SABAT
[[Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, ... berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya. ]] (Kejadian 2:3)
Kita ciptakan kartu kredit yang bikin dilema
Menghabiskan uang yang tak kita punya
Membeli tanpa pikir jadi gaya hidup kita
Ke mal setiap Minggu untuk berbelanja
Tahun 2003, Shania Twain merilis sebuah lagu berjudul Ka-Ching yang meraih sukses besar di Eropa. Lirik lagu tersebut, yang sebagian terjemahannya ada di atas, merupakan kritik sosial terhadap budaya konsumerisme yang terus menanjak sejak tahun 2000 sehingga muncul jargon bahwa mal telah menjadi gereja baru. Bagaimana dengan kita? Apakah hari Minggu juga telah kehilangan makna sakralnya bagi kita?
Dalam Perjanjian Lama, hari Sabat (kini Minggu) adalah hari yang dikuduskan. Tentu saja ketika Tuhan memutuskan untuk berhenti pada hari ketujuh, hal itu bukan karena lelah, melainkan karena Dia menandai akhir sebuah pekerjaan yang sangat baik. Bagi umat Israel sendiri, hari Sabat sangat berharga. Perhentian yang bersifat sementara ini memberi makna, yakni bahwa umat Tuhan kelak juga akan masuk ke tempat perhentian kekal bersama-Nya.
Sayangnya, kita kerap berhenti pada hari Minggu karena “lelah”. Setelah lelah bekerja selama sepekan, akhirnya hari Minggu menjadi momen kita pergi dari satu mal ke mal lainnya seusai beribadah di gereja pada pagi hari. Tentu tak salah menikmati hasil jerih payah setelah seminggu bekerja, tetapi marilah kita tambahkan perenungan yang lebih pada hari perhentian ini sehingga tidak berlalu begitu saja (Olivia Elena Hakim)
Sumber: Amsal Hari Ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar