Sabtu, 30 April 2022

Semakin Banyak Bermurah Hati, Semakin Anda Seperti Yesus

Bacaan Hari ini:
1 Korintus 13:4-5 “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.”

Salah satu hal terbaik yang dapat Anda lakukan untuk keluarga Anda yaitu dengan menunjukkan kemurahan hati Anda kepada mereka. Kemurahan hati ialah suatu tindakan mengasihi. Maka, ketika Anda mengabaikan gangguan dan memilih untuk tetap bersikap baik terhadap keluarga Anda—meski mereka sebenarnya tak layak mendapatkannya—artinya Anda sedang bermurah hati pada mereka.

Apakah Anda mengingat setiap kali anggota keluarga Anda melakukan kesalahan?

Apakah Anda cepat mengungkit kesalahan masa lalu seseorang soal bagaimana mereka telah menyakiti Anda? Alkitab mengatakan bahwa kasih yang sejati tidak memendam sakit hati dan kesalahan orang lain untuk digunakan di kemudian hari buat membalas dendam. Apabila Anda menyimpan luka seperti itu, berarti Anda tidak mengasihi.  

Alkitab berkata, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain” (1 Korintus 13:4-5). 

Perhatikan bagaimana kata "tidak melakukan yang tidak sopan” dan "tidak menyimpan kesalahan orang lain" terdapat dalam ayat yang sama. Itulah alasan orang bersikap kasar: Mereka bereaksi terhadap luka masa lalu yang selama ini mereka simpan dan kemudian melampiaskannya pada orang lain. Dan ketika mereka bereaksi terhadap luka masa lalu mereka, mereka tidak bisa memaafkan kesalahan orang lain.

Dalam Imamat 19:18-19, Yesus mengajarkan untuk “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." 

Apakah dendam masa lalu tengah menyandera Anda hari ini? Jangan memendamnya dan kemudian melampiaskannya pada pasangan atau anak-anak Anda. Dan jangan juga beri tahu orang lain tentang dendam Anda. Sebaliknya, relakan saja. 

Terkadang paling sulit untuk menunjukkan kemurahan hati kita kepada orang-orang terdekat kita. Alih alih, bila Anda dapat melepaskannya dan menunjukkan kasih Anda, maka Anda sedang belajar untuk menjadi semakin seperti Yesus.

Renungkan hal ini: 
- Dendam apa yang selama ini tumbuh subur di hati Anda? Mengapa? Bagaimana caranya agar Anda dapat dengan tulus melepaskannya?
- Ada banyak langkah yang dapat Anda ambil untuk menemukan kesembuhan dari luka masa lalu—seperti mencari bimbingan dan konseling Alkitabiah, berdoa menggunakan ayat-ayat Alkitab, dan menaati Roh Kudus. Apa satu langkah yang bisa Anda ambil hari ini, terlepas dari betapa besar atau kecilnya kesalahan Anda, untuk menuju penyembuhan?
- Menurut Anda mengapa terkadang lebih sulit untuk menunjukkan belas kasih kepada keluarga Anda daripada kepada orang lain?

Cara penting lainnya untuk menunjukkan kemurahan hati Anda di rumah ialah dengan melepaskan luka masa lalu.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)



Jumat, 29 April 2022

CUMA ORANG-ORANGAN

Bacaan: Bilangan 13:17-33

NATS: Sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia (1Yohanes 4:4b)

Seperti halnya dengan orang-orang Israel dalam bacaan Alkitab hari ini, Hannah Hurnard, penulis buku yang berjudul Hinds' Feet on High Places (Kaki-kaki Belakang di Tempat Tinggi), suatu kali pernah mengalami ketakutan yang amat sangat. Sampai suatu saat ia mendengar sebuah khotbah mengenai orang-orangan dan ketakutannya berubah menjadi iman.

Pengkhotbah itu mengatakan, "Burung yang bijak tahu bahwa orang-orangan di sawah adalah sekadar alat untuk menakut-nakuti. Orang-orangan itu menyatakan bahwa buah yang matang dan ranum telah siap dipetik. Ada banyak orang-orangan di semua kebun dengan buah-buahan yang ranum.... Kalau saya seorang yang bijak, semestinya saya memandang orang-orangan itu seolah-olah sebagai suatu undangan. Setiap apa pun yang menyerupai raksasa dan menyebabkan saya merasa seperti seekor belalang, adalah seperti orang-orangan yang mengundang saya untuk datang pada berkat Allah yang tiada habis-habisnya." Ia menyimpulkan, "Iman itu seperti burung yang hinggap di atas orang-orangan. Semua ketakutan kita sebenarnya tanpa dasar sama sekali."

Hannah memberi kesaksian bahwa cerita sederhana di atas telah memberi keberanian yang tak terhitung jumlahnya dalam melewati hari-hari yang menakutkan tetapi sekaligus penuh dengan berkat yang berlimpah-ruah.

"Orang-orangan" apa yang saat ini sedang Anda hadapi? Situasi yang sukar? Ketidakpastian? Ketidakpuasan? Musuh yang berada di dalam diri Anda ingin menjauhkan Anda dari berkat Allah. "Hinggaplah" di atas "orang-orangan" Anda itu dengan iman, mulailah menyanyi dan berharaplah untuk mendapatkan panen yang berlimpah-ruah -- JEY

JIKA MATA KITA TETAP TERTUJU PADA ALLAH KETAKUTAN KITA AKAN LENYAP

Sumber: Renungan Harian

Kamis, 28 April 2022

Kemurahan Hati Bisa Menjadi Kesaksian Terbesar Anda

Bacaan Hari ini:
Lukas 6:36 “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."


Di dunia yang kian hari kian tidak ramah ini, kesaksian terbesar Anda sebagai orang Kristen ialah lewat menunjukkan kemurahan hati pada orang lain.

Pernahkah Anda perhatikan betapa tidak mengasihi dan tak kenal ampunnya dunia kita? Saat ini sepertinya bentuk humor tertinggi ialah dalam bentuk cemooh dan sindirian. Bahkan, para komedian dibayar untuk menikam orang lain lewat sindiran sarkastik nan sinis. 

Akan tetapi, ketika orang-orang melihat Anda melakukan yang sebaliknya, menunjukkan kemurahan hati, apalagi jika mengingat betapa jahat dan kejamnya masyarakat kita saat ini, mereka akan berkata, “Seperti itulah saya mengharapkan orang Kristen—seperti Yesus.”

Yesus berkata dalam Lukas 6:36 “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." Ada empat hal yang dapat Anda lakukan untuk membangun gaya hidup yang penuh kemurahan hati. Kita akan melihat dua hari ini dan dua besok.

Mulailah memperhatikan dan mendengarkan kebutuhan orang lain. Kebutuhan siapa saja? Kebutuhan orang-orang di lingkungan Anda, di tempat kerja Anda, dan di keluarga Anda. Kemurahan hati selalu dimulai dari kesadaran diri. Jadi, jika Anda tidak menyadari apa yang dibutuhkan mereka, artinya Anda tidak peduli.

Alkitab berkata, “Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Filipi 2:4).

Jika Anda kesulitan bermurah hati, itu bukan berarti Anda orang jahat, melainkan Anda orang yang terlalu sibuk. Kesibukan merupakan perusak nomor satu dalam hal bermurah hati. Ketika Anda pindah dari satu acara ke acara lain dan dari tugas ke tugas lain, memang sulit untuk memperhatikan orang-orang di sekitar Anda. Dan ketika Anda tidak menyadari dan mendengarkan apa yang dibutuhkan mereka, maka hampir tidak mungkin buat Anda bermurah hati.

Jangan merasa terganggu oleh dosa-dosa orang lain. Anda tidak bisa berkata, “Bereskan hidupmu, baru aku akan menerimamu.” Tidak—kasih itu tanpa syarat! Jika Anda hendak menunjukkan kasih Anda kepada orang lain, Anda tidak boleh kesal dengan dosa mereka. Anda tidak dapat melayani orang lain apabila Anda memandang rendah mereka.

Yesus tidak pernah merasa terganggu dengan dosa-dosa orang lain. Bahkan, Dia bergaul dengan para pendosa yang paling jahat sekali pun. Dia bahkan dituduh “bersalah oleh karena pergaulan" karena Dia menghabiskan waktu dengan orang-orang yang korup, musuh masyarakat, dan yang manipulatif.

Itu bukan berarti Yesus sepakat dengan apa yang mereka lakukan. Tuhan membenci semua yang mereka lakukan, tetapi Dia menerima mereka sepenuhnya. Menunjukkan kemurahan hati bukan berarti Anda menganggap apa pun yang dilakukan orang lain itu wajar-wajar saja. Kecanduan akan narkoba dan perzinahan, misalnya, adalah salah besar. Akan tetapi, Anda tetap dapat memperlihatkan kemurahan hati Anda. 

“Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (1 Petrus 4:8).

Renungkan hal ini:
- Mengapa kemurahan hati sulit ditemukan di dunia saat ini?
- Siapa yang telah menunjukkan kemurahan hatinya pada Anda, bahkan ketika Anda tidak layak mendapatkannya? Apa masalahnya?
- Pernahkah Anda menahan kasih Anda kepada seseorang karena Anda tidak setuju dengan gaya hidup dia? Jika ya, bagaimana reaksi Anda terhadap mereka hari ini?

Lakukanlah kepada orang lain apa yang telah Kristus lakukan bagi Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)



Rabu, 27 April 2022

Mental Bersaing

Bacaan: MARKUS 3:1-6

Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. (Markus 3:2)

Berbahaya sekali jika seseorang memiliki mental bersaing karena iri hati dalam hidupnya. Ia tidak segan-segan mencari kesalahan orang lain dan berusaha menjatuhkannya agar dirinya tetap terlihat lebih unggul di mata orang lain. Di mana-mana mental bersaing seperti itu ada. Di dunia pekerjaan, bangku kuliah bahkan pelayanan sekalipun. Kerjasama yang baik malah semakin terabaikan dan mulai tergantikan dengan aktualisasi diri yang tidak sehat.

Gambaran itu juga mewakili keberadaan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang selalu mencari celah untuk menjatuhkan dan membinasakan Yesus (ay. 2, 6). Sekalipun apa yang dilakukan oleh Yesus adalah hal yang berguna, tetaplah mereka menganggap itu adalah kesalahan besar. Perkataan sindiran terucap dari mulut Yesus, "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?" (ay. 4). Yesus mulai populer dalam pelayanan dan ia membawa dampak baik bagi masyarakat. Inilah yang membuat orang Farisi dan ahli Taurat iri kepadanya.

Hendaklah ini menjadi teguran bagi setiap orang percaya. Terkadang fokus pelayanan untuk memuliakan nama Tuhan mulai kabur karena kita melihat ada orang yang lebih dipakai Tuhan daripada kita. Kita sulit bekerja sama dengannya karena pikiran kita mulai fokus kepada diri sendiri yang ingin dihormati orang lain. Dalam pekerjaan sekalipun, prestasi seseorang tidak membuat kita bangga dan makin belajar dari dia. Mari kita miliki sikap untuk bekerja sama dengan sehat dan bukan mental persaingan. --YDS/www.renunganharian.net

MENTAL PERSAINGAN TIDAK AKAN MEMBUAT KITA BELAJAR BANYAK DARI ORANG LAIN.

Selasa, 26 April 2022

Pertengkaran di Lapangan Parkir

1 Samuel 4-6 Lukas 9:1-17
Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja. –Yakobus 1:22

Ayat Bacaan & Wawasan:
Yakobus 1:19-27

Pertengkaran di lapangan parkir itu tidak hanya konyol tetapi juga tragis. Dua pengemudi mobil beradu mulut gara-gara mobil yang satu menghalangi mobil yang lain. Kata-kata kasar disemburkan di antara keduanya.

Yang paling menyedihkan adalah karena pertengkaran itu terjadi di lapangan parkir gereja. Kedua pria yang berselisih itu mungkin baru saja mendengar khotbah tentang kasih, kesabaran, atau pengampunan, tetapi isi khotbah tadi menguap begitu saja karena emosi sesaat.

Saya sempat tidak habis pikir melihat peristiwa itu, tetapi kemudian langsung tersadar bahwa saya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan mereka. Entah sudah berapa kali saya membaca Alkitab, tetapi beberapa saat kemudian melakukan dosa karena berprasangka buruk terhadap orang lain? Sudah berapa kali saya berperilaku “seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya” (Yak. 1:23-24)?

Yakobus mengajak para pembacanya untuk tidak hanya membaca dan merenungkan perintah Allah, tetapi juga melakukannya (ay. 22). Ia berkata, iman yang sempurna berarti mengetahui firman Allah dan juga menerapkannya dalam perbuatan.

Persoalan hidup dapat membuat kita kesulitan untuk menerapkan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci. Namun, jika kita meminta pertolongan Bapa, Dia pasti menolong kita menaati firman-Nya dan menyenangkan-Nya dengan perbuatan kita (Leslie Koh).

Renungkan dan Doakan
Firman Allah apa yang pernah Anda baca dan dapat dilakukan hari ini? Apa yang mungkin menghalangi Anda untuk melakukannya?

Ya Allah, ampunilah aku yang sering tidak melakukan apa yang Engkau perintahkan. Berilah aku kekuatan dan kemauan untuk menaati-Mu, dengan perkataan, perbuatan, dan pikiran yang menyenangkan-Mu. 

Sumber: Our Daily Bread

Senin, 25 April 2022

SALAH KAPRAH

Bacaan: Mazmur 119:57-64

NATS: Aku memikirkan jalan-jalan hidupku, dan melangkahkan kakiku menuju peringatan-peringatanMu (Mazmur 119:59)

Jika banyak orang menganggap benar sesuatu yang salah apakah kemudian hal itu menjadi suatu kebenaran? Misalnya, jika semua orang menulis kata bahasa Inggris it's ketika orang sebenarnya harus menuliskannya dengan its, apakah hal itu kemudian patut diterima sebagai yang benar?

Penyalahgunaan ini terus-menerus berlangsung mulai dari tingkat eksekutif sampai artikel-artikel di suratkabar, bahkan iklan-iklan. Seharusnya orang memakai bentuk singkatan It's untuk It is. Misalnya pernyataan It is a nice day dapat ditulis dengan It's a nice day. Dan orang akan menggunakan bentuk its untuk menyatakan milik. Misalnya pernyataan The dog wagged its tail. Bentuk its di sini untuk menyatakan bahwa ekor (tail) itu miliknya anjing (the dog).

Demikian pula halnya dalam pengajaran Alkitab. Ada yang karena seringnya diberikan secara tidak benar, lalu kita menganggap hal itu tidak menjadi masalah. Misalnya, bagaimana jika orang terus-menerus menyatakan bahwa neraka itu tidak sungguh-sungguh ada dan bahwa manusia tanpa Yesus tidak benar-benar binasa? (Matius 5:22; Lukas 12:5). Haruskah kita mempertanyakan kebenaran Alkitab yang mengajarkan mengenai neraka? Atau tentang kebiasaan berbohong. Haruskah kita mengartikan kembali pengajaran Alkitab mengenai kejujuran? (Mazmur 51:7; Amsal 19:5).

Apakah kita hidup berdasarkan pada aturan kebanyakan orang, hidup menurut apa yang kita lihat, ataukah kita hidup menurut standar yang ditetapkan oleh Allah? Ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat menentukan jika kita ingin menyenangkan Dia -- JDB

PERCAYALAH PADA OTORITAS ALLAH BUKAN PADA KATA KEBANYAKAN ORANG

Sumber: Renungan Harian

Minggu, 24 April 2022

KEINGINAN KITA AKAN PUJIAN

Bacaan: 1 Korintus 4:1-5

NATS: Banyak juga di antara pemimpin yang percaya kepadaNya, tetapi...mereka tidak mengakuinya terus terang.... Sebab mereka lebih suka kehormatan manusia daripada kehormatan Allah (Yohanes 12:42,48)

Anak-anak biasanya sangat senang bila mendapat pujian dari orang tua, guru dan orang-orang dewasa lainnya yang memiliki suatu kuasa. Saya menyaksikannya baru-baru ini lewat wajah anak-anak yang menerima penghargaan atas prestasi mereka dalam sebuah acara yang diperuntukkan bagi anak-anak.

Bahkan orang-orang yang telah dewasa sekalipun, masih senang menerima pujian dari orang-orang yang mereka hormati. Keinginan akan sanjungan atau pujian dari orang lain memang tidak salah. Pujian yang tulus akan sangat membesarkan hati seseorang dan menunjukkan kebaikan dari kita. Alkitab menyatakan kepada kita untuk menatap hari dimana kita akan menerima pujian dari Allah (1Korintus 4:5). Namun demikian, yang menjadi masalah adalah bahwa kita sering lebih menghargai kehormatan yang kita terima dari manusia dalam kehidupan hari ini daripada kehormatan dari Allah yang akan kita terima dalam kehidupan yang akan datanmg.

Seorang remaja yang masih berusia belasan tahun kecanduan obat bius karena ia ingin diterima oleh kelompok sebayanya yang menurut ia "mengagumkan." Remaja lainnya berusaha supaya dirinya dilihat lebih hebat oleh rekan-rekan wanitanya dibandingkan laki-laki lain. Kedua remaja ini melakukan kesalahan yang sama dengan kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang percaya abad pertama yang "lebih suka kehormatan manusia daripada kehormatan Allah" (Yohanes 12:43).

Tuhan, tolong kami untuk lebih menyukai pujian dari Allah yang akan kami terima pada masa yang akan datang daripada pujian dari manusia -- HVL

HIDUP UNTUK MEMPEROLEH PUJIAN DARI ALLAH LEBIH BAIK DARIPADA HIDUP UNTUK MEMPEROLEH PUJIAN DARI MANUSIA

Sumber: Renungan Harian

Sabtu, 23 April 2022

Penolong yang Lain

Bacaan Alkitab hari ini:
Yohanes 14:15-31

Tuhan Yesus sangat paham bahwa setelah Ia menyerahkan diri-Nya untuk ditangkap dan menjalani penderitaan sampai berada di kayu salib, murid-murid-Nya akan gelisah dan kehilangan tempat berpegang. Saat Ia masih bersama-sama dengan para murid-Nya, para murid bisa mencari Dia untuk meminta pertolongan atas masalah apa pun yang mereka hadapi. Sesudah Dia tidak bersama-sama dengan mereka, para murid akan kebingungan saat menghadapi masalah. Oleh karena itu, Tuhan Yesus memberi tahu bahwa Ia akan meminta Allah Bapa mengirimkan Penolong yang lain (14:16). Dalam bacaan Alkitab hari ini, ada berbagai istilah yang menunjuk kepada Penolong yang lain itu, yaitu Roh Kebenaran, Penghibur, dan Roh Kudus (14:17, 26).

Penolong yang lain itu adalah Roh Kebenaran. Saat Tuhan Yesus bersama-sama secara fisik dengan murid-murid-Nya, para murid bisa bertanya apa saja, dan semua yang dikatakan Tuhan Yesus merupakan kebenaran. Setelah Tuhan Yesus tidak hadir secara fisik bersama dengan murid-murid-Nya, Roh Kebenaran itulah yang akan mengungkapkan kebenaran serta menolong para murid agar bisa hidup dalam kebenaran. Penolong yang lain itu adalah Penghibur. Saat Tuhan Yesus ditangkap, para murid akan tercerai berai, dan mereka akan mengalami kebingungan serta ketakutan. Mereka akan menghadapi berbagai macam tantangan berat. Sebelumnya, Tuhan Yesus-lah sumber kekuatan dan penghiburan bagi mereka. Setelah Tuhan Yesus tidak hadir secara fisik, Penolong yang lain itulah yang menjadi Penghibur bagi para murid, sehingga para murid tetap bisa memiliki sukacita sekalipun harus berhadapan dengan berbagai masalah. Penolong yang lain itu disebut sebagai Roh Kudus karena Penolong yang lain itu akan menolong para murid untuk hidup sesuai dengan identitas mereka sebagai anak-anak Allah yang telah dikuduskan oleh darah Yesus Kristus.

Bagi orang percaya pada masa kini, peran Penolong yang lain itu persis sama dengan peran Sang Penolong itu terhadap para murid. Bila Anda kebingungan saat harus mengambil suatu keputusan penting, apakah Anda mencari pertolongan Penolong yang lain itu? Saat Anda mengalami kesedihan atau menghadapi jalan buntu, apakah Anda mencari Penolong yang lain itu? Saat Anda menghadapi desakan untuk meniru dunia ini, apakah Anda mencari pertolongan Sang Penolong yang lain itu? [GI Purnama]

Sumber: Renungan GeMA GKY

Jumat, 22 April 2022

Nasihat yang Bijak

Pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja. –Keluaran 18:18

Ayat Bacaan & Wawasan:
Keluaran 18:13-22

Saat belajar di seminari, saya juga bekerja purnawaktu. Selain itu, saya juga melayani sebagai rohaniwan dan menjadi pekerja magang di suatu gereja. Pokoknya, saya sibuk sekali. Ketika ayah saya datang mengunjungi saya, ia berkata, “Kalau begini terus, kamu bisa patah semangat di tengah jalan.” Saya tidak mengacuhkan peringatan beliau. Bagi saya, ayah saya orang kuno dan tidak mengerti tentang “mengejar target”.

Saya memang tidak sampai patah semangat. Namun, saya mengalami masa-masa yang sangat berat, yang membuat saya dilanda depresi. Sejak itu, saya belajar mendengarkan nasihat, terutama dari orang-orang yang saya kasihi.

Hal ini mengingatkan saya kepada kisah Musa. Musa juga bekerja keras dengan melayani sebagai hakim atas bangsa Israel (Kel. 18:13). Namun, ia memilih mendengarkan nasihat ayah mertuanya (ay. 17-18). Yitro tidak terlibat dalam kesibukan itu, tetapi ia mengasihi Musa dan keluarganya. Ia bisa membayangkan masalah yang akan datang. Mungkin itulah sebabnya Musa mendengarkan Yitro dan mengikuti nasihatnya. Musa menyusun sistem dengan menempatkan “orang-orang yang cakap” dari seluruh bangsa itu untuk menangani perkara kecil, sementara Musa menangani perkara yang besar (ay. 21-22). Karena mendengarkan nasihat Yitro, mengatur ulang pekerjaannya, dan mempercayakan beban tugas kepada orang lain, Musa bisa terhindar dari stres yang mengancam.

Banyak dari kita yang melakukan pekerjaan untuk melayani Allah, keluarga, dan orang lain dengan sangat serius dan sepenuh hati. Namun, kita tetap perlu mendengarkan nasihat orang-orang yang kita kasihi dan bergantung kepada hikmat dan kekuatan Allah dalam setiap hal yang kita kerjakan (Katara Patton).

Renungkan dan Doakan
Nasihat siapa yang dapat Anda percayai, untuk mengingatkan Anda agar melayani dengan bijaksana?

Langkah-langkah apa yang Anda tempuh agar terhindar dari stres yang berat? Kapan terakhir kalinya Anda menempuh langkah-langkah tersebut?

Allah yang Mahakuasa, terima kasih, Kau telah memberiku kesempatan untuk melayani-Mu dalam banyak bentuk. Dalam pelayananku kepada sesama, ajarlah aku untuk bekerja dengan bijak, agar aku memiliki energi untuk melakukan apa yang Engkau mau kulakukan. 

Sumber: Our Daily Bread

Kamis, 21 April 2022

MELIHAT HATI

Bacaan: 1 Samuel 16:1-13

NATS: Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati (1 Samuel 16:7)

Seberapa sering kita merasa bersalah karena tidak melibatkan Allah dalam pengambilan keputusan? Ketika kita diperhadapkan pada suatu pilihan, keputusan yang benar yang harus kita pilih seringkali tampak jelas bagi kita dan bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Namun bila kita lupa memohon pertolongan Tuhan untuk memberi hikmat, kita dapat mengambil keputusan yang keliru.

Itulah yang dilakukan Samuel tatkala ia disuruh mengurapi raja Israel yang baru. Ketika ia melihat Eliab, anak sulung Isai, Samuel yakin bahwa itulah orang yang dipilih Allah. Benarkah demikian? Keliru! Ternyata, Allah memilih Daud, anak Isai yang masih sangat muda. Ia adalah seorang yang diperkenan Allah (Kisah 13:22), tetapi Samuel hanya melihat berdasarkan penampakan luar.

Mengikutsertakan Allah dalam pengambilan keputusan juga merupakan prinsip yang sangat penting bagi gereja-gereja. Ketika mencari pendeta baru atau seseorang yang akan terlibat dalam pelayanan gereja, kita seringkali memiliki kecenderungan untuk hanya melihat penampakan luar dari orang-orang itu. Kita hanya memandang dari sisi kecakapannya berkhotbah, keramahannya, dan kemampuannya dalam mencetuskan ide-ide baru -- dan memang kita perlu melihat hal-hal ini. Namun bila kita tidak memohon kepada Allah untuk melihat yang lebih dalam lagi, yakni hati, kita belumlah melihat dengan cukup dalam. Kita tidak akan dapat melihat hati, tetapi Tuhan dapat. Dia tahu apakah seseorang benar-benar mengikut Dia atau tidak.

Jika Anda harus mengambil keputusan hari ini, janganlah lupa mengikutsertakan Allah -- DCE

JIKA KITA TIDAK MAU BERAKHIR DENGAN KEGAGALAN MULAILAH BERSAMA DENGAN ALLAH

Sumber: Renungan Harian

Rabu, 20 April 2022

Mempraktikkan Kerendahhatian

Bacaan Alkitab hari ini:
Yohanes 13:1-20

Teladan yang diberikan Kristus dalam Bacaan Alkitab Hari Ini sangat luar biasa! Sulit dibayangkan bahwa seorang Pemimpin Besar bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh seorang budak, yaitu membasuh kaki. Di daerah perkotaan di Indonesia, praktik membasuh kaki tidak diperlukan karena kondisi jalan pada umumnya relatif bagus. Akan tetapi, praktik membasuh kaki tamu di Palestina pada masa itu merupakan sesuatu yang sudah lumrah. Sekalipun demikian,yang bertugas membasuh kaki biasanya seorang budak. Sangat aneh bila orang yang statusnya lebih tinggi membasuh kaki orang lain yang statusnya lebih rendah. Oleh karena itu, praktik membasuh kaki yang dilakukan oleh Tuhan Yesus ini luar biasa! Apa lagi, hal itu dilakukan saat Ia sedang mencapai puncak kepopuleran.

Melalui demonstrasi kerendahhatian ini, Tuhan Yesus menegaskan bahwa karakter pemimpin dalam Kerajaan Allah itu memiliki sistem nilai yang sangat berbeda dengan sistem nilai yang dianut oleh dunia ini. Dalam ketiga kitab Injil yang lain telah disebutkan bahwa seorang pemimpin harus menjadi pelayan (Matius 20:26; Markus 10:43; Lukas 22:26). Praktik sebagai pelayan itulah yang didemonstrasikan oleh Tuhan Yesus melalui tindakan membasuh kaki para murid. Petrus—yang masih terikat oleh pola pikir lama—mula-mula menolak saat Tuhan Yesus hendak mencuci kakinya, namun akhirnya ia menurut karena takut kehilangan berkat (Yohanes 13:6-9). Setelah acara pembasuhan kaki selesai, Tuhan Yesus berkata bahwa teladan membasuh kaki itu Ia lakukan supaya dicontoh oleh murid-murid-Nya (13:12-15).Perlu diingat bahwa praktik kerendahhatian itu bukan hanya masalah membasuh kaki, melainkan mencakup berbagai aspek kehidupan yang sangat luas. Praktik kerendahhatian ini mencakup menyapa lebih dulu kepada orang yang lebih muda atau yang lebih rendah status sosialnya, kerelaan membantu melakukan hal-hal kecil seperti mencuci, membersihkan ruangan, dan sebagainya. Apakah Anda dapat menambahkan contoh-contoh praktik kerendahhatian dalam kehidupan sehari-hari yang sering Anda hadapi? Apakah Anda bersedia merendahkan diri terhadap orang-orang yang berinteraksi dengan diri Anda, termasuk terhadap orang yang lebih muda dan bawahan Anda? Apakah Anda bersedia merendahkan diri untuk melakukan "hal-hal sepele" di rumah, di kantor, di gereja, dan di mana pun Anda berada? [GI Purnama]

Sumber: Renungan GeMA GKY

Selasa, 19 April 2022

Ragu dan Diyakinkan

Bacaan: YOHANES 20:24-29

Jadi, kata murid-murid yang lain itu kepadanya, "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka, "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sek (Yohanes 20:25)

Pertanyaan bisa timbul dari ketidaktahuan ataupun keraguan. Karena tidak tahu atau ragu, kita bertanya agar menjadi tahu dan percaya. Kita kerap dinasihati untuk tidak mudah percaya pada sesuatu yang kita lihat dan dengar. Terkadang kita merasa ragu ketika mendengar pengajaran yang mulai menyimpang. Karena itulah kita dinasihati untuk menguji segala sesuatu supaya kita tidak disesatkan. Jadi jika ada orang bertanya atau butuh diyakinkan karena ingin mencari jawaban, kita diingatkan untuk tidak buru-buru menghakiminya sebagai orang bodoh.

Kita acapkali menilai Tomas sebagai sosok peragu. Ia ragu ketika para murid memberitahukan kepada-Nya bahwa mereka telah melihat Tuhan setelah kebangkitan-Nya. Seperti para murid lain, Tomas masih berduka dan tergoncang. Ditambah lagi bahwa ia sedang tidak bersama para murid ketika Yesus menjumpai mereka di pertemuan pertama. Dengan jujur Tomas meminta bukti agar ia percaya. Yesus menjawab keraguan murid-Nya itu delapan hari kemudian dengan menampakkan diri kepada-Nya serta memintanya untuk mencucukkan jarinya pada tangan dan lambung-Nya. Dan Tomas pun percaya.

Saat hati berduka dan iman tergoncang, kita pun bisa meragukan firman dan kehilangan pengharapan. Yesus sangat memahami situasi hati kita. Dia menghargai kejujuran kita bahwa kita ragu dan butuh dikuatkan. Yesus tidak pernah mencela karena kita ragu, sebaliknya Ia hadir untuk mengubah keraguan hati kita menjadi kepastian. Kepastian bahwa Ia hidup dan tidak pernah mengingkari janji-Nya. --SYS/www.renunganharian.net

WAKTU IMAN SAYA GONCANG DAN MULAI RAGU, SAYA JUJUR MENGAKUINYA DI HADAPAN TUHAN. DAN TUHAN MENJAWAB KERAGUAN DENGAN KEPASTIAN.

Senin, 18 April 2022

KEBANGKITAN KRISTUS

Bacaan: Wahyu 1:9-18

NATS: Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal (1Korintus 15:20)

Banyak religi di dunia memuja para pemimpin atau ahli filsafat besar yang sesungguhnya adalah manusia biasa yang tak berdaya. Kekristenan sendiri menyatakan iman dalam diri sang Juruselamat yang hidup dan bangkit dari kematian.

Seorang Utusan Injil menjelaskan kebenaran ini kepada beberapa orang. Katanya, "Saya bepergian dan tiba di suatu tempat yang memiliki jalan bercabang dua. Saya mencari pemandu dan menemukan dua orang: Yang satu mati dan satunya lagi hidup. Kepada pemandu yang mana saya seharusnya bertanya, kepada yang mati atau yang hidup?" Orang-orang menjawab, "Yang hidup." "Lalu," kata Utusan Injil itu, "mengapa Anda justru mengikuti seorang pemimpin yang mati, bukannya Kristus yang hidup?"

Jika kita percaya akan kebangkitan jasmani Yesus Kristus yang nyata, maka kita tidak akan mengalami kesulitan mempercayai Firman-Nya. Jika kita menolak doktrin pokok ini, kita juga akan menolak keseluruhan isi Alkitab. Jika Kristus belum dibangkitkan, Dia telah melanggar janji-Nya, gagal dalam nubuat-Nya, dan kita masih berada dalam dosa.

Seorang gadis kecil tinggal di dekat kuburan dan seringkali harus berjalan melewatinya pada malam hari. Ketika seseorang bertanya, "Apakah kamu pernah merasa takut?" Gadis itu menjawab, "Oh tidak. Rumah saya ada di dekat sana."

Jika kita beriman kepada Kristus yang dibangkitkan, kita juga tidak perlu merasa takut akan kematian. Rumah kita ada di dekat sana! [HGB]

KARENA KRISTUS HIDUP, KITA PUN AKAN HIDUP

Sumber: Renungan Harian

Minggu, 17 April 2022

KENCAN YANG TAK TERELAKKAN

Bacaan: Ibrani 9:24-28

NATS: Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi (Ibrani 9:27)

Suami Sarah Winchester memperoleh banyak keuntungan dari usahanya membuat dan menjual senapan. Setelah suaminya meninggal karena penyakit influensa pada tahun 1918, ia pindah ke San Jose, California.

Dukacita atas kematian suaminya dan ketertarikannya yang sebenarnya telah lama pada dunia okultisme, membuat Sarah mencari dukun untuk menghubungi suaminya yang telah mati. Lalu dukun tersebut berkata kepada Sarah, "Selama Anda tetap terus membangun rumah Anda tanpa berhenti, Anda tidak akan pernah menemui ajalmu."

Sarah percaya kepada dukun tersebut, karena itu ia lalu membeli sebuah rumah besar yang memiliki 17 kamar yang belum selesai dibangun dan mulai memperluasnya. Proyek ini berlanjut sampai ia meninggal pada usia 85 tahun, Biayanya mencapai 10,5 miliar rupiah pada saat upah pekerja masih Rp 1050 perhari. Rumah tersebut memiliki 150 kamar, 13 kamar mandi, 2000 pintu, 47 tungku perapian dan 10.000 jendela. Dan Sarah meninggalkan banyak bahan bangunan sehingga para pekerja dapat melanjutkan pembangunan rumah tersebut selama kurun waktu 80 tahun kemudian.

Saat ini, rumah tersebut telah berubah fungsinya menjadi objek wisata. Bangunan itu menjadi saksi bisu atas perbudakan terhadap rasa takut yang menghinggapi berjuta-juta manusia di dunia ini dalam menghadapi kematian (Ibrani 2:15).

Karena Yesus telah mati bagi kita dan bangkit dari kematianNya, ketakutan kita atas kematian telah diubah menjadi sebuah pengharapan. Hal ini terjadi ketika kita menerima Dia sebagai Juruselamat pribadi kita. Ini adalah jalan yang terbaik untuk menghadapi pertemuan yang tak terelakkan dengan kematian -- VCG

BILA SAAT KEMATIAN TIBA INGATLAH SEMUA HAL YANG TELAH ANDA PERBUAT

Sumber: Renungan Harian

Sabtu, 16 April 2022

Belajar Memercayai Yesus Kristus

Bacaan Alkitab hari ini:
Yohanes 11:1-44

Saat mendapat berita dari Maria dan Marta bahwa Lazarus—saudara mereka—sakit, Yesus Kristus mengatakan bahwa penyakit itu tidak akan membawa kematian, melainkan akan menyatakan kemuliaan Allah. Dua hari kemudian, barulah Ia berangkat bersama dengan murid-murid-Nya menuju ke Betania, tempat Lazarus tinggal. Saat hendak berangkat, Tuhan Yesus memberi tahu mereka bahwa sebenarnya Lazarus sudah meninggal. Saat mereka tiba di Betania, Lazarus sudah empat hari meninggal. Perkataan Marta, "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati." secara tidak langsung menyampaikan pesan bahwa kedatangan Tuhan Yesus itu terlambat, sehingga Lazarus tidak tertolong. Yang menarik, saat memberi tahu para murid-Nya bahwa Lazarus sudah mati, Yesus Kristus berkata bahwa "keterlambatan" itu baik bagi murid-murid-Nya, yaitu agar mereka "belajar percaya" (11:15). Tampaknya yang harus belajar percaya itu bukan hanya para murid, tetapi juga Marta dan Maria. Perkataan Marta yang menganggap kehadiran Tuhan Yesus terlambat itu mewakili pemikiran banyak orang percaya di sepanjang abad. Marta yakin bahwa Tuhan Yesus bisa menyembuhkan orang sakit, tetapi dia tidak yakin bahwa Yesus Kristus bisa membangkitkan Lazarus yang telah mati. Sama seperti Marta, banyak orang percaya bahwa Kristus sanggup menolong untuk masalah yang tidak terlalu berat, tetapi tidak yakin bahwa Ia bisa menolong bila masalah yang dihadapi lebih berat atau lebih rumit. Walaupun mulut kita bisa mengatakan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, tidak mudah bagi kita untuk memercayai bahwa Kristus benar-benar bisa mengatasi segala masalah kita. Oleh karena itu, mungkin kita perlu "belajar percaya" seumur hidup kita.

Apakah saat ini, Anda sedang menghadapi masalah berat? Apakah Anda yakin bahwa Allah sanggup mengatasi masalah tersebut? Ya, sudah semestinya kita meyakini bahwa Allah bisa mengatasi masalah apa pun! Akan tetapi, kita pun perlu ingat bahwa rencana Allah belum tentu seperti yang kita pikirkan! Dalam hikmat-Nya, mungkin saja Allah membiarkan kita mengalami kehilangan, kegagalan, kerugian, kekalahan, dan sebagainya untuk maksud tertentu yang menghasilkan kebaikan bagi diri kita. Kita perlu belajar memercayai Dia! Apakah Anda percaya bahwa Allah bisa memanfaatkan kondisi yang kita anggap buruk untuk kebaikan diri Anda? [GI Purnama]

Sumber: Renungan GeMA GKY

Jumat, 15 April 2022

TERTIKAM KARENA AKU

Bacaan: Yesaya 53

NATS: Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita (Yesaya 53:5)

Seorang pria yang sangat gelisah karena dosa-dosanya bermimpi melihat Yesus tengah dicambuk dengan biadab oleh seorang prajurit. Ketika cambuk keji itu menyentuh punggung Kristus, pria itu gemetar melihat tali cambuk yang tampak mengerikan, yang meninggalkan luka menganga di tubuh-Nya yang tampak bengkak dan bersimbah darah. Saat prajurit yang memegang cambuk itu mengangkat tangannya untuk mencambuk Tuhan kembali, pria itu maju ke depan untuk menghentikannya. Saat itulah prajurit itu menoleh, dan betapa terkejutnya ia ketika menatap wajah sang prajurit yang tak lain adalah dirinya sendiri! 

Ia bangun bermandikan keringat dingin. Ia tersadar betapa dosanya telah membuat Sang Juru Selamat menanggung hukuman memilukan. Tatkala merenungkan penderitaan Kristus, ia teringat firman dalam Yesaya 53:5, "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." 

Sungguh menakjubkan bahwa Tuhan Yesus Kristus telah menderita dan mati untuk menebus dunia yang penuh dosa dan terhilang ini! Dia tertikam karena pemberontakan kita. "Kita sekalian sesat seperti domba," namun puji Tuhan, "Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian" (Yesaya 53:6). 

Di satu sisi, Jumat Agung merupakan saat yang terkelam dalam sejarah manusia. Namun, karena pengurbanan Yesus bagi kita, sesungguhnya salib menjadi kemenangan terbesar sepanjang sejarah! --HGB 

KRISTUS DISERAHKAN UNTUK DOSA-DOSA KITA AGAR KITA DIBEBASKAN DARI DOSA-DOSA KITA

Sumber: Renungan Harian

Kamis, 14 April 2022

Kasih yang Tak Tergoyahkan

Bacaan Alkitab hari ini:
Yohanes 13:21-38

Perjamuan terakhir menjelang Paskah orang Yahudi yang diselenggarakan oleh Yesus Kristus bersama dengan murid murid-Nya berlangsung dengan sangat mengharukan. Beliau memberi teladan dalam melayani dengan menempatkan diri sebagai Pelayan yang mau membasuh kaki murid-murid-Nya secara sukarela. Dia sudah memberi pengumuman bahwa salah seorang murid-Nya akan mengkhianati Dia (13:21). Anehnya, saat Dia berkata kepada Yudas Iskariot, " Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera,"  ternyata tidak ada murid lain yang curiga bahwa Yudaslah si pengkhianat itu (13:27-28). Hal ini menunjukkan bahwa walaupun Yesus Kristus tahu bahwa Yudas Iskariot akan mengkhianati Dia, sikap-Nya terhadap Yudas Iskariot tidak berubah. Tidak ada nada suara kesal yang membuat murid-murid yang lain curiga. Kasih-Nya tak tergoyahkan! Jadi, dalam perjamuan tersebut, Tuhan Yesus telah memberi teladan dalam hal bersikap terhadap musuh. Berdasarkan standar kasih yang sedemikian tinggi, Tuhan Yesus menyampaikan pesan, " Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." 

Menghayati kasih Kristus kepada murid-murid-Nya itu penting karena kasih Kristus adalah standar bagi sikap saling mengasihi yang harus diwujudkan oleh komunitas orang percaya pada masa kini. Sama seperti Kristus bersedia membasuh kaki murid-murid-Nya, demikian pula komunitas orang percaya seharusnya merupakan komunitas yang saling melayani dan saling mengutamakan orang lain, bukan komunitas yang saling berebut kekuasaan. Sama seperti Tuhan Yesus tetap mengasihi Yudas Iskariot yang jelas merupakan seorang pengkhianat, demikian pula orang percaya harus mengasihi semua orang yang berinteraksi dengan dirinya, termasuk mereka yang sikapnya sangat menjengkelkan. Dalam masa pandemi yang kita jalani saat ini, mengasihi merupakan tantangan yang sangat berat. Kita bukan hanya perlu mengembangkan sikap toleran, tetapi kita juga perlu mengembangkan sikap hati yang mau memikirkan—bahkan mengutamakan—kepentingan orang lain. Apakahcara hidup Anda telah mengungkapkan kepedulian dalam komunitas orang percaya? Apakah Anda mau menerima—bahkan tetap mengasihi—orang-orang yang bersikap memusuhi atau yang sikapnya menjengkelkan diri Anda? [GI Purnama] 

Sumber: Renungan GeMA GKY

Rabu, 13 April 2022

Cemas akan Penilaian Orang

Bacaan: 1 KORINTUS 4:1-5

Bagiku tidak begitu penting entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiri pun tidak kuhakimi. (1 Korintus 4:3)

Salah satu sumber ketidakbahagiaan manusia adalah penilaian yang diberikan oleh orang lain. Banyak orang menjadi sedih, penat, digerogoti kekecewaan, bahkan terpuruk akibat terngiang-ngiang memikirkan penghakiman, kritik tajam, olok-olok, dan penghinaan orang lain.

Paulus, hamba Kristus yang kenyang cemooh, penghinaan, fitnahan, dan ucapan penghakiman yang kasar dan menusuk hati. Korespondensi dengan jemaat Korintus mencerminkan kenyataan ini. Namun ia tangguh, sebab dirinya selalu berdiri di atas landasan kasih karunia Allah. Baginya, kalau Allah-Sang Hakim Sejati -berkarunia kepada kita, mengapa kita begitu "sibuk" memedulikan penilaian manusia, termasuk dari diri sendiri (ay. 3). Dengan mantap Paulus berpijak di atas fondasi kasih karunia Allah dan memusatkan perhatian pada pelayanan yang dipercayakan kepadanya.

Pendapat dan penilaian orang lain bukan tidak penting. Tetapi, lihatlah dulu siapakah mereka sehingga sedemikian berkuasa menentukan kebahagiaan dan ketenangan kita? Mereka mungkin tahu hanya secuil tentang kita. Komentarnya mungkin terlontar serampangan dan sesudah itu tak melekat di benaknya lagi karena ia sudah repot dengan urusannya sendiri. Sebagian orang usil yang tak pernah sungguh-sungguh memikirkan kita. Jangan sampai fokus dan tujuan hidup kita dikacaukannya. Abaikan saja! Bukankah lebih baik memikirkan hal-hal yang positif dan berguna? Jangan menyerahkan kendali kebahagiaanmu ke mulut orang lain! www.renunganharian.net

ANDA TIDAK AKAN TERLALU CEMAS OLEH APA YANG ORANG LAIN
PIKIRKAN TENTANG DIRIMU KALAU ANDA TAHU BETAPA JARANGNYA ITU MEREKA LAKUKAN - ELEANOR ROOSEVELT

Selasa, 12 April 2022

KEMURAHAN HATI ALLAH

Bacaan: Yudas 20-25

NATS: Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan (Matius 5:7)

Ada sebuah legenda tentang seorang rabi yang menyambut seorang pelancong yang letih untuk beristirahat semalam di rumahnya. Setelah mengetahui bahwa tamunya berusia hampir seratus tahun, rabi itu bertanya tentang keyakinan agamanya. Tamunya menjawab, "Saya seorang ateis." Dengan marah rabi itu mengusir tamunya dan berkata, "Saya tidak dapat menampung seorang ateis di rumah." Tanpa sepatah kata pun lelaki tua itu berjalan tertatih ke arah kegelapan jalan.

Rabi itu sedang membaca Kitab Suci ketika ia mendengar suara, "Anak-Ku, mengapa engkau mengusir lelaki tua itu?"

"Karena ia seorang ateis, dan saya tidak dapat menerimanya bermalam!"

Suara itu menjawab, "Aku telah menerimanya selama hampir seratus tahun." Rabi itu bergegas keluar, membawa lelaki tua itu kembali, dan memperlakukannya dengan ramah.

Jika kita memperlakukan orang yang belum percaya dengan penghinaan, berarti kita tidak melayani Allah. Dia ingin kita mengasihi mereka sebagaimana Dia mengasihi kita. Yudas berkata, "Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal. Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu...tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa" (ayat 21-23). Kita tetap dapat mengasihi orang berdosa walaupun kita membenci dosa mereka.

Kemurahan hati Allah yang berkelimpahan terhadap kita merupakan motivasi bagi kita untuk bermurah hati kepada orang lain [HVL]

LEBIH BAIK MEMBERIKAN HATI ANDA
DARIPADA PIKIRAN ANDA KEPADA ORANG LAIN

Sumber: Renungan Harian

Senin, 11 April 2022

MENUNGGU DENGAN SABAR

Bacaan: 1Samuel 1:1-18

NATS: Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia (Mazmur 37:7)

Saya yakin Anda pasti pernah mengalaminya. Anda menelpon sebuah toko atau kantor dan minta disambungkan dengan bagian bagian tertentu. "Dapatkah Anda menunggu?" terdengar suara yang ramah bertanya, dan sebelum Anda menyadarinya, Anda telah mendengar suara musik. Seringkali pesan-pesan yang direkam menjamin bahwa telpon Anda akan dijawab. Anda menunggu dan terus menunggu, Anda kemudian berpikir, Kalau saja saya ke sana, pasti sekarang sudah kembali lagi! Anda merasa dilupakan dan tidak ada yang peduli.

Kadang-kadang Allah seperti membiarkan kita menunggu. Kita berdoa dan terus berdoa untuk segala sesuatu yang sangat penting, namun tak ada perubahan apa-apa. Tidak ada!

Saya yakin bahwa Hana juga merasakan hal yang demikian. Ia meminta Allah memberinya seorang anak. Keadaan tanpa anak pada masa Hana diyakini sebagai suatu kutukan. Lebih parah lagi, istri lain dari suaminya selalu menertawai keadaannya. Hana sungguh-sungguh ingin memberikan seorang anak kepada suaminya. Dan dalam penderitaannya ia berdoa. Tahun demi tahun berlalu dan ia tidak bisa memahaminya.

Bagaimana kita dapat memahami dan menerima bila Allah sepertinya diam dengan doa-doa kita? Ingatlah bahwa kebijaksanaan Allah melampaui pemahaman kita. Apa yang kita minta mungkin saja akan merugikan kita. Kita tidak dapat melihatnya secara keseluruhan. Waktu kita bukanlah waktu Allah.

Ketika Allah menyuruh Anda "menunggu," janganlah bersungut-sungut. Anda dapat mempercayakan kerinduan dan keinginan Anda kepadaNya, dan dengan sabar menanti jawabanNya -- DCE

BILA ALLAH MEMINTA KITA UNTUK MENUNGGU JANGAN PUTUSKAN HUBUNGAN DENGANNYA!

Sumber: Renungan Harian

Minggu, 10 April 2022

ALAM SEMESTA MENDUKUNG

[[Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. ]] (Roma 8:28)

Samuel, anak balita saya, senang sekali ikut-ikutan membantu istri saya kalau sedang membuat kue. Tentu terkadang tidak jelas apakah itu membantu atau merecoki. Ia ikut-ikutan mengumpulkan bahan, mengaduk, menaruh hiasan, dan lain-lain. Setelah semua adonan dicampur, diaduk, dipanggang, jadilah kue yang lezat.

Saya membayangkan bagaimana jadinya andaikata saya memberikan bahan-bahan kue itu satu per satu kepada Samuel untuk dimakan. Sesendok terigu dimakan duluan. Lalu, gula. Kemudian, sesendok telur mentah, dan seterusnya. Menggelikan, bukan? Saya tidak dapat berkata, “‘kan sama saja di dalam perut nanti juga tercampur semuanya.”

Demikian pula dengan kehidupan kita. Ada banyak kejadian yang kalau berusaha kita “telan” satu per satu akan terasa tidak enak dan tidak masuk akal. Kita harus melihat semua itu sebagai bagian dari adonan kue, yang ketika semua bahannya tercampur lengkap, dan Tuhan masukkan “ke dalam oven”, akhirnya menjadi kue yang enak.

Allah mengatur agar segala sesuatu bekerja bagi kebaikan kita. Bahasa aslinya memakai kata panta synergei . Panta artinya segala sesuatu, synergei artinya bekerja bersama. Dengan kata lain, seluruh alam semesta digerakkan oleh Allah untuk mengerjakan kebaikan bagi kita. Luar biasa, bukan? Kejadian-kejadian yang pahit, susah, senang, mudah, semuanya itu bukan kebetulan, melainkan terjalin dalam suatu rancangan rumit yang digerakkan oleh Allah yang mengasihi kita untuk kebaikan kita semata. (Henry Sujaya Lie)

Sumber: Amsal Hari Ini 

Sabtu, 09 April 2022

Pendapat Tuhan adalah yang Paling Penting

Bacaan Hari ini:
Amsal 29:25 “Takut kepada orang mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, dilindungi.”

Setiap kali Anda mengambil keputusan berdasarkan apa yang akan dipikirkan oleh orang lain, Anda sedang menabur benih kegagalan dalam hidup Anda.

Ketika Anda mengkhawatirkan apa yang dipikirkan oleh orang lain, kemungkinan besar Anda melakukan apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang, meski Anda tahu itu salah. Anda membuat komitmen-komitmen yang tidak mungkin Anda tepati karena motivasi Anda di baliknya ialah untuk menyenangkan semua orang. Itulah resep kegagalan.

Itulah salah satu alasan Petrus mengecewakan Yesus dengan menyangkal Dia sebanyak tiga kali. Dia lebih peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain daripada tetap setia kepada Yesus.

Alkitab berkata, “Dan Petrus mengikuti Dia dari jauh sampai ke halaman Imam Besar, dan setelah masuk ke dalam, ia duduk di antara pengawal-pengawal untuk melihat kesudahan perkara itu. Sementara itu Petrus duduk di luar di halaman. Maka datanglah seorang hamba perempuan kepadanya, katanya: ”Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu.” Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: “Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud” (Matius 26:58, 69-70).

Petrus baru saja menghabiskan tiga tahun mengikut Yesus, Anak Allah. Tetapi saat kali pertama ia punya kesempatan untuk menyatakan hak istimewanya, Petrus malah menyangkal Yesus. Petrus lebih mengkhawatirkan apa yang akan dipikirkan orang lain, ketimbang Yesus. 

Pikirkan berapa kali Anda punya kesempatan untuk berbagi tentang Kristus tapi ternyata malah tidak  berkata apa-apa sebab Anda khawatir dengan apa yang akan dipikirkan orang lain.

Pendapat siapa yang lebih penting buat Anda selain pendapat Tuhan? Ketika Anda membiarkan orang lain menjadi lebih penting daripada Tuhan, maka orang itu berubah fungsinya menjadi Tuhan Anda. Itu yang disebut berhala—dan itu adalah jebakan menuju kegagalan.

Ketakutan akan ketidaksetujuan dari orang lain selalu berasal dari luka yang tersembunyi. Mungkin itu adalah penolakan di masa lalu. Mungkin juga kebutuhan yang tidak terpenuhi atau trauma yang masih Anda simpan hingga sekarang. Itu merupakan luka yang dalam, begitu dalam sehingga tersembunyi di dalam diri Anda. 

Rasa sakit di jiwa itu selalu berkaitan dengan jati diri Anda. Jika Anda tidak tahu siapa Anda, maka Anda akan dimanipulasi oleh ketidaksepakatan orang lain sepanjang hidup Anda. Anda tidak akan membela apa yang Anda yakini atau melakukan apa yang benar.

Alkitab berkata dalam Amsal 29:25, “Takut kepada orang mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, dilindungi.” Ketika Anda mengenali luka tersembunyi dalam hidup Anda, maka Tuhan akan mulai menyembuhkannya. Dan Anda dapat hidup merdeka lewat mengetahui bahwa pendapat Tuhanlah yang paling berarti. 

Renungkan hal ini: 
- Apa yang akan Anda lakukan hari ini untuk memulai kebiasaan belajar Alkitab yang lebih baik agar Anda dapat percaya diri di dalam identitas Anda yang telah dirancangkan Kristus?
- Luka tersembunyi apa yang membuat Anda takut tidak akan disepakati oleh orang lain? Jika Anda bingung, mintalah Tuhan untuk membantu Anda mengetahuinya dan mintalah Dia untuk mulai menyembuhkan luka itu hari ini.

Anda mungkin tak menyadarinya, tapi ketakutan akan tidak mendapatkan persetujuan dari orang lain menyebabkan lebih banyak masalah dalam hidup Anda dibanding hal lainnya. 

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Jumat, 08 April 2022

Bersaksi Itu Sederhana!

Bacaan Alkitab hari ini:
Yohanes 9

Bersaksi itu tidak persis sama dengan memberitakan Injil. Injil adalah kabar baik tentang Tuhan Yesus, bukan berita tentang pengalaman kita. Memberitakan Injil adalah menyampaikan kabar baik tentang Tuhan Yesus, sedangkan bersaksi adalah menceritakan apa yang kita alami kepada orang lain. Dalam konteks Kristen, bersaksi adalah menceritakan kepada orang lain pengalaman kita yang berkaitan dengan Kristus. Kesaksian kita bisa menjadi jembatan bagi kita untuk memberitakan Injil kepada orang lain. Dalam bacaan Alkitab hari ini, Tuhan Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir. Tidak ada obat yang bisa membuat orang yang buta sejak lahir bisa melihat. Yang bisa dilakukan oleh pengobatan modern untuk membuat orang buta bisa melihat adalah mencangkokkan mata yang sehat ke mata orang buta. Oleh karena itu, penyembuhan yang dilakukan Tuhan Yesus terhadap orang buta itu merupakan suatu mujizat. Kesembuhan orang buta itu adalah sesuatu yang jelas terlihat oleh orang lain, sehingga membuat para tetangganya bertanya kepadanya, "Bagaimana matamu menjadi melek?" Pertanyaan inilah yang membuat orang yang semula buta itu bisa bersaksi tentang apa yang dilakukan Tuhan Yesus yang akhirnya membuat dirinya bisa melihat.

Selain bersaksi tentang pengalaman kesembuhan, kita bisa bersaksi tentang berbagai peristiwa lain yang menunjukkan apa yang telah Kristus kerjakan dalam hidup kita. Bersaksi adalah menceritakan pengalaman kita yang berhubungan dengan Allah. Sebagai contoh, kita bisa bersaksi tentang perubahan yang terjadi dalam hidup kita setelah kita mengenal Kristus. Kita bisa bersaksi tentang pengalaman ditolong Tuhan saat menghadapi bahaya maut. Kita bisa bersaksi tentang pengalaman memperoleh jawaban doa, dan sebagainya. Bagi orang buta yang disembuhkan Tuhan Yesus, bersaksi bisa berwujud perkataan,  "... satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat." (9:25). Semua pengalaman di atas merupakan jembatan yang bisa dipakai untuk menyampaikan kabar baik tentang Yesus Kristus.

Bersaksi itu sederhana! Bersaksi adalah menceritakan pengalaman Anda bersama dengan Kristus kepada orang lain. Pengalaman apa yang pernah Anda alami—bersama dengan Kristus—yang bisa Anda ceritakan kepada orang lain? Apakah Anda pernah menceritakan pengalaman Anda itu kepada orang lain? [GI Purnama]

Sumber: Renungan GeMA GKY

Kamis, 07 April 2022

Kebohongan, Senjata Iblis untuk Membuat Manusia Jatuh Dalam Dosa

Matius 7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

Pembalap sepeda jalan raya professional Lance Armstrong mengaku melakukan kecurangan untuk meraih kemenangan. Meski skandal tersebut sudah lama muncul, ini adalah pertama kalinya dia menyangkal tuduhan itu. Saya membaca laporan wawancara dan kemudian merasa marah karena contoh buruk yang dia berikan untuk calon atlet. Mereka akan terganggu karena kurangnya penyesalan dari Lance Armstrong.

Kemudian tiba-tiba Tuhan berbisik, “Kamu sama seperti Lance Armstrong.” Dan terjadi pecakapan seperti ini antara diriku dan Tuhan.

“Aku? Tidak, aku tidak sama sepertinya.”

“Ingat pelajaran Bahasa Latin di SMA?”

“Oh itu...”

Kecurangan itu dimulai dengan polos. Kejadian itu dimulai saat kelas mengadakan kuis dan guru kami sudah rabun. Salah satu murid perempuan menyelipkan bukunya di laci meja dan mencari jawabannya. Melihat hal itu, beberapa murid di kelas juga melakukan hal yang sama. Awalnya saya tidak ingin melakukan hal yang sama sampai akhirnya saya gagal. Jika semua orang melakukannya, mengapa saya tidak?

Kemudian sebelum ujian, kami semua dikeluarkan dari kelas karena nilai kami dinilai aneh. Yang mulai mencontek adalah kami semua. Aku malu, dan marah. Mengapa dia mengekspos kami tanpa peringatan, tanpa memberi kami kesempatan untuk berhenti? Saya telah ditangkap dan dosa saya telah diketahui semua orang.

“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta,” Yohanes 8:44.

Setan itu licik, Dia meyakinkan kita bahwa dosa itu baik-baik saja selama kita tidak ketahuan. Dia berbisik, “Lakukan saja, kamu aman. Tidak ada yang akan tahu.” Jadi kami beralasan tidak ada yang salah dengan dosa kecil.

Ingat ini, jangan pernah tertipu oleh bapa kebohongan. Dosa adalah dosa, dan semua dosa adalah sama. Tidak ada dosa kecil maupun dosa besar, setiap dosa memiliki konsekuensi yang sama, yakni terpisah dari Allah.

Bukankah kita sama seperti Lance Armstrong? Kita melakukan kecurangan dan tidak ketahuan. Kita melihat orang lain, mengukur dosa kita dengan dosa mereka, dan berpikir apa yang kita lakukan tidak lebih buruk dari yang dilakukan oleh orang lain. Mungkin penipuan terbesar dari dosa adalah kebohongan yang kita katakan pada diri sendiri untuk membenarkan tindakan dan sikap kita. satu-satunya cara untuk menghindari menipu diri sendiri adalah dengan mehindari lereng kebohongan.

Dosa memiliki efek seperti bola salju. Sekali berbohong, baik itu berbohong pada diri sendiri maupun orang lain, Anda membutuhkan kebohongan lain untuk menutupi kebohongan pertama.

Kakek saya adalah orang yang bijaksana. Salah satu ajaran hidupnya adalah “Jika Anda mengatakan yang sebenarnya, Anda tidak perlu mengingat apa yang Anda katakan.”

Dengan kata lain, jika Anda berbohong, Anda harus mengingat kebohongan itu sehingga Anda dapat memastikan bahwa Anda harus melindungi kebohongan itu dengan kebohongan yang lain. Sebagian besar dari kita tidak cukup pintar untuk menjaga kebohongan dalam waktu yang lama. Lagipula itu adalah dosa yang menjauhkan kita dari Tuhan.

Mulai hari ini, buatlah upaya untuk mengubah hal-hal dalam hidup Anda yang selama ini Anda anggap sebagai dosa “kecil.” Mintalah bantuan Tuhan. Satu langkah pertama dalam mengatasi dosa adalah mengakui apa yang Anda lakukan adalah dosa, dan itu salah. Kemudian bertobat.

Mungkin kita marah karena dosa orang lain, namun kita semua sama ternodanya seperti Lance Armstrong, pengendara sepeda yang meraih banyak medali dengan kecurangan.

Akui saja, dan kemudian maju dengan kejujuran, percaya bahwa Anda dapat berubah melalui kuasa dan kehadiran Roh Kudus. Tuhan tidak mengharapkan kita untuk menjadi sempurna, tetapi Dia mengharapkan kita untuk berusaha menjadi lebih seperti Dia.

Hak cipta oleh Candy Arrington 2013. 

Rabu, 06 April 2022

Dan yang Tujuh Lainnya

Sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, Tuhan yang Mahamulia, janganlah kalian membeda-bedakan orang berdasarkan hal-hal lahir. –Yakobus 2:1 (BIS)

Ayat Bacaan & Wawasan:
Yakobus 2:1-4

Pada Januari 2020 terjadi musibah di dekat Los Angeles ketika sembilan orang tewas dalam kecelakaan helikopter. Kebanyakan berita tentang peristiwa tersebut diawali dengan pernyataan seperti ini: “Bintang NBA Kobe Bryant, putrinya Gianna (“Gigi”), dan tujuh orang lainnya tewas dalam kecelakaan tersebut.”

Memang wajar dan bisa dimengerti jika perhatian diarahkan kepada sosok terkenal yang menjadi korban dalam musibah mengerikan seperti ini. Kematian Kobe dan putrinya yang masih remaja, Gigi, sungguh meremukkan hati. Namun, kita harus ingat bahwa dalam kehidupan ini, sesungguhnya tidak ada yang membedakan “tujuh orang lainnya” (Payton, Sarah, Christina, Alyssa, John, Keri, dan Ara) dan membuat mereka menjadi kurang penting.

Terkadang kita perlu diingatkan bahwa setiap manusia itu penting di mata Allah. Dunia senang menyoroti orang-orang yang kaya dan terkenal. Namun, ketenaran tidak membuat seseorang lebih penting daripada tetangga di sebelah rumah Anda, anak-anak yang bermain di depan rumah Anda, kaum tunawisma yang kurang beruntung, atau Anda sendiri.

Setiap orang di dunia diciptakan dalam gambar Allah (Kej. 1:27), baik kaya maupun miskin (Ams. 22:2). Allah memperlakukan semua orang sama (Rm. 2:11), dan semua orang membutuhkan Juruselamat (3:23).

Kita memuliakan Allah yang mahabesar ketika kita menolak bersikap pilih kasih, baik dalam gereja (Yak. 2:1-4) maupun di tengah masyarakat (Dave Branon).

Renungkan dan Doakan
Apa yang dapat Anda lakukan untuk menunjukkan kasih kepada siapa saja, baik miskin maupun kaya, terkenal maupun tidak? Bagaimana Yesus telah menunjukkan kasih seperti itu?

Bapa di surga, tolonglah aku untuk menunjukkan kasih dan kebaikan kepada semua orang, apa pun keadaan mereka dalam hidup ini.

Sumber: Our Daily Bread

Selasa, 05 April 2022

 YA, TUHAN!

Bacaan: Yohanes 14:15-21

NATS: Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku (Yohanes 14:21)

Pemilik sebuah bisnis di dekat rumah saya di Texas sering menaruh sebuah ayat Alkitab atau kalimat yang memancing pemikiran pada sebuah papan di luar gedung kantornya. Saya menghargai kesaksian bagi Kristus secara terbuka dan berterima kasih kepada pemiliknya atas hal itu. Beberapa hari yang lalu tatkala saya mengemudikan mobil melewatinya, saya melihat papan itu hanya berisi dua kata, "Ya, Tuhan."

Sementara saya mengurus berbagai keperluan pagi hari itu, kata-kata tersebut tetap tinggal dalam pikiran saya. Adakah situasi yang tidak sesuai bagi penerapan kata-kata itu? Saya tak dapat menemukan satu pun. Betapa Yesus akan sangat bersukacita bila saya memulai setiap hari dengan dua kata itu!

"Ya, Tuhan. Saya merasa puas dengan kedudukan saya sekarang dan tidak berharap memiliki kedudukan lain." "Ya, Tuhan. Saya mempercayakan ketidakpastian yang mengganggu pikiran saya kepada-Mu." "Ya, Tuhan. Saya membuka hati dan tangan saya dengan kemurahan hati yang penuh sukacita yang berkenan kepada-Mu."

Yesus berkata, "Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya" (Yohanes 14:21). Tidak ada beban karena kewajiban dalam hal ini; hanya tanggapan kasih yang penuh kerinduan.

Jalan keluar bagi setiap kesulitan yang kita hadapi pada hari ini dimulai dengan jawaban yang penuh keyakinan terhadap Juruselamat kita: "Ya, Tuhan!" [DCM]

ANDA TIDAK MUNGKIN SALAH JIKA ANDA MEMILIH UNTUK MENTAATI KRISTUS

Sumber: Renungan Harian

Senin, 04 April 2022

PENGELOLA, BUKAN PEMILIK

Bacaan: Mazmur 95:1-11

NATS: Sebab dari padaMulah segala-galanya dan dari tanganMu sendirilah persembahan yang kami berikan kepadaMu (1Tawarikh 29:14)

John Hauberg dan istrinya tinggal di sebuah rumah yang mempesona di Seattle. Hampir seluruh bangunan luar dan dalam terbuat dari kaca. Ratusan karya seni yang terbuat dari kaca menghiasi ruangan yang terang benderang, dan bahkan bak cuci, rak-rak dan rak di atas tungku terbuat dari kaca.

Anda mungkin berpikir bahwa suami istri Hauberg ini selalu diliputi oleh perasaan takut karena kuatir ada saja benda yang akan pecah. Namun sebaliknya, mereka bahkan mengundang para pengunjung untuk berkeliling dengan bebas di seluruh ruangan. Hauberg adalah seorang peneliti karya seni asli bangsa Amerika, tetapi ia menyumbangkan seluruh koleksinya kepada Museum Seni Seattle. Motivasinya bukanlah menimbun barang, tetapi untuk membagikannya. "Saya bukan pemilik," katanya. "Saya adalah seorang pengelola."

Komentar John Hauberg menggambarkan prinsip dasar Alkitabiah yang melekat pada seluruh kepemilikan kita: Kita bukanlah pemilik; kita adalah pengelola. Tentu saja kita adalah pemilik yang sah dari kepunyaan kita. Namun sebagai orang Kristen, kita disadarkan oleh Daud bahwa, "TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya (Mazmur 24:1).

Dengan penciptaan, Allah menopang semua yang ada di alam semesta, termasuk kita dan apapun yang kita miliki. Untuk sementara Dia mengizinkan kita untuk menggunakan semua sumber daya dalam dunia milikNya. Namun pada akhirnya, semua itu akan kembali kepadaNya. Apakah kita adalah pengelola milik Allah yang bijaksana dan murah hati? -- VCG

SATU-SATUNYA "BARANG" YANG AKAN HILANG DARI KITA ADALAH "BARANG" YANG TERUS KITA PERTAHANKAN

Sumber: Renungan Harian

Minggu, 03 April 2022

FIRMAN YANG TERABAIKAN

Bacaan: Mazmur 119:97-104

NATS: Firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya (Ibrani 4:2)

Para pemikir zaman kini cenderung terpengaruh oleh filsafat dari Sigmund Freud. Meskipun Freud mengaku seorang ateis, seringkali ia juga memikirkan hal-hal mengenai keagamaan, seakan-akan secara tanpa sadar ia dibayang-bayangi oleh Allah yang disangkalnya.

Ketika Freud berusia 35 tahun, ayahnya mengirimkan saduran surat Ibrani yang Freud pernah berikan kepadanya tatkala Freud masih anak-anak. Sigmund Freud telah membaca dan mempelajari buku tersebut, setidaknya untuk beberapa lama.

Dalam kitab tersebut terselip sebuah catatan dari ayahnya yang mengingatkan ia: "Roh Allah mulai menggerakkanmu dan berbicara di dalam hatimu: 'Pergi dan bacalah BukuKu yang telah Aku tulis dan akan ada semacam ledakan-terbuka sumber dari pengertian, pengetahuan, dan hikmat.'"

Tulisan ayahnya tersebut menyiratkan suatu pengharapan agar Freud, sebagai orang yang telah dewasa, sekali lagi bersedia membaca dan mentaati hukum Allah. Namun, kita tidak memiliki bukti, apakah Freud memasukkan nasihat ayahnya ke dalam hatinya atau tidak. Betapa akan berbeda hidup dan pengaruh darinya bila ia melakukan nasihat itu!

Bagaimana dengan kita saat ini? Marilah kita mengoreksi diri kembali, apakah kita telah mengesampingkan Alkitab yang pernah kita baca dan pelajari dalam kehidupan sehari-hari? Jika demikian, kita masih belum terlambat untuk kembali mencari hikmat dari Buku itu. Ya, dan terlebih penting lagi, kita masih belum terlalu terlambat untuk mulai percaya dan taat pada firman Allah yang tertulis itu -- VCG

ALLAH TIDAK AKAN MEMBUKA PINTU HIKMAT KEPADA MEREKA YANG SENANTIASA MENUTUP ALKITABNYA

Sumber: Renungan Harian

Sabtu, 02 April 2022

Tuhan ingin Anda Menjadi Diri Sendiri

Bacaan Hari ini:
Efesus 2:10 “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”

Tuhan tidak menciptakan Anda untuk menjadi orang lain. Ketika Anda tiba di surga, Dia tak akan bertanya mengapa Anda tidak seperti saudara perempuan Anda, ayah Anda, atau tetangga Anda. Tuhan menciptakan Anda spesial, dan Dia tidak ingin Anda berpura-pura menjadi seperti orang lain.

Dia ingin Anda menggunakan Anda sebagai diri Anda.

Alkitab berkata, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10).

Masalahnya, banyak orang mencoba menjadi orang lain. Mereka menjalani hidup untuk mendapat persetujuan dari orang lain. Ada juga yang berpikir bahwa Tuhan akan lebih mengasihi mereka apabila mereka bertingkah laku berbeda. Tapi sesungguhnya, kasih Tuhan tidak didasarkan pada hal itu. Dia tetap mengasihi Anda meski apa pun yang Anda lakukan.

Satu hal yang kerap menghambat seseorang untuk dipakai oleh Tuhan ialah takut menjadi orang Kristen yang sejati. Anda takut orang lain tidak menyukai Anda jika mereka tahu siapa Anda yang sesungguhnya, dan akibatnya Anda menjalani kehidupan yang penuh kekhawatiran. Tetapi Alkitab mengatakan, “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!” (Roma 8:15).

Penangkal dari kekhawatiran ialah Roh Kudus yang bekerja di dalam Anda. Ketika Anda menjalani hidup sebagai anak Allah, terlepas dari apa pun kesalahan dan kelemahan Anda, Anda merasa bebas untuk menjalani hidup seperti yang Tuhan kehendaki.

Tahukah Anda bahwa ketidaksempurnaan Anda sebenarnya adalah hal yang baik? Orang tidak tumbuh dari kekuatan; mereka tumbuh dari kelemahan. Menunjukkan hanya kekuatan Anda kepada dunia tidak akan membuat orang lain merasa dekat dengan Anda; itu mungkin malah membuat mereka cemburu atau menjauh. Namun ketika Anda mengakui ketidaksempurnaan Anda—ketika Anda menunjukkan siapa diri Anda- mereka semakin mendekatkan diri pada Anda.

Oleh sebab itu, Anda harus mengambil keputusan. Apakah Anda siap untuk menjadi orang Kristen sejati? 

Renungkan hal ini:  

- Dalam situasi-situasi apa di mana Anda tergoda untuk menjadi seseorang yang bukan diri Anda sendiri?

- Sedang berada di level kekhawatiran apakah Anda saat ini? Bagaimana fakta bahwa Anda adalah anak Allah membantu Anda untuk lebih menjalani hidup sebagai orang Kristen sejati?

- Kapan terakhir kali seseorang mengungkapkan kelemahannya kepada Anda? Bagaimana perasaan Anda terhadap mereka? Bagaimana sebaliknya ketika Anda jujur ??

Anda dihadapkan pada dua pilihan: terjebak dan diperbudak oleh rasa takut, atau menjadi diri Anda yang sejati dan menikmati hal-hal baik yang telah Tuhan rancangkan atas Anda sejak lama.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Jumat, 01 April 2022

Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa. [Matius 26:39]

Ada beberapa pelajaran dalam doa Juruselamat kita di saat-saat ujian-Nya. Doa-Nya dalam kesendirian. Dia menarik diri bahkan dari tiga murid yang paling dikasihi-Nya. Orang percaya, banyak-banyaklah berdoa sendirian, terutama saat terkena ujian. Doa keluarga, doa sosial, doa di Gereja, tidak akan cukup. Semua itu memang sangat berharga, tetapi rempah-rempah olahan yang terbaik akan berbau wangi di pedupaanmu melalui pengabdian pribadimu, di mana tidak ada telinga lain yang mendengar selain telinga Allah.

Doa-Nya rendah hati. Lukas mengatakan Dia berlutut, tapi penginjil yang lain mengatakan bahwa Ia "bersujud sampai wajah-Nya menyentuh tanah." [Matius 26:39, KJV] Jika demikian, di mana seharusnya tempatmu, engkau hamba remeh dari Sang Tuan Agung? Betapa debu dan abu harus menutupi kepalamu! Kerendahan hati adalah tumpuan kaki yang baik dalam doa. Tidak mungkin kita dapat terus bersama Allah kecuali kita merendahkan diri kita sehingga mungkin Dia meninggikan kita pada waktunya.

Doa-Nya kekeluargaan. "Abba, ya Bapa." [Roma 8:15] Dengan menagih bahwa engkau sudah dijadikan salah satu anak Allah, engkau akan mendapati Bapa sebagai benteng pada hari ujian. Engkau tidak lagi memiliki hak sebagai subyek, karena engkau telah kehilangan hak itu karena pengkhianatanmu; namun tidak ada yang dapat mengambil dari seorang anak hak atas perlindungan ayahnya. Jangan takut berkata, "Bapaku, dengarlah seruanku."

Perhatikanlah bahwa doa-Nya tekun. Dia berdoa tiga kali. Jangan berhenti sampai engkau menang. Jadilah seperti janda yang terus mendesak, yang terus-menerus datang sehingga ia diterima meskipun ketika pertama kali memohon, ia tidak dikabulkan. Tetaplah berdoa [1 Tesalonika 5:17], dan bertekunlah juga di dalam ucapan syukur.

Terakhir, doa-Nya merupakan penyerahan diri. "Tetapi, janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." Berserah, dan Allah akan memberikan. Biarlah yang terjadi adalah kehendak Allah, dan Allah yang akan menentukan yang terbaik. Puaslah engkau menyerahkan doa-Mu ke dalam tangan-Nya yang tahu kapan harus memberi, dan bagaimana memberi, dan apa yang harus diberi, dan apa yang harus ditahan. Jadi dengan memohon, dengan sungguh-sungguh, terus-menerus, namun rendah hati dan berserah, engkau pasti menang.

Sumber: Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).