Senin, 20 Desember 2021

CARA PANDANG

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. 
(Filipi 4:8)

Dua orang wiraniaga sebuah pabrik sepatu dikirim oleh perusahaannya ke sebuah daerah terpencil untuk menjajaki kemungkinan membuka toko sepatu di sana. Tetapi, ternyata di daerah itu para penduduknya tidak ada yang memakai sepatu. Lalu, keduanya pulang memberikan laporan.

Wiraniaga pertama berkata, “Percuma membuka toko sepatu di sana, Pak. Tidak ada yang memakai sepatu, siapa yang akan membeli?” Namun, wiraniaga kedua justru berkata lain, “Prospek bagus, Pak. Di sana tidak ada yang memakai sepatu, ini kesempatan buat kita menciptakan pasar.”

Begitulah. Sebuah kenyataan dilihat dengan dua cara pandang yang berbeda—yang satu negatif yang lain positif—hasilnya tentu berbeda pula. Yang satu melihat sebagai halangan, yang lain melihat sebagai peluang.

Karena berpikir positif itulah Yusuf tidak larut dalam dendam atau rasa sakit kepada saudara-saudaranya yang pernah berbuat buruk terhadapnya (Kejadian 45:1-15). Sebaliknya, ia dapat berkata demikian: “Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu” (Kejadian 45:4-5).

Maka dari itu, memang berpikir positif itu sangat baik dan penting. Bisa saja itu tidak menyelesaikan masalah, tetapi setidaknya tidak akan memperumit keadaan. Sebaliknya, berpikir negatif bukan saja tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi bisa-bisa malah memperumit keadaan atau menimbulkan masalah baru.
(Ayub Yahya)

Sumber: Amsal Hari Ini 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar