Rabu, 03 Juni 2026

DEMI ANAK-ANAK

Bacaan: Mazmur 68:6; Markus 10:13-16

Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka (Markus 10:14)

Kebanyakan remaja yang baru saja mengunjungi panti asuhan Robin's Nest di dekat Montego Bay, Jamaika, menangis. "Ini tak adil," kata seorang remaja putri setelah kunjungan singkat itu. "Kita punya banyak hal, tetapi mereka tak memiliki apa pun." Selama kunjungan 2 jam itu, sambil membagikan boneka binatang dan bermain dengan anak-anak, seorang remaja putri memeluk seorang anak perempuan yang tak pernah tersenyum dan sedang bersedih. Kami mendapati bahwa ia menjadi korban aniaya orangtuanya sebelum ia ditampung di panti asuhan. 

Bayangkan jika keadaan anak perempuan kecil ini menimpa jutaan anak, kita pasti akan menjadi mudah terharu. Teman remaja saya ini benar. Ini tidak adil. Penganiayaan, kemiskinan, dan penelantaran telah mengubah hidup jutaan anak menjadi mimpi buruk. 

Hal ini sungguh menyakitkan hati Allah! Yesus, yang berkata, "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku" (Markus 10:14), pasti akan sedih melihat bagaimana anak-anak ini diperlakukan. 

Apa yang dapat kita lakukan? Dalam nama Yesus, kita dapat membantu panti asuhan secara finansial. Jika mungkin, kita bisa terjun langsung membantu mereka. Jika kita merasa terpanggil, kita dapat menyediakan rumah bagi anak-anak yang berharga ini. Dan, kita semua bisa berdoa -- memohon agar Allah menolong mereka yang mengalami ketidakadilan dalam hidupnya. 

Mari kita tunjukkan kasih Allah kepada anak-anak melalui hati dan tangan kita --JDB 

Menjangkau anak-anak yang sengsara, 
Menunjukkan kasih dan kepedulian kita, 
Itulah salah satu cara Allah memakai kita 
Membangkitkan asa di tengah kemalangan mereka. --Sper

TUNJUKKANLAH KASIH YESUS KEPADA SEORANG ANAK HARI INI

Sumber: Renungan Harian

Selasa, 02 Juni 2026

Roh yang Menginsafkan akan Dosa 

Bacaan Alkitab hari ini:
Yohanes 16:8-11

Misi melaksanakan Amanat Agung Kristus adalah misi yang tidak mungkin dilakukan tanpa pertolongan Roh Kudus. Agar seseorang bisa dibimbing menjadi murid Kristus, hal pertama yang harus dilakukan adalah membimbing orang itu untuk menyadari bahwa dia memerlukan Kristus. Supaya seseorang menyadari bahwa dirinya memerlukan Kristus, dia harus menyadari bahwa dirinya adalah orang berdosa yang memerlukan pengampunan Allah. Seorang yang menganggap dirinya cukup baik atau lebih baik dari pada orang lain tidak akan merasa memerlukan Yesus Kristus sebagai Penebus dosa. Lingkungan yang baik, pendidikan yang baik, dan keluarga yang baik kadang-kadang justru membuat seseorang merasa bahwa dirinya baik dan sulit untuk insaf bahwa dirinya adalah seorang berdosa. Hanya Roh Kudus yang sanggup menginsafkan seseorang bahwa dirinya berdosa.

Sebenarnya, setiap orang itu dilahirkan dengan kecenderungan untuk berbuat dosa. Seseorang berbuat dosa bukan semata-mata karena lingkungannya menggoda dia untuk berbuat dosa, tetapi karena dia memang memiliki kecenderungan untuk memilih berbuat dosa. Seorang anak kecil yang menjatuhkan benda antik di rumah dan takut menjadi sasaran kemarahan orang tuanya akan cenderung berbohong tanpa harus diajar oleh orang lain. Saat teknologi makin berkembang, bentuk-bentuk dosa baru yang terbuka karena adanya teknologi baru juga berkembang secara otomatis. Penipuan secara online berkembang bukan karena ada guru yang mengajarkan penipuan seperti itu, tetapi karena manusia memang memiliki kecenderungan mengejar keuntungan dan kesenangan dengan menghalalkan segala cara.

Salah satu penghalang bagi seseorang untuk bisa insaf akan dosanya adalah paham relativisme. Orang yang merasa bahwa perbuatannya relatif lebih baik daripada orang lain cenderung menolak untuk insaf dan meninggalkan dosanya. Paham relativisme ini membuat banyak orang yang tertangkap tangan melakukan praktik korupsi masih tetap bisa tersenyum dan tidak merasa malu. Pada masa kini, pelanggaran terhadap aturan yang semakin meningkat—misalnya pelanggaran terhadap aturan lalu lintas—membuat banyak orang tidak merasa bersalah saat melanggar aturan. Pelanggaran demi pelanggaran yang dilakukan seseorang akan membuat suara hati nurani yang tidak didengarkan menjadi teredam. Roh Kudus diperlukan untuk menginsafkan akan dosa! Bila Anda berbuat dosa, apakah Anda masih memiliki kepekaan untuk mendengar teguran dari Roh Kudus. Apakah Anda sudah membiasakan diri untuk merespons saat mendengar teguran terhadap dosa yang Anda lakukan? [GI Purnama]

Sumber: Renungan GKY

Senin, 01 Juni 2026

BAHAYA DI BALIK KEBERHASILAN

Bacaan: 2 TAWARIKH 25–27

Wajar kalau kita sedih dan menyesali kegagalan-kegagalan kita. Tetapi sering kali kita lupa bahwa keberhasilan juga bisa menjadi bahaya rohani yang besar bagi hidup kita.

Tuhan tidak pernah menuliskan sesuatu dengan sia-sia di dalam Alkitab. Setiap kata dalam firman-Nya memiliki tujuan dan manfaat bagi hidup kita (2Tim. 3:16). Tidak ada kisah yang dicatat tanpa tujuan. Tidak ada cerita yang sebenarnya tidak penting untuk diketahui. Tidak ada nasihat yang sekadar menjadi pelengkap. Setiap prinsip hikmat di dalam Alkitab diberikan untuk membentuk hidup kita.

Bahkan bagian-bagian yang terasa sulit atau seperti “biasa saja” tetap mengandung pengharapan, anugerah, pertolongan, dan kehidupan. Karena itu, kita seharusnya membaca firman Tuhan dengan hati yang haus dan penuh antusias. Kita tidak boleh membaca Alkitab dengan terburu-buru atau sekadar mencari pengetahuan. Kita perlu membaca Alkitab dengan kerinduan untuk mengenal Tuhan lebih dalam.

Bacalah firman Tuhan seperti seorang pencari harta yang menggali dengan sungguh-sungguh, karena di dalam setiap bagian firman-Nya ada “harta kasih karunia” yang Tuhan sediakan bagi kita. Firman Tuhan bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan dan ditaati. Ketika kita melakukannya, cara pandang kita akan berubah, keinginan kita dimurnikan, pengharapan kita diperdalam, dan hati kita makin dibentuk oleh Injil Kristus.

Dalam 2 Tawarikh 26, kita melihat dua sisi kehidupan Raja Uzia. Kisah ini diberikan Tuhan bukan hanya sebagai sejarah, tetapi juga sebagai pelajaran dan peringatan bagi kita. Pada awal hidupnya, Uzia melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Ia mencari Tuhan selama hidup nabi Zakharia, yang mengajarnya takut akan Allah. 2 Tawarikh 26:4–5 mencatat: “Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Amazia, ayahnya. Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil.”

Saat membaca bagian ini, hati kita merasa lega. Akhirnya ada seorang raja Yehuda yang hidup benar di hadapan Tuhan, seorang pemimpin yang takut akan Allah dan sungguh-sungguh mencari Dia. Namun ketika cerita berlanjut, kita menemukan sesuatu yang menyedihkan. “Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan.” (2 Taw. 26:16).

Kalimat “setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati” sangat penting untuk kita renungkan. Kalimat ini menunjukkan bahwa keberhasilan Uzia justru menjadi awal kehancuran rohaninya. Ketika Uzia mengalami keberhasilan dan menjadi kuat, hatinya mulai berubah. Kesuksesan membuatnya tidak lagi hidup dalam takut akan Tuhan. Orang yang dahulu bergantung kepada Tuhan mulai merasa cukup dengan dirinya sendiri. Ia mulai merasa dirinya mampu berdiri dengan kekuatannya sendiri. Ia masuk ke Bait Allah dan melakukan hal yang bukan haknya, yaitu membakar ukupan di atas mezbah. Keberhasilan membuatnya lupa bahwa semua yang ia miliki berasal dari Tuhan. Dengan sombong ia melakukan sesuatu yang bukan haknya di hadapan Allah. Kesombongan itulah yang akhirnya membawa kehancuran dalam hidupnya. Sering kali, bukan kegagalan yang paling berbahaya bagi iman kita, melainkan keberhasilan yang membuat kita merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan.

Ketika hidup berjalan baik, pelayanan berhasil, pekerjaan lancar, atau kita mulai dipuji banyak orang, hati kita dapat diam-diam berubah menjadi sombong. Kita mulai mengambil kemuliaan yang seharusnya hanya milik Tuhan. Kita merasa kuat, padahal tanpa kasih karunia-Nya kita tidak dapat berdiri satu hari pun.

Injil mengingatkan kita bahwa semua yang kita miliki adalah anugerah. Keselamatan kita bukan hasil usaha kita, tetapi karya Kristus di kayu salib. Bahkan kemampuan untuk taat, melayani, dan bertahan pun berasal dari kasih karunia Tuhan. Karena itu, keberhasilan seharusnya membuat kita makin rendah hati, bukan makin meninggikan diri. Di dalam Kristus, kita belajar bahwa hidup bukan tentang membangun nama kita sendiri, tetapi memuliakan Dia yang telah menyelamatkan kita. Ketika kita berhasil, biarlah hati kita terus bersandar dan bergantung pada kasih karunia-Nya.

Karena itu, biarlah peringatan dari firman Tuhan hari ini membawa kita kembali untuk menyadari bahwa kita selalu membutuhkan Tuhan. Kita membutuhkan hikmat-Nya, kekuatan-Nya, dan anugerah-Nya yang tidak pernah habis bagi hidup kita.

Refleksi
Bacalah Mazmur 119:1–8 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 25-27

Sumber: Renungan Gibeon Church