allah maka Tuhan akan menyediakan (ay. 33). Yesus tidak hanya menyuruh kita untuk jangan khawatir, tetapi memberikan fokus yang baru, yakni cari Kerajaan Allah terlebih dulu. Ini bukan sekadar tentang doa atau pelayanan di gereja, tetapi tentang menjadikan Tuhan pusat dalam segala aspek kehidupan kita—pekerjaan, keputusan, relasi, dan waktu kita. Saat kita mengutamakan Kerajaan Allah, Tuhan akan mengatur kebutuhan kita. Prinsipnya adalah prioritas rohani mendatangkan pemeliharaan jasmani.

Tuliskan hal-hal yang sering membuat Anda khawatir, doakan satu per satu, serahkan kepada Tuhan dan minta penguatan iman. Evaluasi prioritas hidup Anda, apakah Anda lebih fokus pada kebutuhan duniawi atau pertumbuhan rohani? Apakah Tuhan menjadi pusat hidup Anda? Mulailah hari dengan doa dan pembacaan firman, bukan langsung dengan berita atau media sosial. Berikan prioritas spiritual Anda sejak pagi hari.

Refleksi diri:

Apa saja kekhawatiran Anda saat ini yang perlu diserahkan kepada Tuhan? Apakah Anda lebih fokus pada kebutuhan jasmani daripada mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu?

Bagaimana Anda bisa mengutamakan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya dalam keputusan sehari-hari? Adakah perubahan konkret yang perlu Anda lakukan mengenai gaya hidup, prioritas atau cara Anda mengelola waktu dan sumber daya?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Kamis, 26 Maret 2026

Makan Apa Hari Ini?

Bacaan: Markus 8:1-10

Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan - Markus 8:2

Makan apa hari ini? Pertanyaan ini bisa bermakna ganda. Bagi orang yang berkecukupan, bisa berarti sedang memikirkan jenis makanan apa yang mau dimakan olehnya dari begitu banyak pilihan. Namun, bagi orang yang berkekurangan, pertanyaan ini berarti ia belum tentu bisa makan hari ini.

Jika membaca Markus 8:1-10, kita seringkali hanya fokus bagaimana Tuhan Yesus dengan ajaib bisa memberi makan empat ribu orang hanya dengan tujuh ketul roti dan beberapa ikan saja. Kita sebenarnya bisa melihat juga ketika Yesus melihat orang-orang yang mengikuti-Nya mulai lapar, lalu Dia berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan.” (ay. 2). Bisa saja Tuhan Yesus membiarkan mereka mencari makanan sendiri dan pastinya akan sulit untuk orang banyak tersebut. Lebih mudah bagi Yesus untuk tidak memikirkan tentang makanan mereka. Akan tetapi, Dia tidak melakukannya. Hati Yesus tergerak oleh belas kasihan sehingga Dia melakukan mukjizat dan orang-orang menjadi kenyang.

Kita diminta berdoa demikian: Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (Mat. 6:11). Kita diajar percaya pada pemeliharaan Tuhan yang nyata setiap harinya. Tuhan Yesus juga mengajarkan jangan khawatir soal makanan dan minuman, Dia pasti memelihara. Tentu saja bukan berarti kita bersantai-santai atau bahkan menganggur, lalu makanan akan dikirimkan Tuhan. Percayalah, di dalam setiap jerih lelah kita, Tuhan akan mencukupkan kebutuhan makanan kita. Bukan soal harga atau mewahnya, tetapi kita mengingat akan pemeliharaan Tuhan. Kita akan memandang secara berbeda makanan yang kita makan, jika menyadari semua ini. Berdoa makan bukan lagi formalitas, tetapi sungguh-sungguh ucapan syukur karena merupakan bukti pemeliharaan Tuhan.

Di zaman ini, begitu banyak orang yang suka memfoto makanannya dan kemudian mengunggahnya di media sosial. Sah-sah saja melakukannya, tetapi yang disayangkan jika motivasinya hanyalah untuk pamer. Makanan bisa menjadi sumber keegoisan kita. Jika diberikan berkat yang lebih, kita perlu memikirkan pergumulan orang lain. Betapa bersyukurnya kita bukan hanya menikmati makanan yang kita makan sendiri, tetapi bisa membagikannya kepada orang yang sedang kesulitan

Refleksi Diri:

Mengapa penting untuk mengucap syukur atas makanan yang kita makan?

Apakah Anda mau berbagi dan memberkati orang lain yang sedang kesulitan, jika Anda diberkati lebih oleh Tuhan? Bagaimana cara Anda berbagi berkat?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Rabu, 25 Maret 2026

ORGAN TETAP BERBUNYI

Bacaan: 1 Korintus 12:20-26

Malahan justru anggota-anggota tubuh yang tampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan 
(1 Korintus 12:22)

Beberapa tahun lalu, seorang pemain organ yang andal melakukan konser. (Di masa itu, organ harus dipompa dari belakang panggung agar tabung-tabungnya terisi udara.) Setiap satu lagu berakhir, para penonton bertepuk tangan meriah. Sebelum membawakan lagu terakhir, sang pemain organ berdiri dan berkata, "Sekarang saya akan memainkan ...", lalu ia mengumumkan judul lagunya. Ia duduk kembali dan bersiap untuk memainkan organ. Dengan kaki menginjak pedal dan tangan menekan tuts, ia memulainya dengan chord yang sangat megah. Namun, organ itu tidak berbunyi. Tiba-tiba terdengar suara dari belakang panggung, "Jangan cuma ‘saya’, tetapi katakan ‘kita’." 

Dalam pekerjaan Tuhan, ada banyak kesempatan untuk mencapai prestasi pribadi. Kemampuan kita adalah pemberian Allah, dan Roh Kudus menolong kita unggul dalam bidang yang dapat kita kerjakan dengan baik. Namun, merasa diri paling hebat dan memandang remeh bantuan orang lain dapat menghancurkan semuanya. Tak ada seorang kristiani pun yang menapaki tangga keberhasilannya sendirian. Mereka diiringi oleh ibu, ayah, teman-teman, suami, istri, anak-anak yang berdoa, berkorban, dan melakukan apa saja untuk membantu. 

Sadarilah bahwa kita berutang kepada banyak orang, dan kita perlu bersyukur atas peran penting mereka dalam pekerjaan Tuhan di dalam dan melalui diri kita. Sebuah ungkapan terima kasih melalui kartu ucapan, ucapan penghargaan, ataupun perbuatan kasih yang tulus akan sangat membantu untuk membuat "organ tetap berbunyi" —DJD

BETAPA HEBATNYA PRESTASI YANG DAPAT DIRAIH BILA ANDA TIDAK MEMENTINGKAN SIAPA YANG MENDAPAT PUJIAN

Sumber: Renungan Harian

Selasa, 24 Maret 2026

UNGKAPAN TERIMA KASIH

Bacaan: 2 Korintus 1:3-11

[Allah] menghibur kami ... sehingga kami sanggup menghibur mereka yang berada dalam bermacam-macam penderitaan
(2 Korintus 1:4)

Selama lebih dari tiga tahun, keluarga kami merasakan dukacita sekaligus penghiburan sejak kematian putri kami, Melissa. 

Pelayanan penghiburan itu digambarkan dalam 2 Korintus 1, di mana Paulus menulis, "Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh kemurahan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah" (ayat 3,4). 

Beberapa tahun ini, saya telah membagikan kepada pembaca Renungan Harian apa yang telah kami pelajari dari Allah dan apa yang kami pelajari tentang Dia melalui kematian Melissa. Keluarga kami telah mengalami jamahan penghiburan yang Dia berikan melalui firman dan umat-Nya. 

Ketika saya menulis tentang karya penghiburan Allah melalui tragedi ini, beratus-ratus pembaca mengirimi kami surat, e-mail, foto, nyanyian, puisi, lukisan, dan banyak lagi, untuk menyatakan simpati, kasih, dan penghargaan mereka. Allah memberikan penghiburan bagi kami, dan saya pun membagikannya. Allah memberikan penghiburan kepada orang lain, dan mereka juga membagikannya. Dalam kasih, umat Allah telah menunjukkan bagaimana pelayanan penghiburan Allah dipraktikkan. Terima kasih untuk perhatian Anda sekalian. 

Jika kita telah dihibur oleh Allah, kita pun dapat turut mengambil bagian dalam pelayanan yang mulia, yaitu menghibur orang lain --JDB

MEREKA YANG PERNAH MENDERITA
LEBIH SANGGUP MENOLONG ORANG YANG MENDERITA

Sumber: Renungan Harian

Senin, 23 Maret 2026

Sengaja Dicari Kesalahannya

Bacaan: YOHANES 7:53-8:11

Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Namun, Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. (Yohanes 8:6)

Dengan dalih memikirkan omzet perusahaan yang tidak menutup biaya operasional, seorang rekan kerja menyalahkan kinerja Doni, seorang staf pemasaran. Doni mengakui, memang omzet penjualannya menurun. Doni berusaha meningkatkan omzet dengan menambah pelanggan baru. Setelah meningkat, rekannya mencari-cari lagi kesalahannya. Katanya, percuma banyak pelanggan, kalau setiap orderan transaksinya kecil. Doni kembali berusaha, dan berhasil mendapatkan beberapa pembeli yang sekali order transaksinya besar.

Seseorang bisa tidak suka kepada kita, mencari-cari kesalahan kita dan pasti ketemu. Kita mungkin menjadi marah dan ingin membalas, tetapi mari meneladani Yesus. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi benci kepada Yesus karena menganggap Dia musuh. Mereka membawa kepada Yesus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zina dan meminta pendapat-Nya (ay. 4-5). Mereka tidak tertarik kepada kebenaran, tetapi pada pembenaran diri. Di mata mereka, wanita malang ini bukan manusia, melainkan sebuah perangkap untuk menjebak Yesus (ay. 6). Mereka tidak tertarik pada keadilan atau belas kasih, tetapi memojokkan Yesus.

Suatu ketika kita bisa berhadapan dengan orang yang tidak suka atau benci pada kita, lalu menyerang, salah satu bentuknya adalah mencari-cari kesalahan kita. Respons kita sebaiknya tetap tenang, memperbaiki diri, dan tidak perlu dendam. Mari kita bertumbuh makin baik. Jangan menjadi orang yang hanya memikirkan kesalahan orang lain tapi tidak memikirkan kesalahannya sendiri. --RTG/www.renunganharian.net

KITA SEBAIKNYA TETAP TENANG, MEMPERBAIKI DIRI, DAN TIDAK PERLU
SAKIT HATI, KETIKA SESEORANG MENCARI-CARI KESALAHAN KITA.

Minggu, 22 Maret 2026

KILASAN KASIH ALLAH

Bacaan: Yohanes 9:24-34

Tetapi siapa saja yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan (2 Korintus 10:17)

Nadine menderita kanker stadium akhir ketika saya bertemu dengannya. Dokter mengatakan bahwa kemoterapi tidak banyak membantu lagi. Nadine adalah seorang kristiani yang taat dan memiliki kedamaian yang luar biasa dari Allah. Ia menghabiskan minggu-minggu terakhirnya dengan membuat kliping untuk anak perempuannya dan membuat rencana upacara pemakamannya. 

Jiwa Nadine yang penuh sukacita seakan-akan mengundang kami untuk selalu berada di dekatnya, dan orang-orang senang menghabiskan waktu bersamanya. Ia tetap memiliki selera humor dan selalu membagikan kesaksian bagaimana Tuhan memenuhi kebutuhannya. Ia menunjukkan kilasan karakter Allah yang penuh kasih kepada setiap orang di sekelilingnya. 

Ketika seorang pria yang lahir buta disembuhkan Yesus, ia pun mendapat kesempatan menyaksikan kilasan tentang siapa Allah (Yohanes 9:1-41). Para tetangga bertanya, "Bagaimana matamu menjadi melek?" (ayat 10). Ia pun menceritakan Yesus kepada mereka. Ketika orang Farisi menanyai dia, ia menceritakan bagaimana Yesus telah mencelikkan matanya, sambil menegaskan, "Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa" (ayat 33). 

Kita mungkin bertanya-tanya bagaimana kita dapat memberi kesaksian tentang Allah. Allah dapat terlihat jelas melalui cara kita menangani kesulitan hidup, seperti masalah pekerjaan atau keluarga, atau mungkin penyakit parah. Kita tetap dapat menyaksikan kepada orang lain bagaimana Allah telah menghibur kita dan biarlah mereka pun tahu bahwa Allah juga memedulikan mereka. 

Di hidup Anda, siapa yang perlu melihat kasih Allah? --AMC

ANDA DAPAT MENJADI KILASAN KASIH ALLAH BAGI HIDUP SESEORANG

Sumber: Renungan Harian

Sabtu, 21 Maret 2026

Rasa Takut yang Merugikan

Mazmur 46: 1-3 
“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.” 
 
Jika Anda bisa membuat daftar rasa takut yang pernah Anda hadapi dalam hidup, kira-kira apa saja itu? Waktu kecil, rata-rata dari kita mungkin takut dengan gelap atau takut bertemu orang asing dengan muka yang aneh. Lalu setelah beranjak dewasa, rasa takut kita mulai berubah kepada sesuatu yang belum terjadi—seperti takut tidak lulus ujian, takut tidak dapat jodoh, takut menikah, takut kepada bos, atau mungkin takut menjadi orang yang dianggap gagal. 

Ya, semua orang pasti merasakan tingkatan rasa takut yang berbeda. Faktanya, ini bukan saja kita alami sebagai pribadi, tetapi rasa takut juga bisa menyerang gereja, korporasi, lembaga, sampai level pemimpin negara. Waktu kita merespons sebuah keadaan dengan rasa takut, maka akan muncul kepanikan destruktif yang bukan saja merugikan diri kita sendiri, tetapi juga orang lain. Salah satu akibatnya bisa kita lihat dari gejolak perang antarnegara yang saat ini terjadi. 

Tahukah Anda apa yang menjadi pemicunya? Rasa takut terhadap kekuatan bangsa lain. Untuk menghadapi ketakutan tersebut, pemimpin sebuah negara sering kali mengambil tindakan agresif yang memicu perang. Akibatnya, keputusan ini merenggut banyak nyawa dan mengganggu kestabilan dunia. Perang yang ditabuh karena rasa takut kini berubah menjadi goncangan global yang membuat semua negara menjadi gusar. 

Tetapi pagi ini, kita mau belajar dari Mazmur 46 tentang bagaimana seharusnya kita merespons rasa takut. Bagian perikop ini adalah ayat pujian pemazmur yang menggambarkan bahwa "Tuhan adalah sumber perlindungan di tengah keadaan yang bergoncang—baik oleh bencana alam maupun perubahan yang melambangkan gejolak dunia." Di tengah ancaman itu, pemazmur menegaskan bahwa "Tuhan adalah tempat perlindungan dan penolong." Sehingga apa pun yang menjadi ketakutan kita, kita tahu kepada siapa harus mengadu.  

Saat ini, kita mungkin sedang berada di posisi yang sama—menjadikan rasa takut sebagai katalisator utama penyebab terjadinya konflik dengan diri sendiri maupun orang lain. Akibatnya, kita bukannya menjadi lebih tenang malahan semakin merasa gusar. Inilah akibat yang harus kita tanggung kalau kita tidak mencari sumber pertolongan yang tepat. 

Bulan ini adalah masa Pra-Paskah, momen bagi kita untuk mengalami pertobatan. Inilah waktu yang tepat untuk bertobat dari rasa takut apa pun yang sedang kita hadapi. Kita dipanggil mencari Tuhan sebagai tempat perlindungan melalui doa, puasa, maupun merenungkan kembali Firman-Nya. Tuhan tidak akan membiarkan kuasa sebesar apa pun mengalahkan kita jika kita meminta Dia ada di pihak kita (Roma 8:31).  

Saudara, tindakan yang didorong rasa takut sering kali membawa kehancuran, sementara mengandalkan Tuhan mendatangkan ketenangan. 
   
Sumber: Jawaban.com

Jumat, 20 Maret 2026

Kemurahan Hati yang Menyegarkan

Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. –Amsal 11:25

Ayat Bacaan & Wawasan :
Amsal 11:24-31

Dalam auditorium Sekolah Kedokteran Albert Einstein, para mahasiswa berkumpul untuk menyimak dengan penuh perhatian pidato seorang wanita berusia 90 tahun bernama Ruth Gottesman. Di akhir pidatonya, Ruth mengumumkan sesuatu yang mengejutkan—ia akan menyumbangkan 1 miliar dolar AS agar para mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan tanpa harus membayar biaya kuliah. Kabar tersebut disambut sorakan dan ekspresi tak percaya dari seluruh hadirin. Donasi itu menjadi yang terbesar sepanjang sejarah sekolah kedokteran. Namun, dalam berbagai wawancara setelah momen itu, Ruth berbicara seolah-olah dirinya yang menerima anugerah. Ia merasa begitu bersyukur, bersukacita, dan terhormat karena dapat membagikan kekayaannya.

Kitab Amsal mengajarkan bahwa demikianlah cara kerja kemurahan hati. Orang yang “menyebar harta” tidak merasa kehilangan atau kekurangan, tetapi justru menerima berkat yang tak terduga (11:24). Ketika kita bermurah hati dengan memberi kepada orang lain, alih-alih berkurang, kita justru memperoleh lebih banyak. “Siapa memberi minum,” kata Kitab Suci, “ia sendiri akan diberi minum” (ay. 25). Kita sering tergoda untuk menggenggam erat-erat apa yang kita miliki karena takut dimanfaatkan atau khawatir akan berkekurangan. Namun, cara kerja Allah memang berbeda. Yesus bahkan mengajarkan bahwa “adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kis. 20:35).

Kita dapat menunjukkan kemurahan hati dengan hidup dan harta benda kita, dengan membagikan apa yang kita miliki kepada mereka yang membutuhkan. Kita akan menyadari bahwa sebagai balasannya, kita sendirilah yang diberkati. Semua orang mendapat bagian dalam kelimpahan Kerajaan Allah.

Oleh: Winn Collier

Renungkan dan Doakan
Bagaimana tindakan memberi kepada orang lain telah memberkati hidup Anda sendiri? Dalam hal apa Allah sedang meminta Anda untuk lebih bermurah hati?

Ya Allah, tolonglah aku untuk bermurah hati seperti Engkau, dan percaya bahwa Engkau akan mencukupkan segala kebutuhanku.

Sumber: Our Daily Bread

Kamis, 19 Maret 2026

TETAP BERDOA

Bacaan: Lukas 11:5-13

Setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan
(Lukas 11:10)

Kami berdoa. Terkadang dalam suasana hening. Terkadang dengan bersuara. Kami berdoa selama lebih dari 17 tahun. Kami berdoa memohon kesehatan dan bimbingan bagi putri kami, Melissa, untuk keselamatannya, dan kerap kali supaya ia selalu dilindungi. Saat mendoakan anak-anak kami yang lain, kami meminta Allah memelihara Melissa. 

Ketika Melissa beranjak remaja, kami bahkan lebih tekun berdoa agar Dia melindunginya dari segala yang jahat, agar Dia mengawasi tatkala Melissa dan teman-temannya pergi mengendarai mobil. Kami berdoa, "Ya Allah, lindungilah Melissa." 

Lalu apa yang terjadi? Tidakkah Allah memahami betapa menyakitkan kehilangan gadis cantik yang memiliki banyak potensi untuk melayani Dia dan sesama? Tidakkah Allah melihat mobil lain yang melintas pada malam musim semi yang hangat itu? 

Kami telah berdoa, tetapi Melissa tetap meninggal dunia. 

Bagaimana sekarang? Apakah kami berhenti berdoa? Apakah kami marah kepada Allah? Apakah kami berusaha dengan kekuatan kami sendiri? 

Tentu tidak! Saat ini justru doa menjadi lebih penting bagi kami. Allah -- Tuhan Yang Mahakuasa dan yang melampaui pemahaman kami -- masih memegang kendali. Perintah-Nya supaya kami berdoa masih berlaku. Kerinduan-Nya untuk mendengarkan kami masih nyata. Iman bukanlah menuntut apa yang kami inginkan; melainkan memercayai kebaikan Allah di balik tragedi hidup. 

Kami berduka. Kami berdoa. Kami tetap berdoa --JDB 

Aku tidak mempertanyakan sarana atau cara Allah, 
Atau bagaimana Dia memakai waktu atau masa, 
Untuk menjawab setiap seruan atau doa -- 
Aku tahu, entah bagaimana, Dia pasti menjawabnya. --Whitney

ALLAH DAPAT MENGABAIKAN PERMINTAAN KITA TETAPI DIA TIDAK AKAN PERNAH MENGECEWAKAN KEYAKINAN KITA

Sumber: Renungan Harian

Rabu, 18 Maret 2026

Jangan Terobsesi Milik Sesama

Baccan: Keluaran 20:10-17

Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu.” - Keluaran 20:17

Hari ini kita merenungkan tentang Perintah Allah yang kesepuluh, yakni jangan mengingini milik sesama. Jika sembilan perintah sebelumnya berbicara mengenai dosa atas suatu tindakan, seperti jangan membunuh, berzinah, mencuri, dan yang lainnya, maka perintah kesepuluh berbicara soal keinginan. Keinginan ada pada wilayah yang berbeda dengan tindakan atau perbuatan. Keinginan muncul dari dalam hati manusia sehingga sulit untuk diukur. Pelanggaran ini hanya bisa diketahui oleh diri sendiri dan oleh Tuhan saja.

Apa maksud Allah memberikan perintah kesepuluh ini? Sebelumnya, kita perlu mengetahui dua hal: Pertama, apa yang dimaksud mengingini? Kedua, apa objek yang diinginkan? Kata “mengingini” yang dipakai dalam ayat emas bukanlah menggambarkan keinginan biasa. Kata “mengingini” di sini lebih tepat diterjemahkan sebagai obsesi, yakni hasrat mendalam yang amat kuat menguasai hati, pikiran, dan perasaan seseorang sehingga membuatnya rela melakukan apa pun demi mendapatkan obsesinya.

Sementara yang menjadi objek obsesi bukanlah benda biasa, melainkan spesifik milik orang lain. Jika diterjemahkan dalam bahasa sehari-hari, kita dapat membaca perintah ini demikian: Jangan kamu terobsesi atas milik sesamamu. Kenapa tidak boleh? Pertama, obsesi hanya akan menjadi pintu masuk bagi dosa lain dalam kehidupan kita. Ahab terobsesi dengan kebun milik Nabot (1Raj. 21:1-16). Sekalipun Ahab adalah seorang raja, ia tidak berhasil membeli kebun tersebut. Akibatnya, ia memilih membunuh Nabot agar mendapatkan kebun tersebut karena obsesinya. Kedua, obsesi terhadap milik orang lain hanya membawa diri kepada derita tiada akhir. Sebagaimana pepatah berbunyi: rumput tetangga selalu lebih hijau, bahkan seorang raja yang punya harta, takhta, dan nama pun tidak bisa lepas dari obsesi yang salah.

Satu hal yang dapat melepas kita dari obsesi, yaitu rasa syukur. Banyak orang mengira Allah membutuhkan pujian dari kita sehingga Dia membuat perintah untuk bersyukur. Ternyata yang lebih membutuhkan rasa syukur adalah kita sebagai manusia, agar kita senantiasa mengingat bahwa terobsesi dengan berkat dan milik orang lain hanya akan membawa pada dosa dan derita. Kebebasan sejati kita peroleh dari rasa syukur atas apa yang Allah telah anugerahkan.

Refleksi Diri:

Apa yang mungkin menjadi obsesi Anda saat ini? Hati-hati jika obsesi menyangkut barang milik orang lain, sebaiknya mawas diri.

Apa saja hal-hal yang Tuhan sudah berikan dalam hidup Anda saat ini? Apakah Anda sudah bersyukur atas pemberian tersebut?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Selasa, 17 Maret 2026

Gagal Mengenali Allah

Ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. –Yesaya 53:3

Ayat Bacaan & Wawasan :
Yesaya 53:1-6

Banyak orang menjauhi George Chase. George tinggal di sebuah pondok kecil berukuran 13 meter persegi di tengah hutan yang terletak pada pertemuan Sungai Pawcatuck dan Teluk Little Narragansett, New England. Penduduk setempat tahu bahwa George tidak memiliki bak mandi—fakta yang terbukti dari aroma tubuhnya.

Namun, segalanya berubah saat badai besar dari Samudra Atlantik menerjang pesisir itu pada tahun 1938, menghancurkan rumah-rumah indah di sepanjang pantai. Orang-orang yang selamat berusaha menjauhi teluk dan mencari tempat aman. Sebelas orang dari mereka, dalam keadaan basah dan menggigil, menemukan tempat yang mereka cari pada pondok milik George. Ia menyambut mereka dengan apa yang ia punya: air, susu, teh jahe, dan kehangatan. Setelah badai reda, pandangan masyarakat terhadap George berubah total.

Alangkah menyedihkannya apabila kita menilai orang hanya dari penampilan luar, sesuatu yang sayangnya sering kita lakukan. Kita bahkan memperlakukan Yesus seperti itu—membayangkan Dia tampan dan mengesankan seperti yang tampak dalam lukisan-lukisan lama. Namun, Nabi Yesaya berkata tentang Sang Mesias: “Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia . . . ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan” (Yes. 53:2-3). Meski demikian, Dia telah memberikan kepada kita semua yang ada pada diri-Nya. “Sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya” (ay. 4). Dia menyerahkan hidup-Nya supaya kita beroleh hidup.

Sungguh tragis apabila kita gagal mengenali sisi kemanusiaan orang lain hanya karena penampilan mereka. Lebih tragis lagi jika kita gagal mengenali keilahian dalam diri Yesus yang tidak kita perhitungkan!

Oleh:  Tim Gustafson

Renungkan dan Doakan
Bagaimana Anda dapat melihat lebih dalam dari penampilan dan menyadari sisi kemanusiaan orang lain? Saat membayangkan Yesus, gambaran apa yang muncul dalam benak Anda?

Tuhan Yesus, ajarlah aku untuk melihat setiap orang sebagai sesama yang Engkau ciptakan segambar dengan-Mu.

Sumber: Our Daily Bread

Senin, 16 Maret 2026

AGAMA BARU

Bacaan: Pengkhotbah 2:1-11

Waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu (Lukas 12:15)

Ketika berkendara menuju Irlandia untuk menghadiri konferensi Alkitab, saya melihat papan reklame yang menarik. Papan yang besar dan berwarna putih itu tidak memuat gambar apa pun selain sepatu wanita berwarna merah dengan kalimat yang ditulis tebal: "Apakah Belanja Telah Menjadi Agama Baru?" 

Pemenuhan keinginan untuk memiliki sesuatu terus menjadi motivasi terkuat yang dapat dialami manusia. Namun, bisakah barang-barang yang kita miliki membuat kita merasakan kepuasan sejati? 

Dalam Lukas 12:15, Yesus menjawab pertanyaan itu dengan tegas dan tanpa kompromi, "Tidak!" Selama membicarakan harta duniawi, Dia berkata, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu." Hidup seharusnya memiliki makna lebih jika dibandingkan setumpuk benda yang kita miliki. 

Raja Salomo juga pernah tergoda untuk mencari kepuasan dalam mengumpulkan harta benda. Namun ia mendapati bahwa semua itu sia-sia (Pkh. 2:1-17). Bila kita menempatkan "harta berlimpah" sebagai pusat hidup kita, maka kegemaran kita berbelanja bisa jadi telah menggantikan Allah -- dan menjadi agama baru. Namun, hal-hal seperti ini pasti akan berakhir dengan kesia-siaan. 

Daud berdoa, "Engkau yang membuka tangan-Mu dan yang berkenan mengenyangkan segala yang hidup" (Mzm. 145:16). Hanya Allah yang sanggup memberi kepuasan sejati dalam hidup ini --WEC 

Ya Tuhan, bantu dan ajarlah kami 
Berpuas atas segala yang kami miliki, 
Dan kiranya hati kami melimpah 
Dengan rasa syukur yang tercurah. --Sper

ANDA MENJADI KAYA SAAT ANDA MERASA PUAS DENGAN APA YANG TELAH ANDA MILIKI

Sumber: Renungan Harian

Minggu, 15 Maret 2026

KEBIASAAN YANG PENUH ANUGERAH

Bacaan:
1 Korintus 9:24-27

Aku melatih tubuhku dan menguasainya (1 Korintus 9:27)

Seorang pria bepergian di Kanada pada suatu musim semi ketika es dan salju yang meleleh membuatnya hampir tak mungkin mengendarai mobil lebih jauh. Ia sampai pada persimpangan jalan dan melihat tanda bertuliskan, "Hati-hati dalam memilih jejak roda. Anda akan berada di jalur itu sejauh 40 km." Itu adalah sebuah peringatan bijak untuk kita semua dan tidak hanya berlaku saat kita mengemudi di jalan yang sulit. 

Setiap kita sampai di persimpangan jalan kehidupan, pilihan apa yang kita buat? Dengan kata lain, arah mana yang akan dituju dan kebiasaan apa "jejak" kebiasaan mana yang akan kita buat? 

Kebiasaan adalah pola yang kita ikuti secara konsisten. Sambil berdoa, kita perlu memutuskan kebiasaan yang akan kita ambil. Akankah kebiasaan kita itu sekadar jejak rutinitas? Atau akankah kebiasaan itu menjadi "kebiasaan yang penuh anugerah"? 

Paulus mengandaikan perjalanan hidupnya seperti sebuah perlombaan. Ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk tetap tinggal dalam perlombaan adalah dengan "melatih tubuh[nya] dan menguasainya" (1 Korintus 9:27). Itu berarti membentuk suatu pola kebiasaan rohani yang konsisten. 

Kebiasaan untuk menjaga tubuh tetap sehat itu penting, tetapi disiplin rohani jauh lebih penting. Apakah kita memilih untuk mengembangkan kebiasaan doa, membaca Alkitab, dan melakukan perbuatan baik secara konsisten? 

Kebiasaan adalah "jejak roda" yang rutin. Namun, disiplin rohani yang baik dapat mengubah "jejak roda" kita itu menjadi kebiasaan yang penuh anugerah --VCG

PADA MULANYA KITA MEMBENTUK KEBIASAAN TETAPI AKHIRNYA KEBIASAANLAH YANG MEMBENTUK KITA

Sumber: Renungan Harian

Sabtu, 14 Maret 2026

Berdalih Sungkan

Bacaan: YEHEZKIEL 3:16-21

"Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan ia berbuat curang, dan Aku meletakkan batu sandungan di hadapannya, ia akan mati. Apabila engkau tidak memperingatkan dia, ia akan mati dalam dosanya dan perbuatan-perbuatan benar yang dilakukannya tidak (Yehezkiel 3:20)

Mendapat teguran dari salah satu murid Sekolah Minggu, itulah yang saya alami saat mengajar. Saya berterima kasih karena murid ini tidak sungkan menegur, membuat saya sadar dan berubah. Di kesempatan berbeda, saya tahu seorang pendeta melakukan satu kejahatan. Saya diam dengan dalih sungkan. Saya merasa pendeta ini tahu banyak firman Tuhan, biarlah orang lain saja yang menegur, saya merasa tidak sopan kalau menegur dosanya.

Sungkan adalah campuran dari rasa segan, enggan, malu, dan hormat. Sebagai bagian dari sopan santun, bagus kalau kita sungkan. Namun, jangan jadikan sungkan sebagai dalih kita tidak memperingatkan dosa saudara seiman, bahkan pemimpin rohani kita sekali pun, karena dia pun manusia sama seperti kita yang bisa jatuh dalam dosa. Yehezkiel dipanggil Tuhan sebagai penjaga Israel. Salah satu tugasnya adalah Yehezkiel harus memperingatkan orang Israel yang berbuat jahat (ay. 17). Jika Yehezkiel sudah memperingatkan orang jahat itu, dan dia tidak berbalik dari kejahatannya, Yehezkiel menyelamatkan dirinya sendiri. Sebaliknya, kalau Yehezkiel tidak mau memperingatkannya, lalu orang itu mati dalam dosanya, Tuhan menuntut pertanggungjawaban nyawa orang itu dari Yehezkiel (ay. 19-20).

Pada praktiknya tidak mudah menegur dosa seseorang, tetapi mari lakukan apa yang Tuhan perintahkan. Tegurlah dengan penuh kasih tanpa mempermalukan dia di depan umum. Jangan sungkan menegur dosa orang yang kita kasihi agar dia sadar dan bertobat, serta tidak celaka karena dosanya. --RTG/www.renunganharian.net

MEMPERINGATKAN ORANG YANG BERBUAT DOSA BUKANLAH JAHAT, 
MELAINKAN KEHARUSAN AGAR ORANG ITU SADAR DAN BERTOBAT.

Jumat, 13 Maret 2026

Mengingat untuk Melupakan

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku? . . . Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! –Mazmur 42:6

Ayat Bacaan & Wawasan :
Mazmur 42:1-8

Penulis Richard Mouw menceritakan tentang seorang teolog berkulit hitam dari Afrika Selatan yang bergumul dengan kenangan kelam dari masa hidupnya di bawah politik rasialisme apartheid. Mouw menulis, “Ia mengutip kisah seorang anak Afrika yang ditanya oleh gurunya tentang arti kata ‘memori.’ Setelah berpikir sejenak, anak itu menjawab, ‘Memori adalah sesuatu yang membantu saya untuk melupakan.’” Jawaban yang luar biasa dari seorang gadis kecil! Karena masa lalunya begitu menyakitkan, ia hanya ingin mengingat hal-hal yang baik.

Banyak orang menyimpan luka batin dari masa lalu yang sulit untuk dilupakan. Namun, pandangan anak tadi menawarkan harapan: Jika kita memilih untuk mengingat hal-hal yang baik, segala kenangan itu bisa menjadi kekuatan yang mendorong kita melangkah meninggalkan masa lalu yang buruk. Dalam Mazmur 42, sang pemazmur merasa seperti seekor rusa yang berlari menyelamatkan diri. Namun, ia juga berkata, “Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah-gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan” (ay. 5).

Kenangan akan penyembahan kepada Allah mendorong sang pemazmur untuk tetap memuji-Nya, bahkan di tengah penderitaan. Ia berkata, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (ay. 6). Ketika kita mengingat siapa Allah kita dan bahwa kita ini milik-Nya, kita akan dimampukan untuk melangkah maju, melewati kepedihan masa lalu yang masih membekas.

Oleh: Bill Crowder

Renungkan dan Doakan
Apa saja kenangan kelam tentang pergumulan dan penderitaan yang masih membayangi Anda? Bagaimana Anda mengizinkan Allah, sumber segala pengharapan, menolong Anda melewatinya?

Ya Bapa, Engkau tahu seluruh luka batin, derita, kemarahan, dan kesedihanku. Lingkupi aku dengan kebaikan dan belas kasih-Mu, sembuhkanlah aku dari luka lama yang masih membekas.

Sumber: Our Daily Bread

Kamis, 12 Maret 2026

Saya, Saya, Dan Saya!

Bacaan: Filipi 2:1-11

Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga - Filipi 2:4

Anda mungkin pernah mendengar seseorang berkomentar, “Coba lihat, dia begitu egois, sangat selfish, hanya mementingkan diri sendiri!” Memang sifat dasar manusia adalah ingin memenuhi apa yang menjadi kebutuhan mereka. Ini merupakan sifat alamiah dan melekat sebagai natur manusia yang mencintai diri sendiri.

Manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa pasti memiliki kecenderungan untuk memprioritaskan diri menjadi yang utama. Kita sering sekali menemukan masalah mementingkan diri, baik dalam relasi pernikahan dan keluarga, pekerjaan, organisasi ataupun sosial yang lebih luas, padahal prinsip firman Tuhan yang diajarkan dalam kehidupan sebagai seorang Kristen tidaklah demikian.

Filipi 2 secara keseluruhan berbicara mengenai Kristus sebagai teladan kerendahan hati. Namun, pada bagian ini terlihat jelas bahwa jemaat Filipi menghadapi beberapa masalah kehidupan berjemaat, seperti sesama orang percaya saling tidak akur dan terjadi perpecahan antar anggota jemaat. Terdapat banyak ambisi pribadi dan mengutamakan kepentingan sendiri. Segala sesuatu berpusat pada pemenuhan keinginan diri sendiri.

Rasul Paulus jelas hendak menyampaikan pesan bahwa di dalam Kristus kita seharusnya tidak mencari kepentingan sendiri, melainkan menganggap orang lain lebih utama daripada diri sendiri. Paulus memperhatikan dan menganggap hal ini serius sehingga menasihati jemaat Filipi untuk bersatu dan bersikap rendah hati sama seperti Kristus. Ia memberikan jawaban spiritual yang menolong kita melihat kehidupan orang lain dan bukan hanya kepentingan diri sendiri. Inilah salah satu kualitas yang seharusnya dimiliki oleh seorang Kristen. Pengambaran Paulus, langsung merujuk kepada Yesus Kristus yang mau mengosongkan diri-Nya dan tidak menganggap kesetaraan dengan Allah adalah milik yang harus dipertahankan (ay. 6-7). Analogi ini sungguh sangat indah, Yesus benar-benar tidak mementingkan kepentingan diri-Nya, tetapi berbelas kasih kepada manusia. Cinta kasih Tuhan Yesus merupakan contoh agung dan sepatutnyalah orang percaya mengikuti teladan-Nya.

Mari utamakan kepentingan orang lain dibanding kepentingan diri sendiri. Terapkan kerendahan hati. Contohnya, dalam relasi suami-istri terkadang salah satu pasangan perlu mengalah, mendahulukan kepentingan pasangan yang lain. Ada pengorbanan yang perlu dilakukan untuk kebahagian pasangan kita atau orang yang kita kasihi. Jangan mengutamakan saya, saya, dan saya, melainkan dahulukan kepentingan dia, kamu, dan kita semua.

Refleksi Diri:

Apakah selama ini Anda terus-menerus hanya memikirkan dan memprioritaskan kepentingan diri sendiri?

Bagaimana Anda melatih kerendahan hati dalam melihat kebutuhan orang lain dan tidak hanya mementingkan kepentingan diri sendiri?

Sumber: Our Daily Bread

Rabu, 11 Maret 2026

Keterampilan yang Membangun Relasi

Bacaan Hari ini:
Roma 15:2 "Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya"

Mendengarkan adalah salah satu keterampilan terpenting dalam membangun persahabatan dan relasi yang sehat. Anda tidak dapat sungguh-sungguh mengasihi seseorang tanpa bersedia mendengarkannya.

Namun, banyak orang mengalami masalah dalam relasi karena mengira bahwa mendengar dan mendengarkan adalah hal yang sama. Padahal keduanya berbeda. Anda bisa saja mendengar kata-kata seseorang, tetapi tidak benar-benar mendengarkan isi hatinya.

Sering kali pertengkaran terjadi bukan karena kata-kata yang diucapkan, melainkan karena perasaan yang tidak dipahami. Seseorang mungkin berkata, "Saya baik-baik saja," tetapi nada suaranya menunjukkan sebaliknya. Mendengarkan yang sejati berarti menangkap bukan hanya kata-kata, tetapi juga emosi yang tersembunyi di baliknya.

Mendengarkan seperti ini disebut empati. Empati berarti berusaha menempatkan diri pada posisi orang lain dan melihat keadaan dari sudut pandangnya. Anda bertanya dalam hati, "Bagaimana perasaan saya jika berada dalam situasi itu?"

Mendengarkan dengan empati berarti:
- Tidak memotong pembicaraan.
- Tidak langsung memberi nasihat.
- Tidak buru-buru memperbaiki keadaan.
- Memberi perhatian penuh tanpa gangguan.

Roma 15:2 mengajarkan bahwa kita perlu menanggung beban orang lain—termasuk keraguan dan ketakutan mereka. Artinya, ketika seseorang sedang begitu terluka hingga bingung dengan apa yang ia rasakan atau percayai, ia membutuhkan seorang sahabat yang setia. Ia membutuhkan seseorang yang mau hadir dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
Maukah Anda menjadi sahabat seperti itu hari ini?

Renungkan :
- Bagaimana bahasa tubuh Anda menunjukkan bahwa Anda sungguh-sungguh mendengarkan?
- Apa manfaatnya bertanya, “Bagaimana jika saya berada dalam situasi itu?”
- Langkah apa yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi gangguan saat seseorang berbicara kepada Anda?

Sering kali, penyembuhan terjadi bukan karena solusi yang diberikan, melainkan karena seseorang merasa didengarkan.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Selasa, 10 Maret 2026

DARI DALAM KE LUAR

Bacaan: Efesus 4:25-32

Kata-Nya lagi, "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya" (Markus 7:20)

Ketika sedang menyampaikan khotbah, misionaris Hudson Taylor mengisi sebuah gelas dengan air dan meletakkannya di atas meja di depannya. Sewaktu berbicara, ia memukulkan tinjunya cukup keras sehingga air terpercik ke meja. Lalu ia menjelaskan, "Anda akan menghadapi masalah besar. Tetapi apabila Anda mengalaminya, ingatlah, hanya apa yang ada di dalam diri Andalah yang akan tercurah keluar." 

Hal itu layak untuk dipikirkan, bukan? Ketika kita diperlakukan tidak baik atau disalah mengerti, bagaimana tanggapan kita? Apakah kita menanggapinya dengan perkataan yang menyenangkan, kesabaran, dan kebaikan? Atau kita cenderung membalas dengan marah? 

Dalam Efesus 4:25-32, kita melihat perbedaan antara bagaimana seseorang sebelum diselamatkan dan sesudah diselamatkan. Apabila kita hidup di bawah kendali Roh Kudus, hal itu akan terlihat pada cara kita bereaksi terhadap guncangan pencobaan dan godaan dalam hidup. Bagaimana kita menanggapi pencobaan, situasi yang memalukan yang tiba-tiba melanda kita adalah sebuah ujian yang baik mengenai seberapa banyak kita telah bertumbuh dalam kasih karunia. 

Menekan rasa frustrasi dan amarah, serta tampil tenang di hadapan orang-orang di sekitar kita bukan hal yang mustahil dilakukan. Namun, jika hati kita dipenuhi kasih Sang Juru Selamat, kita akan menanggapi guncangan pencobaan yang tak terduga dengan kesabaran dan kebaikan hati yang murni. Seperti sebuah gelas yang penuh dengan air, apa yang ada di dalam diri kitalah yang akan tumpah keluar --RWD

KETIKA MASALAH SEMAKIN BESAR
KARAKTER ANDA YANG SEBENARNYA AKAN TERLIHAT

Sumber: Renungan Harian

Senin, 09 Maret 2026

DIAMLAH DAN KETAHUILAH

Bacaan: Mazmur 46:2-12

Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!
(Mazmur 46:11)

Pada bulan Februari 1946, komputer elektronik pertama di dunia untuk berbagai keperluan diperkenalkan di University of Pennsylvania. Komputer itu, The Electronic Numerical Integrator and Computer (ENIAC), memenuhi ruangan seluas 9,2 x 15,3 m, berbobot 50 ton, dan setiap detiknya memakan listrik sebanyak yang digunakan untuk rumah tangga pada umumnya selama seminggu. Padahal kini kalkulator saku pun mempunyai daya komputasi lebih daripada yang bisa dilakukan ENIAC pada waktu itu. 

Satu dekade yang lalu, seorang pengamat mencatat bahwa komputer dan perangkat berteknologi tinggi lainnya telah "menyusup di antara kita tanpa kita sadari". Kemudian ia berbicara mengenai betapa indahnya bila kita pergi ke tempat yang bebas dari komputer, telepon, atau radio, atau pergi ke pantai dan mendengarkan ombak di laut. 

Ketenangan yang tidak terusik kini menjadi lebih sukar dicari. Oleh karena itu, hal tersebut kini lebih penting untuk dicari. Tuhan Allah berkata, "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" (Mazmur 46:11). 

Beristirahat dari kegiatan memungkinkan kita untuk memusatkan pikiran-pikiran pada keagungan Allah. Hati yang tenang memungkinkan kita mendengarkan Dia. Menjauhkan diri dari pesan suara dan surat elektronik dapat membuat kita beralih dari jadwal harian ke dalam rencana kekal-Nya. 

Dalam dunia kita yang bergerak serbacepat, kita perlu tenang dan menyadari bahwa Allah berkuasa --DCM

MELUANGKAN WAKTU TEDUH DENGAN ALLAH AKAN MENCIPTAKAN ISTIRAHAT YANG TENANG DARI ALLAH

Sumber: Renungan Harian

Minggu, 08 Maret 2026

Buang, Bukan Pendam

Bacaan: EFESUS 4:25-32

Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, kegaduhan, dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. (Efesus 4:31)

Bayangkan, kita hidup di kota yang penuh keramaian, persaingan, dan tekanan emosi. Nah, seperti itulah lingkungan hidup jemaat Efesus di zaman Paulus. Mereka harus menghadapi tantangan ekonomi dan budaya, juga kehidupan rohani yang menyesatkan. Dalam situasi demikian, gejolak aneka emosi negatif rentan menyelinap dan mengemudikan hidup mereka. Maka, Paulus-melalui sapaan yang penuh kasih dan wawasan bijaksana-mengajak mereka (dan kita) untuk menapaki hidup secara berbeda.

"Buang ...!" Itulah ajakan Paulus dalam Efesus 4:31. Bukan sekadar "kurangi" atau "pendam", melainkan "buang". Ini seperti membuang dan membersihkan kotoran yang menempel di badan. Sebab, kepahitan, kegeraman, kemarahan, kegaduhan, dan fitnah jelas merusak relasi. Lantas, itu semua secara perlahan tapi pasti, akan menggerogoti jiwa kita-melalui luka batin yang belum sembuh atau rasa kecewa.

Karena itu, Paulus tak berhenti pada ajakan, "Buang!" Ia juga menawarkan tindak lanjut konkret, gantilah semuanya itu dengan keramahan, kasih, dan pengampunan (ay. 32). Ini bukan nasihat moral biasa, melainkan panggilan untuk hidup dalam kasih Kristus. Kita diundang untuk hidup penuh damai, bukan sebagai tawanan dari masa lalu, tetapi sebagai pribadi baru yang dipulihkan oleh kasih karunia Allah.

Maka, mari kita memeriksa diri, masih adakah gejolak aneka emosi negatif di ruang batin kita? Tuhan menghendaki agar kita membuangnya-sehingga merasa lega, mampu mengasihi sesama, dan hidup lebih damai. --SAP/www.renunganharian.net

KEPAHITAN ITU IBARAT KANKER. IA MENGGEROGOTI INANGNYA.
SEDANGKAN AMARAH ITU IBARAT API. IA MEMBAKAR HABIS SEMUANYA.-MAYA ANGELOU

Sabtu, 07 Maret 2026

Diperlukan Kerendahan Hati

Yakub sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu. –Kejadian 33:3

Ayat Bacaan & Wawasan :
Kejadian 33:1-10

Sepupu-sepupu saya tinggal hanya tiga kilometer dari rumah keluarga kami, tetapi mereka dilarang berinteraksi dengan kami. Mereka tidak pernah datang berkumpul bersama kami atau menyapa kami kalau bertemu di tempat perbelanjaan. Orang tua mereka berkata bahwa karena kami tidak beribadah di gereja pada waktu itu, kami dianggap memberi pengaruh buruk. Jadi, sungguh mengejutkan ketika bertahun-tahun kemudian salah seorang sepupu saya datang ke pemakaman kakak tertua saya, lalu menghampiri kami satu per satu dan dengan rendah hati meminta maaf atas sikap mereka. Hubungan kami pun mulai dipulihkan.

Yakub juga memerlukan kerendahan hati untuk memulihkan hubungan dengan saudara kembarnya, Esau. Sebagai adik, Yakub telah berlaku licik terhadap Esau, mencuri hak kesulungannya (Kej. 25:19-34), dan menipu ayah mereka yang sudah tua demi mendapatkan berkat kesulungan (Kej. 26:34–27:41). Esau marah dan berniat membunuhnya, sehingga Yakub melarikan diri ke negeri lain.

Bertahun-tahun kemudian, Yakub ingin pulang, tetapi ia takut perpecahan dengan saudaranya itu tak akan selesai tanpa pertumpahan darah (32:6-8). Saat akhirnya mereka bertemu, Yakub “sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu” (33:3). Ia takut Esau akan membunuhnya, tetapi Esau justru berlari dan memeluknya (ay. 4).

Baik kita yang menyakiti atau yang disakiti, pemulihan hubungan yang retak memerlukan kerendahan hati, keterbukaan, dan sering kali banyak usaha. Namun, Allah sanggup dan akan menolong kita.

Oleh:  Anne Cetas

Renungkan dan Doakan
Adakah hubungan dalam hidup Anda yang perlu dipulihkan? Langkah apa yang dapat Anda ambil untuk memulai proses pemulihan itu?

Bapa, jangan biarkan hatiku dipenuhi dendam atau kepahitan. Tolonglah aku untuk belajar mengampuni orang lain dan juga memohon pengampunan dari mereka.

Sumber: Our Daily Bread

Jumat, 06 Maret 2026

PATUNG POLISI

Bacaan: Yohanes 14:15-24

Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku
(Yoh. 14:15)

Selama beberapa tahun, keluarga kami tinggal di Kalifornia sebelah selatan, ketika saya melayani di sebuah gereja yang ada di sana. Lingkungan tempat tinggal kami tidak memiliki polisi yang cukup untuk terus mengawasi lalu lintas. Maka, sungguh memprihatinkan bila keselamatan di situ kurang terjamin, khususnya karena pengemudi yang sembrono. 

Untuk menanggapi keadaan ini, para pejabat kota menyampaikan sebuah solusi yang mereka sebut Patung Polisi. Maneken berseragam ini ditempatkan di mobil-mobil patroli sepanjang jalan. Tentu saja "petugas polisi" ini tidak bisa mengejar pelanggar hukum atau menulis surat tilang, tetapi kemunculan mobil-mobil patroli yang "berpenumpang" ini sudah cukup membuat para pengemudi mengurangi laju kendaraan. Ini merupakan cara kreatif untuk mengelabui supaya warga mematuhi hukum. 

Sebagai orang-orang yang percaya kepada Kristus, seharusnya kita tidak perlu dipaksa atau dikelabui supaya melakukan yang benar. Kenyataannya, makna penting di balik ketaatan menjadi hilang jika kita taat hanya karena merasa wajib melakukannya, atau karena menganggapnya sebagai tugas. Selayaknya kita memilih melakukan sesuatu yang berkenan kepada Tuhan karena kita mengasihi-Nya. Yesus berkata, "Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku" (Yoh. 14:21). Kita sebaiknya "berusaha, supaya kami berkenan kepada-Nya" (2 Kor. 5:9). 

Marilah kita melakukan hal benar dari hati yang penuh syukur atas anugerah-Nya bagi kita --WEC 

Motivasi ketaatan yang paling murni 
Saat kita mengikuti jalan-jalan Allah 
Adalah sewaktu kita berusaha 
Menyenangkan, mengasihi, dan memuji Dia. --Sper

HASRAT KITA UNTUK MENYENANGKAN ALLAH
MERUPAKAN MOTIVASI TERBESAR KITA UNTUK MENAATI ALLAH

Sumber: Renungan Harian

Kamis, 05 Maret 2026

Memberi dengan Sukacita

Bacaan: 2 KORINTUS 9:6-15

Lagi pula, Allah sanggup melimpahkan segala anugerah kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam berbagai perbuatan baik. (2 Korintus 9:8)

Jemaat Korintus berjanji untuk memberikan persembahan bagi jemaat Yerusalem. Hal itu membuat Paulus membanggakan mereka di hadapan jemaat Makedonia. Bahkan, niat baik mereka juga merangsang orang lain untuk melakukan kebaikan yang sama. Namun, jemaat Korintus tidak segera mewujudkan janjinya. Karena itu, Paulus mendorong mereka untuk segera mewujudkan janjinya sambil memotivasi mereka menggunakan hukum tabur tuai.

Meski demikian, Paulus tidak bermaksud mengajar jemaat Korintus untuk memberi dengan motivasi supaya mendapat imbalan atau memancing berkat yang lebih besar. Paulus menekankan semangat memberi dengan kerelaan hati, sukacita tanpa paksaan. Lagi pula, Tuhan tidak akan pernah membiarkan umat-Nya kekurangan. Ini bukan hanya berbicara tentang hal duniawi (materi), melainkan kasih karunia secara menyeluruh (hikmat, sukacita, dan damai sejahtera). Terlebih pelayanan kasih melalui pemberian berdampak melimpahkan ungkapan syukur bagi Allah. Sebab, orang yang menerima pemberian kita akan bersyukur kepada Allah. Karena pemberian yang kita bagikan, mereka juga memuliakan Allah.

Tuhan memberikan kelimpahan kepada umat bukan supaya umat dapat berfoya-foya, melainkan untuk tujuan yang rohani, yakni berbagai perbuatan baik. Ini berarti bahwa sesungguhnya di balik setiap berkat yang Tuhan curahkan, ada tugas yang mesti kita emban, yaitu menjadi saluran berkat. Dengan demikian, tolok ukur berkat bagi orang percaya bukan lagi banyaknya harta yang dimiliki, melainkan banyaknya kebaikan yang dilakukan. --EBL/www.renunganharian.net

TUHAN MELIMPAHKAN KASIH KARUNIA UNTUK DIBAGIKAN DALAM SEGALA KEBAJIKAN, BUKAN UNTUK DISIMPAN ATAU DIPAMERKAN.

Rabu, 04 Maret 2026

PERTOLONGAN TAK TERDUGA

Bacaan: Yosua 2:1-14

Tetapi perempuan itu telah membawa dan menyembunyikan kedua orang itu
(Yosua 2:4)

Pada tahun 1803, Thomas Jefferson memerintahkan Lewis and Clark untuk memimpin suatu ekspedisi melintasi bagian Amerika yang belum terjelajahi sampai ke Pantai Pasifik. Ekspedisi ini dinamai Corps of Discovery [Satuan Penemuan] sesuai dengan namanya. Ekspedisi itu mendata 300 spesies baru, mengidentifikasi hampir 50 suku Indian, dan menjelajahi medan yang belum pernah disaksikan orang Eropa sebelumnya. 

Dalam perjalanan, mereka bergabung dengan seorang pedagang bulu dari Perancis dan istrinya, Sacajawea. Mereka segera menyadari bahwa sang istri berperan sangat penting sebagai pemandu dan penerjemah. 

Dalam perjalanan, Sacajawea bertemu dengan keluarganya. Kakak laki-lakinya telah menjadi seorang kepala suku, dan ia membantu mereka mendapatkan kuda dan peta daerah Barat yang belum tergambar. Tanpa bantuan tak terduga dari Sacajawea dan saudaranya, ekspedisi itu belum tentu berhasil. 

Alkitab menceritakan sebuah ekspedisi yang juga mendapat pertolongan tak terduga. Orang-orang Israel mengirimkan mata-mata memasuki Yerikho, sebuah kota yang berada di tanah yang dijanjikan kepada mereka. Rahab setuju menjamin keluarnya mereka dari kota itu. Sebagai gantinya, mereka melindungi keluarganya bila Yerikho runtuh. Dengan cara ini, Allah sumber kasih karunia yang berdaulat menggunakannya untuk menyiapkan jalan bagi kemenangan penaklukan Israel dan pendudukan Tanah Perjanjian. 

Apakah Anda tengah mengalami suatu tantangan? Ingatlah, Allah dapat memberikan pertolongan dari sumber-sumber yang tak terduga --HDF

KETIKA TAMPAKNYA TIDAK ADA JALAN ALLAH DAPAT MEMBUKA JALAN

Sumber: Renungan Harian

Selasa, 03 Maret 2026

TERDAMPAR

Bacaan: 1 Raja-raja 19:1-10

Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana (Mrk. 1:35)

Dalam film berjudul Castaway, Tom Hanks berperan sebagai Chuck Noland, seorang manajer Federal Express yang sangat menghargai waktu. Ia terdampar di sebuah pulau padang gurun terpencil. Karena hubungannya dengan manusia dan kenyamanan modern terputus sama sekali, mau tak mau ia harus mempelajari keterampilan primitif manusia gua. Ia melakukan usaha ekstra untuk belajar menangkap ikan, membuat api dengan menggesek-gesekkan ranting, dan memecah kelapa untuk mendapatkan air serta dagingnya yang manis. Film tersebut begitu kaya akan pemandangan tentang betapa sulit hidup jadinya bagi seseorang yang terdampar di padang gurun. 

Dalam Alkitab, padang gurun sering menjadi latar karya agung Allah di hati manusia. Yesus biasa menyepi ke padang gurun untuk berdoa dan mendapatkan petunjuk (Mrk. 1:35). Dengan latar yang hampir sama, Allah memberi makan Nabi Elia yang sedang putus asa dengan makanan surgawi (1 Raj. 19:1-10), dan di padang gurun, seorang Etiopia merenungkan Injil (Kis. 8:26-40). Setelah bertobat, Paulus menyepi ke padang gurun di Arab dan diajar oleh Roh Kudus (Gal. 1:15-18). 

Apakah Anda juga sedang merasakan pengalaman "padang gurun"; terkucil dari teman-teman dan keluarga? Jika ya, barangkali Tuhan ingin mengajarkan kepada Anda iman dan kegigihan, yang tak akan pernah Anda pelajari dalam kerumunan orang-orang sibuk --HDF 

Dalam hening mengepakkan sayap doa 
Jiwaku membubung menuju takhta; 
Dan kutemukan pengharapan kekuatanku 
Saat hatiku berpadu dengan hati-Mu. --Anonim

ALLAH MENYERTAI ANDA 
DI "PADANG GURUN" YANG PALING GERSANG

Sumber: Renungan Harian

Senin, 02 Maret 2026

PIRING-PIRING KOTOR

Bacaan: Matius 24:32-44

Jadi sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya (1Yohanes 2:28).

Ketika saya masih kecil, ayah saya sering melakukan perjalanan ke kota-kota lain untuk berbicara di berbagai gereja dan konferensi Alkitab. Kadang-kadang ibu saya turut menemaninya, meninggalkan saudara lelaki saya dan saya sendirian di rumah selama beberapa hari. Kami senang karena dengan begitu kami dapat mandiri. Namun, kami tidak suka mencuci piring. 

Saya ingat ketika kami mencoba mengesampingkan tugas yang tak menyenangkan itu selama mungkin dengan menumpuk semua piring, gelas, sendok, dan garpu kotor di dalam oven setiap kali selesai makan. Di akhir minggu, hampir tidak ada tempat tersisa di dalam oven. Kemudian, pada petang hari sebelum Ayah dan Ibu pulang, kami menyingsingkan lengan baju dan membersihkan semua kotoran. Perlu waktu berjam-jam mengerjakannya! Alangkah malunya jika ternyata orangtua kami datang lebih cepat dari dugaan kami. 

Karena kita tidak tahu pasti kapan Kristus akan kembali (Matius 24:36,42,44), kita tidak boleh malas dalam menempuh perjalanan kristiani kita. Pengharapan bahwa Dia akan datang setiap saat seharusnya membantu kita untuk menjadi hamba yang "setia dan bijaksana" (ayat 45) dan untuk hidup sedemikian hingga "kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu" ketika Dia datang (1Yohanes 2:28). 

Ya, Kristus akan datang kembali, seperti yang telah dijanjikan-Nya. Mungkin saja Dia datang hari ini! Apakah Anda mempunyai "piring-piring kotor"? Sekaranglah saatnya untuk mempersiapkan diri --RWD

HIDUPLAH SEOLAH-OLAH KRISTUS DATANG HARI INI

Sumber: Renungan Harian

Minggu, 01 Maret 2026

GAGASAN JORDAN

Bacaan: 2Timotius 3:14-17

Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah dan bermanfaat untuk mengajar, ... untuk mendidik orang dalam kebenaran (2Timotius 3:16)

Suatu hari di musim semi, Jordan mulai menanyakan kebangkitan Yesus ketika ibunya membawanya ke taman bermain. Karena ibunya sadar bahwa Jordan mengira Yesus bangkit dari kematian untuk pertama kalinya pada hari Raya Paskah saat itu, sang ibu mencoba meluruskannya. Ia menepikan mobil dan menceritakan segala hal tentang wafat dan kebangkitan Yesus. Ia mengakhiri, "Yesus bangkit dari antara orang mati pada zaman dahulu, dan kini Dia ingin tinggal di dalam hati kita." Namun, Jordan masih tidak memahami penjelasan ibunya. 

Karena bingung bagaimana ia dapat menjelaskan lebih baik, sang ibu berkata, "Bagaimana kalau kita mampir di toko buku? Ibu melihat beberapa buku tentang Paskah ketika ke sana minggu lalu. Kita akan membeli satu buku dan membacanya bersama-sama." Dengan hikmat yang melampaui umurnya, Jordan menjawab, "Tidak bisakah kita membaca Alkitab saja?" 

Gagasan Jordan benar. Buku-buku tafsir dan buku tentang Alkitab adalah alat yang membantu. Namun buku-buku itu seharusnya jangan pernah digunakan untuk menggantikan pewahyuan Allah akan Diri-Nya sendiri firman-Nya. 

Tidak ada buku lain selain Alkitab yang diberikan kepada kita dengan ilham Allah (2Timotius 3:16). Seorang pengarang bernama Eugene Peterson berkata, "Suara Allah berbicara kepada kita, mengundang, menjanjikan, memberkati, menegur, menguatkan, menyembuhkan." 

Mari kita ikuti gagasan Jordan dan terlebih dahulu memakai sumber kebenaran sejati, yaitu Alkitab --AMC

PAKAILAH ALKITAB SEBAGAI PERLINDUNGAN, TEGURAN, DAN ARAHAN ANDA

Sumber: Renungan Harian