Sabtu, 28 Februari 2026

Tak Sebatas Mengerti

Bacaan: MATIUS 21:33-46

Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya. (Matius 21:45)

Saat membaca Alkitab atau mendengarkan khotbah, adakalanya saya kesulitan memahami apa yang sedang saya baca atau dengarkan. Lalu saya membaca ulang, tentunya dengan lebih teliti. Kadang saya harus membuka kamus, atau membaca tafsiran atau penjelasan orang lain. Jika memungkinkan, saya mencari waktu untuk bertanya kepada sang pengkhotbah. Tujuannya ialah agar saya sungguh-sungguh mengerti makna dari apa yang saya baca atau dengarkan. Namun ternyata, mengerti saja belumlah cukup. Harus dibarengi dengan tindakan yang sesuai dengan apa yang Tuhan firmankan.

Setelah Tuhan Yesus menyampaikan berbagai perumpamaan, para imam kepala dan orang Farisi akhirnya mengerti maksud-Nya. Dia sedang menyerupakan mereka dengan para petani yang menyewa kebun anggur, tetapi menolak membayar hasil panen yang menjadi bagian dari sang pemilik. Merekalah yang disindir serta ditegur-Nya karena telah berlaku tidak setia kepada Tuhan, tetapi justru merasa benar sendiri. Mereka akan mendapatkan hukuman dari Allah. Ya, mereka sungguh memahaminya. Namun, mereka tidak menyukai pesan itu. Mereka bahkan berusaha menangkap dan membunuh Tuhan Yesus.

Memang, sering sekali ada bagian firman Tuhan sangat menyulitkan bagi kita, bukan karena kita tidak memahaminya. Melainkan karena hal itu tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita tidak suka ditegur, dikritik, atau dikoreksi. Kita merasa ditempeleng atau ditelanjangi. Kejahatan kita ditunjukkan. Pada saat itu, mengerti saja tidaklah cukup. Seharusnya kita rela diubah, mau merendahkan hati serta menaati Tuhan. Itulah langkah terbaik yang seharusnya kita tempuh. --HT/www.renunganharian.net

SUNGGUH-SUNGGUH MENGERTI FIRMAN TUHAN SEHARUSNYA DIIKUTI DENGAN KERELAAN UNTUK BERTINDAK MENAATINYA.

Jumat, 27 Februari 2026

ORANG YANG BERHUTANG

Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang. [Roma 8:12]

Sebagai ciptaan Allah, kita semua berhutang kepada-Nya: untuk menaati Dia dengan segenap tubuh, jiwa, dan tenaga. Dengan melanggar perjanjian-Nya, seperti yang kita semua telah perbuat, kita adalah orang yang berhutang keadilan-Nya, dan hutang kita jumlahnya terlalu besar dan tidak mampu kita bayar.

Tetapi mengenai orang Kristen kita bisa mengatakan bahwa ia tidak berhutang keadilan kepada Allah sedikit pun, karena Kristus telah membayar hutang umat-Nya; itulah sebabnya, orang percaya lebih berhutang untuk mengasihi. Aku adalah orang yang berhutang anugerah dan pengampunan Allah; namun aku bukan berhutang keadilan-Nya, karena Dia tidak akan pernah mendakwa aku atas hutang yang sudah dibayar. Kristus berkata, “Sudah selesai,” [Yohanes 19:30] dan dengan itu Dia menyatakan bahwa apapun hutang umat-Nya telah selamanya dihapuskan dari kitab peringatan [Maleakhi 3:16]. Kristus telah lunas memuaskan keadilan ilahi; rekening telah seimbang; tanda tangan itu telah dipakukan di kayu salib; kuitansi telah diberikan, dan kita bukan lagi penghutang keadilan Allah. 

Tetapi kemudian, karena kita bukan lagi orang berhutang kepada Allah dalam pengertian itu, kita telah menjadi penghutang yang sepuluh kali lebih besar. Orang Kristen, berhentilah dan renungkan sejenak. Betapa besar engkau berhutang kedaulatan ilahi! Begitu banyak hutangmu atas kasih-Nya yang tanpa pamrih, yang karenanya Dia memberikan Putra-Nya sendiri untuk mati bagimu. Perhitungkanlah berapa banyak engkau berhutang atas anugerah pengampunan-Nya yang cuma-cuma, yang masih selamanya mengasihimu bahkan setelah ribuan penghinaan. Pikirkan berapa hutangmu terhadap kuasa-Nya; bagaimana Dia membangkitkan engkau dari kematian dalam dosa; bagaimana Dia menjaga kehidupan rohanimu; bagaimana Dia menjaga supaya engkau tidak jatuh; dan bagaimana Dia, walaupun ribuan musuh menghadang, membuat engkau tetap melangkah pada jalurmu. Renungkan hutangmu kepada Dia yang tidak pernah berubah. 

Meskipun engkau telah berubah ribuan kali, Dia tidak pernah sekali pun berubah. Tak terdulang hutangmu kepada setiap sifat Allah. Kepada Allah engkau berhutang, engkau dan segala yang engkau miliki—persembahkanlah tubuhmu sebagai suatu persembahan yang hidup, itu adalah ibadahmu yang sejati. [Roma 12:1]

Sumber: Renungan Pagi (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).

Kamis, 26 Februari 2026

Membangun Watak

Bacaan: YAKOBUS 1:19-27

Sebab, jika seseorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia seumpama seseorang yang sedang memandang mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Ia memandang dirinya lalu pergi dan segera lupa bagaimana rupanya. (Yakobus 1:23-24)

Sebagian orang Jawa menghidupi pepatah, watuk bisa ditambani, nanging watak digawa tekane pati. Artinya, 'batuk bisa diobati, tetapi watak tidak akan berubah sampai mati'. Paham ini menganggap bahwa watak seseorang tidak akan dapat diubah. Sementara pandangan psikologis mengatakan bahwa kecerdasan emosional (Emotional Quotient/EQ) bisa ditingkatkan sepanjang hidup.

Tidak seperti kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient/IQ) yang bersifat relatif stabil sejak masa remaja dan sulit ditingkatkan secara signifikan setelah dewasa, EQ bisa terus dikembangkan sepanjang hidup. Dan EQ yang terus ditingkatkan ini secara pelan, tetapi pasti akan mengubah watak buruk seseorang. Apalagi jika dilakukan dengan kesadaran, kedisiplinan, dan penyerahan diri kepada Tuhan. Mudahnya, membentuk watak bukanlah hal mustahil di dalam Tuhan.

Yakobus mengingatkan bahwa firman Tuhan bukan sekadar cermin untuk mengenali diri. Firman harus dihidupi, ditanggapi dengan tindakan sehingga membawa perubahan. Kita dapat mengawalinya dengan kesadaran dan pengendalian diri. Mengakui dan menyadari kekurangan diri. Selanjutnya, buka hati untuk dibentuk Tuhan sehingga Roh Kudus leluasa bekerja. Secara khusus dalam hal watak, kita dapat melangkah dengan mengenali dan mengelola emosi, mengembangkan empati terhadap sesama, meningkatkan keterampilan relasional dengan membangun hubungan yang sehat, memotivasi diri berdasarkan nilai-nilai kekal, serta memaafkan dan melepaskan luka (pengampunan dan penyembuhan luka batin). --EBL/www.renunganharian.net

PERTUMBUHAN ROHANI TERGAMBAR MELALUI KARAKTER, RELASI, DAN REAKSI KITA TERHADAP HIDUP DAN SESAMA.

Rabu, 25 Februari 2026

"SAYA TANTANG ANDA!"

Bacaan:
Mazmur 119:41-48

Nas:
Sebab aku berharap kepada hukum-hukum-Mu. Aku hendak berpegang pada Taurat-Mu senantiasa, untuk seterusnya dan selamanya (Mazmur 119:43,44)

Saya mendengar suatu cerita tentang sebuah gereja kecil yang mengadakan reuni. Seorang mantan jemaat yang menghadiri perayaan itu telah menjadi seorang jutawan. Ketika ia bersaksi bagaimana Allah memberkatinya selama bertahun-tahun, ia mengaitkan hal itu dengan suatu peristiwa dari masa kecilnya. 

Ia mengatakan bahwa ketika masih kecil, saat ia mendapatkan penghasilan pertama, ia memutuskan untuk menyimpannya sampai akhir hidupnya. Namun kemudian seorang misionaris tamu berkhotbah tentang kebutuhan mendesak di ladang misi. Ia bergumul untuk memberikan uangnya itu. "Namun, Tuhan menang," kata lelaki itu. Kemudian, dengan bangga ia menambahkan, "Saya memasukkan uang yang menjadi harta saya itu ke dalam kantung persembahan. Dan saya yakin, alasan Allah sangat memberkati saya adalah karena ketika masih kecil, saya memberikan semua yang saya miliki kepada-Nya." Jemaat terharu mendengar kesaksian itu. Namun, kemudian seorang wanita tua bertubuh kecil yang duduk di depan bersuara, "Saya tantang Anda untuk melakukannya lagi!" 

Ada kebenaran penting di balik cerita itu: Prestasi masa lalu bukanlah ukuran kedewasaan rohani saat ini. Mazmur 119:44 mengatakan, "Aku hendak berpegang pada Taurat-Mu senantiasa." Pemazmur sadar ia perlu menjaga komitmennya selalu segar setiap hari. 

Sebagai orang kristiani, kita tidak dapat mengandalkan kemenangan-kemenangan masa lalu. Saat ini kita harus memberikan kesetiaan kita seutuhnya kepada Tuhan. Maka tak ada orang yang akan menantang kita, "Saya tantang Anda untuk melakukannya lagi!" --DCE

GUNAKANLAH MASA LALU SEBAGAI "PAPAN LONCAT" BUKAN SEBAGAI "SOFA"

Sumber: Renungan Harian

Selasa, 24 Februari 2026

Pengutusan Allah dan Hasilnya

Bacaan Alkitab hari ini:
Yunus 3

Setelah mengalami anugerah Allah secara pribadi yang memberi kesempatan kedua, Nabi Yunus bersedia diutus ke kota Niniwe yang sangat besar itu (3:3). Selain besar, kota itu juga sangat kuat, baik secara militer maupun ekonomi. Tidak ada kerajaan yang berani menyerangnya karena tidak ada kerajaan yang memiliki pasukan yang cukup untuk mengepung kota yang luasnya tiga hari perjalanan itu. Akan tetapi, Allah bisa menaklukkan dan mengubah kota itu, bukan dengan pasukan besar, tetapi cukup dengan mengutus satu orang saja.

Masalah kota Niniwe—yang besar dan makmur—adalah bahwa penduduknya membanggakan kejahatan mereka. Nabi Yunus diutus Allah untuk memperingatkan penduduk Niniwe tentang hukuman yang akan datang empat puluh hari lagi jika mereka tidak bertobat (3:4). Dengan segera, semua orang Niniwe—termasuk raja dan bahkan semua ternak mereka—masuk dalam suasana berkabung yang menandakan pertobatan serius (3:5-8). Penyesalan yang disertai tekad untuk berubah membuat Allah membatalkan hukuman (3:9-10). Pertobatan orang Niniwe yang berlangsung cepat tidak hanya disebabkan karena mereka takut terhadap hukuman Allah, tetapi terutama karena Allah sendiri yang memberikan anugerah-Nya dan melembutkan hati mereka, sehingga mereka bersedia menyambut khotbah Yunus dan percaya kepada Allah (3:5).

Kisah Nabi Yunus dalam bacaan Alkitab hari ini mengajarkan hal penting, yaitu bahwa setiap orang percaya dilayakkan menjadi utusan Tuhan dan bisa menjadi agen perubahan-Nya. Misi Tuhan bukan hanya bagi orang percaya yang hebat atau sukses, tetapi bagi semua orang percaya. Allah sering mengutus orang yang lemah dan pernah gagal, seperti Nabi Yunus atau Rasul Petrus. Kelemahan dan kegagalan bisa menghasilkan kerendahhatian. Orang yang rendah hati akan mengandalkan Allah saja, bukan mengandalkan diri sendiri. Keberhasilan misi di Niniwe tidak bergantung pada kemampuan Nabi Yunus, tetapi pada kehadiran dan kuasa Allah. Orang Kristen seharusnya rela diutus Allah karena kuasa dan tujuan Allah yang tuntas dan sempurna sudah dinyatakan melalui sosok Juruselamat yang lemah tak berdaya di kayu salib. Saat ahli Taurat dan orang Farisi meminta tanda yang hebat, Tuhan Yesus justru mengingatkan mereka pada kelemahan Nabi Yunus sebagai gambaran kematian dan kebangkitan-Nya (Matius 12:38-40). Rasul Paulus mendengar sendiri Tuhan berfirman, "Dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (2 Korintus 12:9). Jadi, kelemahan, kegagalan dan kejatuhan kita bisa berguna bagi Kerajaan Allah. Kalau Yunus bisa menjadi utusan-Nya yang berhasil, setiap kita juga pasti bisa. Pertanyaannya, Apakah Anda bersedia diutus oleh Allah? [Pdt. Iwan Catur Wibowo]

Sumber: Renungan GKY

Senin, 23 Februari 2026

VAS NIAT BAIK

Bacaan: Yakobus 4:13-17

Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa
(Yakobus 4:17)

Dalam kartun Peanuts karya Charles Schulz, Marcie memberi bunga kepada gurunya. Tidak mau kalah, Peppermint Patty berkata kepada guru itu, “Saya berpikir untuk melakukan hal yang sama Bu, tetapi saya tidak pernah meluangkan waktu untuk melakukannya. Dapatkah Anda memakai vas yang berisi niat baik?” 

Kita semua pernah mempunyai niat untuk melakukan sesuatu yang baik, tetapi kemudian gagal untuk menindaklanjuti niat itu. Kita mungkin ingin menelepon untuk mengetahui kabar seorang sahabat, atau mengunjungi seorang tetangga yang sedang sakit, atau menulis pesan untuk memberi dorongan kepada seorang yang terkasih. Tetapi kita tidak meluangkan waktu. 

Beberapa orang tahu bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan ke surga, dan mereka berencana untuk memercayai-Nya kelak. Namun, mereka selalu menundanya. Mereka mungkin memiliki niat baik, namun hal itu tidak membawa keselamatan. 

Sebagai orang kristiani, kita mungkin mengatakan bahwa kita ingin bertumbuh lebih dekat kepada Tuhan. Tetapi entah bagaimana, kita tidak menyediakan waktu untuk membaca firman Allah atau berdoa. 

Yakobus telah memberi peringatan yang keras mengenai masalah tidak mengambil tindakan: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (4:17). 

Adakah sesuatu yang kita tunda? Tulislah kartu atau surat itu hari ini. Kunjungilah teman yang sakit itu. Vas yang penuh niat baik tidak akan mencerahkan hari seseorang —Anne Cetas

MAKSUD BAIK TIDAK AKAN MENJADI BAIK SAMPAI MAKSUD ITU DIWUJUDKAN DALAM TINDAKAN

Sumber: Renungan Harian

Minggu, 22 Februari 2026

Sendiri di Tengah Keramaian

Bacaan: KEJADIAN 2:15-25

Tuhan Allah berfirman, "Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan baginya penolong yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18)

Kodrat makhluk sosial, manusia saling membutuhkan satu dengan yang lain. Konteks nas renungan hari ini memang terkait kesendirian Adam, yang lantas Allah lengkapi dengan menghadirkan Hawa di sisinya, sekaligus memberkati mereka sebagai pasangan suami-istri. Namun, dalam konteks lebih luas, ayat ini tampaknya juga menjadi awal dari pemahaman bahwa manusia tak bisa benar-benar hidup sendiri. Ia perlu menjalin relasi dengan orang lain jika ingin menjalani kehidupan yang lebih baik.

Akan tetapi, saat ini kita menghadapi fakta soal kemajuan teknologi yang justru membuat manusia seperti terisolasi di tengah keramaian. Interaksi sosial, juga aktivitas fisik mulai tergantikan dengan interaksi semu, khususnya lewat beragam aktivitas via internet. Alhasil, di tengah "keriuhan" aktivitas dunia maya yang terjadi, sebagian orang merasa kesepian. Suasana di meja makan pun tak lagi terasa hangat dan dirindukan karena secara fisik mungkin anggota keluarga hadir, tetapi malah asyik berinteraksi dengan orang lain sambil memegang gawai masing-masing. Sungguh miris dan menyedihkan, bukan?

Jika hari itu Allah bertindak untuk mengatasi masalah kesendirian bagi Adam, kini kitalah yang diharapkan dapat bertindak untuk mengatasi masalah "kesendirian" yang menghinggapi banyak orang pada zaman modern ini. Keputusan yang mungkin bisa dimulai dengan menggunakan gawai seperlunya, lalu kita mulai bangun kembali relasi dan interaksi dengan keluarga atau orang lain yang sedang bersama dengan kita ... mulai hari ini juga. --GHJ/www.renunganharian.net

BERBAGI TINDAKAN KASIH DAPAT MENJADI SOLUSI MASALAH KESENDIRIAN PADA MASA KINI.

Sabtu, 21 Februari 2026

Mengikuti Yesus yang Rendah Hati

Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. –Matius 18:3

Ayat Bacaan & Wawasan :
Matius 18:1-4

Dekat rumah kami, ada sebuah taman terkenal tempat kami sering berjalan santai bersama seorang anak laki-laki yang kami asuh. Area favoritnya adalah Taman Anak-Anak, dan di sana terdapat sebuah pintu kecil yang cukup besar untuk ukuran tubuhnya, tetapi cukup rendah untuk membuat saya harus membungkuk jika ingin melewatinya. Ia tertawa riang melihat saya berlutut dan menggeliat saat melewati pintu itu untuk mengejarnya.

Pintu kecil itu mengingatkan saya pada pelajaran Yesus dalam Matius 18. Di sana, Dia memanggil seorang anak kecil untuk menjelaskan orang seperti apa yang layak masuk ke dalam Kerajaan Surga (ay. 2). Tindakan ini sangat berani, karena pada zaman itu, anak-anak dianggap tidak penting dan sering diabaikan. Berbeda dengan zaman sekarang, pendapat dan keinginan mereka tidak diperhitungkan. Namun, Yesus justru menggunakan anak kecil sebagai gambaran untuk menyoroti kecenderungan manusia dalam mencari perhatian, kekuasaan, dan pengaruh.

Tentu saja Yesus tidak meminta murid-murid-Nya untuk menjadi anak kecil secara harfiah, tetapi Dia menekankan sifat-sifat yang menjadi ciri orang-orang yang melayani-Nya. Ciri yang terbesar adalah kerendahan hati, yakni sikap yang rela “merendahkan diri” (ay. 4) dan melayani sesama dengan tulus.

Pintu kecil di taman tadi mengingatkan saya bahwa kerendahan hati tidak tumbuh dengan sendirinya dalam diri kita. Namun, orang-orang percaya harus memilikinya. Kita dipanggil untuk mengikuti Juruselamat kita, yang memberikan teladan dalam kerendahan hati dengan cara “mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba” (Flp. 2:7).

Oleh:  Matt Lucas

Renungkan dan Doakan
Dalam hal apa Anda cenderung menonjolkan diri dan berusaha mencari perhatian? Bagaimana Anda dapat belajar untuk menjadi semakin serupa Yesus dalam kerendahan hati?

Ya Bapa, ampunilah sikapku yang senang meninggikan dan mementingkan diriku sendiri. Tolonglah aku agar memiliki hati seperti anak kecil yang selalu mencari-Mu.

Sumber: Our Daily Bread

Jumat, 20 Februari 2026

Menjadi Tampak Seperti

Bacaan: 1 KORINTUS 13:1-3

Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku. (1 Korintus 13:3)

Cinta adalah penentu kebermaknaan. Tanpa cinta, semua tak bermakna. Meskipun kita menguasai semua bahasa, punya karunia untuk bernubuat, punya pengetahuan luas, iman yang sempurna, suka berbagi, bahkan rela berkorban diri, tetapi jika tanpa cinta, semua sama sekali tak berarti (ay. 1-3).

Namun, secara tidak langsung ayat 1-3 menguak fakta yang mengerikan: tanpa cinta pun, kita bisa melakukan hal-hal yang tampak baik, tampak mulia, dan tampak religius. Tanpa cinta pun, kita bisa melakukan hal-hal yang tampak seperti penuh cinta.

Masalahnya, banyak orang mudah terpikat pada tampilan luar, tanpa menimbang yang ada di balik yang tampak. Dalam situasi demikian, fakta mengerikan di atas menjadi godaan besar. Banyak orang memakai fakta itu sebagai jalan untuk mencapai tujuan-tujuan egoistis. Mau contoh? Meski tanpa cinta, tetapi melulu demi popularitas dan pencitraan, orang bisa menggelontorkan "bantuan" kepada korban bencana alam.

Bagi orang-orang ini, yang penting bukan hidup yang bermakna, melainkan tercapainya tujuan egoistis mereka. Untuk itu, mereka butuh kamuflase yang terhormat untuk menutupi agenda egoistis mereka. Dan, menjadi tampak baik, menjadi tampak mulia, menjadi tampak religius adalah kamuflase yang sempurna.

Sebab itu, Tuhan mengingatkan: tanpa cinta, semua sama sekali tak bermakna. Apa artinya? Sabda di atas bukan encouragement untuk hidup tak bermakna, tetapi justru peringatan keras agar kita menghidupi cinta kasih agar hidup kita menjadi hidup yang bermakna. --EE/www.renunganharian.net

TETAPI JIKA AKU TIDAK MEMPUNYAI KASIH, AKU SAMA DENGAN GONG YANG BERKUMANDANG DAN SIMBAL YANG GEMERINCING.-1 KORINTUS 13:1B

Kamis, 19 Februari 2026

Berlimpah dengan Kasih

Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. –Filipi 1:6

Ayat Bacaan & Wawasan :
Filipi 1:3-11

Semasa remaja, saat mengikuti sebuah perkemahan musim panas, saya pernah merasa tidak nyaman dan terasing di tengah sekelompok peserta lainnya. Ketika salah seorang dari mereka mengolok-olok penampilan saya, hati saya terasa perih. Saya langsung berlari pulang ke tenda dan berpura-pura tidur ketika pemimpin grup datang memeriksa. Keesokan harinya, saya memilih untuk menghindar saat ia mencoba membicarakan kejadian itu.

Beberapa waktu kemudian, ia menulis selembar surat untuk saya, dengan tujuan untuk membantu saya memahami bahwa Allah benar-benar peduli kepada saya. Dalam surat itu, ia mengutip perkataan Rasul Paulus: Kita bisa “yakin sepenuhnya, [bahwa] Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp. 1:6). Kata-kata sang rasul terasa seperti ditujukan langsung kepada saya.

Paulus menulis surat ini kepada jemaat di Filipi, yang telah dirintisnya lebih dari satu dekade sebelumnya, guna mendorong mereka agar semakin sungguh-sungguh mengasihi Allah dan satu sama lain “dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian” (ay. 9). Allah akan meneruskan pekerjaan-Nya di dalam dan melalui diri mereka, sementara Dia memenuhi mereka “dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus” (ay. 11). Saat itu saya memang belum memahami konteks asli bagian ini, tetapi saya mulai memahami bahwa identitas saya sebagai pribadi yang dikasihi Allah dimulai dengan mengenal dan menerima kasih Yesus bagi saya.

Allah rindu agar kita menerima kasih-Nya, yang kemudian akan bertumbuh dengan melimpah dalam hidup kita. Ketika Dia memenuhi kita dengan sukacita dan damai sejahtera-Nya, kita akan semakin mengenal Dia serta menyadari pekerjaan-Nya yang baik di dalam diri kita.

Oleh:  Amy Boucher Pye

Renungkan dan Doakan
Bagaimana kesadaran bahwa Allah akan menyelesaikan karya-Nya dalam diri Anda dapat menguatkan Anda? Bagaimana Anda dapat semakin teguh menerima identitas Anda dalam Kristus?

Ya Allah, Engkau menciptakan dan mengasihi diriku. Ajarlah aku untuk selalu mencari-Mu sebagai sumber kasih, sukacita, dan pertolonganku.

Sumber: Our Daily Bread

Rabu, 18 Februari 2026

Siapa yang Menjaga Anda?

Bacaan Hari ini:
Pengkhotbah 4:12 "Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan."

Ketika Anda pergi berlibur, kemungkinan besar Anda meminta tetangga untuk menjaga rumah Anda. Bahkan, di beberapa lingkungan terdapat kelompok ronda atau pengawasan lingkungan. Namun jika tetangga Anda menjaga rumah Anda, siapa yang menjaga jiwa Anda?

Siapa dalam hidup Anda yang membela Anda, melindungi Anda, dan menolong Anda tetap berada di jalur yang benar?

Siapa pun Anda, Anda membutuhkan orang-orang yang bersedia memperhatikan Anda dan memperingatkan Anda terhadap jebakan-jebakan rohani. Orang-orang seperti itu dapat Anda temukan dalam keluarga gereja Anda. Bahkan, itulah salah satu tujuan utama dari keluarga Allah.

Filipi 2:4 berkata: "dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga."

Setiap orang memiliki titik buta—area pergumulan dan pencobaan dalam hidup yang sering kali tidak kita sadari. Di sinilah peran keluarga gereja menjadi sangat penting. Mereka dapat berjaga-jaga dan saling menjaga, waspada terhadap serangan musuh.

Anda memiliki musuh yang ingin menghancurkan hidup Anda. Bahkan sebelum Anda bangun di pagi hari, iblis sudah merancang cara untuk menjatuhkan Anda melalui pencobaan, kesulitan, jalan buntu dan pengalihan arah. Ia menyerang dengan persenjataan berupa luka batin, kebiasaan buruk dan keterikatan yang melemahkan. Jika Anda berusaha melawannya sendirian, persenjataan itu dapat membuat Anda kalah. Itulah sebabnya Anda perlu berada dalam komunitas orang percaya yang saling menolong dan menopang.

Pengkhotbah 4:12 menyatakan: "Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan."

Renungkan :
- Siapa saja orang dalam hidup Anda yang menjaga Anda dan memperingatkan Anda dari jebakan-jebakan rohani? Apakah Anda juga menjadi pribadi seperti itu bagi orang lain?
- Bagaimana sesama orang percaya telah menolong Anda mengenali titik-titik buta dalam hidup Anda?
- Langkah apa yang dapat Anda ambil hari ini untuk melindungi diri Anda dari serangan musuh?

Komunitas—keluarga gereja Anda—adalah jawaban Allah atas kekalahan rohani. Kita selalu lebih kuat ketika berjalan bersama.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Selasa, 17 Februari 2026

TUHAN Mengendalikan Kuda dalam Diriku 

Bacaan Alkitab hari ini:
Mazmur 33:17; Amsal 21:31

Siapakah yang mengendalikan kekuatan dalam diri kita? Dalam budaya Tionghoa kuno dan dunia Alkitab, kuda adalah simbol kekuatan, kecepatan, dan kebanggaan manusia. Raja-raja mengumpulkan kuda untuk pasukan berkuda dan menarik kereta perang. Karena sangat penting dan menjadi faktor penentu kemenangan dalam peperangan, kuda menjadi simbol kekuatan militer dan keamanan nasional (2 Raja-Raja 18:23–24; 2 Tawarikh 1:14-17).

Berbeda dengan pola pikir bangsa-bangsa di sekitar Israel, Allah merendahkan pemimpin yang meninggikan kekuatan kuda dan kereta kuda. Raja-raja Israel tidak boleh mengandalkan kekuatan pasukan kuda (Ulangan 17:16), dan tentara Israel tidak boleh takut pada kuda dan kereta kuda (Ulangan 20:1). Memang, kekuatan dan kecepatan menyerang pasukan berkuda adalah pemandangan yang menakutkan (Habakuk 1:8) dan dapat membuat musuh panik (Yeremia 8:16). Akan tetapi, kuda juga merupakan makhluk fana yang tidak dapat menandingi kuasa Tuhan (Yesaya 31:3). Selain itu, tulisan puitis dalam Alkitab memakai kuda untuk mengungkapkan karakter yang agresif dan degil. Orang yang bersemangat dalam dosa digambarkan seperti "kuda yang menerjang masuk ke dalam pertempuran" (Yeremia 8:6). Orang yang mengeraskan hati dalam dosa digambarkan seperti kuda degil yang perlu dipukul supaya mau bekerja sama (Mazmur 32:8-9; Amsal 26:3).

Memasuki tahun baru Imlek—tahun kuda, mari kita mengingat bersama. Pertama, kekuatan kita datangnya dari Tuhan. Seperti nasihat Tuhan dalam Mazmur 33:17, "Kuda adalah harapan sia-sia untuk mencapai kemenangan, bagaimanapun tangkasnya dia tidak membuat orang luput." Gambaran "kuda" bagi kita dalam konteks masa kini bisa berarti potensi diri: kecerdasan, bakat, kekayaan, atau bahkan spiritualitas diri sendiri; dan potensi sosial: koneksi, posisi jabatan, status sosial, yang kita andalkan selain Tuhan. Dengan mengingat bahwa kekuatan kita berasal dari Tuhan, kita akan menyadari bahwa kita hanya dapat berharap kepada Tuhan dan kuasa-Nya. Kedua, mari kita mengandalkan Tuhan dalam menjalani setiap bagian hidup kita. Firman Tuhan dalam Amsal 21:31 berkata demikian, "Kuda dipersiapkan untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan TUHAN." Tanpa penyerahan diri kepada Tuhan, "kuda" dalam diri kita dapat membuat kita menjadi seorang pribadi yang sombong, ambisius, dan liar. Akan tetapi, seorang yang mengandalkan Tuhan akan mengenal potensi atau kekuatan dalam dirinya, dan menyadari bahwa sesungguhnya keberhasilannya berasal dari Tuhan. Ada "kuda" dalam diri Anda. Apakah Tuhan yang mengendalikannya? [GI Surya Leung]

Sumber: Renungan GKY

Senin, 16 Februari 2026

Keinginan Menjadi Kaya

Bacaan: AMSAL 23:1-8

Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini. (Amsal 23:4)

Banyak orang bingung bagaimana meneruskan hidup dengan kondisi ekonomi yang buruk seperti saat ini. Banyak yang kemudian mencoba masuk ke pasar saham, kripto, atau terlibat pinjaman online. Mereka bermimpi ingin menjadi Warren Buffet, pialang saham termasyhur, dan orang-orang kaya lainnya berkat permainan kurs atau mata uang kripto. Namun, ketika mereka mulai masuk ke dunia saham, bukannya untung, malah justru rugi besar.

Alkitab selain meminta kita meninggalkan niat untuk menjadi kaya, juga memberi gambaran bijak tentang kekayaan. Dikatakan bahwa kekayaan itu laksana bersayap, dapat tiba-tiba terbang tinggi dan lepas dari jangkauan. Bahkan, Rasul Paulus memperingatkan orang-orang kaya agar mereka tidak tinggi hati dan tidak berharap pada sesuatu yang tidak pasti seperti kekayaan (1Tim 6:9). Sebaliknya, sandaran kita seharusnya pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberi kita segala sesuatu untuk dinikmati. Berkebalikan dari mengejar kekayaan, kitab Ibrani justru mengajarkan agar kita mencukupkan diri dengan apa yang ada pada kita. Tuhan berjanji tidak akan membiarkan dan sekali-kali tidak akan meninggalkan kita (Ibr 13:5).

Tentu tidak salah untuk mengumpulkan saham dan memperoleh laba. Bahkan, kita juga perlu mempelajarinya agar tidak terjebak dalam kerugian. Meskipun demikian, kita tidak dapat mengharapkan atau mengandalkan kekayaan. Karena apa pun di dunia ini dapat lenyap seketika. Sebaliknya, kita perlu memercayakan diri kepada Tuhan. Dialah pemelihara hidup kita. --HEM/www.renunganharian.net

JANGAN PUNYA NIAT MENJADI KAYA. KITA PERLU BELAJAR BERSANDAR
PADA ALLAH YANG MEMELIHARA HIDUP KITA.

Minggu, 15 Februari 2026

Tupai dan Biji yang Disimpan

Di sebuah hutan, hiduplah seekor tupai yang terkenal rajin mengumpulkan biji. Setiap pagi ia berlari dari pohon ke pohon, menyimpan biji di lubang-lubang rahasia. Semakin banyak ia menyimpan, semakin tenang perasaannya.

Tupai itu jarang berbagi. Ia takut kehabisan. Ia takut suatu hari hutan menjadi sepi dan tidak ada lagi yang bisa dikumpulkan.

Suatu musim kemarau datang lebih panjang dari biasanya. Banyak pohon tidak berbuah. Beberapa hewan mulai kesulitan mencari makan. Tupai tetap tenang. Ia punya simpanan.

Namun hari demi hari berlalu, dan tupai menyadari sesuatu. Banyak biji yang ia simpan mulai membusuk. Ada yang dimakan serangga. Ada yang lupa tempatnya. Simpanannya tidak seutuh yang ia bayangkan.

Suatu sore, seekor burung kecil terjatuh dari dahan karena lemah. Tupai ragu sejenak, lalu mengeluarkan satu biji dan memberikannya. Burung itu memakannya perlahan dan kembali terbang ke sarangnya.

Keesokan harinya, tupai melihat sesuatu yang baru. Di beberapa tempat bekas simpanannya, tunas kecil mulai tumbuh. Biji yang dulu ia tanam tanpa sengaja kini menjadi pohon muda.

Sejak saat itu, tupai tetap rajin mengumpulkan biji. Namun tidak semuanya disimpan. Sebagian ia lepaskan, karena ia belajar bahwa hidup tidak hanya soal menyimpan, tetapi juga membiarkan sesuatu bertumbuh.

Tupai itu merasa aman ketika ia menyimpan banyak biji. Simpanan membuatnya tenang. Namun waktu berjalan, dan ia menyadari bahwa apa yang hanya disimpan bisa rusak, hilang, atau sia-sia. Hidup ternyata tidak bertumbuh dari genggaman yang terlalu rapat.

Hal yang sama sering terjadi pada manusia. Waktu, tenaga, kemampuan, bahkan berkat dari Tuhan bisa habis tanpa makna jika hanya ditahan untuk diri sendiri. Saat seseorang mulai memberi, berbagi, dan melepaskan sebagian yang ia miliki, hidup justru menghasilkan sesuatu yang baru.

Tuhan merancang hidup agar bertumbuh melalui tangan yang terbuka. Dari situlah kebaikan menjalar, harapan muncul, dan berkat menjangkau lebih banyak orang.

"Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." (Amsal 11:24)

Sumber: Renungan dan Ilustrasi Kristen

Sabtu, 14 Februari 2026

KASIH YANG BERKORBAN

Bacaan: Yohanes 15:9-17

Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yohanes 15:13)

Apa artinya memberikan nyawa kita bagi Kristus dan sahabat-sahabat kita? Dalam Yohanes 15, perhatikan logika Kristus saat Dia mengajarkan tentang kasih yang penuh pengorbanan. 

Mula-mula ia berkata, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (ayat 12). Kemudian Dia menggambarkan lanjutan seutuhnya dari kasih semacam itu, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (ayat 13). Yesus rela mati bagi kita. Maka kita seharusnya bersedia mati bagi Dia dan teman-teman kita. 

Lalu Dia menambahkan, “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (ayat 14). Yesus tidak bermaksud mengatakan bahwa kita dapat menjadi sahabat-Nya hanya apabila kita mati untuk Dia. Kita juga menjadi sahabat-Nya jika kita menaati-Nya. Di hadapan Allah, menaati-Nya sebagai pengorbanan yang hidup merupakan cara kita memberikan nyawa bagi-Nya (Roma 12:1). 

Demikian juga kita tidak harus mati untuk sahabat-sahabat kita, tetapi ada berbagai cara lainnya untuk berkorban bagi mereka. Kita dapat mengorbankan rencana dan jadwal padat kita untuk memberi perhatian kepada seseorang yang membutuhkan. Atau, kita dapat mendermakan harta milik kita bagi kaum miskin. 

Pengorbanan-pengorbanan seperti itu, meskipun tampak sepele, dapat menjadi cara yang luar biasa untuk memberikan nyawa kita bagi sahabat-sahabat kita—jika kita berkorban dengan kerelaan hati dan dalam Roh kasih Kristus —Joanie Yoder

SEMAKIN DEKAT ANDA KEPADA ALLAH SEMAKIN BESAR HATI ANDA UNTUK SESAMA

Sumber: Renungan Harian

Jumat, 13 Februari 2026

Harapan dalam Iman

Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada Tuhan! –Mazmur 31:25

Ayat Bacaan & Wawasan :
Mazmur 31:13-18

Putra Kristin meninggal dunia karena kanker saat usianya baru tujuh tahun. Tiga tahun kemudian, putranya yang lain didiagnosis dengan penyakit yang tak dapat disembuhkan. Teman-teman Kristin yang belum mengenal Kristus ikut berduka, tetapi mereka tak dapat memahami mengapa ia tetap mempercayai Tuhan. “Bagaimana mungkin Allah yang kamu sembah membiarkan semua ini terjadi? Mengapa kamu masih percaya kepada-Nya?” tanya mereka.

Namun, bagi Kristin, pengalaman itu justru memperkuat alasannya untuk tetap beriman. “Aku tidak mengerti mengapa semua ini terjadi,” katanya, “tetapi aku tahu Allah akan menolong kami melewatinya. Hanya Dia yang sanggup memberi saya harapan untuk terus melangkah.”

Harapan dan iman seperti itulah yang menopang Raja Daud di tengah kesulitan besar yang dihadapinya. Saat dikelilingi oleh musuh yang ingin menghancurkannya, Daud mungkin tidak mengerti semua alasan di balik kesulitannya. Namun, ia tahu bahwa ia mengikuti Allah yang dapat diandalkan untuk membebaskan dan memberkatinya pada waktu-Nya (Mzm. 31:15-17). Dengan pengharapan yang pasti itu, Daud berserah dan berkata, “Masa hidupku ada dalam tangan-Mu” (ay. 16). Sikap penuh penyerahan diri itu menguatkan dirinya, sehingga ia juga dapat berkata: “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada Tuhan!” (ay. 25).

Ketika kita merasa kewalahan dan harapan tampak memudar, kita tahu kita dapat berpegang lebih erat kepada Allah dan kepada pengharapan hidup yang hanya bersumber dari-Nya.

Oleh: Leslie Koh

Renungkan dan Doakan
Apa yang Anda perlukan untuk tetap melangkah di tengah tantangan hidup? Bagaimana janji pengharapan dari Allah memberi Anda sukacita dan kekuatan di dalam kesulitan?

Bapa yang penuh kasih, Engkau mengetahui segala pergumulan dan keraguanku. Karuniakanlah aku iman untuk tetap mempercayai-Mu dan kekuatan untuk terus melangkah maju.

Sumber: Our Daily Bread

Kamis, 12 Februari 2026

Belas Kasihan atas Kegagalan Kita

Berdoalah Yunus kepada Tuhan, Allahnya, dari dalam perut ikan itu. –Yunus 2:1

Ayat Bacaan & Wawasan :
Yunus 2:1-2, 7-10; 3:1-5

Dalam suatu kelas sekolah Minggu, kesabaran saya terhadap seorang anak berusia tiga tahun bernama Peter mulai menipis. Ia tampak gelisah, bersikap ketus kepada anak-anak lain, dan tidak mau tenang, bahkan setelah para guru menawarkan mainan yang paling ia inginkan. Rasa iba saya perlahan berubah menjadi kekesalan. Jika ia terus bersikap keras kepala dan menyulitkan, saya pikir lebih baik ia dikembalikan saja kepada orang tuanya dan tidak perlu ada di kelas.

Saya menyadari bahwa belas kasihan saya sering kali bersyarat. Ketika seseorang menolak nasihat atau bantuan saya, saya cenderung merasa bahwa mereka tidak lagi layak menerimanya. Namun syukurlah, Allah tidak bersikap demikian terhadap kita. Nabi Yunus mengalami belas kasihan Allah yang besar setelah ia sempat blak-blakan menunjukkan ketidaktaatan. Ketika Allah memerintahkannya untuk pergi ke Niniwe dan memberitakan pesan-Nya, Yunus justru sengaja memilih arah sebaliknya (Yun. 1:2). Ia lalu terjebak dalam badai, terombang-ambing di tengah lautan, lalu ditelan oleh seekor ikan besar—sebuah bencana yang ia ciptakan sendiri (ay. 4, 15-17). Ketika Yunus akhirnya berdoa “kepada Tuhan, Allahnya” (2:1), Allah tetap mendengarkan dan rela mengampuninya. Yunus diselamatkan dari perut ikan dan, dalam kemurahan Allah, menerima kesempatan kedua untuk pergi ke Niniwe (3:1).

Si Peter kecil ternyata cukup terhibur ketika diajak berjalan-jalan ke taman bermain—sebuah ide cemerlang dari seorang asisten guru yang menunjukkan kesabaran jauh lebih besar daripada saya. Alangkah indahnya belas kasihan yang tidak lekas menyerah untuk menjangkau kita, bahkan di tengah kegagalan yang kita ciptakan sendiri.

Oleh: Karen Pimpo

Renungkan dan Doakan
Mengapa kita terkadang enggan untuk menunjukkan belas kasihan kepada orang lain? Pernahkah Anda menyaksikan bagaimana kasih Allah menjangkau mereka yang tampaknya paling sulit untuk dikasihi?

Tuhan Yesus, terima kasih, karena Engkau tidak pernah menyerah dalam mengasihiku. Ajarlah aku mengasihi sesamaku sedemikian rupa.

Sumber: Our Daily Bread

Rabu, 11 Februari 2026

Perjumpaan yang Mengubahkan 

Bacaan: Yohanes 9 

Tidak sedikit orang yang mengaitkan penyakit dengan dosa. Seperti murid-murid Yesus yang menanyakan keberdosaan di balik kebutaan sejak lahir orang yang mereka temui (2).

Yesus menjawab sekaligus meluruskan pemahaman mereka. Ia menegaskan bahwa bukan karena dosa orang itu maupun orang tuanya ia mengalami kebutaan, tetapi ada pekerjaan Allah yang harus dinyatakan. Kemudian, Yesus menyembuhkan mata orang buta itu disaksikan oleh para murid.

Berita kesembuhan orang buta itu tersebar dan sampai kepada orang Farisi. Bukannya takjub, mereka justru menganggap mukjizat itu tidak berasal dari Allah karena dilakukan di hari Sabat. Mereka sangat ingin membuktikan Yesus berdosa. Hal ini dapat kita lihat dari cara mereka berkata dan menanyakan tentang Yesus kepada orang buta yang telah sembuh itu (24). Pada akhirnya, mereka tidak mendapatkan jawaban yang mereka inginkan.

Perjumpaan Yesus dengan orang buta itu membawa orang itu disembuhkan dari kebutaan dan dimerdekakan dari dosa. Di sisi lain, perjumpaan Yesus dengan orang Farisi justru membutakan mereka dari kebenaran dan keselamatan.

Perjumpaan Yesus dengan orang buta itu mengingatkan kita akan perjumpaan dengan Dia secara pribadi. Ada pengalaman indah di mana kita dimampukan melihat kebenaran. Kita dapat mengenal dan percaya kepada Dia, Sang Juru Selamat, Tuhan kita. Inilah mukjizat terbesar dalam hidup kita. Allah memerdekakan kita dari dosa dan membawa kita kepada keselamatan kekal.

Sebaliknya, perjumpaan Yesus dengan orang Farisi mengingatkan kita bahwa penghakiman adalah bagian Allah. Bukanlah bagian kita menyatakan dosa seseorang apalagi menghakiminya. Bagian kita adalah menyatakan pekerjaan Allah.

Satu hal yang kita percaya, yakni perjumpaan kita dengan Yesus bukanlah sebuah kebetulan. Ada rencana Allah dalam kehidupan kita. Ada pekerjaan Allah yang ingin dinyatakan melalui hidup kita. Perjumpaan kita dengan Yesus merupakan kesaksian yang mendatangkan keselamatan bagi sesama kita! [MAR]

Sumber: Santapan Harian

Selasa, 10 Februari 2026

Milik Tuhan Sendiri

Bacaan: 1 TAWARIKH 29:10-19

Sebab, siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu. (1 Tawarikh 29:14)

Sebagai persiapan pembangunan Bait Suci, Daud mengumpulkan banyak sekali emas, perak, tembaga, besi, kayu, dan berbagai jenis batu permata. Disebutkan pula bahwa Daud mempersembahkan harta pribadinya dengan sukarela. Setidaknya, Daud mempersembahkan 100 ton lebih emas terbaik dan kurang lebih 240 ton perak murni (1Taw 29:4, BIMK).

Meski demikian, di hadapan Allah, dengan penuh kerendahhatian Daud mengaku bahwa sesungguhnya ia dan rakyatnya tidak dapat memberikan apa-apa kepada Tuhan. Sebab segala yang ia persembahkan adalah pemberian Tuhan, kepunyaan Tuhan sendiri. Ia menyadari bahwa manusia hanyalah orang asing dan pendatang di bumi dan segala sesuatunya hanya sementara. Daud juga berdoa dengan penuh ungkapan syukur, serta penyerahan diri kepada Tuhan. Daud memuji Tuhan sebagai sumber segala kekuasaan, kemuliaan, kejayaan, dan kekuatan. Langit dan bumi adalah milik Tuhan, pun kerajaan dan kekuasaan. Daud mengakui bahwa dari Tuhanlah kekayaan dan kemuliaan yang ada padanya.

Sikap Daud yang menekankan pentingnya ketulusan hati dan kesetiaan dalam beribadah kepada Tuhan ini menjadi inspirasi bagi kita, untuk mengakui bahwa semua yang kita punya adalah pemberian Tuhan, milik kepunyaan Tuhan sendiri. Sudah semestinya pula semua itu kita pergunakan untuk melayani Tuhan. Karena itu, sebesar apa pun persembahan kita berikan, pujian dan pengakuan hanyalah layak bagi Tuhan. Pun jangan sampai kita menjadikan persembahan seumpama umpan untuk memancing berkat, supaya mendapat berkali lipat. --EBL/www.renunganharian.net

SEGALA YANG ADA PADA KITA ADALAH MILIK TUHAN, KITA HANYALAH PENGELOLA YANG HARUS BEKERJA MENURUT KEHENDAK-NYA.

Senin, 09 Februari 2026

Jadilah Seperti Yesus

Kita semua . . . diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. –2 Korintus 3:18

Ayat Bacaan & Wawasan :
1 Yohanes 3:1-3

Di lorong sempit sebuah pesawat jet kecil, seorang penumpang bertubuh jangkung tampak seperti melipat dirinya ketika berdiri. Pandangan saya tertuju pada buku yang ia genggam erat: Jadilah Seperti Yesus. Namun, beberapa menit kemudian, saya melihatnya mendorong orang lain saat hendak mengambil tasnya dari troli. Bagaimana dengan panggilan menjadi seperti Yesus? Saya tidak tahu apakah ia benar-benar mengenal Kristus, tetapi sikapnya yang egois dan tidak mencerminkan kelembutan Yesus membuat saya kecewa.

Saat melangkah ke eskalator, saya kembali melihat pria itu. Judul bukunya masih terlihat. Akan tetapi, kata-kata itu kini menegur hati saya. Jadilah seperti Yesus, Elisa. Jangan menghakiminya. Saya pun bertanya-tanya: apakah kehadiran saya sendiri memancarkan sifat-sifat Yesus?

Menjadi seperti Yesus adalah sebuah metamorfosis—proses transformasi karakter yang Allah tumbuhkan dalam diri kita, di saat kita menundukkan diri kepada kehendak-Nya. Paulus menulis bahwa orang percaya “diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar”—kemuliaan yang berasal dari Tuhan sendiri (2 Kor. 3:18). Yohanes pun mengakui bahwa kita belum sepenuhnya paham, apalagi mencapai akhir dari proses ini: “Sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia [dalam kesucian], sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya” (1 Yoh. 3:2-3).

Saat kami sama-sama turun dari eskalator, sekali lagi saya melirik ke buku itu. Jadilah Seperti Yesus. Kata-kata itu mempunyai makna yang baru bagi saya, dan mendesak saya untuk melihat ke dalam hati dan hidup saya sendiri.

Oleh:  Elisa Morgan

Renungkan dan Doakan
Dalam aspek apa Anda rindu untuk menjadi seperti Yesus? Bagaimana Anda dapat membuka diri untuk menerima perubahan yang Kristus kerjakan dalam hidup Anda?

Ya Allah, aku sangat rindu menjadi seperti diri-Mu! Ubah dan bentuklah hatiku seturut kehendak-Mu.

Sumber: Our Daily Bread

Minggu, 08 Februari 2026

Waspada Terhadap Ketamakan

Bacaan: Lukas 12:15-21

Kata-Nya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung dari kekayaannya itu.”
- Lukas 12:15

Kita hidup di tengah zaman yang mengukur keberhasilan berdasarkan rumah mewah, mobil mahal, dan investasi. Ukuran keberhasilan ini menciptakan budaya tamak yang mendorong kita untuk memiliki lebih banyak, membeli lebih sering, dan mengejar kesuksesan materi, seakan-akan di sanalah letak arti kehidupan. Ketamakan adalah sebuah keinginan yang sangat besar dan tak terbatas untuk memperoleh sesuatu, seperti kekayaan, kekuasaan atau barang, dengan tujuan untuk menyimpannya bagi diri sendiri, jauh melebihi kebutuhan dan kenyamanan dasar. Dengan kata lain, ketamakan bisa diartikan sebagai keserakahan, kerakusan atau nafsu yang berlebihan.

Peringatan Yesus tentang ketamakan di ayat emas bukanlah sekadar nasihat moral, tetapi seruan untuk kembali pada nilai hidup yang sejati. Ketamakan adalah sikap hati yang melawan ketergantungan kepada Allah. Yesus mengingatkan bahwa hidup manusia tidak ditentukan oleh materi yang dimilikinya, tetapi oleh relasi iman dan ketundukannya kepada Allah. Ketamakan adalah bentuk penyembahan berhala modern yang mengandalkan uang dan mencari rasa aman dari harta, bukan dari Allah. Dalam konteks yang lebih luas, ayat ini memperlihatkan bahwa kekayaan duniawi tidak bisa menjamin damai sejahtera, sukacita atau keselamatan kekal. Ini sejalan dengan 1 Timotius 6:10a, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang,” yang menunjukkan bahwa ketamakan bukan hanya merusak, tetapi menyesatkan hati manusia dari iman.

Mari mengevaluasi motivasi dan prioritas hidup kita, apakah kita hidup untuk mengumpulkan harta atau untuk melayani Tuhan? Jangan terjebak dalam pola pikir, lebih banyak berarti lebih bahagia. Seperti seseorang yang membangun rumah besar di atas pasir, kelihatan kuat, tetapi rapuh, demikian pula hidup yang berfokus pada harta, tanpa fondasi iman. Yesus berkata, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?” (Mrk. 8:36). Bijaklah dalam mengatur keuangan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, juga untuk memberi kepada yang membutuhkan. Kita memberi bukan karena kelebihan, tetapi karena kasih, menolak gaya hidup konsumtif, dan terus mengingat bahwa segala sesuatu yang kita miliki hanyalah titipan Tuhan, bukan milik mutlak kita. Ingat, kepuasan sejati hanya ditemukan di dalam Kristus, bukan di dalam harta.

Refleksi diri:

Apakah Anda pernah merasa hidup Anda bergantung pada harta atau kepemilikan materi sehingga mengabaikan hal-hal yang lebih penting secara rohani?

Bagaimana Anda bisa melatih hati untuk lebih bersyukur dan tidak terjebak dalam keinginan tak berujung akan harta benda?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Sabtu, 07 Februari 2026

Mengelola Dan Mengendalikan Kemarahan

Bacaan: Efesus 4:26-27

Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa:
- Efesus 4:26a

Apakah ada di antara kita yang tidak pernah marah? Saya rasa tidak. Di jalanan macet, di kantor yang penuh tekanan atau dalam perdebatan, amarah bisa meledak. Tanpa kendali, tapi biasanya diikuti penyesalan. Di tengah dunia yang semakin cepat dan penuh tekanan, kita mudah terpancing oleh kata-kata orang lain, ketidakadilan atau situasi yang tidak sesuai harapan. Di kota besar, orang yang cepat marah sering dianggap kuat dan tegas. Namun, bagaimana pandangan firman Tuhan tentang amarah?

Marah adalah emosi yang manusiawi. Bahkan Yesus pun pernah marah ketika melihat bait Allah dijadikan sarang penyamun (Mat. 21:12-13). Ayat emas menunjukkan bahwa emosi marah pada dasarnya bukanlah dosa, tetapi marah dengan cara yang salah dan tak terkendali bisa membawa kita ke dalam dosa. Jangan biarkan amarah menguasai hati supaya tidak menjadi pintu bagi kejahatan untuk masuk dalam hidup kita. Alkitab mengakui bahwa kemarahan adalah bagian dari pengalaman manusia, bahkan Allah pun bisa murka secara benar. Namun, kemarahan manusia sering kali tercampur dengan motivasi yang egois, dendam atau keinginan untuk melukai. Karena itu, Paulus menegaskan pentingnya mengelola kemarahan dengan cepat dan benar agar tidak memberi celah bagi Iblis untuk bekerja melalui akar pahit, kebencian atau perpecahan dalam relasi. Kita dipanggil untuk menjaga kekudusan hati dan relasi karena Iblis bisa menggunakan emosi yang tidak terselesaikan sebagai alat perusakan.

Ayat 26 mengarahkan kita untuk segera menyelesaikan amarah sebelum hari berlalu. Miliki sikap damai dan mengampuni orang lain meskipun hati belum sepenuhnya nyaman. Jika ada pertengkaran yang dibiarkan tanpa penyelesaian maka relasi bisa menjadi renggang, komunikasi terganggu, dan Iblis bisa memakai situasi tersebut untuk memperbesar konflik. Raja Salomo menegaskan, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” (Ams. 15:1). Seperti api kecil di dapur, jika segera dipadamkan tidak akan menjadi masalah. Namun jika dibiarkan, bisa membakar seluruh rumah. Demikian juga kemarahan yang tidak cepat diselesaikan, bisa menghancurkan banyak hal yang berharga dalam hidup.

Sebagai orang percaya, kemarahan yang destruktif harus dihilangkan (Kol. 3:8). Dengan demikian, kita dapat hidup dalam kasih dan damai yang mencerminkan karakter Kristus. Latih diri kita untuk lambat marah dan cepat mengampuni (Yak. 1:19). Kiranya kasih Allah menaklukkan hati kita yang meledak-ledak.

Refleksi diri:

Bagaimana cara Anda mengelola kemarahan agar tidak berlarut-larut dan tidak menimbulkan dosa dalam hubungan dengan orang lain?

Apakah Anda sering membiarkan amarah menguasai diri? Apa langkah yang bisa Andaambil untuk mengendalikan dan menyelesaikan amarah sebelum hari berakhir? 

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Jumat, 06 Februari 2026

Interupsi Ilahi

Seorang perempuan kaya . . . mengundang Elisa makan. –2 Raja-raja 4:8

Ayat Bacaan & Wawasan :
2 Raja-raja 4:8-10, 14-17

Sara memulai harinya pada dini hari dengan membuat daftar kegiatan yang harus ia selesaikan hari itu. Namun, rencananya terusik oleh permintaan dari sebuah keluarga muda yang membutuhkan bantuan. Mereka sedang menantikan kupon pembelian bahan bakar dari gereja, dan di tengah kesibukannya, Sara merasa Allah menggerakkannya untuk mengantar sendiri kupon itu. Ia pun menyanggupi untuk menghampiri keluarga itu di hotel tempat gereja menempatkan mereka selama beberapa minggu. Namun, ketika menemukan bahwa alamatnya lebih jauh daripada perkiraannya, ia sempat berkata kepada Allah dengan kesal, Begitu banyak bensin yang harus kukeluarkan demi menyampaikan kupon ini kepada mereka!

Namun, dalam hatinya Sara merasa mendengar ucapan yang lembut: Bukankah Aku sudah mencukupkan kebutuhanmu? Sara pun menjawab, Ya Allah, Engkau benar. Ampunilah sikapku. Sesampainya di hotel itu, ia menjumpai pasangan itu, menyerahkan kupon tersebut, bahkan sempat menggendong bayi mereka. Dalam perjalanan pulang, hati Sara dipenuhi rasa syukur atas kesempatan sederhana yang penuh sukacita dari Allah itu.

Ketika Nabi Elisa tiba di Sunem, Israel, ia disambut oleh seorang perempuan yang rindu melayani kebutuhannya. Perempuan itu “mengundang [Elisa] makan,” jadi Elisa sering singgah untuk makan (2 Raj. 4:8). Bersama suaminya, perempuan itu bahkan menyiapkan kamar khusus agar Elisa memiliki tempat tinggal setiap kali datang ke kota itu (ay. 9-10). Dalam kemurahan-Nya, Allah memutuskan untuk memberkati mereka melalui kelahiran seorang anak yang dinubuatkan Elisa (ay. 16).

Baik melayani seorang nabi Allah maupun menolong sebuah keluarga yang tidak mampu, ketika kita bersedia diinterupsi Allah dan menunda agenda pribadi demi menjalankan rencana-Nya, Dia berkenan memenuhi hati kita dengan sukacita melimpah.

Oleh:  Anne Cetas

Renungkan dan Doakan
Interupsi apa yang mungkin menjadi rencana Allah bagi Anda? Bagaimana Anda dapat melayani sesama, demi kebaikan mereka?

Ya Allah, bukalah hati kami untuk peka mendengar suara-Mu dan rela melayani seturut pimpinan-Mu.

Sumber: Our Daily Bread

Kamis, 05 Februari 2026

Kesombongan Awal Kehancuran

Sumber: Daniel 4:30-37

Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.
- Amsal 16:18

Selama delapan hari ke depan, kita akan merenungkan tujuh dosa yang mematikan (seven deadly sin) dan di hari kedelapan (renungan di tanggal 28 Januari) kita menutup perenungan dengan bagaimana cara mengatasinya.

Satu penyakit rohani yang seringkali tidak terlihat, tetapi memiliki dampak yang sangat mematikan adalah kesombongan. Seperti api kecil yang menyala di dalam hutan kering, kesombongan awalnya tampak sepele, tetapi pada waktunya akan melahap seluruh kehidupan kita. Kesombongan zaman sekarang, sering dibungkus dengan istilah seperti “selflove” atau “branding”, yang di dalamnya tersembunyi sikap meninggikan diri.

Ayat emas di atas mengajarkan bahwa kesombongan adalah akar dari banyak kehancuran dalam hidup manusia. Yesus menyoroti bahwa manusia yang meninggikan diri, yang merasa paling benar, paling kuat atau paling berhasil pada akhirnya akan mengalami kejatuhan (Luk. 14:11, Mat. 23:12) karena ia menempatkan diri di luar perlindungan dan hikmat Tuhan. Tuhan menentang orang yang tinggi hati karena kesombongan merampas kemuliaan-Nya dan menutup hati manusia terhadap koreksi, pertobatan, serta ketergantungan kepada-Nya. Ini adalah peringatan serius bahwa kejatuhan sering kali bukan datang tiba-tiba, tetapi dimulai dari hati yang meninggikan diri.

Perikop bacaan hari ini menceritakan bagaimana Raja Nebukadnezar menyombongkan diri atas kemegahan kerajaannya. Ia berkata, “Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?” (ay. 30). Akibat kesombongan Nebukadnezar, seketika itu juga Tuhan merendahkannya. Ia kehilangan akal sehat dan hidup seperti binatang di padang sampai ia mengakui kedaulatan Allah (ay. 32-33). Ketika Nebukadnezar kembali mengarahkan matanya kepada Tuhan dan mengakui kedaulatan-Nya, akal dan kerajaannya dipulihkan dan ia memuliakan Allah (ay. 34-37). Kesombongan membawa kehancuran, tetapi pertobatan dan pengakuan akan kedaulatan Tuhan membawa pemulihan.

Di tengah dunia yang mengagungkan pencapaian, status, dan kehebatan diri, renungan hari ini menjadi seruan keras agar kita berhati-hati karena kesombongan tidak hanya menjauhkan kita dari sesama, tetapi juga dari Tuhan. Mari bangun sikap rendah hati dan mengakui bahwa setiap pencapaian, kepandaian atau keberhasilan kita bukanlah hasil usaha pribadi, melainkan anugerah Tuhan. Jangan pula meremehkan orang lain, sebaliknya selalu bersedia dikoreksi dan terbuka terhadap masukan. Jagalah hati tetap melekat kepada Tuhan melalui doa, pembacaan firman, dan refleksi diri, agar kita tidak terperangkap dalam kesombongan rohani yang sering tidak kita sadari.

Refleksi Diri:

Apa kondisi yang cenderung membuat Anda merasa sombong atau terlalu percaya diri sehingga akhirnya membawa Anda ke dalam masalah atau kegagalan?

Bagaimana cara Anda melatih kerendahan hati dan menghindari sikap sombong yang berpotensi menghancurkan hidup Anda?

Sumber: Renungan GII Hok Im Tong

Rabu, 04 Februari 2026

Janji Tuhan yang Menggerakkan Langkah

Ayat Renungan: Kejadian 12: 1-2 – “Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.”

Kisah Abram dalam Kejadian 12 menceritakan tentang bagaimana Tuhan memanggil Abram keluar dari wilayah yang dikenal menuju negeri yang belum pernah ia lihat. Tidak ada peta, tidak ada detail rencana, tidak ada jaminan kenyamanan. Yang Abram miliki hanyalah satu hal: Firman dan janji Tuhan.

Saat itu, Tuhan memanggil Abraham di usia 75 tahun - usia di mana secara manusiawi sudah berada di titik stabil dan hanya ingin menikmati masa tua, bukan untuk memulai perjalanan baru. Haran adalah kota yang maju, subur, penuh relasi, dan aman. Tidak ada alasan logis bagi Abraham untuk meninggalkannya. Namun Tuhan memanggilnya untuk pergi, meninggalkan negeri, kaum, dan rumah ayahnya. Ini bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan pelepasan total dari rasa aman duniawi.

Ketaatan Abraham tidak lahir dari kepastian keadaan, tetapi dari janji Tuhan. Janji itulah yang menjadi bahan bakar langkah imannya. Tuhan berjanji memberkati dia, menjadikannya bangsa besar, dan memakai hidupnya untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Artinya, ketaatan Abraham selalu terarah pada rencana Tuhan yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Namun, taat kepada Tuhan tidak menjamin perjalanan yang mudah. Setibanya di Tanah Perjanjian, dia justru menghadapi kehidupan di kemah, tanah yang kering, dan kelaparan. Secara kasat mata, situasi ini tampak bertentangan dengan janji Tuhan. Tetapi di sanalah iman Abraham dibentuk—ia belajar hidup bukan berdasarkan apa yang ia lihat, melainkan berdasarkan siapa yang ia percayai. Bahkan Tuhan mengizinkan dia mengalami proses yaitu melepaskannya dari segala keterikatan lama seperti kenyamanan, status social dan gaya hidup lama. Sebenarnya Tuhan bukan ingin merampas yang baik dari Abraham, sebaliknya dia belajar berjalan bersama Tuhan.  

Hari ini, mungkin Anda juga sedang berada di posisi yang sama seperti Abraham. Anda sudah merasa nyaman dalam segala hal, tetapi Tuhan justru mau mengutak-atik bagian dari hidup Anda. Bagaimana respon Anda? Bersediakan Anda mengikuti proses-Nya atau justru Anda memilih untuk tetap diam ditempat? 

Percayalah bahwa saat janji Tuhan menjadi fokus dan bahan bakar atas hidup kita, kita akan dimampukan untuk terus melangkah sekalipun kondisinya tampak tidak masuk akal.

Sumber: Jawaban.com

Selasa, 03 Februari 2026

Tidak Hanya Satu

Bacaan: 2 SAMUEL 21:15-22

Keempat orang itu termasuk keturunan manusia raksasa di Gat. Mereka tewas di tangan Daud dan di tangan orang-orangnya. (2 Samuel 21:22)

Terdengar sorak-sorai dari pihak orang Israel setelah Daud mengalahkan Goliat. Terlihat manusia raksasa setinggi enam hasta sejengkal telah terkapar dengan kepala terpenggal (1Sam 17:49-52). Di kemudian hari, sosok manusia raksasa muncul lagi. Asalnya juga dari Gat. Namanya Yisbi-Benob dengan senjata berupa tombak seberat 300 syikal tembaga (ay. 16). Disusul Saf, lalu Goliat yang gagang tombaknya seperti balok penggulung kain tenun (ay. 18-19). Lalu ada juga "si jari enam" (ay. 20).

Kemunculan Yisbi-Benob dan rekan-rekan seperawakannya menunjukkan bahwa tidak hanya ada satu manusia raksasa. Tidak cukup satu kali Daud menghadapi pertempuran. Demikian halnya manusia raksasa dalam kehidupan kita yang dirupakan dalam bentuk persoalan besar, jumlahnya tidak hanya satu. Tidak cukup satu kali kita berjuang dalam iman. Masih banyak tantangan atau kesukaran lain menanti di depan mata. Namun, kenyataan ini jangan membuat hati kita gentar. Alkitab mencatat keempat raksasa itu semuanya tewas (ay. 22). Artinya, kita pun akan mampu menangani seluruh persoalan di kehidupan ini.

Mungkin saat ini terpikir oleh kita, "Bagaimana caraku menangani?" Kembali persoalan besar muncul dan kita merasa tidak berdaya. Sampai di sini jangan dulu kita menyerah. Ingatlah situasi dialami Daud saat keempat raksasa muncul. Ia tidak lagi muda dan tangkas. Abisai, Sibkhai, Elhanan, dan Yonatan, orang-orangnya yang gagah perkasa maju menewaskan raksasa-raksasa itu. Demikian Tuhan dapat menggunakan tangan saudara-saudara kita seiman untuk menolong kita. Dari mereka, mungkin kita mendapatkan alternatif pemecahan masalah. Atau kita menjadi kuat karena mereka memberikan semangat dan dukungan doa. --LIN/www.renunganharian.net

PASTI KITA DIMAMPUKAN MENYELESAIKAN PERSOALAN BESAR YANG KEMBALI MENGHADANG KARENA TUHAN SENANTIASA MEMBERIKAN PERTOLONGAN.

Senin, 02 Februari 2026

Jangan Terlalu Cepat Menghakimi 

Bacaan: Yohanes 7:53-8:11 

Entah mengapa, jika kita melihat sesama kita melakukan dosa, tanpa pikir panjang sering kali kita begitu cepat menghakimi dan menyalahkan. Sebaliknya, jika kita sendiri yang melakukan dosa, apakah kita juga cepat menyadari dan mengakui? Sangat disayangkan pula, kita begitu cepat bereaksi terhadap dosa yang dilakukan orang lain. Namun, kita lamban, bahkan mungkin tidak pernah mengintrospeksi diri sendiri.

Kisah yang kita baca hari ini, adalah juga kisah tentang sekelompok orang Yahudi dan orang-orang Farisi yang bermaksud menjebak Yesus. Mereka datang membawa seorang perempuan yang kedapatan berzina. Jawaban Yesus benar-benar tak terduga oleh ahli Taurat dan orang Farisi. Tanggapan Yesus kepada mereka menunjukkan luasnya kasih dan pengampunan Tuhan.

Jawaban Yesus: "Siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu" (7b). Jawaban ini menunjukkan bahwa semua orang berdosa membutuhkan belas kasih dan pengampunan. Mereka yang hendak menghakimi perempuan itu, kemudian pelan-pelan undur. Sedangkan perempuan itu diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertobat dan tidak berbuat dosa lagi (11).

Dalam Hukum Taurat, pelaku perzinaan memang harus dihukum mati (lih.Im 20:10, Ul 22:22). Harapan sekelompok orang Yahudi dalam kisah ini adalah Yesus salah merespons dan salah bertindak. Jika demikian, peristiwa itu akan menjadi kesempatan baik bagi mereka untuk menjatuhkan Yesus. Namun, Yesus menunjukkan kuasa-Nya sebagai penengah yang adil dan tidak seorang pun dirugikan.

Kisah ini sesungguhnya mau mengajarkan kepada kita tentang pentingnya menghabiskan waktu lebih banyak untuk mengintrospeksi diri dan memperbaiki diri ketimbang terlalu cepat bereaksi, menghakimi, dan menuduh sesama kita. Tidak salah untuk saling menegur dan mengingatkan, tetapi bukan dengan maksud mempermalukan. Menegur untuk perubahan yang baik tentu harus dilakukan dengan cara yang bijaksana. [WWO]

Sumber: Santapan Harian

Minggu, 01 Februari 2026

Mata yang Melihat Segalanya

Aku hendak mengajar . . . jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. –Mazmur 32:8

Ayat Bacaan & Wawasan :
Mazmur 32:1-5, 9-11

Jason dan Pierre telah bekerja bersama selama satu dekade memasang pelapis dinding luar rumah. Mereka berdua sahabat baik, meski jarang berbicara. Saat bekerja, hampir tak ada kata yang terucap di antara mereka. Namun, mereka mengenal baik satu sama lain sehingga untuk berkomunikasi, mereka cukup menganggukkan kepala atau menggunakan lirikan mata. Isyarat-isyarat kecil seperti itu memiliki makna yang mendalam.

Mazmur 32 menghadirkan keintiman serupa antara Allah dan pemazmur. Salah satu versi menerjemahkan ayat 8 demikian: “Aku akan menasihatimu dengan mata-Ku” (TSI). Allah bukanlah pengamat dari kejauhan, melainkan Bapa penuh kasih yang menjadikan anak-Nya rekan sekerja. Walaupun mazmur ini dimulai dengan pengakuan dosa (ay. 1-5), fokusnya tidak terletak pada hukuman atas dosa, melainkan pada sikap penuh kasih Allah yang menuntun anak-Nya kembali ke jalan yang benar (ay. 6-7).

Ada pilihan lain, yakni menjadi seperti seekor kuda atau bagal yang “kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau” (ay. 9). Gambaran ini menunjukkan sikap keras kepala dan pengabaian terhadap jalan Allah. Sebagai orang percaya, kita perlu membangun kedekatan yang erat dengan Allah, supaya kita peka terhadap isyarat-Nya yang lembut. Salah satu cara membangun kedekatan itu adalah ketekunan membaca Kitab Suci. Sikap ini akan menolong kita hidup “dipimpin oleh Roh” (Gal. 5:25), sehingga kita sungguh mengasihi apa yang Allah kasihi. Ketika itu terjadi, kita akan bersukacita dan bergembira dalam Tuhan (Mzm. 32:11).

Oleh: Matt Lucas

Renungkan dan Doakan
Dalam aspek apa kehidupan rohani Anda mulai terasa seperti rutinitas belaka? Bagaimana Anda dapat membangun kedekatan dengan Allah, melalui pembacaan dan perenungan firman-Nya?

Ya Bapa, terima kasih, karena Engkau mengenalku dengan begitu mendalam, dan tetap mengundangku menjadi rekan sekerja-Mu untuk memperluas kerajaan-Mu.

Sumber: Our Daily Bread