Kamis, 30 November 2023

Anda Tidak Perlu Takut Gagal


Bacaan Hari ini:

Pengkhotbah 7:20 “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!”


Dalam beberapa kebudayaan, kegagalan hampir merupakan dosa yang tidak dapat diampuni. Itu karena kita terlalu mendewakan kesuksesan, tapi sebenarnya, tekanan seperti itu justru menimbulkan stres yang besar bagi masyarakat.


Ketakutan akan kegagalan punya banyak wajah yang berbeda. Hal itu bisa menyebabkan kita menjadi bimbang, gila kerja, perfeksionis, dan terlalu khawatir dengan keselamatannya. Karena kita takut gagal, walhasil kita menghindari segala macam risiko.


Bagi sebagian besar dari kita, ketakutan akan kegagalan sudah melekat di hati kita. Bahkan beberapa orang terbaik dan terpintar di dunia sekali pun ialah orang-orang yang paling terkena dampak dari rasa takut akan kegagalan. Mereka mungkin terlihat percaya diri, tetapi di dalam hati, mereka lumpuh oleh karena rasa takut.


Itulah mengapa Anda perlu menginternalisasikan satu pesan sederhana ini: Kita semua pernah melakukan kesalahan.


Ini bukan hanya “masalah Anda.” Ini adalah masalah kemanusiaan. Alkitab mengatakan, “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!” (Pengkhotbah 7:20)..


Anda tidak hanya telah melakukan kesalahan di masa lalu, tetapi Anda juga akan melakukan lebih banyak kesalahan di masa depan. Saya jamin itu. Bahkan, bermain aman dan menolak untuk mengambil resiko  juga adalah kesalahan!


Sebagai seorang pendeta, banyak orang selalu bertanya kepada saya, “Bagaimana jika saya gagal?” Saya ingin bertanya kepada mereka, “Apa maksud Anda “jika?”


Anda telah gagal berkali-kali dalam kehidupan. Begitu pula saya. Dan Anda akan gagal lagi dan lagi di hari-hari mendatang. Bahkan para superstar pun pernah tersandung. Pemain bola basket terhebat di NBA hanya memasukkan bola setengah dari biasanya. Bahkan, aktor paling terkenal di dunia pun tidak selalu membuat film blockbuster. Kegagalan ialah hal yang wajar.


Alkitab mengatakan hanya ada satu kegagalan yang perlu Anda takuti: “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang” (Ibrani 12:15).


Anda membutuhkan kasih karunia. Kita semua!


Ketika kita melepaskan rasa takut akan kegagalan atau akan ketakutan, kita akan melepaskan cengkeramannya yang menjengkelkan itu dalam hidup kita. Hanya dengan seperti itu, barulah kita bisa menerima rahmat Allah.


Renungkan hal ini: 

- Bidang apa dalam hidup Anda yang paling Anda takuti akan kegagalan?

- Bagaimana ketakutan Anda akan kegagalan menghalangi Anda untuk mengambil resiko yang penting dalam hidup Anda?

- Bagaimana Anda dan seorang teman dapat saling menyemangati dalam melaksanakan rancangan Tuhan bagi Anda tanpa takut gagal?


Anda tak akan pernah bisa mengatasi rasa takut Anda akan kegagalan sampai Anda sepenuhnya menerima kenyataan bahwa Anda tidak sempurna.


(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)



Rabu, 29 November 2023

“Itu Bukan Urusanmu”


Ketika Petrus ... berkata kepada Yesus: “Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?” Jawab Yesus: “... itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.” — Yohanes 21:21-22


Salah satu pelajaran yang paling sulit untuk dipelajari berasal dari kedegilan hati kita untuk menolak menahan diri dari mencampuri urusan kehidupan orang lain. Diperlukan waktu lama untuk menyadari bahayanya menjadi seorang yang “sok peduli”, yang menghalangi rencana Allah bagi orang lain. Anda melihat seseorang menderita, lalu berkata, “Dia tidak akan menderita, dan aku akan memastikan agar ia tidak menderita.” Anda menempatkan tangan Anda tepat di depan kehendak Allah untuk menghalanginya, kemudian Allah berkata, “Itu bukan urusanmu!” Apakah ada kemandekan atau stagnasi dalam kehidupan rohani Anda? Jangan biarkan hal ini berlangsung terus, tetapi masuklah ke hadirat Allah dan cari tahu penyebabnya. Mungkin penyebabnya adalah karena Anda telah mencampuri kehidupan orang lain -- mengusulkan sesuatu yang sebenarnya bukan hak Anda mengusulkannya, atau menasihati saat Anda tidak berhak untuk menasihati. Bila Anda memang harus memberi nasihat kepada orang lain, biarlah Allah yang menasihati melalui Anda dengan pemahaman langsung dari Roh Kudus-Nya. Bagian Anda adalah memelihara hubungan yang benar dengan Allah sehingga hikmat-Nya dapat datang melalui Anda secara terus-menerus untuk tujuan berkat bagi orang lain.


Sebagian besar dari kita hidup dalam batas kesadaran -- dengan sadar melayani dan mengabdi kepada Allah. Hal ini menunjukkan ketidakdewasaan dan kenyataan bahwa kita belum menghayati kehidupan Kristen yang sesungguhnya. Kedewasaan dihasilkan dalam hidup seorang anak Tuhan pada tingkat bawah sadar (unconscious level), yaitu kita benar-benar seutuhnya menyerah kepada Allah sehingga kita bahkan tidak sadar sedang dipakai oleh Tuhan. Bila kita secara sadar mengetahui bahwa kita sedang dipakai sebagai roti yang dipecahkan dan anggur yang dicurahkan, ada satu tingkat lagi yang harus dicapai -- tingkat tempat semua kesadaran diri dan apa yang Allah kerjakan melalui kita ditiadakan. Seperti dikatakan, a saint is never consciously a saint; a saint is consciously dependent on God -- Seorang kudus tidak pernah menyadari bahwa ia seorang kudus; seorang kudus adalah dia yang senantiasa sadar bergantung kepada Allah.


Sumber: Renungan Oswald Chambers

Selasa, 28 November 2023

KEBENARAN YANG MENGUBAH


Bacaan: Yohanes 21:14-17


NATS: Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia dibangkitkan dari antara orang mati (Yohanes 21:14)


Kebenaran tetaplah kebenaran walaupun kebenaran tersebut tidak langsung berdampak pada kehidupan kita. Akan tetapi, kebenaran Allah tidak saja membuka pintu surga bagi kita, tetapi juga akan mengubah kehidupan kita. 


Ron Sider, penginjil tersohor yang membela kaum papa, bercerita tentang perbincangannya dengan Wolfhart Pannenberg, seorang teolog Jerman. Ketika mereka berdiskusi tentang kebangkitan Yesus Kristus dari kematian, teolog tersebut berkata, "Bukti kebangkitan Yesus sangatlah kuat, sehingga tidak ada seorang pun yang akan mempertanyakannya, kecuali tentang dua hal ini: Pertama, kebangkitan ini adalah kejadian yang luar biasa atau yang kedua, jika kita memercayai apa yang telah terjadi, maka kita harus sungguh-sungguh mengubah cara hidup kita." 


Kalimat di atas benar-benar penuh tantangan. Jika kita percaya bahwa Yesus bangkit, maka keyakinan ini memerintahkan kita untuk mengubah hidup. Kehidupan Petrus berubah drastis ketika ia menyaksikan kebangkitan Tuhan. Dari seorang murid yang keras hati, yang menyangkal bahwa ia mengenal Tuhan saat Yesus ditangkap, ia berubah menjadi saksi yang berani untuk Tuhan (Yohanes 18: 17,25,27; Kisah Para Rasul 2:14-36). 


Apakah kebangkitan Tuhan telah mengubah hidup Anda? Apakah tujuan dan prioritas Anda menjadi berbeda dari yang semula? Apakah Anda menjadi lebih baik, lebih sabar, dan lebih bersedia memaafkan? Mintalah petunjuk dari Allah apa yang Dia ingin untuk Anda lakukan, kemudian bekerja samalah dengan-Nya untuk membuat perubahan itu --VCG 


KEKUATAN YANG ALLAH PAKAI UNTUK MEMBANGKITKAN YESUS DARI MAUT ADALAH KEKUATAN YANG JUGA BERKARYA DALAM DIRI ANDA


Sumber: Renungan Harian

Senin, 27 November 2023

Debu Saja


Bacaan Alkitab hari ini:Yesaya 29


Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita menemukan sebuah istilah yang mungkin asing bagi kita, yaitu Ariel, sebutan untuk Yerusalem. Dalam Alkitab, nama ini hanya muncul di kitab Yesaya dan kitab Ezra. Dalam Ezra 8:16, Ariel adalah nama salah seorang imam. Apakah arti kata Ariel? Secara literal, Ariel berarti Singa Allah, sebuah nama luar biasa yang menggambarkan kekuatan, kegagahan, dan kebesaran Yerusalem sebagai kota pusat kegiatan rohani. Dalam kitab Yesaya, sebutan Ariel tampaknya merupakan sindiran bagi Yerusalem. 


Di pasal 28, penduduk dan petinggi di Yerusalem meyakini bahwa mereka tidak akan hancur, meskipun mereka mengalami penghukuman atas dosa-dosa mereka. Di pasal 29 ini, mereka menganggap diri mereka kuat dan gagah perkasa seperti singa. Mereka begitu yakin dan percaya diri. Selain itu, mereka tinggal di kota tempat Daud berkemah (29:1). Mereka meyakini bahwa warisan yang ditinggalkan Daud akan menghindarkan mereka dari murka Allah. Oleh karena itu, mereka tetap melaksanakan perayaan demi perayaan, mabuk, dan memuaskan hawa nafsu. Mereka sama sekali tidak takut akan TUHAN karena merasa aman dan kuat.


Namun, TUHAN akan menyesakkan mereka (29:2). Ia akan memerangi Yerusalem (29:3), dan merendahkan mereka sampai ke dalam tanah (29:4). Ketika hal itu terjadi, Yerusalem tidak lagi dapat berkata-kata dalam kepongahan. Tidak ada lagi suara kesombongan mereka, yang ada hanya bisikan dari dalam debu (29:4). Mereka merasa begitu kuat dan gagah, namun ternyata mereka hanya debu saja! 


Ternyata Yerusalem begitu rapuh dan lemah. Kesombongan mereka membuat kejatuhan mereka lebih menyakitkan. Namun, di tengah kondisi Ariel yang sudah direndahkan seperti debu, Allah memerangi bangsa-bangsa yang Ia pakai untuk mengalahkan Ariel. Mereka menghadapi TUHAN Semesta Alam dalam guntur, gempa dan bunyi dahsyat, dalam puting beliung dan badai, dalam nyala api yang memakan habis. Dalam sekejap, mereka lenyap seperti abu halus (29:5-6). Di tengah kondisi terpuruk, Allah memberikan anugerah kepada Yerusalem. Ia memerangi bangsa-bangsa yang mengalahkan mereka. Mereka juga tidak habis lenyap. Ada orang-orang tersisa yang tidak dimusnahkan.


Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk menyadari siapa diri kita di hadapan Allah. Meskipun kita memiliki jabatan, kekayaan, kemampuan, kita hanya debu saja. Jangan sampai ketika kita berhasil dan orang-orang memuji kita, kita menjadi pongah, merasa begitu percaya diri, dan tidak lagi hidup takut akan TUHAN. Sudahkah Anda menyadari bahwa Anda hanya debu saja? [GI Wirawaty Yaputri]


Sumber: Renungan GKY

Minggu, 26 November 2023

Buka Dulu Topengmu!


Bacaan: Matius 23:1-36


Jawab-Nya kepada mereka: ”Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.- Markus 7:6


Secara sederhana, kemunafikan mempunyai pengertian berpura-pura percaya atau setia tetapi sebenarnya dalam hatinya tidak. Kemunafikan selalu berbicara tentang menghidupi hidup yang berbeda antara perbuatan dan perkataan. Orang yang munafik juga sering disebut orang yang bermuka dua atau orang yang suka memakai topeng untuk menutupi keaslian diri.


Tuhan Yesus mengecam orang-orang Farisi yang hidup dalam kemunafikan. Mereka adalah kelompok orang-orang beragama yang dihormati oleh masyarakat Yahudi. Mereka sangat mengerti tentang kebenaran Taurat. Namun, yang menarik adalah justru kepada kelompok inilah Tuhan mengecam dan menegur keras karena perkataan dan cara hidup mereka bertentangan dan berbeda dengan apa yang diajarkan firman Tuhan. Orang-orang Farisi menetapkan peraturan-peraturan agama yang berat, tetapi tidak menolong umat untuk menjalankannya (ay. 4). Mereka melakukan kegiatan dan mengenakan jubah-jubah agamawi agar dipandang umat (ay. 5). Mereka juga suka duduk di tempat terhormat di rumah-rumah ibadat atau tempat terbaik di acara-acara perjamuan (ay. 6). Dan masih banyak lagi teguran yang Tuhan Yesus sampaikan mengenai mereka.

Orang-orang Farisi suka memakai “topeng” untuk menyelubungi kelicikan, ketidaktulusan, dan kejahatan hati mereka. Mereka tidak menghidupi kehidupan yang jujur dan otentik di hadapan Tuhan. Mereka menipu orang lain dan bahkan diri mereka sendiri dengan memakai “topeng” agamawi. Orang-orang Farisi merasa sebagai orang yang paling benar di hadapan Allah. Mereka melupakan satu hal bahwa Tuhan tidak bisa ditipu dengan “topeng” yang mereka pakai. Tuhan mengetahui kedalaman hati mereka. Tuhan menuntut supaya mereka “beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.” (1Taw. 28:9b).


Saudaraku yang kekasih, kemunafikan selalu membuat orang tidak dapat hidup secara jujur di hadapan Tuhan. Kemunafikan bagaikan sebuah penyakit “kanker” yang jika tidak dihancurkan akan merusak keotentikan hidup kita di hadapan Tuhan. Tuhan Yesus suka dengan orang-orang yang jujur dengan keberadaannya dan itu adalah titik awal yang mengubahkan kita menjadi pengikut-pengikut Kristus yang sejati. Bukalah “topeng” Anda dan jadilah diri Anda sendiri maka Yesus akan mengubahkan kita semakin serupa dengan-Nya.


Refleksi Diri:

Apa hal-hal yang membuat Anda susah untuk terbuka dan otentik? 


Apakah Anda sudah meminta Tuhan Yesus menyelidiki dan mengubahkan hati Anda?


Apa komitmen yang ingin Anda ambil agar bisa hidup tanpa mengenakan “topeng” di hadapan Tuhan?


Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Sabtu, 25 November 2023

Senantiasa Bersyukur


Bacaan: 1 Tesalonika 5:12-22


Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.- 1 Tesalonika 5:18


Matthew Henry, seorang penafsir Alkitab, suatu kali menjadi korban perampokan. Responsnya terhadap kejadian tersebut sangat mengejutkan. Ia menulis, “Aku bersyukur tidak sering dirampok, dan ini adalah pertama kalinya aku dirampok. Bersyukur aku dirampok dan bukan perampok. Aku bersyukur yang dirampok hanya barang bukan nyawa.”


Pada umumnya, orang akan lebih mudah untuk bersyukur dalam kondisi semuanya lancar dibandingkan dalam kesusahan. Kenyataannya tidaklah demikian. Manusia sangat mahir untuk menemukan hal-hal yang tidak memuaskan dirinya dalam setiap berkat yang diterimanya. Misalnya, seorang anak ketika lapar membayangkan makanan enak. Ketika mendapatkan makanan, ia sangat berterima kasih. Namun, setelah mencicipi sedikit makanannya ia mulai mengeluh, “Makanan apa ini? Tidak enak, aku tidak suka. Aku tidak mau makan!”


Rasul Paulus mengajarkan bahwa bersyukur merupakan kehendak Tuhan bagi anak-anak-Nya. Kebenaran ini sangatlah penting, mengingat biasanya orang memahami bersyukur sebagai sebuah respons terhadap keadaan positif yang terjadi di dalam hidup. Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa bersyukur bukan hanya sebuah tindakan yang kita lakukan, tetapi merupakan pernyataan siapa diri kita di hadapan Tuhan. Positif atau negatif keadaan yang sedang kita alami, bersyukur merupakan respons yang harus keluar dari dalam diri kita, para murid Kristus. Bukan karena kita mampu dan mau, melainkan karena bersyukur adalah kehendak Tuhan bagi kita. Tuhan ingin anak-anak-Nya dikenal melalui hidup yang senantiasa bersyukur di dalam semua keadaan.


Bersyukur harus dipelajari dan diusahakan. Ini bukanlah kecenderungan alami manusia. Kita harus melatih kepekaan melihat rencana baik Tuhan dalam keadaan lancar maupun tidak. Kita harus bersyukur tanpa melihat ke bawah sambil tertunduk lesu, tetapi lihatlah ke atas sambil mengucapkan puji syukur ke takhta Allah di surga.


Renungkanlah setiap pemberian ajaib-Nya di masa lalu dalam kehidupan kita. Dalam keadaan paling kurang sekalipun, kita tetap melimpah karena telah memiliki Kristus Yesus, berkat terbesar dari kasih Allah. Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya (Mzm. 136:1).


Refleksi Diri:

Apakah ada hal-hal yang membuat Anda sulit bersyukur kepada Tuhan?


Apa karya-karya Allah dalam hidup Anda semenjak kecil hingga saat ini? Bagaimana Anda dapat mengucap syukur atas karya-karya tersebut?


Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Jumat, 24 November 2023

Selembar Kartu Nama dan Doa


Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada Tuhan. –2 Raja-raja 20:2


Ayat Bacaan & Wawasan:

2 Raja-raja 20:1-7


Wanita yang baru menjanda itu semakin cemas. Untuk dapat melakukan klaim asuransi jiwa dan memperoleh dananya, ia membutuhkan informasi penting tentang kecelakaan yang merenggut nyawa suaminya. Ia sudah berbicara dengan seorang petugas polisi yang berkata akan membantunya, tetapi wanita itu kehilangan kartu nama petugas itu. Jadi ia pun berdoa untuk memohon pertolongan Allah. Tak lama kemudian, ketika berada di gereja dan melewati sebuah jendela, ia melihat selembar kartu—kartu nama polisi tadi—tergeletak di ambang jendela. Ia tidak tahu bagaimana kartu itu bisa ada di sana, tetapi ia tahu alasannya.


Wanita itu memperlakukan doa dengan serius. Bukankah sudah seharusnya demikian? Kitab Suci berkata bahwa Allah mendengarkan permintaan kita. Petrus menulis, “Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong” (1 Ptr. 3:12).


Alkitab memberi banyak contoh tentang cara Allah menanggapi doa umat-Nya. Salah satunya adalah Hizkia, raja Yehuda, yang jatuh sakit. Ia sudah menerima kabar dari Nabi Yesaya yang mengatakan bahwa ia akan mati. Raja tahu apa yang harus dilakukan: ia “berdoa kepada Tuhan” (2 Raj. 20:2). Allah langsung memberi tahu Yesaya agar menyampaikan kepada raja pesan dari-Nya: “Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu” (ay. 5). Allah pun memperpanjang hidup Hizkia lima belas tahun lagi.


Allah tidak selalu menjawab doa-doa kita dengan cara seperti kartu nama di jendela tadi, tetapi Dia meyakinkan kita bahwa ketika kesulitan muncul, kita tidak perlu menghadapinya seorang diri. Allah melihat kita, dan menyertai kita—doa-doa kita didengarkan-Nya.​​


Oleh:  Dave Branon


Renungkan dan Doakan

Hal-hal apa saja yang paling Anda khawatirkan? Bagaimana Anda dapat menyerahkan semua itu kepada Allah, dengan memohon pimpinan dan pertolongan-Nya?


Ya Bapa, terima kasih, Engkau selalu hadir dan mendengar doa-doaku.


Sumber: Our Daily Bread

Kamis, 23 November 2023

Sepatu Bot Keberuntungan

Aku ini Tuhan, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain. –Yesaya 42:8

Ayat Bacaan & Wawasan:
1 Samuel 4:1-11

Seketika saja, Tom merasakan bunyi “klik” yang mengerikan di bawah sepatu bot tentaranya. Spontan ia langsung melompat setinggi dan sejauh mungkin. Perangkat mematikan yang tersembunyi di bawah tanah itu tidak meledak. Belakangan, tim penjinak bom menarik keluar dari tanah bahan peledak seberat tiga puluh enam kilogram di tempat itu. Tom terus memakai sepatu bot itu sampai benar-benar rusak. “Ini sepatu keberuntunganku,” begitulah ia menyebutnya.

Tom mungkin terus mengenakan sepatu bot itu untuk mengenang bagaimana ia pernah nyaris kehilangan nyawanya. Namun, orang-orang sering jatuh pada anggapan bahwa sebuah benda bisa “membawa keberuntungan” atau bahkan dengan label rohani, “membawa berkat”. Sungguh berbahaya apabila kita menganggap sebuah objek—bahkan sebuah simbol—sebagai sumber dari berkat Allah.

Bangsa Israel menyadari hal itu lewat cara yang pahit. Tentara Filistin baru saja mengalahkan mereka dalam pertempuran. Saat mengevaluasi kekalahan itu, mereka terpikir untuk membawa serta “tabut perjanjian Tuhan” dalam pertempuran berikutnya supaya mereka menang (1 Sam. 4:3). Kedengarannya gagasan itu baik (ay. 6-9), mengingat tabut perjanjian itu adalah benda suci.
Namun, perspektif bangsa Israel sungguh keliru. Tabut itu sendiri tidak dapat memberikan kekuatan apa pun. Karena mengandalkan sebuah objek daripada mempercayai satu-satunya Allah yang sejati, bangsa Israel kalah semakin telak, bahkan musuh mereka berhasil merebut tabut itu (ay. 10-11).

Memang tidak salah untuk memiliki benda-benda yang mengingatkan kita untuk berdoa atau berterima kasih kepada Allah atas kebaikan-Nya. Namun, hal-hal tersebut tidak pernah menjadi sumber berkat, karena berkat hanya datang dari tangan Allah.

Oleh:  Tim Gustafson

Renungkan dan Doakan
Bagaimana cara Anda membuktikan bahwa Anda beriman kepada Allah?

Saat menghadapi krisis, apa yang Anda andalkan untuk menolong Anda?

Bapa terkasih, ampunilah aku, ketika aku tergoda untuk mengandalkan apa pun selain Engkau.

Sumber: Our Daily Bread

Rabu, 22 November 2023

Mengasihi lewat Doa


Doakanlah orang yang jahat terhadapmu. –Lukas 6:28 (BIS)


Ayat Bacaan & Wawasan:

Lukas 6:27-31


Selama bertahun-tahun, John dikenal sebagai orang yang menjengkelkan di gerejanya. Ia mudah marah, suka menuntut, dan sering bersikap kasar. Ia selalu mengeluh tidak “dilayani” dengan baik dan bahwa para relawan serta staf gereja tidak becus dalam melakukan tugas mereka. Jujur saja, ia orang yang sulit untuk dikasihi.


Jadi, ketika mendengar bahwa John didiagnosis menderita kanker, tidak mudah bagi saya untuk mendoakan beliau. Ingatan tentang ucapannya yang kasar dan perilakunya yang tidak menyenangkan memenuhi pikiran saya. Namun, saat mengingat seruan Yesus untuk mengasihi sesama, saya merasa tergerak untuk memanjatkan doa sederhana untuk John setiap hari. Setelah beberapa hari berdoa, saya menyadari bahwa sifat-sifat John yang membuatnya kurang disukai itu mulai lenyap dari pikiran saya. Pasti ia sangat kesakitan dan mungkin juga merasa terpukul saat ini, pikir saya.


Saya menyadari bahwa doa berarti membuka diri kita, perasaan kita, dan hubungan kita dengan orang lain kepada Allah. Doa mengizinkan Allah masuk dan menolong kita memiliki sudut pandang-Nya. Saat kita menyerahkan kehendak dan perasaan kita kepada-Nya di dalam doa, Roh Kudus bekerja mengubah hati kita, perlahan tetapi pasti. Tidak heran perintah Yesus agar kita mengasihi musuh kita terkait erat dengan seruan untuk berdoa: “Doakanlah orang yang jahat terhadapmu” (Luk. 6:28 BIS).


Harus diakui, saya masih bergumul untuk memikirkan hal-hal baik tentang John. Namun, oleh pertolongan Roh Kudus, saya belajar untuk memandang dirinya dengan sudut pandang dan hati Allah—bahwa ia adalah orang yang layak diampuni dan dikasihi.

Oleh:  Leslie Koh


Renungkan dan Doakan

Mengapa penting mendoakan orang yang sulit dikasihi dalam hidup Anda? Apa yang dapat Anda doakan untuk mereka?


Allah Mahakasih, Engkau mengerti bagaimana perasaanku terhadap orang-orang yang menyakiti atau menjengkelkanku. Berilah aku hati seperti hati-Mu yang penuh rahmat dan belas kasih, supaya aku rela berdoa bagi mereka, yang juga Engkau kasihi.


Sumber: Our Daily Bread

Selasa, 21 November 2023

Sebatas Omongan


Bacaan: YAKOBUS 1:19-27


Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. (Yakobus 1:22)


Dua pria terlibat perang mulut dengan perkataan kotor dan kasar karena mobil mereka saling menyerempet tanpa sengaja. Tragisnya itu terjadi di tempat parkir gereja selesai ibadah Minggu, setelah mendengarkan khotbah tentang kasih dan pengampunan. Mengapa bisa terjadi? Alkitab mengingatkan, "Ia memandang dirinya lalu pergi dan segera lupa bagaimana rupanya" (ay. 24).


Kata "hendaklah" pada nas di atas merupakan perintah Tuhan yang memerlukan upaya dan perjuangan kita untuk menaatinya, bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya tanpa upaya. Allah menghendaki kehidupan kita berjuang melakukan firman, tidak berhenti hanya mendengar dan mencatatnya saja. Hati yang lemah lembut yakni hati yang mudah diajar, bersedia menerima teguran dan nasihat adalah kunci untuk menjadi pelaku firman (ay. 21). Sehingga semakin mengenal kebenaran, semakin kita berusaha melakukannya.


Sering kali kita membaca firman Tuhan dengan sikap hati dan pikiran yang keras, tidak bersedia diubah. Ada penghakiman terhadap orang lain, tidak murah hati, membangun kubu pembenaran diri sendiri, perkataan kotor, kekhawatiran dan ketakutan. Kita harus berjuang membereskan hal-hal demikian agar hati kita menjadi tanah yang subur untuk firman itu bertumbuh dan berbuah. Bukan berapa banyak firman yang kita catat atau ketahui, namun berapa banyak kita hidup dalam ketaatan di dalamnya. Sehingga kita tidak hanya sebatas omongan atau "omdo" alias omong doang, tapi kita benar-benar menjadi pelaku firman. --AWS/www.renunganharian.net


KUASA ALLAH BEKERJA SAAT KITA MELAKUKAN FIRMAN TUHAN, BUKAN SAAT KITA MENDENGAR ATAU MENCATAT SAJA.

Senin, 20 November 2023

BUKAN MAKANAN CEPAT SAJI


Bacaan: Mazmur 119:9-24


NATS: Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu dan mengamat-amati jalan-jalan-Mu (Mazmur 119:15)


Saya suka melihat sapi-sapi yang berbaring di padang sambil memamah biak. Apakah yang dimaksud dengan memamah biak itu? Dan mengapa mereka menghabiskan begitu banyak waktu untuk mengunyahnya? 


Pertama-tama, sapi memenuhi perut mereka dengan rumput dan makanan lain. Lalu mereka bersantai dan mengunyah rumput sampai tuntas. Mereka mengeluarkan kembali makanan dari perut dan mengunyah lagi makanan yang telah mereka makan itu, menyerap gizi yang terkandung di dalamnya, dan mengubahnya menjadi susu. Apakah ini menghabiskan waktu? Ya. Apakah ini membuang waktu? Tidak, jika mereka ingin menghasilkan susu yang baik. 


Frasa “memamah biak” digunakan untuk menjelaskan proses perenungan. Penulis Mazmur 119 dengan jelas melakukan pengunyahan secara mental sewaktu ia membaca firman Allah. Tidak ada makanan cepat saji baginya! Jika kita mengikuti teladannya dalam membaca Alkitab secara hati-hati dan disertai doa, kita akan: 


• dikuatkan melawan dosa (ayat 11); 

• menemukan kesukaan untuk belajar lebih banyak tentang Allah (ayat 15,16); 

• menemukan kebenaran rohani yang ajaib (ayat 18); dan 

• menemukan nasihat bijak untuk keseharian hidup (ayat 24). 


Perenungan itu lebih dari sekadar membaca Alkitab dan memercayainya. Merenungkan berarti menerapkan ayat-ayat Alkitab dalam kehidupan sehari-hari. 


Firman Allah tidak dimaksudkan untuk menjadi makanan cepat saji. Jangan tergesa-gesa mengunyahnya hingga tuntas -JEY 


UNTUK MENJADI ORANG KRISTIANI YANG SEHAT 

JANGAN MEMPERLAKUKAN ALKITAB SEBAGAI MAKANAN RINGAN


Sumber: Renungan Harian

Minggu, 19 November 2023

JAWABAN MENGEJUTKAN


Bacaan: 1 Yohanes 3:16-23


NATS: Dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari Dia, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan melakukan apa yang berkenan kepada-Nya (1 Yohanes 3:22)


Saat ibu Josh McDowell meninggal, Josh tidak yakin apakah ibunya telah menerima keselamatan. Ia pun menjadi depresi. Apakah ibunya sudah menerima Kristus? Sebab itu ia kemudian berdoa, "Tuhan, tolong berilah aku jawaban sehingga aku dapat merasa tenang. Aku harus tahu hal ini." Sepertinya doa ini adalah permintaan yang mustahil. 


Dua hari kemudian, Josh pergi ke pantai dan berjalan sendirian sampai ke ujung dermaga. Di sana ada seorang wanita tua yang sedang duduk di kursi sambil memancing. "Dari mana asalmu, Nak?" tanya si wanita. "Michigan -- Union City," jawab Josh. "Memang belum banyak yang pernah mendengar nama daerah tempat tinggal saya itu. Daerah tersebut berada di pinggiran ...." "Battle Creek?" potong si wanita tua. "Saya punya saudara sepupu di sana. Apakah kau mengenal keluarga McDowell, Nak?" 


Josh terhenyak. Ia kemudian menjawab, "Ya, saya adalah Josh McDowell." "Oh, saya tidak percaya hal ini!" kata wanita itu. "Saya adalah saudara sepupu ibumu." "Apakah Anda ingat bagaimana kehidupan rohani ibu saya?" tanya Josh. "Tentu saja. Saya dan ibumu masih kecil waktu ada seorang penginjil berkhotbah di gereja di kota kami. Kami berdua maju ke altar untuk menerima Kristus." "Puji Tuhan!" seru Josh begitu keras sampai mengagetkan para pemancing yang ada di sekelilingnya. 


Allah berkenan memberikan apa yang kita minta sesuai dengan kehendak-Nya. Jangan menyepelekan keinginan Allah untuk menjawab doa-doa kita. Barangkali Anda akan menerima jawaban yang mengejutkan sebentar lagi --DJD 


JIKA ANDA YAKIN KEPADA ALLAH MAKA ALLAH AKAN MEYAKINKAN ANDA


Sumber: Renungan Harian

Sabtu, 18 November 2023

SABAT

[[Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, ... berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya. ]] (Kejadian 2:3) 

Kita ciptakan kartu kredit yang bikin dilema 
Menghabiskan uang yang tak kita punya 
Membeli tanpa pikir jadi gaya hidup kita 
Ke mal setiap Minggu untuk berbelanja 

Tahun 2003, Shania Twain merilis sebuah lagu berjudul Ka-Ching yang meraih sukses besar di Eropa. Lirik lagu tersebut, yang sebagian terjemahannya ada di atas, merupakan kritik sosial terhadap budaya konsumerisme yang terus menanjak sejak tahun 2000 sehingga muncul jargon bahwa mal telah menjadi gereja baru. Bagaimana dengan kita? Apakah hari Minggu juga telah kehilangan makna sakralnya bagi kita? 

Dalam Perjanjian Lama, hari Sabat (kini Minggu) adalah hari yang dikuduskan. Tentu saja ketika Tuhan memutuskan untuk berhenti pada hari ketujuh, hal itu bukan karena lelah, melainkan karena Dia menandai akhir sebuah pekerjaan yang sangat baik. Bagi umat Israel sendiri, hari Sabat sangat berharga. Perhentian yang bersifat sementara ini memberi makna, yakni bahwa umat Tuhan kelak juga akan masuk ke tempat perhentian kekal bersama-Nya. 

Sayangnya, kita kerap berhenti pada hari Minggu karena “lelah”. Setelah lelah bekerja selama sepekan, akhirnya hari Minggu menjadi momen kita pergi dari satu mal ke mal lainnya seusai beribadah di gereja pada pagi hari. Tentu tak salah menikmati hasil jerih payah setelah seminggu bekerja, tetapi marilah kita tambahkan perenungan yang lebih pada hari perhentian ini sehingga tidak berlalu begitu saja (Olivia Elena Hakim)

Sumber: Amsal Hari Ini

Jumat, 17 November 2023

Percaya Hanya Kepada Allah


Bacaan Alkitab hari ini:

Yesaya 18


Etiopia adalah salah satu bangsa yang cukup kuat pada zaman Nabi Yesaya. Ia berhasil menaklukkan Mesir dan berkuasa dari tahun 715-633 SM. Etiopia menjadi bangsa yang bersaing dengan Asyur pada waktu itu. Yehuda—yang dalam kondisi jauh dari Tuhan—berada di antara kedua bangsa yang sedang bersaing tersebut. Etiopia berusaha mencari kekuatan tambahan dari bangsa-bangsa lain untuk melawan Asyur. Mereka mengirim duta-duta dan mengajak Yehuda untuk bersatu melawan Asyur. (18:2, "yang mengirim duta-duta melalui laut dengan perahu-perahu pandan yang mengarungi permukaan air!"). Tidak mengherankan jika Yehuda mencoba bekerja sama dengan Etiopia untuk melawan Asyur.


Namun, Allah—sebagai Pemilik Yehuda—berfirman bahwa Ia akan berdiam diri di tempat kediaman-Nya, "Aku akan menjenguk dari tempat kediaman-Ku dengan tidak bergerak,..." (18:4, TB1). Artinya, Allah tidak menerima tawaran kerja sama dari Etiopia. Allah tidak membutuhkan bantuan Etiopia untuk mengalahkan Asyur, "Sebab sebelum musim buah, apabila waktu berbunga sudah berakhir, dan gugusan putik menjadi buah anggur yang hendak masak, maka TUHAN akan mengerat ranting-rantingnya dengan pisau pemangkas, dan menyisihkan carang-carangnya dengan memancungnya. Semuanya itu akan ditinggalkan bertumpuk-tumpuk bagi burung-burung buas di pegunungan, dan bagi binatang-binatang di hutan. Pada musim panas burung-burung buas akan bermukim di situ dan segala binatang hutan pada musim dingin." (18:5-6). Firman Tuhan tersebut menjelaskan bahwa Allah sendiri yang akan menghadapi Asyur dan mengalahkan mereka.


Di pasal 18 ini, tidak ada nubuat penghukuman terhadap Etiopia. Melalui nubuat yang disampaikan tentang Etiopia, Allah mengingatkan Yehuda bahwa mereka tidak perlu bekerja sama dengan bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka memiliki Allah Pencipta langit dan bumi yang sanggup melakukan apa saja sesuai dengan kehendak-Nya. Bangsa Etiopia dinubuatkan akan datang untuk menyembah Allah di Gunung Sion (18:7). Nubuat ini digenapi di Kisah Para Rasul 8:26-40 saat seorang Sida-sida dari Etiopia datang ke Yerusalem untuk beribadah kepada Allah. Pemberitaan Filipus membuat sida-sida itu percaya kepada Yesus Kristus. Di Etiopia, gereja-gereja berkembang sejak abad pertama. Sampai sekarang, kekristenan masih kuat di Etiopia. Syukur kepada Allah yang mengasihi Etiopia dan bangsa-bangsa lain, sehingga Ia memerintahkan agar Injil diberitakan sampai ke penjuru bumi dan setiap orang bisa mengenal Allah yang berkuasa. Apakah Anda sudah memercayai Allah dan mengandalkan Dia saja? [GI Wirawaty Yaputri]


Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Kamis, 16 November 2023

Disambut Pulang oleh Allah


Betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah! –1 Yohanes 3:1


Ayat Bacaan & Wawasan:

1 Yohanes 3:1-3


Pelatih Sherman Smith merekrut pemain rugbi Deland McCullough untuk bermain bagi Universitas Miami. Seiring waktu, rasa kasih sayang Smith kepada Deland semakin bertumbuh, dan Smith menjadi sosok ayah yang tidak pernah dimiliki pemuda itu. Di sisi lain, Deland juga sangat mengagumi Smith dan ingin menjadi seperti beliau. Beberapa dekade kemudian, ketika Deland menemukan ibu kandungnya, ia terkejut ketika sang ibu memberi tahu, “Nama ayahmu adalah Sherman Smith.” Ya, Sherman Smith yang itu! Smith tercengang saat mengetahui ia memiliki seorang putra, dan Deland juga tercengang karena pria yang dianggapnya sebagai sosok ayah benar-benar adalah ayahnya!

Kali berikutnya mereka bertemu, Sherman memeluk Deland dan memanggilnya, “Anakku.” Deland belum pernah mendengar kata itu dari seorang ayah. Ia memahami bahwa maksud Sherman adalah: “Aku bangga. Inilah putraku,” dan hati Deland pun sangat terharu.


Kita juga sepatutnya dibuat terharu oleh kasih Bapa surgawi kita yang sempurna. Yohanes menulis, “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah!” (1 Yoh. 3:1). Kita sama tercengangnya dengan Deland, yang tidak pernah membayangkan bahwa seseorang seperti Sherman bisa menjadi ayahnya. Apakah itu sungguh-sungguh benar? Yohanes menegaskan, ya, “memang kita adalah anak-anak Allah” (ay. 1).


Jika Anda percaya kepada Yesus, Bapa-Nya adalah juga bapa Anda. Anda mungkin merasa seperti yatim piatu, sebatang kara di dunia. Namun, sesungguhnya Anda memiliki Bapa—satu-satunya Pribadi yang sempurna—dan Dia bangga menyebut Anda anak-Nya.


Oleh:  Mike Wittmer


Renungkan dan Doakan

Bagi Anda, apa artinya Anda telah dipilih menjadi anak Allah? Adakah seseorang yang dapat Anda bimbing dalam kasih Tuhan?


Terima kasih, Bapa, karena telah menjadi bapaku. Tolonglah aku untuk hidup sebagai anak-Mu.


Sumber: Our Daily Bread

Rabu, 15 November 2023

PARA PENASIHAT


Bacaan: Amsal 11:14; 12:15; 27:9


NATS: Jikalau penasihat banyak, keselamatan ada (Amsal 11:14)


Pada bulan Oktober tahun 1962, dunia seolah-olah menahan napas saat Amerika Serikat dan Rusia hampir melancarkan perang nuklir. Pada saat itu, Perdana Menteri Nikita Khrushchev telah mengirim bom nuklir ke Kuba dan Presiden John F. Kennedy memerintahkan agar bom tersebut segera dimusnahkan. Ketegangan pun menjadi sangat tinggi pada saat itu. 


Kennedy kemudian menghubungi tiga orang mantan presiden Amerika Serikat untuk meminta nasihat dari mereka. Herbert Hoover yang pernah mengalami krisis ekonomi Depresi Besar; Harry Truman yang mengakhiri Perang Dunia kedua; dan Dwight Eisenhower yang pernah menjadi Panglima Tertinggi Sekutu di Eropa. Masing-masing memiliki wawasan bernilai yang dapat dibagikan. Setelah Kennedy berunding dengan ketiga penasihat yang berasal dari Gedung Putih itu, maka ia dapat mengambil keputusan adil yang menghapuskan semua krisis. Hasilnya, perang pun dapat dihindari. 


Alkitab mendorong kita untuk mencari nasihat dari orang yang bijaksana. Amsal 11:14 mengatakan, "Jikalau tidak ada pimpinan jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada." Kata yang diterjemahkan "penasihat" (counsel) adalah terjemahan bahasa Ibrani untuk "mengemudikan sebuah kapal". Nasihat yang bijak akan menuntun kita ke arah yang benar. 


Apakah Anda sedang mengalami krisis? Seorang yang benar-benar bijaksana akan terbuka untuk memberikan nasihat dan saran bagi orang lain. Tidakkah hari ini Anda berdoa untuk mendapatkan nasihat dari orang-orang percaya yang saleh? --HDF 


JIKA ANDA MENCARI NASIHAT YANG BIJAK, MAKA ANDA MELIPATGANDAKAN

KESEMPATAN UNTUK MENDAPATKAN KEPUTUSAN YANG BENAR


Sumber: Renungan Harian

Selasa, 14 November 2023

Angle


Bacaan: YOHANES 12:1-8


Lalu kata Yesus, "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku." (Yohanes 12:7)


Dalam dunia fotografi/sinematografi kita mendapati istilah "angle". Angle adalah sudut yang dipilih fotografer/cameraman untuk membidik objeknya. Berbeda angle, berbeda gambar yang dihasilkan. Dalam pembacaan kita, kita melihat dua penilaian yang berbeda, bahkan bertolak belakang terhadap satu peristiwa yang sama.


Maria, saudara Lazarus, mencurahkan minyak narwastu murni ke kaki Yesus. Orang banyak yang menyaksikan hal itu menilai tindakan perempuan tersebut adalah pemborosan. Tetapi Yesus menilai tindakan tersebut sebagai hal yang baik. Tuhan memaknai tindakan perempuan tersebut sebagai persiapan pemakaman-Nya.


Yudas Iskariot yang hadir ketika itu memberikan penilaian berdasarkan segi efisiensi penggunaan uang (plus nafsu korupsi yang ada pada diri Yudas, sebagai bendahara rombongan Yesus). Sedangkan Tuhan menilai berdasarkan hati tulus sang perempuan.


Dalam kehidupan sehari-hari, kita berhadapan dengan aneka peristiwa dan tindakan orang di sekitar kita. Tentu kita terdorong untuk memberi penilaian terhadap hal itu. Biarlah kita, bagai fotografer/cameraman yang cerdas dan berjiwa seni, memilih angle yang tepat dalam menilai suatu peristiwa atau tindakan seseorang. Angle yang tidak tepat akan membuahkan penghakiman yang kejam terhadap sesuatu yang kita saksikan. Mari berdoa agar Roh Kudus mengaruniakan kita hati yang bijak sehingga kita selalu memilih angle yang tepat dalam penilaian kita terhadap sesuatu. --HPG/www.renunganharian.net


HATI YANG DIPENUHI ROH KUDUS MEMAMPUKAN KITA BIJAK MENILAI SESUATU.

Senin, 13 November 2023

CARA BERJALAN


Bacaan: Efesus 3:14-4:3


NATS: Supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu (Efesus 3:16)


Suatu sore Dana dan Rich pergi ke luar untuk bersepeda dengan harapan akan pulang ke rumah dalam keadaan lebih segar. Sebaliknya, sejak sore itu hidup mereka berubah selamanya. Ketika bersepeda menuruni bukit, Rich kehilangan kendali dan mengalami kecelakaan. Tubuhnya terluka parah dan ia dibawa ke rumah sakit dalam keadaan yang hampir tak terselamatkan. 


Dana dengan setia berjaga di samping suaminya. Suaminya tak bisa makan sendiri dan tidak bisa berjalan. Suatu hari, ketika keduanya duduk-duduk di bawah pohon di luar rumah sakit, Rich berbalik kepada istrinya dan berkata, "Dana, aku tidak tahu apakah aku akan bisa berjalan lagi, tetapi aku belajar untuk berjalan lebih dekat kepada Yesus, dan itulah yang benar-benar kuinginkan." Bukannya marah kepada Allah, Rich justru mengulurkan tangan untuk menggapai tangan-Nya. 


Terkadang di tengah-tengah ujian hidup, kita perlu merenungkan orang-orang seperti Rich untuk membantu kita mengubah cara pandang, yaitu untuk mengingatkan akan hubungan kita yang luar biasa dengan Allah melalui Yesus Kristus. Hubungan seperti inilah yang paling kita butuhkan saat memasuki perjalanan hidup yang paling berat. 


Kita tidak dipersiapkan untuk menghadapi semua masalah yang menghadang, tetapi Allah siap menopang kita. Karena itu, Dia meminta kita untuk menyerahkan semua masalah kepada-Nya, untuk menyerahkan "khawatirmu kepada Tuhan" (Mazmur 55:23). Seperti yang didapati oleh Rich, berjalan bersama Yesus tidak tergantung pada kaki, tetapi pada hati kita --JDB 


KITA BISA MELEWATI KEGELAPAN YANG PALING PEKAT APABILA BERJALAN BERSAMA ALLAH DALAM TERANG


Sumber: Renungan Harian