Bertumbuh bersama melalui firman Tuhan dan rasakan pengalaman berjalan bersama Tuhan setiap hari
Kamis, 31 Juli 2025
Rabu, 30 Juli 2025
Selasa, 29 Juli 2025
Senin, 28 Juli 2025
Minggu, 27 Juli 2025
Sabtu, 26 Juli 2025
Jumat, 25 Juli 2025
Kamis, 24 Juli 2025
Rabu, 23 Juli 2025
Selasa, 22 Juli 2025
Senin, 21 Juli 2025
Minggu, 20 Juli 2025
Sabtu, 19 Juli 2025
Jumat, 18 Juli 2025
Kamis, 17 Juli 2025
Rabu, 16 Juli 2025
Selasa, 15 Juli 2025
Senin, 14 Juli 2025
Minggu, 13 Juli 2025
Sabtu, 12 Juli 2025
Jumat, 11 Juli 2025
Kamis, 10 Juli 2025
Rabu, 09 Juli 2025
Memegang Janji Allah
Sebagaimana langit jauh tinggi di atas bumi, demikianlah jalan-Ku jauh tinggi di atas jalanmu, dan pikiran-Ku jauh tinggi di atas pikiranmu. –Yesaya 55:9 (FAYH)
Ayat Bacaan & Wawasan :
Yesaya 55:1-3, 8-13
Wendy sempat merasa agak terabaikan. Saat istirahat makan siang, bosnya meninggalkan cokelat di atas meja setiap orang—kecuali di mejanya. Wendy yang bingung berkeluh kesah kepada temannya, “Mengapa ia mengabaikan aku?”
Sewaktu ditanya, sang bos menjelaskan: “Cokelat itu masih bagus, tetapi sudah agak lama. Wendy sedang hamil, jadi saya tidak mau mengambil risiko.” Lalu sambil tertawa, ia berujar, “Tetapi untuk kalian semua . . .”
Insiden kecil ini memang terdengar lucu di kantor Wendy, tetapi saya jadi terpikir tentang sikap kita yang terkadang keliru memahami maksud Allah karena pemahaman dan persepsi kita yang terbatas. Bahkan, kita mungkin mengira bahwa kita sudah diperlakukan tidak adil dan lupa bahwa Allah selalu menghendaki yang terbaik bagi kita. Selalu.
Yesaya 55:8-9 mengingatkan kita bahwa sekalipun kita mungkin tidak sepenuhnya memahami pikiran dan jalan Allah, kita bisa meyakini bahwa itu “jauh tinggi di atas jalan [kita]” (ay. 9 FAYH). Jalan dan pikiran kita sering kali dipengaruhi oleh keinginan diri yang egois, sedangkan jalan Allah itu sempurna, baik, dan benar. Oleh sebab itu, sekalipun saat ini keadaan tidak baik-baik saja, kita dapat percaya bahwa Allah akan menyediakan apa yang benar-benar kita butuhkan (ay. 1-2), karena Dia penuh kasih dan setia pada janji-Nya yang kekal (ay. 3). “Berserulah kepada-Nya selama Ia dekat” (ay. 6), karena Dia tidak akan pernah meninggalkan kita.
Oleh: Leslie Koh
Renungkan dan Doakan
Manakah janji Allah yang dapat Anda pegang, ketika hidup terasa tidak adil? Aspek apa dari karakter Allah yang memberi Anda penghiburan dan kepastian?
Allah yang setia, Engkau tahu, adakalanya aku merasa terlewatkan dari berkat-berkat-Mu, sehingga aku meragukan kasih-Mu bagiku. Tolonglah aku untuk mempercayai-Mu dan berpegang teguh pada janji setia-Mu.
Sumber: Our Daily Bread
Selasa, 08 Juli 2025
Senin, 07 Juli 2025
Minggu, 06 Juli 2025
Sabtu, 05 Juli 2025
Jumat, 04 Juli 2025
Kamis, 03 Juli 2025
Marah kepada Tuhan
Bacaan: YUNUS 4
Tetapi, firman Tuhan, "Patutkah engkau marah?" (Yunus 4:4)
Ada berbagai alasan orang marah kepada Tuhan. Alasan yang paling umum adalah bahwa Tuhan tidak mengabulkan doa mereka, padahal mereka sudah meminta dengan sungguh-sungguh dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Ada juga yang marah karena penderitaan yang mereka alami, padahal lawan mereka bisa hidup lebih enak dan sejahtera. Keadilan dan kasih Tuhan dipertanyakan.
Yunus adalah salah satu contoh nabi yang kemarahannya kepada Tuhan tercatat detail dalam Alkitab. Ia marah karena menurut sudut pandangnya, Tuhan tidak adil. Menurutnya, Tuhan lebih sayang kepada Niniwe yang kejam dan tidak kenal Tuhan. Kekesalan Yunus semakin memuncak karena justru dialah yang Tuhan utus untuk memberitakan hukuman Tuhan apabila Niniwe tidak bertobat. Ternyata bangsa Niniwe bertobat dan Tuhan tidak jadi menghukum mereka. Namun, Yunus lupa bahwa Tuhan mengasihi Yunus secara luar biasa. Yunus pernah ditelan ikan besar, tetapi Tuhan melindunginya. Tuhan juga mengaruniakan kuasa yang besar kepada Yunus. Baru saja berjalan seharian, seluruh Niniwe pun percaya kepada Allah dan bertobat. Bahkan ketika Yunus marah besar kepada Allah, Allah tidak mematikannya. Melainkan mengajarnya dengan penuh kelembutan.
Ketika kita marah kepada Tuhan, pada dasarnya kita belum mengenal sifat Tuhan. Ia adil dan kudus, tetapi juga penuh kasih. Murka Allah atas dosa kita telah ditanggung-Nya dengan kematian-Nya di atas kayu salib. Pengorbanan-Nya sekaligus menyatakan kasih Allah yang tidak menginginkan seorang pun binasa. --HEM/www.renunganharian.net
KETIKA KITA MARAH KEPADA TUHAN, SESUNGGUHNYA ITU KARENA KITA BELUM MENGENAL SIFAT TUHAN YANG ADIL DAN KUDUS, TAPI PENUH BELAS KASIHAN.