Sabtu, 31 Januari 2026

Sama Dengan Pembunuh

Bacaan: 1 Yohanes 3:14-16

Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya - 1 Yohanes 3:15

Apakah ayat di atas berlebihan dan terlalu keras dengan mengatakan bahwa membenci saudaranya adalah pembunuh manusia? Seringkali orang menilai sesuatu berdasarkan apa yang dilakukan, tetapi tidak menilai berdasarkan apa yang ada di dalam hati. Apakah Anda pernah mendengar seseorang diadili dan dihukum penjara karena membunuh seseorang di dalam pikirannya, tanpa ia pernah melakukan tindakan pembunuhan tersebut? Tidak pernah, bukan? Pernahkah Anda juga mendengar seseorang menganiaya orang yang dibencinya di dalam pikirannya, tanpa pernah melakukan tindakannya, lalu ditangkap dan dihukum? Tidak pernah juga, kan? Sebab hukum dunia hanya dapat menghakimi tindakannya jika seseorang telah melakukannya. Hati orang tidak pernah ada yang tahu.

Mengapa dikatakan setiap orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh manusia? Sebab Tuhan tahu isi hati kita. Dia menilai apa yang ada di dalam hati. Seorang pembenci dan pembunuh sebenarnya memiliki motivasi yang sama. Kita terkadang dapat membenci dengan canggih. Kita dapat menyembunyikan ketidaksukaan atau kebencian kita terhadap saudara seiman. Kita bisa berjabat tangan dengan senyuman di hadapannya, tetapi menaruh kebencian di dalam hati. Kita mengucapkan kata-kata doa, “Sukses yah, bro”, padahal dalam hati, semoga lu gagal. Dengan kesantunan, kita sedang menutupi kebencian. Kalau ada kebencian di dalam hati yang kita simpan terhadap saudara seiman, bahkan menutupinya dengan cara yang canggih, maka kita perlu segera bertobat dan mengasihi mereka kembali.

Rasul Yohanes memahami, tidak selalu mudah untuk mengasihi seseorang yang telah menyakiti, memfitnah atau melukai hati kita. Karena itu, ia menunjukkan alasan utama kita saling mengasihi di ayat 16, “Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” Kita sebenarnya adalah orang-orang yang sangat tidak layak dikasihi, tetapi Kristus telah mengasihi kita dengan pemberian yang terbesar, yaitu diri-Nya sendiri. Hidup kita sekarang dilingkupi oleh kasih-Nya. Kemampuan kita mengasihi datangnya dari Tuhan sendiri. Jika kita merasa terlalu sulit untuk mengasihi saudara seiman maka kita perlu melihat kembali bagaimana Kristus mengasihi kita.

Refleksi Diri:

Apakah dalam pikiran Anda muncul kebencian dan mengharapkan yang buruk dari seseorang, khususnya saudara seiman?

Apa artinya Kristus telah mengasihi Anda dengan pengorbanan diri-Nya? Bagaimana pemahaman ini memampukan Anda mengasihi orang tersebut?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Jumat, 30 Januari 2026

Yesus Sang Roti Kehidupan 

Bacaan: Yohanes 6:25-59 

Apakah Saudara pernah merasa kenyang setelah makan, tetapi tak lama kemudian lapar lagi? Karena porsi makan yang sedikit, atau karena nafsu makan yang datang lagi?

Hidup kita terkadang seperti itu. Kita mengejar sesuatu yang memuaskan hati, namun itu hanya sementara dan kita merasakan kekosongan lagi.

Orang banyak mendatangi Yesus karena mereka ingin dikenyangkan lagi dengan makanan. Akan tetapi, Yesus mengajak mereka untuk melihat lebih jauh, dalam, dan esensial. Ia menyebut diri-Nya sebagai Roti Kehidupan. Ungkapan ini diulang sampai tiga kali oleh-Nya (35, 48, 51). Yesus hendak menegaskan bahwa Dialah sumber kehidupan kekal. Roti adalah makanan pokok orang Israel. Dalam sejarah Keluaran dari Mesir, nenek moyang Israel memakan manna, roti yang turun dari surga (bdk. Kel 16).

Sama seperti manna yang turun dari surga, Yesus pun berasal dari sana. Namun, tidak seperti manna yang hanya bertahan sehari (kecuali saat hari keenam), Yesus kekal dan abadi. Dia akan mati dan bangkit lagi. Yesus mengajak orang banyak itu untuk mau percaya dan menerima Dia yang kelak mengorbankan tubuh dan darah-Nya (54-56). Hal itu akan dipertegas kembali di perjamuan terakhir Yesus bersama para murid. Intinya, Yesus mau mengingatkan mereka agar jangan hanya menjadi berkat, tetapi mencari Sang Pemberi Berkat yang dapat memberi kehidupan abadi dan percaya kepada-Nya.

Mari kita renungkan sejenak. Kita sering sibuk mengejar hal-hal di dunia ini, seperti makanan, uang, kesenangan, atau pujian, dan pengakuan. Apakah hal itu benar-benar cukup untuk kita? Jika itu sudah kita dapatkan, apakah kemudian hidup kita menjadi sempurna tanpa kekosongan dan kehampaan? Tak jarang ada saat-saat di mana kita merasa hampa, meski semua tampak sempurna di luar. Yesus tahu itu, dan Ia memberi diri-Nya bagi kita. Maukah Saudara hidup di dalam dan bersama-Nya? Pada titik ini kita diajak merenungkan, apakah kita benar-benar mencari Tuhan dengan hati yang tulus dan bergantung pada-Nya, Sang Sumber Kehidupan? [YWA]

Sumber: Santapan Harian

Kamis, 29 Januari 2026

Menyelidiki Hati, Meluruskan Motivasi

Ayat Renungan: Mazmur 139: 23–24 - “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!"

Saudara yang dikasihi Tuhan, bagaimana sukacita Anda hari ini? Sukacita adalah sebuah keputusan. Sama seperti kita memutuskan hari ini mau makan apa atau memakai baju apa, demikian pula secara rohani kita perlu memutuskan untuk memilih hal yang baik.

Firman Tuhan mengingatkan kita untuk bersukacita dalam segala hal (1 Tesalonika 5: 16). Namun, kenyataannya sebagai manusia, hati kita tidak selalu dalam kondisi yang baik. Tidak selamanya hati kita “on” dan bersih. Pengaruh masa lalu, pergumulan masa kini, dan kekhawatiran akan masa depan sering kali membuat hati kita menjadi terhimpit dan tidak selaras.

Karena itu, firman Tuhan dalam Mazmur 139: 23–24 memberi kita tuntunan yang jelas: kita perlu menyelidiki hati kita. Ada sebuah lagu yang berkata: Selidiki aku, lihat hatiku, apakah ku sungguh mengasihi-Mu Yesus. Lagu ini mengingatkan kita untuk meminta Tuhan menyelidiki hati kita. Namun pada saat yang sama, kita perlu menyadari bahwa urusan menjaga dan membereskan hati adalah tanggung jawab kita.

Kitalah yang perlu menyelidiki diri sendiri. Apakah hati kita sungguh murni di hadapan Tuhan? Apakah motivasi kita benar-benar jelas dan lurus di hadapan-Nya? Sebab ketika kita mulai merasa bete, iri, mudah marah, baper, atau merasa segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, itu adalah tanda bahwa hati kita perlu diperiksa. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23)

Kemudian, kita perlu kembali kepada dasar dari semuanya: apa motivasi hidup kita?

Jika engkau seorang kepala rumah tangga, apa motivasimu menikah dan membangun keluarga? Jika engkau seorang karyawan atau pelayan Tuhan, apa motivasimu bekerja dan melayani? Motivasi adalah fondasi yang menentukan kokohnya sebuah bangunan. Jika fondasinya salah, bangunan itu tidak akan bertahan lama.

Karena itu, untuk memiliki motivasi yang benar, kita perlu terus membersihkan dasar-dasar kehidupan kita. Bahkan resolusi rohani tidak harus menunggu awal tahun; itu bisa kita lakukan setiap hari, bahkan setiap minggu. Kita sedang menyelidiki apakah kita masih satu arah dengan Tuhan, apakah kita mulai berjalan sendiri, menyimpang, panik, atau mengandalkan kekuatan sendiri. Firman Tuhan berkata, “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5)

Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah sebuah permulaan yang baik ketika kita mau menyelidiki hati kita. Sebuah kebiasaan sederhana, misalnya sebelum tidur, mengambil waktu untuk mengingat kembali hari yang telah dilalui—apa yang tidak sesuai, apa yang perlu diperbaiki—adalah bagian dari proses pembenahan diri. Di situlah kita belajar untuk terus bertumbuh dan menjadi lebih baik.

Momen Refleksi:

1. Luangkan waktu hari ini untuk bertanya kepada diri sendiri:

2. Bagaimana kondisi hatiku saat ini di hadapan Tuhan?

3. Apakah motivasi hidup dan pelayananku masih murni dan selaras dengan kehendak-Nya?

Mari kita terus menyelidiki hati, memperbaiki motivasi, melakukan yang baik, dan hidup dengan tujuan untuk menyenangkan Tuhan. Sebab keberhasilan sejati lahir dari hati yang benar dan motivasi yang berpusat kepada Tuhan, bukan kepada diri sendiri atau manusia.

Tuhan Yesus memberkati.

Hak Cipta ©Maria Kaesmetan, Departemen Spiritual Life CBN Indonesia

Sumber: Jawaban.com

Rabu, 28 Januari 2026

Mensyukuri Pemberian Allah

Yang kita punya hanya manna ini saja! Kita sudah muak memakannya! –Bilangan 11:6 (TSI)

Ayat Bacaan & Wawasan :
Bilangan 11:1-2, 4-11

Seorang pria tua menghabiskan waktu yang panjang di dalam toko, sambil memperhatikan satu demi satu tas ransel anak-anak. Ia berkata kepada saya, “Cucu saya berulang tahun hari ini. Saya harap ia menyukai hadiah ini.” Akhirnya ia mendatangi kasir dengan menggenggam sebuah ransel merah muda bergambar karakter kartun, wajahnya penuh harap dan semangat.

Beberapa saat kemudian, saya melihatnya lagi di sebuah restoran bersama seorang gadis kecil dan kedua orang tuanya. Ketika sang cucu membuka hadiah itu, ia berseru, “Aku nggak suka karakter ini! Aku juga nggak suka warna merah muda!” Meski kedua orang tua menyuruhnya meminta maaf, ia tetap mengeluh. Hati saya hancur membayangkan perasaan sang kakek.

Momen itu mengingatkan saya pada sikap saya sendiri dalam merespons pemberian Allah. Betapa sering saya mengeluh karena menginginkan sesuatu yang berbeda, dan gagal menyadari bahwa di hadapan saya sudah ada mukjizat, yakni pemberian kasih dari Allah sendiri untuk saya. Bangsa Israel pun pernah bersikap serupa. Allah sudah menepati janji-Nya: “Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu” (Kel. 16:4). Dia setia memelihara umat-Nya di padang gurun: “Apabila embun turun di tempat perkemahan pada waktu malam, maka turunlah juga manna di situ” (Bil. 11:9).

Namun, alih-alih bersyukur, bangsa itu mengeluhkan bentuk pemeliharaan Allah: “Sekarang, yang kita punya hanya manna ini saja!” (ay. 6 TSI). Bukannya dengan rendah hati memohon makanan lain, mereka meratapi pemberian-Nya.

Masih terekam di benak saya ekspresi terluka di wajah kakek tersebut di hari itu. Itu membuat saya berpikir tentang bagaimana perasaan Bapa surgawi saat kita mengeluh. Mari kita mensyukuri berkat yang telah Ia berikan kepada kita.

Ekspresi kesedihan sang kakek hari itu masih terbayang jelas di benak saya. Saya pun membayangkan bagaimana perasaan Bapa Surgawi saat kita mengeluh. Karena itu, marilah belajar bersyukur atas segala pemberian-Nya.

Oleh: Karen Huang

Renungkan dan Doakan
Pemberian Allah apa yang pernah Anda keluhkan? Bagaimana Anda dapat belajar untuk lebih bersyukur atas berkat-berkat itu?

Ya Bapa, ampunilah sikapku yang sering mengeluhkan berkat-Mu.

Sumber: Our Daily Bread

Selasa, 27 Januari 2026

Motivasi Mencari Yesus 

Bacaan: Yohanes 6:22-24 

Banyak orang segera berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus (22-24). Mereka tampak begitu gigih, namun pertanyaannya adalah apa motivasi mereka mencari Yesus? Apakah mereka ingin mengenal-Nya lebih dalam, mendengar ajaran-Nya, atau sekadar memuaskan keinginan akan mukjizat dan roti yang mengenyangkan? Jika kita perhatikan ayat-ayat sebelum dan sesudah perikop ini, kita dapati, motivasi orang banyak itu adalah mencari mukjizat dan roti (lih. Yoh 6:2; 6:26).

Perilaku orang banyak ini menunjukkan bahwa motivasi mencari Tuhan tidak selalu didasari oleh cinta, kerinduan akan pengenalan yang dalam, atau ketulusan relasi personal yang hendak dibangun dengan Tuhan. Banyak orang mencari Tuhan karena ingin mendapat keuntungan bagi dirinya sendiri, atau setidaknya menyaksikan mukjizat yang diterima orang lain. Pertanyaan tentang motivasi mencari Tuhan ini masih relevan sampai sekarang. Dalam kebaktian khusus berskala besar, baik yang bersifat kebangunan rohani atau perayaan, apa motivasi orang banyak datang ke sana? Ada yang datang karena mau melihat pendeta/ pastor/pengkhotbahnya, melihat artis rohaninya, mendengar musiknya, mendapat makanannya, mendapat mukjizat penyembuhannya, mau tampil mengisi pujian/ kesaksian, atau sekadar ikut meramaikan dan seru-seruan. Berapa banyak yang datang karena kerinduan murni untuk berjumpa Tuhan dan mengenal-Nya dengan lebih dalam?

Santo Agustinus dalam salah satu karyanya, "Confessiones", pernah menulis: "... fecisti nos ad te et inquietum est cor nostrum, donec requiescat in te". Secara harfiah berarti: "Engkau telah menciptakan kami untuk-Mu dan hati kami tidak akan tenang, sampai ia beristirahat dalam Engkau". Kita diajak untuk melihat lebih dalam makna relasi yang kita bangun dengan Tuhan. Eksistensi hidup kita sejak mula adalah pemberian Tuhan. Jangan membangun relasi yang transaksional dengan Tuhan, tetapi bangunlah relasi yang tulus dan sederhana dengan-Nya sampai kelak kita bersatu kembali bersama Dia. [YWA]

Sumber: Santapan Harian

Senin, 26 Januari 2026

Wadi Kerit Mengering

Bacaan: 1 RAJA-RAJA 17:7-16

Akan tetapi, sesudah beberapa waktu, wadi itu mengering, sebab hujan tidak turun di negeri itu. (1 Raja-raja 17:7)

Ahab, raja Israel, melakukan kejahatan di mata Tuhan. Ia beribadah kepada Ba'al. Elia, sang nabi, mengancamkan bahwa tidak akan ada embun atau hujan turun. Kemudian oleh petunjuk Tuhan, Elia tinggal bersembunyi di tepi Wadi Kerit di sebelah timur Sungai Yordan. Dari wadi itu, Elia minum. Pada pagi dan petang, burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya (lih. 1Raj 17:1-6).

Selang beberapa waktu, wadi kerit mengering (ay. 7). Pada saat itu mungkin juga burung-burung gagak berhenti datang membawa makanan. Kembali Elia mendengar petunjuk Tuhan. Ia harus berangkat ke Sarfat di wilayah Sidon dan tinggal di sana. Nanti ada seorang janda yang memberinya makan (ay. 8-9). Faktanya, Tuhan itu Maha Kuasa! Dia dapat mengkhususkan Wadi Kerit. Dia dapat membuat air di dalamnya terus mengalir. Namun, jika demikian sang nabi akan terlena dan berpikir Wadi Keritlah yang menyokong kehidupannya, juga burung-burung gagak. Maka, Tuhan membiarkan wadi itu dalam keadaan sebagaimana mestinya. Tuhan ingin Elia mengingat bahwa Dialah yang memberinya minum dan makanan, atau dengan kata lain Dialah Sang Sumber Kehidupan.

Serupa terjadi pada kita. Adakalanya Tuhan mengizinkan "Wadi Kerit" kehidupan kita mengering. Segala sesuatu tidak berjalan dengan lancar, malahan muncul berbagai kesukaran. Maka, kita yang tadinya terlena sekarang memandang kepada Tuhan. Kita yang tadinya mengira keberhasilan yang selama ini dinikmati ialah karena kemampuan diri sendiri, menjadi paham bahwa semuanya itu dikarenakan Tuhan. Dialah yang memberi penyertaan serta perlindungan. Dialah yang memberkati, menyokong, dan menolong, atau tepatnya Dialah Sang Sumber Kehidupan. --LIN/www.renunganharian.net

ACAPKALI KESUKARAN DAPAT MENGEMBALIKAN KESADARAN KITA
TERHADAP TUHAN SEBAGAI SUMBER KEHIDUPAN.

Minggu, 25 Januari 2026

Perjumpaan dengan Raja

Bacaan Alkitab hari ini:
Mazmur 99

Apakah Anda masih ingat suasana saat Pope atau Paus Fransiskus berkunjung ke Indonesia pada tanggal 3 September 2024? Kedatangannya disambut dengan sangat antusias. Masyarakat Indonesia —terutama umat Katolik—berdesakan memadati jalan-jalan yang hendak dilewati oleh Paus agar dapat melihat beliau. Bila kedatangan Paus disambut dengan sangat antusias, apakah kita juga memiliki antusiasme untuk menyambut kedatangan TUHAN, Raja atas seluruh bumi, yang kuasa-Nya jauh melampaui semua pemimpin yang ada di bumi ini? Mazmur ini mengingatkan kita untuk merespons kehadiran TUHAN dengan rasa takut yang kudus, rasa hormat, dan sikap menyembah.

Mazmur 99 termasuk kelompok Mazmur Kerajaan, yaitu mazmur yang menekankan bahwa TUHAN adalah Raja atas seluruh bumi. Kemungkinan, mazmur ini dipakai dalam ibadah di Bait Allah untuk mengingatkan umat bahwa pemerintahan TUHAN diwarnai oleh kekudusan dan keadilan. Dalam budaya Israel, raja bukan hanya penguasa politik tetapi juga simbol dari pemelihara hukum dan keadilan. Pemazmur menempatkan TUHAN sebagai Raja Tertinggi yang melampaui seluruh penguasa di bumi. Perhatikan suasana di pengadilan negeri! Saat hakim memasuki ruang pengadilan, semua orang harus berdiri karena hakim adalah simbol keadilan dan hakim memiliki otoritas. Jika hakim manusia harus dihormati, bukankah TUHAN yang merupakan Hakim Agung dan Raja yang Kudus harus lebih dihormati? Bila kita sadar betapa tingginya posisi TUHAN itu, bukankah kita tidak akan berlaku sembarangan di hadapan-Nya? Ingatlah bahwa TUHAN adalah Allah yang layak disembah dan Raja yang memerintah dengan keadilan dan kuasa. Ia bukan pemimpin yang jauh dan tidak peduli, melainkan Raja yang hadir di tengah umat-Nya, mendengarkan seruan mereka, dan menegakkan kebenaran. Jika kedatangan Paus saja disambut dengan penuh hormat dan sukacita, bukankah sudah sepatutnya kita menyambut dan menghormati Tuhan dalam kehidupan sehari-hari? Respons terhadap kehadiran Tuhan seharusnya bukan sekadar emosional, melainkan harus dilandasi sikap rendah hati, taat, dan kagum terhadap kekudusan-Nya.

Mazmur 99 mengajar kita untuk tidak memandang ibadah sebagai pertemuan sosial biasa! Setiap kali kita datang untuk berdoa, memuji TUHAN, dan mendengarkan firman, sesungguhnya kita sedang berdiri di hadapan Raja segala raja. Oleh karena itu, pandanglah ibadah sebagai perjumpaan dengan Sang Raja. Apakah selama ini Anda hanya datang beribadah sekadar sebagai kebiasaan atau Anda benar-benar menjadi bagian dari umat yang menghadap Sang Raja yang Kudus? [GI Yorimarlina Umboh]

Sumber: Renungan GKY

Sabtu, 24 Januari 2026

Kemampuan Anda Adalah Peta Jalan yang Hebat

Bacaan Hari ini:
Ibrani 13:20-21 "Yesus, Tuhan kita kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin"

Dahulu kala, beberapa hewan ingin membuka sebuah sekolah. Mereka memutuskan bahwa pelajaran yang akan diajarkan adalah berlari, memanjat, berenang dan terbang. Lalu mereka memutuskan bahwa semua hewan harus mengikuti semua pelajaran itu.

Di situlah masalahnya dimulai.

Bebek jauh lebih hebat dari gurunya dalam berenang, tetapi hanya mendapatkan nilai pas-pasan dalam terbang dan sangat buruk dalam berlari. Jadi mereka memintanya berhenti dari pelajaran berenang dan harus tetap tinggal di sekolah setelah jam belajar untuk berlatih berlari. Hal ini membuat kakinya yang berselaput menjadi rusak dan nilainya turun menjadi rata-rata dalam berenang. Tetapi semua orang merasa lebih tenang dan nyaman dengan hal itu—kecuali si bebek.

Kelinci awalnya berada di posisi teratas dalam pelajaran berlari, tetapi karena terlalu banyak pekerjaan tambahan di pelajaran berenang, ia terkena pneumonia dan harus keluar dari sekolah.

Tupai menunjukkan kemampuan luar biasa dalam memanjat, tetapi ia sangat frustrasi dalam pelajaran terbang karena gurunya memintanya memulai dari tanah, bukan dari puncak pohon. Ia mengalami kram otot karena terlalu memaksakan diri, sehingga hanya mendapatkan nilai "C" dalam memanjat dan "D" dalam berlari.

Elang menjadi pembuat masalah. Dalam pelajaran memanjat, ia mengalahkan semua hewan lain mencapai puncak—tetapi dengan cara terbang. Karena ia menolak ikut pelajaran berenang, ia akhirnya dikeluarkan dari sekolah.

Seperti yang dapat Anda bayangkan, sekolah hewan itu tidak berhasil.

Setiap hewan diciptakan untuk unggul dalam bidang tertentu, dan mereka tidak bisa dipaksakan untuk melakukan semua hal lainnya. Seekor bebek diciptakan untuk menjadi bebek—bukan yang lain.

Hal itu sama dengan manusia. Allah merancang setiap orang berbeda satu sama lain. Ketika Anda memaksa setiap orang masuk ke dalam cetakan yang sama, hasilnya adalah frustrasi, keputusasaan, rata-rataan dan kegagalan.

Allah menciptakan Anda untuk menjadi diri Anda sendiri. Ia telah memberikan kepada Anda kemampuan-kemampuan yang unik, dan Ia ingin Anda menggunakannya sesuai dengan maksud-Nya.

Apakah Anda bertanya-tanya apa kehendak Allah bagi hidup Anda? Lihatlah kemampuan Anda. Kemampuan itu bertindak seperti peta jalan; kemampuan tersebut menolong menunjukkan arah ke mana Anda seharusnya melangkah.

Alkitab berkata: "Yesus, Tuhan kita kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin" (Ibrani 13:20-21)

Renungkan:
- Kemampuan unik apa yang telah Allah berikan kepada Anda?
- Kapan Anda pernah memaksakan diri masuk ke dalam "cetak" yang tidak sesuai dengan cara Allah menciptakan Anda? Apa hasilnya?
- Kapan Anda melihat Allah menghasilkan hal-hal baik dalam diri Anda karena Anda menggunakan kemampuan unik yang telah Ia berikan?

Melalui kemampuan Anda, Allah telah melengkapi Anda untuk melakukan kehendak-Nya. Saat Anda menggunakan kemampuan-kemampuan tersebut, Anda akan mulai melihat bagaimana Ia menghasilkan "setiap hal baik" dalam hidup Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Jumat, 23 Januari 2026

Iman Yang Mengasihi Di Tengah Dunia Yang Individualis

Bacaan: 
Yakobus 2:14-17; Matius 5:16

Saudara-saudara, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? - Yakobus 2:14

Seorang profesional muda Kristen tinggal di sebuah apartemen mewah, bekerja di perusahaan besar, dan hadir di ibadah Minggu secara online karena kesibukan. Suatu malam, ia melihat seorang petugas kebersihan di gedungnya yang sedang makan nasi bungkus basi. Ia merasa iba, lalu berdoa dalam hati agar orang itu diberkati. Namun, ia tidak melakukan apa-apa. Apakah iman seperti itu benar-benar menyelamatkan? Doa tanpa empati yang aktif hanyalah ritual. Dalam konteks kota besar, kita mudah hidup dalam “gelembung kenyamanan” dan kehilangan kepekaan terhadap penderitaan orang-orang di sekitar.

Di era postmodern sekarang, banyak orang menilai iman sebagai hal pribadi, cukup “antara saya dengan Tuhan”. Namun, Rasul Yakobus dalam suratnya menantang kita untuk melihat iman secara konkret—iman yang terlihat dalam tindakan nyata, terutama kepada sesama yang membutuhkan. Ia memberikan ilustrasi sangat konkret: seseorang dalam kondisi kelaparan dan tanpa pakaian. Respons “doa tanpa tindakan” digambarkan sebagai kesia-siaan karena iman yang sejati pasti menghasilkan perbuatan.

Yakobus berbicara kepada komunitas Kristen Yahudi yang tersebar dan sedang bergumul dengan ketidakadilan sosial dan kesenjangan ekonomi. Ia menyuarakan kritik tajam terhadap iman yang tidak melahirkan kepedulian sosial. Yakobus bukan sedang menentang doktrin “dibenarkan oleh iman”, melainkan menegaskan bahwa iman sejati tidak bisa dipisahkan dari perbuatan nyata (bdk. Ef. 2:10). Iman tanpa perbuatan adalah mati (ay. 17) sehingga tidak ada gunanya memiliki iman yang demikian.

Era postmodern menekankan spiritualitas pribadi dan subjektif. Namun, Yakobus mengingatkan bahwa iman harus inkarnatif—terwujud dalam dunia nyata. Hidupkan iman lewat tindakan kasih kepada yang termarginalkan, seperti supir ojol, lansia terlantar, anak jalanan, pemulung sampah, dan sebagainya. Iman sejati mendorong kita turun tangan, bukan hanya berdoa dari jauh. Bergereja bukan hanya hadir di ibadah, tetapi hadir dalam kebutuhan sesama. Gereja harus menjadi komunitas yang beraksi. Jika ada anggota jemaat yang kekurangan, bagaimana kita merespons mereka?

Iman sejati tidak hanya diucapkan, tetapi dihidupi. Iman yang nyata—yang terwujud melalui tindakan kasih—adalah kesaksian paling kuat di zaman ini. Hiduplah bukan hanya sebagai pendengar firman, tetapi sebagai pelaku karena iman yang hidup akan selalu tampak dari tindakan kasih.

Refleksi Diri:

Siapa orang di sekitar Anda yang sedang membutuhkan pertolongan nyata yang selama ini hanya Anda responi dengan doa saja (kata-kata tanpa tindakan)?

Jika orang lain menilai iman Anda dari tindakan Anda minggu ini, apakah mereka akan melihat iman yang hidup atau iman yang mati?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Kamis, 22 Januari 2026

Perang Tulang

Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan. –Filipi 4:2

Ayat Bacaan & Wawasan :
Filipi 4:1-3

Di kawasan barat Amerika pada akhir tahun 1800-an, pencarian tulang dinosaurus sempat memicu “Perang Tulang,” persaingan sengit antara dua paleontolog yang berlomba menemukan fosil paling bersejarah. Seorang penulis mencatat bahwa keduanya “menggunakan cara-cara curang untuk saling mengalahkan, termasuk suap, pencurian, dan penghancuran tulang.” Dalam usaha menjatuhkan satu sama lain, kedua ahli itu justru merusak reputasi mereka sendiri.

Konflik dan persaingan adalah bagian tak terhindarkan dalam dunia yang telah rusak oleh dosa ini. Namun, cara kita menghadapinya akan mencerminkan isi hati kita yang sebenarnya. Rasul Paulus menyadari adanya ketegangan antara dua wanita dalam jemaat di Filipi, maka dari itu ia menulis, “Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.” Ia juga meminta salah seorang anggota jemaat untuk “[menolong] mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil” (Flp. 4:2-3).

Ketika kita terlibat dalam perselisihan atau pertikaian dengan saudara-saudari seiman, kita butuh pertolongan Roh Kudus. Saat kita menundukkan hati kita untuk dibentuk oleh-Nya, Dia akan memampukan kita menghasilkan buah Roh (Gal. 5:22-23). Kita pun akan mengalami pemulihan dan kedamaian—bukan hanya demi nama kita sendiri, tetapi juga demi nama Kristus dan Injil-Nya.

Oleh: Bill Crowder

Renungkan dan Doakan
Apakah ada konflik yang sedang Anda alami saat ini? Bagaimana damai dari Roh Kudus menuntun Anda untuk mengatasinya?

Bapa terkasih, Engkau pasti berduka, saat aku bertikai dengan saudara-saudari seimanku. Berilah aku hikmat-Mu serta pertolongan Roh Kudus untuk memulihkan dan menyatukan hubungan kami.

Sumber: Our Daily Bread

Rabu, 21 Januari 2026

HANYA BISA DILAKUKAN OLEH ALLAH

Bacaan: Kejadian 16-18

Kita sering tergoda untuk mencoba, dengan kekuatan manusia, melakukan hal-hal yang sebenarnya hanya bisa dilakukan oleh Allah.

Saat Anda membentak anak-anak Anda, berpikir bahwa nada keras dan suara yang lebih tinggi akan mengubah hati mereka, saat itu Anda sedang berusaha melakukan dengan kekuatan sendiri apa yang hanya Allah sanggup lakukan.

Saat Anda disakiti oleh pasangan Anda lalu menghukumnya dengan sikap diam, Anda sedang mencoba melakukan dengan cara manusia apa yang hanya Allah sanggup lakukan.

Saat Anda menghadapi dosa Anda dengan performa pembenahan diri, alih-alih berseru meminta pertolongan dan kasih karunia yang memampukan, Anda sedang mencoba melakukan sendiri apa yang hanya Allah sanggup lakukan.

Saat Anda memaksa membuka pintu pelayanan tanpa menantikan pimpinan Tuhan, Anda sedang mencoba dengan kekuatan sendiri apa yang seharusnya Anda percayakan kepada-Nya.

Saat Anda dengan tidak sabar “memukul” orang dengan Injil, alih-alih membiarkan Roh Kudus bekerja di hati mereka, Anda sedang berusaha melakukan apa yang hanya Allah bisa lakukan.

Pergumulan inilah yang dialami Abraham. Allah telah berjanji bahwa Abraham dan Sara akan memiliki seorang anak—bukan sekadar anak, tetapi seorang anak yang melalui dia janji Allah kepada Abraham akan diteruskan ke generasi-generasi berikutnya. Tahun demi tahun mereka menunggu, tetapi anak itu belum juga datang. Sementara itu, Sara semakin tua dan tidak lagi mungkin mengandung (Kej. 16–18).

Saat kita hidup bergantung pada janji Allah, tetapi janji itu terasa belum digenapi, menunggu menjadi sangat sulit. Awalnya kita hanya merasa khawatir. Kekhawatiran itu berubah menjadi ketakutan, dan ketakutan berkembang menjadi kepanikan. Dalam kepanikan, kita mulai berpikir bagaimana kita bisa “menolong” Allah melakukan apa yang kita nantikan. Coba tanyakan pada diri sendiri: berapa banyak keputusan yang kita ambil lebih dibentuk oleh ketakutan akan “bagaimana jika” daripada oleh iman kepada Allah?

Maka Sara pun memberikan Hagar, hambanya, kepada Abraham—mengambil alih kendali untuk menggenapi janji Allah dengan caranya sendiri. Abraham seharusnya menolak, tetapi ia tidak melakukannya. Hagar mengandung, Sara menjadi cemburu, dan mulai memperlakukan Hagar dengan buruk. Hagar pun melarikan diri untuk menyelamatkan diri dari situasi yang menyakitkan. Rumah Abraham terpecah, karena mereka mencoba melakukan dengan kekuatan manusia apa yang hanya Allah bisa lakukan.

Namun Allah adalah Allah yang penuh kasih karunia. Ia tidak membatalkan perjanjian-Nya dengan Abraham. Ia tetap memberikan anak yang dijanjikan, dan Ia juga memberkati Hagar. Allah tidak menggantungkan janji-Nya pada kesempurnaan ketaatan manusia, tetapi pada kesetiaan-Nya sendiri. Sering kali Allah menepati janji-Nya bahkan ketika kita tidak sabar menunggu dan memilih mengandalkan hikmat serta kekuatan kita sendiri untuk melakukan apa yang hanya dapat dilakukan oleh Dia.

Hari ini, apakah Anda sedang tergoda untuk melakukan dengan usaha manusia apa yang hanya dapat dilakukan oleh Allah? Maukah Anda menunggu? Maukah Anda mempercayai kehadiran, kuasa, dan kesetiaan Tuhan? Maukah Anda menemukan damai dalam keyakinan bahwa waktu-Nya selalu tepat? Dan maukah Anda beristirahat dalam kepastian janji-janji Tuhan? Injil mengingatkan kita bahwa keselamatan, perubahan hati, dan penggenapan janji Allah tidak lahir dari usaha kita, melainkan dari kasih karunia-Nya yang setia di dalam Kristus.

Refleksi
Bacalah Markus 4:26-32 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

Sumber: Renungan Gibeon Church

Selasa, 20 Januari 2026

Dipulihkan untuk Memulihkan

Bacaan: LUKAS 8:26-39

"Pulanglah ke rumahmu dan ceritakanlah segala sesuatu yang telah dilakukan Allah kepadamu." Orang itu pun pergi ke seluruh kota dan memberitahukan segala sesuatu yang telah dilakukan Yesus atas dirinya. (Lukas 8:39)

Seorang ibu tua setiap malam menyalakan lentera di jendela gubuknya. Nyala lentera itu menjadi penerang bagi para pejalan yang melewati desa itu. Suatu malam seorang pemuda pejalan kaki singgah di gubugnya. Ibu itu menyambutnya dengan hangat dan berbagi cerita tentang bagaimana lentera itu dulu diambil dari tempat sampah. "Lentera ini dulu pernah rusak dan dibuang pemiliknya, tapi aku perbaiki dan menyalakannya kembali, kini terang itu bisa membagikan harapan pada orang lain."

Alkitab berkisah tentang seorang pria yang kerasukan roh jahat. Pria itu hidup di pekuburan, tersingkirkan dari keluarga dan masyarakat, terikat oleh kegelapan. Namun, Yesus mengusir roh jahat itu, memulihkan akal sehat dan kehidupannya. Setelah dipulihkan, Yesus tidak membiarkannya diam. Dia memerintahkannya untuk pulang dan memberitakan kepada orang banyak tentang betapa besar perbuatan Tuhan dalam hidupnya. Dan orang itu pun pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya.

Demikianlah dahulu kita rusak dan dibuang karena dosa. Namun, Yesus memungut dan memulihkan hidup kita. Dia menjadikan kita ciptaan baru dan berharga. Ia pun mengingatkan: kita dipulihkan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk menjadi berkat dan pemulih bagi orang lain. Apakah kita mengingat pesan ini? Sudahkah kita bersaksi kepada semua orang tentang perbuatan Tuhan yang telah memulihkan hidup kita? --SYS/www.renunganharian.net

PEMULIHAN KITA MENJADI SAKSI DAN KEKUATAN BAGI BANYAK ORANG YANG SEDANG BERJUANG.

Senin, 19 Januari 2026

Bangku Persahabatan

Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita. –Roma 12:6

Ayat Bacaan & Wawasan :
Nehemia 3:6-12

Ketika mendengar seorang pasien muda bunuh diri karena tak mampu membayar ongkos bus menuju rumah sakit untuk menjalani perawatan mentalnya, Dr. Chibanda merasa sangat terpukul. Ia pun mencari cara agar perawatan tersebut dapat lebih mudah diakses. Maka lahirlah program konseling unik yang disebut “Bangku Persahabatan,” dengan para terapis yang duduk di bangku-bangku tersembunyi di ruang publik, siap mendengarkan siapa pun yang membutuhkan pertolongan. Lalu, siapa yang ia latih sebagai terapis? Para nenek! “Mereka sudah tertanam dalam komunitas mereka,” ujar Dr. Chibanda. “Jadi, mereka memiliki kemampuan luar biasa untuk . . . membuat orang lain merasa dihormati dan dimengerti.”

Dalam Nehemia 3, kita membaca tentang suatu proyek yang juga melibatkan sekelompok orang yang tidak biasa. Ketika tembok Yerusalem hancur, umat Allah ingin membangunnya kembali “supaya [mereka] tidak lagi dicela” dan diperolok oleh bangsa-bangsa di sekitar mereka. Tidak hanya para tukang emas seperti Uziel (3:8), beragam orang dengan karunia yang berbeda-beda—seperti Salum seorang penguasa wilayah—ikut bekerja membangun tembok (ay. 12).

Sama seperti Dr. Chibanda dapat melihat para nenek yang membawa pengaruh dalam penanganan kesehatan mental di Zimbabwe melalui kehadiran dan kepedulian mereka, kiranya Allah memampukan kita untuk melihat kekuatan dalam setiap pribadi. Masing-masing dari kita memiliki pengalaman, sumber daya, dan karunia yang unik (Rm. 12:6). Ketika kita menyerahkan semua itu kepada-Nya, Dia dapat memakai kita untuk membangun umat-Nya dan melayani komunitas kita.

Oleh: Poh Fang Chia

Renungkan dan Doakan
Melihat ke dalam hati Anda, apa yang Allah ingin Anda lakukan bagi gereja atau komunitas Anda? Siapa yang dapat Anda libatkan untuk melayani bersama Anda?

Ya Bapa, bukalah mataku untuk melihat kekuatan dalam diri orang lain, agar aku dapat melayani bersama mereka dengan setia.

Sumber: Our Daily Bread

Minggu, 18 Januari 2026

Jangan Biarkan Janji-janji Allah Tetap Terbungkus

Bacaan Hari ini:
Mazmur 56:3-4 "Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"

Anda tidak akan pernah bisa mengalahkan rasa takut dalam hidup Anda sampai Anda mulai mendasarkan harapan Anda pada janji-janji Allah.

Selama ini Anda biasanya meletakkan harapan pada apa? Mungkin pada diri sendiri, pada ekonomi, pada kebijaksanaan umum, pada opini publik atau pada nilai-nilai budaya.

Namun satu-satunya harapan yang benar-benar bertahan hanyalah yang ditemukan di dalam Firman Allah.

Dalam Alkitab, Allah memberikan lebih dari 7.000 janji untuk Anda. Jika Anda menjalani hidup tanpa mengetahui hal-hal luar biasa yang telah Allah janjikan untuk lakukan, mudah sekali Anda diliputi kecemasan.

Jika saya harus menjalani operasi besar dan khawatir tentang biayanya, saya akan memeriksa polis asuransi. Jika tertulis bahwa tindakan tersebut ditanggung, saya tidak akan gelisah karena perusahaan asuransi telah berjanji untuk membayarnya.

Alasan banyak orang hidup dalam ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran adalah karena mereka tidak mengetahui apa yang tertulis dalam "panduan hidup" dari Allah—Alkitab. Di dalamnya terdapat janji-janji Allah tentang keuangan Anda, kesehatan Anda, hubungan Anda, pekerjaan Anda, pengampunan dosa dan kehidupan kekal. Namun jika Anda tidak mengetahuinya, Anda tidak akan tahu bahwa Anda bisa berpegang pada janji-janji itu ketika hidup menjadi berat.

Sekaranglah waktunya mulai mempelajari janji-janji Allah dalam Firman-Nya dan memfokuskan hati pada apa yang telah Ia katakan akan Ia lakukan untuk Anda—seperti yang dilakukan Maria ketika malaikat menyatakan rencana besar Allah atas hidupnya.

Elisabet, sepupu Maria, melihat iman Maria dan berkata kepadanya dalam Lukas 1:45: "Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."

Maria percaya bahwa Allah akan menepati janji-Nya. Itulah yang memberi keberanian luar biasa kepada seorang gadis muda yang ketakutan dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Ia percaya bahwa Allah memegang firman-Nya.

Ketika Anda mulai melakukan hal yang sama, Anda pun akan diberkati.

"Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" (Mazmur 56:3-4)

Renungkan :
- Bagaimana kebiasaan rohani seperti menghafal ayat Alkitab dapat menolong Anda berpegang pada janji Allah ketika Anda membutuhkan kekuatan untuk mengalahkan ketakutan?
- Kepada apa saja Anda pernah menaruh harapan yang akhirnya mengecewakan? Bagaimana harapan dalam Allah berbeda?
- Bagaimana Anda dapat menunjukkan kepada Allah hari ini bahwa Anda percaya pada janji-janji-Nya atas hidup Anda?

Anda tidak akan pernah bisa mengalahkan rasa takut dalam hidup Anda sampai Anda mulai mendasarkan harapan Anda pada janji-janji Allah.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Sabtu, 17 Januari 2026

MEMBANGUN MENARA DIRI SENDIRI

Bacaan: Kejadian 8-11

Berhala terbesar manusia adalah diri sendiri. Kesombongan manusia selalu berdiri berlawanan dengan kemuliaan dan rencana Allah.

Kisah Menara Babel adalah salah satu cerita Alkitab yang paling dikenal, tetapi juga salah satu yang paling sering disalahpahami: “Juga kata mereka: ‘Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi’” (Kej. 11:4). Banyak orang pernah mendengar tentang Menara Babel, tetapi hanya sedikit yang sungguh memahami arti penting peristiwa ini dalam kisah besar Alkitab dan maknanya bagi kehidupan kita hari ini.

Sejak semula, kehendak Sang Pencipta adalah agar manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya hidup dalam kerendahan hati, ketaatan, dan bergantung kepada-Nya, serta beranak cucu dan memenuhi bumi. Namun, dosa membuat manusia lapar akan kemandirian, memuaskan diri sendiri, dan mengejar kemuliaan pribadi. Kita lebih mengejar kemuliaan diri daripada kemuliaan Allah, dan memilih menjalani hidup menurut kehendak kita sendiri, bukan menurut rencana dan tujuan Allah.

Inilah yang mendorong pembangunan menara itu. Menara Babel bukan sekadar bangunan tinggi, melainkan monumen kesombongan manusia, pernyataan ketidakbergantungan kepada Allah, dan pengganti rencana Allah yang berfirman “beranakcuculah dan bertambah banyak dan penuhilah bumi” (Kej. 1:28). Kesombongan manusia adalah musuh dari kemuliaan dan rencana Allah.

Karena itu Allah bertindak dengan mengacaukan bahasa mereka, sehingga mereka tidak dapat saling memahami dan akhirnya terserak. Allah menunjukkan bahwa Dialah Tuhan atas segala bangsa, dan kehendak-Nya tidak dapat digantikan oleh ambisi manusia. Ia seakan menyatakan, “Akulah Tuhan. Aku yang berdaulat; hanya satu Kerajaan dan kehendak-Ku yang akan terjadi.”

Ketika kita membaca kisah ini, ada pengakuan jujur yang perlu kita buat: kita pun masih sering membangun menara-menara kita sendiri. Bagaimana caranya?

Setiap kali kita mengambil pujian atas hal-hal yang sebenarnya hanya Allah yang sanggup kerjakan, kita sedang membangun menara bagi kemuliaan diri. Setiap kali kita melanggar batas moral Allah sambil meyakinkan diri bahwa kita lebih tahu daripada Dia, kita sedang meninggikan diri di atas Allah. Setiap kali kita bertindak seolah-olah kita sudah “lulus” dan tidak lagi membutuhkan anugerah keselamatan, pengampunan, dan pembaruan dari Tuhan, kita sedang membangun menara kesalehan palsu. Setiap kali kita hidup seakan-akan hidup ini, talenta, dan sumber daya yang kita miliki adalah milik kita sendiri untuk dipakai sesuka hati, kita sedang memuliakan diri, bukan Allah. Mungkin dalam banyak hal kita justru lebih mirip orang-orang dalam Kejadian 11 daripada yang kita sadari?

Namun kisah Babel bukan hanya kisah tentang hukuman Allah, melainkan juga tentang anugerah keselamatan-Nya. Kesombongan yang mendorong manusia membangun menara itu adalah kesombongan yang sama yang membuat salib Yesus harus didirikan. Karena masalah terbesar manusia bukan hanya dosa yang dia perbuat, tetapi dari dirinya sendiri yang ingin hidup tanpa Allah. Itulah sebabnya, manusia tidak hanya perlu diselamatkan dari dosanya, tetapi juga diselamatkan dari dirinya sendiri oleh salib Kristus.

Di kayu salib, Yesus Kristus meruntuhkan menara kesombongan manusia. Ia mati bukan bagi mereka yang ingin memuliakan diri, tetapi bagi mereka yang bersedia direndahkan dan diselamatkan oleh anugerah. Salib adalah kebalikan dari Menara Babel: di Babel manusia naik untuk mencari nama, di salib Anak Allah turun untuk memberikan nama keselamatan bagi manusia.

Anugerah itu masih kita butuhkan hari ini, sama seperti manusia membutuhkannya pada masa Kejadian 11. Injil memanggil kita bukan untuk membangun menara yang lebih tinggi, tetapi untuk hidup rendah hati di bawah salib, bagi kemuliaan Allah semata.

Refleksi
Bacalah Mazmur 53:1-6 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

Sumber: Renungan Gibeon Church

Jumat, 16 Januari 2026

Consolidate (Konsolidasi)

Bacaan: Filipi 1:27

Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil - Filipi 1:27

Pernahkah Anda memperhatikan sekelompok anak yang bermain game online bersamasama? Perhatikan bagaimana mereka berfokus tidak hanya pada layar di depan mereka, tetapi juga berkomunikasi dengan teman-temannya. Mereka bisa saling bercanda atau mengejek satu sama lain selama memainkan game online tersebut. Namun, satu hal yang patut kita kagumi dari mereka. Satu kualitas yang jarang ditemukan, bahkan di gereja-gereja masa kini, yakni kesatuan visi atau konsolidasi tujuan.

Tentu saja saya tidak mengatakan bahwa kita harus main game online supaya bisa memiliki kesatuan visi. Akan tetapi, coba perhatikan bagaimana anak-anak yang berasal dari sekolah yang berbeda, status ekonomi dan jenjang pendidikan yang beragam, bahkan suku dan agama yang berbeda, berjuang bersama memainkan game tersebut. Mereka memiliki satu visi yang sama, entah mencari harta karun atau mengalahkan monster di dalam game tersebut. Segala perbedaan dan keinginan untuk menonjolkan diri dikesampingkan, demi visi yang satu dan tujuan yang sama.

Terkadang saya sedih ketika melihat sesama anggota tubuh Kristus kalah kompak dibanding anak-anak tersebut. Kita masing-masing punya ego, agenda, dan motivasi pribadi. Akibatnya, bukannya berfokus kepada visi dan tujuan yang sama di depan, kita malah berusaha menonjolkan diri, mencari nama, dan memaksakan agar kehendak kita yang terpenuhi. Apa-apaan ini?! Bisa-bisanya kita yang adalah pengikut Kristus kalah kompak dibandingkan anak-anak pemain game online? Kesatuan visi sangatlah penting bagi gereja. Tidak hanya karena “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,” tetapi juga karena kesatuan kita menjadi kesaksian bagi dunia akan kebenaran Injil Kristus (Yoh. 17:23). Bagaimana cara agar kesatuan visi dan konsolidasi tujuan bisa tercapai? Apakah dengan pemerintahan otoriter dan tangan besi? Cara ini bisa saja diterapkan di dunia, tetapi ini bukan cara yang Tuhan kehendaki untuk dipakai di gereja-Nya. Satu-satunya cara adalah dengan merendahkan ego kita dan bersedia mendengar satu sama lain.

Khotbah-khotbah dan seminar-seminar tentang kesatuan tidak akan menyatukan gereja. Pada akhirnya, yang dapat menyatukan gereja adalah kasih Kristus di dalam diri setiap kita.

Refleksi Diri:

Berapa nilai kekompakan gereja Anda dalam skala 1-10? Apa yang menjadi penghalang kesatuan visi dan konsolidasi tujuan di dalam gereja Anda?

Jika Anda termasuk di dalam kepemimpinan gereja (pengurus, koordinator, majelis, dan sebagainya), apa yang ingin Anda lakukan agar dapat menyatukan visi rekan-rekan sepelayanan yang lain?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Kamis, 15 Januari 2026

Tempat Perlindungan yang Aman

Bacaan Alkitab hari ini:
Mazmur 91

Dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian, ancaman dan kekhawatiran, setiap orang mencari tempat atau sesuatu yang memberi rasa aman. Sebagian orang merasa aman bila punya uang yang cukup, rumah yang bagus, atau relasi yang stabil. Akan tetapi, semua hal itu bisa hilang atau berubah sewaktu-waktu. Mazmur 91 memberi tawaran yang jauh lebih aman, yaitu perlindungan dari Allah yang maha tinggi. Mazmur ini disebut sebagai "mazmur perlindungan" karena menekankan bahwa keamanan sejati hanya bisa ditemukan dalam hadirat Allah.

Konteks mazmur ini adalah pengalaman orang yang sedang menghadapi bahaya seperti perang, penyakit, atau penganiayaan. Mazmur ini menghibur dan meyakinkan bahwa perlindungan TUHAN itu nyata bagi orang yang sungguh-sungguh berlindung kepada-Nya, "Orang yang duduk dalam lindungan Yang Maha Tinggi akan bermalam dalam naungan Yang Maha Kuasa. Dia akan berkata kepada TUHAN: Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai." (91:1-2). Ayat ini mengungkapkan tema utama yang menyampaikan inti mazmur ini, yaitu keamanan total di dalam TUHAN. Istilah "duduk" dan "bermalam" menggambarkan kedekatan yang intim dan keberlanjutan dengan Allah. Manusia tidak akan duduk di tempat yang tidak aman. Inilah kepercayaan yang muncul dari pengalaman akan perlindungan TUHAN! Pemazmur berkata seperti itu karena ia sadar bahwa hanya TUHAN yang bisa menjadi tempat berlindung, bukan kekuatan manusia, senjata, atau kekayaan. Hal ini tidak berarti bahwa orang percaya tidak bisa menderita, tetapi orang percaya memiliki jaminan bahwa TUHAN selalu hadir dan memelihara, termasuk dalam situasi sulit. Selanjutnya, pemazmur menguraikan berbagai bahaya seperti panah yang beterbangan, penyakit sampar, dan bencana lainnya, tetapi orang yang berlindung pada TUHAN tidak akan dibiarkan binasa.

Saat muncul bahaya, apakah Anda berlindung kepada Tuhan atau kepada yang lain? Ada orang yang merasa aman karena memiliki asuransi, tabungan, atau relasi. Walaupun hal-hal itu penting, semuanya itu tidak memberi keamanan yang sejati. Perlindungan Tuhan bersifat total dan abadi. Dia bukan hanya melindungi tubuh kita, tetapi juga jiwa kita. Agar dapat menikmati perlindungan Tuhan, tinggallah dengan Tuhan setiap hari, bukan hanya saat masalah muncul. Bangunlah relasi dengan Tuhan melalui doa, firman, dan ketaatan. Bila Anda hidup di hadirat-Nya, Anda akan merasa tenang, meskipun dunia berguncang. Dunia memberi rasa aman yang semu, tetapi Tuhan memberi perlindungan sejati. Apakah Anda sudah tinggal di hadirat Tuhan setiap hari atau hanya mencari-Nya saat kesulitan datang? [GI Yorimarlina Umboh]

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Rabu, 14 Januari 2026

ANDA MAMPU!

Bacaan: Roma 7:15-25

NATS: Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13)

Seorang anak kecil sedang berada di sebuah tempat cukur rambut. Ruangan itu dipenuhi asap cerutu. Si anak memencet hidungnya dan berseru, “Siapa sih yang merokok di sini!” Sang pemangkas rambut dengan malu-malu mengaku, “Saya.” Anak itu bertanya, “Tidakkah Anda tahu bahwa hal itu tidak baik bagi Anda?” “Saya tahu,” kata sang pemangkas rambut. “Saya sudah mencoba untuk berhenti seribu kali, tetapi saya tidak bisa.” Sang anak berkomentar, “Saya mengerti. Saya pun sudah berusaha untuk berhenti mengisap jempol, namun tidak bisa!” 

Kedua orang itu mengingatkan saya pada apa yang terkadang dirasakan orang-orang percaya terhadap pergumulan mereka dengan dosa kedagingan. Paulus meringkasnya dengan baik dengan berseru, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24). Pergulatan rohaninya akan dapat meninggalkan Paulus dalam keputusasaan, seandainya ia tidak menemukan solusinya. Menyambung pertanyaannya yang menyiksa dirinya, ia berseru dengan penuh kemenangan, “Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (ayat 25). 

Apakah Anda sedang bergumul untuk berhenti dari kebiasaan-kebiasaan yang sulit dilepaskan? Seperti Paulus, Anda pun bisa menjadi pemenang. Jika Anda mengenal Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat Anda, kemenangan itu dimungkinkan melalui kuasa Roh Kudus yang tinggal di dalam kita. Nyatakanlah dengan penuh percaya diri bersama Paulus, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). Anda dapat melakukannya! -RWD 

BERPIKIRLAH LEBIH SEDIKIT TENTANG KUASA YANG MENGALAHKAN ANDA DAN BERPIKIRLAH LEBIH BANYAK TENTANG KUASA KRISTUS DI DALAM ANDA

Selasa, 13 Januari 2026

Tuhan yang Setia

Bacaan: RUT 1:1-18

Tetapi, Rut berkata, "Jangan desak aku meninggalkan engkau untuk pulang dan tidak mengikutimu. Ke mana pun engkau pergi, ke situ aku pergi. Di mana pun engkau bermalam, di situ aku bermalam. Bangsamulah bangsaku dan Allahmu Allahku. (Rut 1:16)

Demi mempertahankan hidup, mengungsi ke Moab mungkin akan memberi kehidupan yang lebih baik bagi keluarga Naomi. Awalnya, semua berjalan baik. Satu putranya menikahi Rut, dan yang lain menikahi Orpa. Tapi tak berapa lama, peristiwa pahit kembali terjadi. Suami dan kedua putra Naomi mati. Dalam kepedihan Naomi memutuskan pulang ke Betlehem. Ia menasihati kedua menantunya yang ingin mengikutinya dengan berkata, "Janganlah demikian, Anak-anakku, hidupku jauh lebih pahit daripada hidupmu, sebab terhadap akulah tangan Tuhan dilayangkan."

Naomi menyalahkan diri sendiri atas semua peristiwa pahit yang terjadi. Tidak ada yang tersisa, perjalanan pulang pun dilihatnya begitu gelap. Namun, di luar kesadarannya Tuhan tidak meninggalkannya. Sekalipun Naomi menyesali keputusannya yang salah, tetapi Tuhan tidak pernah menyalahkannya. Justru menjalani hidup di tempat yang dianggap Naomi salah itulah Tuhan menghadirkan Rut dalam kehidupannya. Seorang menantu yang setia menemani dan merawat Naomi dalam situasi yang paling sulit.

Kisah Naomi mengajarkan kepada kita tentang kesetiaan dan kehadiran Tuhan kepada orang-orang yang merasa pahit hidupnya. Seperti Naomi, mungkin kita menyalahkan diri atas semua yang terjadi, tetapi Tuhan menyatakan kehadiran-Nya untuk membangkitkan semangat kita. Tuhan hadir menemani Naomi melalui diri Rut yang setia, Tuhan juga hadir melalui orang-orang yang mendukung kita. Keputusan kita di masa lalu mungkin membawa kita pada peristiwa yang pahit, tetapi di tempat itulah kita mengalami kesetiaan dan kehadiran Tuhan. --SYS/www.renunganharian.net

DALAM KEPUTUSASAAN DAN DALAM SITUASI PALING PAHIT SEKALIPUN, 
TUHAN TIDAK PERNAH SEDETIK PUN MENINGGALKAN KITA.

Senin, 12 Januari 2026

Kembali ke Titik Nol

Ayat Renungan: Filipi 3: 12-14 - "Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus."

Sebagai orang Batak, ketika malam pergantian tahun beberapa hari lalu, ada momen hitung mundur menuju angka baru bagi kami. Itu adalah waktu berkumpul bersama keluarga besar. Tepat pukul 00.00 WIB, kami memulainya dengan pujian dari Kidung Jemaat, lalu doa pembuka. Setelah itu, satu per satu anggota keluarga diberi kesempatan untuk berbicara—merefleksikan perjalanan setahun ke belakang.

Ada satu hal yang selalu menjadi bagian penting dari momen ini: saling meminta maaf dan mengucap syukur. Kesalahan yang terjadi sepanjang tahun diakui dengan jujur, dan kebaikan Tuhan dirayakan bersama. Di situlah rekonsiliasi terjadi. Hati yang mungkin terluka dipulihkan, relasi yang renggang diperbaiki, dan kami siap melangkah ke tahun yang baru dengan hati yang lebih ringan. Momen ini bisa kita maknai sebagai kembali ke titik nol.

Paulus, dalam Filipi 3: 12–14, menyampaikan prinsip yang sama. Ia dengan jujur mengakui bahwa dirinya belum sempurna dan belum sampai pada tujuan. Pengakuan ini penting, karena Tuhan tidak pernah menunggu kita sempurna untuk memulai kembali. Justru kesadaran akan keterbatasan diri adalah titik awal pertumbuhan rohani. Mengakui bahwa kita belum sampai bukan tanda kelemahan, melainkan sikap rendah hati di hadapan Tuhan.

Namun Paulus tidak berhenti pada pengakuan. Ia berkata, “Satu hal yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku.” Melupakan di sini bukan berarti menghapus ingatan, tetapi memilih untuk tidak terikat oleh masa lalu. Kegagalan, dosa, kekecewaan, dan luka relasi bisa menjadi beban yang menghambat langkah jika terus dibawa.

Melupakan yang di belakang berarti berani mengambil langkah nyata: mengampuni orang yang menyakiti kita, meminta maaf atas kesalahan yang kita lakukan, dan menyerahkan rasa bersalah serta kepahitan kepada Kristus. Jika Tuhan sudah mengampuni dan memulihkan kita, mengapa kita masih hidup dalam penyesalan dan kemarahan?

Setelah melepaskan masa lalu, Paulus mengarahkan hidupnya ke depan. Ia menggambarkan hidup sebagai sebuah perlombaan—bukan berjalan tanpa arah, tetapi berlari dengan tujuan yang jelas. Tahun yang baru bukan sekadar pergantian kalender, melainkan kesempatan untuk menata ulang arah hidup kita sesuai dengan panggilan Tuhan.

Resolusi terbaik bukan hanya tentang target yang ingin dicapai, tetapi tentang siapa kita di dalam Kristus. Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai pusat hidup, maka semua rencana dan keputusan kita di tahun depan akan boleh terwujud sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya.

Sumber: Jawaban.com 

Minggu, 11 Januari 2026

Jangan Simpan Sakit Hati

Baca: Ayub 5:1-27

"Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati." (Ayub 5:2)

Tidak semua sakit yang diderita oleh seseorang disebabkan oleh karena virus, bakteri, atau pola makan yang salah, tetapi terkadang ada faktor lain yang membuat ia jatuh sakit; salah satunya adalah karena terus menerus menyimpan sakit hati. Betapa banyak orang memendam sakit hati dan memendamnya selama bertahun-tahun tanpa mau membereskannya. Seorang istri memendam sakit hati terhadap suami, anak-anak sakit hati terhadap orang tua yang telah menelantarkan hidupnya, dan sebagainya.

Camkan baik-baik: sakit hati tidak pernah membawa keuntungan bagi orang yang mengalaminya. Sebaliknya, sakit hati yang terpendam justru akan melunturkan semangat dan merampas damai sejahtera di dalam hati. Orang yang telah menyakiti kita mungkin saja tidak memikirkan apa yang telah diperbuatnya kepada kita, sementara kita yang menyimpan sakit hati semakin merana karena setiap hari kita memikirkan perbuatan orang itu.

Ada dua hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan rasa sakit hati: Pertama, buang semua sakit hati. Jika kita sedang menyimpan sakit hati terhadap orang lain, jangan tunda-tunda waktu untuk segera membereskannya. Datanglah di bawah kaki Tuhan, curahkan segala hal yang mengganjal di hati, kekesalan, amarah, kepahitan, kebencian, dan sebagainya, biarkan Tuhan membalut luka hati kita. "Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;" (Mazmur 147:3).

Kedua, berhati-hatilah dalam perkataan dan perbuatan. Kalau kita tak ingin merasakan sakit hati, janganlah kita membuat gara-gara atau menjadi penyebab sakit hati bagi orang lain. Karena itu kita harus bisa menjaga perkataan dan perbuatan kita di mana pun kita berada, sebab dari perkataan-perkataan yang tak terkontrol (pedas, tajam, fitnah, gosip, dan sebagainya) dapat menimbulkan sakit hati dalam diri orang lain. "Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin." (Amsal 17:27). Begitu juga bila perbuatan kita sembrono, orang lain pun akan terkena dampaknya. Berpikirlah 1000 kali sebelum berkata-kata dan berbuat!

Rugi besar bila kita terus menyimpan sakit hati, karena selain akan kehilangan sukacita dan damai sejahtera, doa-doa kita pun akan terhalang karenanya.

Sumber: Renungan dan Ilustrasi Kristen

Sabtu, 10 Januari 2026

MEMPERBAIKI BENTUK TUBUH

Bacaan: 2 Korintus 3:7-18
NATS: Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan … kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya (2 Korintus 3:18)

Seorang wanita mengunjungi sebuah pusat diet untuk menurunkan berat badan. Sang pimpinan membawanya ke sebuah cermin setinggi badan. Di cermin itu ia menggambar sebuah bentuk badan dan berkata kepada wanita itu, “Saya ingin Anda terlihat seperti ini pada akhir program.” 

Hari-hari dengan diet ketat dan olahraga pun diikuti, dan setiap minggu wanita itu akan berdiri di depan cermin. Ia patah semangat karena bentuk tubuhnya tidak sesuai dengan standar sang pimpinan. Namun ia terus melakukannya, dan akhirnya suatu hari tubuhnya menjadi seperti gambaran yang didambakannya. 

Jika kita meletakkan diri kita di samping karakter Kristus yang sempurna, kita akan melihat betapa buruknya “bentuk tubuh” kita. Diubah ke dalam gambaran-Nya tidak berarti kita mencapai kesempurnaan tanpa dosa. Hal itu berarti kita menjadi lengkap dan dewasa. 

Allah kerap kali bekerja melalui penderitaan untuk merealisasikan hal ini (Yakobus 1:2-4). Kadang kala Dia menggunakan akibat yang menyakitkan dari dosa kita. Pada kesempatan lain, kesulitan-kesulitan kita mungkin tidak disebabkan oleh sesuatu dosa, namun kita tetap menjalani proses yang menyakitkan untuk belajar menaati kehendak Bapa. 

Apakah Anda terluka? Mungkin saat ini sedang berlangsung sebuah proses pembentukan tubuh pada diri Anda. Yesus itu sempurna, namun Dia tetap harus belajar untuk taat melalui hal-hal yang diderita-Nya (Ibrani 5:8). 

Jika Anda terus memercayai Yesus, Anda akan terus bertambah di dalam gambaran keindahan-Nya -DJD 

TUJUAN KESULITAN HIDUP ADALAH MEMBUAT KITA MENJADI LEBIH BAIK 
BUKAN MENJADI PAHIT

Jumat, 09 Januari 2026

PARA TUMPUAN

Bacaan: 2 Tesalonika 2:13-17

NATS: Kami senantiasa berdoa juga untuk kamu ... sehingga nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu (2 Tesalonika 1:11-12)

Saya sangat menghargai para laki-laki dan perempuan pemberani yang mendaki puncak-puncak gunung berbatu. Mereka harus sangat berhati-hati ketika mendaki batu karang yang curam. Salah satu pengaman yang mereka gunakan adalah tali yang selalu dihubungkan dengan orang yang berada di bawahnya. Orang tersebut disebut "tumpuan". Apabila seorang pendaki kehilangan keseimbangan atau jatuh, sang tumpuan memegangnya dengan kuat sehingga ia dapat berpijak kembali dan melanjutkan pendakian atau penurunannya. Jadi, "ditumpui" berarti menjadi tambatan, memegang dengan kuat, dan menjaga keselamatan orang lain. 

Hope Church, di dekat Cincinnati, mempunyai kelompok persekutuan dewasa yang disebut "The Belayers" [Para Tumpuan]. Para anggotanya berjanji untuk saling menolong dan mendukung dalam perjalanan mereka sehari-hari dengan Kristus, dan berjanji untuk saling mendukung dalam doa. Mereka menyediakan pertolongan bila diperlukan, saling memberi semangat, dan saling mendampingi pada saat menghadapi bahaya rohani. Mereka "memegang tali" untuk satu sama lain. 

Saya pikir Rasul Paulus menjadi tumpuan bagi banyak gereja, termasuk gereja di Tesalonika. Orang-orang percaya di sana mengalami pengejaran dan merasa khawatir. Ia mengingatkan mereka bahwa mereka dipilih dan tetap dikasihi Allah (2 Tesalonika 2:13). Dan ia memberi mereka semangat untuk terus memercayai Tuhan, serta berdoa bagi mereka (ayat 15-17). 

"Tali" siapakah yang dianjurkan oleh Allah untuk Anda pegangi? --DCE 

SEBUAH KATA YANG MEMBERI SEMANGAT DAPAT MEMBUAT PERBEDAAN ANTARA MENYERAH DAN TERUS MAJU

Kamis, 08 Januari 2026

Karunia Allah Adalah Kuasa yang Anda Perlukan

Bacaan Hari ini:
2 Timotius 1:7 "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban."

Ketika Anda menerima karunia keselamatan dari Allah, Anda tidak lagi harus bergantung pada kekuatan kemauan semata untuk berubah. Anda memiliki kuasa Allah. Dia memberikan kepada Anda energi baru, kekuatan baru dan kemampuan yang baru.

Sudah berapa kali Anda mencoba mengubah hal-hal dalam hidup Anda, tetapi tidak berhasil? Kita sering membuat resolusi Tahun Baru yang hanya bertahan sekitar satu minggu, mungkin sebulan. Mengapa? Karena kekuatan kemauan saja tidak cukup. Kekuatan kemauan bisa habis.

Anda tidak membutuhkan kekuatan kemauan. Anda membutuhkan kuasa Allah!

Roma 5:5 berkata, "Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita."

Allah telah mencurahkan diri-Nya sendiri kepada kita melalui Roh Kudus. Artinya, Dia bukan hanya akan menolong Anda. Dia bukan hanya akan berada di sekitar Anda. Dia bukan hanya akan menyertai Anda dan bekerja atas diri Anda. Dia akan bekerja di dalam Anda. Dia menempatkan Roh-Nya di dalam diri Anda. Itulah yang terjadi ketika Anda menerima karunia Natal dari Allah, yaitu Yesus Kristus.

Ketika kita berusaha berubah dengan kekuatan sendiri, kita akan lelah dan akhirnya menyerah. Namun, Allahlah yang memberi Anda kuasa untuk memulai kembali ketika Anda gagal. Allah memberi Anda kuasa untuk melakukan perubahan yang tidak sanggup Anda lakukan sendiri. Allah memberi Anda kemampuan yang Anda perlukan. Dan Allah memberi Anda kekuatan untuk terus melangkah.

Ini soal mempercayai, bukan berusaha dengan kekuatan sendiri.

Jangan pernah mencoba memotivasi diri Anda untuk berubah hanya karena rasa bersalah. Itu tidak akan berhasil. Anda tidak membutuhkan rasa bersalah dalam hidup Anda; Anda membutuhkan kasih karunia Allah. Anda tidak membutuhkan legalisme; Anda membutuhkan kasih. Kasihlah yang mengubahkan kita. Semakin Anda dipenuhi oleh kasih Allah, semakin besar kuasa yang Anda miliki untuk berubah.

Alkitab berkata dalam 2 Timotius 1:7, "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban."

Renungkan :
- Bagaimana Anda mengakses kuasa Allah di dalam diri Anda setelah menjadi orang percaya? Menurut Anda, apakah Allah ingin mempersulit atau mempermudah Anda untuk menerima pertolongan Roh Kudus?
- Mengapa rasa bersalah bukanlah pendorong yang efektif untuk perubahan?
- Dalam hal apa Anda membutuhkan kuasa Allah untuk berubah dalam hidup Anda?

Apakah Anda menginginkan lebih banyak kuasa? Lebih banyak kasih? Lebih banyak penguasaan diri? Maka Anda perlu menerima Roh Allah dalam hidup Anda dengan menerima karunia-Nya, yaitu Yesus.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Rabu, 07 Januari 2026

Tetap Naik

Bacaan: 1 SAMUEL 24

Tuhan akan mengangkat kamu menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, kamu akan tetap naik dan bukan turun, apabila kamu mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini untuk kamu lakukan dengan setia. (Ulangan 28:13)

Seorang pria pulang dari gereja dengan wajah muram. Tadi Pak Pendeta berkhotbah dengan mengutip Ul 28:13, "Kamu akan tetap naik dan bukan turun." Pria itu mendapati omzet bisnisnya bulan ini lebih sedikit dibanding bulan lalu. "Kalau janji Tuhan adalah tetap naik, lalu mengapa kini aku 'turun', " ucapnya sedih.

Tentu pemahaman pria itu keliru. Sebab jika benar demikian maka di tengah jalan Daud pun akan kecewa kepada Tuhan. Ia akan bersedih saat dikejar-kejar oleh Saul. Terlihat sebelumnya ia "naik". Ia diurapi sebagai raja Israel (1Sam 16:13). Lanjut, ia mengalahkan raksasa Goliat (1Sam 17:49-50). Lanjut, ia diangkat menjadi kepala prajurit yang selalu meraih kemenangan (1Sam 18:5). Kemudian situasi berbalik 180 derajat. Ia lari dan bersembunyi dari satu tempat ke tempat yang lain. Didapati Daud terus bersemangat mengiring Tuhan sehingga menolak mencelakai orang yang diurapi Tuhan (ay. 7). Menurut pandangan Daud, pada saat itu ia juga sedang "naik". Alasannya, dirinya terus tinggal dalam rancangan Tuhan. Selalu rancangan Tuhan membawa kehidupan manusia naik ke atas, walaupun situasi menekannya ke bawah. Ibarat roda mobil yang bergerak dari lembah menuju puncak gunung. Pada saat memutar ke bawah, roda tetap berada "di atas".

Beratnya tekanan dari situasi bukan isyarat kita sedang "turun". Kita tetap naik apabila terus tinggal di dalam rancangan Tuhan. Kita belum bergeser dari posisi "naik" apabila masih bersemangat mengiring Tuhan. Ingatlah hal ini setiap kali persoalan melanda kehidupan kita. Alih-alih kecewa, nantikan pertolongan Tuhan pasti dinyatakan bagi kita. --LIN/www.renunganharian.net

NAIK TURUNNYA KEHIDUPAN BUKAN BERGANTUNG ADA ATAU TIDAKNYA KESUKARAN, TETAPI KEPUTUSAN UNTUK TETAP ATAU BERHENTI MENGIRING TUHAN.

Selasa, 06 Januari 2026

Siapakah yang Akan Membebaskan Anda dari Diri Anda Sendiri?

Bacaan Hari ini:
Roma 6:6–7 "Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa."

Allah memberikan kebebasan-kebebasan yang luar biasa kepada setiap orang yang menaruh kepercayaannya kepada-Nya. Kita telah membahas dua kebebasan pertama: hati nurani yang bersih dan akses pribadi kepada Allah. Kebebasan yang ketiga adalah kuasa untuk melakukan apa yang benar.

Banyak orang mengira bahwa kebebasan berarti hidup tanpa aturan, tanpa batasan dan tanpa ketentuan. Namun, itu adalah pandangan yang sangat sempit tentang kebebasan. Kebebasan sejati adalah kuasa yang dengan kasih karunia Allah diberikan kepada Anda untuk mengatakan "ya" kepada hal-hal yang baik bagi Anda dan "tidak" kepada hal-hal yang merusak.

Jika Anda tidak memiliki kuasa untuk mengatakan "tidak", ada satu kata untuk itu: kecanduan. Dan kecanduan membawa obsesi serta dorongan-dorongan yang mengikat hidup Anda. Alkitab mengajarkan, "Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan, karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu." (2 Petrus 2:19).

Saya pernah membaca sebuah kisah tentang seorang kakak dan adik yang didorong oleh orang tua mereka untuk "mencari kebahagiaan versi mereka sendiri." Di rumah mereka tidak ada batasan, dan mereka dibiarkan bereksperimen dengan seks dan narkoba. Ketika mereka memasuki usia pertengahan 20-an, hidup mereka menjadi tidak terkendali.

Sang kakak akhirnya menyadari, "Kebebasan saya ternyata bukan kebebasan sama sekali. Dari luar, saya tampak menikmati hidup. Namun di dalam, saya diperbudak oleh ketakutan, rasa tidak aman, dan dorongan-dorongan saya sendiri. Saya membutuhkan seseorang yang bisa membebaskan saya dari diri saya sendiri."

Itulah yang sebenarnya kita semua butuhkan: seseorang yang membebaskan kita dari diri kita sendiri.

Pernahkah Anda berpikir, "Mengapa saya mudah marah kepada orang yang paling saya kasihi?" atau "Mengapa saya terus-menerus cemas dan takut?" atau "Bagaimana saya bisa berhenti seperti ini?" Mungkin Anda sudah mencoba mengubah hal-hal tersebut dengan kekuatan sendiri, tetapi gagal. Kuasa untuk berubah seperti itu hanya datang dari Allah.

Rasul Paulus mengungkapkan pergumulan ini dalam Roma 7:24–25: "Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita."

Mengapa Yesus Kristus adalah jawabannya? Karena Yesus sendiri berjanji, "Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka" (Yohanes 8:36).

Renungkan
- Pikirkan 2 Petrus 2:19: “Sebab orang adalah hamba dari apa yang menguasainya.” Mengapa menurut Anda Allah sangat membenci dosa?
- Ceritakan pengalaman ketika Anda mencoba mengubah suatu kebiasaan hanya dengan kekuatan sendiri. Bagaimana hasilnya?
- Apa yang akan Anda katakan kepada seseorang yang mengira bahwa mengikut Kristus berarti hidup di bawah kendali yang mengekang?

Kebebasan bukan sekadar hidup tanpa batasan. Kebebasan sejati adalah kebebasan untuk mengatakan "ya" kepada hal-hal yang menyehatkan hidup Anda, meningkatkan kebahagiaan Anda dan memberi makna sejati bagi hidup Anda. Kebebasan sejati adalah kuasa untuk melakukan apa yang benar.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Senin, 05 Januari 2026

Buang Sampah Yuk!

Bacaan: Efesus 4:17-32

Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.
- Efesus 4:31

Pernahkah Anda lupa membuang sampah dapur di rumah? Sewaktu lupa membuang sampah, sudah pasti rumah Anda akan tercium bau tak sedap. Alhasil, setiap hari Anda akan berusaha mengingat untuk terus membuang sampah sebelum menjadi busuk. Jika kita begitu peduli dengan sampah yang terlihat dan tercium secara fisik, bagaimana dengan sampah dosa yang tersembunyi di dalam hati?

Rasul Paulus mengingatkan jemaat Efesus untuk membuang sampah dosa, yakni kehidupan lama yang tinggal di dalam keberdosaan. Sebagai pribadi-pribadi yang telah percaya dan menerima Kristus, mereka telah mendapatkan kehidupan yang baru di dalam Kristus. Mereka diminta hidup menurut kehendak Tuhan dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (ay. 23-24).

Salah satu sampah dosa yang harus dibuang adalah masalah hati. Kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah, merupakan bagian dari sampah-sampah dosa yang ada di dalam hati manusia lama. Sebagai manusia baru, sampah-sampah ini haruslah ditinggalkan. Hidup seorang pengikut Kristus tidak lagi hidup dengan hati yang penuh kepahitan, hati yang penuh dengan kegeraman maupun kemarahan ataupun hidup saling memfitnah. Semua itu merupakan sikap hati yang merusak relasi kita dengan sesama.

Sebagai manusia baru, Paulus meminta kita hidup dengan hati yang ramah, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni (ay. 32). Sikap hati yang seharusnya menguasai hidup seorang yang telah diperbarui di dalam Kristus. Bukan lagi sikap hati yang menghancurkan relasi, melainkan yang menguatkan relasi dengan sesama. Sebagaimana Kristus telah mengasihi dan mengampuni kita, demikian juga hendaklah kita memiliki hati yang mengasihi dan mengampuni sesama.

Tidak dapat dipungkiri dalam setiap relasi selalu ada orang-orang yang menyakiti kita. Namun, ketika disakiti bukanlah kepahitan yang kita pancarkan, melainkan kasih dan pengampunan yang harus kita pancarkan. Sadarilah, kita yang berdosa telah dikasihi dan diampuni oleh Allah. Jadi, marilah kita juga mengasihi dan mengampuni sesama. Buanglah sampah-sampah dosa yang menghalangi relasi kita. Kembangkanlah hati yang penuh kasih yang menguatkan relasi kita. Hidupilah manusia baru yang telah dikasihi dan diampuni oleh Kristus. Yuk, buang segera sampah-sampah dosa di dalam hati!

Refleksi Diri:

Apakah ada sampah-sampah dosa yang masih Anda simpan sampai saat ini?

Apa yang akan Anda lakukan sebagai manusia baru, yang bisa menguatkan relasi dengan sesama?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Minggu, 04 Januari 2026

Karunia Rohani: Kesatuan Orang Percaya

Bacaan: 1 Korintus 12:1-7

Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.
- 1 Korintus 12:11

Apakah Anda pernah menyaksikan dalam sebuah pertandingan olahraga terjadi baku hantam? Pasti pernah yah.. Tapi yang saya maksudkan adalah baku hantam dengan anggota tim sendiri. Saya pernah menyaksikan pemain ganda bulu tangkis, saling menyalahkan, akhirnya saling memukul dengan raketnya. Terdengar aneh, bukan? Rekan satu tim yang harusnya bahu membahu, tetapi malah baku hantam.

Rasul Paulus menekankan kepada jemaat Korintus yang kaya akan karunia rohani mengenai hal terpenting dari keberagaman karunia rohani, yaitu satu kesatuan sebagai tubuh Kristus. Kata “satu” sampai diulang beberapa kali oleh Paulus: Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. (1Kor. 12:4-6). Permasalahan besar jemaat Korintus adalah perpecahan karena yang satu menganggap lebih superior dan lebih penting daripada yang lain. Yang satu merasa karunia rohaninya lebih hebat daripada yang lain. Sikap ini tidak boleh terjadi di dalam gereja karena sikap seperti ini tidak membangun gereja, melainkan memporak-porandakan gereja.

Peringatan penting yang perlu digarisbawahi: Karunia rohani seseorang tidak menjamin kedewasaan kerohanian orang tersebut. Sangatlah mungkin seseorang diberikan banyak karunia rohani, tetapi ia tidak memakainya dengan motivasi yang murni, hidupnya egois, berpusat hanya pada dirinya, kelakuannya jadi batu sandungan, dan hidupnya terus di dalam dosa. Perlu kita ingat bahwa karunia rohani yang berbeda-beda justru bersumber dari satu sumber yang sama, yaitu Kristus Yesus. Karena itu, sudah seharusnyalah karunia rohani menyatukan setiap orang percaya.

Berbicara soal kesatuan, kita tidak bisa melepaskan bicara soal kasih. Karunia rohani sehebat apa pun, tidak ada artinya tanpa kasih. Karena itu, belajarlah mengasihi dengan tulus agar kesatuan di antara anggota tubuh Kristus bisa terpelihara. Ingatlah, kita dan sesama saudara seiman, sama-sama dilahirkan dari Kristus. Seperti nasihat yang disampaikan Rasul Yohanes, “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.” (1Yoh. 4:7).

Refleksi Diri:

Apakah Anda pernah merasa bersaing dengan rekan sepelayanan akibat iri atau rasa superior akan karunia rohani yang kita miliki? Apa akibatnya?

Bagaimana Anda dapat memandang keberagaman karunia rohani di dalam gereja adalah untuk saling melengkapi dan mempersatukan?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Sabtu, 03 Januari 2026

Interogasi Ilahi

Bacaan: Mazmur 139:23-24

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! - Mazmur 139:23-24

Apakah Anda pernah menyaksikan seorang tersangka kejahatan diinterogasi oleh polisi atau detektif? Kebanyakan tersangka akan berkelit di awal-awal pemeriksaan dan mereka bisa melakukannya dengan sangat meyakinkan. Namun, polisi yang berpengalaman tidak bisa dikelabui oleh mereka. Allah juga bisa bertindak bagaikan polisi yang siap “menginterogasi” hati setiap manusia. Saat menjalani kehidupan, kita perlu membiarkan Tuhan “menginterogasi” kita, menyelidiki sampai relung hati yang terdalam. Bedanya, polisi mencari-cari kesalahan untuk memvonis kita, sementara Tuhan justru menyediakan pengampunan atas kesalahan kita.

Belajarlah untuk meminta Tuhan menyelidiki hati kita seperti yang Daud katakan di ayat emas. Daud paham betul, “interogasi” Tuhan tidak akan pernah salah. Daud menyadari bisa saja ia melakukan yang salah di mata Tuhan tanpa disadarinya. Dengan segala macam rutinitas yang dilakukan hari demi hari, tanpa sadar dan mungkin tak sengaja, Daud bisa saja mulai berjalan melenceng dari yang Tuhan kehendaki.

Beberapa orang mungkin mengambil langkah baik dengan mengintrospeksi diri. Namun, jangan memeriksa diri tanpa Kristus. Itu akan membawa pada kehancuran, entah kesombongan atau keputusasaan. Kita bisa saja merasa, “Ahh.. aku sudah cukup baik,” atau “Aku merasa tidak ada yang perlu dirubah. Ini diriku yang sebenarnya. Aku akan hidup seperti ini saja.” Terlebih parah, kita malah sering sibuk memeriksa orang lain ketimbang diri kita sendiri. Hendaklah kita membuka hati dan bersikap jujur di hadapan Tuhan dengan diri kita sendiri.

Membiarkan diri kita diselidiki Tuhan di dalam Kristus akan membawa kita pada dekapan anugerah Tuhan. Ketika melihat dan mengakui betapa munafiknya kita, kotornya hidup yang kita jalani selama ini, liciknya hati kita, kita mendapati ada belas kasihan Tuhan tercurah yang membawa kesegaran. Hati kita tidak lagi terpuruk dan hancur, tetapi dipulihkan dan bangkit kembali untuk hidup bagi Tuhan. Hanya ketika kita merasa aman dalam kasih Allah, kita akan diberdayakan untuk melakukan pemeriksaan diri yang rendah hati, penuh keyakinan, dan membuahkan hasil. Terbukalah kepada Tuhan, biarlah “interogasi” ilahi Anda rasakan

Refleksi Diri:

Apakah ada kesalahan-kesalahan yang Anda sembunyikan di hadapan Tuhan? Maukah Anda membuka hati membiarkan Tuhan “menginterogasi” Anda?

Apa yang mau Anda lakukan jika suatu ketika Tuhan menunjukkan suatu dosa yang tanpa sadar Anda telah perbuat?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Jumat, 02 Januari 2026

MENANTIKAN TUHAN

Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN! – Mazmur 27:14

Apakah Anda suka menunggu? Kebanyakan dari kita, jika jujur, akan menjawab dengan tegas, “Tidak!” Duduk dan menunggu seseorang memundurkan mobilnya dari tempat parkir saja sudah cukup untuk mengingatkan kita betapa tidak sabarnya diri kita sebenarnya. Biasanya, kita ingin kebutuhan kita dipenuhi sesuai dengan jadwal kita sendiri, dan kehidupan modern mengajarkan bahwa tuntutan seperti itu wajar. Namun, ketidaksabaran ini menjadi masalah besar bagi orang Kristen—sebab jika kita sulit menunggu, kita akan merasa sangat sulit untuk berjalan hidup oleh iman.

Dalam Alkitab, iman sering kali dinyatakan melalui kesediaan menantikan janji-janji Allah (lihat, misalnya, Rm. 4). Janji Allah yang disebut sebagai “janji-janji yang berharga dan yang sangat besar” dari Allah (2Pet. 1:4) hampir tidak pernah disertai dengan kepastian waktu tertentu. Dan di sinilah letak perbedaannya. Kebanyakan dari kita mampu menunggu jika kita tahu bahwa kita hanya perlu menunggu sampai Jumat depan, atau sampai jam lima sore, atau sampai waktu tertentu. Tetapi menunggu seperti itu bukanlah menunggu dalam iman.

Alkitab tidak menasihati kita untuk menunggu pada jadwal tertentu, melainkan menunggu pada kesetiaan Pribadi yang berjanji—yaitu Allah sendiri.

Ketika kita membutuhkan kekuatan—untuk melawan dosa, untuk bertahan dalam penderitaan, untuk tetap menunjukkan kebaikan kepada rekan kerja yang menyusahkan—dan kita datang kepada Firman Tuhan untuk dikuatkan, kita menemukan janji ini: “Orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru” (Yes. 40:31).

Demikian pula, pada saat kelahiran gereja, perkataan Kristus kepada para murid adalah supaya mereka menunggu di Yerusalem “akan janji Bapa” (Kis. 1:4). Dengan cara yang sama, kita pun dipanggil untuk menunggu “penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus” (Tit. 2:13). Alkitab memanggil kita untuk menunggu, berjaga-jaga, berdoa, menantikan, dan siap sedia—bukan dengan mengetahui kepastian waktunya, melainkan dengan keyakinan bahwa Allah setia.

Anda mungkin tahu seperti apa rasanya ketika karakter diuji di ruang tunggu iman. Ingatlah bahwa iman yang sejati selalu melibatkan penantian, dan penantian itu menuntut kita untuk berharap bukan pada keadaan di luar diri kita, melainkan pada Allah kita yang setia—Dia yang melihat umat-Nya dan yang "bertindak bagi orang yang menanti-nantikan dia" (Yes. 64:4).

Biarlah kebenaran ini menumbuhkan kesabaran di dalam diri Anda. Sebab di tengah penantian hidup ini, kita menantikan Tuhan yang akan datang kembali untuk membawa kita masuk ke dalam kemuliaan hidup yang kekal. Dan Injil mengingatkan kita: kita mampu menunggu, karena Allah sudah lebih dahulu bertindak—Ia mengaruniakan Anak-Nya bagi kita, dan Ia pasti akan menepati semua janji-Nya.

Refleksi
Bacalah Roma 4:13-25 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?

Sumber: Renungan Gibeon Church

Kamis, 01 Januari 2026

Allah Pemimpin Hidup

Bacaan: BILANGAN 9:15-23

Demikianlah yang selalu terjadi: awan itu menutupi Kemah, dan pada waktu malam kelihatan seperti api. (Bilangan 9:16)

Rosalynn Carter, mantan ibu Negara Amerika Serikat, mengatakan bahwa seorang pemimpin membawa rakyatnya ke tempat yang ingin mereka tuju. Namun, seorang pemimpin hebat akan membawa rakyatnya ke tempat yang harus mereka tuju, sekalipun mereka tidak menginginkannya. Artinya, seorang pemimpin yang baik akan betul-betul bertanggung jawab atas hidup rakyatnya. Ia tidak akan sekadar menuruti keinginan rakyatnya, tetapi akan menuntun hidup mereka supaya hidup mereka dapat terus berkembang.

Allah menunjukkan diri-Nya sebagai pemimpin atas bangsa Israel, yang menuntun dan melindungi mereka. Hal tersebut dinyatakan-Nya ketika mereka berjalan di padang gurun, dengan selalu memberikan awan pada siang hari dan api pada malam hari yang menutupi Kemah Suci. Awan di siang hari akan meneduhkan mereka karena cuaca di padang gurun pada siang hari sangatlah panas. Sebaliknya, api pemberian-Nya akan menghangatkan mereka karena begitu dinginnya padang gurun di malam hari. Pertolongan-Nya tersebut menunjukkan bahwa Ia menjamin kehidupan umat-Nya dan selalu memperhatikan kebutuhan mereka. Dalam pimpinan-Nya, Ia memampukan umat-Nya untuk dapat menjalani hidup dan mencapai tujuan mereka.

Allah adalah pemimpin hidup kita. Marilah kita memercayakan hidup kita kepada-Nya dengan berserah pada pimpinan-Nya. Sebab, hanya oleh karena pimpinan-Nya sajalah maka kita beroleh hidup. Di dalam pimpinan-Nya, Ia memampukan kita menjalani hidup sehingga kita mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. --ZDP/www.renunganharian.net

PERCAYAKANLAH HIDUP KEPADA PIMPINAN-NYA. SEBAB IA TIDAK AKAN MEMBUAT KITA MENDERITA, MELAINKAN MENUNTUN KITA PADA KEHIDUPAN.