Selasa, 06 Januari 2026

Siapakah yang Akan Membebaskan Anda dari Diri Anda Sendiri?

Bacaan Hari ini:
Roma 6:6–7 "Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa."

Allah memberikan kebebasan-kebebasan yang luar biasa kepada setiap orang yang menaruh kepercayaannya kepada-Nya. Kita telah membahas dua kebebasan pertama: hati nurani yang bersih dan akses pribadi kepada Allah. Kebebasan yang ketiga adalah kuasa untuk melakukan apa yang benar.

Banyak orang mengira bahwa kebebasan berarti hidup tanpa aturan, tanpa batasan dan tanpa ketentuan. Namun, itu adalah pandangan yang sangat sempit tentang kebebasan. Kebebasan sejati adalah kuasa yang dengan kasih karunia Allah diberikan kepada Anda untuk mengatakan "ya" kepada hal-hal yang baik bagi Anda dan "tidak" kepada hal-hal yang merusak.

Jika Anda tidak memiliki kuasa untuk mengatakan "tidak", ada satu kata untuk itu: kecanduan. Dan kecanduan membawa obsesi serta dorongan-dorongan yang mengikat hidup Anda. Alkitab mengajarkan, "Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan, karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu." (2 Petrus 2:19).

Saya pernah membaca sebuah kisah tentang seorang kakak dan adik yang didorong oleh orang tua mereka untuk "mencari kebahagiaan versi mereka sendiri." Di rumah mereka tidak ada batasan, dan mereka dibiarkan bereksperimen dengan seks dan narkoba. Ketika mereka memasuki usia pertengahan 20-an, hidup mereka menjadi tidak terkendali.

Sang kakak akhirnya menyadari, "Kebebasan saya ternyata bukan kebebasan sama sekali. Dari luar, saya tampak menikmati hidup. Namun di dalam, saya diperbudak oleh ketakutan, rasa tidak aman, dan dorongan-dorongan saya sendiri. Saya membutuhkan seseorang yang bisa membebaskan saya dari diri saya sendiri."

Itulah yang sebenarnya kita semua butuhkan: seseorang yang membebaskan kita dari diri kita sendiri.

Pernahkah Anda berpikir, "Mengapa saya mudah marah kepada orang yang paling saya kasihi?" atau "Mengapa saya terus-menerus cemas dan takut?" atau "Bagaimana saya bisa berhenti seperti ini?" Mungkin Anda sudah mencoba mengubah hal-hal tersebut dengan kekuatan sendiri, tetapi gagal. Kuasa untuk berubah seperti itu hanya datang dari Allah.

Rasul Paulus mengungkapkan pergumulan ini dalam Roma 7:24–25: "Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita."

Mengapa Yesus Kristus adalah jawabannya? Karena Yesus sendiri berjanji, "Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka" (Yohanes 8:36).

Renungkan
- Pikirkan 2 Petrus 2:19: “Sebab orang adalah hamba dari apa yang menguasainya.” Mengapa menurut Anda Allah sangat membenci dosa?
- Ceritakan pengalaman ketika Anda mencoba mengubah suatu kebiasaan hanya dengan kekuatan sendiri. Bagaimana hasilnya?
- Apa yang akan Anda katakan kepada seseorang yang mengira bahwa mengikut Kristus berarti hidup di bawah kendali yang mengekang?

Kebebasan bukan sekadar hidup tanpa batasan. Kebebasan sejati adalah kebebasan untuk mengatakan "ya" kepada hal-hal yang menyehatkan hidup Anda, meningkatkan kebahagiaan Anda dan memberi makna sejati bagi hidup Anda. Kebebasan sejati adalah kuasa untuk melakukan apa yang benar.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar