IBADAH TIDAK BERBUAH
[[Maka kata-Nya kepada pohon itu: "Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!" Dan murid-murid-Nya pun mendengarnya. ]] (Markus 11:14)
Suatu hari Minggu, seorang bapak bergegas menuju ke gereja. Ia berpakaian rapi dengan Alkitab digenggam di tangannya. Ia sudah agak terlambat. Ketika sampai di gerbang gereja, karena sangat terburu-buru, ia menabrak pak tua tukang parkir. Tabrakan itu menyebabkan bajunya kotor dan Alkitabnya terpental jatuh. Bapak itu sangat marah. Ia mengeluarkan sumpah serapah dan hampir memukul si pak tua.
Sambil membungkuk dengan hormat, pak tua tukang parkir berkata, "Pak, saya tidak tahu siapakah di antara kita yang bersalah, tapi saya tidak mau membuang waktu untuk menyelidikinya. Jika saya yang menabrak Anda, saya minta maaf yang sebesar-besarnya; jika Anda yang menabrak saya, tidak apa-apa, saya memaafkan." Kemudian, sambil tersenyum ia beranjak pergi dan menjalankan tugasnya kembali sebagai tukang parkir di depan gereja.
Pertama-tama, ibadah bukan berbicara tentang menjalankan serentetan aturan keagamaan, melainkan juga tentang menjalani kehidupan sehari-hari dalam tindakan dan tutur kata. Sungguh percuma jika seseorang itu tekun menjalankan aturan-aturan keagamaan namun praktek kehidupannya sehari-hari penuh tipu daya; di mulut senang menyebut nama Tuhan dan mengutip ayat Alkitab, tetapi di dalam hatinya penuh iri dengki dan sumpah serapah; rajin ke gereja namun tingkah polahnya tidak lebih baik dari preman jalanan.
Orang demikian di dalam bacaan Alkitab hari ini digambarkan seperti pohon ara yang berdaun lebat namun tidak berbuah. Reaksi Tuhan Yesus terhadap pohon ara itu sangat keras. Semoga kita dijauhkan dari sikap serupa itu (Ayub Yahya).
Sumber: Amsal Hari Ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar