Selasa, 30 September 2025

MARAH ATAU BERSYUKUR?

Bacaan: Yunus 3:10-4:11

NATS: Ketika Allah melihat perbuatan mereka, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah (Yunus 3:10)

Apa reaksi yang kita lontarkan ketika Allah menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang yang menurut kita layak untuk dihukum? Apabila kita tidak setuju, hal itu menunjukkan bahwa kita pun telah lupa betapa besar pengampunan Tuhan bagi kita. 

Setelah Yunus mengikuti panggilan Allah yang kedua kalinya untuk menyerukan penghakiman-Nya terhadap Niniwe (Yunus 3:1-4), penduduk kota itu berbalik dari cara hidup mereka yang jahat, sehingga Tuhan tidak jadi menghukum mereka (ayat 10). Belas kasih Allah membuat Yunus marah. Ia kemudian berkata kepada Allah bahwa itulah yang ia takutkan akan terjadi, dan karena itulah ia sempat melarikan diri ke Tarsis. Aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang ... yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya (4:2). 

Akan tetapi, Allah berfirman kepada Yunus, Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang? (4:11). 

Kasih karunia Allah yang mengagumkan jauh lebih besar daripada dosa kita. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah (Efesus 2:8). Karena kasih karunia-Nya kepada kita, kita harus ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni [kita] (4:32). 

Daripada kita marah ketika Allah berbelas kasih kepada orang lain, alangkah lebih baiknya apabila kita mengucapkan syukur DCM 

KITA BOLEH BERHENTI BERBELAS KASIH KEPADA SESAMA JIKA KRISTUS BERHENTI BERBELAS KASIH KEPADA KITA

Sumber: Renungan Harian

Senin, 29 September 2025

HANYA UNTUK DILIHAT ALLAH

Bacaan: Matius 6:1-8,16-18

NATS: Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu (Matius 6:18)

Biasanya, semakin tua usia kita, kita pun akan semakin kehilangan peran penting dan pengaruh dalam posisi kita. Bahkan orang-orang yang tidak pernah mengejar ketenaran pun tampaknya semakin lama akan semakin tenggelam dalam kegelapan. 

Namun, kegelapan dan ketidakjelasan itu baik karena kita sulit untuk tampil di hadapan banyak orang tanpa memikirkan apa kesan mereka tentang kita. Kita khawatir dengan pikiran apakah reputasi kita menanjak atau justru hancur. Di situlah terletak cobaan kita: Pada tahap pencarian pengakuan manusia, kita mengabaikan kehendak Allah. Di sisi lain, jika kita kehilangan kekaguman terhadap manusia, maka kita akan mencari kehendak Allah semata. 

Berikut adalah ujian bagi setiap pemberian, doa, dan puasa kita: Apakah itu semua dilakukan hanya agar dilihat Allah? Jika demikian, walaupun orang lain tidak melihat dan memerhatikan, kita akan mendapatkan pujian dan upah dari Bapa. 

Yesus mengulang perkataan berikut kepada para murid-Nya sebanyak tiga kali: "Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu" (Matius 6:4,6,18). Ini juga merupakan jaminan bagi kita. Setiap pemberian yang tidak dilihat oleh orang: waktu, tenaga, dan kasih; setiap permohonan yang kita bisikkan di telinga Bapa; setiap rahasia, pergumulan batin melawan dosa dan pembenaran diri, akan memperoleh penghargaan penuh di kemudian hari. Akhirnya, bahwa Dia akan berkata, "Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia," itu adalah yang terpenting bagi kita (Matius 25:21) -DHR 

TIDAK ADA UPAH DARI ALLAH BAGI MEREKA YANG MENCARINYA DARI MANUSIA -Spurgeon

Sumber: Renungan Harian

Minggu, 28 September 2025

KUDA DAN ANAK MANUSIA

Bacaan: Amsal 16:18-25

NATS: Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati (Amsal 11:2)

Dalam salah satu novel berseri Narnia yang berjudul Kuda dan Anak Manusia, Bree adalah seekor kuda yang bisa berbicara. Ia menganggap anak lelaki yang menungganginya, Shasta, sebagai "anak kuda" yang sangat membutuhkan latihan. Kerap kali pendapat-pendapat angkuh si kuda mencerminkan sikapnya yang sombong. Ia menganggap dirinya sebagai kuda perang yang gagah berani, dan memiliki kemampuan serta keberanian yang hebat. Namun, sewaktu mendengar auman singa besar, ia lari dan membiarkan anggota rombongan lainnya terancam. 

Di kemudian hari, Bree menemui Aslan sang singa, yang adalah raja Narnia. Kuda itu mengakui bahwa selama ini ia adalah sosok yang gagal karena sombong dan penakut. Dan, Aslan pun memuji Bree karena telah mengakui kesalahannya. 

Alkitab mengatakan, "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan" (Amsal 16:18). Hidup ini memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan kelemahan kita, saat kita menjadi sombong. Oleh sebab itu, dengan belajar bahwa "kecongkakan mendahului kehancuran" kita dapat menemukan titik balik yang membuat kita tak lagi meninggikan diri. Dan, saat kita bersikap rendah hati di hadapan Allah dan manusia, kita dapat menjadi saluran hikmat bagi orang lain. "Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati" (Amsal 11:2). 

Menonjolkan betapa pentingnya diri kita akan membuat kita tersandung. Namun, memusatkan perhatian untuk memuliakan Allah dan memenuhi kebutuhan sesama akan memberi kita cara pandang orang bijak --HDF 

KEANGKUHAN MEMBAWA CEMOOH
KERENDAHAN HATI MEMBAWA HIKMAT

Sumber: Renungan Harian

Sabtu, 27 September 2025

BERDOA SAMBIL BERBAGI

Bacaan: Mazmur 46

NATS: Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti (Mazmur 46:2)

Sebuah penelitian berjudul "Kepedulian AS" memperkirakan lebih dari 44 juta warga Amerika adalah pekerja pembantu bidang medis atau perawatan yang tak dibayar, dan kebanyakan masih bekerja atau telah bekerja sambil membagikan kepedulian. Penelitian itu juga mendapati bahwa Allah, keluarga, dan teman-teman kerap disebut sebagai sumber kekuatan bagi mereka yang berbagi kepedulian dengan orang lain. 

Tiga per empat dari responden mengatakan bahwa mereka bersandar pada kekuatan doa ketika diminta memberikan perawatan. "Doa adalah cara terbaik untuk menyegarkan kembali diri Anda," kata seorang responden. "Saya pergi ke tempat yang tenang, berdoa, menangis, dan merasa lega. Kemudian saya dapat kembali ke ruangan dengan perasaan tenang." 

"Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan," kata pemazmur, "sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti" (Mazmur 46:2). Kalimat itu dibahasakan ulang oleh Eugene Peterson dengan sangat jelas: "Allah adalah tempat persembunyian teraman, Dia selalu siap untuk membantu saat kita membutuhkan-Nya." 

Melalui doa, kita dapat masuk hadirat Tuhan yang menenangkan dan mendapat kekuatan untuk terus melangkah. Ketika kita menyerahkan rasa sakit hati dan semua kebutuhan kepada Allah, Dia akan memenuhi dan memberikan damai-Nya. Dialah bantuan yang selalu siap sedia, yang memedulikan kita dalam segala keadaan. 

Memberikan bantuan adalah panggilan yang mulia dan tugas yang sulit. Namun, ada kekuatan dari Tuhan yang membantu kita untuk menolong mereka yang membutuhkan kita -DCM 

DOA DAPAT MENDEKATKAN KITA DENGAN ALLAH; PENOLONG TERHEBAT BAGI KITA

Sumber: Renungan Harian

Jumat, 26 September 2025

Engkau Berharga bagi Tuhan 

Bacaan: Lukas 15:8-10 

Ada dua ironi manusia di dunia ini. Di satu sisi, ada orang-orang yang begitu percaya diri dan menganggap dirinya sangat berharga dan layak. Bahkan, terkadang merasa tidak memerlukan Allah. Di sisi lain, ada orang-orang yang mengalami inferiority complex, yaitu orang-orang yang merasa diri rendah, buruk, tidak berguna, dan tidak berharga. Bagaimanakah Allah memandang kita?

Dalam ayat 8-10 ini, Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan dirham yang hilang. Dalam tradisi Yahudi ketika seorang perempuan menikah, biasanya kepadanya diberikan dirham sebagai hadiah pernikahan. Bagi mempelai perempuan, dirham ini sangat berharga bukan saja karena nilai moneternya, tetapi karena memiliki nilai sentimental, seperti cincin kawin pada zaman modern. Oleh karena itu, saat salah satu dirham yang dimiliki oleh seorang perempuan hilang, maka ia akan mencari sampai menemukannya (8). Sama seperti sukacita seseorang yang menemukan cincin kawinnya yang hilang, demikian juga seorang perempuan yang menemukan dirhamnya yang hilang akan dipenuhi dengan sukacita (9)

Satu hal yang menarik di sini adalah Tuhan Yesus mengumpamakan sukacita perempuan yang menemukan dirham yang hilang ini seperti sukacita para malaikat Allah ketika satu orang berdosa ditemukan kembali oleh kasih Kristus (10). Hal ini menunjukkan bahwa seorang berdosa yang hina dan tidak dianggap oleh dunia ini, bagi Allah tetaplah sangat berharga. Kita berharga di mata Allah bukan karena kehebatan kita, tetapi karena kasih dan anugerah Allah yang menyelamatkan kita.

Bagi Saudara yang merasa diri begitu berharga dan hebat, jangan berpikir bahwa Saudara tidak membutuhkan Allah karena tanpa kasih Kristus, Saudara hanyalah orang berdosa yang berasal dari debu tanah. Sebaliknya, bagi Saudara yang merasa diri buruk dan tidak ada harganya, ingatlah bahwa kasih Kristus lebih daripada cukup untuk membuat Saudara bernilai. Terimalah kasih-Nya dan buatlah Anda ditemukan dan diselamatkan oleh-Nya! [ABL]

Sumber: Santapan Harian

Kamis, 25 September 2025

GAGAL BERBUAT BENAR

Bacaan: Yakobus 4:13-17

NATS: Jadi, jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa (Yakobus 4:17)

Dalam buku yang berjudul Eight Men Out, Eliot Asinof menuliskan berbagai peristiwa yang terjadi di skandal "Black Sox" yang terkenal pada tahun 1919. Delapan anggota klub bisbol Chicago White Sox dituduh telah menerima suap dari para penjudi sebagai kompensasi agar mengalah dalam pertandingan di tingkat dunia. Walaupun tidak pernah terbukti bersalah di pengadilan, mereka berdelapan dilarang bermain bisbol seumur hidup. 

Namun salah seorang di antara mereka, Buck Weaver, menyatakan bahwa ia telah bermain agar klubnya menang meskipun ia mengetahui adanya persekongkolan. Meskipun penampilan Weaver di lapangan memang mendukung pernyataannya itu, akan tetapi komisi bisbol Kenesaw Mountain Landis membuat aturan bahwa siapa saja yang mengetahui skandal itu, namun tidak mencegahnya, tetap akan dilarang bermain. Weaver tidak dihukum karena berbuat salah, tetapi karena gagal berbuat benar. 

Dalam suratnya yang ditujukan kepada jemaat gereja abad pertama, Yakobus menulis, "Jadi, jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa" (Yakobus 4:17). Di dunia yang dipenuhi oleh kejahatan dan kegelapan, para pengikut Kristus memiliki kesempatan untuk memancarkan cahayanya. Kerap kali hal itu berarti kita harus melawan dorongan untuk tetap berdiam diri. 

Ketika kita dihadapkan pada pilihan untuk berbuat baik atau tidak berbuat apa-apa, kita harus selalu memilih untuk melakukan sesuatu yang benar -WEC 

SATU-SATUNYA YANG DAPAT MEMBUAT KEJAHATAN MENANG ADALAH ORANG-ORANG BAIK YANG TAK BERBUAT APA PUN -Edmund Burke

Sumber: Renungan Harian

Rabu, 24 September 2025

Kasih yang Mengalahkan Kebencian

Selamat pagi saudara yang dikasihi Tuhan. Hari ini kita belajar tentang kuasa kasih di dalam kehidupan orang-orang percaya. Pagi ini kita akan pelajari Firman Tuhan dari Matius 5: 44.
 
Ayat Renungan: Matius 5: 44 – “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”
 
Beberapa waktu lalu, dunia dikejutkan oleh berita penembakan seorang aktivis muda asal Amerika Serikat, Charlie Kirk. Ia dikenal karena keberaniannya membagikan kebenaran Firman Tuhan kepada anak-anak muda melalui debat terbuka. Banyak yang percaya bahwa keberanian imannyalah yang menjadi alasan ia dibenci pelaku dan dibunuh.
Kematian Charlie bukan hanya menyisakan duka karena cara kepergiannya yang tragis, tetapi juga karena ia meninggalkan seorang istri dan dua anak kecil yang kini harus hidup tanpa sosok suami dan ayah.

Namun, dalam upacara penghormatan terakhirnya, sang istri Erika, menyampaikan sesuatu yang mengejutkan. Di hadapan ribuan orang, ia berkata, “Saya mengampuni pelaku karena itulah yang Kristus lakukan, dan itulah yang akan dilakukan Charlie.” Erika menegaskan bahwa kebencian tidak bisa dilawan dengan kebencian, melainkan dengan kasih Tuhan. Ia mengutip Matius 5:44: "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."

Yesus berdiri di atas bukit - di hadapan banyak orang dan menyampaikan perintah ini. Sebagai manusia, kita mungkin akan berpikir jika ucapan ini sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin Yesus meminta kita mengasihi orang yang menganiaya kita? Atau bagaimana mungkin seorang istri yang suaminya dibunuh memilih mengampuni daripada membalas dengan cara serupa?

Inilah perbedaan antara respons dunia dengan orang-orang percaya. Dunia menganggap pembalasan adalah hal yang wajar, namun Yesus menawarkan jalan yang radikal: mengasihi dan mendoakan mereka yang menganiaya kita.

Mengapa Yesus menuntut sesuatu yang begitu sulit? Karena Ia tahu bahwa kasih adalah satu-satunya kekuatan yang bisa mengalahkan kebencian. Kebencian memicu perkelahian, tapi kasih memiliki kekuatan untuk memutus lingkaran itu. Saat kita memilih untuk mengasihi dan berdoa bagi mereka yang menyakiti kita, kita melakukan lebih dari sekadar tindakan moral - kita sedang meneladani kasih Kristus hidup di dalam kita (Efesus 4: 32).

Karena itu, ketika ada orang yang membenci dan menganiaya kita, kita hanya punya dua pilihan: mengasihi dan mendoakan. Karena itu adalah tanda bahwa kita sedang memikul salib Kristus dan memuliakan Tuhan. 
 
Action Praktis:
Hari ini, ambillah waktu sejenak untuk mendoakan satu orang yang pernah menyakiti, mengecewakan, atau menyulitkan Anda. Bukan untuk membenarkan perbuatannya, tetapi untuk melepaskan kasih dan pengampunan seperti yang diajarkan Yesus.
 
Hidup Anda berharga, dan Tuhan tidak pernah melepaskan tangan-Nya dari Anda. Hari ini adalah kesempatan baru untuk membuka hati dan membiarkan kasih-Nya memulihkan setiap luka. 

Sumber: Jawaban.com

Selasa, 23 September 2025

BELAJAR BERJALAN

Bacaan: Hosea 11:1-4

NATS: Akulah yang mengajar Efraim berjalan dan mengangkat mereka di tangan-Ku (Hosea 11:3)

Saya mengenang hari-hari yang telah lama berlalu, yaitu ketika anak-anak kami sedang belajar berjalan. Mula-mula mereka menunjukkan bahwa mereka sudah siap untuk belajar berjalan dengan berdiri dan dengan ragu-ragu menapakkan satu atau dua langkah. Saya dan istri saya lalu mengulurkan tangan dan menyemangati mereka agar berjalan ke arah kami. Kami memegang tangan mereka atau tali pada pakaian terusan mereka. Kami memberikan pujian terhadap setiap upaya dan menyemangati setiap usaha. Kami tidak pernah berkecil hati, atau menyerah sampai mereka berhasil. 

Demikian juga yang diperbuat oleh Bapa surgawi kita: Dia "mengajar [Israel] berjalan" (Hosea 11:3). Dia mengangkat anak-anak-Nya "di tangan-Ku" serta "menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih" (ayat 3,4). 

Bapa surgawi kita berdiri di hadapan kita dengan tangan yang terbuka, mendorong kita untuk melangkah menuju kesucian, dan akan segera memegang kita ketika kita terantuk. Dia akan membangkitkan ketika kita jatuh. Dia tidak pernah berkecil hati maupun menyerah melihat kemajuan kita. Semakin sulit proses yang kita hadapi, maka semakin besar perhatian dan kebaikan yang dicurahkan-Nya. 

George MacDonald pernah mengatakan demikian, "Allah akan membantu ketika kita tidak dapat berjalan, dan Dia juga akan membantu pada saat kita sulit untuk berjalan. Akan tetapi, Dia tidak dapat membantu apabila kita tidak mau berjalan." Walaupun Anda jatuh, Anda harus mencoba lagi. Bapa akan memegang tangan Anda -DHR 

KITA TIDAK DAPAT BERLARI DALAM PERLOMBAAN KRISTIANI SEBELUM KITA BELAJAR BERJALAN

Sumber: Renungan Harian

Senin, 22 September 2025

Jangan Ada Dusta

Bacaan Alkitab hari ini:
Yeremia 8:4-9:11

Dusta sering dianggap sebagai dosa ringan, sehingga banyak orang dengan mudah berdusta untuk hal-hal sepele seperti agar mendapat pujian atau kesan baik dari orang lain, atau agar mendapat keuntungan. Di zaman serba digital ini, banyak orang berdusta lewat media sosial. Di sekitar kita terdapat banyak berita hoaks—terutama di media sosial atau platform digital—yang isinya dimaksudkan untuk menjatuhkan pihak lawan. Selain itu, ada pula dusta putih atau white lie, yaitu dusta yang dilakukan dengan maksud baik. Apakah dusta putih dapat dibenarkan? Seorang penulis bernama Austin O’Malley mengatakan bahwa dusta tidak memiliki kaki. Dusta akan membutuhkan dusta-dusta lain untuk mendukung dusta tersebut. Bila kita berdusta, kita akan "dipaksa" menambahkan dusta-dusta lain untuk mendukung dusta pertama. Tidak mengherankan bila satu perkataan dusta akhirnya bisa berkembang menjadi kebiasaan untuk menutupi kelemahan atau ketidakwajaran dari dusta tersebut. Orang percaya tidak boleh berdusta karena kita sudah dibenarkan di dalam Yesus Kristus. Status orang percaya adalah anak-anak Allah atau anak-anak kebenaran dan bukan anak-anak kegelapan atau anak-anak Iblis, sang bapa pendusta (Yohanes 8:44).

Nabi Yeremia meratapi keadaan umat TUHAN yang waktu itu hidup di dalam dusta. Dusta menjadi kebiasaan umat TUHAN, bahkan sesama saudara dan teman dekat adalah penipu dan pemfitnah. Tidak ada yang berkata benar di tengah mereka (9:3-5). Perkataan mereka penuh kemunafikan. TUHAN mengatakan bahwa Ia akan menghukum mereka (9:8-9). Jelaslah bahwa dusta adalah sesuatu yang dibenci TUHAN. Ia ingin agar umat-Nya hidup dalam kebenaran dan kekudusan, sebagaimana Ia adalah kudus. Dusta bukan perkara sepele karena dusta menunjukkan bahwa seseorang belum sungguh-sungguh hidup di dalam Tuhan. Orang yang sudah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus akan berupaya untuk berkata benar setiap waktu, meskipun kebenaran itu dapat merugikan dirinya. Dalam Efesus 4:25, Rasul Paulus berkata, "Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota." Konteks ayat ini adalah tentang mengenakan manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Efesus 4:24).

Bagaimana dengan cara hidup Anda: Apakah Anda sering berdusta atau sesekali berdusta? Ingatlah bahwa dusta dapat merugikan dan melukai hati orang lain. Marilah kita berusaha untuk selalu mengatakan hal-hal yang benar, agar kita bisa menjadi saksi Kristus lewat perkataan kita. [GI Wirawaty Yaputri]

Sumber: Renungan GKY

Minggu, 21 September 2025

Tidak Takut Mencoba

Bacaan: 1 PETRUS 5:1-11

Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia memelihara kamu. (1 Petrus 5:7)

Ketika seseorang mendapatkan suatu tanggung jawab yang baru, setiap orang akan memberikan respons yang berbeda, seperti: akan segera mempelajari dan mengerjakannya, menunda-nunda untuk mengerjakannya, takut dan tidak pernah mengerjakannya, bahkan ada pula yang menolak tanggung jawab tersebut.

Surat 1 Petrus adalah surat yang ditulis oleh Rasul Petrus kepada jemaat-jemaat yang tersebar di Asia Kecil pada masa itu. Surat ini memberikan nasihat kepada para pemimpin gereja tentang bagaimana seharusnya mereka memimpin dan mengasuh jemaat dengan baik. Salah satu dari nasihatnya adalah mengenai kekhawatiran. Pada ayat 7, Rasul Petrus mengajak mereka untuk menyerahkan semua kekhawatiran kita kepada Allah. Menyerahkan yang dimaksud adalah melepas beban yang kita pikul sehingga kita tidak terbebani lagi olehnya.

Terkadang kita takut mencoba tanggung jawab yang baru. Hal ini dapat menghambat kita dalam mengerjakan tugas dan panggilan Tuhan dalam hidup kita. Namun, sebagai orang Kristen, kita seharusnya mengandalkan Tuhan dalam menghadapi rasa takut itu. Bukankah Allah memberikan janji dalam kitab Yeremia bahwa rencana-Nya dalam hidup kita adalah untuk memberikan harapan dan masa depan yang baik? Marilah dalam masa penantian ini, kita percaya bahwa Tuhan selalu menuntun dalam setiap langkah kita dan kita tidak takut mengerjakan panggilan-Nya. Allah selalu siap untuk mendengarkan doa kita serta memberikan hikmat dan kekuatan untuk menghadapi segala perkara yang menjadi rintangan bagi kita. --AND/www.renunganharian.net

TAKUT MENCOBA BISA MENJADI AWAL DARI SEBUAH KEGAGALAN.

Sabtu, 20 September 2025

Tahu Diri 

Bacaan: Lukas 14:7-11 

Tahu diri berarti sadar keberadaan diri sendiri di tengah relasi dengan sesama. Jadi, bisa menempatkan diri dengan tepat, tidak mempermalukan diri sendiri maupun orang lain. Yesus mengajak orang untuk tahu diri.

Pada saat kita mendapat undangan ke pesta perkawinan, kita boleh meyakini bahwa kita dihargai dan dihormati oleh sang pengundang. Namun, kita tidak pernah tahu siapa saja orang-orang yang diundang olehnya. Kita juga tidak tahu seberapa besar penghormatan sang pengundang kepada kita dibandingkan kepada tamu undangan lainnya. Jadi, jangan sampai kita menempatkan diri sendiri di tempat terhormat tanpa dipersilakan oleh sang pengundang. Jangan sampai kita mempermalukan diri sendiri karena diminta pindah dari tempat terhormat dan pada saat yang sama mempermalukan tuan rumah yang harus meminta kita pindah (8-9).

Baiklah kita menempatkan diri di tempat yang rendah, tahu diri bahwa kita hanya salah satu undangan. Perkara nantinya ternyata kita dihormati dengan diminta pindah ke tempat yang lebih terhormat (10), itu hal lain.

Tahu diri menjadi kunci dalam berelasi dengan orang lain karena bisa menjaga relasi itu tetap wajar dan terpelihara baik. Orang lain tentu bisa merasa kesal kalau kita selalu merasa dan menempatkan diri sebagai orang terhormat atau berstatus lebih tinggi daripada dia. Sebaliknya, orang akan merasa nyaman berelasi dengan kita karena kita bertindak sewajarnya dan tidak sesuka sendiri.

Mari menjadi orang yang tahu diri. Kalau ada teman sedang berbicara atau curhat, ya kita diam, mendengarkan dengan penuh empati. Kalau ada teman yang merasa tidak nyaman dengan candaan kita, ya hentikan. Kalau ada teman yang suka mentraktir, ya kita balik mentraktir pada lain waktu. Kalau ada teman baru saja melahirkan, ya jangan asal cium bayinya, lalu sok tahu menasihati. Masih banyak lagi bentuk tahu diri yang lain, yang tentunya akan menjaga relasi kita dengan keluarga, teman, sahabat, dan kolega kita. Ah, indahnya tahu diri, indahnya relasi yang terpelihara dengan sangat baik. [KRS]

Sumber: Santapan Harian

Jumat, 19 September 2025

Ketidakmampuan Manusia

Bacaan Alkitab hari ini:
Yeremia 6

Apakah manusia mampu untuk hidup saleh dengan kekuatannya sendiri? Jawabnya adalah "Tidak!" Semua ajaran yang mengatakan bahwa manusia dapat selamat dengan upaya sendiri adalah tidak benar! Mengapa? Karena manusia sudah jatuh ke dalam dosa. Manusia berdosa tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Perbuatan baik tidak dapat menghapus dosa, sehingga semua orang merupakan manusia berdosa. Umat Tuhan yang telah dibebaskan dari penjajahan di Mesir serta memasuki Tanah Perjanjian juga jatuh bangun dalam kehidupan rohani mereka, bahkan mereka cenderung makin merosot secara rohani. Sejak memasuki Tanah Perjanjian, mereka segera hidup menyimpang dengan menyembah ilah-ilah bangsa lain. Kitab Hakim-hakim mencatat bahwa kejahatan mereka makin bertambah-tambah. Setelah memiliki raja, kehidupan rohani mereka tidak makin baik—tetapi makin buruk—karena para raja dan pemuka agama yang memimpin mereka hidup jauh dari Tuhan. Penyembahan terhadap ilah-ilah lain itu dimulai oleh Raja Salomo yang terpengaruh oleh istri-istrinya yang berasal dari latar belakang kafir. Penyelewengan Raja Salomo lalu ditiru oleh raja-raja selanjutnya yang tidak berpegang pada Perjanjian-Nya.

Kebobrokan inilah yang diratapi Allah dalam bacaan Alkitab hari ini (6:10,13-16). Umat TUHAN tidak mau bertobat dan tidak mau mendengar peringatan TUHAN. Mereka tidak peduli sama sekali kepada TUHAN dan terus hidup dalam kejahatan, kekerasan, dan penindasan (6:6-7). Rasa malu tidak ada lagi dalam diri mereka saat berbuat hal yang menjijikkan di mata TUHAN (6:15). Inilah yang terjadi pada manusia yang tidak mampu hidup saleh tanpa pertolongan Tuhan. Makin berusaha, makin terlihat bahwa manusia sangat menyukai hidup dalam dosa dan mengejar kesenangan duniawi. Rasul Paulus berkata, "Sebab, bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan." (Roma 7:19). Hanya anugerah Allah yang bisa membuat manusia dilahirkan kembali oleh Roh Kudus dan dimampukan untuk hidup saleh di hadapan Allah. Tanpa pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, tidak ada manusia yang dapat hidup saleh di hadapan Tuhan.

Bagaimana dengan hidup Anda: Apakah Anda sudah bersandar kepada Allah Roh Kudus agar bisa hidup berkenan kepada Allah? Apakah Anda sudah membuka hati untuk mendengar teguran Tuhan dalam hidup Anda? Apakah Anda sadar bahwa Anda adalah orang berdosa yang tidak mampu melepaskan diri dari dosa tanpa pertolongan Tuhan? Apakah Anda telah bersyukur karena Allah mengampuni Anda? [GI Wirawaty Yaputri]

Sumber: Renungan GKY

Kamis, 18 September 2025

Bagai Kacang Lupa Kulit

Bacaan: Hakim-hakim 8:22-35

Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku - Amsal 30:8-9

Salah satu kutipan terkenal dari film Batman adalah you either die a hero or live long enough to become the villain (kamu entah mati sebagai pahlawan atau hidup cukup lama untuk menjadi orang jahat). Inilah yang terjadi pada Gideon. Kita melihat perjalanan imannya menjadi seorang pahlawan (hero) yang gagah berani. Namun, di bagian ini kita melihat kejatuhannya menjadi seorang jahat (villain) yang menyesatkan rakyatnya.

Orang-orang Israel kagum akan keperkasaan dan kegagahan Gideon sehingga ingin mengangkatnya menjadi raja. Awalnya Gideon menolak dan mengatakan bahwa Tuhan-lah raja mereka (ay. 23). Namun, godaan kekuasaan terlalu kuat sehingga meski Gideon tidak menjadi raja, tindakannya menunjukkan bahwa sebenarnya ia menghendaki kedudukan tersebut. Pertama, Gideon mempunyai istri banyak (ay. 30). Menikahi banyak wanita menunjukkan bahwa ia berlagak seperti layaknya raja. Kedua, Gideon memberi nama salah satu anaknya Abimelekh (ay. 31), yang berarti, bapaku adalah raja. Ketiga, dan yang paling kurang ajar, membuat efod, pakaian yang hanya boleh dikenakan imam besar, dan menempatkannya di Ofra. Akibatnya, orang Israel tidak beribadah kepada Tuhan di Kemah Suci, tetapi malah menyembah Efod tersebut. Gideon telah menyesatkan orang-orang Israel (ay. 27).

Sungguh tidak mudah bagi orang yang sukses untuk tetap rendah hati dan mengingat bahwa ia hanyalah sekadar alat Tuhan yang dipakai meraih hal-hal besar. Begitu mudah bagi manusia untuk menjadi seperti kacang lupa kulitnya. Gideon yang pencapaian pertamanya adalah untuk menghancurkan mezbah Baal, dewa palsu (Hak. 6:28), berakhir dengan menciptakan dewa palsu berupa efod yang menyesatkan orang Israel. Ia lupa bahwa segala pencapaiannya adalah dari Tuhan semata.

Demikian pula dengan kita. Sangat mudah bagi kita untuk melupakan Tuhan di dalam kesuksesan kita. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk meminta makanan yang secukupnya (Mat. 6:11), bukan makanan yang berlimpah ruah, supaya kita tidak lupa akan Tuhan dalam kelimpahan tersebut.

Refleksi Diri:
Apakah Anda ingat untuk bersyukur kepada Tuhan setiap kali memperoleh kesuksesan dan meraih pencapaian tertentu?

Apa langkah praktis yang dapat Anda lakukan untuk menjaga diri Anda tetap rendah hati dan mengingat Tuhan?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Rabu, 17 September 2025

Tidak Sungguh-Sungguh Bertobat

Bacaan Alkitab hari ini:
Yeremia 3:1-4:4

Ketika orang berpura-pura baik kepada kita, dapatkah kita mengetahuinya? Mula-mula, mungkin kita dapat terkecoh. Akan tetapi, lambat laun, kita pasti menyadari bahwa orang tersebut tidak tulus berniat baik kepada kita. Bagaimana dengan Allah? Allah tahu dengan jelas isi hati kita dan Ia tahu bila kita hanya berpura-pura! Orang Yehuda yang meniru orang Israel meninggalkan Allah, kembali kepada Allah dengan kepura-puraan, tanpa ketulusan hati (3:10), dan Allah jelas tidak berkenan terhadap kepura-puraan. Allah yang Maha Kasih mengajak dan membujuk orang Israel dan Yehuda untuk kembali (3:14, 22), namun Ia tidak ingin mereka berpura-pura. Allah yang Maha Kudus tidak dapat menoleransi kemunafikan.

Kita patut merasa heran saat melihat kesabaran Allah yang begitu besar terhadap umat-Nya. Umat-Nya yang telah meninggalkan Allah dan mengingkari perjanjian tetap Ia kasihi. Allah tidak serta merta menghukum umat-Nya yang tidak merasa sungkan beribadah kepada ilah-ilah lain. Alkitab menggambarkan sikap mereka seperti sikap seorang pelacur (3:6-9). Sanggupkah Anda menerima kembali pasangan yang sudah meninggalkan Anda dan menjadi istri orang lain? (3:1) Membayangkan hal itu saja sulit, apalagi melakukan! Namun, Allah mau menerima umat-Nya yang mau bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya. Jika umat-Nya benar-benar menyingkirkan berhala dan tidak terombang-ambing hatinya, Allah akan menerima mereka kembali (4:1). Sungguh, Allah itu panjang sabar dan murah hati!

Sebagai orang yang sudah percaya kepada Yesus Kristus, kita harus selalu memperbarui hidup kita. Evaluasilah hidup Anda setiap hari dan bertobatlah dengan sungguh-sungguh. Kehidupan seperti itulah yang berkenan kepada Allah. Roh Kudus yang tinggal dalam hati setiap orang percaya akan menolong kita untuk menyadari keberadaan dosa dan bertobat dari dosa itu. Sedalam apa pun kejatuhan kita ke dalam dosa, bila kita sungguh-sungguh berbalik dari dosa dan bertobat, Allah akan menerima kita. Firman Tuhan berkata, "Jika kita mengaku dosa kita, Ia setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan "(1 Yohanes 1:9). Anda bisa tidak sungguh-sungguh melayani, tetapi berpura-pura rajin melayani Tuhan. Anda bisa tidak sungguh-sungguh mengampuni, tetapi tersenyum manis seolah-olah sudah mengampuni. Anda bisa membenci seseorang, tetapi tampak bersikap baik kepadanya. Anda bisa tidak pernah berdoa, tetapi bercerita kepada orang lain bahwa Anda banyak berdoa. Apakah Anda hidup secara tulus di hadapan Allah atau hanya berpura-pura? Jangan hanya berpura-pura bertobat! [GI Wirawaty Yaputri]

Sumber: Renungan GKY

Selasa, 16 September 2025

Pemimpin Yang Siap Menghadapi Oposisi

Bacaan: Hakim-hakim 8:1-3

Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus - Galatia 1:10

Film-film superhero pada umumnya mengakhiri ceritanya dengan sang jagoan mengalahkan musuh-musuhnya. Ia dipuji, dikenang sebagai penyelamat, dan menyaksikan buah dari perjuangannya. Tidak demikian dengan kisah Gideon. Kisahnya tidak berakhir dengan kemenangannya atas pasukan Midian. Alkitab memberikan gambaran realistis apa yang terjadi kepada seorang pahlawan sesudah kemenangannya. Mulai dari bagian ini, kita akan melihat perlahan-lahan kisah kejatuhan Gideon.

Rupanya, meski berhasil mengalahkan pasukan Midian, tidak semua orang Israel menghargai apalagi berterima kasih kepada Gideon. Suku Efraim adalah salah satu suku terbesar di Israel dan karena itu, mereka sangat ponggah. Ego orang-orang Efraim terusik ketika Gideon tidak memanggil mereka, melainkan suku Manasye, Asyer, Zebulon, dan Naftali (Hak. 6:35), suku-suku yang lebih kecil. Gideon berhasil meredakan kemarahan mereka dengan merendahkan diri, mengatakan bahwa pencapaiannya tidak sebanding dengan pencapaian yang mereka peroleh dari Tuhan (ay. 2-3)

Demikianlah nasib seorang pemimpin. Tidak peduli seberapa pun suksesnya, tidak peduli seberapa pun baiknya keputusan yang diambil, pasti ada pihak-pihak oposisi yang kerjaannya hanya mengkritik dan komplain. Namanya juga pemimpin, harus siap untuk dibenci. Seorang pemimpin tidak bisa menyukakan semua orang. Seperti kata almarhum Steve Jobs, mantan CEO Apple, “If you want to make everyone happy, don’t be a leader, sell ice cream.” (jika kamu ingin membuat semua orang senang, jangan jadi pemimpin, jualan es krim saja). Prinsip ini berlaku di mana pun, baik di dalam keluarga, tempat kerja, bahkan pelayanan gereja.

Jadi, apa yang harus kita lakukan sebagai pemimpin? Pertama, kita harus mengingat apa visi yang Tuhan tanamkan dalam hati kita sehingga kita dapat menyaring kritik-kritik yang masuk. Kritik yang baik diterima, kritik yang sekadar nyinyiran diabaikan. Kedua, kita pun harus berhikmat dalam membalas nyinyiran para oposisi. Gideon bukan sama sekali tutup kuping, tetapi bersikap rendah hati dalam menepis kritik. Ini adalah manuver politik Gideon untuk menjawab suku Efraim dengan cara yang tidak membuat mereka menjadi musuhnya. Seorang pemimpin harus bisa mempertahankan kesatuan, tanpa berusaha menyenangkan semua orang.

Refleksi Diri:
Apakah Anda mendapat kepercayaan dari Tuhan menjadi seorang pemimpin? Dalam hal apa?

Apakah Anda seorang pemimpin yang cenderung menyenangkan semua orang atau sebaliknya, memusuhi semua orang yang tidak sepaham? Bagaimana cara Anda menyeimbangkan kedua ekstrem ini?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Senin, 15 September 2025

Teguran Tuhan adalah untuk Kebaikan Anda

Bacaan Hari ini:
Ayub 5:17 “Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.”

Jika saat ini Anda sedang lari dari panggilan Tuhan, ada satu hal yang perlu Anda tahu: Tuhan sedang memanggil Anda untuk kembali kepada-Nya.

Dia tahu bahwa semakin jauh Anda berlari, semakin buruk yang akan Anda hadapi. Karena itulah, Dia ingin menarik perhatian Anda sebelum terlalu terlambat.

Walaupun Tuhan sabar, Dia tidak akan membiarkan Anda mengabaikan panggilan-Nya selamanya. Tuhan mengasihi Anda apa adanya, tetapi karena Dia begitu mengasihi Anda, maka Dia tidak mau membiarkan Anda seperti itu.

Dia ingin Anda fokus pada-Nya.

Karena melarikan diri dari Tuhan, Nabi Yunus belajar lewat teguran yang sulit ini: Laut semakin bergelora (lihat Yunus 1:11). Semakin jauh Yunus berlari menjauh, semakin mengerikan badai yang menghantamnya. Pilihannya itu mendatangkan konsekuensi.

Begitu halnya dengan Anda. Ketika Anda lari dari Tuhan, pada akhirnya Anda akan mendapati diri Anda dikelilingi oleh badai.

Terkadang itu adalah badai teguran dari Tuhan. Namun saat Tuhan mengoreksi Anda, itu bukan karena Dia marah, tapi karena Dia mengasihi Anda!

Orang tua yang penuh kasih mendisiplinkan anak-anak mereka sebab mereka mencintai mereka dan ingin melihat mereka mengubah perilaku mereka demi kebaikan mereka sendiri. Demikian pula dengan Tuhan. Alkitab mengatakan, “Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa” (Ayub 5:17).

Ketika badai semakin mengganas, orang-orang yang berada di kapal dengan Yunus bertanya satu pertanyaan yang biasanya kita tanyakan saat situasi kian buruk: "Akan kami apakan engkau, supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi?” (lihat Yunus 1:11). Jawabannya selalu sama. Anda harus menyerahkan hidup Anda sepenuhnya kepada Tuhan. Ketika Anda berserah, damai datang.

Itu yang dilakukan Yunus. “Sahutnya kepada mereka: "Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu” (Yunus 1:12).

Itulah tindakan tidak egois Yunus yang pertama—dan juga langkahnya yang pertama menuju awal yang baru. Yunus mengakui bahwa dialah penyebab badai itu, dan dia memutuskan untuk berserah pada kehendak Tuhan.

Renungkan hal ini:
- Badai apa yang pernah Tuhan pakai untuk menegur Anda?
- Badai yang berbeda menarik perhatian Anda dengan cara yang berbeda. Badai apa yang biasanya Tuhan gunakan untuk menarik perhatian Anda?
- Apa bagian yang paling menakutkan dari berserah pada misi Tuhan? Apa yang menahan Anda untuk mengambil langkah itu?

Apabila selama ini Anda berlari dari rencana Tuhan atas hidup Anda dan saat ini Anda tengah menghadapi badai kehidupan, berserahlah kepada Tuhan. Lakukanlah dengan yakin dan percaya, dan Dia akan menarik Anda kembali pada-Nya.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Minggu, 14 September 2025

Mengenakan Pakaian Surgawi

Bacaan Alkitab hari ini:
Kolose 3:5-17

Hidup Kristen bukanlah sekadar perbaikan moral! Rasul Paulus tidak berkata, "Perbaikilah dirimu!", tetapi "matikanlah ...." (3:5). Ini adalah bahasa salib.Kita tidak bisa hidup bagi Kristus tanpa terlebih dahulu mati terhadap dosa. Kata "mati" yang dibicarakan di sini bukanlah kematian yang pasif, tetapi tindakan yang aktif, radikal, dan penuh kesadaran untuk menolak segala sesuatu yang merusak hubungan kita dengan Allah.

John Piper berkata bahwa dosa adalah apa pun yang kita lakukan ketika hati kita tidak puas di dalam Allah. Saat Rasul Paulus menyuruh kita mengenakan belas kasihan, kelemahlembutan, dan kasih, perintah itu bukan sekadar etika Kristen. Rasul Paulus mengajak kita untuk melakukan hal yang lebih dalam daripada sekadar mewujudkan perubahan perilaku. Ia mengajak kita untuk hidup dalam identitas yang baru sebagai manusia yang telah ditebus oleh Kristus. Rasul Paulus berkata, "Matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi." Setiap orang percaya didorong untuk melepaskan identitas lama yang tidak lagi mencerminkan siapa kita di dalam Kristus. Sebagaimana kita perlu menanggalkan pakaian yang sudah usang dan tak layak pakai, kita diajak untuk menanggalkan amarah, dendam, dan keserakahan. Namun, hidup baru bukan hanya berarti menanggalkan yang lama, tetapi juga berarti mengenakan yang baru, yaitu belas kasihan, kemurahan, kerendahhatian, kelemahlembutan, dan kesabaran. Di atas semuanya itu: Kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (3:12-13). Kasih itu seperti pakaian baru yang kita kenakan sebagai anggota kerajaan Surga. Waktu semua orang melihat ‘pakaian kasih’ kita, mereka juga melihat kasih Allah itu sendiri. Setelah damai sejahtera itu memerintah dalam hati kita, maka kita bukan hanya akan merasakan ketenangan, tetapi kepenuhan dari seluruh hadirat dan sifat Kasih Allah akan memimpin dan mengendalikan hati serta pikiran kita.

Sebagai manusia baru, hidup kita seharusnya penuh dengan kasih dan damai sejahtera. Kasih dan damai sejahtera akan membuat kita sanggup mengampuni, melayani, dan membawa terang bagi dunia ini. Kasih juga mempengaruhi hubungan kita dengan sesama, yaitu membuat kita menjadi lebih sabar, lebih ramah, dan penuh pengertian. Sementara itu, damai sejahtera adalah hasil dari hubungan yang benar dengan Allah. Bila kita hidup sesuai dengan firman Tuhan, hati kita akan dipenuhi dengan damai sejahtera yang melampaui segala akal serta membuat hati kita dipenuhi oleh rasa syukur. Apakah Anda sudah menjalani kehidupan sebagai manusia baru? [GI Yogas Wiguna]

Sumber: Renungan GKY

Sabtu, 13 September 2025

JALAN MENUJU SUKACITA

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! - Filipi 4:4

Sukacita tidak bisa dinyalakan begitu saja seperti menyalakan lampu atau membuka keran air. Sukacita juga tidak muncul dengan sekali tekan tombol.

Sebagai orang Kristen, kita tetap mengalami suka dan duka seperti orang lain. Terkadang kita merasa kuat, kadang di waktu lain kita merasa lemah dan buntu. Lalu, bagaimana kita bisa menjalani perintah untuk selalu bersukacita—atau, seperti yang tertulis dalam surat Paulus, “bersukacitalah senantiasa”?

Banyak orang berpikir sukacita itu tergantung keadaan. Kalau keadaan buruk, sukacita pun hilang. Kalau benar begitu, maka kita harus berusaha keras mengatur agar hidup kita hanya berisi hal-hal yang menyenangkan dan menjauh dari apa pun yang membuat sedih. Namun, Rasul Paulus menawarkan cara pandang yang berbeda. Sukacita sejati bukanlah perasaan yang naik turun mengikuti keadaan. Sukacita Kristen punya dasar yang tetap.

Paulus memberi petunjuk kepada kita tentang sumber sukacita ini di sini: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Kuncinya ada pada dua kata yaitu “dalam Tuhan”. Dua kata sederhana itu membuat semua perbedaan di dunia! Kalau sukacita kita bergantung pada keadaan, cepat atau lambat kita akan kecewa, karena kesulitan cepat atau lambat pasti datang. Tetapi kalau sukacita kita ada di dalam Tuhan—yang tidak pernah berubah, yang tetap sama kemarin, hari ini, dan selamanya (Ibrani 13:8)—maka sukacita kita akan kokoh, tidak akan pudar.

Sukacita Kristen adalah sukacita yang dapat hidup berdampingan dengan kesedihan yang mendalam. Hidup mungkin membuat kita menangis, tetapi itu tidak harus merampas sukacita kita, sebab sukacita itu bukan dari keadaan, melainkan dari Tuhan: siapa Dia, betapa Dia mengasihi kita, dan semua janji-Nya.

Taruhlah harapan Anda di dalam Dia dan ingatkan diri Anda tentang sifat-Nya yang tidak berubah dan Anda akan berada di jalan menuju sukacita selalu, bahkan dalam kesulitan. Hari ini, apa pun keadaan Anda, Anda bisa menemukan penghiburan, ketenangan, rest, dan bahkan sukacita di dalam kebenaran ini: Allah menyertai Anda dalam segala hal, dan suatu hari nanti Dia akan membereskan semuanya.

Refleksi
Bacalah Mazmur 147 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:

Pola pikir apa yang harus saya ubah?

Bagaimana saya bisa lebih mengasihi Allah?

Apa yang bisa saya terapkan hari ini?

Sumber: Renungan Gibeon Church

Jumat, 12 September 2025

KODOK DAN KATAK

Bacaan: Yesaya 61:10,11

NATS: Seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan ALLAH akan menumbuhkan kebenaran (Yesaya 61:11)

Salah satu buku anak-anak yang saya sukai adalah Frog and Toad Together (Kodok dan Katak Bersama-sama) karya Arnold Lobel. Kodok mempunyai kebun yang dikagumi oleh Katak, sehingga Katak ingin memilikinya juga. Lalu Kodok berkata kepadanya, "Memang kebun itu indah, tetapi kamu harus bekerja keras." Ketika Kodok memberikan beberapa benih bunga kepada Katak, Katak pun segera pulang dan menanamnya. 

"Ayo benih-benih," kata Katak, "bertumbuhlah sekarang." Ia berusaha keras membuat kebunnya berbunga. Ia berteriak kepada benih-benih itu, membacakan cerita-cerita panjang, dan menyanyikan lagu-lagu, tetapi benih-benih itu tidak kunjung tumbuh. 

"Apa yang harus kulakukan?" teriak Katak. "Tinggalkanlah benih-benih itu sendirian," kata Kodok. "Biarkanlah matahari menyinari, dan hujan menyiraminya. Nanti benih-benihmu akan mulai tumbuh." Lalu suatu hari, tanaman-tanaman hijau kecil muncul. "Akhirnya," teriak Katak, "benih-benihku tidak takut lagi untuk tumbuh! Kamu benar, Kodok. Ini memang pekerjaan yang sangat keras." 

Banyak orang berpikir bahwa sulit sekali bertumbuh dalam kebenaran. Kita harus menyediakan waktu untuk membaca firman Tuhan, berdoa, dan menumbuhkan iman kita dengan berada bersama orang-orang beriman lainnya. Namun, kemajuan kita dalam kesucian tetap tergantung kepada Allah. Ketika Dia menyinarkan wajah-Nya kepada kita dan mencurahkan kasih-Nya dalam hidup kita, kita akan bertumbuh. Lalu kebenaran akan mulai tumbuh (Yesaya 61: 11). Jangan putus asa apabila pertumbuhan itu lambat. Sebentar lagi Anda akan memiliki kebun -DHR 

PERTUMBUHAN ROHANI TERGANTUNG DARI AIR FIRMAN TUHAN DAN MATAHARI KASIH-NYA

Sumber: Renungan Harian

Kamis, 11 September 2025

PANGGILAN UTAMA KITA

Bacaan: Keluaran 19:1-8

NATS: Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku (Keluaran 19:4)

Di dunia yang mengedepankan kinerja, umat kristiani kerap beranggapan bahwa panggilan utama Allah atas hidup mereka adalah bekerja bagi-Nya. Namun bekerja bagi Kristus harus diletakkan setelah pengabdian kita kepada-Nya. Oswald Chambers pernah mengingatkan, Pesaing terbesar dari pengabdian kepada Yesus adalah pelayanan bagi Dia. 

Saya menghadapi pesaing terselubung ini tak lama setelah Tuhan memimpin keluarga kami memulai pelayanan bagi para pecandu jalanan. Kami mengasihi anak-anak muda yang sedang mencari jati diri ini, dan saya mengabdikan seluruh perhatian dan tenaga saya untuk menolong mereka mengalami kuasa Kristus yang menyelamatkan. 

Tetapi kemudian Derek, salah satu dari mereka, kabur ke London dan mengonsumsi obat-obatan lagi. Kehilangan ini mengejutkan saya sehingga saya sadar telah begitu asyik dalam pekerjaan kami sehingga pengabdian saya kepada Yesus telah kehilangan nilai penting. Allah menggunakan kesedihan saya sebagai sayap rajawali yang mengangkat saya dari aktivitas yang mementingkan pekerjaan untuk kembali pada kasih saya mula-mula, yaitu Yesus! 

Allah melakukan hal yang sama bagi bangsa Israel pada zaman Musa. Dia membebaskan orang-orang Ibrani dari tuan yang kejam dan membawa mereka di atas sayap rajawali untuk kembali kepada-Nya (Keluaran 19:4). 

Puji Tuhan, tak lama kemudian Derek kembali. Saya pun telah memperoleh pelajaran penting bagi semua pengikut Yesus. Pekerjaan yang diberikan Allah jangan sampai bersaing dengan panggilan utama kita, yaitu pengabdian kepada Kristus JEY 

BANYAK ORANG KRISTIANI KUAT DI DALAM PELAYANAN NAMUN LEMAH DI DALAM PENYEMBAHAN

Sumber: Renungan Harian

Rabu, 10 September 2025

Membina vs Membinasakan

Bacaan: YAKOBUS 3

Dari mulut yang sama keluar berkat dan kutuk. Hal ini, Saudara-saudaraku, tidak boleh terjadi. (Yakobus 3:10)

Siang hari saat berbelanja di supermarket, seorang wanita berjumpa sahabatnya yang baru memotong rambutnya. "Kau cantik sekali, " ia memuji. Sahabatnya merasa senang dan seketika kepercayaan dirinya meningkat. Sorenya, anaknya menyerahkan hasil ujian matematikanya dengan nilai lima. "Kau bodoh sekali, " katanya sambil membentak. Anak itu sedih berkata pada dirinya sendiri, "Aku bodoh sekali."

Dengan kata-katanya, wanita itu telah membuat satu orang berbahagia dan satu orang menderita. Satu mulut mengakibatkan dua hal yang saling bertolak belakang. Yakobus juga menyoroti keheranan ini saat memberi peringatan mengenai lidah. Faktanya, lidah dapat membina ataupun membinasakan! Dengan lidah kita dapat memuji, dengan lidah pula kita dapat memaki. Di dunia ini, tak ada mata air memancarkan air tawar dan air pahit. Pohon ara tak menghasilkan buah zaitun, juga pokok anggur tak menghasilkan buah ara. Lidah sama seperti mata air dan tanaman, ketiganya adalah sumber. Maka itu, berarti tak semestinya muncul dua akibat berbeda ketika kita berkata-kata. Tak sepatutnya mulut mengeluarkan berkat sekaligus kutuk. Salah satu saja, dan itu haruslah berkat.

Nas renungan hari ini bertujuan mengingatkan kita untuk memperhatikan lidah. Hati-hati, jangan sampai lidah menggemakan hal-hal yang tidak sepatutnya didengar telinga. Berpikir dahulu sebelum berucap, agar lidah menggenapi maksud Tuhan menciptakannya. Ketika berkata-kata, ingatlah untuk memberkati, tidak menyakiti. Lepaskan dukungan, jangan kutukan. Buatlah orang-orang di sekeliling kita berbahagia, bukan menderita. Tentu boleh kita mengkritik, menegur, atau menasihati, hanya lakukanlah dengan sopan dan tanpa penghakiman. Pendeknya, mari dengan kata-kata, kita membina sesama, bukan membinasakan. --LIN/www.renunganharian.net

SEYOGIANYA PERKATAAN KITA SENANTIASA MEMBERKATI PARA
PENDENGARNYA, BUKAN KERAP MENYAKITI HATI MEREKA.

Selasa, 09 September 2025

KEDAMAIAN HATI

Bacaan: Yesaya 53:7-9

NATS: Hendaklah kamu semua ... penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati (1Petrus 3:8,9)

Bagaimana reaksi kita terhadap kritik yang menyerang? Jika kritik itu membuat kita membalas para pengkritik kita dengan sikap marah, maka kita perlu belajar dari seorang pengkhotbah di zaman kolonial bernama Jonathan Edwards (1703 -1758). 

Edwards, yang dinobatkan oleh para cendekiawan sebagai filsuf yang penuh wawasan, diserang oleh para pejabat gereja di Northampton, Massachusetts, dengan penuh dendam. Mereka merasa Edwards bersalah mengajarkan bahwa seseorang harus dilahirkan kembali dahulu sebelum turut ambil bagian dalam perjamuan Tuhan. 

Meskipun dipecat dari gereja, Edwards tidak berhenti mengasihi dan mengampuni. Salah satu anggota jemaat yang memberikan dukungan kepadanya, menulis tentang dirinya, "Saya tidak pernah sedikit pun melihat tanda-tanda tidak senang di wajahnya ... ia selalu muncul sebagai utusan Allah, yang sukacitanya terpancar dan menjangkau musuh-musuhnya." 

Edwards hanya meniru teladan Tuhan Yesus. Ketika Sang Juru Selamat dihina, Dia tidak membalas menghina. Ketika Dia dituduh bersalah, Dia tetap diam, "seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya" (Yesaya 53:7). 

Masih dapatkah Anda tetap memiliki kedamaian hati, bahkan ketika Anda dikritik? Apabila Anda meminta pertolongan Roh Kudus, maka seperti yang dilakukan Edwards, Anda akan mampu menanggapi dengan cara yang sama seperti Kristus saat menanggapi tuduhan atau gosip yang salah --VCG 

KRITIK PALING JELEK UNTUK ANDA
DAPAT MENGUNGKAPKAN HAL TERBAIK DALAM DIRI ANDA

Sumber: Renungan Harian

Senin, 08 September 2025

Ada Makna di Balik Kekacauan

Bacaan Hari ini:
Kejadian 50:20 “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”

Setiap masalah dalam hidup Anda punya tujuan; ada makna di balik semua kekacauan itu.

Ketika berada di tengah kesulitan, kita sulit untuk melihat maksud itu. Namun, mudah untuk kita memahami kejadian masa lalu dan melihat apa yang seharusnya dilakukan secara berbeda setelah kejadian tersebut terjadi—sehingga kita bisa melihat apa yang Yesus lakukan pada saat itu.

Pada tahun 1980-an dan 90-an, ada sebuah acara TV berjudul MacGyver. Acara itu seru untuk ditonton karena MacGyver bisa membuat sesuatu dari ketiadaan. Ia bisa mengumpulkan kawat-kawat, permen karet dan aseton, lalu tiba-tiba ia membangun sebuah roket utuh. Ia dapat menggunakan apa saja—bahkan benda-benda sehari-hari yang biasa dijumpai di sekitarnya—untuk mewujudkan tujuannya.

Percayalah—Tuhan jauh lebih hebat daripada MacGyver! Dia bisa menggunakan segala sesuatunya dalam hidup Anda—hal-hal baik, hal-hal buruk, hal-hal menyakitkan, hal-hal aneh—dan menggunakannya untuk kebaikan.

Ingatlah, Tuhan bukan penyebab masalah-masalah Anda. Namun, Dia membolehkannya terjadi agar Dia dapat menggunakannya untuk mewujudkan rancangan-Nya, meskipun orang lain memiliki niat yang buruk.

Satu contoh dalam Alkitab tentang hal ini ialah kisah Yusuf. Yusuf menghadapi serangkaian masalah yang mengerikan. Dia dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya. Dia dituduh menggoda istri tuannya. Dan ia dijebloskan ke dalam penjara.

Namun, Yusuf tetap setia. Dan pada akhirnya ia diangkat menjadi orang berkuasa nomor 2 yang bertanggung jawab di seluruh Mesir. Berkat perannya itu, ia mampu menyelamatkan seluruh bangsa Israel dari kelaparan. Ia bahkan mampu menyelamatkan keluarganya sendiri—termasuk saudara-saudaranya yang dulu menjualnya sebagai budak.

Ia berkata kepada saudara-saudaranya, "Memang kamu mereka-reka yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (Kejadian 50:20). Yusuf tahu bahwa rancangan terbaik Allah telah berhasil, bahkan dalam keadaan hidupnya yang buruk.

Anda juga mungkin sedang berada dalam situasi yang buruk saat ini. Rasanya segala sesuatu dalam hidup Anda salah. Orang-orang dengan maksud yang buruk mungkin telah menyakiti Anda. Namun, Allah bermaksud mendatangkan kebaikan dari situasi tersebut. Dia ingin Anda membawakan kepingan-kepingan hidup Anda yang hancur kepada-Nya. Dia dapat mendatangkan damai sejahtera dari kepingan-kepingan itu.

Renungkan hal ini:
- Kapan Anda pernah melihat Tuhan memberikan makna dari suatu kekacauan?
- Bagaimana kisah Yusuf dapat mendorong Anda?
- Masalah apa yang sedang Anda hadapi saat ini? Luangkan waktu untuk berdoa, katakan kepada Allah bahwa Anda percaya kepada-Nya untuk mendatangkan kebaikan dari-Nya.

Ingatlah, tujuan Allah lebih besar daripada masalah apa pun yang pernah Anda alami. Dan Dia akan mendatangkan kebaikan darinya apabila Anda percaya kepada-Nya.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Minggu, 07 September 2025

Dari Mana Harga Diri Anda Berasal

Bacaan Hari ini:
1 Petrus 1:18-19 “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.”

Jauh di lubuk hati, setiap orang ingin dihargai. Setiap orang ingin tahu bahwa mereka berharga dan bahwa hidup mereka berarti.

Apa yang membuat hidup Anda berharga? Orang-orang mencoba mencarinya dalam berbagai hal—seperti dalam kekayaan, pekerjaan, atau kecantikan. Namun ketahuilah, Anda tidak akan pernah menemukannya di tempat-tempat tersebut. Anda dapat "memiliki segalanya" menurut standar dunia—namun di lubuk hati, Anda bisa saja merasa hampa dan penuh kepalsuan.

Mengapa? Sebab Anda diciptakan untuk lebih dari itu.

Dari mana datangnya harga diri yang tingggi? Itu berasal dari tiga kebenaran ini:

Allah telah mengorbankan Putra-Nya untuk Anda. "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1 Petrus 1:18-19).

Berapa harga suatu barang? Berapa pun yang bersedia dibayar oleh pembeli. Demikian pula, Yesus telah membayar lunas dosa-dosa Anda—untuk keselamatan Anda—dengan nyawa-Nya sendiri. Seolah-olah Ia berkata, "Aku lebih baik mati, daripada hidup tanpamu." Anda begitu berharga bagi Allah.

Itulah sebabnya 1 Petrus 2:17 mengatakan: “Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!” Setiap orang yang Anda temui adalah seseorang yang dikasihi Yesus. karena itulah, setiap orang berhak diperlakukan dengan bermartabat.

Roh Kudus hidup di dalam Anda. Ketika Anda mengundang Yesus Kristus masuk ke dalam hati dan hidup Anda, Anda meminta Roh Allah untuk tinggal di dalam Anda. Ketika Anda mengenal-Nya, Anda belajar untuk mengenali suara-Nya saat Ia mengajarkan Anda untuk hidup seperti yang Dia kehendaki.

Alkitab mengajarkan, "Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” (1 Korintus 6:19). Allah tidak akan pernah menaruh Roh-Nya di tempat sampah. Fakta bahwa Roh Kudus tinggal di dalam Anda memberikan Anda harga diri.

Yesus telah memberi Anda sebuah identitas baru. Ketika Anda percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan Anda, Dia mengubah hidup Anda; Dia menjadikannya lebih baik dan baru. Alkitab mengatakan, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17).

Setiap kali Anda melakukan dosa, itu merusak harga diri Anda. Yesus bertugas untuk memulihkannya. Setiap kali Anda berjalan dengan memercayakan keselamatan Anda pada-Nya, Dia memberikan Anda awal yang baru, lembaran yang bersih. Dia mengampuni Anda—lalu Dia memulihkan harga diri Anda.

Renungkan hal ini:
- Di mana—selain di dalam Yesus—Anda pernah mencoba menemukan harga diri Anda di dalamnya? Bagaimana semua itu gagal?
- Ketika Anda menyadari bahwa harga diri Anda berasal dari Tuhan, apa perbedaan praktis yang ditimbulkannya dalam hidup Anda?
- Alkitab mengatakan untuk "hormatilah semua orang.” Adakah seseorang—atau sekelompok orang—yang belum Anda perlakukan dengan bermartabat? Berdoalah dan mohon kepada Tuhan untuk membantu Anda memperlakukan mereka dengan rasa hormat yang pantas mereka terima.

Siapa pun Anda dan apa pun yang telah Anda lakukan, ketahuilah hidup Anda berharga—Yesus telah mati untuk Anda, Roh Allah hidup di dalam Anda, dan Yesus telah memberikan Anda identitas baru. Maka, janganlah hidup dalam rasa malu. Hiduplah dengan harga diri yang diberikan Allah.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Sabtu, 06 September 2025

Orang Asing Yang Baik Hati


Bacaan: Hakim-hakim 3:31


Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman - Galatia 6:10


Sesudah membaca kisah Ehud yang diceritakan sangat mendetail, kita diberikan hanya satu ayat untuk Samgar. Tidak banyak yang penulis kitab Hakim-hakim ketahui tentangnya. Bahkan, beberapa ahli Alkitab berpendapat bahwa Samgar adalah nama bangsa asing. Beberapa ahli yang lain berpendapat bahwa namanya secara harafiah berarti nama seorang asing atau orang asing itu. Sungguh nama yang aneh. Tidak hanya itu, Samgar dikisahkan mengalahkan orang Filistin bukan dengan pedang seperti Ehud, melainkan tongkat penghalau lembu. Tidak dituliskan pula berapa lama ia menjadi hakim atas orang Israel atau berapa lama masa keamanan sepanjang pemerintahannya.


Apa gambaran yang Anda dapatkan mengenai Samgar, khususnya jika dibandingkan dengan Ehud? Samgar seperti orang asing sambil lalu yang melihat seseorang dikeroyok sejumlah berandalan. Ia segera mengambil senjata ala kadarnya di pinggir jalan—entahkah pot bunga, tong sampah taman, atau payung orang lain—untuk mengalahkan berandalanberandalan tersebut dan mereka pun lari terbirit-birit. Ketika orang yang dikeroyok itu bangkit berdiri, orang asing yang menolongnya sudah tidak ada. Begitu cepatnya ia pergi.


Di dalam keadaan tertentu, bukan orang yang kita kenal melainkan orang-orang asinglah yang dapat menolong kita. Anda hampir pasti pernah mengalaminya. Tukang bakso pinggir jalan yang menolong ketika mobil Anda mogok, tukang parkir yang menawari Anda payung, bapak yang membantu mengambilkan Anda buku di rak perpustakaan yang tinggi, atau pelanggan yang memberikan tip untuk pelayanan Anda. Tuhan Yesus sendiri memberikan perumpamaan tentang seorang Samaria, orang asing yang murah hati (Luk. 10:30-35).


Sayang sekali, dunia modern ini menjadikan manusia makin cuek. Jangankan menolong dan peka terhadap lingkungan, untuk memberikan senyum dan ucapan terima kasih kepada pramusaji atau kasir saja tidak ada. Lebih celaka lagi, gereja pun tak luput dari keadaan ini. Sesama orang percaya yang duduk lama berdampingan selama kebaktian, apakah tersenyum, menyapa, dan menanyakan kabar?


Jadilah orang asing yang baik hati. Sebagaimana Samgar tidak memerlukan pedang, tetapi sekadar tongkat penghalau lembu, Anda pun tidak perlu uang atau hal-hal lain untuk menolong. Cukup senyum dan sapaan dari Anda.


Refleksi Diri:

Apakah Anda pernah mengalami pertolongan dari orang yang tidak pernah Anda tahu dan kenal sebelumnya? Bagaimana reaksi Anda saat itu?


Apa yang bisa Anda lakukan hari ini untuk menjadi orang asing yang baik hati bagi orang lain?


Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Jumat, 05 September 2025

Menebar Jala

Bacaan: LUKAS 5:1-11

Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." (Lukas 5:4)

Setiap kali berjumpa orang baru, ia yang adalah seorang pemimpin komunitas rohani, selalu menceritakan keluh kesahnya. Ia merasa prihatin karena anggotanya semakin sedikit yang mau aktif bersekutu. Namun, setiap kali mendapat masukan dan saran, Ia selalu menjawab, "Ah, itu sudah pernah saya lakukan, tetapi tidak berhasil."

Apa jadinya jika Simon memberikan jawaban serupa kepada Tuhan Yesus saat Ia memintanya menebarkan jala? Ya, Simon tidak akan pernah mendapatkan sejumlah besar ikan. Beruntung, sekalipun telah sepanjang malam ia bekerja keras tanpa hasil, ia tidak menolak perintah Yesus. Sebaliknya, karena Yesus menyuruhnya, ia patuh: mau menebarkan jala lagi. Simon rela mengulang lagi karena Tuhan Yesus menghendakinya. Kepatuhan Simon membuahkan hasil luar biasa, sampai ia harus memanggil perahu lain untuk datang membantunya.

Iman membutuhkan kepatuhan. Tidak peduli seberapa keras kita harus berjuang, Tuhan mau kita patuh kepada-Nya. Tanpa perbantahan, pantang menyerah, dan putus asa. Mungkin, kita diperhadapkan dengan panggilan yang sulit, melelahkan, bahkan menantang bahaya. Sekalipun teramat berat, bertekun dalam menjalankan tugas dan melakukan yang terbaik adalah tanggung jawab setiap orang percaya. Sekalipun, tidak tertutup kemungkinan kita mengalami kekecewaan. Pengalaman Simon mengajarkan kepada kita bahwa bagian kita adalah melakukan tugas yang Tuhan berikan. Tetap setia menebarkan jala meski tampaknya tidak segera menangkap apa-apa. Percayakan hasilnya kepada Tuhan saja. --EBL/www.renunganharian.net

DENGAN KEKUATAN SENDIRI KERJA KERAS KITA SIA-SIA, BERSAMA BAPA SETIAP USAHA KITA DIBERKATI-NYA.

Kamis, 04 September 2025

Apakah Anda Pernah Ditegur?

Yesus berkata kepadanya: “... juallah segala yang kaumiliki ... kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, ... — Lukas 18:22-23

Pernahkah kita mendengar firman yang keras, tegas, dan menggedor jauh ke dalam hati kita, seolah-olah ditujukan kepada diri kita? Renungan hari ini mengatakan, bila belum, diragukan kita sudah mendengar Tuhan berbicara kepada kita. Firman Tuhan sering keras, tanpa kompromi. Sepertinya menyakiti, tetapi justru menyembuhkan.

Anda Patah Semangat atau Mengabdi

Pernahkah Anda mendengar Tuhan mengatakan sesuatu yang sangat sulit kita terima? Jika belum, saya meragukan apakah Anda pernah mendengar Dia mengatakan sesuatu kepada Anda. Yesus mengucapkan teramat banyak hal kepada kita dan kita dengar, tetapi sesungguhnya kita tidak mendengar. Dan sekali kita mendengar Dia berbicara, kata-kata-Nya keras dan tidak mengenal kompromi.

Yesus tidak menunjukkan kepedulian sedikit pun bahwa pemimpin muda yang kaya ini harus melakukan hal yang dikatakan-Nya, dan juga Yesus tidak berusaha menahan pria ini tinggal bersama Dia. Dia hanya berkata kepadanya, “Juallah segala yang kaumiliki ... kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Tuhan tidak pernah membujuknya -- Dia hanya mengucapkan kata-kata paling keras yang pernah didengar telinga manusia, dan kemudian membiarkannya sendiri.

Pernahkah saya mendengar Yesus mengatakan sesuatu yang sulit dan keras kepada saya? Sudahkah Dia mengucapkan sesuatu secara pribadi kepada saya yang telah saya dengar dengan penuh perhatian?

Pria ini mengerti apa yang diucapkan Yesus. Dia mendengarnya dengan jelas, menyadari dampak sepenuhnya dari makna kata-kata itu, dan hal itu mendobrak hatinya. Dia pergi dengan sedih dan tidak mengindahkan-Nya. Dia datang dengan kobaran semangat dan tekad, tetapi kata-kata Yesus membekukannya. Bukannya menghasilkan pengabdian dengan penuh semangat kepada Yesus, kata-kata-Nya menghasilkan keputusasaan dan patah semangat. Dan Yesus tidak mengejar dia agar kembali, tetapi membiarkannya pergi.

Tuhan tahu benar bahwa bila perkataan-Nya didengar sungguh-sungguh, akan menghasilkan buah cepat atau lambat. Jeleknya, sebagian dari kita merintangi perkataan-Nya dari menghasilkan buah dalam hidup kita saat ini.

Menjadi pertanyaan, apakah yang akan kita katakan bila kita akhirnya memutuskan untuk mengabdi kepada-Nya dalam hal tersebut? Satu hal yang pasti -- Dia tidak akan melemparkan kembali masa lampau kita ke wajah kita.

Sumber: Renungan Oswald Chambers

Rabu, 03 September 2025

DI MANA MENEMUKAN KEBAHAGIAAN?

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Mazmur 1:1-2

Di zaman modern ini, kita sering berpikir manusia seharusnya sudah tahu bagaimana caranya bahagia. Banyak buku, seminar, dan konten yang berbicara soal kebahagiaan dan bagaimana cara mencapainya. Namun, faktanya kebahagiaan sejati tetap langka. Cukup lihat berita atau kehidupan sekitar, kita bisa sadar bahwa masih banyak orang merasa kosong dan kebahagiaan sejati itu langka.

Alkitab sudah menyinggung hal ini. Mazmur 1 diawali dengan kata “berbahagialah”. Demikian pula, kata pertama yang keluar dari mulut Yesus dalam Khotbah di Bukit adalah “berbahagialah”. Pada dasarnya, Dia berkata, Berbahagialah orang yang lemah lembut, murah hati, dan membawa damai (Matius 5:3-11). Artinya, Tuhan peduli pada kebahagiaan kita, tapi cara-Nya berbeda dengan dunia.

Menurut ayat pembuka Mazmur 1, kebahagiaan berkaitan erat dengan cara kita berpikir dan cara kita memandang kehidupan. Kalau kita ingin hidup dalam perkenan Tuhan dan menikmati kebahagiaan yang hanya dapat Dia berikan, kita tidak boleh mengadaptasi pola pikir dunia yang tidak bertuhan. "Nasihat orang fasik" di ayat ini mengacu pada tujuan orang fasik—pepatah, prinsip, dan pola perilaku mereka. Hikmat duniawi seperti itu menjanjikan kebahagiaan dan berkat, tetapi pada kenyataannya itu semua semu; kita selalu mencari tetapi selalu tidak mendapatkan apa-apa. Kebahagiaan ditemukan dengan menolak menjaring angin bahkan saat dunia memanggil Anda untuk melakukan hal itu.

Namun, jalan menuju kebahagiaan abadi bukan hanya dengan menolak nasihat yang menyesatkan; tetapi juga dengan merangkul keindahan kebenaran. "Yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN." Ayat ini mengatakan membaca dan memikirkan firman Tuhan bukanlah tugas atau kewajiban tetapi sumber sukacita, suatu kesenangan. Mengapa? Karena lewat firman-Nya kita semakin mengenal Allah—Pencipta, Penjaga, dan Juruselamat kita. Apa pun kesenangan sesaat yang disajikan dunia ini kepada Anda, berpeganglah pada firman Tuhan saja sebagai sesuatu yang dapat menyegarkan jiwa Anda (Mazmur 19:7). Tidak ada hal lain yang dapat mendatangkan sukacita sejati, tulus, dan abadi bagi hidup Anda.

Refleksi
Bacalah Matius 5:3-11 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:

Pola pikir apa yang harus saya ubah?

Bagaimana saya bisa lebih mengasihi Allah?

Apa yang bisa saya terapkan hari ini?

Sumber: Renungan Gibeon Church

Selasa, 02 September 2025

Melakukan yang Baik dan Benar 

Bacaan: Lukas 10:38-42 

Apa yang kita lakukan dan kita anggap baik, belum tentu benar sesuai dengan kehendak Tuhan. Kali ini kita akan belajar dari cerita Marta dan Maria tentang apa yang baik dan benar sesuai dengan kehendak Tuhan.

Dalam suatu perjalanan, Yesus dan murid-murid-Nya tiba di sebuah kampung. Mereka disambut oleh seorang perempuan bernama Marta untuk singgah di rumahnya. Marta memiliki saudara perempuan bernama Maria. Ia duduk di dekat Yesus dan mendengarkan perkataan Yesus. Sementara itu, Marta sibuk sekali melayani tamu-tamu yang singgah di rumahnya. Mungkin saja karena kedatangan Yesus dan murid-murid-Nya tidak terduga sehingga Marta sangat sibuk menyiapkan jamuan untuk mereka. Sampai di sini sangat wajar apabila kita beranggapan bahwa hal yang dilakukan Maria kurang baik dibandingkan dengan Marta.

Namun, suasana berubah ketika Marta mengadu kepada Yesus bahwa Maria tidak membantunya melayani (40). Dengan kesal Marta bersungut-sungut kepada Yesus. Yesus menanggapi kekesalan Marta dengan mengatakan bahwa Marta khawatir dan telah menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil darinya (41-42).

Yesus tidak menyalahkan Marta. Hal yang dilakukan Marta baik, hanya saja harus didasari dengan ketulusan, sukacita, dan damai sejahtera. Jamuan itu diperlukan, tetapi adanya kekesalan, sungut-sungut, dan iri hati dapat menjauhkan Marta dari Tuhan. Seandainya Marta tidak bersungut-sungut mungkin akan lain ceritanya.

Dari kisah ini kita belajar bahwa melakukan tindakan yang baik, yang bahkan dilakukan dengan sungguh-sungguh pun belum lengkap. Semua kebaikan yang kita lakukan harus didasari niat yang tulus, sukacita, dan damai sejahtera. Dengan demikian, kebaikan yang kita lakukan akan benar-benar memberikan dampak positif bagi orang lain. Apalagi bila kita meneladan Yesus Kristus, tentu kebaikan yang kita lakukan makin sempurna karena dilakukan dengan dasar yang benar. [LRS]

Sumber: Santapan Harian

Senin, 01 September 2025

Kemerosotan Rohani

Bacaan: WAHYU 3:14-22

"Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu bahwa engkau melarat, malang, miskin, buta, dan telanjang." (Wahyu 3:17)

Ketika seseorang dalam keadaan mati, ia sudah pasti tidak akan mampu merasakan apa-apa lagi, ia tidak lagi membutuhkan makanan atau minuman, dan ia tidak akan pernah lagi bertumbuh! Sebaliknya, seorang yang hidup, ia dapat merasakan apa itu kekurangan, merasakan lapar dan haus. Itu sebabnya ia selalu membutuhkan makan dan minum agar ia dapat bertumbuh.

Demikianlah dengan kemerosotan rohani. Seseorang merosot rohaninya ketika ia sudah tidak lagi memerlukan firman Tuhan, tak lagi membutuhkan Tuhan, tidak bertumbuh. Kondisi inilah yang melanda jemaat di Laodikia. Jemaat Laodikia dikenal kaya dan kelebihan harta benda dan hal ini membuat mereka tidak lagi membutuhkan Tuhan. Kita pun ingat tentang peringatan Musa kepada orang-orang Israel, "... dan engkau makan serta menjadi kenyang, maka berhati-hatilah supaya jangan engkau melupakan Tuhan, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan" (Ul 6:11-12). Rupanya rasa nyaman dan hidup berkelimpahan bisa membuat hati melupakan Tuhan. Dan ketika seseorang merasa diri kaya dan tak lagi membutuhkan Tuhan, itulah tanda-tanda kemerosotan rohani.

Peringatan kepada jemaat di Laodikia ditulis untuk mengingatkan kita hari ini. Apakah rasa haus dan lapar akan Tuhan itu selalu melanda hati kita setiap hari? Apakah kerinduan untuk selalu bersekutu dengan Tuhan tetap berkobar dalam hati kita? Atau sebaliknya, kita telah merasa kenyang dan nyaman dengan apa yang kita miliki saat ini sehingga kita tidak lagi membutuhkan Tuhan dan firman-Nya? Mari kita memeriksa hati kita. --SYS/www.renunganharian.net

KETIKA TAK ADA LAGI RASA LAPAR, TAK ADA LAGI HASRAT MENCARI TUHAN, ITULAH TANDA KEMEROSOTAN ROHANI.