Minggu, 30 November 2025

MENDORONG PERTUMBUHAN

Bacaan: Ibrani 12:7-11

NATS: Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi ... ganjaran itu menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya (Ibrani 12:11)

Paman saya, Lester, yang tinggal di Florida, merasa kecewa karena pohon jeruk balinya tidak berbuah banyak. Lalu ia diberi tahu bahwa ia perlu memukul batang pohon itu beberapa kali menggunakan sebuah papan. 

Rupanya, cara mendorong pertumbuhan yang tidak lazim ini ada benarnya juga. Seorang pakar berkebun berkata, "Terkadang, hormon yang mendorong munculnya bunga di pohon itu sepertinya terhambat, sehingga tidak ada bunga yang muncul. Hati-hati, piculah pohon itu untuk berbunga dengan cara mengejutkannya. Pukullah batang pohonnya ... beberapa kali, sampai muncul memar kecil di kulit batangnya." Saran ini ternyata dapat merangsang pertumbuhan. 

Ketika berbagai-bagai masalah datang dalam kehidupan ini, kita terkadang merasa seperti dipukul dari samping. Kita merasa putus asa dan bertanya-tanya, Mengapa hal ini terjadi kepada saya? 

Salah satu kemungkinannya adalah Allah sedang menggunakan sebuah pengalaman menyakitkan untuk menarik perhatian kita. Dalam Mazmur 119:71, Daud menulis, "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu." Selain itu, Ibrani 12:11 berkata bahwa ganjaran "menghasilkan buah kebenaran". 

Apakah Allah sedang menggunakan penderitaan hidup untuk membujuk Anda dengan penuh kasih agar Anda berubah? Musim kesulitan mungkin tidak mudah, tetapi jika kita mengizinkan diri kita dilatih oleh kesulitan itu, pertumbuhan yang baru akan terjadi pada saat kita semakin menjadi seperti Putra-Nya (Filipi 3:10) --CHK 

BAGI UMAT ALLAH, PENDERITAAN DAPAT MENJADI PISAU PEMBABAT
YANG MENYIAPKAN KITA AGAR BERBUAH LEBIH BANYAK

Sumber: Renungan Harian

Sabtu, 29 November 2025

Perbuatan yang Berarti

Mefiboset tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya timpang. –2 Samuel 9:13

Ayat Bacaan & Wawasan :
2 Samuel 9:1-7, 13

Ada sebuah adegan mengharukan di penghujung novel sejarah Brendan karya Frederick Buechner. Tokoh bernama Gildas berdiri untuk menunjukkan bagian bawah salah satu kakinya yang hilang. Saat berusaha meraih tongkat berjalannya, Gildas sempat kehilangan keseimbangan. Brendan pun segera melompat dan menangkapnya.

“Aku sama timpangnya dengan dunia yang gelap ini,” kata Gildas. “Kalau soal timpang, adakah di antara kita yang tidak demikian?” jawab Brendan. “Mengulurkan tangan saat ada dari kita yang jatuh. Mungkin akhirnya itulah satu-satunya perbuatan yang berarti.”

Dalam 2 Samuel 9, kita melihat kerinduan Raja Daud untuk menunjukkan kebaikan kepada siapa pun anggota keluarga Saul yang masih hidup (ay. 1). Hanya ada satu, Mefiboset, “anak laki-laki Yonatan, yang cacat kakinya” (ay. 3). Mefiboset lalu diantar ke hadapan sang raja, dan di situ ia mendengar perkataan ini: “Aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku” (ay. 7). Itulah yang dinikmati Mefiboset sejak hari itu.

Kitab Suci penuh dengan kisah-kisah tak terlupakan tentang Daud dan beragam jagoan, pasukan, penguasa, dan kerajaan—seperti cerita dalam film-film. Namun, Alkitab juga mengingat perbuatan baik yang mengharukan ini, yang ditunjukkan kepada seseorang yang membutuhkan pertolongan, yaitu kisah seseorang yang mengulurkan tangannya untuk membantu orang lain.

Setelah semua adegan yang besar dan gemerlap itu berlalu, bisa jadi kebaikan yang ditunjukkan Daud kepada Mefiboset adalah perbuatan yang paling berarti dari semuanya. Mengulurkan tangan untuk membantu sesama adalah perbuatan yang dapat Anda dan saya lakukan setiap hari.

Oleh: John Blase

Renungkan dan Doakan
Siapakah sosok Mefiboset dalam hidup Anda? Bagaimana Anda dapat mengulurkan tangan untuk membantunya?

Allah yang penuh belas kasihan, tunjukkanlah kepadaku seseorang yang dapat aku tolong.

Sumber: Renungan Our Daily Bread

Jumat, 28 November 2025

Anda Selalu Ada di Dalam Pikiran-Nya

Bacaan Hari ini:
Mazmur 115:12 "TUHAN telah mengingat kita; Ia akan memberkati"

Tidak ada seorang pun yang lebih peduli terhadap hidup Anda selain Allah sendiri. Bahkan, Ia peduli terhadap hidup Anda lebih daripada Anda peduli terhadap diri Anda sendiri.

Ada lagu lama dari Willie Nelson berjudul “You Were Always on My Mind.” Namun, gagasan di balik lagu itu tidak sepenuhnya benar. Sebanyak apa pun Anda mengasihi seseorang, Anda tidak mungkin memikirkan orang itu setiap saat.

Namun, izinkan saya mengatakan ini: Anda selalu ada dalam pikiran Allah. Ia tidak pernah berhenti memikirkan Anda—bahkan saat ini pun, Ia sedang memikirkan Anda.

Alkitab menegaskan hal ini berulang kali. Mazmur 115:12 berkata: "TUHAN telah mengingat kita; Ia akan memberkati"

FirmanNya dalam Alkitab, 1 Petrus 5:7 berbunyi:
"Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu"

Apa pun yang menjadi kekhawatiran Anda juga menjadi perhatian Allah—semua hal yang Anda takuti, yang Anda khawatirkan, yang Anda pikirkan. Tidak ada satu pun hal dalam hidup Anda yang tidak diperhatikan oleh Allah, sebab Anda selalu ada di dalam pikiran-Nya.

Menjelang Natal yang pertama ribuan tahun lalu, Maria menerima takdir Allah bagi hidupnya karena ia tahu bahwa Allah selalu memperhatikannya. Setelah malaikat memberitahunya bahwa Allah telah memilih dia untuk menjadi ibu dari Anak-Nya, Maria berkata:

"Sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya." (Lukas 1:48)

Apa arti kata "memperhatikan" atau "mindful"? Itu berarti Allah waspada, penuh perhatian, sadar, dan terfokus pada Anda. Saat tidak ada seorang pun yang memperhatikan Anda, Allah sedang memperhatikan Anda. Ia melihat segalanya.

Yesus bahkan berkata tentang hidup Anda:

"Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya." (Matius 10:29–30).

Anda sendiri mungkin tidak tahu jumlah rambut di kepala Anda—tetapi Allah tahu. Begitulah besar perhatian-Nya terhadap hidup Anda!

Perhatian Allah—kesadaran-Nya, kepedulian-Nya, dan kasih-Nya—membuat Maria mempercayai Allah sepenuhnya dalam takdir hidupnya.

Apakah Anda juga bersedia mempercayai Allah dengan takdir hidup Anda?

Renungkan :
- Siapa orang yang paling sering Anda pikirkan? Seperti apa perhatian dan kepedulian yang Anda berikan kepada orang tersebut?
- Apa arti bagi Anda mengetahui bahwa Anda selalu ada dalam pikiran Allah?
- Apa dampaknya bagi hidup Anda ketika menyadari bahwa Allah memperhatikan setiap detail kecil dalam hidup Anda—bahkan sampai menghitung jumlah rambut di kepala Anda?

Anda selalu ada dalam pikiran Allah, Ia juga selalu memperhatikan Anda. Itu berarti Anda dapat sepenuhnya mempercayai rencana-Nya bagi hidup Anda.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Kamis, 27 November 2025

Henrietta Lacks: Kehidupan yang Menjadi Warisan untuk Sains

Henrietta Lacks adalah seorang wanita Afrika-Amerika yang hidup di Amerika Serikat pada awal abad ke-20. Ia menderita kanker serviks, dan selama perawatannya, sel-selnya diambil tanpa izin medis pada saat itu. Sel-sel tersebut ternyata unik: mereka bisa bertahan dan berkembang biak di laboratorium lebih lama daripada sel manusia biasa. Sel-sel itu kemudian dikenal sebagai HeLa cells.

Keberadaan sel Henrietta Lacks membuka pintu bagi penelitian medis yang revolusioner. Berkat selnya, para ilmuwan berhasil mengembangkan vaksin polio, terapi kanker, transplantasi organ, dan berbagai penelitian penting lainnya. Henrietta sendiri tidak pernah mengetahui dampak luar biasa dari selnya saat masih hidup, namun warisannya telah menyelamatkan jutaan nyawa.

Kisah Henrietta mengajarkan bahwa bahkan dari kehidupan yang tampak biasa, Tuhan dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Kontribusi seseorang tidak selalu terlihat saat itu juga, tetapi setiap tindakan, keberadaan, dan keunikan yang kita miliki bisa menjadi berkat bagi banyak orang.

Setiap hidup, sekecil atau sesederhana apapun, memiliki potensi untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Henrietta tidak menyadari bahwa sel-selnya akan membantu jutaan nyawa, tetapi Tuhan mampu memakai kehidupannya untuk kebaikan yang luar biasa.

Begitu juga dengan kita. Terkadang kita merasa bahwa kehidupan kita biasa saja, atau kontribusi kita terlalu kecil untuk berarti. Namun Tuhan melihat lebih jauh dari yang tampak. Ia dapat memakai setiap talenta, setiap tindakan, dan bahkan kesulitan kita untuk memberkati orang lain. Hidup yang setia, hidup yang peduli, dan hidup yang mau memberikan diri, bisa menjadi cahaya di tengah kegelapan bagi banyak orang.

Ketika kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, setiap hal yang kita lakukan, sekecil apa pun, bisa menjadi bagian dari rencana-Nya untuk menolong orang lain dan memuliakan nama-Nya.

"Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita:" (Roma 12:6)

Sumber: Renungan dan Ilustrasi Kristen

Rabu, 26 November 2025

Luangkan Waktu untuk Berdiam Diri

Bacaan Hari ini:
Matius 6:6 "Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Anda tidak akan dapat mendengar suara Allah jika hidup Anda dipenuhi dengan kebisingan. Anda perlu menyendiri dan berdiam diri. Banyak orang menyebut hal ini sebagai waktu teduh.

Dalam Alkitab, Yesus berkata :
"Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Ada hal penting yang perlu Anda sadari tentang mendengar suara Allah dan menerima visi-Nya bagi hidup Anda: Allah ingin bertemu dengan Anda.

Dalam Yeremia 33:3 tertulis: "Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yang tidak kauketahui."

Mungkin Anda merasa sedang menunggu Allah—tetapi sering kali, justru Allah yang sedang menunggu Anda. Ia menciptakan Anda untuk menjalin hubungan pribadi dengan-Nya dan Ia senang ketika Anda meluangkan waktu bersama-Nya. Ia rindu menjadi bagian dari keseharian Anda, seperti janji tetap di kalender Anda. Allah itu sabar, tetapi Ia selalu siap bertemu dengan Anda.

Namun, menemukan waktu tenang di dunia modern ini memang tidak mudah. Banyak orang tidak menyadari betapa bisingnya lingkungan mereka. Hampir di setiap ruang tunggu, toko atau lift, selalu ada musik. Dalam hidup kita saat ini, tempat yang benar-benar tenang hampir tidak ada.

Dan jika Anda memiliki anak-anak di rumah, tentu tantangannya lebih besar lagi! Tapi ada harapan. Susanna Wesley—ibu dari John dan Charles Wesley—memiliki 18 anak! Putranya, John, mendirikan Gereja Metodis dan membantu menyebarkan kekristenan di seluruh Amerika, sedangkan Charles menulis lebih dari 6.000 lagu rohani.

Bagaimana mungkin seseorang dengan 18 anak bisa menemukan waktu untuk menyendiri dan berdoa? Dalam biografinya tertulis bahwa setiap sore selama satu jam, Susanna akan duduk di kursi goyang kesayangannya dengan celemek menutupi kepalanya. Semua anak tahu bahwa jika Ibu sedang menutupi kepala dengan celemek, itu berarti: "Jangan ganggu Ibu!"

John Wesley kemudian mengatakan bahwa doa-doa ibunya adalah yang membentuk hidupnya. Jika seorang ibu dengan 18 anak di abad ke-17 dapat meluangkan waktu untuk berdiam diri bersama Allah, maka Anda pun pasti bisa.

Renungkan dan Diskusikan
- Berapa banyak waktu dalam sehari yang benar-benar Anda habiskan dalam keheningan?
- Gangguan apa yang dapat Anda singkirkan agar Anda bisa memprioritaskan waktu pribadi dengan Allah setiap hari?
- Dampak apa yang mungkin terjadi jika Anda menjaga waktu teduh secara konsisten—tidak hanya bagi diri Anda, tetapi juga bagi keluarga Anda?

Jadilah seseorang yang sungguh-sungguh merindukan hadirat-Nya. Luangkan waktu untuk tenang dan temui Tuhan di tempat sunyi.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Selasa, 25 November 2025

Orang Besar

Bacaan: KEJADIAN 41:37-57

Firaun menyuruh menaikkan Yusuf ke dalam keretanya yang kedua, dan berserulah orang di hadapan Yusuf, "Hormat!" Demikianlah Yusuf diangkat Firaun menjadi pemegang kuasa atas seluruh tanah Mesir. (Kejadian 41:43)

Sang motivator berteriak di hadapan seluruh peserta seminar, "Siapa bercita-cita menjadi orang besar?" Serempak semuanya angkat tangan. "Nah, sekarang siapa bersiap menghadapi kesukaran besar?" kembali sang motivator berteriak. Hanya beberapa gelintir peserta angkat tangan. "Ah, sayang sekali!" sang motivator menepuk dahinya, "Sedikit saja dari Anda yang nantinya menggapai cita-cita itu."

Orang-orang besar dilahirkan dari kesukaran besar. Tidak terkecuali mereka yang tercatat di dalam Alkitab. Kita ambil satu contoh, yakni Yusuf. Hari itu, seusai menuturkan makna mimpi, Yusuf diangkat oleh Firaun sebagai penguasa nomor dua atas negeri Mesir (ay. 40). Yusuf menjadi orang besar, dan sebelumnya juga ia menghadapi kesukaran besar. Saudara-saudaranya sendiri menjualnya ke negeri yang jauh sebagai budak (Kej 37:28). Istri tuannya kerap merayunya untuk berzina, dan selalu ditolaknya. Namun, suatu hari saat ia menolak, perempuan itu memfitnahnya telah berbuat tidak senonoh, dan kemudian ia dipenjarakan (Kej 39:17-20). Terhadap seluruh kesukaran itu, Yusuf menyatakan dirinya siap. Kesiapannya ditunjukkan dengan setiap hari tekun bekerja sehingga baik di rumah tuannya maupun di penjara, selalu ia menjadi orang kepercayaan (Kej 39:4, 22).

Kesukaran membentuk ketahanan dan kekuatan. Tidak heran jika sesudahnya lahir orang-orang besar. Mengerti akan kebenaran ini, jangan kita menjadi tawar hati jika saat ini dihadapkan pada kesukaran besar. Meneladani Yusuf, mari tetap tekun melakukan bagian kita (bekerja dan berdoa). Sadari tangan Tuhan sedang membentuk kita menjadi "orang besar". Saat akhirnya kita keluar dari kesukaran, kita akan mendapati diri kita lebih tangguh, lebih bijaksana, juga lebih beriman kepada Tuhan. --LIN/www.renunganharian.net

PANDANGLAH KESUKARAN YANG KINI DIHADAPI SEBAGAI SARANA UNTUK
MEMUNCULKAN SESEORANG YANG LUAR BIASA DI HADAPAN TUHAN.

Senin, 24 November 2025

Hidup Dalam Satu Tubuh

Ayat Renungan: 1 Korintus 12: 12-13 - “Sama seperti tubuh, walaupun satu, mempunyai banyak bagian, tetapi semua bagiannya membentuk satu tubuh, demikian pula halnya dengan Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh."

Sebagai bagian seri dari topik minggu ini, kita akan belajar lebih dalam lagi tentang "kesatuan". Ayat perikop renungan hari ini dikutip dari 1 Korintus 12, di sana Paulus memakai perumpamaan tentang tubuh. 

Dari ayat ini, kita bisa menggarisbawahi tiga hal yang menjadi ciri dari tubuh yaitu kesatuan, keberagaman dan keharmonisan. Namun karakter paling menonjol dari tubuh adalah kesatuan. Seperti disampaikan dalam ayat 12, “Sama seperti tubuh, walaupun satu, mempunyai banyak bagian, tetapi semua bagiannya membentuk satu tubuh...”

Kita tahu bahwa tubuh kita terdiri dari berbagai organ penting. Beberapa mungkin tampak lebih menonjol atau terlihat lebih penting dibanding yang lain. Bahkan, ada bagian yang bisa hilang tanpa membuat tubuh sepenuhnya berhenti berfungsi. Namun, tubuh akan mencapai kinerja terbaiknya ketika semua bagian hadir dan bekerja bersama sebagai satu kesatuan yang utuh. Paulus menekankan hal ini dalam praktik hidup orang percaya sebagai "Tubuh Kristus". 

Paulus melanjutkan dalam ayat 13, “Sebab dalam satu Roh kita semua telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” Artinya, di hadapan Tuhan, kita setara dan hidup oleh kasih serta karya keselamatan yang sama tanpa memandang suku, status sosial, atau latar belakang. 

Namun, dalam kehidupan berkomunitas, tanpa sadar kita masih kecolongan di dalam bersikap diskriminatif. Mungkin masih ada dari kita yang hanya berlaku baik kepada mereka yang punya jabatan atau posisi penting, sementara mengabaikan orang yang biasa-biasa saja. Atau kita lebih suka bergaul dengan kelompok tertentu dan menutup diri terhadap mereka yang berbeda atau yang kelihatan susah. Atau mungkin, ada juga yang merasa dirinya tidak dipandang dan memutuskan untuk berhenti melayani karena membandingkan diri dengan yang lain.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa tidak ada satu pun anggota tubuh yang lebih berharga dari yang lain. Tuhan menempatkan setiap kita dengan tujuan yang indah agar, melalui kesatuan kita, dunia dapat melihat kasih Kristus yang nyata. Kesatuan tubuh Kristus tidak dibangun atas dasar kesamaan selera, hobi, atau latar belakang, melainkan atas kasih yang berasal dari Roh Kudus.

Kasih itulah yang memampukan kita untuk saling menghargai, mendengarkan, dan melayani tanpa pamrih. Ketika kita benar-benar menghidupi kasih Kristus, gereja bukan hanya sebagai rumah ibadah, tetapi menghidupi perannya sebagai keluarga rohani yang saling menopang dan membangun.

Action Praktis:
Apakah selama ini kita sudah melihat sesama orang percaya sebagai bagian dari satu tubuh yang sama? Adakah orang yang tanpa sadar kita abaikan atau tidak perhatikan?

Minggu ini, cobalah menjangkau seseorang yang jarang Anda perhatikan di komunitas atau gereja—sapa mereka, dengarkan ceritanya, atau tawarkan bantuan sederhana.

Sumber: Jawaban.com 

Minggu, 23 November 2025

Terlalu Cepat Bicara

Bacaan: AYUB 8

Kalau engkau bersih dan jujur, tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu. (Ayub 8:6)

Tidak ada yang salah dengan pandangan Bildad yang mengatakan bahwa Allah dengan segala jalan-jalan-Nya adalah adil dan benar. Namun, Bildad sesungguhnya tidak benar-benar memahami apa yang dialami oleh Ayub. Ia terlalu terkesan tergesa-gesa untuk memberikan pandangan dan nasihatnya kepada Ayub. Ya, Allah tidak mungkin membengkokkan keadilan dan kebenaran, tetapi apakah hal itu berarti bahwa orang-orang yang bersih dan jujur jalannya dijamin akan terhindar dari bencana? Sebaliknya, apakah orang-orang yang mengalami berbagai masalah adalah mereka yang tidak peduli kepada Allah?

Penderitaan hebat yang dialami Ayub sesungguhnya bukan diakibatkan oleh hubungannya dengan Allah. Penderitaannya terjadi karena pekerjaan Iblis yang oleh Allah diizinkan untuk menguji iman Ayub. Sayangnya, Bildad tidak memahami hal ini sehingga ia hanya melihat pada satu sisi bahwa derita yang dialami Ayub adalah karena dosa. Tentu Bildad akan menjadi lebih bijak dan tidak tergesa-gesa seandainya ia bisa sedikit menahan dirinya untuk bersedia lebih banyak mendengar, memperhatikan, dan menyelidiki dengan teliti, sebelum ia mengambil sebuah kesimpulan.

Kiranya pengalaman Bildad menjadi pelajaran penting bagi hidup kita untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, atau malah menghakimi orang yang sedang ditimpa musibah dengan pembenaran-pembenaran perkataan kita. Mari belajar untuk menahan diri. Belajar untuk bersedia mendengarkan dan memahami situasi buruk yang dialami seseorang agar kita tidak terlalu cepat mengeluarkan pendapat yang sebenarnya keliru. --SYS/www.renunganharian.net

TIDAK SEMUA DERITA TERJADI AKIBAT DOSA, BISA JADI ITU MEMANG DIIZINKAN TUHAN UNTUK MENGUJI IMAN SESEORANG.

Sabtu, 22 November 2025

Tahu Diri

Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing - Roma 12:3

John Calvin pernah berkata bahwa hampir semua kebijaksanaan yang kita miliki, yaitu kebijaksanaan yang masuk akal, terdiri dari dua bagian: pengetahuan tentang Allah dan pengetahuan tentang diri sendiri. Jika dikalimatkan kebijaksanaan tersebut menjadi seperti ini: Kenali Tuhan. Kenali dirimu sendiri. Kenali dirimu untuk mengetahui kebutuhanmu akan Tuhan. Kenali Tuhan untuk mengetahui bahwa dirimu bukan Tuhan. Terkadang kita tidak tahu diri di hadapan Tuhan karena kita salah memandang diri kita sendiri.

Supaya seseorang tidak menjadi sombong maka ia harus tahu diri. Kalimat pada ayat emas: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, dalam terjemahan lainnya dituliskan demikian: jangan menganggap diri lebih tinggi dari yang seharusnya ia pikirkan. Jika seseorang menganggap diri lebih tinggi dari yang seharusnya, berarti orang tersebut tidak tahu diri, bukan?

Bagaimana dapat menjadi tahu diri? Tahu diri dimulai dari pengenalan akan Tuhan. Hidup kita yang sia-sia, telah ditebus oleh Kristus. Jika kita memahami penebusan-Nya seharusnya kita memiliki pikiran yang tahu diri di hadapan Tuhan. Selanjutnya Paulus berkata “…tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa” Apa maksud perkataan Paulus? Berpikirlah bijaksana, jangan berpikir berlebihan tentang diri Anda.

Kerendahan hati tidak berpusat pada diri sendiri, melainkan pada Kristus dan sesama. Kita mungkin bisa mendiagnosa apakah kita berpikir tentang diri kita melebihi yang seharusnya dengan pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah Anda merasa gelisah kalau orang-orang tidak memuji atas kerja keras, prestasi atau pelayanan Anda? Apakah hati Anda panas ketika melihat orang lain dipuji? Apakah seringkali ada dorongan di dalam hati Anda, dalam percakapan-percakapan, supaya orang mengetahui jabatan, pencapaian atau relasi Anda?

Anugerah di dalam Tuhan Yesus Kristus seharusnya merubah cara pandang kita tentang diri sendiri dan menentukan sikap kita di hadapan Tuhan dan sesama.

Refleksi Diri:

Mengapa seseorang bisa tidak tahu diri di hadapan Tuhan?

Apa yang dapat Anda lakukan untuk dapat hidup tahu diri di hadapan Tuhan?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Jumat, 21 November 2025

Ngeri-Ngeri Sedap

Bacaan: KELUARAN 14:15-31

Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan sepanjang malam Tuhan menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering. Demikianlah air itu terbelah. (Keluaran 14:21)

Seorang hamba Tuhan bersaksi, mengikut Tuhan itu rasanya ngeri-ngeri sedap, mengalami banyak kengerian, menghadapi situasi sangat terdesak dan terjepit yang mencekam; tetapi akhirnya terasa sedap saat Tuhan menolong tepat-pas pada waktunya.

Orang Israel mengalami kengerian yang mencekam saat melihat orang Mesir mengejar dan mencapai mereka pada waktu berkemah di tepi laut. Bangsa Israel berkata, apakah karena tidak ada kuburan di Mesir maka Musa membawa mereka untuk mati di padang gurun. Namun, Musa menenangkan bangsa itu untuk jangan takut dan berdiri tetap, melihat keselamatan dari Tuhan. Tuhan menyuruh Musa untuk mengangkat tongkatnya dan mengulurkan tangannya ke atas laut dan membelah airnya sehingga orang Israel berjalan di tengah-tengah laut di tempat kering. Orang Mesir mengejar mereka, menyusul sampai ke tengah-tengah laut. Tuhan berfirman kepada Musa untuk mengulurkan tangan ke atas laut supaya air berbalik dan meliputi orang Mesir, maka menjelang pagi air laut berbalik ke tempatnya. Demikianlah Tuhan mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut.

Saya pun sering mengalami perasaan ngeri-ngeri sedap. Saat mengalami keadaan terdesak-harus membayar tagihan yang jatuh tempo-Tuhan membuka berbagai jalan; terasa begitu sedap saat orang yang menunggak dua tahun kepada kami tanpa kabar, tiba-tiba melunasi tunggakannya; kontrakan kami yang sudah tujuh bulan kosong, tiba-tiba ada orang yang mengontrak. Saat menghadapi situasi terdesak dan terpepet, percayalah Tuhan sanggup menolong tepat, pas pada waktunya sehingga kita mengalami kelegaan dan terasa begitu sedap. --IN/www.renunganharian.net

SAAT TUHAN MENOLONG DAN MEMBUKA JALAN PERASAAN NGERI BERUBAH MENJADI SEDAP.

Kamis, 20 November 2025

Si Pemarah

Bacaan: 1 SAMUEL 17:12-39

Lalu Daud berkata kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya, "Apa yang akan dilakukan kepada orang yang membunuh orang Filistin itu dan menyingkirkan penghinaan dari Israel?" (1 Samuel 17:26)

Luka Doncic, pemain bola basket profesional yang bermain di NBA, sempat mendapat julukan "Si Pemarah" karena sifat temperamentalnya. Namun, dalam suatu kesempatan Doncic justru membuktikan bahwa dirinya dapat mengubah kemarahan dalam dirinya menjadi hal yang positif. Alih-alih membalas setiap ejekan atau perlakuan kasar terhadap dirinya, Doncic membalas dengan menunjukkan permainan terbaik di lapangan. Poin demi poin dicetak oleh Doncic, sekaligus mengantarkan timnya mengalahkan lawan-lawannya.

Fakta hidup menunjukkan bahwa amarah tak hanya memiliki satu jalan keluar berupa tindakan destruktif. Sebagian orang justru mampu melihat jalan keluar lain, lalu berhasil mengubah kemarahan menjadi penyemangat untuk melakukan tindakan positif, bahkan tindakan yang membawa pada kesuksesan. Perspektif inilah yang tampaknya dimiliki oleh Daud muda, yang hari itu diutus ayahnya untuk melihat kabar para saudaranya di medan perang. Demi mendengar cemoohan dari Goliat, amarah Daud pun menyala karena hinaan raksasa Filistin itu. Cerita selanjutnya kita tentu tahu bagaimana anak Isai itu menumbangkan Goliat hanya dengan sekali lesatan umban (1Sam 17:48-50).

Kita memang perlu berhati-hati saat amarah mulai menyala. Pilihan hanya ada dua, menguasai atau dikuasai amarah itu. Namun, orang yang berhikmat tak hanya akan mampu menguasai diri, tetapi dapat melihat penyaluran yang positif dari amarah itu, lalu melakukan tindakan yang dapat membawanya pada kemenangan besar, seperti yang pernah Daud alami dengan pertolongan Allah. --GHJ/www.renunganharian.net

KETIKA AMARAH MULAI MENGGODA, JANGAN SAMPAI DIKUASAI, 
TETAPI KUASAILAH AMARAH ITU.

Rabu, 19 November 2025

Menyerahkan Kekhawatiran

Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada Allah, sebab Ia mempedulikanmu. –1 Petrus 5:7 (BIMK)

Ayat Bacaan & Wawasan :
1 Petrus 5:6-9

Saya berjalan ke kios di bandara untuk melakukan check in dengan menggunakan nomor konfirmasi yang tersimpan dalam ponsel saya. Pada saat itu saya baru sadar, ternyata ponsel saya hilang! Ponsel itu tertinggal di dalam mobil yang tadi mengantar saya. Bagaimana saya dapat menghubungi pengemudi taksi daring yang mengantar saya itu?

Sambil mengkhawatirkan kalau-kalau saya terlambat menanganinya, saya berusaha menghubungkan laptop saya dengan Wi-Fi bandara. Dengan menggunakan sebuah aplikasi, suami saya mengetahui bahwa ponsel itu tidak ada pada saya di bandara. Ia pun mengirimkan email kepada saya dan menunggu jawaban saya segera setelah saya terhubung dengan Wi-Fi. Ia menulis, “Kirimkan saja nomor taksi daring itu dan aku akan coba mengurusnya.” Kehadiran suami saya sebagai penolong pada saat itu langsung membuat saya lebih tenang.

Seperti itulah damai sejahtera yang saya percaya Allah rindu kita nikmati dalam relasi yang kita miliki dengan-Nya melalui Kristus. 1 Petrus 5:7 mengingatkan kita: “Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada Allah, sebab Ia mempedulikanmu.” Ayat ini menyatakan bahwa Allah ingin mengambil alih segala kekhawatiran dan kecemasan kita. Mengapa? Karena Dia begitu peduli kepada kita. Saat kita berusaha menemukan jalan keluar atas persoalan yang ada, kita dapat menyerahkan segala kesusahan kita kepada Allah daripada membiarkan semua itu memenuhi pikiran kita.

Menyerahkan kekhawatiran kita kepada Allah menjadi bentuk kerendahan hati, karena dengan demikian kita mengakui bahwa Dia jauh lebih mampu menangani masalah kita daripada diri kita sendiri (ay. 6). Meski sesuatu masih dapat terjadi dan membuat kita menderita (ay. 10), kita dapat bersandar pada kepedulian dan pemeliharaan tangan-Nya.

Oleh:  Katara Patton

Renungkan dan Doakan
Apa yang perlu Anda serahkan kepada Allah? Bagaimana Anda dikuatkan oleh kesadaran bahwa Dia mempedulikan Anda?

Allah Maha Pemurah, terima kasih, karena Engkau mengizinkanku untuk menyerahkan semua beban dan kekhawatiranku ke dalam tangan-Mu yang setia.

Sumber: Our Daily Bread

Selasa, 18 November 2025

Overthinking dan Rumination

Bacaan: 2 KORINTUS 10:1-11

Kami mematahkan setiap siasat orang dan merobohkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus. (2 Korintus 10:5)

Seorang ibu tidak mengizinkan anaknya mengambil studi lanjut jurusan kependetaan. Alasannya, pendeta selalu disorot oleh jemaat. "Saya takut anak saya diperlakukan buruk. Tidak dihargai dan selalu dikomentari. Saya khawatir anak saya tidak kuat."

Berapa banyak orang yang dipusingkan/berpikir berlebihan (overthinking) karena komentar buruk orang lain? Bahkan menghabiskan waktu untuk memikirkannya berulang-ulang dan menjadi khawatir (rumination)? Pada akhirnya mereka menjadi cemas, stres, kehilangan produktivitas karena sulit fokus, kehilangan rasa percaya diri, bahkan mengalami depresi karena terjebak dalam pikiran negatif tanpa solusi.

Paulus pernah menghadapi perlawanan dari rasul-rasul palsu di Korintus. Pandangan miring, iri hati, dan usaha untuk menjatuhkan dirinya ia terima di sana. Salah satu cara yang ditempuh Paulus guna menyikapi fitnahan itu adalah dengan mengelola pikirannya sendiri, supaya tetap sejalan dengan kehendak Kristus.

Paulus menyadarkan bahwa pikiran merupakan medan pertempuran, tempat kita bergelut dengan kecemasan sendiri. Termasuk, ketika mendengar pandangan miring dari orang lain sekalipun kita berniat melakukan kehendak Tuhan dalam kasih dan kebenaran. Bagaimana sikap kita menghadapi kemungkinan seperti ini? Adakah kita berusaha mematahkan siasat dan keangkuhan yang menghalangi kita dalam mengenal Allah dengan menaklukkannya kepada Kristus? Atau malah sebaliknya, kita tertawan dalam sikap overthinking dan rumination yang tak berkesudahan dan menghancurkan? --EBL/www.renunganharian.net

MEMENUHI PIKIRAN DENGAN HAL NEGATIF AKAN MENGHALANGI
PRODUKTIVITAS DAN PERJUANGAN KITA DALAM MENGENAL TUHAN.

Senin, 17 November 2025

Memulihkan Hubungan yang Rusak di Tempat Kerja

Ayat Renungan: Roma 12:18 "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!"

Bagaimana suasana hati Anda di tempat kerja akhir-akhir ini? Pernahkah Anda merasa lelah menghadapi rekan yang sulit diajak bekerja sama, atau atasan yang penuh tekanan?

Setiap dari kita tentu ingin berangkat kerja dengan hati yang sukacita, bukan dengan perasaan berat atau jenuh karena konflik yang belum terselesaikan. Untuk menikmati damai sejahtera di tempat kerja, Firman Tuhan mengajak kita bertindak nyata. Roma 12:18 berkata, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.”

Damai tidak terjadi begitu saja—kita perlu berperan aktif mewujudkannya. Bagaimana kita menghadapi rekan kerja yang sulit atau atasan yang penuh tekanan? Jika kita memilih untuk memusuhi seseorang, hati kita tidak akan tenang dan suasana kerja pun menjadi tidak nyaman. Namun Firman Tuhan mengingatkan, kita dipanggil bukan untuk kehilangan damai, melainkan menjadi pembawa damai—membawa kasih Kristus di dalam diri kita dan menyalurkannya kepada orang lain.

Lalu, tindakan apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki hubungan di tempat kerja? Mari kita ambil tiga langkah sederhana berikut ini:

Pertama, terbuka untuk memaafkan.

Memaafkan adalah langkah pertama menuju pemulihan. Tindakan ini menunjukkan kerendahan hati dan keinginan untuk berubah. Apapun perlakuan yang Anda terima di tempat kerja, tetaplah memilih untuk mengampuni. Sebab pengampunan membuka pintu bagi Tuhan untuk memulihkan hubungan.

Kedua, ambil waktu untuk rekonsiliasi.

Langkah nyata menuju pemulihan adalah keberanian untuk berbicara dari hati ke hati. Jika Anda ingin suasana kerja menjadi nyaman, beranilah mengambil inisiatif. Ajak rekan Anda berbicara, sampaikan dengan kasih apa yang Anda rasakan, dan dengarkan dengan hati terbuka. Ini mungkin tidak mudah, tetapi langkah kecil ini dapat membawa perubahan besar.

Ketiga, tetap berlaku kasih.

Kasih adalah fondasi dari setiap hubungan yang dipulihkan. Melalui rekonsiliasi, dua orang belajar untuk saling memahami dan menghargai. Masalah di masa lalu tidak lagi menjadi penghalang, melainkan menjadi pelajaran yang mempererat hubungan.

Ingatlah, pemulihan hubungan tidak terjadi dalam sekejap. Tetapi ketika kita memilih untuk hidup dalam kasih dan damai, Tuhan sanggup mengubah yang retak menjadi indah kembali.

Action Praktis:
Adakah hubungan di tempat kerja yang sedang menimbulkan ketegangan? Minggu ini, ambillah langkah pertama untuk berdamai—baik dengan mendengarkan, meminta maaf, atau mengampuni. Doakan orang tersebut setiap hari dan mintalah Tuhan melembutkan hati kalian berdua agar damai-Nya hadir di lingkungan kerjamu.

Sumber: Jawaban.com

Minggu, 16 November 2025

Allah Akan Mengingatkan Anda pada Waktu yang Tepat

Bacaan Hari ini:
Yohanes 14:26 "tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu."

Tahukah Anda mengapa Allah memberikan Roh Kudus kepada Anda? Ia adalah karunia Allah bagi Anda, yang menuntun Anda untuk hidup setia di dunia ini. Allah berbicara kepada Anda melalui gagasan, pikiran, dan dorongan yang datang dari Roh Kudus—dan hal itu disebut inspirasi ilahi.

Yesus berkata dalam Yohanes 14:26: "tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.". Roh Kudus adalah guru kita. Alkitab juga menyebut-Nya sebagai Penasehat—bagaikan pelatih pribadi rohani. Saat ini, banyak orang rela membayar puluhan juta rupiah untuk mendapatkan bimbingan dari pelatih profesional atau executive coach.

Namun, selama lebih dari 50 tahun, saya memiliki pelatih yang jauh lebih berharga. Nama-Nya adalah Roh Kudus. Saya terus-menerus bertanya kepada-Nya—dan masih melakukannya hingga hari ini—"Apa yang Engkau ingin saya lakukan? Apa langkah berikutnya? Bagaimana saya bisa taat kepada-Mu?"

Sebuah parafrasa dari Yohanes 14:26 mengatakan bahwa Roh Kudus akan "mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu" Roh Kudus tidak berbicara melalui suara yang terdengar oleh telinga. Ia tidak perlu melakukannya, karena Ia bisa langsung berbicara ke dalam pikiran Anda, membawa apa pun yang perlu Anda ketahui untuk langkah selanjutnya.

Jika Roh Kudus bekerja dengan cara mengingatkan sesuatu kepada Anda, maka harus ada sesuatu yang sudah tertanam sebelumnya dalam pikiran Anda. Itulah sebabnya Anda perlu membaca Alkitab. Ketika Anda membaca, mempelajari, dan memenuhi pikiran dengan Firman Allah, Anda sedang menyimpan kebenaran di dalam diri Anda. Lalu, pada waktu yang tepat, Roh Kudus akan membawanya kembali ke dalam pikiran Anda.

Akan ada banyak situasi ketika Anda menghadapi tekanan, masalah, atau godaan—dan Anda tidak sedang membawa Alkitab. Bahkan jika Anda memiliki aplikasinya di ponsel, Anda mungkin tidak tahu ayat mana yang tepat untuk dicari. Tetapi jika Anda telah menyimpan Firman Allah di hati, maka Roh Kudus dapat mengingatkannya kepada Anda saat dibutuhkan.

Renungkan :
- Kebiasaan apa yang dapat Anda kembangkan agar Firman Allah tersimpan dalam pikiran dan hati Anda?
- Apakah Anda percaya bahwa Alkitab dapat menolong Anda memahami kehendak Allah dan menjalani kehidupan sehari-hari? Mengapa demikian?
- Bagaimana Anda dapat membedakan jika sebuah gagasan berasal dari Roh Kudus?

Anda tidak harus mendapatkan sesuatu setiap kali membaca Alkitab. Namun dengan kebiasaan belajar Alkitab secara teratur dan menghafal ayat-ayat Firman Tuhan, Anda sedang menimbun kebenaran di dalam pikiran. Lalu, pada saat yang tepat, Allah akan memakai kebenaran itu untuk berbicara kepada Anda—tepat ketika Anda paling membutuhkannya.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Sabtu, 15 November 2025

Keliru Mengingat

Bacaan: BILANGAN 11:4-23

"Kita teringat pada ikan yang kita makan di Mesir tanpa bayar, pada mentimun, semangka, bawang prei, bawang merah, dan bawang putih." (Bilangan 11:5)

Peristiwa yang terjadi dalam keseharian secara spontan terekam dalam pikiran, membentuk ingatan. Maka, tidak sekonyong-konyong kita melupakan sebuah peristiwa, kecuali kita pikun karena sudah tua. Saat ini, banyak juga orang yang sudah tua, tetapi masih memiliki ingatan yang baik. Ingatan membuat kita mampu mengenang masa lalu, contohnya saat pertama kita mengenal Kristus atau pertemuan pertama dengan pasangan.

Dari Mesir, bangsa Israel berangkat menuju Kanaan, melewati padang gurun. Selama perjalanan, mereka kerap meneriakkan keluhan terhadap Tuhan. Salah satunya perihal mereka tidak bisa makan daging (ay. 4). Saat itu, mereka beranggapan tinggal di Mesir lebih baik daripada mengikuti kehendak Tuhan. Mengejutkan, karena selama di Mesir mereka diperbudak! Setiap hari mereka disuruh membuat sejumlah batu bata, dan kalau tidak selesai, mereka akan dipukul (lih. Kel 5:14). Tentunya bangsa Israel tidak memiliki masalah dengan ingatan, hanya mereka keliru mengingat. Mereka mengingat Mesir bukan sebagai penjara penuh siksaan, melainkan negeri idaman di mana mereka bebas menikmati ikan, mentimun, semangka, bawang prei, bawang merah, dan bawang putih (ay. 5). Terkenang aneka bahan makanan, bukan rasa sakit dan tangisan, bukan juga perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan oleh Tuhan demi membebaskan mereka.

Anak-anak Tuhan semestinya adalah orang-orang yang paling bahagia di dunia ini. Idealnya senantiasa terdengar ucapan syukur dari mulut mereka. Jika justru kita kerap mengeluh, sangat mungkin kita juga telah keliru mengingat. Kita mengenang hanya kesukaran dan masalah. Mulai hari ini, mari memenuhi ingatan dengan kebaikan Tuhan. Maka keluhan akan berhenti, juga hati merasakan sukacita. --LIN/www.renunganharian.net

PUJILAH TUHAN, HAI JIWAKU, 
DAN JANGANLAH LUPAKAN SEGALA KEBAIKAN-NYA!-MAZMUR 103:2

Jumat, 14 November 2025

Mengasihi Sahabat Lewat Menghargai Proses Imannya

Ayat Renungan: Amsal 17: 9 – “Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib.”

Setiap kita pasti memiliki sahabat yang dekat—mungkin sejak SD atau SMP—yang hadir dengan ketulusan, menerima kita apa adanya, dan tetap ada bahkan di masa-masa sulit. Sahabat sejati berani menegur dengan kasih karena ia ingin kita menjadi lebih baik. Namun, dalam hubungan apa pun, gesekan pasti terjadi. Seperti sendok dan garpu yang sering bersentuhan, demikian juga kita dengan sahabat. Kadang salah paham, tersinggung, atau terluka oleh kata dan sikap mereka—terlebih bila itu datang dari orang yang sangat kita percayai.

Kita sering berharap sahabat selalu sabar dan mengerti, tetapi kenyataannya mereka juga manusia yang bisa salah dan kecewa. Saat itu terjadi, Firman Tuhan menjadi kompas bagi kita. Amsal 17:9 mengingatkan: “Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih.” Artinya, bila kita ingin persahabatan tetap terjaga, kita harus belajar menutupi kesalahan orang lain, bukan mengungkit-ungkitnya atau menyebarkannya. 

Menutupi pelanggaran bukan berarti menyembunyikan dosa, tetapi memilih kasih daripada gosip. Saat kita mampu menguasai diri, tidak membicarakan kelemahan sahabat di belakangnya dan memberi ruang bagi mereka untuk berproses. Tuhan menghendaki agar kita tidak terus mengungkit kesalahan yang lama, melainkan mendoakan dan memberi kesempatan bagi mereka untuk bertumbuh. Itulah wujud kasih sejati—menghargai proses iman yang sedang mereka jalani.

Saya pun belajar hal ini untuk diri saya sendiri—ketika seorang sahabat dekat mengecewakan saya mau memilih mengampuni, saya terus diproses Tuhan untuk menjadi lebih sabar dan matang. Proses itu mungkin tidak mudah, tetapi selalu menghasilkan kesembuhan dan kedewasaan rohani. Mari kita izinkan Tuhan memakai setiap luka untuk membentuk karakter kita menjadi semakin indah di hadapan-Nya.

Action Praktis:
Apakah ada seorang sahabat yang masih sulit untuk Anda kasihi? Hari ini saya menantang Anda untuk mempraktekkan Firman di atas. Mulai mendoakan mereka dan berikan ruang bagi Tuhan untuk bekerja di hati mereka.

Sumber: Jawaban.com

Kamis, 13 November 2025

Ampuni Sebagaimana Tuhan Telah Mengampuni

Ayat Renungan: Kolose 3: 13 – “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”

Hari ini saya sangat bersemangat dan ingin menyampaikan satu hal kepada Anda – bahwa Tuhan itu baik. Dia baik dalam segala keadaan - baik suka, duka, untung, rugi, sedih maupun bahagia. Kebaikan-Nya juga nyata dalam hubungan kita dengan orang-orang terdekat seperti saudara atau keluarga sendiri. 

Tetapi bicara tentang hubungan dengan orang terdekat, kita pasti akan bergesekan dengan mereka. Entah itu salah paham, tersinggung, kecewa dan sebagainya, karena setiap kita diciptakan dengan karakter yang berbeda. Perbedaan ini memang menjadi tantangan besar, tetapi justru di sanalah Tuhan mengajar kita untuk meneladani kasih-Nya — belajar bersabar, mengampuni, dan memelihara hubungan dengan hati yang penuh anugerah.

Tentu saja itu tidak mudah dilakukan apalagi kalau kita sudah dilukai, disakiti dan dikecewakan. Kita mungkin sama seperti Daud yang dilukai dan dikecewakan orang terdekat, seperti yang ia ungkapkan dalam Mazmur 27: 10, “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.” Tetapi Firman Tuhan pagi ini mengingatkan kita tentang apa respons yang harus kita lakukan saat hubungan dengan orang terdekat sedang rusak.

Kolose 3: 13 berkata, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”

Ini kelihatannya berat ya, saudara. Di langkah pertama, Tuhan bilang “Sabar. Tahan amarahmu. Jangan balas.” Lalu langkah kedua, Dia suruh kita untuk “Ampuni.” Jadi kita tidak punya alasan untuk bilang “tidak mau”. Karena Tuhan sendiri kasih satu teladan yang sudah melakukannya yaitu Yesus sendiri. Bahwa Dia sendiri sudah lebih dulu mengampuni kita. Kalau bisa dihitung sudah berapa banyak dosa yang kita lakukan sejak kita beranjak usia 10 tahun? Mungkin ada banyak sekali. Tetapi Tuhan bilang “Aku telah mengampuni engkau.”

Kasih Tuhan begitu besar, seluas samudera, hingga Ia sanggup mengampuni kita sepenuhnya. Pertanyaannya, bisakah kita juga mengampuni? Jawabannya: bisa! Sebab Tuhanlah yang memberi kemampuan itu. Karena Ia telah lebih dulu mengampuni kita, maka kita pun dipanggil untuk melepaskan pengampunan kepada orang lain — sebagaimana kita telah menerima kasih dan anugerah-Nya.

Saat kita memilih untuk menyimpan benci, marah, dan kecewa — mungkin itu kepada orang tua atau saudara kita — sesungguhnya kita sedang mengikat diri kita dengan beban berat dan kita menentengnya kemana-mana - membuat kita lelah. Namun ketika kita berani melepaskannya, hati kita pasti akan terasa plong. Saya mau menantang Anda, apakah Anda mau hidup tidak dibebani dengan perbuatan salah orang lain hari ini? Mari lepaskan pengampunan!

Tuhan Yesus Memberkati!

Hak Cipta ©Maria Kaesmetan, Departemen Spiritual Life CBN Indonesia

Hidup Anda berharga, dan Tuhan tidak pernah melepaskan tangan-Nya dari Anda. Hari ini adalah kesempatan baru untuk membuka hati dan membiarkan kasih-Nya memulihkan setiap luka. 

Sumber: Jawaban.com

Rabu, 12 November 2025

Cara Bersyukur di Masa Sulit

Ayat Renungan: Ayub 1: 21 - "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"

Apakah mudah bagi Ayub untuk tetap bersyukur kepada Tuhan meskipun telah kehilangan segalanya dalam hidupnya? Tentu saja tidak! Di tengah situasi yang terjadi, Ayub hancur secara mental dan fisik. Ia berada di titik terendah dan merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Kita bisa baca bagaimana ia mengekspresikan kehancurannya. 

"Ia membongkar aku di semua tempat, sehingga aku lenyap, dan seperti pohon harapanku dicabut-Nya." (Ayub 19: 10) 

Tetapi kita coba kembali melihat bagaimana sikap hati seorang Ayub memandang keadaannya. Sebagaimana diungkapkannya di dalam Ayub 1: 21, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" Dia mengakui bahwa dia datang ke dunia tanpa membawa apa-apa dan akan pulang tanpa membawa apa-apa. Dalam hal ini, Ayub meratapi keadaannya namun dengan ucapan syukur. 

Apakah hal yang sama bisa kita lakukan di tengah jalan terjal kehidupan yang kita hadapi? Jika keadaan membuat kita putus asa, kehilangan kesabaran, merasa apa yang kita alami tidak adil dan tidak pantas, frustrasi hingga membuat kita tawar terhadap Tuhan, mari mencoba untuk mengambil langkah yang sama seperti Ayub. Ini memang tidak akan mudah, tetapi mari membiarkan hati kita terbuka dan lepaskan ucapan syukur di tengah kesulitan hidup kita.

Kita bisa lakukan beberapa langkah sederhana ini:

Ambil tempat teduh dan nyaman untuk Anda sendiri. Lalu posisikan diri Anda dalam keadaan tenang sembari perlahan tarik napas dalam. Jaga agar hembusan napas lebih panjang daripada tarikan napas. Setiap kali bernapas, fokuslah untuk merelaksasikan tubuh Anda, terutama bagian tubuh yang tegang. Saat Anda merasa rileks, berdoalah memohon kepada Tuhan agar kehadiran-Nya nyata bagi Anda selagi Anda duduk tenang bersama-Nya.

Mulai refleksikan kondisi sulit atau rasa sakit yang Anda alami. Mungkin itu adalah masa penderitaan atau cobaan, atau bahkan pertengkaran yang menyakitkan, kekecewaan, atau kesulitan keuangan. Hindari "mengulang-ulang", cukup mengingat saja dan biarkan diri Anda merasakan rasa sakit atau emosi itu.

Undang Tuhan untuk hadir ke dalam situasi itu. Ingatlah bahwa Dia ada di sana saat itu terjadi. Mintalah Dia untuk menunjukkan kehadiran-Nya di tengah situasi itu.

Serahkan situasi hidup Anda sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan. Lalu percayakan hasilnya kepada kedaulatan dan kebaikan-Nya, meskipun menyakitkan dan tidak sesuai keinginan Anda.

Mulai berdamai dengan keadaan. Bukalah hati dengan penerimaan penuh atas segala keadaan, yakinlah bahwa segala sesuatu dalam hidup Anda sedang disaring oleh tangan Tuhan untuk mendatangan kebaikan dan menyatakan kemuliaan-Nya atas hidup Anda.

Dengan melakukan langkah-langkah di atas, kiranya iman Anda diteguhkan seperti Ayub yang tetap bersyukur di tengah pencobaan dan penderitaan. Mari belajar dari Ayub untuk bersyukur bukan hanya saat menerima yang baik, tetapi juga ketika menghadapi hal yang sulit (Ayub 2: 10).

Selamat menghidupi kebenaran Firman Tuhan. Tuhan Yesus Memberkati.

Sumber: Jawaban.com

Selasa, 11 November 2025

Jadi Barometer, Bukan Termometer

Shalom, saudara yang dikasihi Tuhan! Seperti hari yang cerah ini, semoga hati Anda juga penuh terang. Mari kita yakini bahwa apa pun yang ada di dalam hati kita ada dalam kendali Tuhan. Hari ini, saya ingin berbagi tentang renungan berjudul “Jadi Barometer, Bukan Termometer”

Ayat Renungan: Amsal 4:23 – “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Dalam keseharian, kita bisa berhadapan dengan banyak hal yang berada di luar kendali kita — entah itu cuaca, perilaku orang di sekitar, atau kebiasaan mereka yang mungkin berbeda dengan kita. Daripada berkonflik dengan keadaan sekitar, kita perlu belajar mengendalikan diri. Sebab jika kita tidak bisa mengendalikan diri, maka keadaan sekitar akan mengendalikan kita.

Lihat saja tren yang sedang populer. Kadang kita terbawa arus: nongkrong di kafe, ikut-ikutan gaya hidup yang sedang hits, padahal mungkin di rumah ada tanggung jawab yang menunggu. Seorang ibu, misalnya, mungkin lebih dibutuhkan anak-anaknya di rumah, tetapi karena ajakan teman, ia memilih nongkrong hingga berjam-jam. Akibatnya, timbul konflik dengan keluarga. Jika kebiasaan seperti ini terus dibiarkan, batasan menjadi kabur, dan ketika kita mencoba menjauh dari kebiasaan itu, bisa timbul konflik baru — pertemanan terganggu karena dianggap berubah.

Semua hal di luar diri kita tidak bisa kita kendalikan. Namun, jika kita memiliki pengendali utama - yaitu hati yang terarah pada Tuhan, maka kita bisa menerima keadaan apapun tanpa kehilangan damai. Saya pribadi punya prinsip, “Selama sesuatu itu baik dan bermanfaat, saya lakukan.” Tuntutan orang lain tidak harus selalu saya ikuti. Jika saya tidak melakukannya, saya tidak merasa terganggu. Sebaliknya, bila hati tidak terkendali, kita akan mudah tertekan oleh tuntutan batin, tekanan sosial, dan tren sekitar. Akhirnya, kita menjadi korban keadaan, mudah marah, kehilangan fokus, merasa gagal, dan mencari pelarian untuk mengisi kekosongan di hati.

Firman Tuhan di Amsal 4:23 berkata, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Sangat jelas bahwa hati adalah pusat kehidupan kita. Karena itu, mari kita jaga hati kita agar tetap sehat secara rohani.

Saudaraku, apa yang sedang menekan atau membuat Anda tidak tenang hari ini? Apakah itu berasal dari dalam diri atau dari lingkungan sekitar? Orang yang tidak bisa mengendalikan hati akan sulit hidup dalam ketenangan dan berdamai dengan kenyataan. Firman Tuhan menegaskan bahwa hidup yang bahagia dimulai dari hati yang dijaga dengan baik. Karena itu, jangan biarkan hal-hal di luar kendali menguasai pikiran dan perasaan kita.

Mari belajar menerima setiap keadaan dengan lapang hati, sebab tidak semua hal bisa kita ubah. Jadilah barometer, bukan termometer — pribadi yang menentukan arah, bukan yang dipengaruhi keadaan. Hari ini, mulailah dari diri sendiri dengan menjaga hati agar kita dapat hidup dalam damai: damai dengan diri, damai dengan sesama, dan terutama damai dengan Tuhan yang telah memberikan segalanya dengan begitu baik. Tuhan Yesus memberkati!

Hak Cipta ©Maria Kaesmetan, Departemen Spiritual Life CBN Indonesia
   
Sumber: Jawaban.com

Senin, 10 November 2025

Tiga Hal yang Menghalangi Kita Mendengar Suara Allah

Bacaan Hari ini:
Lukas 8:14 "Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang."

Anda tidak dapat mendengar suara Allah jika pikiran Anda dipenuhi oleh hal-hal lain—terutama kekhawatiran, urusan keuangan dan berbagai aktivitas. Jika telinga Anda selalu disibukkan dengan musik, televisi atau hal lain, maka saluran komunikasi akan penuh ketika Allah ingin berbicara. Karena itu, penting bagi Anda untuk menyingkirkan gangguan.

Yesus berkata dalam Lukas 8:7: "Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati."

Yesus memberikan gambaran tentang benih yang ditabur di tanah yang sudah dipenuhi semak. Saat tanaman mulai tumbuh, semak juga ikut tumbuh dan akhirnya menghimpit tanaman itu sehingga tidak pernah berbuah.

Yesus menjelaskan maknanya dalam Lukas 8:14: "Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang."

Ada tiga hal yang menghimpit dan menghalangi kita mendengar suara Allah:

1. Kekhawatiran. Kekhawatiran bagaikan semak duri. Ketika Anda terlalu sibuk dengan masalah dan tekanan hidup sehari-hari, hati Anda sulit peka terhadap suara Allah.

2. Kekayaan. Anda bisa begitu sibuk mencari nafkah, melunasi utang, menambah penghasilan atau bekerja tanpa henti, hingga akhirnya Anda tidak sempat benar-benar menjalani hidup.

3. Kenikmatan. Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan kesenangan. Tetapi Anda perlu berhati-hati agar tidak terlalu sibuk mengejar hiburan dan kesenangan, sampai melewatkan suara Allah dan rencana-Nya bagi hidup Anda.

Pernahkah Anda perhatikan bahwa semak atau gulma tidak perlu dirawat untuk tumbuh? Mereka muncul begitu saja. Bahkan, keberadaan gulma adalah tanda kelalaian. Jika Anda melihat gulma di kebun atau halaman, itu pertanda Anda perlu merawatnya. Demikian juga dengan "gulma rohani" dalam hidup Anda—itu bisa menunjukkan bahwa Anda sedang mengabaikan waktu bersama Allah, yang sebenarnya mengasihi Anda dan rindu bersekutu dengan Anda.

Renungkan :
- Gangguan apa saja dalam hidup Anda yang menghambat pertumbuhan rohani?
- Cara praktis apa yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi atau menyingkirkan gangguan-gangguan tersebut?
- Berapa banyak waktu dalam sehari yang Anda habiskan dalam keheningan? Apa yang mungkin berubah dalam hidup Anda jika Anda meluangkan lebih banyak waktu untuk hening dan tenang bersama Alla

Ketika hidup Anda penuh dengan "saluran sibuk" dan gulma kekhawatiran, kekayaan, serta kesenangan mulai menghimpit hubungan Anda dengan Allah, itu adalah saat yang tepat untuk berhenti sejenak dan menenangkan diri. Luangkan waktu untuk menyingkirkan kebisingan, agar Anda bisa mendengar suara Allah dengan lebih jelas.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Minggu, 09 November 2025

Kesepian

Bacaan: FILIPI 2:1-11

Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (Filipi 2:4)

Salah satu faktor penyebab fenomena bunuh diri adalah kesepian dan isolasi sosial. Sekalipun kesepian tidak selalu menjadi penyebab orang bunuh diri, tetapi diakui bahwa di beberapa daerah yang memiliki kondisi geografis yang terpencil, membuat warganya merasa terisolasi, terutama bagi kaum lanjut usia atau mereka yang ditinggalkan keluarga.

Di dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan (ay. 1). Itu semua adalah karya dan teladan yang sudah Kristus lakukan bagi kita, umat yang percaya kepada-Nya. Ketika semuanya itu tidak dinyatakan maka kesatuan di antara umat manusia sesungguhnya hanyalah kesatuan yang semu. Faktanya, banyak perkumpulan yang hanya didasarkan pada kesamaan kepentingan, kesamaan ego masing-masing anggotanya.

Sebagaimana nasihat Paulus kepada jemaat Filipi, umat Kristen semestinya saling memiliki kesatuan sebagai saudara seiman. Ada kesehatian, sama-sama mengarahkan hati dan pikiran kepada Kristus. Hidup berdasar pada firman-Nya dan satu kasih. Mengasihi sesama sebagaimana mengasihi diri sendiri. Menyingkirkan sifat egosentris dan individualistis. Karena itu, alih-alih mementingkan diri sendiri, baiklah kita saling peduli. Artinya, berbalas-balasan dalam kebaikan dan kasih. Bukan hanya senang didengar, melainkan juga mau mendengar. Bukan hanya mau menerima, melainkan juga rela berbagi. Dengan demikian tidak ada lagi yang kesepian dan sendirian dalam menanggung pergumulan. --EBL/www.renunganharian.net

JANGAN BIARKAN SAUDARA KITA DI DALAM TUHAN MENGALAMI KESEPIAN KARENA KITA TIDAK MEMILIKI KEPEDULIAN.

Sabtu, 08 November 2025

Penyebab Ketidakbahagiaan

Bacaan: 1 RAJA-RAJA 21:1-16

Lalu Ahab masuk ke dalam istananya dengan hati kesal dan gusar karena perkataan yang diucapkan Nabot, orang Yizre'el itu, kepadanya, "Aku tidak akan memberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku." (1 Raja-raja 21:4)

"Puji Tuhan!" ucap seorang wanita sesudah menutup percakapan di telepon. Wajahnya tampak riang. Baru saja pihak swalayan langganannya memberitahu bahwa ia mendapat hadiah undian berupa panci penggorengan. Ia menelepon sahabatnya dan bercerita tentang hal itu. "Aku juga, " kata sahabatnya, "Aku dapat kalung emas seberat lima gram." Seketika wajah wanita itu berubah cemberut.

Hal serupa terjadi pada Ahab sesudah Nabot menolak bertransaksi dengannya. Ia merasa tidak senang karena terpikir olehnya, sebagai raja, ia belum mendapat segala yang terbaik dari negeri itu. Di samping istananya masih terdapat sebuah kebun anggur yang subur, yang cocok untuk dijadikan kebun sayur. Namun, si pemilik tidak bersedia menjual atau menukarnya dengan alasan kebun itu merupakan bagian dari milik pusaka nenek moyangnya. Terlihat Ahab masuk ke dalam istananya dengan kesal hati dan gusar. Ia berbaring sambil menelungkupkan wajahnya dan tidak mau makan. Izebel, istrinya yang kejam, bergegas mengambil tindakan demi mengembalikan kebahagiaan suaminya. Ia merancang siasat untuk memfitnah Nabot sehingga Nabot dihukum mati. Maka dengan leluasa Ahab mengambil kebun anggur itu.

Sekarang jelas terbentang penyebab ketidakbahagiaan. Seseorang merasa tidak senang bukan karena dirinya tidak diberkati oleh Tuhan, melainkan ia menimbang berkat milik orang lain yang lebih besar atau lebih baik dari miliknya. Atau singkatnya dikatakan, ia melirik ke kiri dan ke kanan. Sementara yang dilirik merasakan hal yang sama, dan akhirnya mereka semua tidak bahagia. Kita jangan seperti itu. Jangan rela kehilangan kesenangan hanya karena lirikan. Sadari berkat dalam genggaman tangan sudah merupakan takaran terbaik dari Tuhan. --LIN/www.renunganharian.net

KITA AKAN MENJADI ORANG-ORANG YANG BERBAHAGIA KETIKA KITA DAPAT MENSYUKURI BERKAT TUHAN DALAM GENGGAMAN TANGAN KITA.

Jumat, 07 November 2025

Tiga Hambatan untuk Mendengar Suara Allah

Bacaan Hari ini:
Yakobus 1:21 "Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu."

Kita semua tahu bahwa kualitas sinyal telepon seluler bisa berbeda-beda, tergantung pada lokasi. Hal yang sama berlaku ketika kita ingin mendengar suara Allah. Anda harus berada di posisi yang tepat untuk dapat mendengar-Nya berbicara.

Allah ingin berbicara kepada kita, tetapi kadang kita tidak peka atau tidak mau mendengar. Ada kalanya kita sudah lebih dulu memutuskan untuk melakukan apa yang kita inginkan—dan jika jujur, hal itu tidak selalu sama dengan yang Allah kehendaki. Ketika pikiran kita tertutup bagi-Nya, maka semakin sulit bagi kita untuk mendengar suara-Nya dan mengikuti rencana-Nya dalam hidup kita.

Namun jika Anda sungguh ingin mendengar suara Allah, Anda perlu memahami apa yang menghalangi Anda dari mendengar-Nya. Ada tiga hambatan yang membuat pikiran tertutup terhadap pesan Allah:
1. Kesombongan. Jika Anda berpikir tidak membutuhkan Allah dalam hidup dan lebih suka mengandalkan diri sendiri, kemungkinan besar Anda tidak membuka telinga untuk mendengar suara Allah. Kesombongan menutup hati terhadap kemungkinan bahwa Ia sebenarnya ingin berbicara kepada Anda.

2. Ketakutan. Banyak orang tidak dapat mendengar Allah karena mereka takut mendengar suara-Nya. Beberapa orang berpikir bahwa mendengar suara Allah atau merasakan pimpinan-Nya akan membuat mereka dianggap fanatik agama.

3. Kepahitan. Jika Anda terus menyimpan luka, sakit hati, dendam, atau rasa benci, hati Anda bisa menjadi keras—dan itu membuat Anda sulit mendengar suara Allah. Hati yang keras juga bisa membuat Anda bersikap defensif, bahkan terhadap kasih Allah sendiri.

Mungkin Anda pernah terluka begitu dalam—entah baru-baru ini atau bertahun-tahun lalu—dan Anda masih menyimpannya. Ketahuilah: Anda harus melepaskannya. Bukan demi orang lain, tetapi demi diri Anda sendiri. Kepahitan adalah luka yang Anda timbulkan sendiri, yang memungkinkan orang dari masa lalu terus melukai Anda hingga hari ini. Anda perlu melepaskannya, bukan karena mereka layak diampuni, tetapi karena Anda perlu melanjutkan hidup.
Yakobus 1:21 berkata: "Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu."

"Dengan rendah hati menerima" berarti Anda melepaskan kesombongan dan berhenti mencoba menyelesaikan semuanya sendiri. Inilah kunci untuk membuka pikiran dan hati, sehingga Anda dapat mendengar suara Allah—Dia yang menciptakan Anda, mengasihi Anda, dan rindu berbicara kepada Anda.

Renungkan :
- Bagaimana cara Anda mendengar suara Allah atau merasakan pimpinan-Nya? Dalam hal apa saja Ia pernah berbicara kepada Anda?
- Perubahan apa yang perlu Anda lakukan dalam hidup supaya dapat menyingkirkan 'segala yang kotor dan jahat" dan lebih peka mendengar suara Allah?
- Mengapa kita kadang menyamakan mendengar suara Allah dengan fanatisme agama?

Singkirkanlah kesombongan, ketakutan dan kepahitan yang menghalangi Anda mendengar suara Allah dan menjalani tujuan-Nya.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Kamis, 06 November 2025

Jadilah Pipa Berkat Allah

Ayat Renungan: 1 Petrus 5:5b – "Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."

Melalui ayat renungan dari 1 Petrus 5: 5b, kita mau belajar untuk terus mempraktikkan kerendahan hati hingga kita menjadi serupa dengan Kristus. Kerendahan hati memberi akses besar untuk menerima berkat Tuhan. Orang yang rendah hati dikasihi Tuhan, tetapi orang yang sombong ditentang-Nya, sebab kesombongan membuat seseorang merasa dirinya mampu menjadi “Tuhan” atas hidupnya sendiri.

Untuk menjadi rendah hati tidaklah instan. Kadang kita harus melalui masa diremehkan, diabaikan, atau dikucilkan. Namun justru di situ kita belajar untuk mencari Tuhan dan mengikuti cara Yesus merendahkan diri. Yesus taat pada Bapa-Nya dan tidak menganggap diri-Nya memiliki segalanya. Karena itulah Ia dimuliakan.

Demikian juga kita, hendaklah melayani tanpa pamrih, tanpa perhitungan, dan tanpa agenda tersembunyi. Ketulusan dalam memberi membuka jalan bagi berkat dan perkenanan Tuhan. Jadilah pipa tempat Allah mengalirkan kasih dan kebaikan-Nya bagi orang lain. Bila pipa tidak merendah, air tidak akan mengalir—ia akan tergenang, berlumut, dan menjadi sumber penyakit. Begitu pula hidup kita: hanya dengan kerendahan hati, kasih Tuhan dapat mengalir melalui kita.

Tanpa pamrih, tanpa hitung-hitungan, mari memberi waktu, tenaga, pikiran, bahkan pengampunan kepada mereka yang membutuhkan. Hidup yang mengalir dalam kasih akan membawa kebahagiaan sejati.

Action Praktis:

Hari ini, mari kita putuskan untuk menjadi “pipa berkat Allah”. Rendahkan hati kita agar kasih dan kebaikan Tuhan dapat mengalir melalui hidup kita kepada sesama. Lakukanlah satu tindakan kasih tanpa pamrih setiap hari, dan lihat bagaimana Tuhan memuliakan hidupmu.

Hak Cipta ©Maria Kaesmetan, Departemen Spiritual Life CBN Indonesia

Sumber: Jawaban.com

Rabu, 05 November 2025

Menyalahkan Pihak Lain

Bacaan Alkitab hari ini:
Yeremia 44-45

Apa yang paling sering dilakukan oleh orang yang tidak ingin bertobat dari dosa-dosanya? Jawabannya adalah menyalahkan orang lain, bahkan menyalahkan TUHAN. Orang yang tidak ingin bertobat berusaha membenarkan diri dengan menyalahkan orang lain atau menyalahkan situasi yang dihadapi. Misalnya, orang yang kedapatan berselingkuh dan tidak mau bertobat akan berkata, "Yang menjadi sumber masalah adalah istri saya kurang merawat diri." Atau "Pekerjaan saya menempatkan saya pada posisi sulit, sehingga saya akhirnya tidak tahan dan selingkuh." Alasan semacam ini terlalu berlebihan karena banyak juga orang yang tidak selingkuh saat menghadapi godaan yang serupa.

Bacaan Alkitab hari ini membicarakan tentang perselingkuhan rohani. Umat Yehuda terus-menerus jatuh ke dalam praktik penyembahan berhala. Mereka menyembah para ilah bangsa-bangsa yang tidak mereka kenal (44:3). Kondisi seperti ini terjadi terus secara turun-temurun. Inilah salah satu alasan yang membuat pada akhirnya, Allah menghukum dan membuang mereka. Yang menyedihkan, umat Yehuda yang tidak ikut dibawa ke pembuangan ternyata tidak berubah. Mereka tidak mau menerima kuk—dikuasai oleh Babel—dan memilih untuk lari ke Mesir. Di Mesir, mereka menyembah ilah-ilah lain yang terdapat di Tanah Mesir (44: 8). Saat Allah memperingatkan mereka melalui Nabi Yeremia, mereka menolak firman Allah serta tetap membakar kurban kepada Ratu Surga (44:16-17). Kemungkinan, Ratu Surga adalah Dewi Astoret, yang memang sudah menjadi sembahan orang Kanaan pada masa lalu. Yang luar biasa, alasan mereka untuk tetap menyembah Ratu Surga adalah karena ketika melakukannya, mereka mempunyai cukup makanan, merasa bahagia, dan tidak mengalami penderitaan (44:17). Akan tetapi, sejak mereka berhenti membakar kurban atau mempersembahkan kurban curahan kepada Ratu Surga, mereka kekurangan segalanya dan dihabisi oleh pedang dan kelaparan (44:18). Dengan kata lain, melalui pernyataan yang mereka sampaikan itu, mereka secara tidak langsung menyalahkan TUHAN: Beribadah kepada Ratu Surga membuat mereka tidak menderita, sedangkan beribadah kepada TUHAN membuat mereka menderita! Kapan mereka sungguh-sungguh beribadah kepada TUHAN? Bukankah mereka selalu mendukakan hati TUHAN dengan mengingkari perjanjian dan hidup seperti bangsa-bangsa yang tidak mengenal TUHAN? Apakah Anda senang menyalahkan orang lain, menyalahkan situasi, atau menyalahkan Tuhan atas penderitaan yang Anda alami? Apakah Anda sudah mengintrospeksi diri dan memeriksa cara hidup Anda? Apakah Anda sudah berusaha menaati firman Tuhan? [GI Wirawaty Yaputri]

Sumber: Renungan GKY

Selasa, 04 November 2025

Doa Orang yang Putus Asa

Kawan-kawanku yang akrab Kaujauhkan daripadaku, tinggal kegelapan menemani aku. –Mazmur 88:19 (BIMK)

Ayat Bacaan & Wawasan :
Mazmur 88:2, 7-19

Charles telah tenggelam ke dalam depresi. Meski memiliki keluarga yang penuh kasih, ia tetap merasa sendirian. “Aku merasakan tekanan yang semakin besar untuk selalu mendukung mereka,” katanya, “dan rasanya aku ingin bunuh diri saja.” Yang mengejutkan—atau mungkin tidak—Charles Morris juga memimpin sebuah lembaga pelayanan Kristen.

Seorang teman yang bijak memberi tahu Charles bahwa ketika dihadapkan dengan depresi, “Kita harus semakin meresapi Kitab Mazmur.” Charles pun berhasil melewati keputusasaannya yang mendalam dengan tekun membaca bagian-bagian Alkitab yang berhubungan dengan keadaannya, menjalani perawatan medis yang sesuai kebutuhannya, serta mencurahkan isi hatinya kepada Allah.

Kitab Mazmur banyak berisi ungkapan hati yang blak-blakan. Heman, orang Ezrahi, menuliskan salah satu mazmur yang paling pedih. Pengharapan hanya ditemukan pada baris pembuka: “Ya Tuhan, Allah yang menyelamatkan aku” (Mzm. 88:2). Kemudian Heman tampak seperti menuduh Allah: “Engkau melemparkan aku ke lubang yang dalam” (ay. 7 BIMK). “Aku hancur tertindas oleh murka-Mu” (ay. 8 BIMK). Ia juga bertanya-tanya: “Ya Tuhan, mengapa Engkau menolak aku? Mengapa Kaupalingkan wajah-Mu daripadaku?” (ay. 15 BIMK). Kebanyakan mazmur ditutup dengan sebuah pesan pengharapan. Namun, tidak dengan mazmur yang satu ini. Heman menyimpulkan, “Tinggal kegelapan menemani aku” (ay. 19 BIMK). Inilah doa dari orang yang benar-benar putus asa. Meski demikian, Heman mengungkapkan seluruh penderitaannya kepada Allah.

Ketika kita membaca mazmur yang demikian, kita menyadari bahwa kita tidak sendirian. Banyak orang juga pernah mengalami perasaan putus asa dan memberanikan diri untuk menyuarakannya. Allah dapat menerima kejujuran yang pahit dari Heman. Dia juga bisa menerima kejujuran hati Anda. Dia selalu hadir, dan Dia mendengarkan Anda.

Oleh:  Tim Gustafson

Renungkan dan Doakan
Bagian mana dari Mazmur 88 yang paling dekat dengan pengalaman Anda? Apa yang akan Anda minta dari Allah hari ini?

Ya Bapa, kadang kala aku sulit berdoa, karena begitu menderita. Terima kasih, karena Engkau menerima seluruh derita dan kejujuran hatiku.
Bagikan

Sumber: Our Daily Bread

Senin, 03 November 2025

Solusi Yang Membawa Masalah Lebih Besar

Bacaan: Hakim-hakim 21:16-24

Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak.
- Amsal 12:15

Empat ratus gadis dari Yabesh-Gilead tidak cukup untuk orang-orang Benyamin (Hak. 21:12-14). Jadi, apa solusinya? Mereka mengajari orang-orang Benyamin untuk menculik gadis-gadis Silo! Setiap tahun diadakan perayaan yang diyakini para penafsir sebagai Hari Raya Pondok Daun. Ini adalah perayaan penuh sukacita sehingga para gadis Silo keluar dan menari. Namun, karena akal mereka, perayaan ini berakhir dengan tragedi. Gadis-gadis Silo diculik oleh orang-orang Benyamin. Bayangkan kesedihan keluarga gadis-gadis tersebut.

Tidak hanya mendatangkan tragedi bagi penduduk Silo, usul mereka ini sebenarnya melanggar Taurat. Keluaran 21:16 dan Ulangan 24:7 memerintahkan untuk menghukum mati orang yang melakukan penculikan. Dengan kata lain, mereka mengajari orang-orang Benyamin untuk melakukan dosa yang hukumannya setimpal dengan kematian! Orang yang waras akan dengan cepat berpikir, lho, ini kan solusi yang malah membawa masalah lebih besar?! Bagi orang-orang Israel, lebih baik membiarkan penculikan terjadi daripada melanggar sumpah mereka yang bodoh. “Penduduk Silo mengalami tragedi dan orang-orang Benyamin berdosa? Bukan urusan kami! Yang penting kami tidak melanggar sumpah!” Mereka menganggap solusi mereka adalah solusi cerdas, dan itulah sebabnya ditekankan mereka kembali ke tempatnya masing-masing (ay. 24) karena mereka menganggap masalah sudah beres.

Itulah kebodohan yang seringkali kita lakukan. Ada masalah dan kita mencari solusi. Tetapi solusi tersebut justru menimbulkan masalah yang lebih besar. Anda kesal dengan seorang rekan kerja. Solusi Anda adalah berhenti dari tempat kerja tersebut. Sekarang Anda tidak punya pekerjaan. Solusi yang lebih baik tentunya adalah mengomunikasikan masalahnya dengan rekan Anda atau jika masih gagal, melaporkannya kepada HRD. Anda kesal karena anak Anda lebih sering menghabiskan waktu main games di kamarnya daripada dengan Anda. Solusi Anda adalah membuang games-nya. Sekarang, anak Anda justru marah dan tidak mau bicara dengan Anda.

Seperti kata Amsal, orang bodoh selalu menganggap solusinya tepat. Padahal solusinya mungkin mendatangkan masalah lebih besar. Barangkali salah satu alasan kita saat ini terjerat masalah yang begitu rumit karena solusi-solusi bodoh yang bertubi-tubi kita lakukan. Sebelum melakukan sebuah solusi, mintalah hikmat dahulu dari Tuhan dan nasihat dari orang yang lebih bijak.

Refleksi Diri:

Apakah saat ini Anda sedang menghadapi sebuah permasalahan rumit? Jika ya, apakah mungkin permasalahan terjadi karena Anda berkali-kali melakukan solusi yang keliru?

Apakah Anda meminta hikmat dari Tuhan dan meminta nasihat sebelum melakukan solusi? Atau Anda cenderung memikirkan solusi sendiri?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Minggu, 02 November 2025

Sringkil

Bacaan: OBAJA 1:1-16

"Jangan memandang rendah saudaramu pada hari kemalangannya, jangan bersukacita atas orang Yehuda pada hari kebinasaannya, jangan membual pada hari kesesakannya." (Obaja 1:12)

Ketika negeri Yehuda dijarah, orang Edom tidak terlibat. Namun, mereka bersikap begitu negatif hingga Obaja menyebut mereka sama jahat dengan para penjarah (ay. 11). Mereka tak tergerak menolong, hanya "berdiri di kejauhan" (ay. 11), meninggikan diri, mengejek, bahkan bersukacita bahwa Yehuda ditimpa petaka (ay. 12).

Betapa buruk sikap orang Edom itu. Sringkil, kata orang Jawa. Apa itu? Tak suka melihat orang lain senang, tak senang melihat sesama berbahagia, tak mau orang lain mengalami hal baik, kecewa jika sesama berhasil, benci melihat sesama saling mengasihi, tetapi gembira melihat sesama dalam kesulitan, berbahagia atas kemalangan orang lain, bersukacita melihat sesama diimpit derita. Sebab itu, Tuhan mengingatkan, "Jangan memandang rendah saudaramu pada hari kemalangannya, jangan bersukacita atas orang Yehuda pada hari kebinasaannya, jangan membual pada hari kesesakannya" (ay. 12). Tuhan menegur Edom, "Jangan sringkil."

Tiap orang-juga kita semua-bisa dijangkiti sikap sringkil. Jika prasangka, dendam, iri hati, kebencian, dsb. kita biarkan menguasai hati, sikap sringkil mudah berkecambah dan merajalela.

Tuhan mengingatkan, "Jangan sringkil." Tak hanya karena sringkil itu jahat dan merusak, tetapi juga karena Tuhan tahu bahwa pada akhirnya kita sendirilah yang memutuskan apakah kita akan membiarkan dendam, prasangka, dsb. menguasai hati melahirkan sikap sringkil, atau-dengan pertolongan Tuhan-kita memerangi hal-hal negatif itu dan menggantinya dengan cinta kasih. --EE/www.renunganharian.net

JANGANLAH DIKALAHKAN OLEH KEJAHATAN, TETAPI KALAHKANLAH KEJAHATAN DENGAN KEBAIKAN!-ROMA 12:21

Sabtu, 01 November 2025

Apa yang Akan Allah Lakukan

Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia. –Yohanes 16:33

Ayat Bacaan & Wawasan :
Yohanes 16:31-33

Dalam serangan udara Nazi Jerman terhadap kota London pada 29 Desember 1940, sebuah bom menghancurkan gudang dekat Katedral Santo Paulus yang menyimpan 40.000 eksemplar buku karya Oswald Chambers. Mendengar kabar bahwa buku-buku yang telah ia susun dan sunting itu musnah tanpa asuransi, Biddy Chambers dengan tenang berkata kepada putrinya, “Allah telah menggunakan buku-buku itu bagi kemuliaan-Nya, tetapi sekarang itu sudah berakhir. Mari kita menanti dan melihat apa yang akan Allah lakukan sekarang.”

Mungkin Biddy teringat pada apa yang pernah ditulis oleh mendiang suaminya, Oswald, pada masa-masa awal Perang Dunia I. Oswald menulis tentang bagaimana Yesus sudah berbicara kepada murid-murid-Nya tentang “bencana yang tak terelakkan” supaya ketika hal-hal yang mengerikan terjadi, mereka “tidak takut” karena Dia menyertai mereka.

Yesus memberi tahu sahabat-sahabat-Nya, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33). Dia ingin mereka tetap kuat dalam iman kepada Bapa-Nya supaya mereka dapat bertahan menghadapi pencobaan dan tantangan yang akan mereka jalani.

Keyakinan Biddy yang tenang kepada Allah berhasil menuntunnya melewati semua itu, dan akhirnya buku-buku tersebut dapat dicetak ulang serta menjadi materi-materi rohani yang memberkati generasi demi generasi. Kita juga dapat menemukan kekuatan dan pengharapan dalam perkataan Yesus, yang menyatakan bahwa Dia telah mengalahkan dunia. Kita tahu Dia tidak akan meninggalkan kita (14:18) dan akan memberi kita damai sejahtera (ay. 27), apa pun yang kita hadapi.

Oleh: Amy Boucher Pye

Renungkan dan Doakan
Apa tanggapan Anda terhadap reaksi Biddy, saat mendengar kabar menyedihkan tentang terbakarnya buku-buku itu? Bagaimana Anda dapat mengikuti teladannya dalam mempercayai Allah?

Yesus Maha Kasih, tolonglah aku “mengalahkan dunia” dalam hidup sehari-hari, saat aku membagikan kasih-Mu kepada orang lain.
Bagikan

Sumber: Renungan Our Daily Bread