Selasa, 08 Juni 2021

Jangan Menghakimi!

Bacaan: Roma 14:1-12

”Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.” (Roma 14:4)

Sadar atau tidak sadar, banyak dari kita sebagai orang Kristen yang menjadi hakim atas orang lain. Kita merasa bahwa pola pikir kita adalah paling benar sehingga ketika orang lain tidak sejalan dengan apa yang kita pikirkan, dengan serta-merta kita menghakimi bahwa orang itu salah dan aku yang benar.

Selain itu juga terkadang kita menghakimi berdasarkan hati nurani kita padahal suara hati nurani tidaklah begitu baik, sehingga berbahaya jika menurutinya untuk menghakimi orang lain.

Penghakiman seperti di atas sangatlah berbahaya karena dapat mengalihkan perhatian kita untuk mengoreksi diri sendiri. Seharusnya dengan rendah hati kita bisa menerima setiap koreksi dan kritik yang ditujukan kepada kita, namun karena kita merasa diri paling benar dan sudah menjadi "hakim” maka kita akhirnya kita menjadi begitu sombong dan tinggi hati.

Saudara, ketika kita menghakimi itu berarti kita merebut tugas Allah. Dalam 1 Petrus 2:23 dikatakan, "Ketika la dicaci maki, la tidak membalas dengan caci maki, ketika la menderita. la tidak mengancam, tetapi la menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil." Yesus saja tidak menghakimi melainkan menyerahkannya kepada Allah yang adil. Siapa kita sehingga kita berani menghakimi orang lain? Tetapi mengapa begitu banyak orang Kristen yang sok menjadi hakim?

Marilah kita belajar untuk tidak mudah menuding jari ini dan menyalahkan orang lain. Dosa ini memang diturunkan dari Adam dan Hawa. Bukankah Adam menuding Hawa dan Hawa menuding ular sebagai biang kerok kejatuhan mereka? Mereka memang mudah menuding, tetapi mengakui kesalahan itu yang susah dilakukan.

Renungan :
Pelajaran pertama untuk menjadi Kristen yang baik adalah jangan menjadi hakim. Jangan mencari kelemahan orang lain dan jangan menuding kesalahan orang lain. Orang itu sendiri yang akan berurusan dengan Tuhan.

Kita adalah pewarta keselamatan, dan bukannya pencari kesalahan orang lain.

Sumber: Renungan Bethany Graha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar