Sabtu, 07 Oktober 2023

KEBIASAAN

[[Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif. ]] (Efesus 5:15).


Trosvka, sebuah desa di Rusia, menyimpan sebuah harta turun temurun yang langka. Setiap orang di desa itu, baik tua maupun muda, pria mapun wanita, memiliki kemampuan unik. Mereka semua dapat melakukan permainan akrobat berjalan di atas seutas tali. Atraksi yang mengandalkan keseimbangan tubuh ini menjadi makanan sehari-hari penduduk desa tersebut.

Dalam berbagai kesempatan ketika mereka berkumpul dan bermain, seluruh penduduk desa bergantian mempertunjukkan kebolehannya berjalan di atas seutas tali. Itu berlangsung sejak zaman nenek moyang mereka. Sebuah keahlian yang diwariskan dari generasi ke generasi. Begitulah ketika sesuatu yang sulit dilakukan namun terus dilatih, dibiasakan, dan dilakukan berulang-ulang, akhirnya dapat mendarah daging dan dengan mudah kita melakukannya.

Dalam kehidupan sehari-hari juga demikian. Sikap dan perilaku kita terbentuk karena kebiasaan. Oleh karena itu, bila sikap dan perilaku itu baik, biasakanlah. Awalnya mungkin sulit, tetapi begitu sudah terbiasa akan mudah saja melakukannya. Sebaliknya, bila sikap dan perilaku itu buruk, jangan biarkan menjadi kebiasaan. Sekali saja sudah menjadi kebiasaan, maka akan sulit untuk mengubahnya. Ibarat pohon, makin besar makin sulit dicabut.

Hidup sebagai “anak-anak terang” juga bicara tentang kebiasaan, yaitu tidak membiasakan diri dalam perbuatan-perbuatan kegelapan (ayat 11). Sebaliknya, anak-anak terang membiasakan diri untuk hidup dengan sungguh-sungguh sebagai orang arif; menggunakan waktu sebaik-baiknya, serta berusaha senantiasa mengerti kehendak Allah (ayat 15-17). Kitalah yang memegang kendali atas “gelap terangnya” sikap dan perilaku kita (Ayub Yahya).

Sumber: Amsal Hari Ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar