AIR MATA
[[Setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku. ]] (Mazmur 6:7)
“Jangan menangis!” bentak seorang ayah kepada anaknya. “Menangis itu tanda ORANG tidak beriman, tahu! Orang Kristen harus tetap tersenyum sekalipun mengalami pergumulan berat!” sambungnya. Maka setiap kali menghadapi masalah, anak itu akan selalu berusaha menegarkan diri, berpura-pura kuat, atau berusaha melupakan masalah yang dihadapinya dengan menenggelamkan diri dalam kesibukan. Bila ia ditanya: “Apa kabar?”, selalu jawabnya, “Baik!” Akibatnya, hatinya menjadi makin keras. Ia tidak dapat memahami penderitaan orang lain, dan hidupnya pun berantakan.
Pemazmur, ketika badai melanda hidupnya, tidak segan-segan menampilkan diri apa adanya. Sebagai orang yang lemah dan rapuh ia membiarkan air matanya bercucuran (ayat 7). Namun, bukan menangis ngawur sebab ia mengarahkan air matanya kepada Tuhan. Hasilnya, Tuhan mengubah air matanya menjadi mata air; menjadi kekuatan yang luar biasa sehingga sekalipun badai hidup itu belum mereda, ia dapat menghadapinya dengan iman yang teguh.
Air mata bukan sesuatu yang memalukan, bukan tanda kelemahan sehingga harus ditahan atau diabaikan. Air mata adalah anugerah Tuhan yang bila dipakai dengan benar justru menjadi alat untuk melepaskan emosi-emosi negatif yang timbul karena berbagai masalah yang menimpa hidup kita sehingga kita bisa tetap “waras” dan kondusif untuk bertumbuh dan berbuah.
Dengan demikian, apabila hari ini badai kehidupan menerpa Anda, jangan ragu untuk menangis di hadapan Tuhan. Dia pasti sanggup mengubah air mata Anda menjadi mata air yang menyegarkan.
(Ruth Retno Nuswantari)
Sumber: Amsal Hari Ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar