Jumat, 31 Oktober 2025

Sombong Rohani

Bacaan: Hakim-hakim 20:15-28

Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. - 1 Petrus 5:6

Bagian ini mungkin merupakan salah satu bagian paling membingungkan di seluruh Kitab Hakim-hakim. Pertanyaannya jelas: mengapa orang Israel bisa sampai kalah dan gagal, bahkan meski Tuhan yang menyuruh mereka maju?

Bayangkan betapa anehnya keadaan ini. Orang Israel yang berjumlah 400.000 orang (ay. 17) melawan suku Benyamin yang hanya 26.000 orang ditambah 700 penduduk Gibea (ay. 15). Hampir 15x lipat lebih banyak. Tak hanya itu, dua kali mereka bertanya kepada Tuhan dan dua kali pula Tuhan menyuruh mereka untuk maju (ay. 18, 23). Baru sesudah yang ketiga kalinya mereka berhasil. Bagaimana bisa? Mengapa mereka kalah sampai dua kali dan kehilangan total 40.000 prajurit (ay. 21, 25)? Apakah Tuhan sedang membohongi mereka dua kali berturut-turut?

Jawabannya terletak kepada detail pendek di ayat 18, 23, dan 26. Pada ayat 18, mereka sekadar bertanya. Pada ayat 23, mereka menangis sebelum kemudian bertanya. Pada ayat 26, mereka juga berpuasa dan mempersembahkan korban. Berpuasa di dalam Perjanjian Lama selalu berkaitan dengan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Ingat, kesebelas suku Israel ini maju berperang untuk menghukum orang-orang Gibea. Sangat mungkin sekali mereka maju dengan sebuah kesombongan, perasaan superior secara spiritual, dan sikap menghakimi. Mereka bak orang-orang Farisi yang hendak menjatuhi hukuman mati kepada pezinah yang mereka anggap lebih berdosa dari mereka (Yoh. 8:1-11). Ini tidak benar. Di sepanjang Kitab Hakim-hakim, Israel secara keseluruhan telah menjadi bobrok, tidak hanya suku Benyamin. Itulah sebabnya Tuhan mengizinkan mereka mengalami kegagalan. Tuhan mengajarkan mereka untuk merendahkan diri. Mereka memerangi orang-orang Gibea bukan karena mereka lebih saleh, tetapi semata-mata karena Tuhan memakai mereka sebagai alat untuk menghajar orang-orang Gibea. Tidak ada tempat untuk kesombongan rohani di sini.

Sebagai orang-orang yang aktif di gereja, mudah sekali menjadi sombong seperti orang-orang Israel dan orang-orang Farisi di zaman Tuhan Yesus, terutama saat melihat saudara seiman jatuh ke dalam dosa. Hati-hati, jangan-jangan kita duluan yang akan dihajar Tuhan karena kesombongan kita, sebelum orang yang berdosa itu. Seperti yang dipelajari sebelumnya, kita harus berani mengonfrontasi orang yang bersalah. Namun, biarlah kita melakukannya dengan kerendahan hati.

Refleksi Diri:
Apakah Anda pernah membanding-bandingkan kesalehan Anda dengan orang lain? Apakah sikap ini menyebabkan Anda menjadi sombong rohani?

Apa yang dapat Anda lakukan untuk merendahkan diri Anda di hadapan Tuhan saat jatuh ke dalam dosa kesombongan rohani?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Kamis, 30 Oktober 2025

Apa yang Kamu Pelajari Saat Menunggu

Bacaan Hari ini:
Zakharia 13:9 "Aku akan menaruh yang sepertiga itu dalam api dan akan memurnikan mereka seperti orang memurnikan perak. Aku akan menguji mereka, seperti orang menguji emas. Mereka akan memanggil nama-Ku, dan Aku akan menjawab mereka."

Ada doa yang langsung dijawab, tetapi ada juga yang baru terjawab setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Mungkin kamu sudah pernah mengalaminya! Tetapi ada kabar baik: Saat kamu menantikan jawaban dari Tuhan, sebenarnya kamu sedang belajar hal-hal yang tidak bisa kamu pelajari dengan cara lain.

Dalam penantian, ada berkat. Salah satunya adalah kamu belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri ketika kamu tidak langsung mendapatkan semua yang kamu inginkan.

Dua doa terpenting yang pernah saya panjatkan, Tuhan menjawab yang satu setelah 13 tahun dan yang lain setelah 25 tahun. Tetapi Dia menjawab! Itu adalah doa-doa terpenting dalam hidup saya saat itu. Mengapa butuh waktu begitu lama? Karena ketika saya berdoa, Tuhan sedang bekerja membentuk saya.

Ketika kamu melewati "api", pernahkah kamu bertanya mengapa harus melalui itu? Jawabannya adalah untuk menguji dan memurnikan. Saat kamu berdoa berulang kali, kamu menghadapi ujian yang menyingkap siapa dirimu sebenarnya.

Tuhan berkata dalam Zakharia 13:9, "Aku akan memurnikan mereka seperti orang memurnikan perak. Aku akan menguji mereka, seperti orang menguji emas"

Emas diuji dengan dimasukkan ke wadah besar, lalu dipanaskan hingga semua kotorannya terbakar habis. Bagaimana seorang pandai logam tahu emas atau perak itu sudah murni? Saat ia bisa melihat bayangan dirinya di dalamnya.

Demikian juga, Tuhan akan melihat cerminan-Nya di dalam dirimu ketika semua kotoran hidupmu telah dibakar melalui ujian. Dia berkata bahwa setelah proses pengujian dan pemurnian selesai, "Mereka akan memanggil nama-Ku, dan Aku akan menjawab mereka." (Zakharia 13:9).

Jawaban doa sering datang setelah ujian. Sebelum setiap berkat, ada pengujian. Tuhan mungkin menguji kamu dengan tekanan sebelum mempercayakan kesuksesan kepadamu. Inilah prinsip doa yang tekun.

Saat Tuhan menguji kamu, kamu akan banyak belajar tentang dirimu sendiri. Jika kamu berhenti berdoa, kamu tidak akan pernah belajar pelajaran yang menolongmu menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Renungkan :
- Ingatlah satu waktu ketika Tuhan mengizinkanmu melewati “api” sebelum Dia menjawab doa. Bagaimana pengalaman itu membuatmu bertumbuh?
- Mengapa penting bagimu untuk menjadi semakin serupa dengan Yesus?
- Bagaimana Tuhan sedang menguji kamu saat ini? Apa yang akan kamu lakukan hari ini untuk tetap tekun dalam doa?

Teruslah berdoa dengan tekun setiap hari. Ingatlah, setelah ujian, berkat akan datang.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Rabu, 29 Oktober 2025

Ibadah yang Sungguh untuk Hidup yang Berbuah

Ayat Alkitab: Zakharia 7: 9 – “Beginilah firman TUHAN semesta alam: Laksanakanlah hukum yang benar dan tunjukkanlah kesetiaan dan kasih sayang kepada masing-masing!”

Sering kali setelah bertahun-tahun menjadi orang Kristen, kita merasa sudah melakukan kewajiban kita sesuai Firman Tuhan. Namun tanpa sadar, semua itu bisa berubah menjadi rutinitas semata. Kita berdoa, melayani, atau menjalankan panggilan-Nya, tetapi seiring waktu kita melakukannya hanya untuk diri sendiri, bukan lagi untuk Tuhan.

Inilah kondisi rohani yang ditegur Tuhan melalui nabi Zakharia. Ia menyinggung ibadah puasa dan ratapan orang-orang Betel. Tuhan berfirman: “Ketika kamu berpuasa dan meratap... selama tujuh puluh tahun ini, adakah kamu sungguh-sungguh berpuasa untuk Aku?” (Zakharia 7:5). Melalui ayat ini, Tuhan menegaskan bahwa ibadah tidak boleh berhenti pada ritual agama, melainkan harus lahir dari hati yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Lebih dari itu, Tuhan memberikan perintah: “Laksanakanlah hukum yang benar dan tunjukkanlah kesetiaan dan kasih sayang kepada masing-masing!” (Zakharia 7:9). Artinya, ibadah sejati harus disertai kehidupan yang benar: menaati Firman dan mengasihi sesama. Dalam ayat selanjutnya, Tuhan bahkan menegaskan bahwa kasih itu harus diberikan kepada semua orang tanpa terkecuali.

Dengan demikian, kehidupan rohani yang sungguh akan menghasilkan buah nyata, yaitu kasih kepada semua orang. Tidak ada ruang bagi kebencian, iri hati, atau kejahatan di dalam hati kita. Sama seperti Kristus memperlakukan semua orang dengan adil—baik yang benar maupun yang jahat—kita pun dipanggil untuk tetap mengasihi. Sekalipun melihat orang lain tampak lebih berhasil, hati kita harus dijaga dari iri dan tetap penuh kasih.

Semua ini hanya mungkin terjadi bila kita memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan. Relasi yang intim dengan-Nya akan membuat kita mampu menghidupi kebenaran-Nya, bukan sekadar menjalankan ritual harian.

Action Praktis:

Hari ini, periksalah apakah ada sesuatu yang mencemari hati kita: iri, kesombongan, keangkuhan, kekecewaan, atau kebencian. Datanglah kepada Tuhan, mintalah pengampunan-Nya, dan pulihkan kembali hubungan yang erat dengan-Nya. Dengan begitu, kita dapat menghidupi kebenaran-Nya setiap hari.

Sumber: Jawaban.com

Selasa, 28 Oktober 2025

SENGAJA

Bacaan: Kejadian 50:15-21

NATS: Segala sesuatu … mendatangkan kebaikan … bagi mereka yang terpanggil sesuai rencana Allah (Roma 8:28)

Ketika seorang koboi mendaftar untuk sebuah polis asuransi, sang agen asuransi bertanya kepadanya, “Apakah Anda pernah mengalami kecelakaan?” Setelah merenung beberapa saat, ia kemudian menjawab, “Belum, tetapi pada musim panas yang lalu seekor kuda liar menyepak dan mematahkan dua rusuk saya, dan beberapa tahun yang lalu seekor ular menggigit pergelangan kaki saya.” 

“Bukankah itu namanya kecelakaan?” sahut sang agen dengan keheranan. “Bukan,” jawab si koboi, “kedua binatang tersebut melakukannya dengan sengaja!” 

Kisah ini mengingatkan saya akan kebenaran Alkitab bahwa tidak ada kecelakaan di dalam kehidupan anak-anak Allah. Dalam bacaan Kitab Suci pada hari ini, kita membaca bagaimana Yusuf memahami suatu pengalaman sulit yang tampaknya seperti bencana besar. Ia dilemparkan ke sumur, kemudian dijual sebagai budak. Ini merupakan ujian yang berat bagi imannya, dan apabila dilihat dari kacamata manusiawi, maka hal ini merupakan kasus ketidakadilan yang tragis, bukan sarana rahmat ilahi. Tetapi, di kemudian hari Yusuf akhirnya mengerti bahwa “Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan” (Kejadian 50:20). 

Apakah Anda saat ini sedang melalui badai pencobaan dan kekecewaan? Apakah segala sesuatu sepertinya sedang melawan Anda? Semua kemalangan itu bukanlah kecelakaan. Tuhan mengizinkan hal-hal demikian untuk suatu tujuan yang mulia. Karena itu, percayalah kepada-Nya dengan sabar. Jika Anda betul-betul mengenal Tuhan, suatu hari nanti Anda akan memuji-Nya karena semuanya itu! -RWD 

ALLAH MENGUBAH PENCOBAAN MENJADI KEMENANGAN

Sumber: Renungan Harian

Senin, 27 Oktober 2025

Mempersembahkan yang Terbaik 

Bacaan: Lukas 21:1-4 

Persembahan merupakan ungkapan syukur kita kepada Tuhan karena Tuhan telah memberkati kita. Bila kita hitung berkat Tuhan dalam hidup kita, hasilnya tentu saja tidak terhingga. Walaupun demikian, tetap saja ada orang yang takut dan khawatir memberikan persembahan, bahkan sangat perhitungan dengan Tuhan.

Perikop kali ini mengingatkan kita akan pentingnya mengucap syukur dalam setiap keadaan. Kekayaan ataupun kelebihan materi bukanlah syarat di dalam kita memberi persembahan. Pada kesempatan ini, kita belajar dari seorang janda miskin. Dua kondisi marginal ada pada perempuan ini. Sudah janda, miskin pula. Namun, hal yang sangat luar biasa dilakukan oleh janda miskin ini.

Yesus, yang kala itu ada di Bait Allah, mengamati orang orang yang memberikan persembahan. Ada orang-orang kaya yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Lalu, datanglah seorang janda miskin yang memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Peser (Yun. Lepton) adalah mata uang terkecil bagi orang Yahudi. Namun, Yesus mengatakan bahwa janda miskin ini memberikan lebih banyak dari semua orang yang memberi, termasuk orang-orang kaya tadi.

Janda miskin ini tampaknya sangat yakin akan pemeliharaan Tuhan dalam hidupnya sehingga ia berani memberikan seluruh nafkah yang dimilikinya. Walaupun tidak diceritakan bagaimana keseharian janda miskin ini, namun kita yakin bahwa janda miskin ini seorang pekerja yang tangguh. Meskipun miskin, ia berhikmat dalam mengelola keuangan sehingga tidak pernah kekurangan. Hal yang paling penting, ia mengandalkan Tuhan dalam hidupnya.

Bagaimana dengan kita, apakah masih ada kekhawatiran atau ketakutan dalam memberikan persembahan yang terbaik untuk Tuhan? Serahkanlah kekhawatiran dan ketakutan kita kepada Tuhan! Marilah kita belajar dari janda miskin yang sangat yakin akan pemeliharaan Tuhan dalam hidupnya sehingga ia berani mempersembahkan yang terbaik untuk Tuhan. Mari kita ucapkan syukur atas berkat Tuhan yang tidak terhingga dalam hidup kita. [LRS]

Sumber: Santapan Harian

Minggu, 26 Oktober 2025

Bagaimana Cara Mendoakan Orang Lain

Bacaan Hari ini:
Matius 7:12 "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Banyak orang tahu tentang Hukum Emas (Golden Rule), tetapi mungkin mereka tidak menyadari bahwa hal itu juga berkaitan dengan doa. Ayat ini berkata: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 7:12).

Sekilas, ini mungkin tidak terdengar ada hubungannya dengan doa—tetapi sebenarnya ada. Pernahkah seseorang meminta Anda untuk mendoakannya, lalu Anda bingung harus mulai dari mana?

Inilah caranya: Doakan orang lain dengan cara yang sama seperti Anda ingin mereka mendoakan Anda.
- Apakah Anda ingin hidup dengan aman, terjaga dan berhasil? Tentu saja. Maka doakan juga keselamatan, rasa aman dan keberhasilan bagi orang lain.
- Apakah Anda ingin menerima berkat keuangan dari Tuhan? Ya. Maka doakan juga berkat keuangan Tuhan bagi orang lain.
- Apakah Anda ingin tubuh yang sehat? Pastinya. Maka doakan juga kesehatan bagi orang lain.
- Apakah Anda ingin menggunakan waktu dengan lebih bijak? Kita semua ingin! Maka doakan juga supaya orang lain bijak menggunakan waktu mereka.

Allah adalah Bapa yang penuh kasih. Cara Allah memperlakukan Anda sebagai anak yang dikasihi adalah cara yang Ia ingin Anda perlakukan juga kepada orang lain. Apa pun yang Anda harapkan dari Tuhan untuk diri sendiri, doakanlah hal yang sama untuk orang lain.

Belajar berdoa dengan cara seperti ini membuat kita semakin menyerupai Yesus, karena doa seperti ini melatih kita untuk tidak egois.

Dalam Ayub 42:10 tertulis: "setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu "

Ayub pernah menjadi salah satu orang terkaya di dunia, tetapi dalam satu hari, ia kehilangan segalanya. Anak-anaknya mati, usahanya runtuh, ladangnya terbakar, rumahnya hilang dan tubuhnya diserang penyakit yang mengerikan. Ia sangat menderita.

Namun kitab Ayub tidak berkata: "Ketika Ayub berdoa untuk dirinya sendiri, Tuhan mendengarnya." Sebaliknya, berkat Tuhan datang ketika Ayub mulai berdoa untuk sahabat-sahabatnya.

Renungkan :
- Hal apa yang saat ini Anda doakan bagi diri sendiri, yang juga bisa Anda doakan bagi orang lain?
- Apakah Anda percaya doa adalah sarana yang kuat untuk Allah bekerja dalam hidup Anda? Jika ya, bagaimana hal itu tercermin dalam cara Anda berdoa?
- Ketika Anda berkata kepada seseorang, “Saya akan mendoakanmu,” seberapa sering Anda benar-benar melakukannya? Apa yang bisa Anda lakukan supaya lebih konsisten menepati janji doa itu?

Tuhan rindu kita tidak mementingkan diri sendiri. Saat kita mulai mendoakan terobosan bagi orang lain, Tuhan juga akan membuka jalan bagi terobosan dalam hidup kita.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Sabtu, 25 Oktober 2025

Mendengarkan Membangun Hubungan

Bacaan: 1 SAMUEL 15:1-23

1 SAMUEL 16:14-23 "Mengapa engkau tidak mendengarkan suara Tuhan? Mengapa engkau menyambar jarahan dan melakukan apa yang jahat di mata Tuhan?" (1 Samuel 15:19)

Mendengar artinya menangkap suara dengan telinga. Misal, saat joging saya mendengar suara burung. Mendengarkan artinya menangkap suara dengan sungguh-sungguh. Contoh, saya duduk diam mendengarkan istri "curhat". Orang yang mendengarkan saat seseorang berbicara bisa menangkap utuh pesan yang disampaikan dan mendapatkan respek dari lawan bicaranya. Sebaliknya, orang yang selalu berfokus pada dirinya sendiri dan bicara tentang diri dan kepentingan sendiri, jarang mengembangkan hubungan dengan orang lain.

Allah mau kita menjadi orang Kristiani yang mendengarkan firman-Nya, fokus kepada-Nya, membangun hubungan yang kuat dengan-Nya. Hubungan Allah dengan Saul rusak, padahal Allah yang menunjuk Saul sebagai raja Israel, berawal dari Saul sendiri yang tidak mendengarkan suara Allah. Allah perintahkan Saul menumpas habis bangsa Amalek (ay. 3), tapi yang dilakukan Saul dan rakyat Israel berbeda dengan apa yang Allah perintahkan (ay. 9). Di waktu berbeda, Saul mau mendengarkan ide dari para hambanya untuk mencari seorang yang pandai main kecapi. Saat roh jahat menganggunya, Daud memainkan kecapi, sehingga roh jahat itu undur dan Saul merasa lega.

Mendengarkan suara Tuhan melalui Alkitab yang setiap hari kita renungkan, mendengarkan sesama bercerita sesuatu kepada kita, membuat kita mampu merespons dengan tepat. Ketika kita menjadi pendengar yang mendengarkan, kita membantu orang lain, kita mengembangkan hubungan yang kuat, dan mampu memenuhi kebutuhan diri sendiri dan orang yang kita dengarkan. --RTG/www.renunganharian.net

ALLAH MAU KITA MENDENGARKAN FIRMAN-NYA, BERFOKUS KEPADA-NYA, DAN MEMBANGUN HUBUNGAN YANG KUAT DENGAN-NYA.

Jumat, 24 Oktober 2025

Mencerminkan Yesus

Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami. –2 Korintus 5:20

Ayat Bacaan & Wawasan :
2 Korintus 5:9-10, 14-20

Pada hari pertama dari pelatihan keterampilan wirausaha kepada para remaja, seorang murid berkata kepada Alan, “Bapak seorang Kristen, bukan? Saya bisa mengenalinya.” Alan belum pernah mengatakan dirinya seorang Kristen atau mengenakan kaos kaki serta dasi kesayangannya yang dihiasi dengan simbol-simbol rohani. Namun, anak remaja itu berkata bahwa ia melihat Yesus melalui perkataan, perbuatan, dan perilaku Alan. Mereka berdua kemudian membicarakan bagaimana mereka dapat mencerminkan Yesus dengan lebih baik di mana saja mereka berada.

Mengakui bahwa kita adalah orang Kristen dan mengenakan pakaian atau atribut dengan pesan rohani memang baik. Namun, Alkitab mengajarkan bahwa cara kita menjalani hidup dan mengasihi sesama dalam memberitakan Injil adalah ciri sejati dari para pengikut Yesus. Rasul Paulus dan orang-orang percaya lainnya di Korintus merasa tergerak, atau didorong, oleh kerinduan untuk menyenangkan Allah dengan menjalani hidup dalam perspektif kekekalan sembari menceritakan tentang Dia kepada orang lain (2 Kor. 5:9-14).

Ketika kita bertekad untuk hidup bagi Kristus dan bukan bagi diri kita sendiri, Roh Kudus sanggup mengubah perspektif, karakter, prioritas, dan cara kita berinteraksi dengan sesama (ay. 15-17). Hidup baru kita di dalam Yesus sepatutnya mencerminkan Dia di saat kita menuntun orang lain kepada-Nya, “seakan-akan Allah menasihati [mereka] dengan perantaraan [kita]” (ay. 20).

Dengan kuasa Roh Kudus, kita diberikan sukacita sekaligus tanggung jawab untuk mencerminkan Kristus ke mana pun kita melangkah.

Oleh: Xochitl Dixon

Renungkan dan Doakan
Bagaimana orang lain telah menuntun Anda kepada Yesus, melalui cara hidup mereka? Bagaimana karya Allah yang mengubah hidup Anda telah membantu Anda menjadi duta Kristus yang lebih baik?

Tuhan Yesus, Engkau sanggup mengubahkan hidupku. Ubahlah diriku dengan kuasa Roh-Mu, supaya di mana pun Engkau menempatkanku, aku dapat mencerminkan-Mu dengan lebih baik.

Sumber: Our Daily Bread

Kamis, 23 Oktober 2025

Satu Sendok Kasih

Bacaan: KOLOSE 3:5-17

Di atas semuanya itu: Kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. (Kolose 3:14)

Menambahkan satu sendok bumbu tertentu ke dalam masakan menjadikan masakan tersebut berbeda. Jika memang takaran bumbu itu tepat maka akan dihasilkan makanan yang semakin lezat sehingga terasa nikmat untuk disantap. Ya, satu sendok bumbu dapat mengubah cita rasa makanan.

Kita bisa membayangkan kasih sebagai salah satu dari bumbu yang dapat kita tambahkan dalam berelasi dengan sesama. Satu sendok kasih ditambahkan kepada setiap tindakan kita. Mungkin terlihat sepele, tapi hasilnya pasti berbeda. Menjadi semakin baik, manis, hangat, damai, dan tenteram. Saat berhadapan dengan orang-orang yang menjengkelkan, tambahan satu sendok kasih menolong kita mampu bersabar atau mengampuni (ay. 13). Kita bahkan bisa menegur mereka dengan kasih, bukan dengan kebencian atau amarah. Saat ada ancaman perpecahan, tambahan satu sendok kasih bisa menjadi perekat yang mempersatukan. Saat perilaku egois mulai muncul, tambahan satu sendok kasih akan mendorong kita untuk mulai memperhatikan kepentingan orang lain. Satu sendok kasih bisa menolong kita untuk tidak melemahkan semangat orang lain, melainkan memberi mereka dorongan.

Mengibaratkan tindakan mempraktikkan kasih seperti halnya menambahkan satu sendok bumbu mungkin bisa membuat kita lebih mudah melakukannya. Tidak harus membayangkan suatu tindakan yang spektakuler dan penuh pengorbanan, tetapi dimulai dengan tindakan-tindakan yang kecil. Cukup satu sendok. Namun, ketika kita mampu melakukannya maka kasih Allah yang mengalir di dalam kita akan tersalurkan kepada banyak orang. Karenanya, mari tambahkan satu sendok kasih dalam setiap perkataan dan perbuatan kita. --HT/www.renunganharian.net

SEKALIPUN TINDAKAN KASIH YANG KITA PERBUAT TAMPAKNYA KECIL, 
TETAPI DAMPAKNYA BISA MENGHASILKAN HAL-HAL YANG TIDAK KERDIL.

Rabu, 22 Oktober 2025

PEMELIHARAAN ALLAH YANG MISTERIUS

Pada keesokan harinya kami singgah di Sidon. Yulius memperlakukan Paulus dengan ramah dan memperbolehkannya mengunjungi sahabat-sahabatnya, supaya mereka melengkapkan keperluannya. – Kisah Para Rasul 27:3

Dalam Kisah Para Rasul 7:58 kita membaca bahwa Saulus dari Tarsus ikut hadir ketika Stefanus, martir pertama, dirajam dan dilempari orang-orang dengan batu. Ia bahkan menjaga jubah orang-orang yang melempari Stefanus. Tidak lama kemudian, Saulus menjadi pemimpin penganiayaan terhadap jemaat. Karena itu, banyak orang Kristen terpaksa meninggalkan Yerusalem dan tersebar ke berbagai daerah. Tetapi justru lewat penyebaran ini, Injil ikut diberitakan ke mana-mana (Kis. 8:3-4). Luar biasa, kasih karunia Kristus menjangkau Saulus sendiri. Ia bertobat dan diutus menjadi rasul, padahal sebelumnya ia “berkobar-kobar hati untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan” (Kis. 9:1).

Yang menarik, dalam Kisah Para Rasul 27:3, Saulus—yang dikenal sebagai Paulus—disebut memiliki sahabat-sahabat Kristen di Sidon. Besar kemungkinan mereka adalah jemaat yang terbentuk akibat penganiayaan yang pernah dipimpinnya sendiri sebelumnya. Jadi, keberadaan gereja di Sidon tidak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa Saulus dulu adalah penganiaya yang sangat kejam. Benarlah, Allah bekerja dengan cara yang misterius.

Coba bayangkan jika kita adalah orang-orang yang dulu dianiaya Saulus. Pasti kita akan merasa sedih dan berkata, “Tuhan, kami tercerai-berai. Keluarga kami terpisah. Komunitas kami hancur. Bukankah ini mengerikan?” Dari sudut pandang manusia, semuanya terlihat pahit. Tetapi justru di balik tragedi itu, kita bisa melihat pemeliharaan Allah yang ajaib. Ironis tapi indah: Paulus yang dulu mengusir mereka, kini malah menerima kasih dan pertolongan dari orang-orang Kristen di kota itu.

Pada waktunya, kekacauan hidup kita, kesulitan, dan kekecewaan yang kita alami akan terlihat dalam perspektif yang benar. Kita perlu ingat sebuah kebenaran indah:

Bahkan hal yang buruk bisa menjadi baik jika Tuhan memberkatinya.
Kebaikan tanpa berkat-Nya justru bisa berakhir buruk.
Apa yang tampak salah sekalipun, bisa menjadi benar
jika itu adalah kehendak-Nya yang kudus

Frederick W. Faber, I Worship Thee, Sweet Will of God

Kisah kecil dalam hidup Paulus ini sejalan dengan kata-kata Yusuf kepada saudara-saudaranya yang pernah menjualnya ke Mesir: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan” (Kej. 50:20). Allah sanggup membalikkan niat jahat manusia menjadi bagian dari rencana-Nya yang indah bagi anak-anak-Nya. Dia setia dan tidak pernah berubah. Karena itu, kita bisa menemukan penghiburan dalam pemeliharaan-Nya yang misterius dengan keyakinan bahwa apa pun yang menimpa kita, pada akhirnya akan dipakai Allah untuk kebaikan kita dan bagi kemuliaan-Nya.

Refleksi
Bacalah Kejadian 45:4-15 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?

2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?

3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?

Sumber: Gibeon Church

Selasa, 21 Oktober 2025

Pulihkan Hubungan Sebelum Datang Kepada Tuhan

Ayat Renungan: Matius 5:23–24  “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”
 
Tuhan Yesus mengajarkan bahwa ibadah sejati bukan hanya tentang datang ke hadapan Tuhan, tetapi juga tentang keadaan hati kita terhadap sesama. Sebelum mempersembahkan apa pun di hadapan Allah, Yesus meminta kita untuk memulihkan hubungan yang rusak dengan orang lain. Ini menunjukkan betapa seriusnya Tuhan menilai hubungan antarmanusia. Ibadah yang sejati dimulai dari hati yang bersih dan damai — bukan hanya dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama.

Yesus menegaskan dua hukum utama: mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan pikiran (Ulangan 6:5), dan mengasihi sesama seperti diri sendiri (Imamat 19:18). Ia berkata bahwa keduanya sama pentingnya. Artinya, kita tidak bisa mengaku mengasihi Allah jika kita masih menyimpan kebencian terhadap orang lain yang juga diciptakan menurut gambar-Nya. Mengasihi sesama adalah bukti cerminan kasih Tuhan di dalam diri kita.

Jadi, ketika kita sadar ada hubungan yang retak, Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk sebelum menghadap kepada Tuhan, kita harus lebih dulu mendatangi orang itu untuk berdamai. Tidak peduli siapa yang salah, tanggung jawab kita adalah mengambil langkah pertama menuju rekonsiliasi. Pastinya dibutuhkan kerendahan hati untuk bertekad menyelesaikan setiap persoalan dengan damai.

Hari ini, saya mau mengajak Anda untuk mengingat apakah ada hubungan dalam hidup Anda yang sedang retak atau rusak? Ini adalah kesempatan berharga dimana Tuhan sedang berbicara kepada Anda untuk segera menyelesaikannya. Jangan menunda, tetapi lakukanlah hari ini - bisa dengan mendatangi mereka, mengirimkan pesan atau mengajak mereka untuk berdialog.
 
Sumber: Jawaban.com

Senin, 20 Oktober 2025

Pilihan Dalam Menghadapi Orang-orang Sulit

Ayat Renungan: Matius 5: 38-39

“Kamu telah mendengar Firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.”

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti berhadapan dengan orang-orang sulit—mereka yang keras kepala, suka merendahkan, merugikan, atau bertingkah menyebalkan. Bisa jadi mereka adalah pasangan, orang tua, rekan kerja, tetangga, bahkan pemimpin kita. Kehadiran mereka sering kali merusak ketenangan, mencuri sukacita, dan mengusik damai sejahtera melalui perkataan maupun sikap negatif. Tidak jarang mereka memunculkan sisi terburuk dalam diri kita hingga membuat kita kehilangan kendali dan bereaksi secara emosional maupun fisik. Kita pun mengira bahwa membalas dengan cara demikian adalah langkah rasional untuk memberi efek jera.

Namun sesungguhnya, itu hanyalah bentuk balas dendam yang justru memperbesar konflik, dan jelas bukan pilihan yang Tuhan kehendaki. Yesus berkata dalam Matius 5:38-39, “Kamu telah mendengar Firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Melalui firman ini, Tuhan menegaskan bahwa kita dipanggil untuk memutus siklus kebencian dan kemarahan, bukan dengan cara dunia, melainkan dengan respons yang berbeda—kasih yang mungkin terasa tidak masuk akal dan mustahil, namun justru itulah jalan yang membawa damai.

Jika kita membaca pelayanan Yesus dalam Perjanjian Baru, kita melihat bahwa sepanjang hidup-Nya Ia dikelilingi orang-orang sulit—mereka yang membenci, memandang sinis, mengancam, bahkan berusaha membunuh-Nya. Namun Yesus tidak pernah bereaksi dengan cara yang sama. Padahal, Ia bisa saja memerintahkan malaikat-Nya, mengguncang bumi, dan melenyapkan semua musuh-Nya. Tetapi itu bukanlah citra Yesus. Jika Ia melakukan itu, Ia akan dikenal sebagai Tuhan yang kejam. Karena itu, Yesus memilih untuk menghadapi orang-orang sulit dengan kasih yang sabar, memadukan kasih dan kebenaran untuk mematahkan cara pandang mereka yang salah.

Hal ini menunjukkan bahwa respons kita terhadap orang-orang sulit menentukan apakah mereka akan tetap terjebak dalam kesulitan karakter, atau justru berubah menjadi lebih baik. Yesus memberikan teladan untuk memperlakukan mereka dengan kasih yang disertai kebenaran. Firman Tuhan menegaskan, “Kasih menutupi banyak sekali dosa” (1 Petrus 4:8) dan “Kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8:32). Dengan kasih, hati yang keras dapat dilunakkan, dan dengan kebenaran, hidup yang salah arah dapat dipulihkan.

Menghadapi orang sulit memang tidak mudah, tetapi di situlah kita dipanggil untuk mempraktekkan kasih yang berpadu dengan kebenaran. Ini bukan berarti membiarkan diri terus disakiti, melainkan merespons dengan sabar tanpa kehilangan ketegasan. Kita bisa mulai dengan langkah sederhana: menahan diri untuk tidak membalas, memilih kata-kata yang jujur sekaligus menghargai, dan mendoakan mereka yang menyulitkan kita. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi sikap itu menjaga hati kita tetap tenang dan memberi ruang bagi kasih Kristus untuk bekerja, baik dalam hidup kita maupun hidup mereka.

Action Praktis:
1. Saat berhadapan dengan orang yang menyulitkan, berhentilah sejenak untuk berdoa singkat, lalu pilihlah merespons dengan kata-kata yang jujur namun penuh hormat, bukan dengan kemarahan.

2. Doakan secara khusus orang yang membuat Anda terluka, sambil terus mengevaluasi sikap diri: apakah sudah mencerminkan kasih dan kebenaran seperti teladan Yesus?

Hidup Anda berharga, dan Tuhan tidak pernah melepaskan tangan-Nya dari Anda. Hari ini adalah kesempatan baru untuk membuka hati dan membiarkan kasih-Nya memulihkan setiap luka. 

Sumber: Jawaban.com

Minggu, 19 Oktober 2025

Ge-er

Bacaan: Hakim-hakim 17:7-13

Mereka mengobati luka umat-Ku dengan memandangnya ringan, katanya: Damai sejahtera! Damai sejahtera!, tetapi tidak ada damai sejahtera - Yeremia 6:14

Ge-eR, akronim dari Gede Rasa, adalah bahasa gaul jadul untuk menggambarkan rasa percaya diri berlebihan. Misalnya, merasa lebih populer, lebih menjadi perhatian, atau lebih disukai daripada kenyataannya.

Inilah yang dirasakan Mikha. Ge-eR. Merasa Tuhan senang dengan apa yang dikerjakannya dan akan memberkati apa yang ia lakukan (ay. 13). Sesudah meletakkan patung tuangan dari ibunya di kuil, membuat efod dan terafim, ia mendadak berjumpa dengan seorang Lewi yang kemudian bersedia untuk menjadi imamnya (ay. 11-12). Tentu saja Mikha berpikir bahwa Tuhan berkenan dengan apa yang ia lakukan dan karena itu, Tuhan mengutus baginya seorang Lewi untuk menjadi imam.

Apakah dugaan Mikha ini benar? Tentu saja tidak! Membuat patung jelas adalah dosa di hadapan Tuhan. Boro-boro merasa senang, Tuhan justru harus bersabar sehingga Dia tidak menghukum Mikha seperti orang orang Israel yang membuat patung lembu emas (Kel. 32). Ucapan Mikha di ayat 13 memang benar-benar menunjukkan bahwa dirinya Ge-eR. Mengira Tuhan berkenan kepadanya, padahal sebenarnya tidak.

Sebelum menertawakan kekonyolan Mikha, mungkin ada baiknya kita berintrospeksi diri. Bukankah kita seringkali merasa Ge-eR di hadapan Tuhan? Kita dengan bebalnya tetap hidup dalam dosa karena melihat semuanya lancar. Kita melakukan kecurangan-kecurangan dalam bisnis dan semakin sukses, lantas kita berpikir Tuhan memberkati usaha kita. Di gereja, program-program yang kita adakan berjalan lancar bahkan dihadiri banyak orang, lantas kita berpikir Tuhan berkenan dengan apa yang kita kerjakan. Kita sering ke-Ge-eR-an, merasa Tuhan sedang memberkati kita dan menyetujui dosa-dosa kita. Hati-hati, mungkin sekali Tuhan sedang menahan konsekuensi dari perbuatan kita, semata-mata karena Dia begitu panjang sabar kepada kita.

Itulah pentingnya bergumul dengan Tuhan dan meminta-Nya menyelidiki hati kita. Ketika kita berani membuka diri kepada-Nya, Dia akan menunjukkan kepada kita hal-hal apa saja—baik yang tersembunyi maupun yang terlihat—yang tidak kita sadari sebenarnya mendukakan hati-Nya. Celakanya, kita tidak pernah melakukannya dan malah menipu diri sendiri karena jauh lebih enak berpikir bahwa semua baik-baik saja daripada disadarkan dari dosa-dosa oleh Tuhan. Kita menjadi tidak ada bedanya dengan Mikha yang bodoh.

Ingat: jangan jadi orang Kristen yang ke-Ge-eR-an!.

Refleksi Diri:
Apa yang Anda rasakan dengan hidup Anda saat ini? Apakah segala sesuatu sedang lancar-lancar dan Anda merasa telah hidup memperkenankan Tuhan?

Bagaimana perasaan ini ketika dibandingkan dengan kehidupan kerohanian Anda? Apakah masih ada dosa yang Anda terus perbuat? Mungkinkah Anda sebenarnya sedang ke-Ge-eR-an?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Sabtu, 18 Oktober 2025

Sikap Yang Tidak Tercela

Untuk sampai pada perdamaian dengan orang yang berselisih dengan kita, kata renungan hari ini, membutuhkan proses, yang dikerjakan oleh dan membutuhkan kepekaan Roh. Perdamaian ditandai dengan sikap tidak menyalahkan orang yang bersangkutan. Hal ini bukan persoalan hak. Tanda yang benar dari orang percaya ialah bahwa dia dapat melepaskan hak-haknya sendiri -- walau itu memang haknya -- dan mematuhi Tuhan Yesus.

... jika engkau ... teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau ... — Matius 5:23

Ayat ini menyatakan, “... jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau ...” Ayat tersebut tidak berbunyi, “Jika engkau menyelidiki dan mendapati sesuatu sebagai akibat dari kepekaanmu yang tidak seimbang,” tetapi, “Jika engkau ... teringat ....”

Dengan kata lain, jika Roh Allah menyadarkan sesuatu dalam pikiran Anda, “... pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Matius 5:24). Jangan sekali-kali menolak kepekaan yang kuat dari Roh Allah dalam diri Anda, bila Dia sedang memberi petunjuk kepada Anda sampai hal yang serinci-rincinya.

“Pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu ....” Petunjuk Tuhan kita sederhana: “Berdamailah dahulu ....” Apa yang hendak Dia katakan, “Kembalilah ke jalanmu, jalanilah jalan yang ditunjukkan kepadamu oleh penginsafan yang diberikan kepadamu di mezbah; ambillah sikap dalam pikiran dan jiwamu terhadap orang yang melawanmu, sikap yang membuat perdamaian sewajar bernapas.” Yesus tidak menyebutkan orang lain -- Dia menyuruh Anda untuk pergi menemuinya.

Ini bukan persoalan hak Anda. Tanda yang benar dari orang percaya ialah bahwa dia dapat melepaskan hak-haknya sendiri -- walau itu memang hak kita -- dan mematuhi Tuhan Yesus.

“... lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” Proses perdamaian/rekonsiliasi itu disebutkan dengan jelas. Pertama-tama kita mempunyai semangat untuk mengorbankan diri, kemudian hadirnya desakan oleh kepekaan Roh Kudus, dan selanjutnya kita sampai pada titik penginsafan kita. Selanjutnya, ini diikuti oleh ketataan pada firman Allah, yang membangun suatu sikap atau keadaan pikiran (state of mind) yang tidak menyalahkan orang yang dengannya Anda berselisih. Dan, akhirnya ada penyembahan persembahan Anda kepada Allah, yang tidak terhalang dan penuh sukacita.

Sumber: Renungan My Utmost Oswald Chambers

Jumat, 17 Oktober 2025

Mengasihi Adalah Keputusan

Ayat Renungan: 1 Yohanes 4:7-8 – “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”

Dalam pandangan dunia, kasih diterapkan sebagai praktik timbal balik - bahwa seseorang akan mengasihi orang yang mengasihinya juga. Namun, pagi ini kita akan belajar tentang kasih tanpa syarat, seperti disampaikan Yohanes dalam ayat renungan pagi ini.

Istilah “Allah adalah kasih” yang ditekankan di 1 Yohanes 4: 7-8 di atas bukan hanya sekadar gambaran sifat Allah, tetapi menyatakan hakikat-Nya. Kasih bukan hanya sesuatu yang Allah lakukan, tetapi siapa diri-Nya. Maka, orang yang benar-benar mengenal Allah akan memancarkan kasih itu dalam hidupnya. Sebaliknya, jika seseorang hidup dalam kebencian, dendam, atau kepahitan, itu menjadi tanda bahwa ia belum sungguh-sungguh mengenal Allah.

Yesus sendiri menunjukkan kasih yang sempurna di kayu salib. Ketika orang banyak berteriak “Salibkan Dia!”, kasih membuat-Nya berseru, “Ya Bapa, ampunilah mereka.” Kasih sejati bukan sekadar perasaan, melainkan keputusan untuk tetap memberi yang terbaik, bahkan ketika kita dilukai.

Itu bukan berarti kita menjadi orang yang kompromi dengan kesalahan orang lain. Sebaliknya itu adalah respons dari perintah untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita bisa mengampuni karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita. Yohanes menulis, “Setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.” (1 Yohanes 4: 7) Artinya, kemampuan mengasihi bukan berasal dari kekuatan kita, melainkan dari kasih Kristus yang memenuhi hati kita.

Jika kita merasa sulit mengasihi, itu wajar. Namun, di situlah kita perlu datang kepada Tuhan, meminta Roh Kudus memenuhi kita dengan kasih-Nya. Ketika kita tinggal dalam kasih Allah, maka kasih itu akan mengalir dari kita kepada orang lain, meski ada harga yang harus dibayar. Dan inilah bukti nyata bahwa Allah hidup di dalam kita.

Action Praktis:
Adakah orang yang sulit Anda kasihi saat ini? Berdoalah agar Allah mengubahkan hati Anda dengan kasih-Nya. Mari mengingat bahwa mengasihi bukan tentang layak atau tidaknya seseorang, tetapi tentang hidup tanggung jawab kita sebagai orang-orang yang sudah lebih dulu menerima kasih Allah.

Hidup Anda berharga, dan Tuhan tidak pernah melepaskan tangan-Nya dari Anda. Hari ini adalah kesempatan baru untuk membuka hati dan membiarkan kasih-Nya memulihkan setiap luka. 
   
Sumber: Jawaban.com

Kamis, 16 Oktober 2025

Mengapa Kekhawatiran Itu Tidak Berguna

Bacaan Hari ini:
Filipi 4:6-7 "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus."

"Jangan khawatir" mungkin adalah perintah yang paling sulit untuk ditaati dalam Alkitab. Setiap orang pasti pernah merasa khawatir. Kita sering melanggar perintah ini, karena sifat manusia cenderung untuk khawatir.

Yesus berkata: "Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari" (Matius 6:34). Apakah kita merusak hari ini dengan menghabiskan tenaga emosional untuk menyesali masa lalu dan mencemaskan masa depan?

Kekhawatiran tidak pernah mengubah apa pun. Kekhawatiran itu sia-sia! Ia tidak bisa mengubah masa lalu, tidak bisa mengendalikan masa depan. Kekhawatiran hanya membuat kita tidak bahagia hari ini. Setiap saat yang dihabiskan untuk khawatir adalah waktu hidup yang terbuang.

Kekhawatiran membuat kita lebih fokus pada ketakutan daripada mempercayai Allah. Itu sama saja dengan sikap seolah-olah tidak percaya pada Allah. Saat kita khawatir, kita bertindak seperti seorang yatim piatu—seakan-akan tidak memiliki Bapa di surga yang berjanji akan mencukupi kebutuhan kita. Kekhawatiran membuat kita merasa seolah semua masalah harus kita tanggung sendiri. Itu bukanlah kebenaran dari Alkitab, melainkan sekadar nasihat dalam buku motivasi, dan itu tidak benar.

Jika ingin melepaskan kebiasaan khawatir, kita harus belajar mengalihkan fokus. Dalam Alkitab, umat Allah sering menggunakan doa dan puasa untuk memusatkan kembali perhatian mereka kepada Allah, bukan pada diri sendiri atau keadaan di sekitar. Puasa—yaitu menahan diri dari sesuatu untuk sementara waktu agar kebutuhan itu membawa kita lebih dekat kepada Allah—dapat membantu kita. Begitu pula dengan doa.

Alkitab berkata dalam Roma 8:6: "Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. "

Kita harus memilih fokus kita. Bila fokus pada masalah, kita akan diliputi kecemasan, ketakutan dan kegelisahan. Tetapi bila fokus pada Allah, dengan pertolongan Roh-Nya dalam diri kita, kita tidak perlu khawatir. Menjaga fokus pada Allah membawa kehidupan dan damai sejahtera.

Kunci untuk mengalahkan kekhawatiran bukanlah dengan berkata: "Saya tidak akan khawatir." Itu tidak akan berhasil, sebab kita tetap terikat pada apa yang tidak kita inginkan.

Kuncinya adalah mengubah saluran pikiran. Jangan melawan dengan kekuatan sendiri, tetapi alihkanlah fokus.

Renungkan :
- Dengan cara apa saja kekhawatiran memengaruhi pikiran, perasaan, bahkan tubuhmu?
- Apa langkah praktis yang dapat kamu lakukan untuk memusatkan perhatian pada Allah?
- Bagaimana menghafal ayat-ayat Alkitab dapat membantu kamu kembali fokus kepada Allah sepanjang hari?

Jangan khawatir, pusatkan pandanganmu kepada Allah dan percayalah pada kasih serta janji-janji-Nya.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Rabu, 15 Oktober 2025

Kuasa Pengampunan yang Membebaskan

Ayat Renungan: Kolose 3: 13 – “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”

Pernahkah Anda menyimpan sakit hati atau dendam kepada seseorang yang telah melukai Anda? Berapa lama Anda menyimpan luka tersebut dan apa dampaknya atas hidup Anda? 

Tahukah Anda bahwa menyimpan dendam atau rasa sakit hati hanya akan membebani hidup kita - hati kita menjadi pahit dan pikiran kita dipenuhi kemarahan. Dampak mengerikan dari luka hati ini akan menyerang area spiritual dan fisik kita, seperti munculnya sakit penyakit yang membuat hidup kita menjadi tidak maksimal. Inilah yang dialami oleh Patrisia Ana Patouw, salah satu narasumber program Solusi TV, yang menyimpan dendam dan rasa sakit hati yang menumpuk baik terhadap keluarga dan teman-temannya.

Perkataan dan ejekan yang ia terima membuat Patrisia semakin terpuruk di dalam menghadapi depresi dan gangguan kecemasannya. Bahkan ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya didiagnosa mengalami kelumpuhan. 

Namun, di tengah keterpurukan itu, Tuhan menjamah hatinya. Ia merasakan kasih Tuhan yang lembut mengingatkannya pada semua kepahitan yang masih ia simpan. Firman Tuhan mendorongnya untuk meminta ampun kepada-Nya, dan untuk pertama kalinya ia merasakan damai dan sukacita. Dari sanalah ia belajar melepaskan pengampunan, baik kepada keluarga maupun teman-teman yang telah melukainya. Sejak saat itu, hidupnya dipenuhi kebebasan baru, bahkan Tuhan memakai keterbatasannya untuk mendirikan komunitas bagi sesama penyandang disabilitas.

Sama seperti Patrisia, menyimpan dendam dan sakit hati hanya akan membebani jiwa, merampas kebahagiaan, dan membuat kita terikat oleh luka. Hidup kita seolah terikat dengan belenggu yang kita genggam erat. Namun pagi ini, Tuhan ingin menolong kita untuk melepaskan setiap belenggu dengan tindakan iman dan mengalami kebebasan. 

Bagaimana caranya? Rasul Paulus dalam Kolose 3:13 berkata, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” Paulus menegaskan bahwa kita dipanggil untuk mengampuni dengan cara yang sama seperti Tuhan telah lebih dulu mengampuni kita. Pengampunan yang kita berikan bukanlah hasil kekuatan kita sendiri, melainkan respons atas kasih dan anugerah Tuhan yang kita terima secara cuma-cuma

Kisah Patrisia menjadi bukti bahwa pengampunan berkuasa membebaskan kita dari belenggu sakit hati, kemarahan dan dendam yang menekan hidup kita (Ibrani 12: 15). Sehingga kita bisa menjalani hidup yang penuh sukacita dan damai sejahtera. 

Hari ini, Tuhan memanggil setiap kita untuk mencari wajah-Nya, merasakan kasih-Nya dan melepaskan pengampunan kepada orang-orang yang telah menyakiti kita. Ampunilah mereka! Karena ini adalah satu-satunya cara untuk kita bisa mengalami kebebasan dan kebangkitan.

Hidup Anda berharga, dan Tuhan tidak pernah melepaskan tangan-Nya dari Anda. Hari ini adalah kesempatan baru untuk membuka hati dan membiarkan kasih-Nya memulihkan setiap luka. 

Sumber: Jawaban.com

Selasa, 14 Oktober 2025

Membeli Tuhan Dengan Harga Diskon

Bacaan: Hakim-hakim 17:1-4

Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat?
- Maleakhi 1:8a

Drama keluarga antara Mikha dan ibunya dikisahkan dengan sangat singkat. Namun, jika drama ini dimengerti dalam konteksnya, Anda akan tertawa geli membacanya. Dikisahkan bahwa Mikha mencuri uang ibunya sebanyak 1.100 perak. Sang ibu yang tidak mengetahui siapa pencurinya, dalam kemarahan mengutuki pencuri tersebut. Mungkin karena takut kutukan ibu, Mikha akhirnya mengembalikan uang ibunya (ay. 2). Yah, setidaknya Mikha sedikit lebih baik daripada Malin Kundang yang menganggap sepi kutukan ibunya.

Apakah drama tersebut berakhir di sini? Tidak! Sang ibu cepat-cepat mengganti kutukannya dengan ucapan berkat. Tidak hanya itu, sang ibu bermaksud menyerahkan uang curian yang dikembalikan tersebut kepada Tuhan (ay. 3). Ia takut kutukannya tidak bisa ditarik dan akan menimpa anaknya sehingga berusaha “membujuk” Tuhan untuk membatalkan kutukan tersebut dan menggantinya dengan berkat dengan cara mempersembahkan uang kepada Tuhan. Kemudian, kekonyolan hakiki terjadi: sesudah Mikha mengembalikan uang tersebut, ibunya mengambil 200 perak, bukan 1.100 perak, dan menggunakannya untuk membuat patung Tuhan! Dengan kata lain, sang ibu berusaha “membeli” perkenanan Tuhan dengan harga diskon! Dan diskonnya sebesar 81,8% pula! Sungguh keterlaluan…

Cara sang ibu memberikan persembahan dengan membuat patung merupakan cara yang salah. Namun, hari ini kita akan fokus pada apa yang dilakukan sang ibu dengan uang yang sudah kembali tersebut. Ia berjanji akan memberikan seluruhnya, 1.100 perak, kepada Tuhan. Kenyataannya, yang dipakai hanya 200 perak, yakni sekitar 18,2%. Sisa 900 perak ia simpan sendiri. Lebih-lebih lagi, ibu Mikha sebenarnya cukup kaya, demikianlah pendapat para ahli biblika.

Ya, kisah ini adalah kisah konyol. Akan tetapi, kita sendiri mungkin sering mempersembahkan sesuatu yang “diskonan” kepada Tuhan. Mungkin bukan uang, tetapi bagaimana dengan waktu kita, misalnya saat teduh? Waktu “diskonan” saat kita sudah mengantuk dan tidak konsentrasi. Puji-pujian kita? Kita lebih suka jadi penonton daripada ikut menyanyi. Perhatian kita? Fokus “diskonan” kita berikan ketika mendengarkan khotbah sambil main ponsel.

Ketika Tuhan Yesus menyelamatkan kita, Dia memberikan diri-Nya sepenuhnya, bukan diskonan. Masakan kini kita memberi sesuatu yang “diskonan” kepada-Nya?

Refleksi Diri:

Apakah ada hal dalam ibadah Minggu yang Anda tahan-tahan dan berikan secara “diskonan” kepada Tuhan? Apakah pujian Anda? Konsentrasi saat mendengarkan firman Tuhan? Persembahan Anda?

Mengapa kita tidak sepantasnya memberikan sesuatu yang “diskonan” kepada Tuhan?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Senin, 13 Oktober 2025

Rahasia Memulihkan Hubungan yang Rusak

Ayat Renungan: Yesaya 57: 15 – “Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: "Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.”

Ketika suatu hubungan retak atau mengalami masa-masa sulit dan menyakitkan, kita bisa menghabiskan banyak waktu memikirkan apa yang harus dilakukan untuk memulihkannya. Kita mungkin berusaha mengidentifikasi masalah dan menganalisisnya. Kita mungkin mengalami reaksi kemarahan, rasa sakit hati, dan pengkhianatan yang harus diatasi. Salah satu, atau mungkin keduanya, dari orang-orang dalam hubungan tersebut mungkin perlu diyakinkan akan suatu dosa dan bertobat. Dengan pertobatan, kita mungkin memiliki beberapa ide tentang cara memulihkan hubungan tersebut dan melangkah maju.

Semua upaya itu mungkin bermanfaat, tetapi kita perlu bertanya: Siapa yang memandu proses pemulihan? Apakah saya atau Tuhan?

Hubungan apapun yang rusak dalam hidup kita, termasuk saat kita merasa jauh dari Tuhan karena dosa-dosa kita, jalan pemulihan sejati dan kekal hanya dapat datang melalui kerendahan hati-Nya dan juga kerendahan hati setiap kita. Seperti disampaikan dalam Yesaya 57:15, "Sebab beginilah Firman Dia yang tinggi dan yang dimuliakan, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: "Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat mereka yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati mereka yang remuk."" Artinya, pemulihan sejati terjadi saat kita merendahkan diri di hadapan Tuhan dan membiarkan Dia bekerja di dalam hati kita.

Prinsip yang sama berlaku dalam hubungan antarmanusia. Kita memang sama-sama manusia yang memiliki kelemahan dan dosa, namun ketika salah satu atau keduanya memilih untuk mencari Tuhan dan membiarkan pikiran diperbarui oleh Kristus (Efesus 4:22–24), kerendahan hati membuka jalan bagi pemulihan. 

Ada banyak dari Anda yang mungkin mengalami pemulihan dalam hubungan karena Anda memilih untuk merendahkan hati dan bersedia untuk memberikan kesempatan untuk mengampuni atau lebih dulu meminta maaf. Kita perlu melakukannya berulang-ulang dalam hidup kita karena hanya kerendahan hatilah yang bisa jadi obat untuk memulihkan hubungan.

Jadi, memilih kerendahan hati adalah jalan untuk mengizinkan Kristus menjaga hati dan pikiran kita sehingga hubungan kita dengan Dia dan juga sesama bisa terpelihara dengan baik. 

Saudara, jika pagi ini Anda sudah mendengar bahwa kerendahan hati adalah rahasia di dalam memulihkan hubungan. Maukah Anda melakukannya?

Action Praktis:

1. Adakah diantara Anda yang sedang menghadapi konflik atau hubungan yang bermasalah saat ini? Mari ambil waktu dan minta Roh Kudus untuk menjamah hati Anda dan memulihkannya.  

2. Hari ini ambil tindakan konkrit untuk mempraktekkan kerendahan hati Anda yaitu dengan mengirimkan pesan atau panggilan kepada orang yang sedang bermasalah dengan Anda, lalu sampaikan dengan hati yang tulus seperti "Saya ingin memperbaiki hubungan kita." 

Mari berani mengambil tindakan agar Tuhan memulihkan hidup Anda.

Sumber: Jawaban.com

Minggu, 12 Oktober 2025

Kebetulan dan Pemeliharaan Allah

Berkemaslah dan pergilah bersama-sama dengan keluargamu, dan tinggallah di mana saja engkau dapat menetap sebagai pendatang, sebab Tuhan telah mendatangkan kelaparan. –2 Raja-Raja 8:1

Ayat Bacaan & Wawasan :
2 Raja-raja 8:1-6

Dante tinggal di suatu kawasan yang rawan banjir di Manila. Saat musim hujan tiba, anak laki-laki itu harus pergi ke sekolah dengan menyeberangi jembatan kayu darurat yang dibangun oleh tetangganya. “Pak Tomas menolong warga di sini agar bisa melakukan perjalanan,” kata Dante. “Beliau memegangku melintasi jembatan dan melindungiku dari hujan.”

Bertahun-tahun kemudian, Dante menjadi anggota sebuah gereja di bagian utara Manila. Ia mempunyai mentor rohani dan pemimpin kelompok pendalaman Alkitab bernama Leo. Suatu kali, saat bercakap-cakap mengenai masa kecil mereka, Dante baru tahu bahwa Leo adalah putra dari Pak Tomas! “Tidak ada yang kebetulan,” ujar Dante. “Allah memakai putra dari seseorang yang pernah memberkatiku untuk menolongku bertumbuh dalam iman.”

Seorang perempuan dari kota Sunem juga mengalami pemeliharaan Allah. Dengan iman, ia mengikuti nasihat Nabi Elisa untuk meninggalkan rumahnya agar terhindar dari bencana kelaparan (2 Raj. 8:1-2). Dengan melakukan hal tersebut, ia pun kehilangan hak milik atas rumah dan tanahnya. Sekarang, persis pada saat ia berusaha meminta bantuan raja mengenai masalah ini, sang raja sedang berbicara dengan Gehazi, hamba Nabi Elisa, tentang perempuan itu.

Bertahun-tahun sebelumnya, Gehazi telah menyaksikan putra dari wanita itu dibangkitkan dan hidup kembali. Sekarang, kata Gehazi, “Ya tuanku raja! Inilah perempuan itu dan inilah anaknya yang dihidupkan Elisa” (ay. 5). Raja kemudian “menugaskan seorang pegawai istana menyertai perempuan itu” (ay. 6) dan mengembalikan segala harta miliknya.

Kita dapat mempercayai Allah dan pemeliharaan-Nya, sekalipun apa yang terjadi tidak berjalan sesuai dengan rencana kita. Allah kita yang berdaulat akan menolong kita.

Oleh: Karen Huang

Renungkan dan Doakan
Bagaimana kisah perempuan Sunem tadi menguatkan Anda? Apa yang Anda pelajari dari kisah itu tentang pemeliharaan Allah?

Bapa Maha Kasih, terima kasih, karena Engkau memelihara hidupku.

Sumber: Our Daily Bread

Sabtu, 11 Oktober 2025

Konfirmasi Lebih Dahulu

Bacaan: YOSUA 22:9-34

Kemudian orang Israel mengutus Pinehas bin Eleazar, ke tanah Gilead, kepada bani Ruben, bani Gad, dan suku Manasye yang setengah itu. (Yosua 22:13)

Seseorang pernah meminjam uang kepada saya dan berjanji membayarnya. Pada tanggal jatuh tempo, dia tidak ada kabar. Saya tunggu tiga hari, tak ada kabar juga, maka saya WhatsApp (WA). Hanya centang satu, saya telepon nomor tidak aktif. Prasangka buruk muncul di pikiran dan saya katakan kepada istri. "Jangan berprasangka buruk, coba datangi rumahnya dan cari tahu, " saran istri. Saya turuti saran itu. Sesampainya di rumahnya, dia ada. Ternyata telepon seluler dan sepeda motornya rusak, anaknya sakit, dan dia tak punya uang.

Bani Ruben, bani Gad, dan suku Manasye yang setengah itu pergi ke tanah Gilead dan mendiami tanah milik mereka sesuai yang dijanjikan Tuhan (ay. 9). Saat mereka sampai di Gelilot, mereka mendirikan mezbah yang besar (ay. 10). Hal ini terdengar oleh orang Israel, lalu prasangka buruk muncul sehingga berkumpullah segenap umat Israel di Silo, untuk maju memerangi mereka (ay. 12). Untung saja, mereka lebih dulu mengutus Imam Pinehas beserta sepuluh pemimpin untuk meminta konfirmasi. Ternyata, ketiga suku ini tak ada niat berpaling dari Tuhan. Mereka mendirikan mezbah untuk bukti bagi keturunan Israel berikutnya (ay. 27). Hal ini dipandang baik oleh orang Israel sehingga perang saudara urung terjadi (ay. 33).

Biasakan konfirmasi lebih dulu saat kita mendapat kabar buruk yang belum jelas kepastiannya. Kita sendiri pasti tidak nyaman saat dicurigai padahal belum diklarifikasi. Jangan gemar berprasangka buruk agar kita tidak melakukan tindakan bodoh dan merugikan diri sendiri serta orang lain. --RTG/www.renunganharian.net

BIASAKAN KONFIRMASI LEBIH DULU SAAT KITA MENDAPAT KABAR BURUK YANG BELUM JELAS KEPASTIANNYA.

Jumat, 10 Oktober 2025

ULURAN TANGAN

Bacaan: Lukas 5:17-26

NATS: Siapa yang menahan kasih sayang terhadap sesamanya, melalaikan takut akan Yang Mahakuasa (Ayub 6:14)

Seorang mahasiswi bernama Kelly mengalami cedera patah lengan pada musim pertandingan bola voli pertamanya. Karena cedera ini berarti ia tidak dapat melanjutkan pekerjaan paruh waktunya. Lalu beberapa waktu kemudian, mobilnya mogok. Puncaknya, pemuda yang selama ini berpacaran dengannya tidak lagi menghubunginya. Kelly merasa begitu sedih sehingga ia mulai menghabiskan banyak waktu mengurung diri di kamarnya dan menangis. 

Laura, salah seorang teman kristianinya di tim voli, prihatin dengan keadaan Kelly dan memutuskan untuk menolongnya. Lalu ia merencanakan sebuah kegiatan. Ia dan teman-temannya mengumpulkan uang, dan sekelompok pemuda memperbaiki mobil Kelly. Mereka mencarikan pekerjaan sementara bagi Kelly, yang dapat dilakukan dengan menggunakan satu tangan. Mereka pun memberinya tiket menonton pemain basket jagoannya pada saat tim basket tersebut datang ke kota. Tidak lama kemudian, Kelly pun pulih kembali. Ketika ia bertanya mengapa mereka melakukan semua itu baginya, Laura berkesempatan memberitahunya mengenai kasih Yesus. 

Kisah Kelly mengingatkan saya tentang seorang pria yang lumpuh dan disembuhkan oleh Yesus. Kawan orang itu cukup peduli kepadanya sehingga ia membawanya kepada Sang Juru Selamat (Lukas 5:17-26). 

Adakah teman Anda yang memerlukan bantuan? Pikirkanlah cara untuk dapat menolongnya. Tunjukkanlah kasih Kristus, lalu ceritakanlah Injil. Anda tidak pernah tahu apa yang akan terjadi manakala Anda mengulurkan tangan DCE 

KASIH SEJATI MENGUBAH NIAT BAIK MENJADI TINDAKAN

Sumber: Renungan Harian

Kamis, 09 Oktober 2025

Banyak Harta, Salahkah? 

Bacaan: Lukas 18:18-27 

Lubang jarum adalah sebuah nama pintu gerbang yang sangat kecil di Yerusalem. Hanya seekor unta yang bisa lewat, itu pun tanpa muatan. Jika seseorang ingin masuk melalui pintu ini, ia harus melepaskan semua barang bawaannya agar dapat masuk ke dalam.

Yesus menyatakan, "Alangkah sukarnya orang yang memiliki banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah" (24-25). Yesus mengungkapkan hal ini setelah selesai berbicara dengan seorang pemimpin kaya. Pemimpin itu bertanya kepada Yesus bagaimana beroleh hidup kekal (18) karena pada masa mudanya dia sudah melakukan perintah-perintah Allah (21).

Kata Yesus, "Tinggal satu kekuranganmu: Juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan memiliki harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku" (22). Mendengar perkataan Yesus ini, pemimpin itu amat sedih, sepertinya ia tidak siap menjual apa yang dimilikinya. Mungkin dia sangat berjerih payah mengumpulkan hartanya sehingga sulit berbagi.

Untuk sebagian orang, kaya adalah ukuran kesuksesan. Tidak kaya, berarti tidak sukses. Orang yang tidak kaya dianggap orang rendahan sehingga banyak orang mengejar kekayaan demi gengsi dan harga diri. Lebih parah, kekayaan menjadi tuan sehingga orang bergantung pada kekayaan, bukan pada Tuhan.

Ada anggapan, "Dengan kekayaan, orang bisa melakukan apa saja". Hal itu kurang tepat. Tidak salah menjadi kaya, namun kekayaan tidak untuk dinikmati sendiri; ini perlu dibagi-bagikan supaya ada harta kita di surga. Harta dunia memang tidak menjamin hidup kekal, namun berbagi merupakan gambaran kehidupan di Kerajaan Allah.

Lepaskanlah kekayaan, kesombongan, dan harga diri. Pedulikanlah sesama. Kita sukses ketika kita mampu berbagi. Janganlah kekayaan menjadi penghalang kita untuk masuk ke dalam kerajaan surga. Belajarlah berbagi dengan apa yang kita miliki. [NRG]

Sumber: Santapan Harian

Rabu, 08 Oktober 2025

LADANG YANG TERBAKAR

Di sebuah desa pertanian, seorang petani memiliki ladang gandum yang luas. Tanaman itu hampir siap dipanen ketika suatu malam angin kencang membawa api dari hutan kering di seberang bukit. Api melalap sebagian besar ladangnya dalam sekejap.

Keesokan paginya, para tetangga datang dan hanya bisa menggelengkan kepala. Sebagian besar hasil jerih payah petani itu hilang. Namun ketika ia berjalan ke bagian ladang yang terbakar, ia menemukan sesuatu yang aneh. Api telah membuka tanah dan memperlihatkan sebongkah batu hitam berkilau.

Seorang penambang yang lewat kemudian menjelaskan bahwa batu itu adalah bijih besi berkualitas tinggi. Desa pun segera menyadari bahwa tanah di bawah ladang itu menyimpan kekayaan mineral. Kehilangan yang tampak menghancurkan ternyata membuka jalan bagi kesempatan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Dalam hidup, sering kali kita hanya melihat kerugian di permukaan. Seperti petani yang kehilangan ladangnya karena api, kita pun bisa mengalami situasi yang membuat hati hancur. Pekerjaan hilang, usaha gagal, atau rencana runtuh. Namun Tuhan dapat memakai hal-hal yang tampak menghancurkan untuk membuka sesuatu yang jauh lebih besar.

Kadang kita tidak segera memahami maksud Tuhan. Kita hanya melihat abu dari sesuatu yang pernah kita banggakan. Tetapi Tuhan melihat lebih dalam, karena Dia tahu ada sesuatu yang berharga yang sedang Dia singkapkan. Api yang tampak sebagai bencana bisa menjadi alat untuk menyingkapkan berkat tersembunyi.

Saat kita menghadapi kehilangan atau kegagalan, mari kita percaya bahwa Tuhan tetap memegang kendali. Dia berkuasa untuk mengubah abu menjadi keindahan, kerugian menjadi kesempatan, dan kelemahan menjadi kesaksian akan kuasa-Nya.

"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28)

Sumber: Renungan Kristen

Selasa, 07 Oktober 2025

Manisnya Firman Tuhan

Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa. –Mazmur 19:8

Ayat Bacaan & Wawasan :
Mazmur 19:8-15

Pada tanggal 22 September 1959, Our Daily Bread menerbitkan artikel renungan yang ditulis oleh Dr. M.R. DeHaan. DeHaan menulis bagaimana ia mengidam-idamkan sekotak popcorn manis bermerek Cracker Jack, dan menghubungkan keinginan itu dengan kerinduan pada firman Tuhan. Namun, yang membuatnya terkejut, beberapa minggu kemudian, kotak demi kotak popcorn Cracker Jack berdatangan ke kantornya. Keinginannya untuk menikmati Cracker Jack dipuaskan oleh para pembaca setia renungannya.

Kita begitu mudah menjadi kendur dalam ketekunan kita membaca firman Tuhan. Oleh karena itu, kita perlu merindukan sesuatu yang “lebih manis dari pada madu” (Mzm. 19:11). Daud sang pemazmur mendorong kita untuk mengalami bagaimana perkataan Allah itu “sempurna, menyegarkan jiwa”; juga “teguh” dan mengandung hikmat (ay. 8). Ia menyatakan bahwa “titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati” (ay. 9).

DeHaan mendorong para pembaca untuk menjadikan interaksi dengan firman Allah sebagai kebiasaan, sesuatu yang dirindukan setiap hari, bagaikan popcorn manis. Kita juga sangat perlu mengembangkan kebiasaan membaca dan merenungkan Kitab Suci, serta menanggapi kebenarannya, secara teratur. Dengan pertolongan Allah, kiranya kita memiliki sikap seperti Daud, yang berkata, “Semoga kata-kata dan pikiranku berkenan pada-Mu, ya Tuhan, pelindung dan penebusku!” (ay. 15 BIMK).

Oleh:  Brent Hackett

Renungkan dan Doakan
Bagaimana Anda merasakan “manisnya” firman Allah setiap hari? Bagaimana kebenaran bahwa firman Allah lebih berharga daripada emas itu dapat Anda bagikan kepada orang lain?

Ya Allah, terima kasih untuk Kitab Suci, karena firman-Mu menuntunku kepada Yesus. Tolonglah aku untuk berinteraksi dengan firman-Mu setiap hari, agar aku selalu diingatkan pada kebenaran-Mu.

Sumber: Our Daily Bread

Senin, 06 Oktober 2025

Allah Yang Berdaulat

Bacaan Alkitab hari ini:
Yeremia 18

Apakah yang mendorong kita untuk tetap berdoa saat situasi tampak tidak memungkinkan dan semua pintu tertutup? Jawabannya adalah iman. Kita beriman bahwa Allah mampu melakukan hal-hal yang di luar semua pertimbangan kita. Allah dapat membuka jendela saat semua pintu sudah tertutup. Meskipun Allah menetapkan hukuman terhadap umat-Nya, Allah dapat memakai hukuman itu menjadi berkat bila umat-Nya bertobat dan berbalik kepada-Nya. Untuk menyampaikan pesan inilah Allah mengutus Yeremia ke rumah tukang periuk (tembikar), untuk melihat bagaimana Allah bekerja dalam kehidupan umat-Nya.

Ketika tukang tembikar membuat bejana dari tanah liat, ada kalanya bejana yang sedang dibuat itu rusak. Namun, secara kreatif, tukang tembikar dapat membuat bejana lain dengan tanah liat itu (18:4). Tukang tembikar tidak membuang bejana yang rusak, tetapi ia membentuknya menjadi sesuatu yang lain, yang tidak kalah indah dengan bejana sebelumnya! Allah juga bertindak seperti tukang tembikar. Ia terlalu kreatif dan berkuasa untuk gagal saat ada bejana yang rusak. Ia memiliki cara untuk membentuk dan membuat umat-Nya kembali kepada-Nya. Meskipun umat TUHAN telah rusak karena dosa dan kekerasan hati mereka yang tidak mau bertobat, Allah memiliki cara untuk mengubah hati mereka: Pertama, Ia akan membuang mereka jauh dari hadapan-Nya. Mereka akan ditawan, lalu dibawa ke negeri asing dan hidup di sana sampai Allah membawa mereka kembali (29:10). Tujuan pembuangan adalah untuk menghukum dan sekaligus memurnikan iman umat-Nya. Allah tidak pernah membuang—dalam arti tidak memedulikan—karena Ia memiliki rencana yang indah bagi mereka. Kedua, Allah akan memperbarui hati umat-Nya dan mengadakan perjanjian yang baru dengan mereka (31:33). Allah menggenapi perjanjian baru ini dengan mengutus Anak Tunggal-Nya untuk datang menjadi manusia dan mendamaikan manusia dengan Allah. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Rasul Paulus berkata bahwa Yesus Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah (1 Korintus 1:24). Melalui Kristus, Allah membentuk kembali bejana yang telah rusak itu—melalui pekerjaan Roh Kudus—menjadi bejana yang baru, yang memuliakan Penciptanya.

Rencana Allah yang indah dalam hidup kita tak akan gagal, tetapi kita perlu merespons rencana Allah bagi kita dengan hidup sesuai dengan firman-Nya. Bila Anda jatuh ke dalam dosa dan hidup jauh dari Tuhan, jangan berlambat-lambat untuk kembali kepada-Nya. Bila Anda sakit atau menghadapi pergumulan berat yang membuat Anda kecewa, ingatlah bahwa Allah tidak pernah membuang Anda! Apakah pergumulan yang sedang Anda alami saat ini? Tetaplah beriman kepada Tuhan! [GI Wirawaty Yaputri]

Sumber: Renungan GKY

Minggu, 05 Oktober 2025

Kekuatan Allah

Roh Tuhan menghinggapi dia. –Hakim-hakim 3:10

Ayat Bacaan & Wawasan :
Hakim-hakim 3:7-11

Kematian sang suami mengawali masa transisi dalam hidup Nora. Ia meneruskan bisnis perangkat keras yang dibangun suaminya sekaligus merawat ketiga anak mereka seorang diri. “Kuatkan dirimu,” kata teman-teman kepadanya. Namun, apa artinya menjadi kuat? pikirnya. Apakah saya tidak boleh gagal dalam melakukan tanggung jawab saya?

Allah memberikan tanggung jawab yang besar kepada Otniel pada masa transisi bagi bangsa Israel. Sebagai hukuman atas penyembahan berhala yang diperbuat bangsa itu, Allah telah menyerahkan mereka “kepada Kusyan-Risyataim . . . dan orang Israel menjadi takluk kepada Kusyan-Risyataim delapan tahun lamanya” (Hak. 3:8). Di bawah tangan raja Mesopotamia yang kejam itu, “berserulah orang Israel kepada Tuhan, maka Tuhan membangkitkan seorang penyelamat” bagi mereka (ay. 9), yaitu Otniel, yang namanya berarti “kekuatan Allah.”

Sebagai hakim pertama Israel, Otniel tidak memiliki pendahulu untuk menolongnya. Pemimpin perang ini harus membimbing bangsa Israel untuk kembali menghayati ikatan perjanjian mereka dengan Allah dan membela mereka dari serangan musuh. Namun, karena “Roh Tuhan menghinggapi dia” (ay. 10), ia berhasil melakukannya. Dengan kekuatan Allah yang menopang kepemimpinan Otniel, “amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya. Kemudian matilah Otniel” (ay. 11).

Bagaimana kita dapat benar-benar menjadi kuat? Dengan menyadari bahwa kita sendiri tidak kuat dan dengan mempercayai Allah untuk memberikan kita kekuatan-Nya. “Cukuplah kasih karunia-[Nya] bagi [kita], sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-[Nya] menjadi sempurna” (2 Kor. 12:9). Kekuatan Allah akan bekerja melalui diri kita untuk melakukan hal-hal yang hanya dapat dicapai oleh-Nya.

Oleh: Karen Huang

Renungkan dan Doakan
Pernahkah Anda mencoba untuk menjadi kuat dengan upaya Anda sendiri? Bagaimana kisah Otniel mempengaruhi pemahaman Anda tentang kekuatan yang sejati?

Allah Bapa, tolonglah aku untuk mengandalkan kekuatan-Mu.

Sumber: Renungan Our Daily Bread

Sabtu, 04 Oktober 2025

Pendonor Sperma

Bacaan: Hakim-hakim 13:8-25

Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
- Ulangan 6:6-7

Sebuah tragedi pahit sering saya amati dari bapak-bapak. Ketika anaknya pintar, juara kelas, menjadi orang sukses, para bapak akan dengan bangga menceritakan kehebatan anaknya kepada orang lain. “Anakku juara kelas!” Akan tetapi, bagaimana misalkan anaknya nakal? Kata-kata amarah yang terlontar dari mulut si bapak untuk istrinya biasanya berbunyi, “Didik anakmu itu baik-baik!” “Anakmu itu mau jadi apa nanti?!” “Anak ini sama manjanya seperti mamanya!” dan lain sebagainya. Cerita-cerita ini banyak saya dengar dari rekan-rekan yang menyimpan kepahitan terhadap ayahnya. “Aku tidak punya papa. Ia hanya pendonor sperma saja,” begitulah perkataan pahit salah satu rekan.

Sebelumnya, kita membaca bagaimana Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada istri Manoah. Ketika diberitahukan mengenai hal ini oleh istrinya, apa yang dilakukan Manoah? Manoah bukannya menjawab, “Yah, itu kan anakmu. Urusi saja.” Tidak! Manoah datang kepada Tuhan dan meminta agar Tuhan juga mengajarkan kepadanya apa yang harus dilakukan sebagai ayah (ay. 8). Dengan kata lain, Manoah ingin terlibat sebagai ayah. Malaikat TUHAN pun datang, kali ini bahkan memberinya instruksi untuk menjaga istrinya dalam masa-masa kehamilan tersebut (ay. 13-14).

Dalam budaya Tionghoa yang kental, kadang ada pemikiran bahwa anak adalah urusan ibu. Ini budaya yang salah. Alkitab memberikan kita contoh yang berbeda melalui Manoah. Tidak hanya bagaimana menjadi ayah yang baik, Manoah bahkan menaati Tuhan menjadi suami yang baik bagi istrinya dalam masa-masa mengandung. Masa mengandung adalah masa paling melelahkan bagi seorang ibu dan membutuhkan dukungan, baik secara fisik maupun secara emosional. Jika suami dan ayah tidak terlibat dalam kehidupan anak, tidak heran anaknya akan mengecamnya “pendonor sperma”.

Alkitab sangat menekankan peranan ayah. Perintah untuk mengajarkan hukum-hukum Tuhan kepada anak-anak (Ul. 6:6-7) menggunakan kata ganti maskulin yang menunjuk kepada ayah. Bukannya mengesampingkan peranan ibu, Tuhan tahu bahwa pada umumnya kaum bapak lebih tidak terlibat dalam hidup anaknya dibandingkan kaum ibu. Itulah sebabnya Alkitab sangat keras berbicara kepada kaum bapak.

Jangan mau hanya menjadi pendonor sperma saja. Jadilah papa bagi anak-anak Anda.

Refleksi Diri:
Bagaimanakah pengalaman Anda semasa kecil dengan ayah Anda? Apakah ayah Anda terlibat dalam hidup Anda?

Apa langkah praktis yang dapat Anda lakukan untuk melibatkan diri dalam pertumbuhan anak-anak Anda?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Jumat, 03 Oktober 2025

Hati Adalah Kunci

Bacaan Alkitab hari ini:
Yeremia 17

Ada sebuah kutipan yang berbunyi, "The heart of the problem is the problem of the heart." Artinya, masalah yang timbul dalam kehidupan bersumber dari hati. Hati adalah kunci yang menentukan bagaimana seseorang menjalani kehidupan. Amsal 4:23 mengatakan, "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari sanalah terpancar kehidupan." Ketika kita ingin mengubah sikap, perilaku, dan kata-kata kita, kita harus terlebih dahulu membereskan hati.

Hati manusia yang sudah tercemar oleh dosa membuat manusia tidak dapat hidup mengasihi Allah dengan sepenuh hati. Bila Allah tidak memberikan kita hati yang baru, kita tidak akan mampu melakukan hal-hal yang berkenan kepada Allah. Kata-kata kita, pikiran kita, maupun perbuatan kita akan selalu condong untuk berbuat dosa. Hal ini terbukti dari apa yang terjadi pada bangsa Israel. Meskipun Allah berulang kali mengingatkan mereka melalui para nabi, bencana, serta bangsa-bangsa lain yang diizinkan menindas mereka, mereka tidak kunjung bertobat, bahkan mereka semakin lama semakin jahat. Nabi Yeremia mengatakan bahwa hati manusia itu licik melebihi segala sesuatu, dan tidak terpulihkan (17:9). Hati yang tidak diperbarui oleh Roh Kudus akan menjadi hati yang luar biasa licik, yaitu hati yang lihai menipu dan membujuk sang pemilik hati untuk terus hidup di dalam dosa. Pernahkah Anda memikirkan kalimat-kalimat seperti ini: "Tidak apa-apa saya berbohong, dia tidak akan pernah tahu, "Beribadah dapat saya lakukan Minggu depan, tetapi memancing bersama teman-teman lama hanya dapat terjadi hari ini, "Tuhan akan mengerti kalau saya korupsi demi menafkahi keluarga saya." Mungkin, masih banyak bujukan lain yang serupa, yaitu bujukan yang kedengaran sangat masuk akal dan dapat diterima, serta menipu orang untuk terus hidup di dalam dosa.

Syukurlah bahwa Allah tidak membiarkan umat-Nya hidup dalam dosa. Allah mengirim umat-Nya ke Pembuangan untuk memurnikan iman mereka, dan Ia berjanji untuk menaruh Taurat-Nya dalam batin mereka dan menuliskannya pada hati mereka (31:33-34). Dalam Perjanjian Baru, Allah bekerja melalui Roh Kudus untuk melahirkan kembali orang yang percaya kepada Yesus Kristus, dan prosesnya terjadi di dalam hati. Hati yang dibersihkan oleh Roh Kudus akan menjadi hati yang memancarkan kehidupan yang memuliakan Allah. Namun, hal ini tidak berarti bahwa hati kita menjadi kebal terhadap godaan dosa. Kita masih tetap bisa jatuh ke dalam dosa. Hati kita masih dapat terbujuk untuk melakukan dosa. Namun, bila kita bersandar pada Roh Kudus dan selalu mengawasi hati kita, hati kita akan terus diperbarui dari hari ke hari. [GI Wirawaty Yaputri]

Sumber: Renungan GKY

Kamis, 02 Oktober 2025

Impossible Is Nothing

Baca: Hakim-hakim 13:1-7

Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil - Lukas 1:37

Beberapa pasal lalu, kita membaca bagaimana Malaikat TUHAN datang kepada Gideon, orang yang paling muda dari kaum yang paling kecil di suku Manasye (Hak. 6:15). Kini, Malaikat TUHAN datang membawa kabar baik kepada seorang wanita bahwa ia akan mengandung seorang hakim yang akan menyelamatkan Israel dari bangsa Filistin. Masalahnya, wanita tersebut mandul.

Bukan suatu kebetulan bahwa di sepanjang Alkitab, Tuhan memakai rahim wanita-wanita yang mandul. Sara, Ribka, Rahel, Hana, Elisabet, dan lain sebagainya. Aneh sekali, seolah-olah Tuhan hendak menyabotase rencana-Nya sendiri. Namun, inilah cara Tuhan. Tuhan dengan sengaja membuat keadaan menjadi semustahil mungkin, seperti bagaimana Dia mengurangi pasukan Gideon hanya menjadi tiga ratus orang (Hak. 7:1-6), dan memakai istri Manoah yang mandul untuk melahirkan Simson. Dari kemustahilan itulah, Tuhan kemudian menyatakan kuasa-Nya.

“Kenapa sih Alkitab dibanjiri cerita-cerita seperti ini? Bosan! Sudah klise!” begitulah keluhan kita. Alasan mengapa Alkitab berisi penuh cerita-cerita seperti ini adalah karena kita adalah manusia yang lemah. Kita mudah sekali ragu-ragu dan kehilangan iman ketika ada masalah. Kita dengan cepat menyerah atau memilih menggunakan cara-cara curang karena semua pintu sepertinya sudah tertutup rapat-rapat. Di dalam kepala kita hanya ada kata-kata tidak berpengharapan, “Mustahil aku bisa bebas dari kecanduan ini,” “mustahil aku bisa lepas dari hutang,” “mustahil aku bisa sembuh,” “mustahil anakku bisa kembali”, “mustahil pernikahanku bisa diselamatkan,” “mustahil gereja ini bisa bangkit,” dan lain sebagainya. Alkitab menjadi setebal ini dengan puluhan bahkan ratusan kisah serta sajak yang menyiratkan pesan yang sama karena Tuhan tahu, kita terlalu cepat mengatakan, “Mustahil.” Mulai dari kisah penciptaan seluruh alam semesta hanya dengan firman-Nya, sampai kisah keselamatan yang datang dari Allah yang menjadi manusia, Alkitab seolah berseru terusmenerus, “Bagi Allah tidak ada yang mustahil!”

Ini sama sekali tidak berarti bahwa Tuhan akan selalu mengadakan mukjizat setiap kali kita meminta. Baik Manoah maupun istrinya tidak meminta anak, tetapi Tuhan memberikannya kepada mereka. Poinnya bukanlah pada keinginan kita, tetapi kehendak Tuhan. Jika Tuhan telah menetapkan Simson menjadi penyelamat Israel, kemandulan istri Manoah pun tidak akan menggagalkannya. Jika Tuhan telah menetapkan rencana-Nya maka tidak ada apa pun—termasuk ketidakberdayaan, kebodohan, keberdosaan, atau ketidaktaatan kita—yang dapat menggagalkannya.

Refleksi Diri:
Apakah Anda cenderung mudah menyerah dan putus asa saat menghadapi masalah yang berat?

“Kehendak Tuhan pasti akan terlaksana, karena tidak ada yang mustahil bagi-Nya.” Apakah pesan ini menjadi penghiburan bagi Anda atau justru membuat Anda takut? Mengapa?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Rabu, 01 Oktober 2025

Ada Cukup Waktu untuk Hal yang Benar-Benar Penting

Bacaan Hari ini:
1 Korintus 6:12 "Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun."

Orang-orang yang berhasil tahu apa yang benar-benar penting, dan mereka tidak membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting.

Rasul Paulus berkata, "Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14). Paulus tidak menyibukkan diri dengan 40 macam hal atau memenuhi seluruh kalendernya. Ia tetap fokus pada panggilan Allah untuk membagikan Kabar Baik tentang Yesus.

Belajar untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup adalah sebuah keterampilan—dan seperti keterampilan lainnya, hal itu membutuhkan latihan.

Anda tidak punya waktu untuk melakukan semua hal yang Anda inginkan atau pikir harus dilakukan. Namun kabar baiknya adalah Allah tidak mengharapkan Anda melakukan semuanya. Hanya ada beberapa hal dalam hidup ini yang benar-benar layak untuk dilakukan.

Allah tidak memanggil Anda untuk melakukan segala sesuatu dalam hidup ini. Dia memanggil Anda untuk melakukan apa yang telah Ia bentuk dan rancangkan khusus bagi Anda—dan untuk itu selalu ada cukup waktu.

Akan ada banyak hal dalam hidup yang baik tetapi sebenarnya tidak terlalu penting. Alkitab berkata, "Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun." (1 Korintus 6:12).

Anda bebas melakukan apa pun yang Anda inginkan dengan hidup Anda. Allah tidak akan memaksa Anda melakukan sesuatu! Anda bisa menyia-nyiakan hidup, menghabiskan hidup atau menginvestasikan hidup Anda.

Segala sesuatu memang diperbolehkan—tetapi tidak semuanya bermanfaat. Beberapa hal dalam hidup mungkin tidak salah, tetapi juga tidak diperlukan.

Anda akan menghemat banyak waktu dan energi jika belajar serta melatih keterampilan untuk mengetahui apa yang paling penting, lalu mendedikasikan hidup Anda pada hal itu. Temukan apa yang Allah tempatkan Anda di bumi ini untuk lakukan, lalu lakukanlah dengan segera!

Renungkan :
- Apa yang Allah tunjukkan kepada Anda melalui Firman-Nya tentang kehendak-Nya atas hidup Anda? Ayat-ayat spesifik apa yang menolong Anda memahami kehendak Allah?
- Mengapa sulit bagi Anda untuk berkata “tidak” pada hal-hal yang baik, tetapi sebenarnya tidak seharusnya menjadi prioritas?
- Dalam hal apa saja Anda bisa melatih kemampuan memilih dan memprioritaskan apa yang paling penting dalam hidup Anda?

Semakin baik Anda dalam memilih dan memprioritaskan hal-hal yang penting dalam hidup, semakin efektif Anda akan menjadi—baik sebagai pribadi, pasangan, orang tua, maupun sebagai pemimpin.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)