Selasa, 31 Oktober 2023

Jika Tuhan Menyertai


Bacaan: HAKIM-HAKIM 6:1-14


Jawab Gideon kepada-Nya: "Ah, tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? ...." (Hakim-hakim 6:13)


Ada banyak orang kecewa kepada Tuhan. Sebab, setelah mengikut Tuhan, masih saja mereka merasakan kesusahan. Masih ada persoalan harus dihadapi. Mereka heran bukankah mengikut Tuhan berarti kehidupan akan disertai oleh Tuhan? Dalam hati mereka bertanya, "Jika Tuhan menyertaiku, mengapa semua ini menimpaku?"


Gideon menuturkan pernyataan serupa. Gideon heran mengapa mereka, orang Israel, bangsa yang dikatakan "disertai oleh Tuhan" dibiarkan dijajah oleh bangsa Midian. Menarik jawab Tuhan kepada Gideon. "Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian" (ay. 14). Tuhan mengutus Gideon pergi memerangi orang Midian sebab padanya ada kekuatan untuk mengalahkan mereka. Kata-kata "pergilah dengan kekuatanmu" mengungkap kebenaran yang kerap kita lupakan. Disertai Tuhan bukan berarti kita tidak lagi mengalami persoalan. Disertai Tuhan berarti kita telah diberi Tuhan kekuatan untuk menghadapi semua persoalan.


Penyertaan Tuhan bukan jaminan ketiadaan persoalan. Faktanya, selama kita hidup menumpang di dunia ini, kita masih mengalami aneka ragam persoalan. Penyertaan Tuhan ialah jaminan kemenangan. Aneka ragam persoalan menerpa kehidupan kita, tetapi kita selalu diberi kemampuan mengatasinya. Sebab pada kita ada kekuatan dari Tuhan. Bila hari ini kita mengalami persoalan, jangan tawar hati berkata, "Jika Tuhan menyertai, mengapa hal ini menimpaku?" Sebaliknya, mari penuh percaya diri kita pergi memerangi persoalan dengan kekuatan yang sudah Tuhan anugerahkan bagi kita. --LIN/www.renunganharian.net


DISERTAI TUHAN BUKAN BERARTI PERSOALAN TIDAK LAGI AKAN DATANG, NAMUN KITA SELALU DIBERI KEKUATAN MENGATASINYA.

Senin, 30 Oktober 2023

Bertarung Menjaga Pikiran

Ayat Renungan: 

Amsal 4: 23, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”


Roma 8: 6, “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.”

 

Tuhan jauh lebih tertarik mengubah pikiran kita daripada mengubah keadaan kita. Kita mau Tuhan menyelesaikan semua masalah, rasa sakit, kesedihan, penderitaan dan penyakit kita. Tapi Tuhan mau bekerja atas diri kita lebih dulu, karena kita tidak akan mengalami transformasi apa-apa jika kita belum memperbaharui pikiran kita. 


Ayat renungan pagi ini dari Amsal 4: 23 mengingatkan kita untuk “menjaga hati dengan segala kewaspadaan”. Pikiran punya kuasa menentukan apakah hidup kita baik atau buruk. Misalnya saat kecil kita mendengar kata-kata seperti “Kamu tidak berharga. Kamu tidak berguna”. Dan saat kita percaya perkataan itu, hidup kita akan dibentuk seperti perkataan tersebut.

Jadi penting untuk kita menjaga pikiran, karena pikiran memampukan kita melawan setiap kebohongan dan tipuan si iblis.


Bagaimana cara menjaga pikiran? Salah satu caranya hindari overthinking! Pikiran yang sehat dihasilkan dari mental yang sehat. Jika kita membiarkan mental kita bertarung penuh overthinking sepanjang 24 jam sehari, maka pikiran kita akan kehilangan kendali. Akibatnya kita akan menjadi stress dan mental kita terganggu. Saat dalam keadaan seperti inilah kita akan mudah mempercayai hal-hal yang negatif.

 

Di dalam Roma 8: 6 disampaikan, “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” Jadi kita perlu memastikan pikiran kita dipenuhi oleh Roh Tuhan, karena dengan itu apapun keadaannya kita pasti bisa mengatasinya.

Hari ini mari menjaga pikiran kita dengan Roh Tuhan, mulai dengan pujian penyembahan atau memperkatakan kebenaran firman-Nya.


Ayat Hafalan: 1 Petrus 4: 8, “Kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.”


Sumber: Jawaban.com

Minggu, 29 Oktober 2023

PENGKHOTBAH CEROBOH


Bacaan: Matius 23:1-12


NATS: Janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya (Matius 23:3)


Sesungguhnya, para penentang kekristenan tidak akan begitu membenci Kristus bila mereka dapat menghancurkan kemunafikan para pengikut Kristus. Ironisnya, bukan itu yang terjadi. Dan, Pribadi yang paling menentang kemunafikan adalah Yesus sendiri! 


Kita semua pernah bertemu dengan para pencela yang tanpa pikir panjang ikut-ikutan berkata, "Gereja ini penuh dengan orang munafik!" Janganlah buru-buru menanggapinya dan menepis keras pernyataan semacam itu-karena mungkin saja itu benar. 


Kita cenderung berpikir bahwa itu tidak berlaku bagi kita. Namun, marilah kita merenungkannya kembali. Pernahkah kita menjadi seperti orang kristiani yang memandang ke luar jendela, dan melihat seorang tetangga yang suka bergosip dan banyak bicara mendekati pintu rumahnya? Anak-anaknya yang belia dan lugu mendengarnya mengeluh, "Oh tidak, jangan dia lagi!" Namun, ia membuka pintu juga dan dengan basa-basi berkata, "Senang sekali bertemu dengan Anda!" 


Bibir dan kehidupan kita kerap kali menyuarakan pesan yang sama sekali berbeda. Dalam Matius 23:1-12, Yesus menggambarkan para pengajar hukum Taurat yang munafik dan Dia memperingatkan para murid-Nya, "Janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya" (ayat 3). 


Allah ingin agar para penentang Kristus tidak terpengaruh oleh kemunafikan yang ceroboh dalam hidup kita. 


Ya Tuhan, tolonglah kami untuk menjadi "pengkhotbah yang berhati-hati" -JEY 


ORANG MUNAFIK KERAP BERDOA PADA HARI MINGGU DAN KEMBALI BERDOSA PADA HARI SENIN 


Sumber: Renungan Harian

Sabtu, 28 Oktober 2023

Kemarahan adalah Pilihan


Bacaan Hari ini:

Amsal 29:11 “Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya.”


Bila Anda ingin menjinakkan amarah Anda, maka Anda harus membulatkan tekad Anda untuk mengelolanya. Anda harus berhenti berkata, “Saya tak bisa mengendalikannya!” dan mulailah percaya bahwa Anda mampu melakukannya. Demikian pula kasih, kemarahan adalah sebuah pilihan. 


Sering kali orang-orang mengatakan hal-hal seperti, “Kau membuatku sangat marah!” Padahal kenyataannya, tak ada seorang pun yang bisa membuat Anda marah tanpa seizin Anda sendiri. Kemarahan adalah suatu pilihan, oleh karena itu, Anda harus memilih untuk mengendalikannya jika ingin menjadi orang yang penuh kasih.


Anda punya kendali yang jauh lebih besar atas kemarahan Anda dibanding yang hendak Anda akui. Izinkan saya memberikan Anda sebuah contoh.


Katakanlah Anda sedang di rumah. Kemudian Anda bertengkar dengan salah satu anggota keluarga Anda. Suara Anda meninggi, dan Anda menjadi sangat kesal. Kemudian, tiba-tiba telepon berdering dan Anda menjawab dengan manis, “Halo? Oh ya! Ini untukmu, sayang!”


Apa yang terjadi di sini? Anda tidak ingin merasa malu atau utang penjelasan, maka Anda segera mematikan amarah Anda. Kemarahan sangat dapat dikendalikan! Alkitab mengatakan dalam Amsal 29:11, “Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya.”


Apakah Anda ingin menjadi orang bodoh atau orang bijak? Bagaimana Anda menanggapi  suatu situasi yang merupakan tanggung jawab Anda sendiri? 


Saat yang tepat untuk memutuskan buat mengendalikan amarah Anda bukanlah saat tekanan darah Anda meningkat, atau saat adrenalin Anda melonjak ke dalam sistem tubuh Anda, atau saat Anda bisa merasakan malu di wajah Anda dan otot-otot Anda mulai tegang.


Sebaliknya, ambillah keputusan untuk mengendalikan amarah Anda sebelum bertemu seseorang yang berkonflik dengan Anda, atau menjauhlah dari sumber masalah. Ambillah keputusan ini: Hari ini, saya tidak akan marah. Saya tidak akan membiarkan amarah saya mengalahkan saya. 


Kelola amarah Anda dengan terlebih dahulu memilih untuk meredamnya. 


Renungkan hal ini: 

- Strategi apa yang pernah Anda gunakan di masa lampau untuk mengendalikan amarah Anda?

- Pikirkan situasi terkini yang membuat Anda marah. Apa cara yang lebih baik untuk menanggapi situasi seperti itu? Bagaimana Anda bisa menyampaikan pesan Anda tanpa terlihat bodoh?

- Apa cara yang penuh kasih untuk merespons seseorang yang tidak bisa mengendalikan amarahnya?


Ketika Anda marah, Anda memilih untuk marah. Tidak ada yang memaksa Anda untuk marah.


(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)



Jumat, 27 Oktober 2023

MENDAPAT TIKUS?


Bacaan: 1 Samuel 15:13-23


NATS: Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan, memerhatikan lebih baik daripada lemak domba-domba jantan (1 Samuel 15:22)


Setika sedang memotong rumput, saya melihat gundukan tanah berpasir pada halaman rumput yang selama ini rata. Ternyata rupanya ada satu keluarga tikus pondok yang telah berpindah dari hutan yang terletak di dekat rumah, kemudian tinggal di bawah tanah pekarangan kami. Makhluk-makhluk kecil ini telah merusak halaman rumput kami dengan menggali tanah dan merusak rumput yang indah. 


Dalam beberapa hal, aktivitas tikus tersebut menggambarkan sisi gelap hati manusia. Di luar, kita barangkali kelihatan baik dan sopan. Tetapi ketamakan, hawa nafsu, prasangka, dan kecanduan dapat merusak dari dalam. Cepat atau lambat, dosa-dosa itu akan menjadi jelas. 


Raja Saul melakukan kesalahan fatal yang telah membusuk di dalam dirinya, yaitu pemberontakan melawan Allah. Ia diperintahkan untuk tidak mengambil jarahan perang dari bangsa Amalek (1 Samuel 15:3). Tetapi sesudah mengalami kemenangan telak, ia membiarkan bangsa Israel menyimpan ternak terbaik untuk mereka sendiri (ayat 9). 


Ketika Nabi Samuel menegur raja, Saul berdalih bahwa ia mengambil domba dan lembu tersebut untuk dikorbankan bagi Allah. Tetapi dalih ini hanya untuk menutupi kesombongannya yang penuh dosa, yang kemunculannya bertentangan dengan Allah yang menurut pengakuannya hendak ia layani. 


Obat yang ditawarkan Allah bagi pemberontakan adalah pengakuan dan penyesalan. Seperti Saul, Anda mungkin mencari-cari dalih untuk membenarkan dosa Anda. Akui dan tinggalkanlah dosa itu sebelum terlambat -HDF 


SEBUAH DOSA AKAN MENJADI DUA KETIKA DIPERTAHANKAN


Sumber: Renungan Harian

Kamis, 26 Oktober 2023

HARI TUHAN 


[[Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.]] (Matius 25:13) 


Pada saat saya pelayanan di Komisi Perpustakaan, saya mempunyai teman sepelayanan 

yang bernama Lie Ngit Tjin. Pada hari Sabtu ia menelepon saya untuk menggantikan pelayanannya pada hari Minggu setelah kebaktian pukul 9 pagi. Keesokan harinya pada hari Minggu pagi saya diberitahu oleh Ibu Linda Channing bahwa teman saya itu sudah tiada alias meninggal dunia karena mengalami kecelakaan, tenggelam di kolam renang, pada hari Sabtu sore. 


Saya terkejut bukan kepalang karena pada hari Sabtu siang ia masih menelepon saya. Masih teringat di pikiran saya betapa ia pernah bercanda bahwa Piagam Pelayanan yang ia terima saat Pelayanan BPH di Komisi Perpustakaan dapat digunakan Untuk Melamar di Surga. 


Begitulah cara Tuhan Yesus memanggil kita anak-anak-Nya, kita tidak pernah tahu di mana dan kapan kita meninggal, lalu apakah kita akan meninggal karena sakit atau kecelakaan. 


Alangkah tragisnya jika kita seperti gadis yang bodoh, yang tidak pernah siap sedia minyak di dalam buli-buli jika sewaktu-waktu mempelai datang atau Tuhan memanggil kita. 


Oleh karena itu, kita harus seperti gadis yang bijaksana, yang selalu siap sedia dengan minyak di dalam buli-buli sehingga ketika sewaktu-waktu sang mempelai datang, kita telah siap sedia masuk bersama-sama dengan mempelai laki-laki ke ruang perjamuan kawin. 


Apakah Anda sudah siap jika sewaktu-waktu Tuhan memanggil Anda untuk bertemu 

muka dengan muka dengan Tuhan Yesus? Kita sebagai anak-anak-Nya harus selalu siap sedia kapan pun Tuhan memanggil kita (Rini Susilinda). 


Sumber: Amsal Hari Ini 


Rabu, 25 Oktober 2023

Sanggup Tidak Sama Dengan Pasti 


Bacaan: Daniel 3:1-18


Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”- Daniel 3:17-18


Hari ini kita akan membahas pelajaran tentang iman sejati yang tidak berlandaskan pada tindakan Allah, tetapi pada sifat atau karakter Allah.


Mari kita bedakan beriman pada Allah karena tindakan-Nya dan beriman karena karakter-Nya. Jika Anda beriman kepada Allah karena tindakan-Nya, itu sama saja dengan seorang anak yang mencintai orangtuanya karena diberi hadiah. Ada hadiah, sayang papa-mama. Tidak ada hadiah, tidak sayang papa-mama. Jelas ini tidak benar. Iman yang benar berlandaskan pada sifat Allah, yaitu kasih, kebenaran, kebaikan, keadilan-Nya, dll. Inilah iman Sadrakh, Mesakh, Abednego. Mereka mengatakan, “tetapi seandainya (Allah) tidak (melepaskan kami), hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Apa pun keadaannya, baik dilepaskan dari marabahaya maupun tidak, mereka tetap percaya kepada Allah. Mereka tidak akan berpaling kepada allah lain.


Banyak orang datang dan percaya kepada Allah karena sudah mengalami atau menyaksikan tindakan Allah (baca: mukjizat). Memang Allah bisa saja memakai mukjizat untuk membuat seseorang percaya. Akan tetapi, iman yang demikian sangatlah rapuh, jika tidak diperkokoh dengan pemahaman tentang siapa Allah. Seorang yang beriman hanya berlandaskan mukjizat akan hanyut jika ternyata ia tidak lagi mengalami mukjizat dalam kelanjutan hidupnya. Ia akan kehilangan iman ketika tidak lagi melihat perbuatan ajaib Allah.

Ia harus terus mengalami mukjizat. Itu bukan iman yang dikehendaki Allah. Tuhan Yesus menegur Thomas dengan mengatakan, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, tetapi percaya.” (Yoh. 20:29). Iman sejati berlandaskan pada sifat karakter yang tidak berubah.


Refleksi Diri:

Mengapa iman yang hanya berlandaskan mukjizat itu sebenarnya sangat lemah?


Mengapa iman terutama harus berlandaskan pada karakter atau sifat Allah, bukan tindakan Allah?


Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Selasa, 24 Oktober 2023

Ketika Pasanganku Mengeluh


Bacaan: ROMA 15:1-13


Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. (Roma 15:1)


Kurang tidur dan selalu kelelahan, itulah yang dialami istri saya selama beberapa bulan saat anak pertama kami lahir. Harus bangun dan menyusui di malam hari saat bayi menangis minta susu, menidurkan bayi, dan berbagai kesibukan mengurusi bayi, ditambah mengerjakan pekerjaan rumah, membuat istri mengeluh dan mudah emosi kepada saya. Awalnya reaksi saya marah dan menyalahkan istri, mengatakan bahwa itulah risiko punya anak bayi. Tapi, saya akhirnya sadar. Sikap dan perkataan saya menyakitinya, dan saya egois.


Mengeluh kepada pasangan karena beratnya tekanan hidup boleh, tapi jangan menjadi tukang mengeluh. Saat pasangan kita mengeluh karena sudah tidak kuat menghadapi tekanan hidup, bagian kita adalah menguatkannya, kita wajib menanggung kelemahannya, dan jangan mencari kesenangan diri sendiri. Kita harus mencari kesenangan sesama (khususnya pasangan) demi kebaikannya dalam membangunnya (ay. 2). Kenapa kita wajib menanggung kelemahan pasangan dan berempati dengan beban hidupnya? Karena Kristus tidak egois (ay. 3). Pasangan kita mengeluh bukan untuk dimarahi atau disalahkan, tapi untuk didengarkan, dimengerti, dan dikuatkan.


Kalau pasangan kita mengeluh karena sakit atau tekanan hidup, jangan mengulang kesalahan saya. Mari kita meneladani Kristus dengan tidak mencari kesenangan sendiri, melainkan mencari kesenangan sesama demi kebaikannya dan untuk membangunnya. Kuatkan pasangan kita dengan mendengarkannya, menolongnya, memberikan dia "me time", dan memberinya kesempatan untuk beristirahat. --RTG/www.renunganharian.net


PASANGAN KITA MENGELUH BUKAN UNTUK DIMARAHI ATAU DISALAHKAN, TAPI UNTUK DIDENGARKAN, DIMENGERTI, DAN DIKUATKAN.

Senin, 23 Oktober 2023

MENGAPA KITA MEMBERI?


Bacaan: Matius 6:1-4


NATS: Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu (Matius 6:3)


Apa yang telah terjadi dengan konsep memberi jika dilihat dari makna memberi itu sendiri?" tanya Tim Harford, penulis kolom Financial Times. "Jika Anda memerhatikan sumbangan amal, maka hal itu akan semakin tidak tampak bersifat amal." Contohnya, sebuah studi tentang kampanye pengumpulan dana dari pintu-ke-pintu mendapati bahwa berbagai organisasi bisa mengumpulkan dana jauh lebih banyak dengan menjual tiket lotere daripada meminta sumbangan. 


"Hal ini tidak menunjukkan bahwa dunia dipenuhi para dermawan yang ingin melakukan perbuatan baik sebesar mungkin dengan uang sumbangan mereka," kata Harford. Setidaknya sebagian orang ada yang memiliki sikap ini-untuk-saya/ini-untuk-kamu dalam memberi. 


Yesus pun menyinggung masalah motivasi dalam memberi. Saat Dia mengatakan bahwa kita harus mencegah tangan kiri kita mengetahui apa yang dilakukan tangan kanan, Dia mengajarkan agar kita tulus dalam memberi kepada Allah dan orang lain. Pemberian kita harus merupakan tanggapan kita terhadap kasih Allah. Untuk mendorong kita memiliki motivasi yang tulus, Yesus mengajarkan orang-orang untuk memberi dan melakukan perbuatan baik secara sembunyi-sembunyi tanpa memikirkan diri mereka sendiri. Allah, yang melihat segalanya, akan membalas mereka (Matius 6:3,4). 


Kemurahan hati kita harus berpusat kepada Allah -- bukan untuk membuat kita tampak baik, melainkan untuk menyenangkan Tuhan. Sebelum melakukan perbuatan baik Anda berikutnya, tanyailah diri Anda sendiri: Jika saya tahu tak seorang pun akan mengetahui apa yang saya perbuat, akankah saya tetap melakukannya? --MLW 


ALLAH MELIHAT BAIK PEMBERI MAUPUN PEMBERIANNYA

HATINYA MAUPUN TANGANNYA


Sumber: Renungan Harian

Minggu, 22 Oktober 2023

Dasar Persahabatan


Bacaan: 2 TAWARIKH 18-19:3


Ketika itu Yehu bin Hanani, pelihat itu, pergi menemuinya dan berkata kepada raja Yosafat: "Sewajarnyakah engkau menolong orang fasik dan bersahabat dengan mereka yang membenci TUHAN? Karena hal itu TUHAN murka terhadap engkau." (2 Tawarikh 19:2)


Memiliki seorang sahabat itu penting. Kepadanya kita bisa berbagi dan tidak merasa sendiri dalam menghadapi persoalan. Ia menjadi penghibur di kala kita susah. Seorang sahabat begitu peduli kepada kita di saat orang lain "membuang" kita. Sahabat yang benar pasti akan mengarahkan diri kepada perkara-perkara yang benar. Sebaliknya, bersahabat dengan orang yang salah akan membawa hidup kita kepada celaka.


Sejatinya, Yosafat adalah raja yang baik. Dialah raja yang menghapuskan tiang-tiang berhala dan mencari Allah dengan tekun. Sayang, di tengah jalan ia bersahabat dengan orang yang salah, dan karenanya mendatangkan murka Allah (ay. 2). Persahabatan yang salah adalah persahabatan yang mengutamakan kepentingan sahabatnya, tapi mengabaikan kebenaran dan kehendak Tuhan. Dengan dalih menolong sahabat, Yosafat membantu Ahab yang jelas-jelas tidak menghormati Tuhan. Beruntung, Tuhan menyelamatkannya walau setelah itu Yehu menegurnya dengan keras karena perbuatannya itu mendatangkan murka Tuhan.


Sebuah persahabatan yang dibangun tidak dengan dasar yang benar akan berujung celaka. Seperti Yosafat yang tampaknya tidak kuasa menolak ajakan Ahab untuk maju berperang, meski telah diingatkan Nabi Mikha, dan ia hampir binasa karenanya. Pengalaman Yosafat menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak mendasarkan sebuah persahabatan berdasarkan takut menyinggung perasaan atau takut ditolak. Persahabatan yang benar harus didasarkan atas kasih dan kebenaran. Kasih itu menegur dan mengarahkan orang yang bertindak salah. Kasih itu tegas untuk menolak niat seseorang yang nyata-nyata melawan kehendak Tuhan. --SYS/www.renunganharian.net


SEBUAH PERSAHABATAN YANG DIBANGUN TIDAK BERDASARKAN KASIH DAN KEBENARAN AKAN BURUK AKIBATNYA.

Sabtu, 21 Oktober 2023

Mencintai Yang Salah


Bacaan: 1 Timotius 6:7-10


Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.- 1 Timotius 6:10


Timothy Keller mengatakan, “Keserakahan dan ketamakan sangat sulit untuk dilihat oleh kita sendiri. Keserakahan menyembunyikan dirinya dari sang korban. Cara kerja ilah uang salah satunya dengan membutakan hati Anda.” Uang tidaklah jahat, tetapi cinta akan uang disebut akar dari segala kejahatan. Kecintaan akan uang sangatlah berbahaya. Jika ada kecintaan berarti ada keterikatan yang begitu dalam, yang sulit untuk dipisahkan. Seseorang yang cinta uang menganggap uang adalah segala-galanya di dalam hidupnya. Uanglah yang menjadi junjungan utama orang tersebut di dalam hidupnya.


Memburu uang seperti disampaikan ayat emas di atas, berarti merasa tidak pernah cukup dan pasti titik berat permasalahannya pada kenyamanan diri. Memang mengherankan jika ada orang yang sudah kaya raya masih korupsi. Uang seakan diburu tiada habisnya. Kecintaan akan uang juga membuat orang menyimpang dari iman. Ia rela menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang lebih banyak lagi dan lagi. Kecintaan akan uang berarti tidak mencintai Tuhan lagi.


Memburu uang juga dikatakan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. Pasti berbeda antara kerja keras dan menyiksa diri. Kita harus bekerja sebaik-baiknya dengan apa yang Tuhan percayakan, tetapi tidak dengan menyiksa diri. Dengan kecintaan akan uang, seseorang bisa mengorbankan hal yang jauh lebih berharga dari uang, yang tidak akan bisa dibeli. Mungkin kita bisa memberi persembahan dengan jumlah fantastis, tetapi tidak pernah bisa membeli relasi dengan Tuhan. Kita juga bisa membelikan banyak hal untuk keluarga kita, tetapi tidak bisa membeli waktu bersama dengan keluarga. Orang yang mencintai uang, di satu titik akan melihat betapa sia-sia semua pengejaran yang dilakukannya dan itu semua membawanya pada duka.


Dalam keseharian, kita bisa menjadi orang yang khawatir akan uang ketika menempatkan uang sebagai segalanya. Ingat janji Tuhan bahwa Dia akan mencukupi apa yang kita butuhkan. Nilai hidup kita bukan ditentukan dari berapa banyak uang yang dimiliki karena kita sudah dibayar oleh Tuhan Yesus dengan harga yang tidak akan bisa dibayarkan oleh apa pun juga. Hiduplah mengucap syukur dengan apa yang ada, bekerjalah untuk Tuhan, berbagi berkatlah dengan orang lain, janganlah khawatir akan kebutuhan Anda.


Refleksi Diri:

Apa arti uang di dalam hidup Anda? Bagaimana pandangan Anda selama ini dalam hal mencari nafkah (uang)?


Apa hal yang paling berharga di dalam hidup Anda? Mengapa?


Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Jumat, 20 Oktober 2023

Yuk, Hidup Damai!


Bacaan: Filipi 4:4-7


Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.- Filipi 4:7


Rasa khawatir adalah akar dari depresi dan kecemasan. Terlalu banyak memelihara rasa khawatir tentu akan menimbulkan kecemasan yang besar. Namun sayangnya, perasaan khawatir sering kali muncul dalam diri tanpa kita ingini.

Apakah wajar memiliki rasa khawatir? Sebagai manusia, ya wajar-wajar saja. Namun, menjadi tidak wajar apabila memelihara kekhawatiran yang berlebihan.


Rasul Paulus memberitahukan jemaat Filipi bahwa manusia cenderung khawatir. Paulus menasihati para pembacanya untuk tidak khawatir (ay. 6a), bukan karena tidak ada masalah atau semuanya baik-baik saja, tetapi karena ada Allah! Kita dapat menyampaikan doa dan permohonan atas kekhawatiran kita kepada Allah (ay. 6b). Percayalah, Allah akan memberikan kita damai sejahtera di dalam Kristus Yesus. Paulus juga mengatakan bahwa damai sejahtera yang Allah berikan adalah damai yang jauh melampaui segala akal, yang tidak dapat kita bayangkan (ay. 7a). Damai dari Allah akan memelihara hati dan pikiran kita. Ketika masalah dan kesulitan hidup datang menghampiri kita, janganlah memfokuskan diri pada respons atas kekhawatiran kita, melainkan tetaplah berdoa dan memohon penyertaan serta kekuatan di dalam Tuhan.


Tentu tidak mudah untuk mengabaikan masalah yang ada dan rasa khawatir dalam diri kita. Ketika kita mulai merasa khawatir, yuk sama-sama ingat ayat di atas. Ingat dan percayalah bahwa ada Allah yang sanggup memelihara kita. Mintalah kepada Allah, damai sejahtera yang melampaui akal pikiran sehingga kita tetap dimampukan berjalan bersama Yesus Kristus dalam kondisi apa pun. Baik suka maupun duka, susah maupun mudah, tidak akan menghambat Allah memberikan damai-Nya dalam setiap diri kita.


Mari datang kepada-Nya. Bersukacita dan nikmatilah anugerah damai yang Allah berikan bagi setiap kita. Tidak perlu khawatir. Yuk, belajar hidup damai.


Refleksi Diri:

Apa saja hal-hal yang paling membuat Anda khawatir? Bagaimana respons Anda selama ini?


Bagaimana Anda mengatasi kekhawatiran? Apakah Anda sudah meminta damai sejahtera kepada Yesus?


Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Kamis, 19 Oktober 2023

Mengatakan Kebenaran


Bacaan: Matius 5:33-37


Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.- Matius 5:37


Dalam buku berjudul, To Kill a Mockingbird, dikisahkan seorang pria bernama Atticus Finch, pengacara yang sangat disegani di kota kecil tempatnya tinggal. Suatu kali Finch menangani kasus yang memperhadapkan seorang kulit hitam yang tidak bersalah dengan dua orang kulit putih yang tidak jujur. Finch tahu bahwa ia akan menghadapi praduga yang sangat buruk dari para juri. Namun, Finch tidak gentar, ia tidak mau terjebak dengan stereotip yang melemahkan orang kulit hitam. Finch dengan berani mengatakan kebenaran di hadapan para juri dan lawannya.


Di era modern ini, begitu mudah dan bebasnya seseorang dapat menyampaikan pendapat. Hal ini didukung dengan berkembangnya media sosial yang memungkinkan seseorang berbicara ke publik kapan saja. Sayangnya, kebebasan ini tidak disertai dengan pertanggungjawaban untuk menyampaikan kebenaran. Beberapa orang tanpa pikir panjang dan tidak bijaksana memberikan komentar. Mereka tidak melihat berdasar fakta dan informasi yang benar. Bahkan, ada juga orang yang menyebarkan berita bohong (hoaks) untuk mendiskreditkan orang lain.


Khotbah di bukit merupakan pengajaran-pengajaran awal yang disampaikan Tuhan Yesus. Salah satu pengajaran-Nya menekankan pentingnya memperkatakan kebenaran. Jika ya katakanlah ya, jika tidak katakanlah tidak. Perkataan ini disampaikan Tuhan Yesus terkait hukum bersumpah. Sumpah disampaikan untuk mendukung perkataan yang sebenarnya tidak memiliki kekuatan pada dirinya sendiri. Berbeda jika seseorang memperkatakan suatu kebenaran, kebenaran tidak memerlukan sumpah untuk memperkuatnya. Kebenaran tetaplah kebenaran. Dengan kata lain, Kristus ingin pendengarnya memahami, adalah lebih baik senantiasa memperkatakan kebenaran daripada perkataan kosong dengan sumpah. Bagaimana dengan kita hari ini? Masihkah kita sering menyampaikan kata-kata yang kosong. Kata-kata yang tidak mengandung kebenaran di dalamnya. Firman Tuhan jelas bagi kita, jika ya katakanlah ya, jika tidak katakanlah tidak. Mari kita menjaga setiap perkataan yang keluar dari mulut kita. Pastikan bahwa semua yang kita katakan adalah kebenaran. Di tengah situasi yang tidak mudah, berkata bohong hanya akan menghindarkan kita dari masalah. Namun, dengan berkata benar kita akan menyelesaikan masalah.


Refleksi Diri:

Apakah Anda memiliki kebiasaan berkata tidak benar, bahkan ditambahi kata sumpah? Segera bertobat dan minta Tuhan menjaga perkataan Anda.


Apakah Anda sering menghindari masalah dengan berbohong? Apa yang seharusnya Anda lakukan berdasar firman Tuhan hari ini?


Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Rabu, 18 Oktober 2023

Kasih Karunia yang Bertahan Lama


Kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. –Kolose 3:12


Ayat Bacaan & Wawasan:

Kolose 3:12-17


Pernahkah Anda mendengar tentang #slowfashion? Tagar tersebut menggambarkan sebuah gerakan yang gigih menolak fast fashion (harfiah: busana cepat), suatu industri busana yang didominasi oleh jenis-jenis pakaian yang dibuat dengan biaya murah dan dengan cepat dibuang. 

Dalam fast fashion, pakaian masuk ke pasar dan dalam waktu cepat sudah ketinggalan zaman. Sejumlah merek membuang banyak sekali produk mereka setiap tahunnya.


Gerakan slow fashion mendorong orang-orang untuk melambat dan mengambil pendekatan yang berbeda. Alih-alih didorong oleh kebutuhan untuk mengikuti mode terkini, slow fashion mendorong kita untuk memiliki jumlah pakaian lebih sedikit tetapi yang berbahan lebih bagus dan diperoleh secara etis, sehingga dapat dipakai lebih lama.


Saat memikirkan tentang #slowfashion, saya membayangkan bagaimana saya juga sering terseret kepada cara berpikir fast fashion dalam hal-hal lain dengan selalu mencari kepuasan dalam tren terbaru. Akan tetapi, dalam Kolose 3, Paulus mengatakan bahwa mengalami perubahan sejati di dalam Kristus bukanlah solusi instan atau tren yang bersifat sementara, melainkan suatu proses seumur hidup yang berlangsung senyap dan bertahap di dalam Kristus.


Alih-alih merasa perlu mengenakan simbol-simbol status duniawi yang terbaru, kita dapat memilih untuk menukar hasrat itu dengan sifat-sifat Roh Kudus, yakni mengenakan “belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (ay. 12). Kita dapat belajar bersabar terhadap satu sama lain yang sama-sama sedang menempuh perubahan yang dikerjakan Kristus dalam hati kita—sebuah perjalanan yang menuntun kepada damai sejahtera (ay. 15).


Renungkan dan Doakan

Bagaimana Anda pernah tergoda untuk mencari rasa aman, dengan berusaha mengikuti tren-tren terbaru? Apa yang dapat menolong Anda untuk menemukan kepuasan di dalam Yesus?


Ya Allah, terima kasih, karena aku dapat menyerahkan kepada-Mu segala daya upayaku yang menggelisahkan, dan sebagai gantinya, menerima damai sejahtera dalam ketenangan berjalan bersama-Mu.


Sumber: Our Daily Bread

Selasa, 17 Oktober 2023

MENGATASI KETAKUTAN


Bacaan: Mazmur 31:15-25


NATS: Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya Tuhan (Mazmur 31:15)


Banyak orang takut naik pesawat. Pemikiran terbang di udara membuat mereka cemas. Karena itu, Komunitas Fobia Amerika menganjurkan teknik-teknik berikut ini untuk mengatasi rasa takut tersebut. 


• Jangan mengonsumsi gula dan kafein sebelum dan selama penerbangan. 


• Bersandarlah ke belakang saat tinggal landas; biarkan otot-otot Anda melemas. 


• Nilailah kecemasan Anda pada skala 1 sampai 10. Pikirkan hal-hal yang positif; perhatikan berapa banyak ketakutan Anda berkurang. 


• Tarik napas dalam-dalam; tutup mata Anda; rentangkan lengan Anda. 


• Kenakan gelang karet di pergelangan tangan dan jepretkan karet itu untuk mengusir pikiran yang tidak menyenangkan. 


Kelima nasihat ini baik. Tetapi saya memiliki nasihat keenam yang dapat mengatasi semua jenis ketakutan. Sebenarnya, ini yang paling penting: Letakkan kepercayaan Anda kepada Allah. 


Itulah yang dilakukan Daud dalam Mazmur 31. Ada persekongkolan yang melawannya. Teman-teman telah meninggalkannya. Kekuasaannya tampak sudah berakhir. Kematian menunggu di depan mata. Tetapi ia membuat pilihan dan berseru, “Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya Tuhan” (ayat 15). 


Ketika Anda takut, mengambil napas dalam-dalam atau menjepret-jepretkan gelang karet mungkin akan membantu mengurangi ketakutan itu. Tetapi jangan tinggalkan cara terbaik untuk mengatasi ketakutan naik pesawat-atau ketakutan lain. Ikuti teladan Daud dan letakkan kepercayaan Anda kepada Allah -DCE 


IMAN ADALAH OBAT YANG DISEDIAKAN ALLAH BAGI KETAKUTAN


Sumber: Renungan Harian

Senin, 16 Oktober 2023

MIRIP SIAPAKAH KITA?

[[Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. ]] (1 Korintus 6:17)


Suatu hari ketika seorang ibu lewat di depan teman saya sembari menggandeng seorang anak kecil, teman saya ditanya oleh temannya, “Menurut kamu, anak itu apanya ibu itu?” “Pasti anaknya!” jawabnya spontan. Mengapa teman saya menjawab demikian? Sebab mereka berdua sangat mirip: cara berjalannya, cara bicaranya, cara tertawanya, bahkan raut wajahnya hampir serupa pula. Namun, ternyata teman saya itu salah, sebab ibu itu ternyata bukan ibu si anak tersebut, melainkan pengasuhnya.

Tampaknya orangtua anak tersebut sangat sibuk. Pagi-pagi benar sebelum anak itu bangun tidur, mereka sudah pergi bekerja dan pulang sampai jauh malam ketika sang anak sudah tertidur. Dengan demikian, sepanjang hari anak itu bersama pengasuhnya. Tanpa mereka sadari, lama kelamaan anak itu menjadi mirip sang pengasuh.

Kita semua cenderung mirip dengan orang-orang yang dekat dengan kita. Bukankah kita kerap melihat suami istri yang makin lama makin mirip satu dengan yang lain? Demikian juga jika kita dekat dengan Tuhan, kita akan makin serupa dengan Tuhan. Sebaliknya, jika kita dekat dengan Iblis, maka kita juga akan makin serupa dengan Iblis.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa sebagai orang percaya kita diberi kebebasan untuk memilih kepada siapa kita akan mengikatkan diri, apakah pada kenikmatan dosa yang berarti mendekat kepada Iblis dan menjadi makin serupa dengannya, ataukah kita memilih hidup benar yang berarti mengikatkan diri kepada Tuhan dan menjadi makin serupa dengan Dia. Mana yang kita pilih? (Ruth Retno Nuswantari)

Sumber: Amsal Hari Ini