Bacaan: Ulangan 9:7-29
Berhadapan dengan orang yang menjengkelkan, keras kepala, dan tidak tahu berterima kasih atas perjuangan orang lain, sering kali membangkitkan amarah. Itulah yang dirasakan TUHAN terhadap bangsa Israel. Sejak keluar dari Mesir hingga tiba di Horeb, mereka telah membangkitkan amarah TUHAN.
Musa naik ke gunung untuk menerima dua loh batu. TUHAN berfirman supaya Musa segera turun karena bangsa Israel cepat sekali menyimpang dari jalan yang diperintahkan TUHAN; mereka membuat patung tuangan. Sungguh mereka bangsa yang tegar tengkuk sehingga TUHAN ingin memunahkan dan menghapus nama mereka dari kolong langit (7-16). TUHAN yang begitu panjang sabar sampai sudah murka terhadap mereka.
Musa juga kecewa dan marah terhadap bangsa Israel sehingga ia memegang kedua loh itu kuat-kuat dan memecahkannya di depan mereka (17). Bukan hanya sekali, mereka berkali-kali membangkitkan amarah TUHAN. Di Tabera, di Masa, dan di Kibrot Ta'awa mereka membangkitkan amarah TUHAN. Ketika TUHAN menyuruh mereka pergi dari Kades-Barnea, mereka tidak percaya dan tidak mendengarkan suara-Nya (22, 23). Mereka sering kali menentang TUHAN.
Musa gentar karena murka dan kobaran amarah TUHAN yang ditimpakan kepada bangsa Israel. Oleh karena itu, ia sujud selama empat puluh hari empat puluh malam tanpa makan roti dan minum air, berdoa agar TUHAN tidak memunahkan mereka (18, 25-29). Dari doa Musa nyata integritas Musa. Ia tidak berorientasi kepada kefasikan dan keberdosaan orang lain. Bukan berarti Musa menoleransi keberdosaan mereka, justru Musa membakar dan menghancurkan hasil perbuatan dosa mereka.
Musa tetap berjuang dengan berpuasa dan berdoa supaya bangsa Israel tidak dipunahkan oleh TUHAN, sekalipun mereka juga sering membuatnya marah. Kefasikan dan keberdosaan mereka tidak mengubah integritas Musa. Seperti Musa yang berdoa bagi bangsa Israel, sudikah kita mendoakan orang yang selalu membangkitkan amarah kita? [MRG]
Sumber: Santapan Harian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar