Senin, 31 Oktober 2011

PERDAMAIAN


Sedapat-dapatnya, 
kalau hal itu bergantung padamu,
hiduplah dalam perdamaian
dengan semua orang!
( Roma 12:18 )

Kalau kita mau renungkan ...
Apa sih enaknya berseteru ... ?

Hati ini capek ...
Wajah capek selalu 'dilipat' ...
Bibir pun capek terus cemberut ...

Tetapi ...
Bagaimana bisa berdamai ...
Bila dua pihak yang berseteru ...
Tak ada yang menginginkannya ... ?

Ah ...
Seandainya salah satu pihak ...
Benar-benar merindukan perdamaian itu ...
Bukankah harapan itu masih ada ... ?

Jadi ...
Mengapa itu bukan kita ... ?

Tuhan Yesus memberkati.


Dikutip dari Renungan Pagi Joshua Hendro

Minggu, 30 Oktober 2011

ANTARA INFORMASI DAN JANJI


Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan
(2 Korintus 9:8)
Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus
(Filipi 4:19)

   Adalah baik kalau kita membandingkan kedua ayat tersebut di atas:
“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam berbagai kebajikan.” dan
“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus.”
Di ayat pertama, yang ditujukan kepada jemaat di Korintus, Paulus menegaskan akan keberadaan Tuhan yang sanggup mencukupi jemaat. Di ayat kedua, yang ditujukan kepada jemaat di Filipi, Paulus menegaskan akan kemauan Tuhan mencukupi jemaat. Jelas di sini ada perbedaan mendasar dari kedua penegasan Paulus tersebut, yaitu informasi tentang kesanggupan Tuhan dan janji tentang kemauan Tuhan.
Bukan mengada-ada kalau Paulus menyatakan hal yang berbeda untuk pesannya tersebut. Alasannya sangat 
masuk akal dan  sangat alkitabiah, yaitu sesuai dengan hukum tabur tuai.
Jemaat di Korintus adalah jemaat yang enggan, tidak sepenuh hati di dalam memberi. Sudah satu tahun mereka berjanji untuk memberi, tetapi mereka tidak pernah sepenuh hati melakukannya, sehingga janji 
mereka “terbengkalai” dan belum selesai dipenuhi. Maka kepada mereka, Paulus tidak berani berjanji bahwa Tuhan akan mencukupi kebutuhan mereka. Namun, untuk mendorong mereka memenuhi janjinya, 
Paulus menegaskan bahwa Tuhan sanggup mencukupi mereka, bukan hanya untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga untuk kebutuhan dalam memberi. Dengan informasi ini, diharapkan jemaat di Korintus tergugah semangat 
dan imannya untuk menyelesaikan janji mereka dalam hal memberi. 
Sementara itu, jemaat di Filipi adalah jemaat yang rela memberi sepenuh hati. Paulus sudah merasakan pemberian mereka. Apa yang dikatakan Paulus disini bukan semata-mata untuk “membalas budi” mereka, 
tetapi ini adalah kebenaran. Baik di PL (U1 15:7-11) maupun di PB (Mat 6:1-4) ditegaskan bahwa Tuhan memang akan membalas perbuatan baik seseorang. Tuhan tidak pernah berhutang kepada siapapun, Tuhan akan 
memberkati orang yang sudah menjadi berkat bagi sesamanya. Maka, layaklah kalau jemaat di Filipi menerima kecukupan dari Tuhan. 

   Kita sudah mendengar dan membaca banyak ayat di Alkitab yang menjelaskan tentang kesanggupan Tuhan memberkati umat-Nya. Namun, apa yang kita dengar dan baca itu bisa menjadi sekadar informasi saja, jika 
kita enggan memberi. Di sekitar kita banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita. Juga banyak hamba-hamba Tuhan sepenuh waktu yang hidup di dalam keterbatasan ekonomi. Mari kita membuka perasaan, hati, 
dan tangan kita untuk memberkati mereka. Dengan demikian kita tidak perlu khawatir akan kebutuhan pribadi kita, maupun untuk memberi kepada sesama, sebab pengharapan kita kepada Tuhan menjadi tidak sia-sia 
adanya.


Disalin dari renungan Manna Sorgawi

Sabtu, 29 Oktober 2011

TIDAK ADA TOLERANSI


Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN. (Imamat 19:16)


   Ketika Shayla McKnight melamar sebuah pekerjaan di sebuah perusahaan percetakan online, ia terkejut ketika mengetahui bahwa perusahaan ini memiliki kebijakan untuk tidak memberikan toleransi terhadap gosip. Para karyawan didorong untuk berbicara langsung kepada teman sekerja mereka jika ada masalah yang timbul daripada menggosipkan mereka. Jika ada karyawan yang ketahuan sedang bergosip, mereka akan diberi peringatan, dan jika mereka terus melakukannya, mereka akan dipecat.

   Lama sebelum kebijakan ini diterapkan oleh sebuah perusahaan, Allah telah menyatakan kebijakan-Nya untuk tidak memberikan toleransi terhadap gosip dan fitnah di antara umat-Nya (Imamat 19:16). Umat dilarang untuk menyebarkan omong kosong berupa gosip atau fakta tentang orang lain yang disebarkan dengan maksud jahat atau mengada-ada.

   Salomo berkata bahwa berkata-kata buruk tentang orang lain dapat memberikan akibat yang berbahaya. Hal ini mengkhianati kepercayaan (Amsal 11:13), menceraikan sahabat yang karib (Amsal 16:28; 17:9), mempermalukan dan membebani Anda dengan reputasi buruk (Amsal 25:9-10), dan secara terus menerus membakar bara api perbantahan (Amsal 26:20-22). Sulit sekali seseorang dapat membalikkan akibat yang merusak yang telah disebabkan oleh kata-katanya yang tidak benar terhadap orang lain.

   Marilah kita meminta Tuhan untuk menolong kita supaya kita tidak terlibat dalam percakapan yang merusak tentang orang lain. Dia ingin supaya kita menjaga lidah sehingga kita hanya akan mengatakan hal-hal yang baik yang kita ketahui mengenai setiap orang.


Disalin dari renungan Santapan Rohani

Jumat, 28 Oktober 2011

MENABUR DAN MENUAI

Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya (Galatia 6:7)

   Prinsip tentang menabur dan menuai dalam Galatia 6:7 ini sering digunakan untuk memperingatkan orang tentang akibat-akibat dari perbuatan buruk yang dilakukannya.
Namun prinsip ini pun dapat dipakai untuk menguatkan orang percaya dalam melayani Kristus.

   Jerih payah dan doa yang dipanjatkan 20 tahun yang lalu tidak akan berlalu begitu saja. Memang mungkin kita tidak dapat melihat langsung hasil karya dan pengorbanan kita sekarang ini, tetapi pada saat semuanya akan nyata dalam keindahan dan kemuliaan.

   “Kasih yang Anda berikan, pengampunan yang Anda tunjukkan, kesabaran dan ketekunan yang dikaruniakan dalam hidup Anda akan menghasilkan buah yang lebat. Orang yang Anda tuntun kepada Kristus mungkin menolak diperdamaikan dengan Allah. Hatinya mungkin terlihat sedemikian kerasnya sehingga doa dan usaha Anda terasa sia-sia belaka. Namun sesungguhnya semua itu tidak akan sia-sia, melainkan akan berhasil pada suatu saat, mungkin sesudah Anda sendiri melupakannya.

   “Biarlah Allah yang menentukan waktu-Nya! Mungkin segala sesuatu berjalan begitu lambat, tetapi yakinlah bahwa segala sesuatu itu pasti ada hasilnya. Ada masa menabur dan musim semi terlebih dulu sebelum tiba saatnya musim menuai dan musim gugur.

   Hal ini senada dengan yang diungkapkan Salomo, “Lemparkan rotimu ke air, maka engkau akan mendapatkannya kembali lama setelah itu” (Pengkhotbah 11:1)

   Tetaplah menabur! Pada waktu-Nya, dan sesuai dengan kehendak-Nya, Allah akan mengirimkan hasil panennya.


Disalin dari renungan warta jemaat GKKK Makassar
Sumber: RH Online


Kamis, 27 Oktober 2011

All We Need Is Just A Little Patience


"agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah." Ibrani 6:12

sabarSambil duduk pagi ini saya mendengar sebuah lagu lawas milik Guns n Roses yang berjudul Patience. Saya tertarik mendengar salah satu bagian lagu itu yang berkata, "All we need is just a little patience.." Apa yang dikatakan bagian ini sesungguhnya benar. Seringkali apa yang menghambat kita bukan hal-hal lainnya tetapi justru kesabaran. Kita cenderung kurang sabar dalam melakukan atau menghadapi sesuatu, dan akibatnya kerugian pun datang, atau malah mungkin juga kita malah menambah masalah lain hanya gara-gara kurang sabar. Maka kesabaran menjadi sebuah kata yang mudah diucapkan tetapi sangat sulit untuk diterapkan. Hampir di setiap lini kehidupan kita bertemu dengan situasi-situasi dimana kesabaran kita harus diuji.


Dalam hal kerohanian pun sama. Ada banyak orang yang sudah berjalan dengan iman. Mereka sudah menerapkan hidup kudus dan mau menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Tetapi ada kalanya apa yang kita harapkan seolah tidak kunjung datang. terutama ketika kita memakai "time frame" atau ukuran waktu yang kita inginkan. Pertanyaannya adalah,ketika anda sudah mencoba berjalan dengan iman tetapi tangan Tuhan terasa tidak kunjung turun untuk melepaskan anda dari berbagai masalah, apa yang akan anda lakukan? Apakah anda akan terus berjalan dengan pengharapan penuh, atau anda akan tergoda untuk menyerah dan putus asa? Sejauh mana tingkat kesabaran anda dalam menanti datangnya jawaban Tuhan?

Setelah kita merenungkan janji-janji Tuhan dan itu tertanam dalam roh dan jiwa kita lewat iman, selanjutnya kesabaranlah yang akan mendorong kita untuk terus bertahan. Percayalah pada suatu ketika kesabaran akan mengantarkan kita kepada sebuah kesimpulan bahwa firman Tuhan tidak pernah gagal.
Ada begitu banyak tokoh dalam Alkitab yang sudah membuktikan bahwa kesabaran mereka akan berbuah manis pada akhirnya, sebaliknya ada banyak pula tokoh yang akhirnya gagal karena ketidaksabaran mereka, meski mereka sudah memulai segala sesuatu dengan baik. Sebaliknya kesabaran akan selalu berbuah manis.

Sangat baik jika kita sudah berjalan dengan firman Tuhan, menerapkan hidup selaras dengan kehendakNya dan mempercayai Tuhan sepenuhnya dalam urusan pemenuhan kebutuhan. Akan tetapi ketika hasil dari itu sepertinya lambat tiba, jangan menyerah apalagi putus asa. Tetaplah bersabar dan gantungkan pengharapan sepenuhnya.Teruslah pegang firman Tuhan dengan kesabaran dan iman. Maka pada suatu ketika nanti, anda akan menerima penggenapan janji Tuhan sebagai sesuatu yang pasti.

Kesabaran dan iman akan sangat menentukan keberhasilan kita

Diedit dari Renungan Harian Online


Rabu, 26 Oktober 2011

Pergunakan Waktu Yang Ada



                                                                        Setelah itu 
Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu
dan mendapati mereka sedang tidur.
Dan Ia berkata kepada Petrus:
"Tidakkah kamu sanggup
berjaga-jaga satu jam dengan Aku?
( Matius 26:40 )

Berapa lama waktu yang kita berikan untuk-Nya ... ?
Berapa lama kita tahan ...
Untuk 'ngobrol' dengan Dia ... ?
Berbicara dan mendengar suara-Nya ... ?

Bukankah kita semua ...
Mendapat waktu yang sama ...
Dua puluh empat jam sehari ... ?

Dan bukankah penggunaan waktu itu ...
Saling memakan ... ?

Semakin banyak kita gunakan waktu ...
Untuk hal yang sia-sia ...
Bukankah waktu untuk-Nya ...
Semakin berkurang ... ?

Tak heran kan ....
Kita yang kelihatan selalu sibuk ...
Tidur sampai larut malam ...
Tapi tak punya waktu untuk-Nya ... ?

Lalu ...
Untuk apakah waktu kita itu ... ?


Tuhan Yesus memberkati.

Dikutip dari Renungan Pagi Joshua Hendro

Selasa, 25 Oktober 2011

Silence Is Golden


"Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" (Mazmur 46:11)

diamMengalami tekanan beban masalah bertubi-tubi akan terasa sangat menyiksa, apalagi jika masalah itu seolah betah tinggal pada kita untuk jangka waktu lama. Belum beres satu masalah, masalah lain datang, perginya pun tidak cepat. Kita bisa gelagapan, kalang kabut, stres atau menjadi sangat labil. Kita marah, kehilangan kontrol, mengamuk, meradang penuh emosi, rasanya ingin memberontak keluar dari keadaan yang sudah terlalu menyesakkan kita. Jangankan masalah, pekerjaan yang menumpuk tak habis-habisnya saja bisa membuat kita kehlangan kontrol diri seperti ini. Ada kalanya saya pun merasakannya disaat tugas-tugas mengalir deras bak air bah menerpa saya. Ada kalanya saya ingin berteriak, "I'm fed up, I need a break!"
Mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang lain, orang-orang yang menyebalkan yang bagai tak punya hati terus mengusik kita, orang-orang yang kita anggap dekat ternyata mengecewakan kita atau malah menusuk dari belakang dan banyak lagi. Di saat seperti ini, ketika anda merasa sangat marah terhadap kondisi yang anda rasakan saat ini kita rawan mengambil tindakan yang salah yang pada suatu ketika bisa kita sesali. Emosi yang tidak terkontrol bisa lepas menerkam orang yang tidak bersalah. Kita pun beresiko mengalami berbagai serangan penyakit jika dibiarkan terus menerus. Setidaknya, sukacita akan hilang dari diri kita. Tidak baik bagi kita sendiri, tidak baik juga buat orang di sekitar kita, padahal mereka tidak salah apa-apa. Ada kalanya pula tekanan-tekanan itu membuat kita tidak lagi sanggup berkata apa-apa. Lidah terasa kelu, kita hanya bisa terdiam membisu karena tidak tahu lagi harus bagaimana. Daud pernah mengalaminya, "Aku kelu, aku diam, aku membisu, aku jauh dari hal yang baik; tetapi penderitaanku makin berat." (Mazmur 39:3). Jika hal-hal seperti ini yang tengah menimpa anda hari ini, mungkin inilah saat yang paling tepat untuk mengambil sebuah tindakan penting. Dari pada terus berteriak, mengeluh, mengaduh, menangis atau malah melakukan tindakan-tindakan yang didasari emosi hinga merugikan diri sendiri dan orang lain, ada baiknya kita memilih untuk melakukan sebaliknya, yaitu memilih untuk diam dan mengingat Bapa, Sang Pencipta yang begitu mengasihi kita.

Sebuah pepatah mengatakan diam itu emas. Silence is golden. Dengan diam itu bisa mencegah kita melakukan kesalahan-kesalahan yang hanya akan menambah masalah. Ambil jeda, berhentilah sebentar, dan diamlah. Lalu ambil momen perenungan dan ajak pikiran dan hati anda kembali mengingat bahwa ada Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu. Masalah mungkin belum selesai, peperangan atau pergumulan masih akan terus berlangsung, tapi ada saatnya kita harus mengambil langkah tersebut sebelum kita mengambil tindakan yang tidak rasional dan hanya dilandasi oleh emosi belaka, dan itu akan lebih baik daripada kita terus merintih, meraung dan menangis tanpa henti.

Dalam situasi sulit, kita mungkin menganggap bahwa semua janji Tuhan dalam Alkitab terasa sangat jauh dari jangkauan kita, atau sangat lambat datangnya. Tapi ingatlah bahwa meski saat ini kita mengalami kekecewaan dari harapan yang belum juga kunjung tercapai, ada saat dimana kita harus menunggu disertai harapan yang tetap menyala.Sementara menunggu, tetaplah pegang janji Tuhan, dan luangkan waktu lebih banyak bukan untuk terus berkeluh kesah dan meratap dalam doa-doa kita, tapi untuk diam dan mendengarkan suara Tuhan lebih lagi. Ambil masa-masa untuk diam sejenak, dan datanglah kepadaNya serta pandanglah wajahNya. Tuhan tidak pernah kekurangan cara untuk melepaskan anda.

Tuhan adalah sumber pertolongan sejati

Diedit dari Renungan Harian Online


Senin, 24 Oktober 2011

Datanglah Kepada-KU



Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya – Yohanes 10:4

Setelah sebuah pesawat yang dibajak menghantam gedung Pentagon pada tanggal 11 September 2001, banyak orang terjebak di dalam gumpalan asap yang tebal dan pekat di dalam gedung tersebut. Petugas polisi Isaac Hoopi berlari k dalam gedung yang penuh asap itu untuk mencari orang-orang yang selamat, dan mendengar orang-orang berseru minta tolong. Ia pun mulai balas berteriak tanpa henti, “Berjalanlah kea rah suara saya! Berjalanlah ke arah suara saya!”

Enam orang yang telah kehilangan arah dalam lorong yang penuh asap itu, mendengar teriakan polisi tersebut dan mengikutinya. Suara Hoopi menuntun mereka keluar dari gedung itu dengan selamat.

Berjalanlah ke arah suara saya!” Undangan itu jugalah yang ditujukan Yesus pada kita semua saat kita berada dalam bahaya atau saat kita tersesat. Yesus menggambarkan gembala rohani yang sejati sebagai seseorang yang “memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunya keluar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya (Yohanes 10:3,4).

Apakah kita mendengarkan suara Yesus saat berdoa dan membaca Alkitab? Saat kita berada dalam situasi yang sulit, apakah kita berjalan menuju pada-Nya ataukah kita meraba-raba dalam gelap?

Yesus adalah “gembala yang baik” (ayat 11). Saat kita membutuhkan tuntunan atau perlindungan, Dia memanggil kita untuk mendengarkan suara-Nya dan mengikuti Dia.


Disalin dari warta jemaat Gereja Kristen Kalam Kudus Makassar
Sumber: www.sabda.org



Minggu, 23 Oktober 2011


CREATING PATIENCE

Amsal 16:32
Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.

Kualitas kesabaran kita diuji sepanjang waktu. Tanpa kesabaran atau dengan kesabaran yang terbatas, kita mudah frustasi. Mengapa? Banyak hal tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Dengan semakin bersabar, kita bisa menerima apa adanya hal-hal yang tidak bisa diubahkan. Seorang penulis pernah membagikan pengalamannya. Ia terbiasa dengan ketenangan saat harus menulis. Tapi suatu kali saat berusaha berkonsentrasi, ia malah mendapatkan orang-orang yang mengganggunya dengan pertanyaan ini dan itu, yang dengan cepat membuyarkan pikirannya pada pokok yang akan ditulisnya.

Seorang penulis yag lain pernah diuji kesabarannya saat mendapati bengkel tempat ia memperbaiki mobilnya tidak dapat menyelesaikan perbaikannya dengan on time. Daripada marah dan mengomel, ia meresponinya dengan sabar. Ia duduk-duduk dan mulai beristirahat santai - sesuatu yang jarang dapat dilakukannya - sambil menunggu mobilnya selesai.

Hidup menyediakan banyak kesempatan praktik kesabaran tanpa perlu disengaja dibuat. Tapi seseorang pernah menawarkan cara memperbesar kesabaran dengan sengaja, dengan menjadwalkan waktu-waktu khusus ‘latihan kesabaran', dengan tujuan akhir menjadi sabar di kebanyakan waktu. Misalnya, "Hari ini saya tidak akan membiarkan diri terganggu dengan apapun. Saya akan sabar." Menyadari bahwa kesabaran adalah sifat istimewa bagi Tuhan akan menolong kita untuk membulatkan tekad melatihnya. Selain itu kesabaran terbukti sebagai salah satu faktor penentu kesuksesan atau malah salah satu bentuk kesuksesan itu sendiri.

Cara memperbesar kesabaran Anda adalah dengan melatih diri Anda hari demi hari.

Dikutip dari Renungan Harian Kita

Sabtu, 22 Oktober 2011

BERDOA


"Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."
 (Yakobus 5:16b)

Dari sosok Elia kita bisa belajar bahwa doa sebagai sarana bagi kita untuk berhubungan dengan Tuhan mampu membawa turunnya berkat melimpah. Selain dijuluki nabi api, Elia juga dikenal sebagai nabi hujan atau the rain maker. Elia hanyalah manusia biasa, sama seperti kita. Tetapi apa yang membedakan adalah kesungguhannya dalam berdoa. Perhatikan apa yang dikatakan Yakobus berikut mengenai Elia. "Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya." (Yakobus 5:17-18). Mari kita beri penekanan pada kata "berdoa", "hujan" dan "buah". Ada banyak dari kita yang terus menerus bekerja tanpa henti, meletakkan pekerjaan atau karir di atas segalanya sehingga menomorduakan bahkan melupakan berdoa sebagai sebuah kewajiban yang harus kita lakukan. Atau mungkin berdoa, tapi berdoa hanya sebatas konteks kebiasaan, rutinitas, dan bukan berasal dari kerinduan hati terdalam untuk mencari dan bersekutu dengan Tuhan karena mengasihi Tuhan. Maka lewat kisah Elia kita bisa belajar untuk tidak melupakan kesungguhan dalam "berdoa", agar "hujan" turun dengan lebat dan membuat kita "berbuah".

Elia bukan Tuhan dan bukan pula dewa. Elia adalah hanya manusia biasa yang sama seperti kita, yang punya kelemahan dan keterbatasan. Seperti kita, ia pun mengalami masa-masa ups and downs, pasang surut dalam perjalanan hidupnya. Tiga tahun enam bulan dikatakan bangsa Israel mengalami paceklik akibat kekeringan. Bayangkan apa yang bisa terjadi jika hujan tidak kunjung turun selama itu. Tanah akan gersang akibat kemarau berkepanjangan, dan bukan saja hasil pertanian, tetapi mungkin untuk minum pun orang sudah sulit pada masa itu. Tetapi lihatlah doa Elia mampu menurunkan hujan yang berlimpah ruah sehingga bumi pun kembali mengeluarkan buahnya. Jika lewat Elia hujan bisa turun, maka hujan itu pun mampu turun atas kita sampai kita mengeluarkan buah, baik dalam pekerjaan, studi, kehidupan maupun pelayanan.

Berdoa dengan sungguh-sungguh yang berasal dari hati akan membuat Tuhan membuka perbendaharaanNya yang melimpah dari Surga untuk menurunkan hujan berkatNya ke atas kita, hujan yang akan membuat bumi termasuk kita di dalamnya sanggup mengeluarkan buah. Selain bekerja, janganlah melupakan untuk berdoa dengan sungguh-sungguh agar Tuhan berkenan melimpahkan hujan berkat dari langit untuk kita.

Diedit dari Renungan Harian Online

Jumat, 21 Oktober 2011

KEPASTIAN


KEPASTIAN

Yeremia 17:5
Beginilah firman Tuhan: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!"

Sejak dulu sampai sekarang salah satu misteri bagi manusia adalah ketidakpastian akan masa depan. Dalam kegelisahannya manusia berusaha mereka-reka kalau-kalau nasib masa depan mereka bisa ditentukan oleh bintang-bintang di langit, atau hari, bulan, dan tahun saat mereka lahir. Atau lewat bola kristal. Singkatnya manusia cenderung mengandalkan dirinya sendiri.

Kepastian apa bagi Musa selama 40 tahun di padang pasir? Setiap hari hanya memandang hamparan pasir hampa, tanpa tahu kapan ini akan berakhir. Kepastian apa bagi Daud ketika hidup sebagai seorang pelarian, yang hidup sehari-hari pun tanpa jaminan, sampai-sampai harus minta roti ke Bait Allah? Kepastian apa bagi Yusuf di penjara bawah tanah di bawah segel Firaun, penguasa negara adikuasa? Secara logika mustahil baginya untuk dapat melihat alam bebas lagi.

Para pahlawan iman di atas telah membuktikan bahwa Tuhan sepenuhnya, di atas segala kekuatan dan kelemahan kita, di atas segala mudah dan sukarnya keadaan. Kepastian pada akhirnya ada dalam genggaman tangan Tuhan, dan jalan ke sana adalah mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Jalan ke sana adalah sepotong iman percaya, bahwa tangan kita sungguh tidak sanggup menggenggam masa depan, hanya tangan-Nya yang sanggup.

Kepastian masa depan Anda sungguh ada, ketika Anda mengandalkan Tuhan sepenuhnya.

Dikutip dari Renungan Harian Kita

Kamis, 20 Oktober 2011


Upgrade Iman

Ezra 7:10 ”Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel."

upgrade imanJika anda orang yang sering atau bahkan rutin mempergunakan komputer atau gadget-gadget elektronik lainnya, anda pasti akan selalu berhadapan dengan pesan update atau upgrade. Apakah itu program atau software, bahkan operating system, aplikasi, hardware dan lain-lain selalu mengeluarkan update-update terbarunya yang dipercaya mampu memberikan performance lebih baik dan tinggi dibanding sebelumnya.

Dalam perjalanan iman kita, hal upgrade ini pun memegang peranan yang sangat penting pula. Dalam banyak kesempatan Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup ini adalah sebuah proses, termasuk pula didalamnya iman kita. Iman kita akan bertumbuh dalam sebuah proses, dimana cepat tidaknya, sehat tidaknya atau baik tidaknya pertumbuhannya akan sangat tergantung dari sejauh mana kita rajin melakukan update, alias terus membaca, merenungkan dan kemudian melakukan atau mengaplikasikan Firman Tuhan. Kita akan melewatkan begitu banyak hal apabila kita tidak tertarik untuk menggali lebih dalam berbagai prinsip-prinsip Kerajaan Allah yang sebenarnya sudah dibuka begitu lebar di dalam Alkitab. Kita akan luput dari pengetahuan akan janji-janji Tuhan dan solusi atas semua permasalahan yang juga telah dinyatakan lengkap di dalam Alkitab. Untuk itu kita perlu sering melakukan update baik dalam hal pengetahuan umum, kepandaian, keahlian dan terlebih iman kita, agar kita bisa bertumbuh lebih baik lagi dari hari ke hari.

Semakin besar tekad kita untuk terus menjadi lebih baik dari hari ke hari maka semakin baik pula kita sebagai anak Allah. Ingatlah bahwa ini tidak berarti kita cukup membaca saja, tetapi harus pula dilanjutkan dengan merenungkan, memperkatakan dan melakukannya dalam hidup kita. Yakobus mengatakan demikian: "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." (Yakobus 1:22). Bagaimana jika tidak? Yakobus lalu memberikan sebuah contoh. "Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya." (ay23-24).

Kita harus mau membuka hati kita untuk terus belajar, jika perlu berubah untuk menuju ke arah yang lebih baik. Ketika kita berpikir bahwa melakukan perubahan itu tidak mudah, maka itu memang menjadi tidak mudah. Lupakan pikiran negatif tersebut, itu tidak akan membawa kita kemanapun. Coba berpikir bahwa bukan kita yang merubah diri kita sendiri, tapi Allah, tetapi itu akan tergantung dari mau atau tidaknya kita membiarkannya terjadi.  Katakan anda dan saya mau, maka niscaya Tuhan sendiri yang akan menuntun kita pada perbaikan diri kita dari hari ke hari.

Diedit dari Renungan Harian Online

Rabu, 19 Oktober 2011


Jangan engkau tinggi hati,
sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu,
yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir,
dari rumah perbudakan,
( Ulangan 8:14 )

Melupakan-Mu ...
Karena tinggi hati ... ?

Ah ...
Rasanya tidak Tuhan ... ?

Tapi ...
Melupakan-Mu ...
Karena hal yang lain ... ?
Mungkin sering aku lakukan ....

Saat aku sibuk ...
Saat aku senang-senang ...
Bahkan saat aku Kau-berkati ...
Sering aku melupakan-Mu ...

Memang bukan lupa berdoa ...
Bukan pula lupa ke gereja ...
Itu tetap aku lakukan ...

Tapi ...
Lupa mempergunakan talentaku ...
Panggilanku ...
Untuk layani pekerjaan-Mu ...

Untuk yang satu itu Tuhan ...
Aku sering absen ...

Ampuni aku Tuhan ...
Aku merasa tak pernah lupakan-Mu ...
Sudah benar ...
Hanya karena selalu ke gereja ...

Tetapi ternyata ...
Masih banyak salah di hadapan-Mu ...

Tuhan Yesus memberkati.

Dikutip dari Renungan Pagi Joshua Hendro

Selasa, 18 Oktober 2011


Roma 6:24b
...supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

Sebuah acara TV yang suka saya tonton adalah tayangan yang berjudul Ambush Makeover. Ada dua orang wanita yang dipilih untuk menikmati 3 jam pemanjaan diri yang dijalani dengan mengubah gaya rambut, rias wajah, dan busana mereka. Sering kali hasilnya adalah suatu perubahan besar. Ketika kedua wanita itu melangkah keluar dari balik tirai, para penonton pun terpesona. Teman-teman dan keluarga mereka terkadang mulai menangis. Setelah semua itu, wanita dengan penampilan baru tersebut akhirnya diperbolehkan bercermin untuk melihat dirinya sendiri. Ada diantara mereka yang begitu terkejut sampai terus-terusan menatap cermin, seolah-olah ingin mencari bukti bahwa yang dilihatnya di cermin itu adalah benar-benar dirinya sendiri.

Ketika para wanita itu berjalan melintasi panggung untuk bergabung dengan orang-orang yang menemani mereka, jati diri mereka yang lama pun terlihat. Banyak di antara mereka yang tidak tahu bagaimana berjalan dengan sepatu baru mereka. Walaupun mereka terlihat cantik, langkah-langkah mereka yang canggung memudarkan pesona mereka. Perubahan mereka belumlah sempurna.

Hal ini juga berlaku dalam kehidupan Kristen kita. Allah telah bekerja di dalam diri kita untuk memberi kita awal yang baru. Namun, berjalan di jalan Tuhan (Ulangan 11:22) membutuhkan waktu, usaha dan banyak latihan. Jika kita hanya diam dan terpaku, orang bisa saja mengira kita sudah berubah. Namun, dari cara kita “berjalanlah” terlihat seberapa jauh kita telah menghidupi perubahan itu. Diubahkan berarti membuang cara hidup kita yang lama dan belajar suatu cara baru untuk menjalani hidup ( Roma 6:4).

PERUBAHAN DALAM PERILAKU DIMULAI DENGAN PERUBAHAN
DALAM HATI

Disalin dari Renungan Harian Santapan Rohani