Kamis, 31 Juli 2025

TAK MEMEDULIKAN TUHAN

Bacaan: Mazmur 63:1-9

NATS: Hanya, lakukanlah ... mengasihi Tuhan, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, tetap mengikuti perintah-Nya (Yosua 22:5)

Sebagai mantan guru SMA dan dosen tidak tetap di universitas, saya sering berpikir seperti ini: Alangkah tidak menyenangkan berdiri di depan kelas dan tak diperhatikan oleh seorang siswa pun -- berbicara tetapi tidak didengarkan oleh siapa pun, mengajar tetapi tidak dipedulikan para siswa. 

Tak seorang pun suka apabila dirinya diabaikan. Pada saat kita sedang berbicara dengan seorang teman, sakit hati rasanya apabila kata-kata kita tidak diperhatikan. Ketika kita di toko dan sedang membutuhkan bantuan, sakit hati rasanya apabila para pegawai toko tidak memedulikan kita. Kalau kita sedang berjuang menghadapi masalah, sakit hati rasanya apabila tak seorang pun menawarkan bantuan. 

Jadi, bayangkan betapa berdukanya Allah bila kita tidak memedulikan-Nya. Coba pikirkan bagaimana hati-Nya yang penuh kasih itu akan merasa sedih apabila kita bersikap seolah-olah Dia tidak ada, padahal sebenarnya Dia tinggal di dalam hati kita melalui Roh Kudus. Pikirkan bagaimana perasaan-Nya apabila kita mengabaikan petunjuk-petunjuk-Nya yang terdapat di dalam Kitab Suci, yang diberikan-Nya kepada kita. 

Marilah kita berhati-hati untuk tidak mengabaikan Allah! Dalam segala hal, besar maupun kecil, biarlah Dia tetap ada di pikiran kita setiap saat. Kita dapat melakukannya dengan membaca Kitab Suci yang Dia berikan kepada kita; dengan menyediakan waktu untuk berdoa dan mendengarkan suara-Nya yang lembut dan tenang; dengan menikmati kehadiran-Nya; dengan melayani sesama di dalam nama-Nya. Sama seperti pemazmur, marilah kita bersama-sama berkata, "Jiwaku melekat kepada-Mu" (Mazmur 63:9) --JDB 

HANYA ORANG BEBAL YANG TIDAK MEMEDULIKAN ALLAH 

Sumber: Renungan Harian

Rabu, 30 Juli 2025

Mengasihi Sesama Melalui Doa

Jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada Tuhan dengan berhenti mendoakan kamu. –1 Samuel 12:23

Ayat Bacaan & Wawasan :
1 Samuel 12:19-25

“Aku tidak tahu bagaimana keadaanku saat ini seandainya ibuku tidak mendoakanku. Sangat mungkin aku sudah tiada,” cerita teman saya, Rahim. Ia seorang mantan pecandu yang pernah dipenjara karena mengedarkan narkoba. Suatu hari, sambil minum kopi, ia menceritakan bagaimana doa-doa ibunya telah mengubah hidupnya. “Bahkan ketika aku telah membuatnya sangat kecewa, beliau tetap mengasihiku dengan doa-doanya. Aku mengalami banyak masalah, tetapi jika ibuku tidak berdoa untukku, aku tahu keadaanku akan lebih buruk.”

Catatan Perjanjian Lama tentang Samuel menceritakan kisah lain tentang seseorang yang menunjukkan kesetiaannya kepada Allah dan sesama melalui doa. Pada hari Saul diangkat menjadi raja di Gilgal, Nabi Samuel merasa kecewa. Bangsa Israel telah menaruh iman dan pengharapan masa depan mereka kepada kerajaan manusiawi, bukan kepada Allah.
Saat bangsa itu berkumpul, Allah menunjukkan ketidaksenangan-Nya melalui sebuah badai yang terjadi di luar musimnya, sehingga mereka takut dan menyesali keputusan mereka (1 Sam. 12:16-18). Ketika mereka memohon kepada Samuel untuk berdoa kepada Allah bagi mereka, ia menjawab, “Jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada Tuhan dengan berhenti mendoakan kamu” (ay. 23).

Respons Samuel mengingatkan kita bahwa berdoa bagi orang lain adalah salah satu cara untuk mengutamakan Allah dalam hati dan hidup kita. Ketika kita mengasihi orang lain dengan berdoa bagi mereka, kita sedang membuka kesempatan untuk menyaksikan perkara-perkara yang hanya dapat dilakukan oleh Allah sendiri. Tentu kita tidak ingin melewatkannya.

Oleh: James Banks

Renungkan dan Doakan
Bagaimana doa yang konsisten menolong Anda untuk mengutamakan Allah? Bagaimana Anda dapat berdoa bagi orang lain hari ini?

Tuhan Yesus yang baik, terima kasih, karena Engkau telah mendoakanku. Tolonglah aku untuk mengikuti teladan-Mu dan mengasihi orang lain dengan doa-doaku hari ini.

Sumber: Our Daily Bread

Selasa, 29 Juli 2025

BEBAN YANG MELEKAT

Bacaan: Mazmur 32:1-7

NATS: Serahkanlah khawatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau! (Mazmur 55:23)

Apakah jari Anda pernah terkena lem super atau cat minyak? Anda akan mendapati bahwa apa yang tampaknya mustahil untuk dihilangkan ternyata dapat disingkirkan dengan solusi yang tepat. 

Memang demikianlah beban hidup. Salah satu anak bimbing saya mengirim e-mail dan meminta saya mendoakannya. E-mail itu berbunyi, "Saya tidak mampu menyingkirkan beban ini. Ini adalah sesuatu yang tidak mampu saya serahkan kepada Allah. Saya sangat sedih karenanya. Saya tahu bahwa saya harus menyerahkannya kepada-Nya dan diubahkan. Saya benar-benar membutuhkan kekuatan dari Allah untuk melepaskan diri dari beban itu. Saya sadar bahwa pengampunan Allah dapat menyucikan saya jika saya mau. Saya hanya perlu memutuskan untuk mau melepaskan beban itu." 

Saya menanggapi, "Sukacita kehidupan kristiani adalah tahu bahwa Allah dapat mengendalikan apa pun yang kita serahkan kepada-Nya .... Namun pada saat yang sama, beban besar kehidupan kristiani adalah bahwa kita -- individu yang lemah dan tanpa daya ini -- bergantung pada masalah yang patut kita serahkan kepada Allah. Kita semua tahu rasanya berada dalam kondisi seperti ini." 

Dosa dan kekhawatiran kita, besar maupun kecil, tampaknya melekat pada diri kita seperti lem super. Solusinya? Kita harus melepaskan beban itu dari tangan kita dan meletakkannya di pundak Allah. Alkitab menyatakan, "Serahkanlah khawatirmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau!" (Mazmur 55:23) 

Mengapa kita membawa-bawa beban yang melekat itu? --JDB 

Allah mengerti beban dan salib kita, 
Perkara yang melukai, pencobaan dan kerugian kita, 
Ia memedulikan setiap jiwa yang berseru, 
Dan menghapus air mata mereka yang tersedu. --Brandt 

ALLAH MEMINTA KITA UNTUK 
MENYERAHKAN BEBAN YANG MEMBEBANI KITA DI PUNDAK-NYA 

Sumber: Renungan Harian

Senin, 28 Juli 2025

VIRUS

Bacaan: 2 Korintus 10:3-6

NATS: Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (2Korintus 10:5)

Pada hari-hari tertentu, komputer membuat saya terbang seperti rajawali. Akan tetapi pada hari-hari yang lain, ia membuat saya berkubang di lumpur seperti kuda nil. Pada "hari-hari rajawali" saya bersyukur atas komputer saya. Namun, ada pula "hari-hari kuda nil" yang membuat saya menyesal telah membelinya. 

Baru-baru ini saya harus bergumul dengan virus yang menyerang komputer saya. Hal yang paling menjengkelkan saya adalah karena virus diciptakan dengan niat jahat. Orang-orang pintar yang memiliki sisi gelap dalam hidup mereka ingin membuat orang lain menderita. Namun lebih parah lagi, virus itu masuk ke komputer saya karena saya membuka e-mail yang saya kira tidak berbahaya. 

Dosa itu mirip virus komputer. Iblis ingin menghancurkan orang-orang kristiani dengan menodai pikiran mereka. Namun, Rasul Paulus mengimbau orang-orang percaya di Korintus untuk "menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus" (2Korintus 10:5). 

Sama seperti virus yang memasuki komputer kita, kita pun membiarkan kegelapan memasuki hidup apabila kita dengan ceroboh membuka diri terhadap pesan-pesan tidak baik yang menyusup ke dalam kebudayaan kita. Kewaspadaan kita lemah dan kita tidak menyadari dosa yang menodai pikiran kita. 

Namun dengan mengaku dosa, membaca firman Allah, dan berdoa, kita membangun "dinding yang tahan api" atau penghalang untuk melindungi pikiran kita. Dengan pertolongan Roh Kudus, kita dapat menjaga pikiran agar tamu-tamu yang tidak diinginkan tidak masuk ke dalam diri kita --HWR 

JAGALAH PIKIRAN ANDA SAMA SEPERTI ANDA MENJAGA DOMPET ANDA

Sumber: Renungan Harian

Minggu, 27 Juli 2025

Empat Hal yang Seharusnya Tidak Anda Lakukan dengan Uang Anda

Bacaan Hari ini:
Lukas 12:15 “Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”

Dalam Lukas 16, diceritakan seorang bendahara dituduh menyalahgunakan uang tuannya dan diminta untuk memberikan pertanggungjawaban. Bendahara tersebut kemudian menyusun rencana. Ia memutuskan untuk mencari beberapa teman yang akan mengurusnya jika ia dipecat dengan cara mengurangi utang setiap orang yang berutang kepada tuannya.

Ketika tuannya mendengar apa yang dilakukan sang bendahara, dia “memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang” (Lukas 16:8).

Menjadi cerdik berarti cerdas, taktis, dan banyak akal, dan Tuhan ingin Anda belajar untuk menjadi cerdas secara Alkitabiah dengan uang Anda. 

Kisah ini mengajarkan empat hal yang tidak boleh Anda lakukan dengan uang Anda.

Jangan hamburkan uang Anda. Lukas 16:1 mengatakan, “Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya.” Segala sesuatu yang Anda punya—termasuk uang Anda—adalah milik Tuhan dan merupakan anugerah Tuhan. Oleh karena itu, Anda harus berhati-hati agar tidak menyia-nyiakan apa yang menjadi milik tuan Anda.

Jangan mencintai uang Anda. Anda harus memutuskan apa yang lebih utama dalam hidup Anda—Tuhan atau menghasilkan banyak uang. Anda tak bisa menjadikan keduanya sebagai prioritas utama Anda.

Alkitab mengatakan, “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Lukas 16:13).

Jangan percaya pada uang Anda. Berapapun banyaknya uang yang Anda punyai—akan selalu ada peluang untuk Anda kehilangannya. Si bendahara segera menyadari hal itu dalam Lukas 16:3: “Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.”

Jangan berharap uang Anda akan memuaskan Anda. Jika Anda berpikir memiliki lebih banyak uang akan membuat Anda lebih bahagia, lebih aman, atau lebih berharga, Anda salah arah! Uang tidak akan pernah memuaskan: “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. (Pengkhotbah 5:10).

Jika Anda ingin menjadi cerdik atas segala sesuatu yang telah Tuhan anugerahkan kepada Anda, mulailah dengan menghindari keempat hal ini saat Anda mengelola uang Anda.

Renungkan hal ini:
- Bagaimana Anda akan membelanjakan uang Anda secara berbeda setelah Anda tahu bahwa semua uang Anda sepenuhnya adalah milik Tuhan?
- Jika orang lain melihat cara hidup Anda dan cara Anda mengatur uang Anda, apa yang akan mereka katakan yang paling penting buat Anda?
- Bagaimana caranya agar Anda bisa menjadi ambisius dan juga puas dengan penghasilan Anda pada saat yang bersamaan?

Jika Anda tidak mau khawatir, pusat hidup Anda haruslah sesuatu yang tidak akan pernah bisa direnggut dari Anda. Dan hanya ada satu hal yang tak akan lenyap: kasih Tuhan atas Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Sabtu, 26 Juli 2025

Atap yang Bocor

Di sebuah rumah sederhana, sepasang kakak-beradik tinggal bersama. Musim hujan datang lebih awal tahun itu. Suatu malam, si adik melihat langit-langit kamarnya meneteskan air. Bocor kecil.

Ia bilang pada kakaknya, "Kita harus betulkan ini." Tapi si kakak menjawab, "Nanti saja. Toh cuma netes. Kita tunggu hujan reda dulu."

Hari-hari berlalu. Tetes itu makin deras. Lalu muncullah bercak cokelat di dinding. Tapi tetap tak ada yang bergerak. Bukan karena tidak bisa, tapi karena tidak enak hati menegur lagi. Takut dibilang bawel, takut memperkeruh suasana.

Beberapa minggu kemudian, atap benar-benar runtuh. Malam itu hujan deras, dan air mengguyur habis isi kamar si adik. Kasur basah. Buku-buku rusak. Listrik korslet.

Setelah semuanya berlalu, si adik hanya berkata, "Aku dulu sudah bilang…"
Dan si kakak menunduk, menyesal. Bukan karena bocor itu tak terlihat. Tapi karena mereka membiarkannya --demi menghindari konflik kecil… dan akhirnya menghadapi kerusakan besar.

Banyak orang memilih diam bukan karena tidak peduli, tapi karena tidak ingin memperkeruh keadaan. Kita pikir, "Kalau aku bicara, nanti malah jadi ribut." Maka kita tahan mulut kita, biarkan masalah kecil berjalan dengan harapan akan selesai sendiri.

Tapi seperti di dalam cerita, membiarkan kebocoran kecil tanpa tindakan bukan menjaga damai, tapi menunda kerusakan. Dan kerusakan itu bisa lebih besar dari keberanian yang dibutuhkan untuk menegur dengan kasih.

Tuhan tidak memanggil kita untuk jadi pengamat pasif atas kerusakan kecil dalam hidup, keluarga, pelayanan, atau sesama kita. Ia mengajar kita untuk bicara dalam kasih, bertindak dalam tanggung jawab, dan menegur dalam roh yang benar.

Damai sejati bukan berarti tak ada suara. Damai sejati adalah keberanian untuk berkata benar dengan kasih, sebelum semuanya runtuh karena terlalu lama dibiarkan.

Sumber: Renungan dan Ilustrasi Kristen

Jumat, 25 Juli 2025

Rencana Tuhan untuk Rasa Sakit Anda

Bacaan Hari ini:
1 Petrus 4:19 “Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.”

Ingat seperti apa dunia fotografi sebelum era digital? Ketika Anda mengambil foto, hal pertama yang Anda dapat adalah klise foto negatif. Kemudian, untuk mengubah klise negatif itu menjadi positif, Anda harus mencucinya di kamar gelap dan menyinari cahaya ke atas kertas foto. Ini mengubah klise negatif menjadi foto penuh warna yang positif.

Itulah yang Tuhan ingin lakukan dengan segala ketidakadilan dalam hidup kita. Kita semua pernah mengalami ketidakadilan. Orang-orang pernah menyakiti kita. Mereka pernah menginjak kita. Mereka pernah memanfaatkan kita. Tuhan ingin mengambil semua hal negatif itu, menyinarinya dengan terang Yesus, dan mengubahnya menjadi hal-hal positif – sebuah gambar kehidupan penuh warna yang Dia ciptakan untuk kita tinggali.

Alkitab mengatakan, “Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia” (1 Petrus 4:19). Hal terpenting yang bisa Anda ingat ketika Anda diperlakukan tidak adil ialah bahwa Yesus ada di pihak Anda.

Di seluruh Alkitab, Tuhan menunjukkan perhatian khusus kepada orang-orang yang diperlakukan tidak adil. Dia adil dan mengasihi keadilan. Dia mendengar teriakan Anda, melihat rasa sakit Anda, dan tahu bahwa Anda sedang terluka. Mungkin saat ini Anda tidak mendapatkan apa yang Anda pikir layak Anda terima, tetapi Tuhan punya rencana untuk mengatasi rasa sakit Anda.

Ketika terang kasih Tuhan menyinari Anda dalam pergumulan Anda, Dia bisa mengubah rasa sakit Anda itu menjadi sebuah gambar yang indah. Dia mengembangkan karakter Anda melalui hal itu. Dia membuat Anda lebih kuat. Dan yang terutama, Dia menggunakan rasa sakit Anda untuk mendatangkan kebaikan.

Anda tidak akan pernah mendapatkan penjelasan mengapa ada banyak rasa sakit yang Anda tanggung dalam hidup ini. Ketika Anda sampai di Surga, Anda mungkin lebih memahami mengapa hal-hal buruk terjadi pada Anda. Namun ketahuilah, Tuhan tidak utang penjelasan kepada Anda.

Ini kabar baiknya: Anda tidak butuh penjelasan. Anda hanya perlu tahu bahwa Tuhan mengasihi Anda. Dia punya rencana untuk Anda. Pembalasan terhadap orang-orang yang menyakiti Anda adalah hak Tuhan. 

Renungkan hal ini:
- Bagaimana Anda bisa menggunakan rasa sakit Anda di masa lalu untuk membantu orang lain?
- Dalam hal apa Anda telah melihat Tuhan mendewasakan karakter Anda melalui ketidakadilan yang pernah Anda alami?
- Alih-alih membalas, menurut Anda bagaimana Tuhan ingin Anda memperlakukan orang yang memperlakukan Anda dengan tidak adil? Apa pengaruhnya terhadap Anda ketika Anda menanggapinya dengan kasih?

Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan rasa sakit Anda. Sambutlah terang Injil dan Tuhan akan menggunakan rasa sakit Anda, ketidakadilan yang Anda alami itu untuk menciptakan sebuah gambar indah melalui hidup Anda. 

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Kamis, 24 Juli 2025

DENGARKANLAH!

Bacaan: 1 Samuel 3:1-10

NATS: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar (1 Samuel 3:9)

Beberapa tahun lalu ketika tinggal di Florida, setiap pagi saya dibangunkan oleh kicauan merdu seekor burung di luar jendela kamar saya. Pertama kali mendengarnya, saya tergetar oleh keindahan melodi yang dilantunkannya. Namun beberapa saat kemudian telinga saya sudah terbiasa dengan nyanyian-nyanyiannya, sehingga perhatian saya teralih pada hal-hal lain dan tak lagi mendengar suarnya. Kicauannya setiap pagi tak lagi menarik. Bila saya tak lagi mendengarnya, itu sebenarnya kesalahan saya sendiri--karena burung itu tetap bernyanyi setiap pagi.

Hal serupa juga sering terjadi dalam kita "mendengarkan" Tuhan berbicara melalui Alkitab. Ketika pertama kali diselamatkan, dengan setia dan tekun kita membaca Alkitab dan merenungkannya. Hati kita tergetar setiap kali membaca rencana-rencana-Nya dalam Alkitab. Akan tetapi sesudah membacanya dengan rutin, perhatian kita hanya terpusat pada pokok beritanya. Lalu kita sering mengabaikannya, atau berlambat-lambat mematuhi perintah-perintah-Nya. Akibatnya, kita tidak lagi mendengar suara Tuhan. Mulanya hal ini tampak tidak berpengaruh. Namun suatu hari nanti tiba-tiba kita akan tersadar bahwa kita telah kehilangan sesuatu yang berharga. Oleh sebab itu, alangkah baiknya bila kita bersikap seperti Samuel yang dengan sungguh hati berkata, "Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar" (1 Samuel 3:9).

Mari kita tetapkan waktu setiap hari untuk membaca Alkitab dan memusatkan seluruh perhatian pada ajaran-ajaran-Nya. Allah ingin berbicara kepada kita lewat Firman-Nya. Pertanyaannya sekarang: adakah kita mau mendengarkan? --RWD

SEMAKIN BANYAK KITA MEMBACA KITAB SUCI SEMAKIN BAIK KITA MENGENAL SANG BATU KARANG YANG TEGUH

Sumber: Renungan Harian

Rabu, 23 Juli 2025

BUKAN SEBAGAI KORBAN

Bacaan: Yohanes 5:1-9

NATS: Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ ... berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?" (Yohanes 5:6)

Cacat seumur hidup yang diderita David Gelernter bermula saat ia membuka sebuah paket yang meledak, kiriman seorang laki-laki yang tidak dikenal sebagai pembom. Namun David tidak mau memandang dirinya sebagai korban yang tak berdaya atau tenggelam dalam sikap mengasihani diri sendiri. Gelernter menulis, "Bila Anda mendorong seseorang untuk melihat dirinya sebagai korban dari sesuatu, seperti kejahatan, kemiskinan, kefanatikan, atau ketidakberuntungan, maka sesungguhnya Anda sedang membuatnya semakin menderita."

Kecenderungan untuk melihat diri sendiri sebagai korban dari ketidakadilan hidup sedang meluas akhir-akhir ini. Mudah bagi kita semua untuk merasa bahwa ketidakberuntungan telah menghilangkan kesempatan atau kemauan untuk mencapai cita-cita kita.

Saya sering merenungkan pertanyaan yang diajukan Yesus kepada seorang pria yang berbaring di tepi kolam Betesda: "Maukah engkau sembuh?" (Yohanes 5:6). Jawaban laki-laki tersebut di sambut dengan perintah Kristus: "Bangunlah, angkatlah tilammu, dan berjalanlah" (ayat 8).

Karena kita hidup di dunia yang telah rusak oleh dosa, maka kita akan mengalami ketidakadilan. Mungkin ada banyak hal yang tak dapat kita ubah. Berbagai rintangan tidak teratasi hanya oleh tindakan iman kita. Jadi, apa yang Tuhan ingin kita lakukan terhadap keadaan-keadaan yang mungkin dapat melumpuhkan kita? Dengarkanlah pertanyaan yang dilontarkan-Nya kepada laki-laki di kolam tadi, "Maukah engkau sembuh?" Lalu berharaplah pada kekuatan-Nya dan lakukan sesuatu pada hal-hal yang dapat Anda ubah --DCM

Say not, "The days are evil. Who's to blame?"
And fold the hand and acquiesce--oh, shame!
Stand up, speak out, and bravely, in God's name,
Be strong! --Babcock

KITA TIDAK PERLU MENJADI KORBAN KARENA KRISTUS ADALAH PEMENANG

Sumber: Renungan Harian

Selasa, 22 Juli 2025

Berserah kepada Tuhan untuk Hidup yang Bebas dari Ketakutan

Bacaan Hari ini:
Ayub 11:13-18 “Jikalau engkau ini menyediakan hatimu, dan menadahkan tanganmu kepada-Nya; jikalau engkau menjauhkan kejahatan dalam tanganmu, dan tidak membiarkan kecurangan ada dalam kemahmu, maka sesungguhnya, engkau dapat mengangkat mukamu tanpa cela, dan engkau akan berdiri teguh dan tidak akan takut, bahkan engkau akan melupakan kesusahanmu, hanya teringat kepadanya seperti kepada air yang telah mengalir lalu. Kehidupanmu akan menjadi lebih cemerlang dari pada siang hari, kegelapan akan menjadi terang seperti pagi hari. Engkau akan merasa aman, sebab ada harapan, dan sesudah memeriksa kiri kanan, engkau akan pergi tidur dengan tenteram.”

Alkitab mengatakan dalam 1 Yohanes 4:18 “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.”

Bagaimana caranya belajar hidup di dalam kasih Tuhan agar dapat menjalani hidup yang bebas dari ketakutan dan kekhawatiran? Anda harus menyerahkan hati Anda kepada Tuhan setiap hari.

Ketika Anda bangun setiap pagi, sebelum kaki Anda menyentuh lantai, berserulah, “Tuhan, sebelum aku memulai hari ini, aku ingin menyerahkan seluruh emosiku kepada-Mu. Aku ingin Engkau menjadi Tuhan atas emosiku. Aku ingin engkau mengendalikan pikiran dan emosiku. Aku hendak menyerahkan hatiku pada-Mu. Penuhi hatiku dengan kasih-Mu.”

Ayub 11:13-18 mengatakan, “Jikalau engkau ini menyediakan hatimu, dan menadahkan tanganmu kepada-Nya; jikalau engkau menjauhkan kejahatan dalam tanganmu, dan tidak membiarkan kecurangan ada dalam kemahmu, maka sesungguhnya, engkau dapat mengangkat mukamu tanpa cela, dan engkau akan berdiri teguh dan tidak akan takut, bahkan engkau akan melupakan kesusahanmu, hanya teringat kepadanya seperti kepada air yang telah mengalir lalu. Kehidupanmu akan menjadi lebih cemerlang dari pada siang hari, kegelapan akan menjadi terang seperti pagi hari. Engkau akan merasa aman, sebab ada harapan, dan sesudah memeriksa kiri kanan, engkau akan pergi tidur dengan tenteram.”

Ayat-ayat itu mengandung tiga perintah dan delapan janji. Setiap janji memiliki suatu premis—Tuhan berfirman bila Anda melakukan ini, Dia akan melakukan itu.

Pertama, Dia memberi Anda perintah-perintah: Serahkan hati Anda kepada Tuhan setiap hari. Datanglah kepada-Nya di dalam doa. Serahkanlah dosa-dosa Anda, akuilah itu semua kepada-Nya. 

Perhatikan manfaatnya: Anda tidak akan dipermalukan. Anda akan percaya diri. Anda tidak akan gentar. Masalah Anda tak akan lagi penting. Malam-malam gelap yang Anda lalui akan lebih terang dari siang. Anda akan dapat tidur nyenyak karena Anda aman dan terlindungi. Anda akan diliputi dengan harapan. Anda akan dimerdekakan dari kekhawatiran.

Wow! Siapa yang tidak ingin merasakan manfaat tersebut?

Luangkanlah waktu sejenak untuk mencatat ayat-ayat itu di kertas kecil dan letakkan di suatu tempat yang mudah Anda lihat sepanjang minggu. Biarlah itu menjadi pengingat Anda untuk melakukan tiga hal ini: serahkanlah hati Anda kepada Tuhan, berpalinglah kepada-Nya di dalam doa dan akui dosa-dosa Anda. Kemudian biarkan kasih Tuhan memenuhi hidup Anda dan melenyapkan semua kecemasan dan ketakutan Anda.

Cobalah lakukan di minggu ini, lalu perhatikan bagaimana Tuhan memenuhi janji-Nya ketika Dia memenuhi Anda dengan kasih-Nya.

Renungkan hal ini:
- Bagaimana kesombongan menghalangi Anda untuk menyerahkan bagian tertentu dari hidup Anda kepada Tuhan?
- Ketakutan apa saja yang Anda harap dapat dilenyapkan oleh kasih Tuhan?
- Seperti apa kehidupan Anda saat ini jika saja dulu Anda benar-benar bebas dari kekhawatiran dan menjalani hidup dengan pengharapan penuh?

Tangan Tuhan yang kuat adalah Tangan Tuhan yang sangat mengasihi Anda. Percayalah padaNya

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Senin, 21 Juli 2025

Mengekang Lidah

Bacaan: YAKOBUS 1:19-27

Saudara-saudara yang terkasih, ingatlah hal ini: Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah. (Yakobus 1:19)

"Apa beda gula ini dalam pembuatan roti dan kue?" Tanya seorang anggota grup memasak sambil mengunggah foto dua kemasan gula pasir. Seseorang pun berkomentar, "Itu sih hanya beda merek!" Namun, sang admin menjawab, "Yang kanan, gula butiran kasar, belum direfinasi. Cocok untuk kue bolu/roti dengan tujuan membantu telur saat proses pengocokan agar telur mengembang sempurna. Yang kiri, gula pasir butiran halus (kastor), cocok untuk roti donat/bakpao/piza atau cookies dan sejenisnya. Tujuannya, agar gula mudah larut dan tercampur rata dengan adonan serta tidak bergerindil."

Menahan diri untuk lambat berkata-kata sering kali menjadi hal yang sulit. Memberikan komentar saat mendengar atau melihat sesuatu seakan terjadi secara otomatis. Spontan, tidak perlu berpikir terlebih dahulu. Di sinilah titik permasalahannya. Banyak orang memegang pendapat mereka sendiri dengan kaku. Mereka merasa paling berpengetahuan, pendapatnya paling benar, wawasannya paling luas, sehingga terlalu angkuh untuk mendengar pendapat orang lain. Inilah pentingnya Yakobus memberi perhatian khusus, mengingatkan agar umat memiliki kebiasaan lebih suka mendengar daripada berkata-kata.

Dengan bersegera memberikan tanggapan/komentar, orang ingin menimbulkan kesan bahwa dirinya cerdas. Cepat tanggap, paham akan segala sesuatu, juga tampak berhikmat. Namun, waspadalah supaya jangan sampai kebiasaan yang demikian menjerumuskan kita. Lagi pula, selain menimbulkan dosa, omong kosong juga mempertontonkan kebodohan kita. --EBL/www.renunganharian.net

LAMBAT DALAM BERKATA-KATA JAUH LEBIH BAIK DARIPADA LAMBAT DALAM MENDENGAR DAN MELAKUKAN FIRMAN TUHAN.

Minggu, 20 Juli 2025

Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. — Matius 7:2

Tidak sedikit orang yang begitu mudah mengkritik orang lain tanpa merasa hal itu sebagai hal yang berlawanan dengan firman Tuhan. Allah tidak hanya memandang pada tindakan mengkritik kita, tetapi Dia melihat setiap kecenderungan yang ada dalam hati kita sehingga siapakah di antara kita yang berani berdiri di hadapan Allah dan berkata, “Allahku, hakimilah aku seperti aku telah menghakimi orang lain?”

Hukum Penghakiman yang Tidak Berubah

Pernyataan ini bukanlah sembarangan pernyataan, melainkan hukum Allah yang kekal. Penghakiman apa pun yang Anda berikan akan dengan cara yang sama Anda dihakimi. Ada perbedaan antara pembalasan dan hukuman untuk perbaikan -- “ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu”. Apabila Anda telah menilai dengan baik kekurangan orang lain, ingatlah bahwa dengan cara yang sama Anda akan dinilai. Cara Anda membayar merupakan cara kehidupan membayar kembali kepada Anda. Hukum abadi ini berlaku dari takhta Allah turun kepada kita (lihat Mazmur 18:26-27).

Roma 2:1 menerapkannya bahkan dalam cara yang lebih tegas dengan menyatakan bahwa orang yang mengkritik atau mengecam orang lain, dia justru bersalah dalam hal yang dikecamnya. Allah tidak hanya memandang pada tindakan (mengkritik) itu sendiri, tetapi juga melihat setiap kecenderungan atau kemungkinan melakukan dalam hati kita.

Pada awalnya, kita tidak memercayai pernyataan-pernyataan Alkitab. Misalnya, apakah kita sungguh percaya pernyataan yang mengatakan hal-hal yang kita kritik atau kecam pada orang lain adalah hal-hal yang sesungguhnya kita sendiri juga bersalah di dalamnya. Alasan mengapa kita melihat kemunafikan, kebohongan, dan tidak adanya ketulusan pada orang lain adalah karena hal-hal tersebut ada dalam hati kita.

Sifat karakteristik terbesar seorang kudus ialah kerendahan hati, seperti dibuktikan oleh kesanggupan untuk berkata dengan jujur dan rendah hati, “Ya, itu semua, dan juga hal-hal jahat lainnya, akan juga diperlihatkan di dalam saya jika bukan karena anugerah Allah. Karena itu, saya tidak mempunyai hak untuk menghakimi.”

Yesus bersabda, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (Matius 7:1). Dia sebenarnya bersabda, “Jika kamu menghakimi, maka kamu akan dihakimi tepat dengan cara yang sama.”

Siapakah di antara kita yang berani berdiri di hadapan Allah dan berkata, “Allahku, hakimilah aku seperti aku telah menghakimi orang lain”?

Kita telah menghakimi orang lain sebagai orang-orang berdosa. Jika Allah menghakimi kita dengan cara yang sama, kita akan dihukum ke neraka. Namun, Allah menghakimi kita atas dasar penebusan yang ajaib oleh Salib kristus.

Sumber: Renungan My Utmost Oswald Chambers

Sabtu, 19 Juli 2025

Tiga Pertanyaan Cerdas untuk Ditanyakan tentang Emosi Anda

Bacaan Hari ini:
1 Petrus 4:2 “Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.”

Manusia memiliki perasaan dan kasih. Namun, begitu Anda menjadi pengikut Kristus, hidup Anda harus dikendalikan oleh kehendak Allah, bukan oleh kehendak Anda.

Alkitab mengatakan dalam 1 Petrus 4:2, “Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.”

Ketika Anda marah, kesal atau frustrasi—apa pun yang Anda rasakan—tanyakanlah tiga pertanyaan ini pada diri Anda:

“Apa alasan sebenarnya aku merasakan ini?” Mungkin jawabannya adalah rasa takut atau kekhawatiran. Mungkin itu sesuatu yang dikatakan oleh orang tua Anda kepada Anda bertahun-tahun lalu. Dan kemudian ketika orang lain mengatakan hal yang serupa, orang tersebut menjadi sasaran utama dari semua kemarahan Anda yang telah terpendam lama.

“Apakah perasaan ini benar?” Apakah yang sedang Anda rasakan saat ini benar? Ada satu titik dalam Alkitab di mana Elia merasa begitu berkecil hati sehingga ia datang kepada Tuhan dan mengeluh, “Tuhan, akulah satu-satunya orang di seluruh Israel ini yang melayani-Mu.” Kemudian Tuhan menantangnya, kata-Nya, “Apa kau bercanda? Aku memiliki semua orang ini untuk melayani-Ku! Kau bertingkah seolah-olah kaulah satu-satunya yang berusaha melakukan hal yang benar di muka bumi ini! Kau salah besar."

“Apakah yang saya rasakan membantu saya atau malah menyakiti saya?” Apakah Anda akan mendapatkan yang Anda inginkan dengan terus merasakan perasaan itu? Banyak perasaan yang kelihatannya bermanfaat, tetapi sebenarnya malah merugikan diri sendiri.

Misalnya, Anda pergi ke restoran, dan pelayanannya sangat lambat. Anda menunggu lama untuk dilayani. Kemudian ada satu pasangan datang 15 menit setelah Anda, tapi mereka sudah mendapatkan makanan sebelum Anda. Anda menjadi semakin jengkel hingga Anda merasakan sesuatu mengalir di dalam diri Anda. Ketika itu terjadi, tanyakan tiga pertanyaan berikut ini pada diri Anda:
- Apa alasan sebenarnya Anda marah? Mungkin Anda hanya lapar.
- Apakah yang Anda rasakan itu benar? Anda frustrasi karena pelayanannya lambat.
- Apakah yang Anda rasakan membantu Anda atau malah menyakiti Anda? Itu menyakiti Anda. Marah-marah dengan pelayan tidak akan memberikan Anda layanan yang lebih baik. Apakah mengomel itu efektif? Ketika seseorang memberi tahu Anda segala kesalahan Anda, apakah itu membuat Anda ingin berubah? Tidak, itu malah membuat Anda menjadi defensif.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa Anda harus mengelola emosi Anda—memilih ketenangan daripada kemarahan—adalah cara terbaik.

Ketika Anda bertanya pada diri Anda sendiri tiga pertanyaan di atas, maka Anda akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang mengapa Anda merasakan hal yang Anda rasakan dan apa yang perlu Anda lakukan untuk mengatasi situasi tersebut.

Renungkan hal ini:
- Kapan emosi Anda pernah membuat Anda percaya pada sesuatu yang salah?
- Pikirkan tentang pengalaman yang baru-baru ini Anda alami di mana Anda merasa marah atau frustrasi. Menurut Anda, bagaimana dengan mengajukan tiga pertanyaan di atas kepada diri Anda akan mengubah situasi?
- Menurut Anda apa artinya dikendalikan oleh kehendak Tuhan?

Jangan biarkan emosi Anda mengendalikan Anda. Pilihlah untuk menghadapinya—atur perasaan Anda—hari ini.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Jumat, 18 Juli 2025

Berubah Menjadi Dewasa

Bacaan: 1 KORINTUS 13

Ketika aku kanak-kanak, aku berbicara seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. (1 Korintus 13:11)

Kamu harus berubah. Tiga kata singkat ini sepertinya mudah ketika disampaikan bagi orang lain, tetapi belum tentu dapat diterima dengan baik ketika orang lain berkata kepada kita. "Saya itu orangnya ya begini, tidak usah disuruh berubah!" ucap sebagian orang ketika ada yang menasihati agar dirinya berubah. Saya pun menyadari akan hal ini, di mana saya terkadang bergumul untuk sekadar menerima nasihat atau masukan yang pada intinya mengharapkan adanya perubahan dari diri saya.

Menjalani hidup pada usia 40-an tahun memberi saya cukup waktu untuk melihat adanya orang yang berusia dewasa, tetapi masih berperilaku seperti anak-anak, yang mudah marah, cepat mengambek, iri hati, dan nadanya meninggi ketika diberi masukan. Mereka seolah-olah lupa bahwa seiring berjalannya waktu, setiap orang perlu beradaptasi dan berubah mengikuti pertambahan usianya, di mana secara karakter dan mental seharusnya lebih dewasa daripada lima atau sepuluh tahun sebelumnya. Dalam hal merespons kebutuhan untuk berubah, memang banyaknya usia tak menjamin adanya kedewasaan untuk dapat memahami pentingnya perubahan itu.

Memang tidak mudah untuk berubah. Tak jarang orang perlu dipaksa oleh keadaan sebelum mulai berubah, meskipun tampaknya sedikit terlambat. Tak hanya secara jasmani atau dalam hal karakter, perubahan ke arah kedewasaan rohani juga perlu didorong oleh semangat yang sama, yakni kesadaran untuk berubah demi menjadi pribadi yang lebih baik. Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda merespons perubahan dengan positif? --GHJ/www.renunganharian.net

CIRI KEDEWASAAN HIDUP ADALAH KESADARAN BAHWA SETIAP ORANG PERLU BERUBAH UNTUK MENJADI PRIBADI YANG LEBIH BAIK.

Kamis, 17 Juli 2025

Belas Kasihan Menang Atas Penghakiman

Shalom saudara yang dikasihi Tuhan! Hari ini kita diingatkan bahwa keberadaan kita sampai saat ini bukan karena kekuatan kita sendiri, melainkan semata-mata karena kebaikan dan kemurahan Tuhan. Mari kita bersyukur atas anugerah-Nya.
 
Ayat Renungan: Matius 7: 1-2 - "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."
 
Sepanjang minggu ini, kita akan belajar tentang menghakimi. Pagi ini, kita membuka hati dan belajar dari Matius 7:1-2, yang mengajarkan agar kita tidak menghakimi, karena ukuran yang kita pakai akan dipakai juga kepada kita. Sehingga kita perlu “Mengenakan belas kasihan kepada orang lain.”

Sangat mudah bagi kita untuk menghakimi, apalagi saat melihat berita-berita di media sosial. Seringkali, berita-berita itu tidak ada urusannya dengan kita, atau kita pun tidak ada urusannya dengan mereka. Namun, berita tersebut begitu menyita energi dan perhatian kita, sehingga timbul konsep di dalam diri kita untuk memandang orang lain bersalah, berlaku kasar, atau bahkan berdosa. Mungkin kita tergoda berkata dalam hati, “Kok sikap dia bisa sejahat itu ya?” Atau kita mulai menuduh “Kok bisa ya dia memperlakukan orang lain seburuk itu?” Kita sebenarnya tidak pernah tahu apa yang terjadi dalam hidup orang tersebut. Kita bahkan tidak tahu cerita perjalanan hidupnya hingga dia ada di titik seperti itu. 

Tuhan mengajarkan kita untuk menengok ke dalam diri kita. Bagaimana Tuhan memperlakukan kita? Dia tidak menghitung kesalahan kita, Dia mengampuni segala dosa kita, seperti yang ditulis dalam Mazmur 103. Dia bahkan melupakan kesalahan kita.
Karena itu, kita perlu duduk sejenak dan meminta kepada Tuhan pertolongan atas kejadian yang sedang terjadi, baik yang kita baca di media maupun yang kita dengar. Mari kita meminta Tuhan memberikan jalan keluar atasnya, supaya orang tersebut memperoleh pengampunan atas dosanya jika memang bersalah, atau mendapatkan jalan untuk bertobat. Atau, kita juga bisa berdoa agar Tuhan memberikan anugerah bagi orang itu untuk memperbaiki hidupnya.

Saat kita punya niat untuk melihat orang lain dalam kesalahan, kita seolah-olah sedang menjadi Tuhan atas mereka. Padahal, tidak ada satu pun dari kita yang punya hak untuk menghakimi. Hakim itu hanyalah Tuhan, yang memiliki hak prerogatif sepenuhnya. Itu adalah wewenang Tuhan semata.

Belas kasihan menang atas penghakiman. Ketika kita memiliki belas kasih seperti Tuhan, kita akan memperlakukan orang lain sebagaimana Tuhan memperlakukan kita—dengan penuh kasih, pengampunan, pengertian, kesabaran, dan keadilan.
 
Action:
Hari ini, ambil waktu untuk berdoa:
1. Mintalah hati yang penuh belas kasihan, bukan penghakiman.
2. Mohon Tuhan mengubah cara pandang kita, supaya kita memperlakukan orang lain dengan kasih.
3. Berdoalah untuk setiap orang yang kita lihat atau dengar sedang berjerat masalah atau kasus, supaya mereka menemukan jalan menuju kasih Tuhan.
 
Hak Cipta ©Maria Kaesmetan, Departemen Spiritual Life CBN Indonesia

Sumber: Jawaban.com

Rabu, 16 Juli 2025

“KAMU DENGAR SUARAKU?”

Bacaan: Lukas 6:37-42

NATS: Janganlah kamu menghakimi, kamu pun tidak akan dihakimi (Lukas 6:37)

Seorang suami yang sedang menghadapi masalah berkomunikasi dengan istrinya, menyimpulkan bahwa sang istri bukanlah pendengar yang baik. Oleh karenanya ia memutuskan untuk melakukan sebuah tes tanpa diketahui istrinya.

Suatu sore ia duduk jauh dari kamarnya. Sang istri membelakanginya sehingga tak dapat melihatnya. Dengan sangat pelan si suami berkata, “Kamu dengar suaraku?” Tak ada tanggapan.

Ia mendekat sedikit, lalu bertanya lagi, “Kamu dengar suaraku?” Lagi-lagi tak ada jawaban.

Tanpa bersuara ia maju lebih dekat lagi dan membisikkan kata-kata yang sama. Masih saja tak ada jawaban.

Akhirnya ia berdiri tepat dibelakang sang istri, sambil berkata, “Kamu bisa dengar suaraku?”

Betapa terkejut dan sedihnya ia manakala istrinya menanggapinya dengan marah, “Ya, untuk keempat kalinya!”

Ini merupakan peringatan yang baik bagi kita tentang menghakimi.

Sebagian besar dari kita suka mengkritik kesalahan orang lain untuk menutupi bahwa kita sendiri juga sering melakukan kesalahan yang sama. Kita cenderung pintar menemukan kesalahan orang, yang sebenarnya bukan kesalahannya, melainkan kesalahan kita.

Yesus mengenal sifat manusia dengan baik. Itu sebabnya Dia berkata, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi” (Lukas 6:36,37)--RW

JIKA ANDA HENDAK MENGOREKSI KESALAHAN SEGERALAH BERCERMIN

Sumber: Renungan Harian

Selasa, 15 Juli 2025

"PEMANGSA SESAMA"

Bacaan: Efesus 4:25-32

NATS: Jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan (Galatia 5:15)

Pernahkah Anda mendengar tentang seekor ular yang memakan ular lainnya? Menurut penjaga kebun binatang, kadangkala dua ekor ular memangsa sepotong makanan yang sama. Yang seekor memakan dari satu ujung dan satunya memakan dari ujung yang lain. Akhirnya, mereka pun berhadap-hadapan saat hendak memakan potongan yang terakhir. Yang mengejutkan adalah ular yang bermulut lebih lebar akan terus makan hingga bahkan memakan ular yang satunya tadi!

Orang-orang Kristen juga dikenal suka "saling memangsa." Mungkin suatu kali kita mengatakan sesuatu yang menyinggung sesama orang Kristen. Dan, karena ia tidak mau kalah, perdebatan pun terjadi. Lalu, meski kita tahu bahwa lebih baik kita bersikap diam dan mempercayakan kepada Tuhan apa yang akan terjadi, tetapi sering kali kita tetap nekat.

Memang mudah untuk berkata bahwa kita sudah dewasa dan tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk berlarut-larut. Namun Rasul Paulus mengingatkan kita dalam Galatia 5:15 bahwa perkataan dan emosi kita sering kali lepas kontrol--bahkan di antara orang Kristen sendiri. Ketika ini terjadi, maka ada orang-orang yang tersinggung, persahabatan yang hancur, dan gereja yang terpecah, hingga tubuh Kristus pun menderita.

Kita harus memohon pertolongan Tuhan setiap hari agar dapat bersikap "ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni" (Efesus 4:32). Hanya dengan bergantung kepada Tuhan, maka kasih Kristus dalam hati kita akan meredam dorongan untuk "memangsa sesama" yang berasal dari lidah yang tajam dan roh kebencian --MRDII

LEBIH BAIK MENYAKITI LIDAH SENDIRI DARIPADA MENGELUARKAN KATA-KATA YANG MENYAKITKAN

Sumber: Renungan Harian

Senin, 14 Juli 2025

Allah Mengirimkan . . . Ngengat?

Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. –Matius 6:26

Ayat Bacaan & Wawasan :
Matius 6:25-34

“AaaaAAAAHHHK!” putri saya menjerit. “AyaaAAHH! Cepat ke SINI!”

Saya tahu apa yang mengganggunya: seekor ngengat. Setiap musim semi tiba, rombongan serangga berdebu ini bermigrasi dari dataran Nebraska ke daerah pegunungan Colorado, tempat mereka menikmati musim panas. Setiap tahun, kami harus siap menyambut kedatangan mereka. Akan tetapi, tahun ini keadaannya amat buruk.

Bagi manusia, ngengat adalah hama yang tidak diinginkan, yang sering kali terbang ke wajah kita. Akan tetapi, bagi burung, ini adalah pesta. Setelah mencari tahu sedikit, saya menjadi paham bahwa ngengat memberikan nutrisi yang luar biasa bagi burung layang-layang di daerah ini. Meski sangat mengganggu, ngengat-ngengat itu bagaikan “manna” bagi burung.

Saya tidak tahu apakah di Israel terjadi migrasi ngengat pada masa Yesus hidup. Namun, Kristus menyebutkan tentang pemeliharaan Allah atas burung-burung di sana, dengan mengatakan dalam Khotbah di Bukit, “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (Mat. 6:26).

Jadi sekarang, saya memandang ngengat dari sudut pandang yang berbeda. Ngengat bukanlah hama yang kotor, melainkan makhluk bersayap yang mengingatkan kita pada pemeliharaan Allah atas ciptaan-Nya—dan sebagai bukti hidup dari pemeliharaan-Nya atas diri saya juga. Jika Allah memelihara burung layang-layang dengan begitu berlimpah, bukankah lebih berlimpah lagi pemeliharaan-Nya atas diri saya dan Anda?

Oleh: Adam R. Holz

Renungkan dan Doakan
Bagaimana Anda melihat pemeliharaan Allah atas ciptaan-Nya di tempat Anda tinggal? Bagaimana hal itu menjadi pengingat akan pemeliharaan-Nya atas diri Anda juga?

Ya Bapa, keindahan pemeliharaan-Mu selalu nyata bagiku. Terima kasih atas berlimpahnya alam ciptaan-Mu. Mampukanlah aku untuk melihat karya tangan-Mu, agar aku selalu mengingat kebaikan-Mu.

Sumber: Our Daily Bread

Minggu, 13 Juli 2025

MENTALITAS KELEDAI

Bacaan: Matius 21:1-11

NATS: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda (Matius 21:5)

Seorang pendeta berkhotbah tentang Kristus yang memasuki kota Yerusalem dengan penuh kemenangan. Ia lalu bertanya, "Bagaimana jika seandainya keledai yang dinaiki Yesus berpikir bahwa semua sorak-sorai itu ditujukan untuk dirinya? Bagaimana jika seandainya hewan kecil itu yakin bahwa seruan hosana dan ranting-ranting itu ditujukan untuk menghormati dia?" 

Sang pendeta lalu menunjuk kepada dirinya sendiri dan berkata, "Saya adalah seekor keledai. Semakin lama saya berdiri di sini, maka Anda akan semakin menyadarinya. Saya hanyalah seorang pembawa Kristus, bukan pribadi yang menjadi pusat pujian." 

Pada saat menulis tentang masuknya Yesus ke Yerusalem, Matius mengacu kepada nubuatan Zakharia: "Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda" (Matius 21:5; lihat Zakharia 9:9). 

Pada Minggu Palem, sang keledai hanyalah pembawa Kristus, yang membawa Putra Allah ke dalam kota. Di sana Dia akan memberikan nyawa-Nya bagi dosa dunia. 

Apabila kita dapat mengembangkan "mentalitas keledai" yang sehat, maka kita akan memiliki aset yang luar biasa untuk menjalani hidup ini. Dengan mental seperti itu, kita tidak akan memikirkan hal yang dipikirkan orang lain tentang diri kita, tetapi kita justru akan bertanya, "Dapatkah mereka melihat Kristus Yesus, Sang Raja?" Kita tidak akan mengharapkan pujian atas pelayanan yang kita lakukan. Namun, sebaliknya kita akan puas bila dapat meninggikan Tuhan --DCM 

HIDUP SEORANG KRISTIANI BAGAIKAN SEBUAH JENDELA YANG MELALUI DIRINYA ORANG LAIN DAPAT MELIHAT YESUS

Sumber: Renungan Harian

Sabtu, 12 Juli 2025

Gagal Sidang Skripsi

Seorang mahasiswa tingkat akhir merasa lega setelah mengumpulkan seluruh berkas sidang tepat waktu. Ia sudah revisi skripsi, minta tanda tangan pembimbing, dan unggah semua file ke sistem. Tapi ketika pengumuman peserta sidang keluar, namanya tidak ada.

Dengan panik ia mengecek ulang. Dan di sanalah ia sadar: ia salah mengunggah berkas. Alih-alih file skripsi final, ia unggah versi awal yang belum direvisi. File benar ada di laptopnya, tapi sistem tidak bisa diganti karena deadline telah lewat dua hari.
Ia menghadap ke bagian akademik dengan bukti-bukti. Tapi jawabannya tegas: "Maaf, ini tanggung jawab pribadi. Aturan tidak bisa dilanggar hanya karena kelalaian."

Rasanya seperti menampar diri sendiri. Satu kesalahan kecil, satu klik yang salah, membuatnya harus menunda enam bulan. Teman-temannya bersiap wisuda, sementara ia menata ulang rencana hidup yang sempat disusunnya rapi.

Ia hampir menyerah. Tapi di tengah keterpurukan itu, ia memilih untuk tidak tenggelam dalam rasa sesal. Ia gunakan enam bulan itu untuk belajar lebih dalam, membantu teman yang sedang skripsi, bahkan menulis ulang skripsinya jadi artikel ilmiah.

Ketika akhirnya ia maju sidang, ia tidak hanya lulus dengan nilai memuaskan, artikelnya diterima untuk dipresentasikan dalam konferensi nasional. Dan dari situ, pintu beasiswa luar negeri terbuka.

Ia tersenyum kecil. Dalam hati ia tahu: kalau ia sidang enam bulan lalu, mungkin hanya akan lulus biasa-biasa saja. Tapi karena ia tertunda, ia belajar lebih banyak, dan justru membuka jalan baru.

Ia menyadari: ia gagal bukan karena dunia tidak adil, tapi karena dirinya sendiri. Tapi saat ia memilih untuk berpikir positif dan melangkah, Tuhan pakai masa penundaan itu jadi lompatan yang lebih tinggi.

Ada kegagalan yang datang karena keadaan. Tapi ada juga kegagalan yang datang karena kesalahan kita sendiri. Dan yang kedua ini sering kali lebih menyakitkan, karena kita tahu, tak ada yang bisa disalahkan kecuali diri sendiri.

Terkadang kita terlalu sibuk menyalahkan diri sendiri sampai lupa bahwa kasih karunia Tuhan tidak berhenti saat kita jatuh. Tuhan bisa memakai kesalahan kita sebagai ladang pembelajaran, bahkan sebagai jalan menuju hal yang lebih besar. Asal kita tidak tinggal di masa lalu, tapi berani melangkah ke depan bersama-Nya.

Kegagalan karena kesalahan sendiri bukan akhir. Itu bisa jadi awal, kalau kita mau belajar dan percaya bahwa Tuhan belum selesai dengan hidup kita.

"Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku," (Filipi 3:13)

Sumber: Renungan dan Ilustrasi Kristen

Jumat, 11 Juli 2025

SALAH MENEMPATKAN HARTA

Bacaan: Lukas 12:13-21

NATS: Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Matius 6:21)

Suatu kali saya membaca tentang seorang pria yang membeli rumah mewah dan mengisinya dengan perabot-perabot yang mahal dan mengagumkan. Setelah membawa seorang temannya melihat-lihat banyak ruangan di rumah besar itu, si pemilik bertanya dengan bangga, "Bagaimana pendapatmu tentang rumah ini?" Ia berharap akan mendengar pujian yang berlebihan, namun ia tertegun saat temannya menjawab, "Bagus sekali; tetapi terus terang hal-hal seperti ini membuat kematian menjadi begitu mengerikan."

Dalam perumpamaan tentang petani yang kaya (Lukas 12:16-21), Yesus bercerita tentang seorang laki-laki yang berpikir bahwa kekayaan akan memuaskan jiwanya (ayat 19). Namun, Allah menyebutnya bodoh, dan berkata, "Malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?" (ayat 20).

Jika kita terlalu mengagungkan harta duniawi sehingga pengharapan surgawi tidak menarik lagi, berarti kita lebih menghargai hal-hal duniawi daripada hal-hal surgawi. Kita sudah salah menempatkan "harta" yang kita miliki.

Yesus berkata, "Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada" (Matius 6:21).

Semoga kenikmatan sementara yang diberikan oleh kekayaan kita tak akan pernah mengurangi daya tarik dari harta yang kekal. Segala kekayaan yang ada di dunia ini adalah kemiskinan bila dibandingkan dengan kemuliaan yang akan kita nikmati dalam kehidupan kekal bersama Allah --RWD

If we life for wealth and fame,
We'll bring dishonor to Christ's name;
But truth and light will flood our soul
When we pursue a heavenly goal. --DJD

INVESTASIKAN HIDUP ANDA PADA SESUATU YANG AKAN MEMBERI KEUNTUNGAN YANG KEKAL

Sumber: Renungan Harian

Kamis, 10 Juli 2025

MASALAH

Bacaan: 1 Petrus 4:12-19

NATS: Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian (1 Petrus 4:12)

Apakah Anda terkejut bila mengetahui bahwa masalah merupakan bagian dari hidup? Barangkali tidak. Kita semua tahu bahwa masalah sangat dekat dengan kita dan bersifat pribadi, misalnya kesehatan yang memburuk, kekurangan uang, kegagalan cinta, dukacita, kehilangan pekerjaan, dan sederet masalah lainnya.

Karena itu tak seharusnya kita terkejut bila Allah mengizinkan datangnya berbagai ujian tambahan, yaitu bila kita diejek dan dibenci karena mengikut Kristus (1 Petrus 4:12). Setiap masalah yang menghampiri manusia pada umumnya dan orang Kristen pada khususnya, dapat mengungkapkan watak dari jiwa kita.

Saya tak pernah melihat perjalanan seorang pegolf yang tanpa hambatan. Hambatan adalah bagian dari permainan itu. Para pegolf menyebut lapangan yang paling banyak rintangannya sebagai yang paling menantang, dan mereka akan melakukan suatu perjalanan panjang untuk menguji keterampilan mereka melalui 18 lubang yang paling menantang.

Oliver Wendell Holmes berkata, "Seandainya saya memiliki rumus untuk menghindari masalah, saya tak akan memakainya. Saya tak akan meminta tolong kepada siapa pun juga. Sesungguhnya, masalah memberi kita kemampuan untuk menghadapinya.... Hadapilah masalah sebagai teman, karena Anda akan banyak menjumpainya dan akan lebih baik bila Anda terbiasa menghadapinya."

Janganlah heran bila masalah datang, karena Allah akan memakainya untuk menguji daya tahan jiwa kita. Cara terbaik untuk mengatasi masalah adalah dengan menyerahkan jiwa kita, "dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia" (ayat 19) --HWR

The troubles that we face each day
Reveal how much we need the Lord;
They test our faith and strength of will
And help us then to trust God's Word. --DJD

KEMENANGAN-KEMENANGAN BESAR LAHIR DARI MASALAH-MASALAH BESAR

Sumber: Renungan Harian

Rabu, 09 Juli 2025

Memegang Janji Allah


Sebagaimana langit jauh tinggi di atas bumi, demikianlah jalan-Ku jauh tinggi di atas jalanmu, dan pikiran-Ku jauh tinggi di atas pikiranmu. –Yesaya 55:9 (FAYH)


Ayat Bacaan & Wawasan :

Yesaya 55:1-3, 8-13


Wendy sempat merasa agak terabaikan. Saat istirahat makan siang, bosnya meninggalkan cokelat di atas meja setiap orang—kecuali di mejanya. Wendy yang bingung berkeluh kesah kepada temannya, “Mengapa ia mengabaikan aku?”


Sewaktu ditanya, sang bos menjelaskan: “Cokelat itu masih bagus, tetapi sudah agak lama. Wendy sedang hamil, jadi saya tidak mau mengambil risiko.” Lalu sambil tertawa, ia berujar, “Tetapi untuk kalian semua . . .”


Insiden kecil ini memang terdengar lucu di kantor Wendy, tetapi saya jadi terpikir tentang sikap kita yang terkadang keliru memahami maksud Allah karena pemahaman dan persepsi kita yang terbatas. Bahkan, kita mungkin mengira bahwa kita sudah diperlakukan tidak adil dan lupa bahwa Allah selalu menghendaki yang terbaik bagi kita. Selalu.


Yesaya 55:8-9 mengingatkan kita bahwa sekalipun kita mungkin tidak sepenuhnya memahami pikiran dan jalan Allah, kita bisa meyakini bahwa itu “jauh tinggi di atas jalan [kita]” (ay. 9 FAYH). Jalan dan pikiran kita sering kali dipengaruhi oleh keinginan diri yang egois, sedangkan jalan Allah itu sempurna, baik, dan benar. Oleh sebab itu, sekalipun saat ini keadaan tidak baik-baik saja, kita dapat percaya bahwa Allah akan menyediakan apa yang benar-benar kita butuhkan (ay. 1-2), karena Dia penuh kasih dan setia pada janji-Nya yang kekal (ay. 3). “Berserulah kepada-Nya selama Ia dekat” (ay. 6), karena Dia tidak akan pernah meninggalkan kita.


Oleh:  Leslie Koh


Renungkan dan Doakan

Manakah janji Allah yang dapat Anda pegang, ketika hidup terasa tidak adil? Aspek apa dari karakter Allah yang memberi Anda penghiburan dan kepastian?


Allah yang setia, Engkau tahu, adakalanya aku merasa terlewatkan dari berkat-berkat-Mu, sehingga aku meragukan kasih-Mu bagiku. Tolonglah aku untuk mempercayai-Mu dan berpegang teguh pada janji setia-Mu.


Sumber: Our Daily Bread

Selasa, 08 Juli 2025

TONGKAT PEMUKUL

Bacaan: Lukas 17:1-10

NATS: Jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan...kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia (Lukas 17:4)

Jika Anda seorang pemain golf, Anda pasti tahu betapa pentingnya memukul bola di titik yang tepat pada permukaan tongkat pemukul. Pemukul model terbaru saat ini lebih enak dipakai. Tangkainya terbuat dari kayu, sedangkan kepalanya dari logam. Bagian belakang kepalanya yang cekung terbuat dari besi dan dirancang sedemikian rupa sehingga tongkat ini cukup ringan. Pengembangan ini memberi lebih banyak "titik pukulan yang baik" pada pemukul tersebut. Karena itu, meski para pegolf tidak memukul tepat pada titik yang ditentukan, mereka masih dapat menghasilkan pukulan yang baik.

Ide pembuatan tongkat pemukul model baru yang memiliki lebih banyak "titik pukulan yang baik" ini mengingatkan saya bagaimana orang-orang Kristen harus saling menanggapi. Daripada menjadi seperti tongkat pemukul model lama yang menuntut penampilan yang nyaris sempurna, kita seharusnya menjadi seperti tongkat pemukul model terbaru yang bermurah hati terhadap kesalahan-kesalahan para pegolf. Kita seharusnya memiliki banyak "titik yang baik," yang memampukan kita untuk lebih banyak mengampuni saudara seiman yang bertobat (Lukas 17:4).

Itulah teladan yang diberikan Tuhan Yesus bagi kita. Dia datang ke dunia untuk mati bagi semua dosa kita dan menunjukkan kepada kita arti pengampunan yang sesungguhnya melalui perkataan dan perbuatan-Nya. Selama hidup-Nya dan bahkan sampai di atas kayu salib, Dia mengampuni semua orang yang berseru kepada-Nya dengan iman. Sudah seharusnya kita mengikuti teladan-Nya. Siapa yang harus banyak mengampuni kalau bukan kita yang sudah mengalami sendiri begitu banyak pengampunan dari Allah? --MRDII

KITA BOLEH BERHENTI MENGAMPUNI ORANG LAIN
JIKA KRISTUS BERHENTI MENGAMPUNI KITA

Sumber: Renungan Harian

Senin, 07 Juli 2025

Mempertahankan Kekudusan Jemaat

Bacaan Alkitab hari ini:
Kisah Para Rasul 5:1-16

Dalam bacaan Alkitab hari ini, Roh Kudus bertindak tegas untuk menjaga kekudusan gereja mula-mula. Ananias dan istrinya—yaitu Safira—menjual sebidang tanah, lalu sebagian hasil penjualan tanah itu dipersembahkan ke gereja di Yerusalem. Akan tetapi, karena mereka ingin dikagumi orang, mereka mengatakan bahwa yang mereka persembahkan adalah seluruh hasil penjualan tanah. Mereka berpikir bahwa gereja tidak mungkin mengerti bahwa sebenarnya, sebagian hasil penjualan tanah telah mereka simpan untuk keperluan mereka sendiri. Tindakan mereka itu secara tidak langsung meremehkan Allah, Sang Penguasa gereja. Rasul Petrus mengatakan bahwa tindakan mereka itu telah mendustai Roh Kudus (5:3) atau mendustai Allah (5:4). Perhatikan bahwa kesalahan Ananias dan Safira bukan masalah mereka hanya mempersembahkan sebagian hasil penjualan tanah, tetapi kebohongan saat mereka mengatakan bahwa yang mereka persembahkan adalah seluruh hasil penjualan tanah. Kebohongan seperti ini merupakan tindakan yang meremehkan Allah atau menodai kekudusan Alllah karena mereka berpikir bahwa Allah mudah dibohongi. Oleh karena itu, Allah langsung menjatuhkan hukuman mati kepada Ananias dan Safira.

Mungkin ada di antara pembaca yang menganggap hukuman Allah ini berlebihan! Bukankah mempersembahkan sebagian hasil penjualan tanah merupakan tindakan yang baik dan menunjukkan kemurahan hati? Bukankah Allah seharusnya membalas dengan memberikan berkat-Nya, bukan dengan menghukum? Untuk mempertimbangkan kasus ini secara objektif, kita harus sadar bahwa Allah adalah Pemilik alam semesta, sehingga persembahan kita tidak membuat Allah menjadi lebih kaya! Perhatikan bahwa pemberian kepada Allah kita sebut sebagai "persembahan", bukan "sedekah". Sedekah diberikan kepada orang yang memerlukan bantuan, sedangkan Allah tidak memerlukan uang kita. Persembahan adalah pemberian yang diberikan untuk mengungkapkan rasa hormat—atau penyembahan—kita kepada Allah. Oleh karena itu, orang yang menyombongkan diri karena merasa telah memberi persembahan dalam jumlah besar kepada Allah telah salah memaknai persembahan. Persembahan harus diberikan dengan disertai sikap menghormati Allah, bukan meremehkan Allah! Persembahan yang makin besar seharusnya diberikan untuk mengungkapkan rasa hormat kepada Allah yang makin besar pula!

Apakah Anda sadar bahwa Allah tidak memerlukan uang Anda dan bahwa Anda harus selalu datang kepada Allah dengan sikap hormat? Saat Anda memberi persembahan kepada Allah, apakah Anda sudah memberikan persembahan itu dengan diiringi rasa hormat? [GI Purnama]

Sumber: Renungan GKY

Minggu, 06 Juli 2025

BERSAHABAT DENGAN YESUS

Bacaan: Yohanes 15:9-17

NATS: Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu (Yohanes 15:14)

Joseph Scriven (1820-1886), penulis kidung pujian terkenal berjudul What A Friend We Have in Jesus (Persahabatan Seperti Apa yang Kita Miliki Dalam Yesus), tahu benar bagaimana rasanya dukacita dan kesepian. Calon istrinya meninggal karena tenggelam tepat pada sore hari sebelum pernikahan mereka berlangsung. Lalu tunangannya yang berikut juga meninggal, dan lagi-lagi harapannya untuk menikah sirna. Namun persahabatannya dengan Kristus telah menolongnya.

Siapa pun dapat memiliki persahabatan dengan Yesus. Sekitar 17 tahun yang lalu, saya mengenal John, seorang bekas pecandu yang bertemu Yesus pada titik terendah dalam hidupnya. Saat itu ia merasa Tuhan bertanya kepadanya, "Apakah kau ingin seorang sahabat yang menyertaimu selamanya?" John pun meratapi keadaannya, dan sambil terisak ia menjawab, "Ya," maka Kristus hadir dalam hidupnya.

Baru-baru ini John memberitahu saya bahwa ia hendak menjalani transplantasi (pencangkokan) hati. "Kau tahu John," kata saya, "orang-orang yang sinis mungkin akan berkata, 'Tampaknya Yesus telah meninggalkan sahabatnya, lihat saja kondisimu sekarang.'" John menjawab, "Tetapi saya tidak merasa demikian." Lalu ia menambahkan, "Bahkan, jika saya harus meninggal sekalipun saya percaya, Yesus tetaplah sahabat saya."

Dalam Yohanes 15:14, Yesus berkata bahwa kita adalah sahabat-Nya, dan menyatakan bahwa persahabatan ini adalah hubungan dua arah. Namun Dia menambahkan satu hal penting: kita harus berjalan bersama-Nya dalam ketaatan. Hanya dengan demikian kita dapat bersaksi, "Apa pun yang terjadi, Yesus tetap sahabatku" --JEY

TAK ADA SAHABAT SEJATI SEPERTI YESUS

Sumber: Renungan Harian

Sabtu, 05 Juli 2025

Tiga Hal untuk Membantu Kesehatan Mental Anda

Bacaan Hari ini:
Ibrani 12:3 "Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa."

Tuhan ingin Anda sehat di setiap bidang kehidupan Anda — secara emosional, rohani dan jasmani. Untuk memiliki mental yang kuat, Anda harus memfokuskan pikiran Anda pada hal-hal yang benar. Berikut ini tiga hal yang dapat membantu meningkatkan kesehatan mental Anda: 

Pikirkan Yesus.

Anda mungkin pernah mendengar pepatah, "Anda akan menjadi apa yang paling Anda pikirkan." Jika Anda ingin menjadi semakin seperti Yesus, Anda harus memfokuskan pikiran Anda dengan Dia.

Ibrani 12:3 mengatakan, “Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa."

Pikirkan orang lain.

Alkitab mengatakan dalam Filipi 2:4, "Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga."

Apakah Anda menyadari betapa itu bertentangan dengan budaya dunia? Dunia ini mengajarkan Anda untuk memikirkan diri sendiri dan orang lain. Tetapi Yesus berlawanan dengan budaya, dan ketika Anda berpikir seperti Dia, tentunya Anda akan memikirkan orang lain.

Pikirkan kekekalan surga.

"Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga" (1 Korintus 2: 9). Ketika Anda mulai fokus pada kebenaran firman, maka semua masalah Anda akan tampak lebih kecil dibanding dengan kemuliaan, sukacita, dan kenikmatan yang akan menanti Anda di surga kekal.

Mintalah Tuhan untuk membantu Anda memilih untuk memberi makan pikiran dengan firman Tuhan, membebaskan pikiran Anda dari pikiran yang merusak, dan mengisi pikiran Anda dengan Yesus, orang lain, dan kekekalan surga. Maka, Anda akan memenangkan pertempuran itu. 

Renungkan hal ini:
- Apa saja cara yang bisa Anda gunakan untuk mempraktikkan Filipi 2: 4 dalam kelompok kecil Anda minggu ini? Bagaimana dengan keluarga Anda?
- Bagaimana memikirkan tentang Yesus dan kekekalan surga membantu Anda untuk memikirkan orang lain?
- Apa gangguan terbesar yang tengah menghalangi Anda untuk bisa fokus pada kekekalan surga di sepanjang hari Anda? Bagaimana Anda bisa mengatasi gangguan itu?

Pikiran Anda adalah aset terbesar Anda sekaligus medan pertempuran terbesar Anda. 

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Jumat, 04 Juli 2025

TUHAN, TIDAKKAH ENGKAU PEDULI?

Bacaan: Markus 4:35-41

NATS: Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" (Markus 4:39)

Dua dari pertanyaan paling keras yang terdapat dalam Perjanjian Baru diajukan kepada Yesus oleh orang-orang yang sangat mengasihi Dia. Ketika badai yang dahsyat mengancam hendak menenggelamkan perahu murid-murid di Laut Galilea, mereka bertanya, "Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?" (Markus 4:38). Pada peristiwa yang lain, saat Maria dengan santai mendengarkan Yesus, Marta yang sedang sibuk melayani datang dari dapur dan berkata, "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?" (Lukas 10:40).

Kedua pertanyaan tersebut dilontarkan oleh orang-orang yang telah melihat kuasa Yesus sehingga mereka berharap agar Dia bertindak dan melegakan kecemasan mereka. Bila seolah Tuhan mengabaikan situasi yang mereka alami, kejengkelan mereka pun meningkat sehingga mereka berkata: "Tidakkah Engkau peduli?"

Kitab Suci tidak memberitahu kita tentang bagaimana nada suara Yesus, tetapi saya menduga bahwa jawaban yang diberikan-Nya lembut dan penuh perhatian. "Mengapa kamu begitu takut?" (Markus 4:40). "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara" (Lukas 10:41).

Saat kita merasa sendiri atau dalam keadaan yang sulit, seringkali kita berseru, "Tuhan, tidakkah Engkau peduli?" Namun, pada saat Yesus meredakan badai hidup kita dan menyebut nama kita, kita akan menyadari bahwa kita masih harus belajar banyak tentang kasih-Nya kepada kita, sehingga kita pun rindu untuk mempercayai Dia dengan segenap perhatian kita --DCM

I love to dwell upon the thought
That Jesus cares for me;
It matters not what life may bring 
He loves me tenderly. --Adams

YESUS MEMPEDULIKANMU!

Sumber: Renungan Harian

Kamis, 03 Juli 2025

Marah kepada Tuhan


Bacaan: YUNUS 4


Tetapi, firman Tuhan, "Patutkah engkau marah?" (Yunus 4:4)


Ada berbagai alasan orang marah kepada Tuhan. Alasan yang paling umum adalah bahwa Tuhan tidak mengabulkan doa mereka, padahal mereka sudah meminta dengan sungguh-sungguh dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Ada juga yang marah karena penderitaan yang mereka alami, padahal lawan mereka bisa hidup lebih enak dan sejahtera. Keadilan dan kasih Tuhan dipertanyakan.


Yunus adalah salah satu contoh nabi yang kemarahannya kepada Tuhan tercatat detail dalam Alkitab. Ia marah karena menurut sudut pandangnya, Tuhan tidak adil. Menurutnya, Tuhan lebih sayang kepada Niniwe yang kejam dan tidak kenal Tuhan. Kekesalan Yunus semakin memuncak karena justru dialah yang Tuhan utus untuk memberitakan hukuman Tuhan apabila Niniwe tidak bertobat. Ternyata bangsa Niniwe bertobat dan Tuhan tidak jadi menghukum mereka. Namun, Yunus lupa bahwa Tuhan mengasihi Yunus secara luar biasa. Yunus pernah ditelan ikan besar, tetapi Tuhan melindunginya. Tuhan juga mengaruniakan kuasa yang besar kepada Yunus. Baru saja berjalan seharian, seluruh Niniwe pun percaya kepada Allah dan bertobat. Bahkan ketika Yunus marah besar kepada Allah, Allah tidak mematikannya. Melainkan mengajarnya dengan penuh kelembutan.


Ketika kita marah kepada Tuhan, pada dasarnya kita belum mengenal sifat Tuhan. Ia adil dan kudus, tetapi juga penuh kasih. Murka Allah atas dosa kita telah ditanggung-Nya dengan kematian-Nya di atas kayu salib. Pengorbanan-Nya sekaligus menyatakan kasih Allah yang tidak menginginkan seorang pun binasa. --HEM/www.renunganharian.net


KETIKA KITA MARAH KEPADA TUHAN, SESUNGGUHNYA ITU KARENA KITA BELUM MENGENAL SIFAT TUHAN YANG ADIL DAN KUDUS, TAPI PENUH BELAS KASIHAN.

Rabu, 02 Juli 2025

ALASAN TERBAIK

Bacaan: Markus 5:1-20

NATS: Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu (Markus 5:19)

Tatkala bercakap-cakap dengan seorang skeptis [orang yang kurang percaya] tentang standar moral dalam Alkitab, saya merasa bahwa ia tetap tidak dapat diyakinkan. Lalu saya bertanya kepadanya, apakah ia pernah mengenal orang yang kejam dan serakah yang berubah menjadi baik dan tidak egois manakala mereka menjadi orang percaya dalam Kristus. Sikapnya berubah seketika saat ia mengakui bahwa ia mengenal orang-orang yang seperti itu. Saya merasa bahwa orang-orang itu berdampak besar terhadap dirinya, sehingga ia tak mendebat lagi.

Bertahun-tahun yang lalu, seorang kepala misi penyelamatan di London menyambut tantangan debat dari seorang skeptis yang terkenal. Tetapi dengan satu syarat: ia akan membawa 100 orang yang akan menceritakan bagaimana hidup mereka diubahkan setelah mempercayai Yesus. Ia mengundang lawannya untuk berhadapan dengan saksi-saksi yang dibawanya sampai orang itu puas. Pada hari yang telah ditentukan, orang percaya tersebut datang dengan 100 orang yang siap bersaksi, tetapi orang skeptis tersebut tak pernah muncul.

Walaupun kita harus siap untuk memberi jawaban yang masuk akal kepada orang yang bertanya mengenai pengharapan yang kita miliki dalam Kristus (1Petrus 3:15), namun karakter dan perilaku yang serupa dengan Kristus tetap merupakan alasan yang terkuat bagi iman kita. Dalam Markus 5, Yesus memerintahkan orang yang sembuh dari kerasukan setan untuk pulang ke rumah, agar teman-temannya melihat apa yang telah diperbuat Yesus baginya (ayat 19).

Adakah Anda juga senang menceritakan kepada orang lain apa yang telah diperbuat Kristus bagi Anda? --HVL

You may be tempted to debate
To change another's view,
But nothing speaks more powerfully
Than what Christ did in you. --Sper

BILA ANDA MENGENAL KRISTUS
ANDA AKAN RINDU AGAR ORANG LAIN JUGA MENGENAL-NYA

Sumber: Renungan Harian

Selasa, 01 Juli 2025

Berdiri Teguh dalam Iman

Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia. –1 Petrus 5:8-9

Ayat Bacaan & Wawasan :
1 Petrus 5:6-11

Beberapa tahun lalu, saat sedang mengejar kereta untuk berangkat ke tempat kerja, saya melihat seorang wanita dengan seekor anjing berwajah galak berjalan ke arah saya. Saya tidak takut dengan hewan karena dibesarkan dalam keluarga yang memelihara banyak anjing, tetapi anjing yang satu ini terlihat berbahaya. Saat semakin dekat, anjing itu pun menggonggongi saya. Saya mencoba tertawa dan mengabaikannya. Namun, ketika ia tiba-tiba menerjang, saya kaget dan berteriak. Syukurlah, saya tidak terluka karena anjing itu tidak dapat menjangkau saya. Pemilik anjing itu memegang tali kekang lehernya dengan erat.

Pengalaman menakutkan itu mengingatkan saya bahwa meski Iblis juga “dikekang,” ia menunggu waktu untuk menyerang ketika ada celah kesempatan yang kita berikan kepadanya. Dalam 1 Petrus, sang rasul memperingatkan kita, “Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (5:8). Ia mengaum, menggeram, dan menerjang kita dalam upaya untuk menakut-nakuti, mengintimidasi, serta melumpuhkan kita dengan rasa takut. Akan tetapi, kita dapat berdiri teguh dalam iman dan “[melawan] dia” (ay. 9).

Ketika Anda merasa si musuh sedang mengejek atau mencobai Anda, ingatlah kebenaran ini: Iblis tidak ada apa-apanya dibandingkan Tuhan Yesus. Kita dapat berseru kepada-Nya dan Dia akan menolong kita. Dia “akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu” (ay. 10).

Ketika mengalami serangan rohani, kita dapat memilih untuk beriman daripada dikuasai ketakutan, karena Yesus selalu menyertai kita.

Oleh:  Nancy Gavilanes

Renungkan dan Doakan
Bagaimana Anda bereaksi, ketika si musuh mengejek atau mencobai Anda? Bagaimana Anda dapat berfokus pada Kristus saat menghadapi peperangan rohani?

Tuhan Yesus, terima kasih, karena Engkau selalu hadir bagiku, bahkan dalam masa-masa pergumulanku yang terberat.

Sumber: Our Daily Bread